Sang Penyita Waktu Itu Bernama Facebook...

Posted in Selasa, 26 April 2011
by Unknown



Oleh Silvani

Bunda… Facebook itu penting banget ya? Koq Bunda sering liat-liat Facebook? Tersentak hatiku mendegar pertanyaan si sulung (7 tahun), Kuulangi lagi celoteh anakku, sebegitu pentingnyakah Facebook hingga aku harus sering membukanya?

Kuakui sejak memiliki akun Facebook aku asyik ber-facebook-ria, update status, memberikan comment, upload photo… Ah begitu banyak waktuku tersita untuk Facebook. Kurenungi lagi semua… benarkah FB membawa manfaatkah untukku?

Lebih sering mana antara membuka FB dengan membuka Al- Quran? Yaa Rabb…Ampuni hamba-Mu yang lemah ini. Andaikan waktu yg kuhabiskan bersama FB kugunakan untuk membaca Al- Quran, mentadaburinya, dan mengamalkannya… pastilah akan membawa manfaat yang luar biasa untukku.

Saat kubuka kembali buku mutiara hadits, kutemukan sabdamu Ya Rasul SAW…

“Sesungguhnya Al-Quran ini merupakan perjamuan dari Allah di muka bumi. Maka hendaklah kalian mengambil pelajaran dari perjamuan-Nya semampu kalian.Sesungguhnya Al-Quran ini adalah tali Allah yang sangat kuat, cahaya yang terang, dan obat yang bermanfaat. Ia merupakan pelindung bagi orang yang berpegang teguh dengannya, penyelamat bagi orang yang mengikutinya, tidak pernah bengkok, tidak pernah menyimpang, tidak pernah hilang segala keajaibannya, dan tidak akan banyak mengundang kritikan. Hendaklah kalian selalu membaca Al-Quran karena Allah akan memberi pahala kepada kalian karena membacanya, dengan setiap huruf mendapatkan kebaikan. Demi Allah, aku tidak pernah mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim saatu huruf.”

Subhnallah, menetes air mata ini… aku ingin itu semua, ingin cahaya, obat, pelindung dan penyelamat serta kebaikan untukku. Bisakah kuraih semua itu …kurasakan rindu hati ini padamu Al-Quran… Kuteguhkan hati ini, aku ingin termasuk orang-orang yang ahli membaca Al-Quran, kuniatkan meraih mahkota kemenangan dari-MuYaa Rabb melalui Al-Quran…

Sore itu kupanggil anakku, kupeluk dan kubisikkan padanya, Facebook tidak penting sayang, anak soleh Bunda jauh lebih penting dari Facebook, kulihat senyum di bibirnya, Terimakasih Nak untuk selalu mengingatkan Bunda…
Read More >>

Waspada NII, Islam, Pesantren, dan Kyai Palsu!

Posted in
by Unknown

Waspada NII, Islam, Pesantren, dan Kyai Palsu!
by Agus Sunyoto on Friday, April 22, 2011 at 9:11pm


Dalam pengajian Malam Jum’at Kliwon, Sufi tua menemukan seorang penyusup di antara jama’ah pengajian. Usai pengajian, penyusup itu digiring ke teras mushola, diajak bergabung diskusi dengan Sufi Kenthir, Sufi Sudrun, Sufi Gelandangan, Sufi Gemblung, dan Dullah yang lagi membincang NII dan teroris. Penyusup itu bingung mengikuti alur pembicaraan para sufi yang ternyata sangat faham dengan dunia intelijen, termasuk skenario-2 intelijen tingkat tinggi yang tak sembarang orang mengetahuinya. Bahkan penyusup itu pucat wajahnya saat mengetahui bahwa Sufi tua sejatinya adalah seorang tokoh senior yang terkenal di dunia intelijen yang sudah pensiun satu dasawarsa silam.

Faham bahwa sang penyusup sudah mati kutu, Sufi tua dengan sikap seorang senior kepada yuniornya menanyakan latar bagaimana sang penyusup itu masuk ke pesulukan, pesantren sufi, yang sama sekali tidak memiliki afiliasi dengan kelompok-2 garis keras yang selama ini meresahkan masyarakat. Sang penyusup dengan polos menyatakan, bahwa pesantren memang menjadi salah satu institusi yang dicurigai berpotensi menjadi center power bagi munculnya gerakan-gerakan ekstrim-radikal yang membahayakan negara dan masyarakat. “Fakta menunjuk bahwa gerakan-2 ekstrim-radikal yang melancarkan teror selalu berhubungan dengan Pesantren Ngeruki Hati di Surakerta pimpinan Kyai Haji Abu Ba’afkir,” kata si penyusup menjelaskan.

“Saudara ini ada saja, esantren kok ngeruki hati. Hatinya siapa yang dikeruk? Tapi, logika yang sampeyan pakai ltu logika sesat. Logika sesat kok dipakai pijakan berpikir,” sahut Sufi tua geleng-geleng kepala, ”Kalau logika sesat itu diteruskan, deviasi penyimpangannya akan semakin lebar.”

“Mohon petunjuk, bapak,” kata si penyusup ingin tahu.

“Kalau di sebuah kota ada seorang warga kota melakukan kejahatan mencuri, apakah patut dicurigai bahwa setiap rumah di kota potensial berisi maling?” Sufi tua bertanya balik.

“Tentu tidak, bapak,” kata si penyusup tegas.

“Lalu, term-term logika apa yang digunakan ketika menyama-ratakan pesantren yang ada di Nusantara dengan satu pesantren aneh bin ajaib yang tumbuh dan berkembang sangat ajaib, yaitu Pesantren Ngeruki Hati, yang justru berbeda dalam segala hal dengan pesantren-pesantren yang ada di bumi Nusantara?” tanya Sufi tua dengan suara ditekan tinggi.

“Saya tidak tahu, bapak. Apakah beda pesantrennya Kyayi Abu dengan pesantren-pesantren lain?”

“Justru akibat ketidak-tahuan perbedaan pesantren aneh bin ajaibnya orang Arab badui itu dengan pesantren-pesantren yang ada di Nusantara itulah yang aku katakan bahwa tugasmu mengawasi dan memantau pesantren-pesantren itu didasari logika sesat. Kalau menggunakan teori ilmu logika, cara pikir semacam itu disebut fallacy of illicit process dan argumen yang digunakan disebut Argumentum ad ignorantiam. Sebab tanpa didukung pengetahuan yang utuh tentang term pesantren Nusantara, secara coersif sudah diambil sebuah konklusi tentang pesantren dengan term pesantren gurun pasir yang sama sekali lain dan tidak memiliki ciri-ciri yang khas Nusantara. Bagaimana seekor tikus gurun disamakan dengan kawanan kucing Angora?” kata Sufi tua memaparkan alasan.

“Mohon petunjuk, bapak, apa beda pesantren Ngeruki Hati dengan pesantren-pesantren di Nusantara?” tanya si penyusup sangat ingin tahu.

Sufi tua diam. Sejenak setelah itu, ia berbisik kepada Sufi Sudrun. Dan setelah mengangguk, Sufi Sudrun mulai berkata menjelaskan,“Ketahuilah saudara, bahwa pesantren-pesantren Nusantara adalah lembaga pendidikan yang berkembang dari lembaga pendidikan Hindu-buddha yang disebut Dukuh, tempat para wiku (calon pendeta) belajar. Salah satu kegiatan para wiku sebagai siswa di Dukuh adalah mempelajari sashtra (kitab suci). Orang-orang yang mempelajari sashtra (kitab suci) disebut sashtri (yang mempelajari sashtra -kitab suci). Nah, saat ajaran Islam butuh dikembangkan lewat pendidikan, para penyebar Islam berinisiatif untuk mengambil alih model Dukuh Hindu-buddha. Tetapi karena para siswa muslim bukan pendeta, maka mereka tidak disebut wiku melainkan disebut sashtri (orang yang mempelajari sashtra-kitab suci). Demikianlah, kata Sansekerta Sashtri dilafalkan dalam lidah muslim Jawa menjadi Santri. Itulah latar sejarah mengapa lembaga pendidikan Islam tradisional disebut pesantren, yang bermakna tempat para santri (pe-santri-an).”

“Waduh bapak, sungguh saya tidak tahu-menahu soal itu,” kata si penyusup mengangguk-anggukkan kepala dan mendecakkan mulut.

“Nah, dengan penjelasanku ini,” kata Sufi Sudrun,” Masuk akalkah menurut saudara, jika ada orang-orang Arab Badui berfaham Wahabi yang anti bid’ah, anti khurafat, anti dengan berbagai unsur jahiliyyah dari agama selain Islam, tiba-tiba mendirikan lembaga pendidikan pesantren? Bagaimana aneh bin ajaibnya ini, ada orang berfaham Wahabi tiba-tiba mengembangkan lembaga pendidikan dengan memungut sisa-sisa Hindu-buddha yang mereka anggap lembaga sisa jahiliyyah?”

”Tapi pimpinan pesantrennya memakai gelar Kyayi, bagaimana itu bapak?” tanya si penyusup.

“Itu juga mustahil bin mustahal,” tukas Sufi Sudrun menjelaskan,”Soalnya, gelar Kyayi adalah gelar kebangsawanan pra Majapahit yang setara dengan gusti. Hanya kalangan brahmana-ksatria, yang berhak menggunakan gelar Kyayi. Asal saudara tahu, keturunan Arya Damar Adipati Palembang di Bali – dari puteranya yang bernama Arya Jasan – lahir raja-raja Tabanan bergelar kyayi seperti Kyayi Arya Ngurah Sari, Kyayi Arya Celuk, Kyayi Agung made Tabanan, dsb. Para raja itu beragama Hindu”

“Oo begitu ya bapak..?”

“Ini kan aneh, ada orang Arab Badui berfaham Wahabi tahu-tahu memakai gelar kebangsawanan Majapahit, Kyayi, yang jelas-jelas gelar itu mereka anggap sebagai simbol jahiliyyah dari masa kerajaan kafir Majapahit. Ini benar-benar mustahil bin mustahal,” kata Sufi Sudrun ketawa.

“Jadi simpulan dari penjelasan bapak itu bagaimana?” tanya si penyusuf minta penegasan.

“Menurut hematku, itu pesantren palsu dan gelar kyayi-nya juga palsu, karena sepanjang sejarah tidak pernah ada pesantren berfaham Wahabi. Sepanjang sejarah, Wahabi juga menganggap haram mengambil alih anasir-anasir Hindu-buddha. Bahkan setahuku, belum ada juga orang Arab badui memakai gelar kebangsawanan Jawa kuno Kyayi. Dari mana nalar lojik semua itu?” kata Sufi Sudrun.

“Maaf bapak,” kata si penyusup kepada Sufi tua,”Kira-kira kordinat pesantren Wan Abu itu ke mana ya?” tanyanya tidak lagi menyebut gelar kyai di depan nama Abu Ba’afkir.

“Kalau hubungannya dengan Osama bin Ladn,” kata Sufi tua singkat,”Aku pikir semua intelijen sedunia sudah mafhum, ke mana koordinat Wan Abu itu.”

Dullah yang sejak tadi menyimak tiba-tiba bertanya,”Mohon tanya mbah.”

“Soal apa?” gumam Sufi tua.

“Apakah Wan Abud kordinatnya nyambung dengan gerakan NII?” tanya Dullah.

“Kalau NII itu lain lagi kordinatnya,” kata Sufi tua seperti menahan geli.

“Kira-kira NII itu ke mana jalurnya?” tanya Dullah penasaran.

“Itu kerjaan jaringan intelijen lokal, kelanjutan dari OPSUS dulu, jamannya Orde Baru eranya Ali Murtopo dan L.B.Murdani,” kata Sufi tua mengingat-ingat.

“Woo begitu yaa…” sahut Dullah melenggong.

“Iya, itu angkatannya Panji Cemerlang, arek Sedayu, Gresik yang dibikinkan pesantren As-Syaithon di Dermayu. Panji itu seangkatan dengan Supirto, mantan menteri yang bikin Partai Kesejahteraan Sosial. Jaringan-jaringan bekas OPSUS itu, masih eksis dan operasional, mengiringi perjalanan sejarah bangsa kita,” kata Sufi tua.

.-faith acccomply “Berarti mereka itu tidak bahaya kan, bapak?” tukas si penyusup mem

demi keamanan dan keselamatan aset-aset kapitalisme global.”rust en orde berkuasa untuk menegakkan ruling class – yang dikendalikan kapitalisme global. Sebab dalam open society tak lagi dibutuhkan demokrasi, tetapi butuh open society Sufi tua ketawa, lalu berkata,”Ya untuk negara tidak berbahaya. Tapi untuk rakyat, masih harus dikaji ulang, terutama jika dikaitkan dengan geopolitik perubahan tatanan global –

“Hwaduuuh,jadi semua itu kayaknya palsu.” sahut Dullah garuk-garuk kepala,”Ini kayaknya ada hubungannya dengan RUU Intelijen yang harus disahkan jadi UU, mbah, karena sekarang ini negara dikesankan sudah dalam keadaan “siaga” dan bahkan mungkin sebentar lagi “awas”.

Sufi tua dan Sufi Sudrun ketawa. Si penyusup tersenyum kecut.
Read More >>

Al Habib Abu Bakar bin Thoha bin Yahya ( Panembahan Tejo Jati Kusumo ) Geritan Karang Anyar Pekalongan

Posted in Minggu, 24 April 2011
by Unknown

Oleh: Ahmad Mikal



Beliau berasal dari daerah gorot bagian wilayah tarim hadramaut, dibawah asuhan ayahandanya  beliau menimpa ilmu-ilmu agama dan kemudian berguru pada ulama’ lain di daerahnya, termasuk salah satu gurunya adalah Qutbul Irsyad wa Ghoutsul Bilad Al Habib  Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Setelah mendapatkan pembekalan ilmu agama yang cukup beliau mengikuti tradisi para salafnya berdakwah ke berbagai daerah menyebarkan agama dan syari’at Allah SWT. Mulai dari India, Malaysia, Pasai, dan menetap cukup lama di daerah Angsana Kalimantan Selatan untuk selanjutnya masuk kepulau Jawa melalui Surabaya dan kemudian menetap di Mataram (sekitar Jogjakarta) untuk beberapa lama.

Dalam masa beliau singgah di Mataram ini banyak peran-peran dan jasa  yang beliau berikan pada kerajaan Mataram terutama dalam mengatasi konflik pada masa sultan kurat I sehingga beliau mendapat gelar dari kerajaan sebagai Panembahan Tejo Jati Kusumo dan diantara jasa beliau adalah menentukan batas pemisah keraton Jogjakarta dengan keraton Kertosuro.

Mukim di Geritan

Mengakhiri lawatan dakwah panjang yang telah beliau lakukan beliau akhirnya memilih Pekalongan sebagai tempat pengembaraan yang terakhir . dari kota Pekalongan itu beliau memilih wilayah karang anyar yang lokasinya berada diantara Kajen dan Wono pringgo, tepatnya di desa Geritan.

Nama Gertian itu sendiri menurut sebagian riwayat/versi berasal dari nama tempat kelahiran beliau gorot   (قارة) yang kemudian mengikuti dialek masyarakat Pekalongan  menjadi Geritan dan sebagian riwayat lagi kayu geritan, kayu yang mengeluarkan suara. Entah kebenarannya wallahu a’lam.

Sebagian orang-orang dekat beliau di Mataram juga mengikuti jejak dakwah beliau membantu dan menetap hingga wafat di makamkan di Geritan seperti senopati Pematang dan qodhi Mataram yang makamnya berada di dalam kubah.

Di Geritan ini beliau mendirikan padepokan atau pesantren mengajarkan ilmu syari’at juga ilmu pertanian dan ilmu kelautan kepada para santri yang datangdari berbagai daerah.

Silsilah nasab beliau
Beliau adalah Al Arif Billah Al ‘Alim Al ‘Allamah Al Bahr Al Fahamah Al Habib Abu Bakar bin Thoha bin Muhammad bin Syaikh bin Ahmad bin Yahya  bin Hasan Al Ahmar bin Ali Al ‘Inar bin Alwi bin Muhammad Mauladdawilaih bin Ali bin Alwi bin Muhammad Faqihil Muqoddam bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Kholi’ qosam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad An Naqib bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali Bin Abi Tholib dan bin Fathimah Azzahro’ binti Rosulillah SAW.

Jasa-jasa beliau
Disamping perannya yang nyata dalam perkembangan islam ditanah Jawa khususnya di Pekalongan ada peran beliau yang tidak kalah penting adalah meredakan konflik berkepanjangan dalam kerajaan Mataram dimana kedatangan beliau telah di isyarohkan oleh Al Habib Abdurrohman bin Muhammad bin Abdulloh Al ‘Idrus kepada Hamengkubuwono I sebagai jawaban riyadloh yang beliau lakukan di gunung kemuning. Riyadloh Hamengkubuwono tiada lain mengharap petunjuk menyelesaikan konflik dalam istana dan beliau Al Habib Abdurrohman Al ‘Idrus menyampaikan bahwa yang akan menyelesaikan konflik tersebut adalah Al Habib Abu Bakar bin Yahya karenanya sulthan tidak perlu khawatir, karena beliau akan datang.

Betul apa yang disampaikan, tak berapa lama Al Habib Abu Bakar datang dan menyelesaikan konflik dengan membagi kerajaan menjadi dua, pembagian itu sendiri dilakukan dengan cara unik, beliau membawa sebuah kendi berisi air dan naik diatas sajadah sekonyong - konyong  sajadah itu terbang, beliau mengikuti perjalanan sajadah sambil mengucurkan air dari kendi, tempat-tempat kucuran air tersebut membentuk aliran yang kemudian dikenal dengan kali wedi sekaligus menjadi pembatas dua wilayah kerajaan.

Al Habib Abdurrohman Al Idrus sendiri didalam istana bertindak sebagai mufti kerajaan yang saran dan nasihatnya selalu diperhitungkan. Dari perannya beliau mendapat gelar pangeran besar, sementara Al Habib Abu Bakar di anugerahi gelar pangeran tejo jati kusumo atau panembahan tejo jati kusumo.

Read More >>

*cerita soal Gaji*

Posted in
by Unknown
 Oleh: Anggota WLML/ Moch Isa Anshori

Suatu hari pasca 2014, Negeri ini dipresideni seorang Wanita,Presiden pendahulunya meninggalkan kebangkrutan ekonomi yang teramat parah, bahkan devisa negarapun US$0.0000. dalam situasi seperti itulah,setiap hari buruh swasta,PNS,TNI/POLRI dan para pensiunan termasuk pensiunan mantan presiden dan wapres terdahulu, berdemonstrasi menun...tut kenaikan gaju dan jatah pensiun mereka. Dengan Bijak sang Presiden wanita itu mengajak berdialog dengan wakil Demonstran, yang ditunjuk mewakili dialog tersebut adalah PNS dan TNI/POLRI

Pres:"Ha...ha...ha..., dengar kawan, anda itu belum bekerja utk negara ini meski hanya sehari kok minta naik gaji?"

Tentu saja sang wakil demonstran itu sangat terkejut mendengar hal itu namun sang presiden segera meneruskan,
Pres :"Coba katakan ada berapa hari dlm setahun?"
Demonstran (D): "365 hari dan kadang-kadang 366 hari."

Pres: "Betul, sekarang ada berapa jam dlm sehari?"
D: "24 jam."

Pres: "Brp jam kamu bekerja dlm sehari?"
D: "Dari jam 08 :00 s/d 16 :00 jadi 8 jam sehari."

Pres: "Jd, berapa bagian dari harimu yang kamu pakai bekerja?"
D: "(mulai ngitung dalam hati... 8 /24 jam = 1 /3) Sepertiga!"

Pres: "Wah pinter kamu! Sekarang berapakah 1 /3 dari 366 hari?"
D: "122 (1 /3×366 = 122 hari)."

Pres: "Apakah kamu bekerja pada hari Sabtu dan Minggu?"
D: "Tidak, Pak!"

Pres: "Brp jumlah hari Sabtu dan Minggu dlm setahun?"
D: "52 hari Sabtu ditambah 52 hari Minggu = 104 hari."

Pres: "Nah, kalau kamu kurangkan 104 hari dari 122 hari, berapa yang tinggal?"
D: "18 hari."

Pres: "Nah, saya sudah kasih kamu 12 hari cuti tiap thn. Sekarang kurangkan 12 hari dari 18 hari yg tersisa itu brp hari yg tinggal?"
D: "6 hari."

Pres: "Di hari Idul Fitri dan Idul Adha apakah kamu bekerja?"
D: "Tidak, Pak!"

Pres: "Jadi sekarang berapa hari yg tersisa?"
D: "4 hari."
Pres: "Di hari Natal dan Tahun Baru apakah kamu bekerja?"
D: "Tidak, Pak!"

Pres: "Jd sekarang berapa hari yg tersisa?"
D: "2 hari."
Pres: "Sekarang sisa tersebut kurangi dengan Libur Waisak, Imlek, Nyepi, 1 Muharram, Maulid Nabi, Isra' Mikraj, Wafat Yesus, Kenaikan Isa Almasih, Proklamasi, berapa hari yg tersisa?"
D: "??? Gak ada sisa, Pak."

Pres: "Jd sekarang minta naik? gak kerja dapat gaju buta aja udah bersukur ria kan ? Sana pulang, beritahu teman teman kalian,bahwa presiden baru kita baik hati,orang tidak bekerjapun tetap digaji "
Read More >>

DAULAH UTSMANIYYAH

Posted in Sabtu, 23 April 2011
by Unknown
Sahabat-sahabat semua…..
Sesungguhnya Daulah Utsmaniyah adalah salah satu era kegemilangan Islam. Daulah ini telah berjasa secara nyata terhadap Islam. Di antara jasa-jasa Daulah ini adalah

1. Mengislamkan jutaan kaum Kristen Eropa Timur ( Bosnia, Herzegovina, Albania, Kosovo, Macedonia

2. Mengamankan jutaan mil persegi wilayah Islam. Daulah Utsmaniyah ini sepanjang masa berdirinya hingga keruntuhannya mengisi hidupnya dengan jihad melawan kaum kafir. Berkat dukungan Khilafah Utsmaniyah ini, maka Aceh tertunda penjajahannya hingga 350 tahun. Dan tidak ada satu masa Khalifah pun dari Daulah ini yang tidak mengisi pemerintahannya dengan jihad. Baik jihad tersebut bersifat pertahanan maupun penyerangan.

3. Memperluas wilayah Islam hingga ke jantung Eropa. Berkat dakwah dan jihad Daulah Utsmaniyah ini, saat ini Turki, Albania, Kosovo, Macedonia, Bosnia, dan Herzegovina menjadi negeri Muslim. Meskipun belum menjadi negara Islam. Bahkan pada masa kegemilangannya, mujahid Daulah Utsmaniyah melangkahkan kakinya hingga nyaris meerbut Wina Austria.

Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam sendiri bangga dengan Daulah Utsmaniyah ini. Beliau shallallah alayhi wa aalihi wa sallam bersabda,” Pasti akan ditaklukkan Konstantinopel, amir yang tebaik adalah amir ketika itu dan tentara terbaik adalah tentaranya “( HR. Ahmad).

Hadist ini mengandung makna sebagai berikut,

1. keridhaan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam kepada Amir/Panglima penaklukan Konstantinopel, Sultan Muhammad Al Fatih rahimahullah.
2. Keridhaan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam kepada seluruh anggota pasukan penaklukan Konstantinopel rahimahumullah.
3. Keridhaan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam terhadap akidah seluruh anggota pasukan penaklukan Konstantinopel rahimahumullah. Sebab jika mereka memiliki akidah yang menyimpang, sudah tentu mereka tidak akan disebut sebagai pasukan terbaik.
4. Keridhoan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam terhadap amaliyah tasawuf . Sebab seluruh anggota pasukan adalah pengamal tasawuf. Sultan Muhammad Al Fatih adalah sufi Tarekat Naqshabandiyah. Sedangkan anngota pasukan, khususnya pasukan Janissary sebagai pasukan inti adalah sufi Tarekat Bektasiyah. Sedangkan unit-unit pasukan lain, seperti Resimen Anatolia dan tentara irreguler hampir semuanya juga sufi dari berbagai macam Tarekat ( Maulawiyah, Qodiriyah, Naqshabandiyah dan lain-lain ).
Andaikan amaliyah tasawuf merupakan sebuah kesesatan, maka sudah tentu Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam tidak akan menyebut mereka sebagai pasukan terbaik. Tapi pasukan ahli bid’ah.

5. Keridhoan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam terhadap akidah Ahlussunnah Wal jama’ah yang diajarkan oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturidy. Sebab seluruh pasukan Utsmani pada saat itu mengikuti ajaran kedua Imam Agung ini.
Inilah salah satu sosok Sultan Utsmani, Sultan Muhammad Al Fatih yang dibanggakan oleh Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam.

Sebelum beliau lahir, Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam telah memberikan kabar gebira tentang beliau….
Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Jika anda terkagum-kagum dengan penggambaran perang yang ketat antara Balian of Ibelin melawan Shalahudin Al-Ayyubi di film Kingdom of Heaven [resensi Priyadi], maka perang antara Constantine XI Paleologus dengan Muhammad Al-Fatih jauh lebih ketat, tidak hanya dalam hitungan hari tapi berminggu-minggu. Sultan Muhammad Al Fateh atau yang disebut juga Mehmed II The Conqueror dilahirkan pada tanggal 29 March 1432. Saat kelahirannya pun sudah terdapat isyarat bahwa dia nantinya akan menjadi orang besar yang membuat sejarah besar. Ketika berita kelahirannya disampaikan, ayahnya, Sultan Murad II sedang membaca Al Quran tepat pada Surat Al Fath ayat 1:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan padamu kemenangan yang nyata.”
Kelahirannya ada pertanda

Menjelang kelahirannya, Sultan Murad sebenarnya sedang mempersiapkan penyerbuan ke Konstantinopel (Constantinople), ibu kota Kekaisaran Romawi Timur atau Byzantium. Setelah anaknya Muhammad lahir, datanglah seorang ulama besar Islam ke istana Sultan dan beliau mengatakan bahwa bayi itulah yang nantinya akan menaklukkan Konstantinopel seperti sabda Rasulullah SAW:
“Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.”

Ulama itu bernama Syeikh Syamsuddin Al Wali dari Khurasan (sekarang Uzbekistan). Beliau adalah seorang syeikh tarekat Naqsyabandiyah. Sultan Murad sangat yakin dengan ilham Syeikh Syamsuddin Al Wali sehingga baginda menyerahkan putera mahkota yang masih kecil kepada Syeikh Syamsuddin untuk dididik.
Didikan tarekat sufi dan kecakapan perang
Syeikh Syamsuddin mendidik muridnya ini dengan disiplin tarikat yang cukup keras. Penuh dengan latihan mengekang hawa nafsu dan hidup susah sehingga hasilnya Pangeran Muhammad menjadi seseorang yang berjiwa kuat dan sangat tahan dalam menghadapi ujian. Beliau dididik memiliki cita-cita besar yaitu menepati janji Tuhan melalui Rasulullah SAW: menaklukkan Konstantinopel. Untuk ilmu perang, ayahnya mendatangkan panglima-panglima yang paling berpengalaman untuk mendidik beliau. Beliau sendiri adalah seorang cendekiawan yang gemar mengumpulkan ilmuwan-ilmuwan di istana untuk berdiskusi.

Pada usia 19 tahun beliau naik tahta menggantikan ayahnya. Mulailah persiapan penaklukan dilakukannya. Beliau mendidik tentara dan rakyatnya agar menjadi orang-orang yang bertaqwa. Seluruh tentera dan rakyatnya dididik agar sanggup bangun malam dan merintih munajat pada Tuhan. Sebaliknya di siang hari mereka adalah singa-singa yang berjuang di jalan Allah. Beliau juga mengadakan operasi intelijen untuk membebaskan seorang ahli pembuat meriam dari penjara Romawi. Bersama para insinyurnya beliau membangun benteng, kapal-kapal perang dan meriam-meriam yang canggih untuk ukuran zaman itu. Bahkan dalam membangun benteng Rumeli Hasari di Selat Bosphorus beliau turun tangan ikut mengangkat batu dan pasirnya.

Takluknya Konstantinopel
Setelah persiapan matang, dimulailah penyerbuan ke Konstatinopel. Perang yang hebat berkecamuk lebih satu bulan, belum juga tampak tanda-tanda kemenangan. Bahkan pasukan Islam mengalami kesukaran mendekati benteng Romawi di tepi Selat Bosphorus tersebut karena di taut pasukan Romawi memasang rantairantai berukuran besar yang sangat panjang hingga menghalangi kapal yang akan mendekat. Dalam ketidakpastian itu Sultan Muhammad Al Fateh bertanya pada syeikhnya yang mulia, “Wahai Guruku, kapankah saat yang dijanjikan itu tiba?” Syeikh Syamsuddin Al Wali menjawab, “Pada hari ke 53, hari Selasa pukul 11 pagi.” Ini adalah ilham berbentuk berita ghaib yang diterima oleh Syeikh Syamsuddin Al Wali. Sultan Muhammad sangat yakin pada ilham gurunya. Beliau makin bersungguh-sungguh meningkatkan ketaqwaan pada Allah dan mengajak tentaranya melaksanakan hal yang serupa sebab hanya orang bertaqwa yang mendapat bantuan Tuhan.

Pada suatu malam di bulan Mei 1453 terjadilah peristiwa yang luar biasa. Para insinyur Sultan telah menemukan inovasi teknologi luar biasa yang bisa disebut terobosan besar di zaman itu. Mereka berusaha membuat agar kapal-kapal perang Islam dapat berjalan di darat. Dengan memutari selat, pada tengah malam tibalah kapat-kapal pasukan Sultan Muhammad At Fateh ke bagian belakang benteng Konstantinopel. Kota Konstantinopel sebenarnya adalah kota yang sangat strategis karena ditindungi oleh benteng alami, yaitu perbukitan. Kapal-kapal tentara Islam yang berjumlah 70 kapal mendarat di Semenanjung Pera di pinggir perbukitan itu dan berusaha mendakinya. Terjadilah keajaiban yang merupakan karamah bantuan Tuhan di malam itu. Secara lahiriyah, meskipun kapal-kapal tersebut dapat ‘dipaksa’ berjalan di darat dengan menggunakan balok-balok kayu raksasa tapi tetap saja untuk mendaki bukit untuk membawa 70 kapal layar berukuran besar dalam tempoh beberapa jam adalah hal yang mustahil. Apa yang sebenarnya terjadi? Kapal-kapal itu bukanlah berjalan di darat tetapi seakan melayang mendaki dan menyusuri perbukitan sejauh 16 km sampai di Golden Horn sehingga operasi pendaratan 5.000 pasukan itu selesai dalam waktu singkat. Dari sanalah mereka menyerbu Konstantinopet. Paginya, pada hari Selasa 29 Mei 1453 Konstantinopel takhluk ke tangan tentara Islam di bawah pimpinan Sultan Muhammad Al Fateh.

Telah diceritakan bahwa ketika Sultan Muhammad At Fateh memasuki Konstantinopel, para perajuritnya menemukan makam sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub Al Anshari ra. Di makam tersebut mereka melihat sebagian kaki Abu Ayyub tersembul keluar dari tanah. Kaki tersebut putih bersih, sama sekali tidak terlihat rusak walaupun beliau telah wafat selama 600 tahun. Inilah karamah para sahabat Nabi. Sultan panglimanya bergiliran mencium kaki tersebut. Giliran Sultan yang terakhir. Ketika Sultan Muhammad Al Fateh akan mencium kaki Sahabat Rasulullah itu, tiba-tiba kaki tersebut masuk ke dalam tanah. Telah diceritakan pula bahwa pada petang hari setelah penaklukan bersejarah itu Syeikh Syamsuddin Al Wali bermimpi bertemu dengan Abu Ayyub Al Anshari. Beliau (Abu Ayyub) menyampaikan ucapan selamat pada Sultan Muhammad Al Fateh karena berhasil menaklukkan Konstantinopel dan menyatakan bahwa beliaulah yang sepatutnya mencium kaki Sultan Muhammad Al Fateh sebagai orang yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW.

Pada hari Jum’at pertama di Konstantinopel, ketika diadakan shalat Jum’at untuk pertama kalinya, terjadi kebingungan dalam menentukan siapa yang menjadi imam. Sultan pun dengan lantang meminta seluruh tentaranya berdiri dan mengajukan pertanyaan: “Siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga saat ini pernah meninggalkan shalat fardhu silakan duduk!” Tidak ada seorang pun yang duduk. Ini berarti seluruh tentara Sultan sejak usia baligh tidak pernah meninggalkan shalat fardhu.
Sultan berkata lagi, “Siapa yang sejak baligh hingga saat ini pernah meninggatkan shalat sunat rawatib silakan duduk!” Sebagian tentaranya masih tegak berdiri dan sebagian lagi duduk. Jadi sebagian tentara sultan sejak balighnya tidak pernah meninggalkan shalat sunat rawatib.
Kemudian Sultan berkata lagi, “Siapa yang sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud silakan duduk!” Kali ini seluruh tentara duduk. Yang tinggal berdiri hanya Sultan sendiri. Ternyata sejak usia baligh Sultan belum pernah meninggalkan shalat tahajud sehingga beliaulah yang paling pantas menjadi imam shalat Jum’at. Memang benarlah kata Rasulullah SAW, “Sebaik-baik pemimpin, sebaik-baik tentara dan sebaik-baik rakyat.”

[Taken from Kawan Sejati Magazine vol 11/ TH
Kekaisaran Romawi terpecah dua, Katholik Roma di Vatikan dan Yunani Orthodoks di Byzantium atau Constantinople yang kini menjadi Istanbul. Perpecahan tersebut sebagai akibat konflik gereja meskipun dunia masih tetap mengakui keduanya sebagai pusat peradaban. Constantine The Great memilih kota di selat Bosphorus tersebut sebagai ibukota, dengan alasan strategis di batas Eropa dan Asia, baik di darat sebagai salah satu Jalur Sutera maupun di laut antara Laut Tengah dengan Laut Hitam dan dianggap sebagai titik terbaik sebagai pusat kebudayaan dunia, setidaknya pada kondisi geopolitik saat itu.
Yang mengincar kota ini untuk dikuasai termasuk bangsa Gothik, Avars, Persia, Bulgar, Rusia, Khazar, Arab-Muslim dan Pasukan Salib meskipun misi awalnya adalah menguasai Jerusalem. Arab-Muslim terdorong ingin menguasai Byzantium tidak hanya karena nilai strategisnya, tapi juga atas kepercayaan kepada ramalan Rasulullah SAW melalui riwayat Hadits di atas.

Upaya pertama dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668M, namun gagal dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub Al-Anshari ra. gugur. Sebelumnya Abu Ayyub sempat berwasiat jika ia wafat meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim. Dan para sahabatnya berhasil menyelinap dan memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn.

Generasi berikutnya, baik dari Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah hingga Turki Utsmani pada masa pemerintahan Murad II juga gagal menaklukkan Byzantium. Salah satu peperangan Murad II di wilayah Balkan adalah melawan Vlad Dracul, seorang tokoh Crusader yang bengis dan sadis (Dracula karya Bram Stoker adalah terinsipirasi dari tokoh ini). Selama 800 tahun kegagalan selalu terjadi, hingga anak Sultan Murad II yaitu Muhammad II naik tahta Turki Utsmani.
Sejak Sultan Murad I, Turki Utsmani dibangun dengan kemiliteran yang canggih, salah satunya adalah dengan dibentuknya pasukan khusus yang disebut Yanisari. Dengan pasukan militernya Turki Utsmani menguasasi sekeliling Byzantium hingga Constantine merasa terancam, walaupun benteng yang melindungi –bahkan dua lapis– seluruh kota sangat sulit ditembus, Constantine pun meminta bantuan ke Roma, namun konflik gereja yang terjadi tidak menelurkan banyak bala bantuan.

Hari Jumat, 6 April 1453M, Muhammad II atau disebut juga Mehmed bersama gurunya, syaikh Aaq Syamsudin, beserta tangan kanannya, Halil Pasha dan Zaghanos Pasha merencanakan penyerangan ke Byzantium dari berbagai penjuru benteng kota tersebut. Dengan berbekal 150.000 ribu pasukan dan meriam buatan Urban –teknologi baru pada saat itu– Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau perang. Constantine Paleologus menjawab tetap mempertahankan kota dengan dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa.

Kota dengan benteng 10m-an tersebut memang sulit ditembus, selain di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7m. Dari sebelah barat melalui pasukan altileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan laut Marmara pasukan laut harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.
Berhari-hari hingga berminggu-minggu benteng Byzantium tak bisa jebol, kalaupun runtuh membuat celah pasukan Constantine mampu mempertahankan celah tersebut dan dengan cepat menumpuk kembali hingga tertutup. Usaha lain pun dicoba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal. Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh dilakukan hanya dalam semalam. Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui selat Golden Horn yang sudah dirantai. Ide tersebut akhirnya dilakukan, yaitu memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang, hanya dalam semalam dan 70-an kapal bisa memasuki wilayah selat Golden Horn.

29 Mei, setelah sehari istirahat perang Muhammad II kembali menyerang total, diiringi hujan dengan tiga lapis pasukan, irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan Yanisari. Giustiniani sudah menyarankan Constantine untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan. Kabarnya Constantine melepas baju perang kerajaannya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.
Konstantinopel telah jatuh, penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia, dan Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk, siapapun, baik Islam, Yahudi ataupun Kristen. Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.

Toleransi tetap ditegakkan, siapa pun boleh tinggal dan mencari nafkah di kota tersebut. Sultan kemudian membangun kembali kota, membangun sekolah –terutama sekolah untuk kepentingan administratif kota– secara gratis, siapa pun boleh belajar, tak ada perbedaan terhadap agama, membangun pasar, membangun perumahan, bahkan rumah diberikan gratis kepada para pendatang yang bersedia tinggal dan mencari nafkah di reruntuhan kota Byzantium tersebut. Hingga akhirnya kota tersebut diubah menjadi Istanbul, dan pencarian makam Abu Ayyub dilakukan hingga ditemukan dan dilestarikan.
Dan inilah Sultan Abdul Hamid II, Sultan Daulah Utsmaniyah yang diperangi oleh persekutuan antara Kaum Wahabi dan tentara Salib Inggris.

Selama masa kepemimpinannya, Sultan Abdul Hamid II senantiasa dihadapkan dengan pelbagai permasalahan kenegaraan yang sangat rumit, yang jika tidak diselesaikan dengan tepat akan mengancam eksistensi kekhilafahan Turki Utsmaniyyah waktu itu. Pelbagai macam kekacauan dalam segala aspek tersebut bukan hanya berasal dari faktor interen -kalangan pejabat pemerintahan yang haus kekuasaan serta ancaman disintegrasi daerah yang jauh dari pusat pemerintahan Utsmaniyyah-, namun yang lebih mengancam adalah rongrongan kebencian dan kerakusan dari eksteren Eropa yang bermaksud menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmaniy.

Dalam menyelesaikan semua konflik yang datang, Abdul Hamid II senantiasa mementingkan pendekatan persuasif dalam pemecahan permasalahan dalam negerinya. Ia senantiasa menyebarkan ide-ide pemersatuan semua kelompok yang berada dalam kekuasaan kerajaan Utsmaniyyah untuk menggalang persatuan demi menghadapi menghadapi ancaman dari pihak luar yang ingin menghancurkan eksistensi kerajaan Utsmaniyyah. Ia mengusahakan terjalinnya persatuan antara pengikut Ahl sunnah wa al jamaah dengan pengikut Syiah demi menjaga wilayah Utsmaniyyah dari penjajahan bangsa kolonial Eropa.
Politik devide et empera yang diterapkan oleh bangsa kolonial Prancis, Inggris, Rusia dan Negara-negara Eropa lainnya untuk memecah belah persatuan umat. Ide Nasionalisme Arab yang ditanamkan kepada bangsa Mesir dan Negara-negara Afrika oleh Inggris dan Prancis demi mengahancurkan kekhilafahan Utsmaniyyah dari dalam, ia senatiasa menyikapinya dengan kecermatan dan kehati-hatian yang sangat mendalam. Semua itu ia lakukan bukan lantaran keterbatasan kekuasaan yang ia miliki, namun hal tersebut lebih dari demi menjaga kesatuan umat agar tidak terpecah belah. Sehingga bangsa Eropa yang sangat berkepentingan demi hancurnya kekhilafahan Utmaniyyah tidak bisa mengambil mamfaat dari lemahnya persatuan umat.

Sultan Abdul Hamid II mengutamakan membangun kesatuan umat, dengan lebih berkosentrasi terhadap perdamaian dengan para pejabat yang berniat melengserkannya. Ia memberi para pejabat tersebut fasilitas dan jabatan, berharap mereka dapat menyingkirkan ide-ide busuk mereka yang akan berdampak terhadap perpecahan umat dan disintegrasi negeri-negeri Islam yang jauh dari pusat.
Walau ia berhadapan dengan permasalahan dalam negeri yang sangat kompleks, Abdul Hamid II juga tidak pernah mengabaikan setiap gangguan yang mengancam kaum muslimin yang datang dari luar. Demi mempertahankan wilayah teritorial Utsmaniyyah dari gangguan Rusia, Sultan Abdul Hamid II bahkan rela membiayai perang dengan Rusia dengan hata pribadinya.

Salah satu konsistensi yang diperlihatkan oleh Sultan Abdul Hamid II dalam memelihara territorial wilayah Utsmaniyyah ialah usahanya dalam mempertahankan al Quds (Palestina) dari pencamplokan bangsa Yahudi. Usaha lobby yang gencar dilakukan para petinggi Zionis -Theodore Hertzl- agar sultan mau memberikan wilayah Palestina bagi kaum Yahudi, ia tolak mentah-mentah. Bahkan tawaran harta pribadi bagi sultan serta janji pelunasan hutang Negara Utsmaniyyah yang mencapai 300 juta lira, tidak mampu meluluhkan keteguhannya dalam mempertahankan tanah Palestina.
“Aku tidak dapat menjual bagian dari negeri tersebut (Palestina) walau satu telapak kaki pun, karena negeri itu bukan milikku, tetapi milik rakyatku. Rakyatku telah sampai kedaerah itu dengan mengucurkan darah mereka, dan mereka pun akan kembali menumpahkan darah mereka esok hari. Di masa mendatang, kami tak akan membiarkan seorang pun merampasnya dari kami”. Demikian tulis Hertzl mengutip jawaban dari Abdul Hamid II, ketika ia berusaha meminta Alquds kepada sultan. (Harb, Muhammad. 2004. Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II (terjemahan Abdul Halim). Bogor: Pustaka Thariqul Izzah).

Sayang sekali,
upaya Khalifah Abdul Hamid untuk mempertahankan Khilafah Islamiyah ini ditolak bahkan dikhianati oleh kaum Wahabi. Mereka ini akhirnya menjadi alat kaum Salib Inggris meruntuhkan Khilafah Islam dari Jazirah Arabia.

Anehnya, mengapa kaum Wahhabi tidak merasa sebagai bagian dari Khilafah Islam ? Padahal Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam bersabda,” Barangsiapa yang memisahkan diri dari jama3ah ( Khilafah Islam ), maka ia mati sebagaimana bangkai jahiliyyah “ ( H.R. Muslim ).
akidah TAKFIR adalah akidah yang menyebabkan kaum Wahabi sangat ganas dan banyak melakukan pembantaian terhadap kaum muslimin. kaum Wahhabi merasa tidak di bawah Khilafah Utsmaniyah, ini berarti mereka masuk dalam cakupan hadist ,” Barang siapa yang meninggal sedangkan di lehernya tidak ada bay’ah, maka ia mati sebagaimana bangkai jahiliyyah” ( H.R. Muslim/Riyadhus Shalihiin ).

Sudah tentu, memisahkan diri dari Jama3ah adalah sebuah bid’ah..dan kaum Wahhabi sepanjang sejarahnya sering kali melakukan hal ini. Bahkan dalam perang dunia I, saat kaum muslimin bahu membahu dengan Khalifah Abdul Hamid II Al Utsmani, kaum Wahhabi justru berada pada posisi kaum Salib Inggris memerangi Khalifah Islam hingga akhirnya Khilafah Utsmaniyah runtuh…Sudah tentu.ini adalah bid'ah tanpa ada satu pun dalil yang membenarkannya..

ITULAH DOSA WAHABI TERHADAP ISLAM…

Sumber:
Copi paste dari tulisan akhil al kariim Deskov Emir Balitaristan
Read More >>

Prediksi Bid`ah

Posted in Kamis, 21 April 2011
by Unknown

Oleh: Anggota WLML/ Syekh Vespa

Tahun ini kita akan mengalami 4 tgl yg jarang berlaku dalam setahun.
1/1/11, 1/11/11, 11/1/11, 11/11/11

Bkn itu sj, coba ambil 2 angka terakhirthn lahir anda + umur anda pada thn ini.
Hasilnya pasti 111 utk semua org.
Pada bln Oktober akan ada 5x Sabtu, 5x Minggu & fenomena ini terjadi tiap 823 thn sekali.

Tahun ini dikenal dgn "thn kekayaan".
Jika anda menandai catatan ini pd 4 tmn anda, maka kekayaan akan dtg pd hari ke-2
seperti yg dinyatakan dlm Fengshui.

Selamat Mencoba
Read More >>

RA. KARTINI ; Sisi Lain.....

Posted in
by Unknown

Oleh: Anggota WLML/ Thoriqoh Alfisbuqi


Salah satu murid Mbah Kyai Sholeh Darat yang terkenal tetapi bukan dari kalangan ulama
adalah Raden Ajeng Kartini.
Karena RA Kartini inilah Mbah Sholeh Darat menjadi pelopor penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Jawa.
Menurut catatan cucu Kyai Sholeh Darat (Hj. Fadhilah Sholeh), RA Kartini pernah punya pengalaman
tidak menyenangkan saat mempelajari Islam.
Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Qur’an.
Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak,
RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat.
Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah.
RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.
Dalam sebuah pertemuan RA Kartini meminta agar Qur’an diterjemahkan karena menurutnya
tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.
Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan al-Qur’an.
Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis
dalam huruf “arab gundul” (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah.
Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman,
tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.
Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah
dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.
Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:
Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.
Saya tak mengerti sedikitpun maknanya.
Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang
sampai kepada makna tersiratnya,
sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa
yang saya pahami.”
{inilah dasar dari buku “Habis gelap terbitlah terang” bukan dari sekumpulan surat menyurat beliau,..
sejarah telah di simpangkan, (penulis red)}.
Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya:
Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqoroh: 257).
Dalam banyak suratnya kepada Abendanon,
Kartini banyak mengulang kata “Dari gelap menuju cahaya”
yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: “Door Duisternis Toot Licht.”
Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,”
yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.
Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai
karena Mbah Kyai Sholeh Darat keburu wafat.
Read More >>

Hidangan Populer Warkop Pusat

Copyright 2011 @ Warkop Mbah Lalar