CINTA DAN MA'RIFAT: DUA SISI PADA KOIN YANG SAMA

Posted in Rabu, 27 Juli 2011
by Mbah Kanyut

Allahumma inii as aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka
(Ya Allah, aku memohon agar Engkau karuniakan cinta kepada-Mu, dan agar aku bisa mencintai orang-orang yang mencintai-Mu)

Ilahi anta maqshuudi wa ridhoka mathluubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka
(Tuhanku, Engkaulah yang kutuju dan ridho-Mu yang kuharapkan, beri daku kecintaan dan makrifat kepada-Mu)

“Nafas Ar-Rahman menjadikan semesta ini ada, guna memancarkan cinta dan apa-apa yang dilihat oleh Pencinta dalam Diri-Nya. Melalui penyaksian Yang Lahir, Dia mengenal Diri-Nya sendiri,” demikian tulis Syekh Al-Akbar dalam Futuhat Al-Makiyyah. Sifat Tuhan kepada alam, mikro maupun makro, adalah mencintai, sebab “Aku rindu untuk dikenal, maka Aku ciptakan semesta.” Cinta bagi hampir semua Sufi, adalah dasar dari penciptaan. Juga dikatakan oleh beliau bahwa Islam sepenuhnya adalah agama cinta, sebagaimana juga Rasul Muhammad adalah yang dikasihi Allah—habibillah. Cinta, kata Jalaluddin Rumi, adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan seluruh kekurangan diri. Dan hanya mereka yang berjubah cinta sajalah yang sepenuhnya tidak mementingkan diri. Hanya mereka yang mencintai sepenuh hati sajalah yang mampu meniadakan diri (fana) di dalam Diri Sang Kekasih (Allah).

Cinta kepada Allah (mahabbah) bukan cinta dalam pengertian keduniawian, yang masih melibatkan ego dan keinginan untuk diri sendiri. Cinta Sufi adalah dalam rangka merespons hadis “Aku rindu untuk dikenal,” yakni seorang pencinta harus mengenal Allah sebagaimana Dia mengenal Diri-Nya sebagai Perbendaharaan Tersembunyi yang menyimpan segala Keindahan (jamal), Keagungan (jalal) dan Kesempurnaan (kamal). Tetapi, karena hanya Allah yang mengenal Allah, maka satu-satunya cara bagi Sufi adalah “bersatu” dengan Allah, mem-fana-kan sifat-sifat buruk dan bahkan kediriannya dan mengenakan sifat-sifat-Nya dalam ke-baqa-an, lalu menyaksikan bahwa segala sesuatu hanyalah Allah saja. Dengan cara inilah Sufi bisa “meminjam” perspektif” Allah dalam memandang Diri-Nya sendiri.

Jadinya, tanpa cinta, Perbendaharaan Tersembunyi akan selamanya tersembunyi. Tanpa cinta, tiada alam semesta. Tanpa cinta, tidak ada “persatuan” dengan Allah. Tetapi apakah sesungguhnya cinta (mahabbah) itu? Cinta menurut Sufi adalah salah satu maqam dalam perjalanan spiritual. Tetapi definisi yang pasti untuk soal ini amat sulit, jika tidak bisa dikatakan mustahil. Syekh Akbar Ibnu Al-Arabi dengan jelas mengatakan bahwa cinta tidak bisa didefinisikan:

Di kalangan orang-orang arif dan yang membicarakannya, cinta adalah sesuatu hal yang tidak bisa didefinisikan. Cinta diketahui oleh orang-orang yang mengalaminya … tanpa mengetahui (secara persis) apa sesungguhnya cinta itu, dan mereka tidak menyangkal eksistensi riilnya.

Sasaran cinta bagi Sufi adalah Perbendaharaan Tersembunyi dari Wujud Ilahi di setiap benda, sehingga seluruh dunia adalah pencinta sekaligus yang dicintai, dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Cinta ilahi adalah sumber semua cinta, sebab Cinta Ilahi ada di dalam Diri-Nya (Dzat-Nya) sendiri yang mencintai kita demi diri kita dan demi Diri-Nya sendiri. Artinya, di satu sisi, cinta-Nya kepada kita demi diri kita adalah lantaran agar kita bisa mengenal-Nya dari amal ibadah yang membawa kita kepada pemenuhan keinginan-Nya dan menjauhkan diri kita dari segala hal yang bertentangan dengan keinginan-Nya—atau kita mengenal-Nya melalui takwa. Di sisi lain, Dia mencintai kita demi Diri-Nya sendiri karena “Aku adalah Perbendaharaan Tersembunyi, aku rindu (cinta) untuk dikenal, maka Aku ciptakan dunia agar Aku bisa dikenal mereka sehingga mereka mengenal-Ku.” Jadi, kata Syekh Akbar Ibnu Al-Arabi, “Dia menciptakan kita hanya demi mencintai Diri-Nya sendiri, agar kita mengenal-Nya,” yakni mengenal Keindahan dan Keagungan-Nya melalui perspektif-Nya dan, di atas semua, di dalam Diri-Nya—melalui fana dari diri kita dan baqa dalam Diri-Nya.

Ini juga berarti dua hal lain yang relevan, yakni, pertama, bahwa dalam rangka mendapatkan perspektif dari Yang Dicintai, seorang pencinta harus memenuhi keinginan dan perintah dari Yang Dicintai. Inilah ujian dalam cinta—cinta selalu membutuhkan pengorbanan demi yang dicintai. Syariat, tata hukum ilahi, dalam arti yang sempit maupun luas, adalah ketentuan yang harus dipatuhi. Tanpa mematuhi perintah, tidak akan ada persatuan, sebab cinta sejati tidak boleh mengandung pembangkangan terhadap sang Kekasih. Atau dalam bahasa Sufi, tanpa (mematuhi) syariat, tidak akan muncul hakikat (cinta).

Dan kedua, secara batin seorang pencinta tidak boleh berpaling kepada sesuatu selain sang Kekasih atau segala sesuatu yang membuat seseorang lupa kepada-Nya. Karenanya, bahkan kesenangan dalam beribadah menjadi sesuatu yang riskan, sebab bisa membelokkan pandangan pencinta dari Sang Kekasih. Seseorang yang masih memperhatikan kesenangannya dalam beribadah berarti dalam dirinya masih tersimpan kesenangan pada dirinya sendiri, masih ada pamrih, dan karenanya belum merealisasikan ikrar lillahi ta’ala. Ini adalah tingkatan yang sulit, sebab kenikmatan dalam beribadah adalah sesuatu yang diperbolehkan dan diharapkan. Nikmat iman adalah sesuatu yang dipuji dan dicari oleh umat Islam. Tetapi bagi sufi, mengharap-harap kenikmatan iman dalam beribadah sama artinya mengharap sesuatu selain Diri-Nya, yang berarti pula masih menyimpan perspektif dari diri dan, karenanya, belum sepenuhnya lebur dalam perspektif ilahi seutuhnya. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam nasihatnya mengatakan agar kita beribadah demi Allah saja, jangan demi nikmat-Nya. Di sini terdapat andil nafsu yang samar dan berbahaya bagi Sufi.

Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari memperingatkan jebakan nafsu ini. Menurutnya, andil nafsu dalam maksiat bisa tampak jelas, tetapi andil nafsu dalam ketaatan sangat samar dan merusak keikhlasan beribadah. Karena itu kebanyakan Sufi lebih memilih situasi yang berat dan sempit (qabd) karena dalam kesempitan itu nafsu tidak punya tempat. Salah satu nasihatnya yang amat bagus adalah agar orang memilih amal yang terasa lebih berat bagi nafsunya. Dengan cara ini kita bisa mengetahui apa hakikat dari nafsu itu, dan apa bentuk tipu dayanya, baik tipu dayanya dalam hal kemaksiatan maupun tipu dayanya dalam ketakwaan. Secara bertahap sifat-sifat jahat dari nafsu ini akan kelihatan dan jika “musuh” ini sudah keluar dari persembunyiannya, akan lebih mudah bagi kita untuk menyerangnya. Ketika sifat-sifat jahat sudah dikalahkan, maka Allah akan mengaruniakan sifat-sifat-Nya kepada kita. Dalam analisis terakhir, taraf tertinggi adalah ketika seseorang menyadari bahwa bahkan keberadaannya sendiri adalah “dosa yang amat besar”. Menghilangkan dosa ini sama artinya meleburkan diri dalam fana, lalu baqa, dan akhirnya memandang keindahan dan keagungan-Nya. Pada titik ini cinta ilahi seorang Sufi tidak akan lagi tergoyahkan.

Maka, murid (yang menginginkan) menjadi murad (yang diinginkan), yakni Sufi menjadi lokus sempurna bagi Allah untuk melihat Diri-Nya sendiri. Dengan cara yang sama, yang mengingat menjadi yang diingat; yang mengetahui menjadi yang diketahui. Ini adalah tahap persatuan, tahap penyaksian sejati, atau pengetahuan sejati (makrifat). Jadinya, hubungan mahabbah dan makrifat adalah hubungan yang unik: timbal-balik sekaligus menyatukan, yang satu melahirkan yang lain.

Di satu sisi, ahli makrifat mengenal Allah sebagai Keindahan dan Keagungan, yang melahirkan mahabbah. Keindahan yang dikenal adalah Keindahan Dzat-Nya dan Keindahan Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya. Karena itu mereka merasakan keindahan dalam amal (ihsan), yakni seperti dikatakan Nabi kepada Jibril, “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak melihat-Nya, bagaimanapun Dia melihatmu.” Yakni, melihat setiap kualitas positif dan indah dari Dzat-Nya yang termanifestasi dalam setiap lokus tajalli, mikrokosmos dan makrokosmos. Syekh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi menulis:

Penyebab cinta adalah Keindahan (jamal) yang merupakan milik-Nya, karena Keindahan dicintai lantaran dirinya sendiri (keindahan itu sendiri). “Allah itu Mahaindah dan Dia mencintai Keindahan.” Jadi Dia mencintai Diri-Nya sendiri dan penyebabnya adalah tindakan memperindah (ihsan). Tidak ada tindakan memperindah kecuali dari Allah dan tidak ada yang menjadikan indah kecuali Allah. Jadi ketika aku mencintai tindakan (amal) keindahan, aku hanya mencintai Allah semata, karena Dialah yang menciptakan keindahan (Muhsin); dan ketika aku mencintai keindahan (itu sendiri) aku tak mencintai sesuatu pun selain Allah karena Dia adalah Yang Mahaindah (Jamil). Jadi dalam setiap aspek dihubungkan hanya kepada Allah.

Di sisi lain, cinta menyebabkan orang semakin ingin mengenal yang dicintainya. Cinta dalam tingkat tertentu melahirkan makrifat. Ketika sang pencinta makin mengenal Yang Dicintai, terbitlah isyq (rindu dan cinta membara). Inilah saat ketika ruh-ruh manusia yang pada dasarnya suci kembali ke kondisi kefitriannya, diselimuti oleh Keindahan dan Keagungan Ilahi, dan lebur dalam Kesempurnaan-Nya yang Serba Menyatukan (tauhid). Saat ini terjadi maka Allah akan mempertontonkan Keindahan-Nya (Jamal) kepada kesadaran terdalam sang Sufi, yang menyebabkannya Sufi “jatuh cinta” di mana seluruh perhatiannya hanya pada Yang Dicintai sehingga Dia tak lagi melihat kepada yang lain, bahkan kepada dirinya sendiri.

Sebagian Sufi yang tenggelam dalam cinta mendalam ini mengalami guncangan dahsyat hingga mencapai ekstase, mengucapkan syatahat yang menggemparkan: ana al-haqq (Akulah Kebenaran)!; la ilaha illa al-isyq (tiada tuhan selain Cinta); subhani maa adzama syaani (Mahasuci aku, alangkah besarnya keagungan-Ku)!; laisa jubbatin siwa Allah (Tiada yang ada dalam jubahku kecuali Allah)!; anna rabbakum fa’ buduunii (Akulah Tuhanmu, taatilah aku). Jadi, ketika “keakuan” Sufi keluar atau sirna (fana), maka “Ke-Aku-an” Tuhan yang abadi akan masuk sehingga “mengabadikan” sang Sufi (baqa) bahkan sebelum Sufi itu meninggalkan dunia, mereka telah merealisasikan perintah Nabi, mutu qabla an tamutu—”matilah engkau sebelum engkau mati.” Kematian berarti leburnya sifat-sifat seseorang dalam Sifat-sifat Tuhan. Karenanya ada pepatah Sufi mengatakan “Tiada kebaikan dalam cinta tanpa kematian.”

Ketika engkau jatuh cinta, kata sebagian sufi, engkau tidak boleh berpaling kepada selain Kekasih. Sang Kekasih akan cemburu jika cinta diduakan. Tuhan tidak akan memperkenankan apa pun berbagi dengan-Nya, karena hal itu adalah syirik. Jadi, “Tuhan adalah pencemburu,” kata Wali Allah yang agung, ratunya para pencinta Tuhan, Rabi’ah Al-Adawiyah. Menyembah-Nya demi surga atau lari dari neraka menandakan seseorang masih menduakan Tuhan, demikian pandangan Rabi’ah Al-Adawiyah. Dengan kata lain, orang yang beribadah demi surga berarti masih menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri. Ia masih mengandaikan dirinya ada. Padahal, kata Al-Hallaj, “keberadaanmu adalah dosa yang tiada bandingannya.” Dan karenanya dia berdoa agar “aku” yang menghalanginya dari “Aku” dihilangkan oleh-Nya. Ia berseru dalam sajaknya:

Antara Aku dan Kau ada sebuah ‘Aku’ yang menyiksaku.
Ambillah, demi Aku‑Mu Sendiri, milikku diantara kita.
Bunuhlah aku, o sahabat-sahabatku yang terpercaya!
Karena dalam kematianku terdapat kehidupanku.

Imam Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, mengisahkan cerita yang mengharukan mengenai “kematian” ini. Suatu ketika Nabi Ibrahim dipanggil oleh malaikat maut, namun beliau menolak mengikutinya, karena beliau tidak bisa mempercayai bahwa Tuhan akan membunuh seseorang yang begitu cinta kepada‑Nya. Tetapi malaikat mengatakan kepadanya; adakah orang mencintai menolak untuk pergi kepada kekasih­nya? Setelah didengar kata‑kata itu, dengan rela beliau menyerahkan nyawanya kepada malaikat maut. Seperti dikatakan Schimmel
Pencinta yang sudah belajar menerima kematian sebagai jembatan kepada yang dicintai seharusnya menyerahkan ‘nyawanya dengan senyum seperti bunga mawar’ (Rumi); itulah sebabnya Al‑Hallaj menari‑nari dengan tangan terbelenggu ketika dibawa untuk dihukum mati. Kaum Sufi yakin akan firman Tuhan: Jangan sebut mati mereka yang terbunuh karena Tuhan; tidak, sesungguhnya mereka hidup (QS. 3:163). Kata la dalam bagian pertama syahadat yang diumpamakan pedang itulah yang membunuh sang pencinta; kemudian tak ada yang tinggal kecuali Tuhan.
Sulthan Al-Muhibbin Maulana Jalaluddin Rumi menggambarkan keadaan cinta yang menyatukan dengan cara lain yang tak kalah eloknya:

Seseorang mengetuk pintu kekasihnya;
sang kekasih bertanya, “siapakah itu?”
Ia menjawab “aku”.
“Pergilah,” kata kekasihnya. “Engkau terlalu cepat! Di mejaku tidak ada tempat untuk yang mentah. Bagaimana yang mentah akan masak kecuali dalam api ketidakhadiran?”
Ia pun pergi dengan sedih, dan api perpisahan membakarnya sampai habis. Lalu ia kembali dan mondar-mandir di depan pintu sang kekasih.
Ia mengetuk pintu dengan memendam seratus kecemasan dan harapan, agar jangan ada ucapan kasar dari bibir sang kekasih.
“Siapa itu?” tanya sang kekasih. Ia menjawab, “Engkau, wahai pemikat segala hati.”
“Masuklah,” kata sang kekasih, “karena engkau adalah aku, masuklah. Tidak ada tempat untuk dua ‘aku’ di rumah ini.”

Syekh Sulthan al-Awliya Abu Hasan as-Syadzili mengatakan, “Sempurnalah kewalian orang yang mencintai Allah dan mencintai untuk Allah.” Syekh Qamaruzzaman al-Husaini pernah mengatakan kepada penulis bahwa beliau mencapai kedudukannya hanya karena mahabbah, Cinta Ilahi, sehingga beliau bahkan tak bisa berhenti berzikir, sebab sedetik saja beliau berhenti berzikir, nafasnya akan sesak. Seseorang yang mencintai Allah hingga ke titik tertinggi akan bisa “bercakap” langsung dengan Allah azza wa jalla, tanpa huruf dan tanpa kata.

Menurut Syekh Athaillah, ada empat tingkatan cinta: cinta untuk Allah, cinta karena Allah, cinta dengan Allah dan cinta dari Allah. Awalnya adalah cinta untuk Allah dan akhirnya cinta dari Allah – murid (yang menginginkan) menjadi murad (yang diinginkan, seperti telah dijelaskan di atas dan di bab lain buku ini). Syekh Athaillah selanjutnya menjelaskan dalam Lathaif al-Minan:

Cinta untuk Allah adalah mengutamakan Allah ketimbang selain-Nya. Cinta karena Allah adalah mencintai Wali Allah karena Allah. Cinta dengan Allah adalah mencintai orang atau sesuatu tanpa hawa nafsu. Dan cinta dari Allah adalah Dia menarikmu dari segala sesuatu sehingga hanya Dia yang kau cintai … [Syekh Abu Hasan] menyatakan bahwa cinta adalah Allah menarik hamba-Nya dari segala sesuatu selain Dia. Ia akan selalu taat, akalnya dilindungi ma’rifat, ruhnya terserap ke dalam hadirat-Nya, dan sirr-Nya sibuk menyaksikan-Nya … Ia mendapatkan segala hakikat dan pengetahuan, dan karenanya “Para Wali Allah adalah pengantin Allah.”

Dalam cinta sejati tidak ada “engkau dan aku” karena menurut hadis Nabi dikatakan “Seseorang sama dengan yang dicintainya,” atau juga “orang yang mencintai selalu bersama yang dicintainya” (al-muhibb ma’a man ahabba), sebagaimana pengantin selalu bersama. Tiada perpisahan di sana, hanya ada persatuan sejati, Tauhid.

Wa Allahu a’lambi ash-shawab.

Tri Wibowo BS / Mbah Kanyut al-Jawi
Ikhwan TQN

Read More >>

KEBOHANGAN YG MENGATASNAMAKAN IMAM ABU KHANIFAH

Posted in
by Unknown



Sebaiknya baca Artikel terkait sebelumnya

Syaikh abu Hanifah dlam riwayat Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy:
ما روي عن أبي معطي ألبخلي انه سأل أبا حنيفه عن من قال لا أعرف ربي في السماء أم هو في الأرض فقال: قد كفر لأن الله يقول ( ألرحمن على العرش استوى ) , وعرشه فوق سماواته . فإن قال إنه على العرش ولا أدري ألعرش أفي السماء أم في الأرض, قال هو كافر لأنه أنكر كونه في السماء فمن أنر كونه في السماء فقد كفر لأن الله في أعلى عليين وهو يدعى من أعلى لا من أسفل


Dalam Syarah Kitab Fiqhul Akbar hal 198 – 197 di sebutkan, hal ini seperti apa yg di ceritakan Oleh Abu Mu’thi Al Bakhli yg dia sendiri bertanya kepada Imam Abu Khanifah tentang orang yg mengatakan “Saya tidak tahu apakah Tuhanku ada di di Langit atau ada di Bumi” kemudian Imam Abu Khanifah Berkata: “Orang itu telah Kafir berdasarkan Ayat الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى Dan ‘ArasyNya berada di atas Samawat yg tujuh, Maka Saya (Abu Mu’thi) menjwabnya: “Jika orang itu mengatakan  Allah di atas ‘Arasy namun saya tidak tahu di mana ‘Arasy tersebut itu di Bumi atau di Langit”?, Imam Abu Khanifah menjawabnya: “Orang seperti itu tetap Kafir, karena ‘Arasy memang berada di Langit, Siapa saja yg mengiungkari Arasy berada di Langit dia telah kafir, Karena memang Allah berada jauh di  ketinggian, Allah di Panggil dari ketinggian bukan dari bawah”.
والجواب : أن هذا الكلام كذب باطل مصنوع على أبي حنيفة وذلك لأن الراوي لهذا الكلام هو أبو مطيع البلخي وهو كذاب دجال ، قال ابن معين : ليس بشيء ، وقال مرة ضعيف ، وقال أحمد : لا ينبغي أن يروى عنه شيء ، وقال البخاري : ضعيف صاحب رأي ، وقال النسائي : ضعيف ، وقال أبو حاتم : كان مرجئا كذابا ، وقد جزم الذهبي بأنه وضع حديثا كما في ترجمة عثمان بن عبدالله الأموي ، قال ابن أبي العز شارح الطحاوية الحشوي المجسم ج2 ص480 نقلاً عن ابن كثير : وأما أبو مطيع فهو الحكم بن عبد الله بن مسلمة البلخي ، ضعفه أحمد ابن حنبل ويحيى بن معين وعمرو بن علي الفلاس والبخاري وأبو داود وأبو حاتم الرازي وأبو حاتم محمد بن حبان البستي وابن عدي والدار قطني وغيرهم اهـ .

Jawaban dari cerita ini adalah Kebohongan yg di sadur dari Imam Abu Khanifah!!! Berdasarkan tidak adanya Teks yg berbunyi seperti itu di dalam Kitab Al Fiqhul Akbarnya sendiri. Riwayat seperti itu adalah hanya keterangan yg di tambahkan sebagaimana layaknya pensyarah yg lain.
Dan hal di atas juga terkait dg Perowinya yg bermasalah yaitu Abu Mu’thi yg seorang pembohong. Ibnu Ma,in mengatakan bhw dia (Ibnu Mu’thi) tidak punya kapasitas, Murroh mengatakannya bhw dia Dho,if, sementara Imam Ahmad mengatakan Tidak selayaknya mengambil riwayata dari dia, Imam Bukhori mengatakan Dho,if dan orang yg suka membuat pandangan2 dalam riwayatnya., Imam Nasai juga mengatakan Dho,if, sementara Imam Abu Khathim mengatakannya dia seorang yg banyak punya kepentingan dan tukang bohong, dan Al Dlahabi mengukuhkan keterangan2 di atas dg memaudlu,kan Hadits2nya seperti yg Beliau tulis di Tarjamah ‘Utsman bin Abdillaj al Amwi, sementara Abu Al ,Izz pensyarah Kitab Thohawiyyah juz 2 hal 482 yg Ia nukil dari Tafsir Ibnu Katsir mengatakan bhw Abu mu’thi adalah Al Hakam bin Abdullah bin Maslamah al Bakhli yg mana dia di Dho,ifkan oleh Imam Ahmad, Yahya bin Ma,in, ‘Amru bin ‘Ali Al Fallas, Al Bukhori, Abu Dawud, Abu Khatim Al Rozy, Muhammad bin Habban Al Basti, Ibnu ‘Ady, Al Daruquthni dll.
Ini adalah sekelumit para komentator atas fenomena maqolah Imam Abu Khanifah tersebut di atas, dan sebenarnya masih banyak lagi Komentator2 ahli yg membongkar kebohongan Maqolah di atas.
Read More >>

Itu Adalah Lukisan Makam Sultan Utsman Khan Bukan Lukisan Makam Rasulullah

Posted in Kamis, 21 Juli 2011
by Unknown

Tema kita kali ini tentang “lukisan” yang telah menyebar di belahan bumi Islam. Banyak orang Islam menganggap bahwa “lukisan” berikut ini adalah gambar/lukisan/foto makam Rasulullah, bahkan tidak sedikit yang melakukan “propaganda” bahwa “lukisan” itulah satu-satunya lukisan asli makam Rasulullah yang pernah dibuat pada abad 19; yang sekarang berada di salah satu museum di Inggris.

Lalu ada pula pendapat mengatakan bahwa gambar ini hasil lukisan salah seorang pelukis keturunan Turki. Disebutkan bahwa pelukis ini mimpi melihat makam Rasulullah, setelah bangun lalu ia “tumpahkan” dalam bentuk lukisan seluruh apa yang dilihat dalam mimpinya itu.

Setelah diteliti, ternyata “lukisan makam” itu adalah gambar makam Sultan Utsman Khan (Semoga rahmat Allah tercurah baginya) yang dimakamkan di Kota Burshah Turki. Hasil penelitian ini mungkin mengagetkan sebagian orang yang telah “akrab” dengan anggapan bahwa ini adalah “lukisan makam” Rasulullah. Namun demikian, mari kita perhatikan fakta gambar-gambar berikut ini untuk kita kritisi.



Pertama
Ada pendapat mengatakan bahwa “lukisan” tersebut berada di salah satu museum di Inggris. Pertanyaannya: “Bagaimana lukisanitu bisa pindah ke Inggris? Para penguasa Utmaniyyah Turki dikenal sebagai orang-orang teguh dan tegas dalam pendirian; bagaimana bisa menyerahkan lukisan tersebut kepada orang-orang Inggris yang notabene sebagai musuh besar? Adakah para Khalifah Utsmaniyyah Turki tidak peduli terhadap lukisan tersebut dan lalu membiarkannya agar tidak dimasukan ke museum kota Istanbul yang “penuh” dengan barang-barang peninggalan Rasulullah yang mulia? Tentu mereka tidak akan pernah bersikap seperti itu.

Kemudian jika benar lukisan itu berada di salah satu museum di Inggris, lalu apa nama museum tersebut? Siapapun tidak pernah mendengar berita bahwa di salah satu museum Inggris terdapat lukisan makam Rasulullah, juga siapapun dari kita tidak pernah mendengar ada orang “melacong” ke Inggris menuju museum-museum lalu ia berkata “Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri lukisan makam Rasulullah itu di salah satu museum di Inggris”, padahal tidak sedikit dari orang-orang Islam yang “melancong” ke Inggris, dan bahkan tidak sedikit pula dari orang-orang Islam yang telah menetap di sana.

Dua
Masjid Nabawi pernah dipugar total dan direnovasi pada masa Sultan Abdul Majid Khan (Rahimahullah); salah seorang Khalifah Utsmaniyah. Peristiwa bersejarah ini telah dituturkan oleh para sejarawan dalam karya-karya mereka. Mereka menjelaskan secara detail bangunan-bangunan yang ditambahkan oleh Khalifah Utsmaniyyah tersebut saat itu. Peristiwa ini diceritakan di antaranya oleh Syekh Ja’far al Barzanji; penulis kitab Nuzhah an Nazhirin Fi Masjid al Awwalin Wa al Akhirin. Dalam kitab ini Syekh al Barzanji sedikitpun tidak menyinggung bahwa Sultan Abdul Majid Khan telah meletakan peti kayu di atas makam seperti yang nampak dalam lukisan di atas.

Tiga
Jelas bahwa model makam yang nampak dalam “lukisan” tersebut adalah model makam para penguasa Khalifah Utsmaniyyah.
Jika ada yang berkata: “Bisa saja para Khalifah tersebut membangun makam Rasulullah persis seperti model makam-makam penguasa mereka terdahulu”, maka kita katakan: “Jika benar demikian lalu mengapa tidak ada seorangpun dari sejarawan yang menyebutkan atau paling tidak menyinggung sedikit saja berita ini di dalam karya-karya mereka”.

Empat
Bahwa kamar Rasulullah dahulu adalah yang kemudian menjadi tempat dimakamkannya beliau, lalu di tempat itu pula dimakamkan kedua orang sahabatnya yang mulia; sahabat Abu Bakr as Shiddiq dan sahabat Umar bin al Khattab, artinya yang ada di tempat tersebut hanya ada tiga makam saja. Sementara yang nampak dalam lukisan/gambar di atas ada empat makam; makam yang besar berada di tengah, lalu di sebelah kirinya makam yang sedikit lebih kecil (lihat nomor 1), ada pula makam kecil di tengah antara dua makam (lihat nomor 2), kemudian ada lagi makam ke empat di sebelah kanan (lihat nomor 3), dengan demikian semuanya menjadi 4 makam. Ini jelas bukan kamar makam Rasulullah.

Lima
Dalam lukisan di atas terlihat ada beberapa jendela dan gorden (lihat nomor 4), sementara yang umumnya kita kenal jendela makam Rasulullah tidak seperti demikian itu, lalu dalam lukisan ini jendela-jendelanya terlihat seakan sangat mewah; semacam ini hanya hanya ada pada makam Sultan Ustman Khan; tidak sesuai dengan fakta yang ada di kamar makam Rasulullah.

Enam
Dalam gambar di atas terlihat bahwa di atas makam tergantung lampu kristal (lihat nomor 5), ini persis sama dengan lampu kristal yang tergantung di atas makam Sultan Utsman Khan.

Berikut ini ada gambar terbaru hasil foto kamera yang diambil dari makam Sultan Utsman Khan (Rahimahullah), silahkan anda bandingkan antara dua gambar tersebut, anda akan melihat kesamaan yang sangat persis. Benar, itu adalah lukisan makam Sultan Utsman dan bukan lukisan makam Rasulullah.



Tujuh
Bukti ini sangat kuat dan pasti; yaitu tulisan yang terletak di bagian depan (arah muka) makam (lihat nomor 6), itu membuktikan bahwa lukisan makam itu bukan lukisan makam Rasulullah. Di antara tulisan yang tertera pada arah depan makam tersebut adalah:

"السلطان الغازي أبو الفتوحات والمغازي عثمان خان أسكنه الله فسيح جناته"
“Sultan Panglima Abu al Futuhat Wa al Maghazi Utsman Khan (Semoga Allah menempatkannya dalam surga yang lapang)”.

Anda perhatikan gambar dalam jarak dekat ini

Read More >>
Tentang kemandirian (independensi), Mbah Dim adalah teladan dan contoh terdepan dari para ulama di Indonesia. Dia begitu kukuh mempertahankan prinsip. Tak mau bergantung pada lembaga tertentu, apalagi penguasa. Tak mau bicara sekiranya tidak perlu. Dan hanya mau bicara dalam jam-jam ngaji dan majlis ilmu.

Di antara ratusan tamu yang datang setiap hari, belum tentu ada yang diajak bicara. Para tamu membawa air (untuk ditiup Abuya dengan doa), cukup bermushâfahah (salaman), habis itu disurung pulang. Para tamu akan diusir (tak peduli dia presiden, jenderal, ataukah kurir dari pegawai rendahan) jika dia datang dalam jadwal “ngaji” dan “jama’ah”. Dua urusan ini tak bisa diganggu gugat meskipun oleh seorang menteri atau presiden. Kukuh mempertahankan prinsip inilah yang membuat siapa pun akan ciut nyali ketika berhadapan dengan Mbah Dim, tak terkecuali para pejabat.

Ihwal tamu-tamu yang ditolak karena datang tidak pada waktunya, Mbah Dim sering bilang,
“Sana pulang! Aing (saya) mau kerja!”
dinukil from "Jejak Spiritual Abuya Dimyati" (PP, 2010)

Tahukah apa yang dimaksud “kerja” oleh Mbah Dim? Mendidik putera-puteri, jama’ah, ngaji, nderes Al-Qur’an (tiap hari khatam 30 juz) adalah kerja Mbah Dim. Para tamu akan diusir, jika mengganggu jadwal kerjanya. Dan kerja Mbah Dim bukan sembarang kerja. Sebab, Mbah Dim tidak minta upah dari makhluk. Waktunya benar-benar diwarnai dan dipadati dengan ketaatan (ma’mûran bi ath-thâ’ah). Singkat kata, ngaji dan ibadah adalah kerja Mbah Dim.


Para ulama sufi membagi “urusan” atau “perkara” menjadi dua kategori. Pertama, perkara yang berkaitan dengan Allah. Kedua, perkara yang berkaitan dengan makhluk. Dalam kenyataan, dua urusan ini kerap berbenturan sehingga menguji kadar takwa dan keimanan seseorang. Mereka yang kadar takwanya tinggi, sebagaimana para ulamââmilîn, senantiasa mendahulukan urusan Allah. Atau dengan kata lain, bagi mereka segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah senantiasa dibikin “serius” dan “penting”. Setelah itu, barulah urusan yang berkaitan dengan makhluk.
Menghadap Allah (atau “jalan ibadah”) adalah faidah dari diberikan kesempatan umur (fâ’idah al-‘umri), setelah terlebih dahulu seorang hamba menyingkirkan semua penghalang—yaitu aghyâr (sesuatu yang bukan Tuhan)—dan rintangan-rintangan (‘aqâbatul-‘awâridh). Penghalang-penghalang ibadah itu bisa berupa setan, nafsu, harta, dan bisa pula berupa makhluk, yang semua itu hanya bisa dikenali melalui “dalil” dan “ilmu”. Tanpa ilmu yang memadai, seseorang bisa menjadi bulan-bulanan setan dan nafsu.

Praktik ibadah tampaknya memang sederhana, namun ibadah adalah buah dari ilmu (tsamrah al-‘umri). Oleh karena itu, kepada tamu-tamu yang datang tidak tepat pada waktunya, kata Mbah Dim, “Sana. Pulang! Saya mau kerja!” sebab dia tahu benar (berilmu) bahwa sesuatu yang menyangkut urusan Allah (kerja kepada Allah) adalah nomor satu bagi Mbah Dim. Tak pelak, dia adalah ulama yang tabahhur-fillâh (menenggelamkan waktu-waktunya dalam zikir dan sibuk dengan urusan-urusan Allah, yaitu selalu murâqabah-fillâh dalam setiap dimensi ruang dan waktu: wa al-faidhu alal-jihâtis-sitti!) *



oleh PENERBIT PUSTAKA PESANTREN




Read More >>

Terkait 'Pengkafiran' Shahabat Nabi, Gelar Doktor Kang Jalal Diprotes Ulama Sulsel

Posted in Rabu, 20 Juli 2011
by Unknown


Makassar - Sejumlah pihak memprotes Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar karena telah meloloskan tokoh pemikir Islam kontemporer Prof Dr Jalaluddin Rakhmat untuk meraih gelar doktor bidang agama lewat program doktor riset.

Mereka menilai, sikap UIN itu, apalagi jika akhirnya mengukuhkan Kang Jalal, sapaan Jalaluddin, sebagai doktor dalam bidang Islam, sangat melukai perasaan umat dan tokoh Islam di daerah ini.

Kang Jalal selama ini mereka nilai kerap mengeluarkan pernyataan kontroversi soal Islam. Kang Jalal dikenal sebagai doktor di bidang komunikasi dan dosen di Universitas Padjadjaran Bandung.

“Kami selalu memperhatikan tulisan-tulisan Prof Dr Jalaluddin Rakhmat. Keresahan kami tambah menjadi-jadi setelah kami tahu bahwa dia mengikuti program doktor riset di UIN untuk mendapat gelar doktor agama,” ujar Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Perwakilan Indonesia Timur, KH M Said A Shamad LC di redaksi Tribun, Sabtu (16/6/2011).

KH Said khawatir, jika Kang Jalal diberi gelar doktor dalam bidang agama Islam, maka akan semakin kuat legitimisanya untuk menyebarkan pemikiran kontroversialnya selama ini.

KH Said ke redaksi Tribun didampingi Koordinator Penasihat LPP KH Makdum dan Penasihat LPP Prof Dr KH Amiruddin Aliyah.

Dia juga membawa lembaran daftar tokoh dan ulama yang mendukung penolakan tersebut.

KH Said juga membawa sejumlah buku tulisan Kang Jalal yang dinilai “melenceng” serta sebuah skripsi seorang mahasiswa psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) yang meneliti perilaku kawin mut’ah (kawin kontrak) di kalangan mahasiswa di Makassar.

“Kami datang khusus ke Tribun ini untuk membantu menyebarkan keresahan kami dan keresahan sejumlah ulama-ulama yang kita segani dan hormati sehubungan dengan rencana pemberian gelar research doctors terhadap Prof Dr Jalaluddin Rakhmat dari UIN. Mereka semua tahu bagaimana Prof Jalaluddin selama ini,” jelas KH Samad.

Menurutnya, LPPI sangat intens mengikuti dan mengkaji tulisan Kang Jalal. “Dia pernah menulis bahwa Umar bin Khatthab meragukan perintah Rasulullah SAW. Banyak pernyataan dan tulisannya yang menilai Khulafaur Rasyidin selain Sayyidina Ali membangkang terhadap perintah Rasulullah SAW,” ujar KH Samad.

Yang paling diresahkan dan disesali KH Samad adalah sikap Kang Jalal yang selama ini dinilai ikut menyebarkan pemikiran yang mengarah kepada pengkafiran shahabat utama Nabi, Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.

“Belum lagi nikah mut’ah (kawin kontrak) yang sudah banyak menggejala di kampus-kampus perguruan tinggi di Makassar akibat doktrin pemikiran yang dikembangkan Prof Jalaluddin Rakhmat,” ujar KH Makdum.

Dihubungi terpisah, Rektor UIN Alauddin, Makassar, Prof Dr Abd Qadir Gassing, mengaku sudah banyak menerima masukan dari tokoh dan ulama Islam soal rencana pemberian gelar bagi Kang Jalal lewat program doktor riset itu.

“Kami sudah membentuk tim untuk mengkaji masalah ini. Tim ini diketuai PR I. Jadi masalah ini akan dikaji oleh tim yang dipimpin PR I. Saya sudah meminta khusus kepada PR I untuk menangani hal tersebut,” jelas Qadir.

Sedangkan Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Alauddin, Prof Dr Arifuddin Ahmad, mengatakan, secara akademik tidak ada larangan bagi siapapun untuk meraih gelar tertentu. “Itu hak asasi. Dalam akademik tidak ada masalah. Program yang diikuti Prof Jalaluddin Rakhmat sudah sesuai prosedur,” jelas Arifuddin.

Lagi pula, lanjut Arifuddin, apa yang dikritikkan bagi Kang Jalal selama ini adalah hal yang masih diperdebatkan. “Prof Jalaluddin Rakhmat memang banyak melahirkan pemikiran kontroversi yang mengundang perdebatan,” ujarnya.

Ketua Komisi E DPRD Sulsel Yagkin Padjalangi juga mengaku sudah menerima pengaduan dari beberapa pihak terkait kemungkinan Kang Jalal meraih doktor bidang agama Islam dari UIN Alauddin.

“Beberapa hari lalu kami menerima pengaduan beberapa tokoh Islam. Mereka meminta kami turun tangan karena hal itu dianggap sangat meresahkan umat,” kata Yagkin.

Menanggapi aspirasi itu, Yagkin mengaku sudah menghubung Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi Sulsel untuk segera turun tangan. “Kami di komisi E yang membidangi masalah pendidikan, kesejahteraan, dan agama secara resmi sudah meminta pemprov melalui biro mental spiritual untuk turun tangan. Menurut kami, segala hal yang mendatangkan keresahan masyarakat tidak boleh didiamkan. Kalau didiamkan bisa meledak suatu saat,” jelas Yagkin. [silum/trb/voa].


Sumber: 
http://syiahindonesia.com/index.php/akhbar-syiah/syiah-indonesia/506-terkait-pengkafiran-shahabat-nabi-gelar-doktor-kang-jalal-diprotes-ulama-sulsel


Beberapa artikel terkait:

'Adalah Sahabat, Tanggapan atas Artikel Jalaluddin Rakhmat: Sahabat dalam Timbangan Al-Qur`an -1
http://hakekat.com/content/view/66/1/

'Adalah Sahabat, Tanggapan Atas Jalaluddin Rakhmat -2
http://hakekat.com/content/view/67/1/

'Adalah Sahabat, Tanggapan atas Jalaluddin Rakhmat -3
http://hakekat.com/content/view/68/1/

'Adalah Sahabat, Tanggapan atas Jalaluddin Rakhmat -4- [akhir]
http://hakekat.com/content/view/69/1/

[PDF] Akhlak Kang Jalal
http://hakekat.com/component/option,com_docman/task,doc_download/gid,4/
Read More >>

WANITA

Posted in Selasa, 19 Juli 2011
by Unknown
Sang BaraQbah Habibah .
Para wanita diciptakan tak lain dan tak bukan melainkan sebagai pasangan bagi kaum pria, yang dimana keduanya-duanya saling melengkapi satu dengan yang lainnya juga saling mencintai, karena itulah fitrah yang Allah tetapkan bagi mereka. tampa wanita bahtera nabi nuh tak akan sempurna dan tanpa wanita hidup pastilah hampa.

Wanita identik dengan sifat lemah lembutnya namun, di balik kelemahan dan kelembutan mereka tersimpan kekuatan yang bisa menundukkan laki-laki walau dia adalah seorang panglima perang atau gladiator atau bahkan seorang raja sekalipun. sudah banyak sejarah yang menceritakan kehancuran sebuah kerajaan besar hanya dikarenakan seorang wanita dan seorang penguasa yang tunduk dibawah kaki seorang wanita.


Islam datang -Rahmatun lil'alamin- kemuliaan pun datang tidak hanya kepada kaum pria saja tapi juga kaum wanita bahkan makhluk hidup lainnya. namanya juga -Rahmatun lil'alamin- ya... pastinya secara menyeluruh ( Universal). maka kaum wanitapun merdeka dari penindasan. Allah melarang apa-apa yang menyebabkan terinjak-injaknya harga diri seorang wanita, contohnya adalah :


1. Allah melarang membunuh bayi perempuan begitu juga jiwa-jiwa yang tak berdosa secara umum dan Allah siapkan bagi pelakunya Adzab yang sangat pedih.

2. Allah juga memerintahkan untuk tidak berhubungan intim dengan istri yang sedang dalam keadaan haidh sebagaimana sabda Rasulullah -Sallallahu 'Alaihi wa Sallam- tatkala beliau ditanya tentang masalah ini " lakukanlah sesuka kamu selain nikah ( maaf; memasukkan kemaluanmu kedalam kemaluan istrimu)". itupun tanpa mengasingkan mereka sebagaimana yang dilakukan orang-orang kafir yang mengasingkan istri-istri yang sedang haidh di kamar khusus dan melarang mereka keluar dari kamar tersebut.

3. Allah melarang seorang anak laki-laki menikahi mantan istri ayah mereka begitu juga menikahi dua wanita yang bersaudara ditakutkan adanya rasa saling cemburu di antara mereka yang menyebabkan adanya permusuhan dan pecah belah di antara mereka allah berfirman :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا


Artinya : "Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisa : 23)

Tentunya semua larangan itu semata-mata bukan untuk mengekang wanita atau Allah tidak peduli terhadap mereka justru sebaliknya karena Allah peduli kepada mereka sehingga Allah membuat batasan-batasan itu karena Allah maha mengetahui dan hukum Allah adalah yang terbaik. coba kita bayangkan jika hal-hal di atas di bolehkan pastinya kejahatan dengan modus pemerkosaan akan meraja lela karena wanita itu sendiri yang menebar pesona, berkhalwat tampa mahramnya dan menjadikan dirinya sebagai mangsa empuk laki-laki yang lemah imannya.
Read More >>

FATWA-FATWA SESAT AGAMA SYI’AH

Posted in Senin, 18 Juli 2011
by Unknown

 
 
Abdullah bin Saba’ adalah seorang pendeta Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam pada akhir kekhalifahan ‘Utsman radiallahu ‘anhu. Dialah orang yang pertama mengisukan bahwa yang berhak menjadi khalifah setelah Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam adalah Ali Shallallahu ‘AlaihiWasallam. Tetapi pada abad ke-14, dimunculkanlah isu bahwa Abdullah bin Saba’ itu adalah manusia bayangan. Mungkin didorong oleh rasa tidak enak, karena timbul imajinasi bahwa ajaran Syi’ah itu berasal dari Yahudi.Tetapi itu merupakan fakta sejarah yang telah dibakukan,diakui oleh ulama-ulama Syi’ah pada jaman dahulu hingga sekarang. Sungguh keliru orang yang mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara Sunni dan Syi’ah, kecuali sebagaimana perbedaan yang terjadi antara madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) dan masalah-masalah furu’iyah ijtihadiyyah! Ketahuilah bahwa Syi’ah adalah agama di luar Islam.Perbedaan antara kita kaum Muslimin dengan Syi’ah sebagaimana berbedanya dua agama dari awal sampai akhir yang tidak mungkin disatukan, kecuali salah satunya meninggalkan agamanya.Agar para pembaca mengetahui bashirah (yakni hujjah yang kuat dan terang naqliyyun dan aqliyyun) bahwa Syi’ah adalah dien/agama, maka di bawah ini kami tuliskan sebagian dari aqidah Syi’ah yang tidak seorang Muslim pun meyakini salah satunya melainkan dia telah keluar dari Islam.


1. Mereka mengatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mengetahui bagian tertentu sebelum terjadi. Dan mereka sifatkan Allah Ta’ala dengan al-Bada’ yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala baru mengetahui sesuatu setelah terjadi. (Dinukil dari kitab Syi’ah wa Tahrifu al-Qur’an olehSyaikh Muhammad Malullah halaman 17, nukilan dari kitab al-Anwaaru an-Nu’maaniyyah (I/31) salah satu kitab terpenting Syi’ah).

2. Tahriful Qur’an (Perubahan Al-Qur’an).
Yakni mereka mengi’tiqadkan telah terjadi perubahan besar-besaran di dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat dan surat-suratnya telah dikurangi atau ditambah oleh para shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di bawah pimpinan tiga khalifah yang merampas hak ahlul bait, yaitu AbuBakar, ‘Umar dan ‘Utsman radhiallahu ‘anhum ajmain. (ibid)

3. Al Qur’an yang sekarang sudah tidak asli.
Mereka juga mengatakan bahwa Al-Qur’an yang ada ditangan kaum Muslimin dari zaman shahabat sampai hari ini tidak asli lagi. Kecuali Al-Qur’an mereka yang tiga kali lebih besar dari Kitabullah yang mereka namakan mushaf Fatimah yang akan dibawa oleh Imam Mahdi. (ibid)
Al-Kusyi pula berkata: "Tidak sedikitpun isi kandungan di dalam al-Quran (yang digunakan oleh Ahli Sunnah wal-Jamaah sekarang, Pent.) yang boleh kita jadikan pegangan".[ Lihat: As-Safi. (1/33)]

4. Menuhankan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Lihatlah kepada sebagian perkataan ulama mereka tentang Ali bin Abi Thalib yang kata mereka –secara dusta- telah mengatakan:Demi Allah. Sesungguhnya akulah yang bersama Ibrahim di dalam api, dan akulah yang menjadikan api itu dingin dan selamatlah Ibrahim. Dan aku bersama Nuh didalam bahtera (kapal), dan akulah yang menyelamatkannya dari tenggelam. Dan aku bersama Musa, lalu aku ajarkan ia Taurat. Dan akulah yang membuat Isa dapat berbicara di waktu masih bayi dan akulah yang mengajarkannya Injil. Dan aku bersama Yusuf di dalam sumur, lalu aku selamatkan ia dari tipu daya saudara-saudaranya. Dan aku bersama Sulaiman di atas permadani (terbang),dan aku-lah yang menundukkan angin untuknya). (ibid)


5. Bahwa Imam-imam mereka lebih tinggi derajatnya daripada para malaikat dan para Rasul/Nabi.
Lihatlah apa yang dikatakan Khomeini, pemimpin besar agama Syi’ah di dalam kitabnya al-Hukuumatu al-Islamiyyah (hal. 52): ”Dan sesungguhnya yang terpenting dari madzhab kami, sesungguhya imam-imam kami mempunyai kedudukan (maqam) yang tidak bisa dicapai oleh seorang pun malaikat yang muqarrab/dekat dan tidak oleh seorangpun Nabi yang pernah diutus.”Maksudnya, imam-imam mereka itu jauh lebih tinggi daripara malaikat dan sekalian Nabi yang pernah diutus. Inilah salah satu penghinaan terbesar Khomeini kepada seluruh Malaikat dan para Nabi semuanya (termasuk Jibril dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,berpegang kepada keumuman lafadz yang diucapkan Khomeini).

6. Percaya kepada Reinkarnasi.
Di antara I’tiqad Syi’ah yang terpenting dan menjadi salah satu asas agama mereka adalah aqidah raj’ah, yaitu keyakinan hidup kembali di dunia inisesudah mati, atau kebangkitan orang-orang yang telah mati di dunia. Peristiwanya terjadi ketika Imam Mahdi mereka bangkit dan bangun dari tidur panjangnya yang sampai sekarang telah seribu tahun lebih (karena selama ini ia bersembunyi di dalam gua). Kemudian dihidupkanlah kembali seluruh imam mereka dari yang pertama sampai yang terakhir tanpa terkecuali Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wa Aalihi Wasallam dan putri beliau Fatimah. Kemudian dihidupkan kembali pula musuh-musuh Syi’ah yang terdepan yakni Abu Bakar, Umar dan Utsman dan seluruh shahabat dan seterusnya. Mereka semua akan diadili, kemudian disiksa di depan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wasallam karena telah mendzalimi ahlul bait, merampas imamah dan seterusnya.(Lihat kitab mereka, Haqqul Yaqin, Hal. 347).

7. Taqiyyah (berdusta).
Berkata Mufid dalam kitabnya Tashhiihal-I’tiqaad, menerangkan pengertian taqiyah dikalangan Syi’ah:”Taqiyah adalah menyembunyikan kebenaran dan menutupi keyakinannya, serta menyembunyikannya dari orang-orang yang berbeda dengan mereka dan tidak menampakkannya kepada orang lain karena dikhawatirkan akan berbahaya terhadap aqidah dan dunianya.” Ringkasnya, taqiyah adalah berdusta untuk menjaga rahasia. Bahkan terkadang mereka berpenampilan seolah-olah mencintai Ahlus Sunnah, sehingga semua ini menjadikan orang-orang yang polos di kalangan Ahlus Sunnah tertipu dan terpedaya oleh mereka. Syi’ah mensyari’atkan dusta yang merupakan aqidah yang harus dipercayai dan bahkan masuk dalam rukun iman, sebagaimana disebutkan dalam kitab mereka:
- ”Kulani menukil dari Abdullah, ia berkata: Taqwalah atas agamamu dan berhijablah dengan “taqiyah”, maka sesungguhnya tidak sempurna iman seseorang apabila tidak berdusta (taqiyah). (Ushulul Kaafi hal. 483. Al Kaafi merupakan salah satu kitab pegangan pokok mereka dalam hal aqidah dan agama Syi’ah Imamiah).
- Kulaini mengatakan dari Abdullah ia berkata: Adalah Bapakku mengatakan: “Dan apakah yang dapat menenangkan pikiranku selain berdusta (taqiyah). Sesungguhnya taqiyah adalah surga bagi orang yang beriman.” (Ushul Al-Kaafi hal.484).
- Jagalah agama kalian dan lindungilah dengan taqiyah, sesungguhnya tidak beriman bagi siapa yang tidak bertaqiyah. (Al Kulani dalam Ushul Al-Kafi, I/218).
- Diriwayatkan dari Ali bin Muhammad: "Wahai Daud! Sekiranya kamu mengatakan bahawa orang yang meninggalkan taqiyah sama seperti orang yang meninggalkan solat, maka sesungguhnya betullah kata-katamu itu".[ Lihat: Wasail asy-Syiah (X1/466). Cetakan Tehran.]
Dengan taqiyah, seakan mereka menunjukkan iltizam-nya tehadap hukum Islam. Saling menolong dengan dasar cinta dan kasih sayang dengan kaum Muslimin. Padahal kenyataannya mereka berlepas diri dari kaum Muslimin.Mereka menganggap bahwa Ahlus Sunnah lebih kafir daripada orang-orang Yahudi, Majusi dan Musyrik. Mereka juga memandang bahwa mereka tidak mungkin bertemu dengan kaum Muslimin dalam masalah agama.


8. Mengkafirkan para Shahabat Nabi.
- Abu Ja'far berkata: "Semua manusia (kaum muslimin Ahli Sunnah wal-Jamaah) menjadi Ahli Jahiliyah (kafir/murtad setelah kewafatan Rasulullah) kecuali empat orang, Ali, Miqdad, Salman dan Abu Dzar".[ Lihat: Tafsir as-Safi. (1/389)]
- Al-Kulaini [nama penuhnya Muhammad bin Yakub al-Kulaini. Meninggal dunia pada 328H] mensifatkan Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman telah keluar dari kalangan orang yang beriman (murtad/kafir) lantaran tidak melantik Ali sebagai khalifah setelah Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam wafat. [Lihat: Usul al-Kafi. (1/488).]
- Malah al-Kulaini mengkafirkan seluruh penduduk Mekkah dan Madinah. Menurut Kulaini: "Penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekkah dan penduduk Mekkah telah kufur kepada Allah dengan terang-terang". [Ibid. (2/409)]
- Al-Kulaini juga menetapkan dalam kitabnya al-Kafi:
"Sesiapa yang tidak beriman kepada Imam Dua Belas maka dia adalah kafir walaupun dia keturunan Ali atau Fatimah".[ Lihat: Al-Kafi. (1/372-374)]
- Al-Majlisi seorang ulama besar Syiah menegaskan: “Bahwa mereka (Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman) adalah pencuri yang khianat dan murtad, keluar dari agama, semoga Allah melaknat mereka dan semua orang yang mengikut mereka dalam kejahatan mereka, sama ada orang dahulu atau orang-orang kemudian".[ Lihat: بحار الانوار. (4/385). Muhammad Baqir al-Majlisi]
- Budak Ali bin Husin berkata: "Saya pernah bertanya kepada Ali bin Husin tentang Abu Bakar dan 'Umar. Maka dia menjawab: Keduanya kafir dan sesiapa yang mencintainya juga kafir". [ Ibid. (2/216)]
- Abu Basir (ulama Syiah) menegaskan: "Sesungguhnya penduduk Mekkah telah kufur kepada Allah secara terang-terang dan penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekkah, lebih buruk tujuh puluh kali dari penduduk Mekkah".[ Ibid. (2/410)]

9. Menolak Hadits-hadits walaupun hadits tersebut shahih yang datang dari Muhaddits Ahlus Sunnah, seperti Imam Bukhari, Muslim, Turmizi dan yang lainnya. Syiah hanya menerima hadis yang diriwayatkan oleh perawi Ahli Bait. Menurut Syiah hadis bukan semata-mata dari Nabi tetapi dari Imam Dua Belas yang maksum. Nilai perkataan imam yang maksum senilai dengan wahyu dan sabda nabi. [Keyakinan bahawa para imam maksum menjadikan semua perkataan yang keluar dari mereka adalah sahih. Maka tidak diperlukan menyandarkan sanadnya kepada Rasulullah s.a.w sebagaimana di kalangan Ahlu Sunnah wal-Jamaah. Lihat: Tarikh al-Imamiyah. Hlm. 140. Abdullah Faiyad.]

10. Mengkafirkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan menyatarakannya dengan orang-orang kafir, musyrikin lagi najis.
Begitu juga ulama Syiah mengkafirkan pengikut mazhab Syafi’i, Hambali, Maliki dan Hanafi karena mereka digolongkan sebagai an-Nasibi.
- Menurut ulama Syiah lagi: "Dalam kalangan ulama (Ahli Sunnah) dari Malik, Abi Hanifah, Syafi’i, Ahmad dan Bukhari semua mereka kafir dan terlaknat". [Lihat: Asy-Syiah wa as-Sunnah. Hlm. 7. Ihsan Ilahi Zahiri.]
- Keyakinan Syiah yang sesat ini diambil dari keterangan ulama mereka Syeikh Husin al-'Usfur ad-Darazi al-Bahrani. Beliau menegaskan: "Riwayat-riwayat para imam menyebutkan bahawa an-Nasibi (si Kafir) adalah mereka yang digelar Ahli Sunnah wal-Jamaah". [Lihat: Al-Masail al-Khurasaniyah. Hlm. 147]
- Berkata Abu Qasim al-Musawi al-Khuri (ulama besar Syiah): "Najis ada sepuluh jenis, yang ke sepuluh adalah orang kafir, iaitu yang tidak beragama atau yang beragama bukan Islam atau beragama Islam menolak yang datang dari Islam. Dalam hal ini tidak ada perbezaan antara murtad, kafir asli, kafir zimmi, Khawarij yang ghalu atau an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)".[ Lihat: Manhaj Shalihin. (1/116).]
- Berkata Ruhullah al-Musawi (ulama Syiah): "Sesungguhnya an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dan Khawarij dilaknati Allah Subhanahu wa-Ta'ala. Keduanya adalah najis tanpa diragukan lagi".[ Lihat: Tahrirul al-Wasilah. (1/116). Cetakan Beirut.]


11. Meyakini bahwa darah dan harta orang-orang Ahlus Sunnah adalah Halal.
- Berkata Muhammad bin Ali Babawaihi al-Qummi, dia meriwayatkan dari Daud bin Farqad: "Aku bertanya kepada Abu Abdullah 'alaihis salam: Bagaimana pendapat engkau membunuh an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)? Dia menjawab: Halal darahnya akan tetapi lebih selamat bila engkau sanggup menimpakan dengan tembok atau menenggelamkan (mati lemas) ke dalam air supaya tidak ada buktinya. Aku bertanya lagi: Bagaimana dengan hartanya? Dia menjawab: Rampas sahaja semampu mungkin".[ Lihat: 'Ilal asy-Syar'i. Hlm. 44. Cetakan Beirut.]
- Berkata Abu Ja'far ath-Thusi (ulama Syiah): "Berkata Abu Abdullah 'alaihis salam (Imam as-Sadiq): Ambillah harta an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dari jalan apapun kamu mendapatkannya dan berikan kepada kami seperlima".[ Lihat: Tahzibul Ahkam. (1V/122) Cetakan Tehran.]
- Yusuf al-Bahrani berkata (ulama Syiah): "Dari dahulu sehinggalah sekarang, bahawa an-Nasibi kafir dan najis secara hukum, dibolehkan mengambil segala harta benda mereka bahkan dihalalkan membunuhnya".[ Lihat: Al-Hadiq an-Nadirah Fi Ahkam al-Atraf at-Tahirah. (X11/323-324).]


12. Menghalalkan Nikah Mut’ah (Kawin Kontrak).
- Mereka juga berdusta atas nama Ja’far Ash-Shadiq, alim yang menjadi lautan ilmu ini! dikatakan oleh mereka telah bersabda: “Mut’ah itu adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Yang mengamalkannya, mengamalkan agama kami dan yang mengingkarinya mengingkari agama kami, bahkan ia memeluk agama selain agama kami. Dan anak dari mut’ah lebih utama dari pada anak istri yang langgeng. Dan yang mengingkari mut’ah adalah kafir murtad.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.356)
- Mereka juga berbohong atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, mereka mengatakan bahwa beliau bersabda: “’Barangsiapa melakukan mut’ah sekali dimerdekakan sepertiganya dari api neraka, yang mut’ah dua kali dimerdekakan dua pertiganya dari api neraka dan yang melakukan mut’ah tiga kali dimerdekakan dirinya dari neraka.”
- Mereka menambah tingkat kejahatan dn kesesatan merea dengan meriwayatkan atas nama Rasulullah Shallallhu‘alihi wasallam: “Barangsiapa melakukan mut’ah dengan seorang wanita Mukminah, maka seoloh-olah dia telah berziarah ke Ka’bah (berhaji sebanyak 70 kali).(‘Ujalah Hasanah Tarjamah Risalah Al Mut’ah oleh Al-Majlisi Hal.16).
- Abu Ja’far Ath-Thusi menukil bahwa Abu Abdillah Alaihis-Salam (Imam mereka yang di anggap suci) ditanya tentang mut’ah apakah hanya dengan empat wanita? Dia menjawab, “Tidak, juga tidak hanya tujuh puluh. ”Sebagaimana dia juga pernah ditanya apakah hanya dengan empat wanita?
Dia menjawab, “Kawinlah (secara mut’ah) dengan seribu orang dari mereka karena mereka adalah wanita sewaan, tidak ada talak dan tidak ada waris dia hanya wanita sewaan.”(At-Tahdzif oleh Abu Ja’far Aht-Thusi, Juz III/188)
- Mereka menisbatkan kepada imam keenam. yang ma’shum dia bersabda, “Tidak mengapa mengawini gadis jika dia rela tanpa ijin bapaknya.” (At-Tahdzif Al-Ahkam juz VII/256)


13. Pantat dan paha bukan aurat.
- Karaki berkata bila kamu menutup kemaluanmu maka benar-benar telah menutup aurat (Al Kaafi 6/501 Tahdzibul Ahkam 1/ 374), sedangkan pantat, yang diangap aurat adalah lobang dubur, bukan dua pantat, dan paha juga bukan termasuk aurat.
- Shodiq AS berkata “paha tidak termasuk aurat”, bahkan Imam AL Baqir As telah mengecat auratnya dan membalut lubang kemaluannya (Jamial Maqosid Lilkaraki 2 / 94. Al Mu’tabar karangan Al Hulli 1 / 222 Muntaha Tolab 1/39, Tahrirul Ahkam1/202,semuanya karangan Al Hulli Madarikul Ahkam 3/191)
- Abu Hasan Al Madhi : “bahwa aurat itu hanya ada dua yaitu lubang depan dan lubang belakang, lubang belakang sudah ditutup oleh pantat, apabila kamu telah menutup keduanya maka berarti telah menutup auratnya, karena selain itu bukan tempat najis, maka bukanlah aurat, seperti betis”.( Al Kaafi 6 / 51, Tahzibul Ahkam 1/374 Wasa’ilusyiah 1/365 Muntaha Tolab 4/269 Al Khilaf karangan Tusi 1/396).
Dari Abu Abdullah As berkata: “ paha tidak termasuk aurat” (Tahdhibul Ahkam 1/ 374, Wasa’ilusyiah jilid 1 hal 365).

14. Kotoran para imam bisa menyebabkan masuk surga.
Kotoran dan air kencing para imam bukan sesuatu yang menjijikan dan tidak berbau busuk, bahkan keduanya bagaikan misik yang semerbak. Barang siapa yang meminum kencing, darah dan memakan kotoran mereka maka haram masuk neraka dan wajib masuk surga (Anwarul Wilayat Liayatillah Al Akhun Mulla Zaenal Abidin Al Kalba Yakani : th 1419 halaman 440).
Abu Jafar berkata : “ciri-ciri Imam ada 10 :
- Dilahirkan sudah dalam keadaan berkhitan.
- Begitu menginjakkan kaki di bumi ia mengumandangkan dua kalimat syahadat.
- Tidak pernah junub.
- Matanya tidur hatinya terbangun.
- Tidak pernah menguap
- Melihat apa yang di belakangnya seperti melihat apa yang di depannya.
- Bau kentut dan kotorannya bagaikan misik.
(Al Kaafi 1/319) Kitabul Hujjah Bab Maulidul Aimmah)


15. Bolehnya menyodomi istri (menyetubuhi lewat dubur)
- Disebutkan dalam buku Al-Istibshar yang diriwayatkan dari Ali bin Al-Hakam, ia berkata, “Saya pernah mendengar Shafwan berkata” saya berkata kepada Ar-Ridha, “Seorang budak memperintah saya untuk bertanya kepadamu tentang suatu masalah yang mana ia malu menanyakan langsung kepadamu”, maka ia berkata, “Apa masalah itu?”, ia menjawab, “Bolehkah seorang laki-laki menyetubuhi istrinya dari duburnya”, maka ia menjawab, “Ya, boleh baginya”.
- Dalam kitab Tahrirul Wasilah hal 241- masalah ke 11. Khumaini berkata : “pendapat yang kuat dan terkenal adalah diperbolehkan menyetubuhi istrinya lewat lubang belakang walaupun hal itu sangat dibenci”

16. Dibolehkan meminjamkan istri atau wanita kepada seseorang.
- Abu Ja'far Muhammad Ibnu Hasan At-Thusi menyebutkan dari Muhammad bin Muslim dari Abu Ja'far, ia berkata: Aku tanyakan kepadanya: "Halalkah laki-laki meminjamkan pada temannya tubuh puterinya untuk disetubuhi?" Jawabnya: "Boleh. Bahwa halal bagi dia sebagaimana halal bagi temannya meminjamkan
kemaluan putrinya untuk disetubuhi." (Al-Istibshar Juz III hal. 136).
- Muhammad Ibnu Mudharrib berkata: Berkata kepadaku Abu Abdullah: "Hai Muhammad, ambillah putri ini untuk melayanimu dan untuk kamu setubuhi. Maka bila kamu telah selesai menyetubuhinya, kembalikan dia kepadaku." (Al Istibshar Juz III hal. 136 dan dalam Furu'ul Kaafi hal. 200).


17. Dibolehkan melampiaskan syahwat kepada bayi dan sesama jenis.
- Khumaini berkata : “Semua bentuk menikmati, seperti meraba dengan penuh syahwat, memeluk , dan adu paha boleh walaupun dengan bayi yang sedang menyusui”. Tahrirul Wasilah 2/216.
- Alkhui : ia memperbolehkan seorang laki-laki memegang-megang atau bermain dengan aurat laki-laki lain atau wanita bermain dengan alat kelamin wanita lain bila sebatas gurau dan canda sebatas tidak menimbulkan syahwat. Sirotunnajah fi Ajwibatil istifta’at jilid 3


18. Peziarah kuburan Husein lebih mulia dari jama’ah haji yang wukuf di Arafah.
Mereka berkta: Bahwasanya Allah memandangi para penziarah kuburan Husain pada sore hari Arafat sebelum melihat pada jamaah haji yang sedang wukuf. Abu Abdillah berkata : “Karena di arafah terdapat anak haram sedangkan di kuburan Husein tidak ada anak haram di sana (karena selain syiah adalah anak haram ). [Kitab Al Wafi jilid 2 - juz 8 hal 222]. Maksud anak zina bagi syiah adalah kaum muslimin selain pengikut Syi’ah.


19. Selain anak Syi’ah adalah anak haram semua.
- Dalam Al Kafi jilid 8 hal 285 : Setiap orang adalah anak zina kecuali Syiah.
- Dalam tafsir Ayyasyi jilid 2 hal 218 dan Al Burhan jilid 2 hal 139 : setiap anak yang lahir di tunggui oleh iblis, bila yang lahir itu berasal dari kelompok Syiah maka terjaga dari iblis, bila bukan dari kelompok Syiah maka syetan meletakkan jari-jarinya pada lambung belakang anak laki-laki agar kelak menjadi orang tercela dan bila kelamin perempuan agar kelak menjadi pelacur.

20. Taat kepada Ali lebih penting dari pada taat kepada Allah.
Dalam mukadimah tafsir Al Burhan tercantum : bahwa Allah berfirman Ali bin Abi Tholib adalah hujjahKu di atas ciptaan-Ku. Saya tidak akan memasukkannya ke neraka siapa yang memberikan haknya walau dia mendurhakai-Ku dan tidak akan saya masukkan surga orang yang mengingkarinya walau ia taat pada-Ku (Al Burhan hal 23).

21. Dunia dan Akhirat adalah milik Imam-imam mereka.
- Dunia dan akhirat adalah milik Imam, terserah, mau diberikan sama siapa saja itu terserah pada para Imam (Al Kafi 1/337).
- Mereka yang menguasai kunci kekayaan yang ada di bumi, kapan saja boleh mengeluarkan emas-emas yang ada di dalam tanah itu (al Kaafi 1/394).
- Diperbolehkan Towaf pada kubur Nabi dan kubur para Imam (Al Kafi jilid 1 hal 287).
- Imam Hasan Askari berkata : “sesungguhnya kami para penerima wasiat Imamah tidaklah dikandung didalam perut melainkan di pinggang dan tidak dilahirkan lewat rahim melainkan lewat paha sebelah kanan karena kami titisan cahaya Allah yang bersih dan tidak terkena kotoran sama sekali”. (Kamaluddin 390, 393 Biharul Anwar jilid 51 hal 2, 13,17, 26 , Itsbatul Hudat jilid 3 hal 409,414 I’lamul Wara hal 394 Dala’ilul Imamah 264).


22. Para imam mengetahui segala sesuatu termasuk perkara ghaib dan juga mendapat wahyu.
- Para imam mengetahui apa yang ada dilangit, bumi, surga, neraka , mereka mengetahui apa yang telah terjadi dan semua yang terjadi kemudian.(Al Kafi jilid 1 hal. 204) ciptaan Allah dan yang akan diciptakan.
- Mereka mengetahui seluruh ucapan-ucapan manusia, burung, binatang dan segala yang bernyawa Barang siapa tidak bersifat demikian maka dia bukan Imam(Al Kaafi 1/225).
- Para imam mendapatkan wahyu yang seperti diceritakan oleh Abi Jafar ia berkata : “Allah tidak akan menurunkan ilmu kecuali kepada keluarga Nabi dengan perantara Jibril as” (Al Kaafi 1/330).
- Seorang Imam tidak akan wafat sebelum mengetahui siapa penggantinya. (Al Kafi jilid 1 hal 218).

23. Nabi Muhammad dan para Nabi lainnya akan masuk neraka.
Dari Abi Abdilah ia berkata : “ lalu diperlihatkan api neraka pada mereka, lalu berkata, “masuklah kalian ke neraka dengan izinku!”. Orang pertama yang masuk neraka adalah Muhammad SAW, kemudian di ikuti oleh para Ulul Azmi, para pewaris dan pengikutnya, lalu dia berkata pada manusia golongan kiri (Ashabusyimal) masuklah ke neraka dengan ijin saya, mereka menjawab ya Tuhan apakah kau ciptakan kami untuk dibakar, ia berkata kepada Ashhabul Yamin keluarlah kalian dari neraka atas ijinku. Api Neraka tidak sedikitpun melukai mereka (Al Kaafi 2/9).

24. Khasiat tanah dan debu kuburan ahlu bait.
- Abas Alqummi berkata : “para ulama melarang memakan debu dan tanah kecuali yang berasal dari kuburan Husain. Sebatas untuk pengobatan bukan untuk menikmati dan ini hanya sebatas biji kecil, lalu diletakkan dimulut dan ditelan dengan air secukupnya sambil berdoa ya Allah berikan rizqi yang luas yang bermanfaat dan disembuhkan dari berbagai penyakit (Mafatihul Jinan 547)
Saya takut rizki yang luas itu berupa sakit keras dan batu-batuan itu merusak ginjal.
Khasiat debu seperti madu
- Tanah pusara Husain menurut kepercayaan mereka berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit, dan menghilangkan rasa takut, bila diminum orang yang sakit akan menjadi sembuh, bila diletakkan bersama jenazah dalam liang lahat maka dia akan aman dari siksaan kubur, bila dibawa seseorang dan dimain-mainkan maka dia mendapatkan pahala orang yang bertasbih, karena tanah itu dapat bertasbih sendiri(Biharul Anwar 11/118/140 Amali Tusi 1/326 Wasa’ilusyi’ah 10/415 )
- Abu Abdullah berkata: sesungguhnya Allah telah menjadikan debu kakekku Husain suatu obat dari segala penyakit dan menghilangkan rasa takut, jika salah seorang kalian memegangnya, maka hendaknya dicium, diletakkan di matanya dan menyapu dengan debu itu seluruh badannya sambil berdoa : Ya Allah, dengan hak tanah ini dan Hak yang tinggal di dalamnya (Amali Tusi 1/326)


25. Fatimah adalah Tuhan yang berwujud seorang wanita
Amiril Mu’minin berkata : “Fatimah bukan wanita biasa melainkan seorang wanita titisan Tuhan. Tapi dia memiliki sifat manusia seutuhnya. Ia adalah Wanita dari kerajaan besar yang menampakkan diri dengan wujud manusia bahkan dia adalah eksistensi tuhan yang berwujud seorang perempuan. (Al Wasilah ilallah karangan Ibrahim Al Ansari hal-7)

26. Rukun Iman Agama Syi’ah
Rukun iman Agama Syiah berbeda dengan rukum iman Ahli Sunnah wal-Jamaah, karena rukun iman Syiah hanya lima perkara, yaitu:
- Beriman kepada keEsaan Allah - (التوحيد)
- Beriman kepada Keadilan - (العدل)
- Beriman kepada Kenabian - (النبوة)
- Beriman kepada Imam - (الامانة)
- Beriman kepada Hari Kiamat - (المعاه)

27. Para Nabi dan Rasul belum menyempurnakan agama ini.
Khumaini mengatakan bahwa para nabi dan rasul belum sempat menyempurnakan syari’at dari langit (syari’at Allah). Menurut Khumaini, para nabi dan rasul juga belum berhasil menancapkan tonggak-tonggak keadilan di dunia ini. Adapun tokoh yang nantinya berhasil membumikan keadilan secara sempurna, menurut Khumaini adalah Imam Mahdi (versi Syi’ah) yang akan datang.
Klaim ini dilontarkan Khumaini saat merayakan hari kelahiran Al-Mahdi menurut versi Syi’ah pada 15 Sya’ban 1400H.

28. Nabi wafat akibat diracun oleh istrinya.
Didalam Tafsirul Iyasy 1/200, karya Muhammad bin Mahmud bin Iyasy mengatakan -dengan dusta- bahwa Abu Abdillah Ja'far Ash Shidiq rahimahullah pernah berkata: "Tahukah kalian apakah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal dunia atau dibunuh?" Sesungguhnya Allah telah berfirman yang artinya: "Apakah jika dia (Muhammad) mati atau dibunuh, kalian akan murtad?" (Ali Imran: 144). Beliau sebenarnya telah diberi racun sebelum meninggalnya. Sesungguhnya dua wanita itu (Aisyah dan Hafshah) telah meminumkan racun kepada beliau sebelum meninggalnya. Maka kami menyatakan: "Sesungguhnya dua wanita dan kedua bapaknya (Abu Bakar dan Umar) adalah sejelek-jelek makhluk Allah."


29. Istri-istri Rasulullah adalah wanita keji.
- Dinukilkan secara dusta di dalam kitab Ikhtiyar Ma'rifatur Rijal karya At Thusi hal. 57-60 bahwa Abdullah bin Abbas pernah berkata kepada Aisyah: "Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah..."
- Dalam kitab Haqqul Yaqin, Muhammad Baqir al-Majlisy hal. 519, disebutkan dalam bahasa Perancis yang terjemahannya adalah: "Dan aqidah kita (Syi'ah) adalah bebas dari empat berhala: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Mu'awiyah. Dan bebas dari empat berhala wanita: Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummul Hakam. Serta bebas pula dari pengikut dan pendukung mereka. Sesungguhnya mereka adalah sejelek-jelek makhluk ciptaan ALLAH dimuka bumi."
- Aisyah telah keluar dari iman dan menjadi penghuni jahannam. (Tafsirul Iyasi 2/243 dan 269)
- Aisyah digelari Ummusy Syurur (ibunya kejelekan) dan Ummusy Syaithan (ibunya syaithan), hal ini dikatakan oleh Al Bayadhi di dalam kitabnya Ash Shirathal Mustaqim 3/135 dan 161.
- Aisyah telah menggerakkan kaum muslimin untuk memerangi Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu (Minhajul Karamah hal. 112, karya Ibnu Muthahhar Al Hilali).
- Aisyah sangat memusuhi dan membenci Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sampai meletuslah perang Jamal (An Nushrah hal. 229 karya Al Mufid).
- Aisyah tidak mau bertaubat dan terus menerus memerangi Ali sampai meninggal. (At Talkhishusy Syafi hal. 465-468).

30. Ziarah ke kuburan al Husein lebih utama dari haji mabrur dan lainnya.
- Di dalam kitab Al-Irsyad hal.252 karya Al-Mufid bin Muhammad An-Nu'man: "Ziarah kepada Al-Husain -yaitu kuburnya- radhiyallahu 'anhu kedudukannya seperti 100 kali haji mabrur dan 100 kali umrah."
- Semakin parah lagi ketika mereka -dengan dusta- berkata bahwa Baqir bin Zainal Abidin rahimahullah berkata: "Dan tidaklah keluar setetes air mata pun untuk meratapi kematian Al-Husain, melainkan Allah akan mengampuni dosa dia walaupun sebanyak buih di lautan." Dalam riwayat lain ada tambahan lafazh: "Dan baginya Al-Jannah." (Jala`ul 'Uyun 2 hal.464 dan 468 karya Al-Majlisi Al-Farisi)
- Dalam kitab Tahdzib al-Ahkam karya Abu Ja’far ath-Thusy (jilid V, hal 372) disebutkan, ((Dari Zaid asy-Syahham, dari Abu Abdillah ‘alaihi salam berkata, “Barang siapa yang ziarah makam Abu Abdillah (Husain) ‘alaihi salam pada hari ‘Asyura sedang dia mengetahui hak-haknya, seakan-akan dia telah menziarahi Allah di ‘Arsy-Nya”)).


31. Karbala lebih afdhol (utama) dari Ka`bah.
Hal ini tercantum dalam kitab Al Bihaar dari Abi Abdillah bahwasanya ia berkata : Sesungguhnya Allah telah mewahyukan ke Ka`bah; kalaulah tidak karena tanah Karbala, maka Aku tidak akan mengutamakanmu, dan kalaulah tidak karena orang yang dipeluk oleh bumi Karbala (Husain), maka Aku tidak akan menciptakanmu, dan tidaklah Aku meciptakan rumah yang mana engkau berbangga dengannya, maka tetap dan berdiamlah kamu, dan jadilah kamu sebagai dosa yang rendah, hina, dina, dan tidak congkak dan sombong terhadap bumi Karbala, kalau tidak, pasti Aku telah buang dan lemparkan kamu ke dalam Jahanam. [Kitab Al Bihaar : (10/107)]
Read More >>

Hidangan Populer Warkop Pusat

Copyright 2011 @ Warkop Mbah Lalar