buah hadits

Posted in Sabtu, 24 September 2011
by Unknown
Pagi2 Mbah Lalar jalan2 melewati rumah Kang Bangkak........


Assalamu Alaikum..............


Wa Alaikum salam wr wb


Lho katanya sakit Mbah? udah sembuh ya? Al Hamdulillah....


Iya sudah sembuh Al Hamdulillah.....


Mampir dulu Mbah, masih pagi kok.....


Iya, terimakasih.........


sebentar kemudian istri Kang Bangkak membawa Kopi untuk mereka berdua, perbincangan kali ini gak seperti biasanya, gak ada kalimat bid'ah, syirik, murtad yg keluar...


Setelah habis Kopi satu gelas, Mbah Lalar pamit pulang, namun matanya menangkap Buah Jeruk segar di halaman Rumah Kang BAngkak, dg sedikit basa basi, Mbah Lalar meminta satu buah untuk di bawa pulang, namun Kang Bangkak melarangnya...


Mbah Lalar kan baru sembuh?


iya emang kenapa? kalo sakit malah gak doyan jeruk Kang, jwb Mbah Lalar.


bukannya saya kikir, tapi dengarlah:

Diriwayatkan dari Ummu Al-Mundzir binti Qais, seorang wanita Anshar, dia mengatakan: ”Rasul datang kepadaku bersama Ali yang waktu itu baru sembuh dari sakit. Kebetulan waktu itu kami punya buah yang masih tergantung di pohonnya. Rasul pun berdiri dan dan memetik buah dan memakannya. Ali juga ikut memetik, namun ketika akan memakannya, Rasul mencegah seraya berkata: “Jangan Ali, kamu baru sembuh dari sakit”. Ali pun mengurungkan niatnya. Maka aku membuat roti dan makanan yang direbus dan membawakannya pada mereka. Maka Rasul pun berkata pada Ali: “Makanlah ini. Ini lebih baik untukmu””. (HR. Abu Dawud), sudah paham Mbah?


Belum...


?


Emang Sayyidina Ali Sakit Apa, dan buahnya buah apa?


Kang Bangkak mulai ngowoh....


Saya itu kan Cuma Sakit sariawan, jadi malah baik kalo makan buah Jeruk, kan kekurangan vitamin c?


jadi?


ya saya tetep minta satu buah....


baiklah ambil saja secukupnya, akhirnya Kang BAngkak menyerah...


Mbah Lalar kegirangan, di ambilnya beberapa Buah di gembol sarung...


Kang Bangkak ternelalak, banyak amat Mbah?


Kan secukupnya, nanti biar saya bagi ke istri, anak2, santri dll, jwb Mbah Lalar enteng........


Kang Bangkak mlongo, kethop2......
Read More >>

PUJIAN YANG KOSONG

Posted in Jumat, 23 September 2011
by Unknown

Membongkar kedustaan pengakuan salafy wahhabi atas pujian para ulama kepada Muhammad bin Abdul Wahhab.

Orang-orang wahabi salafi mengaku bahwa banyak para ulama Islam dunia yang memuji dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, benarkah hal itu ? siapa saja kah para ulama yang telah memuji Muhammad bin Abdul Wahhab ?

Ternyata ulama-ulama yang mereka klaim sebagai Ulama dunia tidak ada lain hanya berputar dari kalangan keluarga dan murid-murdi Muhammad bin Abdul Wahhab saja. Bahkan mereka berani berdusta atas nama ulama Ahlus sunnah waljama’ah di antaranya imam Ash-Shon’aani padahal beliau mencela Muhammad bin Abdul wahhab.

Demi mendapat dukungan dari umat dan menutup-nutupi sejarah kelam Muhammad bin Abdul wahhab serta kesesatan dakwahnya, maka para pentaqlid butanya membuat sebuah judul “ Para ulama dunia memuji dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab “, mereka mnyebutkan nama-nama para ulama yang memuji Muhammad bin Abdul Wahhab.


Nah siapakah sebenarnya para ulama tsb yang mereka klaim Ulama dunia yang telah memuji-muji dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab ? Tidak lain pembela-pembela Muhammad bin Abdul Wahhab, hanya berputar dari kalangan anak-anaknya, cucunya, murdi dan kerabatnya saja. Simak penjelasan berikut ini..!

Wahhabi Salafi berkata “ Di antara para ulama yang membela dan emuji dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab adalah :

1. Ahmad bin Mani’ .


Bantahan : Siapakah Ahmad bin Mani’ ? tidak ada lain nama lengkapnya adalah Ahmad bin Mani’ bin Ibrahim bin mani’. Dia adalah salah satu murid Muhammad bin Abdul wahhab wafat tahun 1186 H. Lihat profilnya dalam kitab Ulama Najd juz 1 halaman 504.


2. Muhammad bin Ghoihab dan Muhammad bin ‘Idan yang telah mengarang sebuah risalah / buku kecil yang ditujukan kpd syaikh Abdullah Al-Muis (aswaja) menasehati agar kembali kpd ajaran Tauhid Muhamamd bin Abdul Wahhab.


Bantahan : Muhammad bin Ghoihab adalah murid Muhammad bin Abdul Wahhab demikian juga Muhammad bin ‘idan.

Dan kita tanyakan kpd mereka “ Apa judul risalah tsb dan di mana keberadaan risalah tsb ?”

3. Hamd bin Mu’ammar dan Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, kedua ulama tsb telah mengarang sebuah kitab “ At-Taudhiih ‘an Tauhidil khollaq fii jawabi ahlil Iraq “.


Bantahan : Hamd bin Mu’ammar adalah murid Muhammad bin Adbul wahhab. Dan Abdullah adalah putra Muhammad bin Abdul wahhab.


4. Al-Allamah syaikh Husain bin ghonnam Al-Ihsaai pengarang kitab tarikh Najd. Seorg ahli ilmu Nahwu dan arudh.


Bantahan : Dia telah menjdi murid Muhammad bin Abdul wahhab, dan tidaklah mengarang kitab tarikh Najd terkecuali menambah wawasan akan kedzaliman dan sejarah kelam Muhammad bin Abdul wahhab.


Di antara isinya adalah di halaman 97, disebutkan bahwa Syaikh Husain menukil dari sbagian risalah gurunya Muhammad bin Abdul Wahhab sbgai berikut : “

Muhammad bin Abdul wahhab bercerita “ Sesungguhnya Utsman bin Mu’ammar adalah seorg hakim negeri Uyainah dia adlah musyrik dan kafir. Setelah orang-orang mengetahui kekufurannya, maka mereka berencana membunuhnya. Setelah selesai sholat jum’at. Dan kami membunuhnya di tempat sholatnya di dalam masjid bulan Rajab tahun 1163 H “.

Lihatlah Muhammad bin Abdul wahhab dengan bangga menceritakan pembunuhannya terhadap Utsman bin Mu’ammar yg vonis kafir di dalam masjdi rumah Allah Swt ??? dan dengan percaya diri, muridnya tsb mnceritakan kembali dalam kitab Tarikh Najdnya.


5. Al-Allamah Hamd bin Nashir bin Utsman bin Mu’ammar, dia telah mengarang banyak bantahan di angtaranya : Kitab “ An-Nubdzah Asy-Syarifah An-Nafisah fi r Radd ‘alal quburiyyin “, At-Tuhfah Al-Madaniyyah fil Aqidah As-Salafiyyah “..


Bantahan : Hamd ini adalah murid Muhammad bin Abdul wahhab dan kakeknya yaitu Utsman bin Mu’ammar telah dibunuh oleh gurunya tsb yaitu setelah selesai sholat jum’at dan masih berada dalam tempat sholatnya di masjid.


6. Abdullah bin Muhamad bin Abdul Wahhab.


Bantahan ; Dia adalah putra Muhamamd bin Abdul Wahhab, namanya sering diulang-ulang penyebutannya dalam jajaran ulama yang memuji Muhammad bin Abdul Wahhab. Dan dia telah menghalalkan darah dan harta dgn jalan mencuri atau merampok kpd org yg tdk mengikuti paham ayahnya.


7. Syaikh Abdul Aziz bin Hamd.


Bantahan : Dia adalah cucu Muhammad bin Abdul wahhab.


8. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman abu Bathin.


Bantahan ; Dia adalah salah satu murid Abdullah putra Muhammad bin Abdul wahhab.


9. Al-Allamah syaikh Abdurrahman bin Hasan Alus syaikh.


Bantahan ; dia adalah salah satu cicit muhamamd bin Abdul wahhab.


10. Syaikh Abdurahman bin Muhammad bin Mani’. Dia telah mengarang qosidah di dalam memuji Muhammad bin Abdul Wahhab.


Banthan : dia adalah salah satu murid dari cucu Muhammad bin Abdull wahhab yaitu Abdurrahman bin Hasan.


11. Al-Allamah syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan.


Bantahan : Dia putra dari cucu Muhamamd bin Abdul wahhab.


12. syaikh Abdul Aziz bin Hasan Al-Fadhli .


Bantahan ; Dia adalah salah satu murdi cucu Muhammad bin Abdul wahhab yaitu Abdurrahman bin hasan.


13. Syaikh Sholeh bin Muhammad Asy-Syatsri, yang telah mengarang kitab abntahan kpd syaikh Ahmad Dahlan dengan judul “ Ta’yidul Malikil Mannan fi Naqdhi dholalati Dahlan “.


Bantahan : dia adalah dia belajar kepada Abdurrahman bin hasan cucu dr Muhammad bin Abdul wahhab.


14. Al-Allamah syaikh Ishaq bin Abdurrahman bin hasan.

Bantahan : Dia adalah putra dari Abdurrahman bin Hasan cucu dari Muhammad bin Abdul wahhab.

15. Al-Allamah syaikh Hamd bin Ali bin Muhamad bin Atiq.

Bantahan : Termasuk murid khusus yang selalu mengikuti majlis Abdurrahman bin hasan.

16. Al-Allamah syaikh Husain bin Hasan bin Husain bin Ali bin Husain bin Muhammad bin Abdul wahhab.


Bantahan : Telah jelas dr keturunan Muhammad bin Abdul wahhab.


17. Al-Allamah syaikh Abdurrahman bin Abdul Lathif Aalus syaikh.


Bantahan : juga keturunan Muhammad bin Abdul wahhab.


18. Al-Allamah syaikh Ahmad bin Ibrahim bin Isa.


Bantahan : Murid dari salah satu murid cucu Muhammad bin Abdul wahhab yaitu Abu Bathin.


19. Al-Allamah syaikh Nashir bin su’ud asy-syuwaimi.


Bantahan : murdi dari cucu Muhammad bin Abdul wahhab yaitu Abdullah bin Abdul Lathif.


20. Wahbah Az-Zuaili Ad-Dimasyqi.


Bantahan : Beliau bukan pembela Muhammad bin Abdul wahhab. Justru beliau adalah seorg asy’ari dan mencintai ilmu tasawwuf. Bahkan beliau memuji kitab Burdah karya imam Bushiri.


21. Doktor Muhammad Ahmad Darniiqoh, telah mengarang kitab “ Syaikh Muhamamd bin Abdul wahhab Raaid ad-dakwah as-salafiyyah “.


Bantahan : Jika mereka mengklaim doctor Muhammad Ahmad adalah pembela Muhammad bin Abdul wahhab, maka seharusnya mereka juga mau menerima karya beliau yang berjudul “ A-th-Thoriqah An-Naqsyabandiyyah wa ‘alaamuha ‘. Buku mnjelaskan ajaran tariqat naqsyabandiyyah dan beliau pun memuji tariqat ini.


22. Imam Ash-shon’aani al-Yamani.


Bantahan : Beliau memang awalnya sempat memuji dakwah Muhammad bin Abdul wahhab, shingga belaiu membuat syair pujian berikut :

سلام على نجد ومن حل في نجد : وإن كان تسليمي على البعد لا يجدي
 
Salamku untuk Najd dan siapa saja yang tinggal sana
Walaupun salamku dari kejauhan belum mencukupinya.

Lama tak mendapat jawaban, hingga bebrapa orng dan ulama Najd mendatangi beliau dan menceritakan hakekat ajaran Muhammad bin Abdul wahhab, maka beliau meruju’ / mencabut kembali pujiannya itu. Padahal qosidah beliau telah menyebar ke sluruh negri.


Akhirnya beliau mencabut pujianya itu dan membuat pujian tentang ruju’nya beliau dr pujian kpd Muhammad bin Abdul wahhab. Dan membuat syarahnya di dalam kitabnya “ Irsyadu Dzail albab ila haqiqati aqwal Ibn Abdil Wahhab “.

Qosdidah ruju’ beliau sangat terkenal di kalangan santri Yaman, di antra bait ruju’ beliau adalah :

رجعت عن القول الذي قلت في النجدي :::::: فقد صح لي فيه خلاف الذي عندي

ظننت به خيرا وقلت عسى عسى ::::::::: نجد ناصحا يهدي الأنام ويستهدي
فقد خاب فيه الظن لا خاب نصحنا ::::::::: وما كل ظن للحقائق لي مهدي
وقد جاءنا من أرضه الشيخ مربد :::::::::: فحقق من أحواله كل ما يبدي
وقد جاء من تأليفه برسائل :::::::::::::: يكفر أهل الأرض فيها على عمد
ولفق في تكفيرهم كل حجة :::::::::::::: تراها كبيت العنكبوت لمن يهدي
تجارى على إجرا دما كل مسلم ::::::::::::: مصل مزك لا يحول عن العهد
وقد جاءنا عن ربنا في ( براءة ) ::::::::::::: براءتهم عن كل كفر وعن جحد
وإخواننا سماهم الله فاستمع :::::::::::::: لقول الإله الواحد الصمد الفرد
وقد قال خير المرسلين نهيت عن ::::::::::::: فما باله لا ينتهي الرجل النجدي
وقال لهم : لا ما أقاموا الصلاة في ::::::::::::: أناس أتوا كل القبائح عن قصد
أبن لي ، أبن لي لم سفكت دماءهم ؟ :::::::: ولم ذا نهبت المال قصدا على عمد ؟
وقد عصموا هذا وهذا بقول لا :::::::::::::: إله سوى الله المهيمن ذي المجد

“ Aku menarik kembali pujianku terhadap Muhammad bin Abdul wahhab An-Najdi

Sungguh telah benar kekliruan pujiannku terhdapnya.

Aku mnyangkka baik padanya, dan aku berdoa semoga, semoga Najd kita member petunjuk pada manusia.

Tapi persangkaanku salah, bukan nasehatku yg salah. Telah dating kepadaku dari Najd syaikh Marbad.

Dan mnjlskan hakekat ajaran muhammad An-Najdi.
Di dalm kitab-kitabnya ia telah banyak emgkafirkan penduduk bumi dengan sengaja.
Dan seterurnya…

Catatan :


Lihatlah, bagaimana wahhabiyyah mengelabui umat Islam dalam tipu dayanya menulis nama-nama para ulama islam sedunia yang memuji dan mendukung ajaran Muhammad bin Abdul wahhab, padahal setelah dikroscek ternyata ulama-ulama tsb adfalah hanya dari kalangan keluarga, putra, cucu dan murid Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri.


Manakah para ulama Islam sezamannya yang memuji Muhammad bin Abdul Wahhab ???


Tidak adakah ulama selain dr kalangan keluarga dan murid Muhammad bin Abdul wahhab yang membela ajarannya???


Sedangkan para ulama besar dari smua kalangan madzhab telah membantah dan mencela ajaran Muhammad bin Abdul wahhab, ratusan ulama yang hidup semasa dengan Muhamamd bin Abdul wahhab bahkan dari saudaranya sndiri yaitu syaikh Sulaiman bin Abdul wahhab yang lebih memahami karakter suadaranya itu dan lebih alim telah mencela dan membuat bantahan kpd saudaranya tsb Muhammad bin Abdul wahhab. Belum lagi ribuan ulama setelahnya yang mencela dan tidak mendukung ajaran Muhamamd bin Abdul Wahhab.

Ibnu Abdillah Al-Katibiy

Read More >>

Seri Jejak Perjuangan Sunan Ampel 8

Posted in Kamis, 22 September 2011
by Unknown

Keraton Sebagai Pusat Pengembangan Budaya Islam

Sepanjang sejarah kebudayaan di Indonesia, belum pernah ada suatu rentang waktu yang menunjukkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan agama seperti asrama, wihara padhepokan, dan pesantren pernah menjadi pusat pengembangan budaya. Data sejarah, selalu menunjukkan bahwa pengembangan budaya di suatu masa selalu berawal dari keraton-keraton. Tak berbeda dengan masa-masa keraton Hindu-buddha, pada masa akhir Majapahit yang ditandai tumbuhnya kekuasaan raja-raja Muslim pun pengembangan budayanya bertolak dari keraton. Dalam naskah Primbon kuno milik Prof. K.H.R. Moh. Adnan, diungkapkan peranan para susuhunan (raja) dalam mengembangkan budaya di tengah masyarakat sebagai berikut:
“Kanjeng Susuhunan ing Ngampel Denta hadamel pranatanipun agami Islam, kanggenipun ing titiyang Jawi// Raja Pandita ing Gresik, amewahi ing polanipun ing sinjang, sinjang batik, kaliyan sinjang lurik, saha hamewahi ing wangunipun ing kakapaning kuda// Kanjeng Susuhunan ing Majagung, hamewahi wangunipun ing olah-olahan, dadaharan utawi ulam-ulaman, kaliyan amewahi parabotipun ing among-tani, utawi andamel garabah, sapanunggalanipun ingkang kagarap ing kunti// Kanjeng Susuhunan ing Gunung Jati, ing Cirebon, amewahi donga akaliyan mantra, hutawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana// Kanjeng Susuhunan ing Giri, adamel pranatanipun ing keraton Jawi, kaliyan amewahi bangsa pepetangan lampahing dinten wulan tahun windu, utawi amewahi lampahing pawukon sapanunggalipun, kaliyan malih amiwiti dameldalan tiyang Jawi// Kanjeng Susuhunan Bonang adamel susuluking ngelmi, kaliyan amewahi ricikanipun ing gangsa, utawi amewahi lagunipun ing gending// Kanjeng Susuhunan Drajat, amewahi wanguning griya, utawi titiyang ingkang karembat ing tiyang, tandu joli sapanunggalanipun// Kanjeng Susuhunan Lepen Jagi, amewahi lagunipun ing gending, kados Susuhunan Bonang wau// Kanjeng Susuhunan Kudus, amewahi dapuripun dadamel, waos duwung sapanunggalanipun, utawi amewahi parabotipun bekakasing pande, kaliyan kemasan, saha adamel angger-anggeripun hingga pangadilan hukum ingkang kenging kalampahan ing tiyang Jawi//”.
Berdasar sumber primbon di atas, jelaslah bahwa Sunan Ampel menetapkan pranata agama (syariat) Islam yang diperuntukkan bagi orang Jawa. Selanjutnya, naskah primbon kuno tersebut mengungkapkan bahwa Sunan Giri dan Sunan Ampel menyusun aturan adat-istiadat dalam keluarga yang meliputi pasal-pasal tentang peminangan; nikah-talak-rujuk; pembentukan keluarga batih dan adat-istiadatnya, termasuk masalah pengasuhan anak, perwalian, pengawasan, pewarisan, hukum jinayah, kisas, kepemimpinan, perbudakan, peperangan, dan masalah bid’ah.
Pelaksanaan hukum Islam yang disusun oleh Sunan Ampel, hanya mungkin diterapkan dalam kehidupan masyarakat oleh pihak keraton yang memiliki otoritas kekuasaan. Itu berarti, Sunan Ampel hanya mungkin menjalankan hukum Islam yang disusunnya itu kepada masyarakat jika ia menduduki jabatan raja. Sebab jika Sunan Ampel diasumsikan sebagai seorang ulama pemimpin pesantren, pasti ia tidak memiliki kewenangan apa pun untuk menjalankan sebuah produk hukum di tengah masyarakat. Sepengetahuan penulis, sepanjang sejarah tidak pernah tercatat adanya sebuah lembaga pendidikan seperti asrama, padhepokan, wihara, dan pesantren yang punya otoritas menjalankan hukum formal bagi masyarakat umum.
Dengan mengacu pada sumber dari primbon tersebut di atas, jelaslah bahwa perubahan sosio-kultural-religius yang terjadi di Jawa pada akhir Majapahit dilakukan keraton-keraton dan kadipaten-kadipaten seperti Surabaya, Giri Kedhaton, Demak, dan Cirebon. Sebab bagi masyarakat hidraulik seperti Jawa yang menganut faham ‘dewaraja’, segala sesuatu yang terkait dengan perubahan dan pengembangan tergantung sepenuhnya pada keberadaan kalangan keraton. Bahkan sampai saat sekarang pun, keraton-keraton tradisional yang tersisa seperti Sumenep, Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, Pakualaman, dan Cirebon tetap dijadikan pusat pengembangan adat istiadat dan budaya setempat.

Sumber tulisan:
Agus Sunyoto, Sunan Ampel Raja Surabaya: Membaca Kembali Dinamika Perjuangan Dakwah Islam di Jawa Abad XIV-XV M., Surabaya: Diantama, 2004.

Read More >>

Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi

Posted in Rabu, 21 September 2011
by Unknown




Oleh: Idrus Ramli*

Ke mana-mana selalu menyebarkan salam. Selalu memakai baju bercorak gamis dan celana putih panjang ke bawah lutut, ciri-khas orang Arab. Jenggotnya dibiarkannya lebat dan terkesan menyeramkan. Slogannya pemberlakuan syariat Islam. Perjuangannya memberantas syirik, bid’ah, dan khurafat. Referensinya, al-Kitab dan Sunah yang sahih. Semuanya serba keren, valid, islami. Begitulah kira-kira penampilan kaum Wahabi. Sepintas dan secara lahiriah meyakinkan, mengagumkan.


Tapi jangan tertipu dulu dengan setiap penampilan keren. Kata pepatah jalanan, tidak sedikit di antara mereka yang memakai baju TNI, ternyata penipu, bukan tentara. Pada masa Rasulullah r, di antara tipologi kaum Khawarij yang benih-benihnya mulai muncul pada masa beliau, adalah ketekunan mereka dalam melakukan ibadah melebihi ibadah kebanyakan orang, sehingga beliau perlu memperingatkan para Sahabat t dengan bersabda, “Kalian akan merasa kecil, apabila membandingkan ibadah kalian dengan ibadah mereka.”

Demikian pula halnya dengan kaum Wahabi, yang terkadang memakai nama keren “kaum Salafi”. Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/1263-1328 M), akan didapati sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan.

A. Sejarah Hitam
Sekte Wahabi, seperti biasanya sekte-sekte yang menyimpang dari manhaj Islam Ahlusunah wal Jamaah memiliki lembaran-lembaran hitam dalam sejarah. Kerapuhan sejarah ini setidaknya dapat dilihat dengan memperhatikan sepak terjang Wahabi pada awal kemunculannya. Di mana agresi dan aneksasi (pencaplokan) terhadap kota-kota Islam seperti Mekah, Madinah, Thaif, Riyadh, Jeddah, dan lain-lain, yang dilakukan Wahabi bersama bala tentara Amir Muhammad bin Saud, mereka anggap sebagai jihad fi sabilillah seperti halnya para Sahabat t menaklukkan Persia dan Romawi atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.

Selain menghalalkan darah kaum Muslimin yang tinggal di kota-kota Hijaz dan sekitarnya, kaum Wahabi juga menjarah harta benda mereka dan menganggapnya sebagai ghanîmah (hasil jarahan perang) yang posisinya sama dengan jarahan perang dari kaum kafir. Hal ini berangkat dari paradigma Wahabi yang mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin Ahlusunah wal Jamaah pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali yang tinggal di kota-kota itu. Lembaran hitam sejarah ini telah diabadikan dalam kitab asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb; ‘Aqîdatuhus-Salafiyyah wa Da’watuhul-Ishlâhiyyah karya Ahmad bin Hajar Al-Buthami (bukan Al-Haitami dan Al-‘Asqalani)–ulama Wahabi kontemporer dari Qatar–, dan dipengantari oleh Abdul Aziz bin Baz.

B. Kerapuhan Ideologi

Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah, berdasarkan firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)” (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil ‘aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah mukhâlafah lil-hawâdits, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (alam). Karenanya, Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dan Allah itu tidak duduk, tidak bersemayam di ‘Arasy, tidak memiliki organ tubuh dan sifat seperti manusia. Dan menurut ijmak ulama salaf Ahlusunah wal Jamaah, sebagaimana dikemukakan oleh al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (227-321 H/767-933 M), dalam al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, orang yang menyifati Allah dengan sifat dan ciri khas manusia (seperti sifat duduk, bersemayam, bertempat, berarah, dan memiliki organ tubuh), adalah kafir. Hal ini berangkat dari sifat wajib Allah, mukhâlafah lil-hawâdits.

Sementara Wahabi mengalami kerapuhan fatal dalam hal ideologi. Mereka terjerumus dalam faham tajsîm (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia) dan tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Padahal menurut al-Imam asy-Syafi’i (150-204 H/767-819 M) seperti diriwayatkan olah as-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dalam al-Asybâh wan-Nazhâ’ir, orang yang berfaham tajsîm, adalah kafir. Karena berarti penolakan dan pengingkaran terhadap firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah).” (QS asy-Syura [42]: 11)

C. Kerapuhan Tradisi

Di antara ciri khas Ahlusunah wal Jamaah adalah mencintai, menghormati, dan mengagungkan Rasulullah r, para Sahabat t, ulama salaf yang saleh, dan generasi penerus mereka yang saleh seperti para habaib dan kiai yang diekspresikan dalam bentuk tradisi semisal tawasul, tabarruk, perayaan maulid, haul, dan lain-lain.

Sementara kaum Wahabi mengalami kerapuhan tradisi dalam beragama, dengan tidak mengagungkan Nabi r, yang diekspresikan dalam pengafiran tawasul dengan para nabi dan para wali. Padahal tawasul ini, sebagaimana terdapat dalam Hadis-Hadis sahih dan data-data kesejarahan yang mutawâtir, telah dilakukan oleh Nabi Adam u, para Sahabat t, dan ulama salaf yang saleh. Sehingga dengan pandangannya ini, Wahabi berarti telah mengafirkan Nabi Adam u, para Sahabat t, ahli Hadis, dan ulama salaf yang saleh yang menganjurkan tawasul.

Bahkan lebih jauh lagi, Nashiruddin al-Albani–ulama Wahabi kontemporer–sejak lama telah menyerukan pembongkaran al-qubbah al-khadhrâ’ (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah r) dan menyerukan pengeluaran jasad Nabi r dari dalam Masjid Nabawi, karena dianggapnya sebagai sumber kesyirikan. Al-Albani juga telah mengeluarkan fatwa yang mengafirkan al-Imam al-Bukhari, karena telah melakukan takwil dalam ash-Shahih-nya.

Demikian sekelumit dari ratusan kerapuhan ideologis Wahabi. Dari sini, kita perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang lahir di Najd. Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi r bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”. Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi. Wallâhul-hâdî. [BS]

*) penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Sidogiri, tinggal di Jember
Read More >>

Yang Maha

Posted in
by Unknown
Oleh: Aggota WLM








Yang maha pengasih...
Yang maha penyayang...
Tempat seluruh makhluk bergantung...
Raja diraja yang menguasai atas segala sesuatu...
Ampunilah segala khilaf dan salah, dengan pengampunan~Mu...
Yang maha pengampun...

Yang maha pengasih...
Yang maha penyayang...
Tempat seluruh makhluk bergantung...
Raja diraja yang menguasai atas segala sesuatu...
Berilah kesehatan dan umur yang panjang didalam taat beribadah kepada~Mu...
Yang maha pemberi...

Yang maha pengasih...
Yang maha penyayang...
Tempat seluruh makhluk bergantung...
Raja diraja yang menguasai atas segala sesuatu...
Titipkanlah rejeki yang luas, halal lagi barokah didalam taat beribadah kepada~Mu...
Yang maha memuliakan...

Berilah derajat yang tinggi dengan kesempurnaan~Mu, kepada junjungan mulia Rasulullah SAW, beserta keluarga, sahabat dan pengikut beliau hingga akhir nanti...
Yang maha pengasih...
Yang maha penyayang...
Segala puji hanya kepada engkau tuhan atas segala sesuatu...
Amiin...
Read More >>

PERINGATAN ISRO MI,ROJ _______________________

Posted in
by Unknown


Dari mana Mbah, Wangi amat.......

Biasa dari Nyarkub, jwb Mbah Lalar Pendek tanpa menoleh.

Hmmmm udah tahu kalo Mayyit itu gak bisa memberi manfa'at, kok masih saja di tawassuli, syirik kok di pelihara.......... Kang Bangkak ngedumel.

Yakin nieh? kalo Mayyit gak bermanfaat? MBah Lalar menghentikan langkahnya, bertanya.

Ya iyalaaaaaaaah, mana ada Mayyit memberi manfa;at? jwb Kang Bngkak ngeyel.

Seharusnya Seluruh Ummat Islam itu berterimakasih pada Mayyit seseorang lhoo.....

Ah, ngarang aja Mbah Lalar ini, bagaimana bisa harus berterimakasih kepada Mayat?

Ya iyalah, masak nggak? Mbah lalar tak kalah ngeyel dalam rangka mempermainkan Otak Kang bangkak. Mau tau???

Bisa kasih Hujjah nggak? Kang Bangkak agak terpancing.

Pasti doooooong........

Coba mana Hujjahnya?!!! Kang Bangkak agak membentak.

Dengar ya, Ketika Pertama kali Rosulullah Shollallahu 'alaihi wa Sallam menerima Perintah Sholat itu kan 50 waktu dalam sehari semalam? betul?.......

Ya, terus?

Ada kan yg mengusulkan untuk mengurangi hingga tinggal 5 waktu saja sampai sekarang?

Iya Nabi Musa 'alaihissalam, jwb Kaqng Bangkak Mantab.

Naaaaaaaaah Nabi Musa waktu itu sudah Wafatkan???

Kang Bangkak mulai ragu, namun menjawab dg lirih, Iya......

Mbah Lalar tersenyum, berlalu dan mengerlingkan mata menggoda....

Kang Bangkak menelan ludah matanya kethop2.......................​...................
Read More >>

Seri Jejak Perjuangan Dakwah Islam Sunan Ampel 1

Posted in
by Unknown

Membangun Kekerabatan dengan Penguasa

Berdakwah adalah tugas setiap muslim sesuai sabda Nabi Muhammad Saw: ballighu anni walau ayatan! (sampaikan apa yang dari aku sekalipun satu ayat). Itu sebabnya, tidak perduli apakah seorang muslim berkedudukan sebagai pedagang, tukang, petani, nelayan, pejabat, atau raja sekali pun memiliki kewajiban utama menyampaikan kebenaran Islam kepada siapa saja dan di mana saja. Sunan Ampel, raja Surabaya, sebagaimana para penyebar agama Islam lainnya terbukti menjalankan amanat agama itu dengan sangat baik melalui prinsip dakwah: maw’izhatul hasanah wa mujadalah billati hiya ahsan. Malahan, sejak sebelum menjadi raja Surabaya, Sunan Ampel sudah menyampaikan dakwah kepada Arya Damar Adipati Palembang dan kepada Prabhu Brawijaya (Kertawijaya, suami bibinya – pen) sebagaimana dituturkan Serat Walisana.
Selain melakukan dakwah langsung melalui penyampaian kebenaran Islam terhadap para tokoh, Sunan Ampel melakukan pula dakwah melalui ikatan-ikatan kekerabatan lewat jalan pernikahan dengan keluarga para tokoh. Usaha-usaha dakwah Sunan Ampel lewat jalinan kekerabatan dengan keluarga para tokoh, dapat dipaparkan sebagai berikut:
Seluruh sumber historiografi lokal menuturkan bahwa Raden Rahmat – kelak termasyhur dengan gelar Sunan Ampel – adalah orang asing. Ibunya yang bernama Candrawati, berkebangsaan Campa. Ayahnya yang bernama Ibrahim as-Samarqandiy, berasal dari Samarkand. Kemudian melalui bibinya, Darawati, yang dinikahi Maharaja Majapahit Prabhu Kertawijaya (Brawijaya V), Raden Rahmat masuk ke dalam ikatan kekerabatan dengan penguasa di Majapahit. Menurut Serat Kandha, atas keinginan Prabhu Kertawijaya, suami bibinya, Raden Rahmat dinikahkan dengan Nyi Ageng Manila, puteri Arya Teja, Adipati Tuban. Dengan menikahi puteri Arya Teja, Raden Rahmat telah masuk ke dalam lingkungan keluarga raja Surabaya, Arya Lembu Sura. Sebab ibu Nyi Ageng Manila, adalah puteri Arya Lembu Sura. Atas kehendak Prabhu Kertawijaya pula, kakak Raden Rahmat, Ali Murtadho, dinikahkan dengan puteri Arya Baribin di Pamekasan. Tokoh Arya Baribin ini juga putera Arya Lembu Sura.
Masuknya Raden Rahmat ke dalam lingkungan keluarga Arya Lembu Sura, dapat dilihat sebagai titik tolak bagi menguatnya kedudukan tokoh asal Campa itu di Surabaya. Sebab dengan menjadi keluarga Arya Lembu Sura, berarti Raden Rahmat telah menjadi bagian dari keluarga besar Maharaja Majapahit. Dengan kedudukannya sebagai pangeran Majapahit pertama yang beragama Islam, Arya Lembu Sura dihormati tidak saja oleh keluarga Maharaja Majapahit tetapi juga oleh umat Islam yang mulai tumbuh di kawasan pesisir. Dan sebagai cucu menantu raja Surabaya yang dihormati itu, tentu saja Raden Rahmat ikut dihormati apalagi bibi Raden Rahmat adalah isteri Maharaja Majapahit.
Sekalipun keberadaan Arya Lembu Sura sebagai raja Surabaya banyak diabaikan oleh cerita tutur maupun historiografi lokal, tampaknya tokoh tersebut memiliki peran yang tidak kecil dalam usaha pengembangan Islam di Surabaya. Salah satu bukti tak terbantah tentang kedudukan Arya Lembu Sura, adalah keberadaannya sebagai tonggak yang menjalin hubungan genealogi antara para penyebar agama Islam dengan keluarga penguasa-penguasa Majapahit. Setelah Raden Rahmat dan Ali Murtadho masuk ke dalam lingkaran keluarga Arya Lembu Sura, misalnya, masuk pula seorang penyebar Islam bernama Khalifah Husein yang menikahi cucu Arya Lembu Sura, puteri Arya Baribin, Raja Pamekasan. Babad Tanah Jawi, menuturkan hal itu sebagai berikut:
“Kocapa maolana saking Ngatas Angin, pan Kalipah Usen namanira, pan sampun prapta ing Ngampel, sampun lami tinuduh marang susuhunan ing Ngampel Gading, dadya imam Madura lan Sumenep iku, Islamna beh wong Madura myang Sumenep, Balega lan Surawesti. Kalipah Usen Kobra kambil mantu mring Arya Baribin”.
Serat Kandha menuturkan, bahwa Khalifah Husein adalah kerabat Sunan Ampel. Jadi wajar jika Sunan Ampel memerintahkan Khalifah Husein untuk mengislamkan Madura, Sumenep, Balega, dan Surabaya, karena penguasa-penguasa di Madura dewasa itu adalah kerabat dan keturunan Arya Lembu Sura. Arya Baribin, raja Pamekasan, adalah putera Arya Lembu Sura. Lembu Peteng, Raja Gili Mandangin (pulau kecil di Sampang), adalah kemenakan Arya Lembu Sura. Arya Menak Sunaya, raja Pamadegan (berpusat di pesisir laut sampai saat ini menjadi pelabuhan yang menghubungkan antara Sampang dan pulau Gili Mandangin), putera Arya Damar Adipati Palembang, adalah cucu kemenakan Arya Lembu Sura. Jaran Panoleh, raja Sumenep, adalah kemenakan Arya Lembu Sura juga.
Serat Kandha juga menuturkan bahwa saudara Khalifah Husein, Syaikh Waliy al-Islam, telah menikah dengan Retna Sambodhi puteri penguasa Pasuruan. Dewasa itu, yang menjadi penguasa Pasuruan adalah saudara lain ibu Arya Lembu Sura yang bernama Lembu Mirudha, Panembahan Gunung Bromo. Itu berarti, usaha-usaha Sunan Ampel dalam memperkuat kekerabatan antara para penyebar Islam dengan penguasa-penguasa Majapahit dilakukan melalui jalur kekerabatan raja Surabaya, Arya Lembu Sura. Bahkan lewat jalur itu pula, tampaknya perkawinan saudara Sunan Ampel yang bernama Syaikh Maulana Gharib dengan Niken Sundara, puteri Patih Mahodara dari Majapahit dilakukan.
Rupanya, melalui pernikahan-pernikahan antara para penyebar Islam dengan puteri-puteri penguasa Majapahit – terutama melalui kerabat Arya Lembu Sura Raja Surabaya – Sunan Ampel berhasil memperkuat akar dakwah Islam di wilayah Majapahit yang sudah dirintis Arya Lembu Sura. Sekalipun tidak semua cara itu berhasil, sebagaimana gagalnya Syaikh Maulana Ishak, saudara ibu Sunan Ampel dalam mengikat tali kekerabatan dengan penguasa Blambangan, namun secara umum cara itu menunjukkan keberhasilan yang signifikan bagi terbentuknya keluarga-keluarga muslim di kalangan pejabat-pejabat Majapahit.
Usaha dakwah Sunan Ampel melalui perkawinan-perkawinan para penyebar Islam dengan puteri-puteri penguasa Majapahit, termasuk perkawinan puteri-puterinya dengan Prabhu Satmata dari Giri Kedhaton, Raden Patah Adipati Demak dan Syarif Hidayatullah Wali Nagari Gunung Jati, pada satu sisi dapat dilihat sebagai suatu langkah kebijakan dakwah yang diilhami metode dakwah Nabi Muhammad Saw dalam memperkuat kekuatan Islam melalui ikatan perkawinan. Sebab dengan cara seperti itu, ikatan kekeluargaan memang akan semakin kuat di antara umat Islam. Di masa kebangkitan awal Islam telah diketahui terjadi perkawinan antara Nabi Muhammad Saw dengan Hafsah puteri Umar Ibn Khattab dan ‘Aisyah puteri Abu Bakar. Ali bin Abi Thalib dinikahkan dengan Fatimah puteri Nabi Muhammad Saw. Utsman bin Affan pun dijadikan menantu. Hubungan kekerabatan juga dilakukan melalui pernikahan-pernikahan antara golongan Ansor dan Muhajirin.

Sumber tulisan:
Agus Sunyoto, Sunan Ampel Raja Surabaya: Membaca Kembali Dinamika Perjuangan Dakwah Islam di Jawa Abad XIV-XV M., Surabaya: Diantama, 2004.

Read More >>

Hidangan Populer Warkop Pusat

Copyright 2011 @ Warkop Mbah Lalar