(Tulisan ini saya kutip seutuhnya dari sebuah wordpress/blog yang dikelola oleh wahhabi faksi Yaman yakni murid2nya Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'i -tokoh wahhabi dari Dammaj-Shana'a-Yaman-. Faksi Wahhabi Yaman ini sangat membenci dan sudah lama bermusuhan dg faksi wahhabi yang tergabung dalam ormas Al-Irsyad. Ormas Al Irsyad didirikan oleh S...yaikh Ahmad Surkati -tokoh wahhabi asal Sudan yang mukim di Indonesia -meskipun Ahmad Surkati sendiri tidak berkenan kalau disebut sebagai wahhabi (pengikut muhammad bin abdul wahhab), ia lebih suka dan bangga disebut sebagai pengikut Muhammad Abduh, tp kenyataannya aqidah dan amaliahnya sama dengan wahhabi. Syaikh Ahmad Surkati juga termasuk guru dan shahabat KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, sebagaimana tertulis dibeberapa sumber dari situs resmi Al Irsyad : http://alirsyad.net/index.php?option=com_content&task=view&id=25&Itemid=42, atau jg bisa dilihat di : http://www.jurnalstidnatsir.co.cc/2009/06/syaikh-ahmad-syurkati-guru-dari-tokoh.html. Ini link asli artikel berikut : http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2007/03/28/ahmad-surkati-guru-agen-cia-sekutu-dan-sahabat-misionaris-kafir-belanda/)

Ahmad Surkati, guru agen CIA-Sekutu dan sahabat misionaris kafir Belanda
Buku Al Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa pantas kita buka kembali, mengingat ada ucapan di sebelah yang hendak mengkaburkan kembali tentang siapakah Ahmad Surkati. Murid Ahmad Surkati, Abdullah Aqil Badjerei yang diangkat menjadi redaktur majalah Azzachirah Al Islamiyyah sejak tahun 1923, sekaligus penerjemah tunggal dan sekretaris pribadi Surkati. Abdullah Badjerei adalah orang penting yang selalu berada di sisi Ahmad Surkati, bahkan dia berkesempatan memangku jabatan Sekretaris Jenderal Al Irsyad paling lama sekitar 25 tahun.

Abdullah Badjerei sering mewakili Ahmad Surkati dalam ceramah ilmiahnya. Dan seorang putra dari Abdullah Badjerei bernama Hussein bin Abdullah Badjerei turut aktif di Al Irsyad, sampai buku tulisannya “Al Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa” (AMSB) dikukuhkan sebagai buku resmi PP Al Irsyad. Simak di halaman situs http://img137.imageshack.us/img137/3773/image0291ph1.jpg.
Kemudian disebutkan murid Surkati lainnya Asad Alkalali, Ahmad Sjoekrie, Umar Hubeis, Ali Hubeis, ‘Aisyah Nazir, Nurdjannah, Abdullah Badjerei. Ini semakin memperkuat bahwa sumber paling sahih bila berbicara tentang Ahmad Surkati adalah lewat Abdullah Aqil Badjerei, bapak Hussein Badjerei, penulis buku resmi PP Al Irsyad.
http://img156.imageshack.us/img156/8283/image0298xa7.jpg
Nah, H. Hussein Badjerei putra Abdullah Aqil Badjerei inilah yang jujur mengungkapkan apa itu Al Irsyad. Dalam menulis tulisan ini yang telah dilengkapi dengan link scan buku ASB, mengingat Abu Salma (A.S.) sang jago bersilat lidah, ahli berkata-kata hanya mampu mengalihkan perhatian, menghindar, tanpa membawakan bukti yang lebih sahih dari buku resmi Al Irsyad ini.
Seminggu, dua minggu kita tinggalkan A.S, walhasil A.S. makin menjadi-jadi, tudingan agen rahasia, agen CIA, memakai metode CIA, memakai cara kuffar CIA makin dikerucutkan tanpa membawa satu lembar buktipun terkait keanggotan Ibrahim sebagai agen CIA. Kenapa hanya karena tulisan LSM kafir dari Brussel terkait teroris yang menyudutkan Sururi dan Jihadi, lantas Ibrahim digelari agen CIA ? Atau lantaran data yang pernah ada di situs salafy.or.id dicomot mereka lantas otomatis Ibrahim menjadi agen CIA ? Ketahuilah fanatikus situs anda membuat istilah aneh CIAlafy di forum ‘sampah’, yang juga suka dikorek-korek oleh A.S., pejabat PC Al Irsyad Surabaya ini.
Kita tanyakan lagi, darimanakah engkau tahu bahwa LSM kafir tersebut CIA, lantas cara yang saya pakai metode CIA ? Jangan-jangan engkau hobi menonton film laga/detektif yang menampilkan profil agen CIA dan engkau memahami secara utuh sehingga ketika berhadapan dengan manusia pengangguran seperti Ibrahim, lantas engkau tuding agen CIA ? Atau engkau pernah dididik oleh CIA, lantas keluar, sehingga engkau tahu persis cara kerja agen CIA ?
Kenapa tidak engkau bilang agen MOSSAD seperti tudingan majalah Hidayatullah pada Salafy ? Atau agen Densus88 seperti tudingan pada Ja’far Umar Thalib ? Lantas engkau pantas disebut agen juga, karena memiliki radar yang sangat canggih sehingga bisa mendeteksi kabar-kabar dari ujung Jatim dan di Brussel sana ? Kalau setiap yang googling, mengkoleksi selebaran, pamflet, tulisan, yang lantas discan, lantas dicomot asing kemudian disebut mata-mata, maka sungguh banyak sekali yang layak dicap agen/mata-mata di dunia! Termasuk website anda sendiri, karena pembacanya manca Negara dan kadang dicomot oleh orang-orang.
Baiklah, waktunya kita singkap siapakah Van der Plas, Snouck Hurgronje (sahabat, murid Ahmad Surkati reformis) dan marilah kita dholimi bersama-sama!
C.H.O. Van der Plas
Baik, marilah kita lihat siapakah Dr. Charles agen CIA - M16 – Sekutu yang terkenal dengan sebutan Van der Plas connection. Biar si A.S. jelas ternyata Van der Plas yang samar-samar baginya ternyata adalah agen CIA - M16 – Sekutu/Amerika Serikat.
CH.O.van der Plas menjabat sebagai Ajun Advisor dari kantor kolonial belanda Kantoor voor Inlandsche Zaken, juga Prof. Dr. G.F. Pijper sebagai Advisor di kantor yang sama, dia belajar Ilmu Tafsir dan Fiqh dari Surkati. (AMSB, hal 49)  http://img144.imageshack.us/img144/3839/image0293if2.jpg. Lihatlah Surkati demikian dekat dgn kolonialis Belanda, maka apakah mungkin Surkati menyusun perlawanan atas imperalis Belanda dalam kedekatannya itu ? Ataukah dengan manhaj “unik” seperti inilah (baca:rifq, liyn dan hikmah dengan pejabat penjajah kafir Belanda), cara As-Surkati memerangi kekafiran dan penjajahan di negeri kaum muslimin ini?! Bukankah hukum asal dari dakwah adalah rifq, liyn dan hikmah, wahai Firanda dan Abu Salma?! Bukankah kelembutan (baca:persahabatan) dengan para penyesat dan penjajah adalah wasilah terbesar dijungkir-balikkannya al-wala’ wal bara’ fil Islam?! Sesungguhnya tidak patut bagi Irsyadiyin untuk meminta-minta gelar kemaslahatan sebagai ‘Pahlawan Nasional’ kepada pemerintah Indonesia bagi Ahmad Surkati!!
Menurut AMSB halaman 49, ternyata Ahmad Surkati sebagai sahabat sekaligus guru Charles Olke Van der Plas dan rekan lainnya di kantor Het Kantoor von Inlandche Zaken, Penasehat Urusan Bahasa-bahasa Timur dan Hukum Islam, dibantu untuk mendapatkan satu bagian penuh prosentase dari dana lotre/judi. Syaratnya, tentu beda dengan Ihya’ at Turats, yakni kolonial Belanda meminta Surkati mendirikan Stichting Al Irsyad Al Islamiyyah, yang akhirnya berdiri di hadapan notaris Michiel de Hondt Akte no 73 tanggal 22 Oktober 1934. Al Irsyad adalah organisasi pertama penerima dana lotre/judi yang dihalalkan hanya karena tujuannya baik. Tujuan menghalalkan segala cara ?
http://img144.imageshack.us/img144/3839/image0293if2.jpg
Disini Hussein Badjerei mengungkapkan informasi “berharga” bahwa “”Stichting Al-Irsyad Al-Islamiyyah” didirikan sebagai landasan hukum agar dapat mencairkan uang lotre penjajah kafir najis Belanda!! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Padahal pada tahun 1930, Al-Irsyad sebagai suatu perhimpunan sudah diluluskan permintaannya untuk menikmati uang lotre penjajah kafir Belanda sebesar 2% atau sekitar f.10.000,- sesuai keputusan Direktur Van Justitie tanggal 14/3/1930 (AMSB, hal.50)
http://img152.imageshack.us/img152/9752/image0296tn3.jpg
Berapa besarkah nilai f.10.000 pada saat itu? Sebagai gambaran, gaji Soerkati ketika itu f.200 dan gaji Abdullah Badjerei (murid kesayangannya yang diangkatnya sebagai guru) sebesar f.30 yang jika ditukar seluruhnya dengan beras akan diperoleh sekitar 1,2 ton. Sehingga f.10.000 uang lotre tersebut setara dengan beras sebanyak 399,99 ton beras, dengan harga Maret 2007 1 kg = Rp. 6000, identik Rp. 2.4 milyar ! Maka sungguh jumlah yang sangat fantastis bagi rakyat Indonesia yang saat itu dalam keadaan dijajah oleh kolonialis kafir Belanda, sekaligus sangat fantastis nilai keridloan kolonial kafir Belanda pada sahabatnya !
Sebenarnya, langkah nekad As-Surkati Syaikh ‘Salafy Al-Irsyad’ dalam menghalalkan dan menerima uang lotre dari penjajah kafir Belanda bukannya tidak mendapat tantangan, A. Hassan dari Persatuan Islam (Persis) dengan tegas menyatakannya sebagai uang haram: “Al-Irsyad merupakan perhimpunan Islam pertama yang menerima bagian uang lotre. Saat itu ada yang setuju, ada pula yang menentang. Majalah Pembela Islam yang diterbitkan oleh Persatuan Islam (Persis) asuhan A. Hasan dalam Bab Fatwanya telah menyatakan bahwa lotre itu hukumnya haram, bertentangan dengan pendapat Ahmad Soerkati dan beberapa ulama Islam di Kairo yang telah MENGHALALKANNYA KARENA MAKSUD DAN TUJUANNYA BAIK. Alasan yang dikemukakan ketika mengajukan permohonan dana adalah untuk membangun sebuah gedung sekolah”.(ibid, hal.50)
http://img152.imageshack.us/img152/9752/image0296tn3.jpg
Demikianlah, orang yang dipuji sebagai “Asy-Syaikh Al-‘Allamah yang memerangi… kesesatan” ternyata menghalalkan dan menerima uang lotre penjajah kafir Belanda dengan alasan “maksud dan tujuannya baik!” Allahul Musta’an.
Menurut buku “Al Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa” hal 48-49, disebutkan nama-nama murid Surkati dari kalangan kolonialis Belanda yakni Dr. Charles Olke van der Plas. Dia pernah menjabat sebagai konsul Belanda di Jeddah, terakhir dia menjadi gubernur Jatim. Setelah invasi Jepang tanggal 9 Maret 1942, Van der Plas melarikan diri ke negeri kafir Australia, lantaran dia loyalitas dengan negara tersebut tentunya. Van der Plas inilah tokoh kolonial Belanda yang ingin menangkap Soekarno pada akhir September 1945 (Rosihan Anwar, 16 Agustus 2005. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0805/16/0802.htm).
Dialah tokoh dibalik kembalinya pasukan Belanda lewat Sekutu pada tanggal 15 September 1945 dengan tentara NICAnya (Netherland Indies Civil Administration). (http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia:_Era_Jepang). Bahkan dia dikabarkan turut campur dalam kancah perpolitikan di Indonesia bahkan paska kemerdekaan RI dengan operasi gabungan agen Sekutu – CIA dan M16 yang dikenal dengan Van der Plas Connection. (Di Balik Tuduhan “Kolaborator”, oleh A Supardi Adiwijaya http://www.wirantaprawira.net/bk/hutbk_6.htm).
Baik Snouck Hurgronje maupun Van Der Plas adalah misionaris, pendeta, orientalis yang terbaik yang dimiliki kolonialis kafir Belanda. Mereka ahli westernisasi, kolonisasi di Indonesia dan berpaham sekuler. Silakan baca-baca buku sejarah lagi, di benak kita waktu pelajaran PSPB dulu, Snouck Hurgronje dan Van der Plas adalah penjajah kafir Belanda yang licik dan jago memecah-belah bangsa kita. Mungkin ini sebabnya Ahmad Surkati tidak dinominasikan sebagai Pahlawan Nasional bahkan pantas disebut apa….? Betapa dekatnya Ahmad Surkati dengan petinggi kolonial, padahal rekan-rekannya Ahmad Dahlan, Wahid Hasyim, dll telah digelari sebagai pahlawan. Van der Plaspun kembali ke Indonesia dengan membonceng Sekutu kafir yang membumi-hanguskan negeri muslimin. Sementara Snouck yang pulang ke Belanda menjadi Menteri Koloni Belanda, ini masih diragukan kekafiran dan daya rusaknya atas Muslimin ? Bagaimana peran penting dia dalam memecah-belah Indonesia menjadi RIS dst ? (Puasa dan Kemerdekaan, 11 November 2002, Pikiran Rakyat bagian Berita Utama, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1102/11/0106.htm ).
Masih ingat dalam kenangan kita kisah pejuang Bung Tomo yang mempertahankan Soerabaja dari Sekutu yang dihasung oleh Van der Plas cs. Sayang fanatikus Irsyadi yang pernah bertempat tinggal di Surabaya menutup mata dengan fakta ini, lantaran Ahmad Surkati benar-benar dekat dengan mereka berdua, Van der Plas dan Snouck, sebagai sahabat, murid dan penjajah. Simak AMSB hal 48-49 pada url di bawah ini.
http://img144.imageshack.us/img144/3839/image0293if2.jpg
Snouck Hurgronje
Snouck Hurgronye, peletak dasar kebijakan Islam Politiek, merupakan tokoh penting peletak pembaratan/westernisasi Islam pribumi yang kini diteruskan oleh para pewarisnya di Indonesia. Snouck lahir tanggal 8 Februari 1857 di Oosterhout Belanda, merupakan anak keempat dari pasangan Pendeta JJ Snouck Hurgronje dan Anna Maria. Nama depannya diambilkan dari nama kakeknya, pendeta D Christiaan de Visser.  Pada tahun 1874 selepas dari pendidikan HBS di Breda, ia melanjutkan ke Fakultas Teologi Universitas Leiden. Tahun 1878 ia lulus kandidat sarjana muda kemudian ia meneruskan ke Fakultas Sastra Universitas Leiden. Semasa di Universitas Leiden, Snouck dibimbing oleh para tokoh aliran modernis Leiden, seperti CP Tieles, LWE Rauwenhoff, Abraham Kuenen, MJ de Goeje. (Strategi Belanda Melumpuhkan Islam”, Biografi C. Snouck Hurgronje. Penerbit Pustaka Pelajar). Lihat darah pendeta dari bapak, kakek mengalir deras di otak Snouck Hurgronje, hingga nantinya Snouck meminang putri pendeta.
Mengutip buku AMSB, biarlah fanatikus Al Irsyad ini berkisah jujur. Di halaman 18-19 ditulis :  “Maka Pemerintah di Negeri Belanda merasa perlu untuk menurunkan para spesialis kolonialisnya, para konsultan dan cendekiawannya guna melakukan berbagai penelitian dan penyelidikan lebih lanjut tentang Islam, khususnya Islam di Indonesia. Di antara sekian nama, yang paling menonjol dan dapat disebut legendaris adalah seorang sarjana: Prof. Dr. Snouck Hurgronje.” http://img144.imageshack.us/img144/8965/image0313ir2.jpg
Nah, kini pembaca telah jelas bahwa Snouck Hurgronje adalah spesialis orientalis dari kolonialis kafir Belanda.
Menurut AMSB halaman hal 20, tahun 1889 Prof. Dr. Christian Snouck Hurgonje bertugas di Indonesia sebagai penasehat di Het Kantoor von Inlandche Zaken, Penasehat Urusan Bahasa-bahasa Timur dan Hukum Islam. Tahun 1899 diangkat menjadi Penasehat Urusan Pribumi dan Arab. Ini adalah kantor pelaksana utama politik pemerintah kolonial Belanda yang dirintis Snouck. Sebelumnya kita telah mengenal Snouck bahwa orang ini adalah seorang Nasrani yang berpura-pura masuk Islam. Disini nampak jelas, tujuan ditugaskan Snouck adalah sebagai upaya pemerintah kuffar Belanda mengenal lebih jelas Islam dan muslimin sehingga mudah untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya. Iya, meminjam istilah Abu Salma maka Snouck ini termasuk “salafnya” guru besar dari agen-agen rahasia/intelijen “CIA”nya Belanda! Benar, agen rahasia kuffar ! http://img142.imageshack.us/img142/121/image0292sr0.jpg
Pada buku halaman 46-47 AMSB,  disebutkan murid-murid Surkati selain Snouck Hurgronje dan Van Der Plas yakni Sholah Al Bakri yang terkenal dengan ucapannya “Kalau matahari telah terbit dari Barat, barulah saya berpaling dari Al Irsyad.” Umar Salim Hubeish yang melahirkan murid seperti Tarmizi Taher, mantan Menag, pendukung JIL yang akhir-akhir ini hasil cetakannya yang menjiplak tulisan ustadz Abu Hamzah (tanpa ridha beliau) ternyata dikendarai oleh Kang Bilali dan Abu Salma untuk melemparkan fitnah terhadap beliau, bahwa beliau “berhubungan dengan JIL! Yang ternyata setelah dirunut nasabnya, Tarmizi Taher ini masih termasuk “cucu murid” As-Surkati!! Boomerang, wahai Abu Salma?!
http://img150.imageshack.us/img150/6564/image0294fb6.jpg
Bagi rakyat Aceh, Snouck adalah pengkhianat tanpa tanding. C. Snouck Hurgronje, seorang profesor kajian Islam di Universitas Leyden meneliti seputar muslimin Aceh pada 1894. Lantas dipaparkan “strategi benteng,” yang dibuat untuk memperlemah para gerilyawan, kemudian diterapkan rezim kolonial Belanda di Aceh. Dia bisa memetakan kekuatan politik Aceh, memetakan struktur perlawanan jihad rakyat Aceh.  Dengan kedok sebagai ilmuwan dan peneliti, memanipulasi tugas keilmuan menjadi politik. Pengamatannya menghasilkan tulisan Atjeh Verslag, berisi laporan kepada Belanda tentang alasan mengapa Aceh harus diperangi. Tak cukup dengan catatan itu, Snouck kemudian membuat buku, De Atjehers, yang memaparkan secara lengkap struktur masyarakat Aceh, kebudayaan, sampai posisi ulama.
Segera buku itu menjadi terkenal, bahkan mendapat pujian dari para orientalis sebagai karya yang secara lengkap mengupas kebudayaan Islam di Aceh. Bagi Belanda, karya itu menjadi rujukan untuk menyusun taktik menghadapi perlawanan dan jihad rakyat Aceh. Dan terbukti, Aceh pun kemudian dapat dikalahkan. Inilah prestasi gemilang strategi adu domba ala Snouck Hurgronje. (Snouck Hurgronje, Memahami Agama, Memenangkan Belanda, Suara Merdeka kolom Tokoh karya Aulia A Muhammad http://www.suaramerdeka.com/cybernews/layar/tokoh/tokoh32.html). Dan politiknya untuk menguasai Jawa adalah dengan memanjakan ulamanya, salah satunya yang tidak ragu lagi dirayu adalah guru besar A.S., Ahmad Surkati.
Dr. P. Sj. Van Koningsveld dalam bukunya Snouck Hurgronje dan Islam (Girimukti Pasaka, Jakarta, 1989) menggambarkan kemungkinan Snouck masuk Islam oleh Qadi Jeddah dengan dua orang saksi setelah Snouck pindah tinggal bersama-sama dengan Aboebakar Djajadiningrat (1989: 95-107). Dr. P. Sj. Van Koningsveld dalam bukunya Snouck Hurgronje dan Islam (Girimukti Pasaka, Jakarta, 1989) menggambarkan kemungkinan Snouck masuk Islam oleh Qadi Jeddah dengan dua orang saksi setelah Snouck pindah tinggal bersama-sama dengan Aboebakar Djajadiningrat (1989: 95-107). Van Koningsveld juga memberikan petunjuk-petunjuk yang memberikan kesan ketidaktulusan Snouck Hurgronje masuk Islam. Dia masuk Islam hanyalah untuk melancarkan tugasnya atau tujuannya yang hendak mengukuhkan kekuasaan Belanda di Indonesia, jadi bersifat politik–bukan ilmiah murni.
 Tanggal 12 Maret 1906 Snouck kembali ke negeri Belanda. Ia diangkat sebagai Guru Besar Bahasa dan Sastra Arab pada Universitas Leiden. Disamping itu ia juga mengajar para calon-calon Zending di Oestgeest. Pada tahun 1910, di Belanda, ia kawin dengan Ida Maria, putri seorang pensiunan pendeta liberal di Zutphen, Dr AJ Oort. Setelah dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Leiden pada 1907 (tiga tahun setelah kawin), ia menekuni profesi sebagai penasihat Menteri Urusan Koloni. Pekerjaan ini diemban hingga akhir hayatnya pada tahun 1936 di usianya yang ke 81 tahun.
Pembesar orientalis kafir Belanda ini sempat berangan-angan, Snouck Hurgronje berkata : “Pada zaman skeptik kita ini, sangat sedikit sekali yang di atas kritik, dan suatu hari nanti kita mungkin mengharapkan untuk mendengar bahwa Muhammad tidak pernah ada.” Harapan Hurgronje ini selanjutnya terealisasikan dalam pemikiran Klimovich, yang menulis sebuah artikel diterbitkan pada tahun 1930 dengan berjudul “Did Muhammad Exist?” Dalam artikel tersebut, Klimovich menyimpulkan bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan Muhammad adalah buatan belaka. Muhammad adalah “fiksi yang wajib” karena selalu ada asumsi “setiap agama harus mempunyai pendiri”. Sikap para orientalis seperti itu tidak bisa disederhanakan kategorisasinya menjadi orientalis klasik yang berbeda dengan orientalis kontemporer. (Melihat Wajah Barat dan ‘Copy-paste’ nya, tulisan Ghazali N.I)
Banyak sekali ucapan miring Snouck Hurgronje atas Islam, Rasulullah, yang pantas disebut ‘kafir munafik’ , dia pernah berkata : “Sistem Islam menjadi sangat kaku dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan abad baru. Hanya melalui organisasi pendidikan berskala luas dan atas dasar yang universal serta netral secara agamis, pemerintah kolonial dapat “membebaskan” atau melepaskan Muslimin dari agama mereka. Ditulis oleh Karel A. Steenbrink, 1995: 122. (Dr. Haikal, Dinamika Muhammadiyah menuju Indonesia Baru. http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/25/husainhaikal.htm)
Jelas sampai akhir hayatnya dia tetaplah penjajah Belanda, pakar westernisasi, pembaratan, orientalis, munafik yang siap merusak negeri-negeri muslimin sebagai koloninya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Snouck_Hurgronje)
Snouck inilah yang berusaha untuk merusak definisi syar’i tentang “orang kafir-penjajah Belanda” dan memberikan rekomendasi untuk menumpas jihad fi sabilillah yang dikumandangkan oleh kaum muslimin Aceh dan sekitarnya!!
“…Snouck berpendapat bahwa orang kafir adalah (a-peny) orang yang belum tahu dan (b-peny) tidak mau tahu. Orang yang belum tahu haruslah diberitahu, dididik. Dalam kelompok ini termasuk Pemerintah Kolonial Belanda itu sendiri. Orang yang tidak mau tahu haruslah dikerasi. Islam Politik, termasuk Islam Aceh, dimasukkan dalam golongan ini karena itu harus dikerasi“(ibid, hal.23).
Snouck ini pula yang merekomendasikan untuk melakukan Westernisasi  umat Islam Indonesia (rekomendasi nomor 3 dan 4, hal.22-23) dan tugas “Whiteman’s Burden-Tugas Suci Orang Barat/Neo Gospel” ini sekarang telah dilanjutkan oleh JIL dkk.
Sementara kecintaan dan loyalitas Ahmad Surkati atas Snouck Hurgronje terus menggebu-gebu sampai-sampai ingin mengunjunginya ke negeri Belanda. SAYANG SEJARAH URUNG MENJADI SAKSI karena As-Surkati keburu mendapatkan berita bahwa sahabatnya Snouck telah meninggal ! Apakah As-Surkati gembira ataukah justru terharu sedih mendengar berita kematian ini? Tentu Firanda akan menjawab: “Tentunya kita semua mengetahui jawabannya.” (Lerai…, hal.154).
Menurut buku AMSB halaman 63 menyatakan :  “Terhadap Snouck Hurgronje, Surkati menaruh simpati karena menilai bahwa Snouck ini memang pandai berbahasa Arab… Kepada Snouck, Surkati memang berkorespondensi, bahkan semula bermaksud akan mengunjunginya ke negeri Belanda yang kemudian dibatalkannya karena mendapat berita bahwa Snouck meninggal dunia tahun 1936 itu.”
http://img137.imageshack.us/img137/8769/image0311po7.jpg
Inilah petunjuk jelas secara perbuatan dhohir menunjukkan loyalitas tinggi Ahmad Surkati atas Snouck Hurgronje dan disaksikan oleh penerjemah tunggal dan asistennya, Abdullah Badjerei.
Kendati Hussein Badjerei sendiri mengakui adanya westernisasi dari Snouck Hurgronje ini, di halaman hal 75 buku AMSB  :  “Dengan bertopang kepada wawasan-budaya inilah Budi Utomo, Al Irsyad dan lain-lain bersama-sama menghadang serangan sengit westernisasi Snouck Hurgronje.”
http://img133.imageshack.us/img133/1228/image0299bz6.jpg
Koreksi ! M. Abduh bukan Muhammad Abdul Wahhab
Menurut Al Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, halaman 9 disebutkan bahwa Jamaluddin Al Afghani didukung sahabat dan pengikutnya Muhammad Abduh, keduanya menerbitkan majalah Al Urwatul Wutsqaa di Paris tahun 1884 M.

Sementara pengikut aliran Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh, mendefinisikan Wahabi di halaman 8 dari buku AMSB. http://img261.imageshack.us/img261/8453/image0288av3.jpg
Pantaslah Ahmad Surkati menolak disebut Wahabi di buku AMSB halaman 58, sebagai pengikut syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karena dia pengikut Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Rasyid Ridlo.
http://img151.imageshack.us/img151/2849/image0295ph2.jpg
Lantas di halaman 28 AMSB, Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan Ahmad Surkati bertekad bersama-sama mengembangkan pemikiran Muhammad Abduh di Indonesia.
http://img220.imageshack.us/img220/3430/image0289et0.jpg
Lantaran cintanya pada Ahmad Dahlan sesama Abduh-ers, Ahmad Surkati menyanjung bahwa Ahmad Dahlan adalah Waliyullah dalam syairnya, dikutip di buku AMSB hal 66.
Diperkuat tulisan yang dikutip Hussein Badjerei sendiri di buku AMSB, hal 108 : “Dengan demikian pula jelas sekali bahwa pembaharuan yang diajarkan Al Irsyad mempunyai arti dan pengaruh politis jangka panjang, sesuai dengan garis pokok konsepsi Muhammad ‘Abduh.”
http://img178.imageshack.us/img178/1633/image0301tr2.jpg
Di halaman hal 114 dinyatakan dengan kesepakatan penulis AMSB bahwa : “Kongres memutuskan bahwa Al Irsyad dan Muhammadiyah bukanlah Wahabi, keduanya pun tidak menyimpang dari madzhab…”  http://img261.imageshack.us/img261/1566/image0306qc4.jpg
Jelas sekali, karena Al Irsyad dengan Tafsir Al Maanar, Muhammad Abduh, Rasyid Ridlonya tidak mau dan tidak tepat disebut Wahabi, gelar yang sering dinisbahkan bagi pengikut ulama Salafi syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab oleh musuh-musuh Sunnah.
Lantas Hussein Badjerei mengisahkan di halaman 10-11 AMSB bahwa dakwah Muhammad Abduh dengan tafsir Al Manaarnya, serta Rasyid Ridlo diketahui berkembang pesat di Indonesia menurut Abdullah Badjerei.
http://img142.imageshack.us/img142/3453/image0312gr1.jpg

Keanehan Al Irsyad dan Ahmad Surkati
Selain yang telah dikutip diatas, di halaman 35 buku AMSB ditulis bahwa Ahmad Surkati mempelajari Falsafah/Filsafat dan juga menyatakan bertekad “mati di Jawa dengan berjihad, lebih suci daripada mati di Makkah tanpa jihad.”
http://img150.imageshack.us/img150/7619/image0314ia9.jpg
Pada sebuah acara bid’ah yang diyakini murid Surkati juga sebagai bid’ah, ternyata ada perlakuan aneh di acara Maulid Barzanji tersebut. Di halaman 36 buku AMSB, murid Surkati tetap duduk karena dalam acara Maulid yang dikhayalkan Rasulullah hadir sehingga perlu disambut dengan berdiri. Sementara Ahmad Surkati sendiri berdiri, dia menyalahkan muridnya yang duduk dengan berkata : “Kalau saya duduk seperti kalian pada upacara tadi pintu untuk saya berdialog dengan mereka sudah pasti tertutup.” (penuturan Abdullah Badjerei)
http://img100.imageshack.us/img100/1278/image0290ai7.jpg
Di halaman 37, Surkati sendiri berkomentar kepada Abdullah Badjerei tentang Semaun yang memperlihatkan jiwa besar dan watak kepemimpinan, Surkati : “anaa uhibbu haadza’rrajula katsiiran…”; “Saya suka sekali orang ini,… karena keyakinannya yang demikian kokoh dan jujur, bahwa dengan komunismelah tanah-airnya dapat dimerdekakan”. http://img100.imageshack.us/img100/1278/image0290ai7.jpg
Betapa anehnya Syaikh ‘Salafi’ yang satu ini (baca:As-Surkati), bukan hanya keanehan manhajnya terhadap Semaun PKI saja, tetapi juga sikapnya kepada pejabat kolonial Belanda-pun dikasih-sayangi dan dimuridkan, padahal di atas kesesatan, sementara dengan pengikut Syaikh Muhammad Abdul Wahhab yang membela Tauhid dan Sunnah disebutnya sebagai Wahabi, keras, dst.
Selain akrab dan bersahabat dengan pejabat kolonialisme Belanda, di halaman 66, anak buah Ahmad Surkati bernama Hasan Saleh Arghubi. Dia adalah Kapten Arab yang diangkat kolonial Belanda menggantikan mertuanya Umar Yusuf Manggusy pada tanggal 15 Mei 1931. Ya, dia Irsyadi menjadi pengikut Surkati sekaligus pegawai setia kafir Belanda.
Al Irsyad masa lalu dan masa sekarang, sebagaimana layaknya organisasi hizbiyyah, penuh dengan intrik, perebutan kekuasaan, perseteruan, lantas Hussein Badjerei di hal 92 mengatakan pendusta pada musuhnya :  “… surat kabar yang suka memuat berita dari sumber-sumber pendusta – min ba’dil kadzdzaabiin.”
Al Irsyad dulu dan sekarang sama saja, setali tiga uang, kita pernah menyaksikan ‘album keluarga’ di sebuah situs Al Irsyad dan direkam di majalah Info Al Irsyad yang dipegang Irsyadiyyin. Rupanya sejak dulu kala menurut AMSB di halaman 108 disebutkan : “Buku pelajaran dengan ilustrasi gambar manusia, dipakai di sekolah-sekolah Al Irsyad, yang ketika masih banyak ulama yang men-tabu-kan penggunaannya. Bahasa Belanda diberikan sebanyak 3 jam…”. http://img178.imageshack.us/img178/1633/image0301tr2.jpg
Ya, sejak dahulu kala Al Irsyad sampai sekarang menghalalkan gambar, termasuk kadernya dari PW Al Irsyad Jatim yang illegal, Cholid Bawazeer yang mengomandani perusahaan Siwak-F ternyata memproduksi Siwak-F Junior lengkap dengan ilustrasi kelinci sedang bersikat gigi dan anak buahnya Abu Salma santai saja. Simaklah kelihaian pendekar seribu satu helah ini dalam berfatwa: “Karena produk tsb adalah halal maka harus ada dalil pasti yang mengharamkannya. Adapun kemasan yg bergambar makhluk hidup, maka itu masalah lain dengan kehalalan produk” (Shilaturrahim ,fatwa no.14).
Masalah lain…yassalam!!
Pada halaman 109 disebutkan Prof. Dr. H.M. Rasjidi lulusan Al Irsyad Lawang, dia mengaku dididik langsung oleh Ahmad Surkati, diangkat olehnya sebagai asistennya salah satu sebabnya lantaran hafal buku Logika Aristoteles berjudul Matan As Sullam.
http://img178.imageshack.us/img178/1633/image0301tr2.jpg
Disini nyata bahwa Surkati menghargai Filsafat kafir Aristoteles dan yang orang yang telah menguasainya, sesuai dengan keadaan dirinya yang juga mempelajari filsafat.
Irsyadi, itu sebutannya. DI halaman 123 AMSB dikutip :  “IRSHADI, begitulah mereka menamakan golongan mereka itu…”
http://img120.imageshack.us/img120/6181/image0302jm0.jpg
Acara hizbiyyah di Al Irsyad ?  Itu landasannya. Di halaman 142 AMSB disebutkan : ”Para peserta Kongres telah dibai’at oleh Ahmad Surkati, yaitu mereka menyatakan bersedia tunduk pada segala keputusan Hoofdkwartier, baik keputusan itu berkenan di hati masing-masing maupun tidak. Hoofdkwartier terdiri dari : Ahmad Surkati sebagai Ketua, Awad Albargi sebagai Sekretaris, Abdullah Badjerei, Umar Naji dan Umar Hubeish sebagai Anggota”. http://img401.imageshack.us/img401/5871/image0303iq0.jpg
Inilah ciri khas dakwah Hizbiyyah, baiat/sumpah setia dalam keadaan melanggar syariat atau tidak.
Diperkuat di halaman 60-61 : ”Para peserta Konggres akhirnya telah dibai’at oleh Ahmad Surkati dengan menyatakan akan tunduk pada segala keputusan yang akan dikeluarkan Hoofdkwartier, baik sesuai maupun tidak sesuai dengan kehendak hati masing-masing. Hoofdkwartier terdiri dari : S. Ahmad Surkati sebagai Ketua, Awab Albarqie sebagai Sekretaris, Abdullah Badjerei, Umar Naji dan Umar Hubeish sebagai Anggota…”.
http://img151.imageshack.us/img151/9692/image0315uu2.jpg
Silakan cari takwilnya, wahai pejabat PC Al Irsyad Surabaya agar ummatmu tidak lari, jangan-jangan engkau juga sudah dibaiat oleh ketua PC Al Irsyad Surabaya, atau bahkan dengan ketua PW Al Irsyad Jatim, Chalid Bawazeer ?  Sirriyatud da’wah?
Kejanggalan lain, di saat Indonesia sedang dirundung krisis ekonomi, politik dst, di halaman 182 AMSB, diungkap bahwa pasukan Drum Band Al Irsyad turun saat Munas Generasi Muda Islam se Indonesia di Jakarta Desember 1964. Pada waktu pembukaan konferensi Islam Asia Afrika di Bandung 6 Maret 1965, pasukan Drum Band Al Irsyad kembali turun sambil menyanyikan lagu Mars Surkati yang Perkasa. Sayang sekali kami belum mendapatkan teks lagu wajib Al Irsyad ini. http://img408.imageshack.us/img408/9666/image0304ae1.jpg
Mungkin A.S. dkk mau berbaik hati kepada kita semua dan pengunjung webnya yang telah berjumlah puluhan ribu itu dengan menampilkan lirik Mars Syaikh ‘Salafi’ As-Surkati Yang Perkasa  di website kebanggaannya, sehingga seluruh  Irsyadiyyin dapat mengambil pelajaran agar dapat meniru keperkasaan Syaikh Salafinya? Mungkinkah pejabat setingkat kecamatan di Al-Irsyad (walaupun dari kubu yang telah diliarkan pemerintah Indonesia) sampai tidak tahu-menahu bahwa Syaikhnya punya Mars Surkati Yang Perkasa?
Pantas saja keterkenalan dakwah hizbiyyah Al Irsyad ini membikin reaksi di kalangan kader Al Irsyad, diungkap di halaman hal 211 AMSB :  “Kalau ditanya anak muda, ia akan menjawab bahwa Al Irsyad itu adalah “ad-drumband”.
http://img248.imageshack.us/img248/1362/image0305gw2.jpg
Untuk melihat landasan pembuatan buku AMSB ini, ada di halaman 256-257,
http://img262.imageshack.us/img262/2019/image0307rh1.jpg
halaman 258-259
http://img219.imageshack.us/img219/2143/image0308nh4.jpg
halaman 260-261
http://img220.imageshack.us/img220/2250/image0309ib1.jpg
dan halaman 262
http://img100.imageshack.us/img100/1940/image0310ql4.jpg
Jelas sudah permasalahan seputar keanehan Al Irsyad dan pemimpinnya ini.
Situs-Situs Gelap
Baiklah, kalau FAKTA adalah website gelap – meminjam tuduhan Abu Salma – artinya tidak jelas alamat surat situs tersebut dan nomor telpon pengelolanya (walaupun Abu Salma tidak mampu membantah bukti-bukti FAKTA yang langsung kami online-kan!!) maka marilah kita berhitung berapa banyak situs kegelapan yang menaungi dakwah anda:
  1. salafindo.*** remang-remang, agak gelap, profil mahad kosong, alamat email tidak ada, namun dapat dilihat di halaman depan pengumuman kebetulan menampilkan informasi tsb
  2. manhaj.**.** yang melulu berisikan pembelaan atas Ihya’at Turats, nampaknya pengelola situs LBIA tidak ingin situsnya ‘tercemar’ dengan gaya tulisan keras semacam Abu Salma, sehingga dibuatlah situs gelap – meminjam istilah Abu Salma- karena tanpa nomor telpon dan alamat surat sama sekali.
  3. almanhaj.**.** yang berisikan artikel-artikel, alamat pondok, jadual talim, tapi lupa menyebutkan jatidirinya, atau malu atau takut ditangkap dst ? Ini juga situs gelap menurut rekan anda sendiri. Saya usulkan yang disebut gelap ditambahkan, tanpa alamat email jelas.
  4. assunnah.**.** yang berisikan tulisan-tulisan yang out-of-date, ini adalah situs resmi milis assunnah yang jumlah pengikutnya ribuan tersebut, tapi sayang baik situs Assunnah dan milis Assunnah tersebut ternyata ‘gelap’, juga tidak ada nama alamat dan nomor telponnya, bahkan nama pengelolanya dan alamat email kontaknya. Jadi gelap gulita keadaannya, siapa yang masuk, bisa tercebur jurang, atau mungkin selokan karena saking gelapnya ?
  5. assunnah.****.** juga gelap bagi kita, karena di situsnya tidak tertulis informasi kontak sama sekali.
  6. jilbab.**.** juga gelap, nama-nama pengurusnya tidak nampak jelas di menu Profil
  7. fatwa-ulama.*** sangat gelap, tidak bisa diakses
  8. soal-jawab.*** juga gelap
  9. salafi.**.** juga gelap
  10. dll, masih banyak kalau kita buru, tapi 9 ini sudah mencukupi Insya Allah
Silakan wahai webmaster situs-situs gelap berbuat sama seperti Al Bilaly dan Abu Salma yang buru-buru meralat situsnya masing-masing paska diedarkannya tulisan ini, agar tuduhan berdasar FAKTA ini dibalik menjadi tuduhan DUSTA, tidak berdalil, tidak tabayyun, dst.
Biarlah situs ini disebut situs gelap – fakta.info.tm, kendati nama kontributornya jelas, alamat emailnya ada. Silakan gunakan alamat email kontak @ fakta.info.tm bila berminat, atau telpon ke nomor voicemailnya +44.700 598 2234, fax +44.700 585 0234. Apabila minat mengirimkan surat, silakan kirim ke PO BOX 39 CMG 16451 Depok.
Demikianlah “kegelapan” yang dapat saya kutipkan untuk para pembaca sekalian, tentunya kalimat keanehan, kejanggalan dan semisalnya tidaklah seperti yang ‘diramalkan’ Abu Salma, yakni untuk menghizbi-sesatkan seluruh manusia yang bergabung dalam Al Irsyad. Mengingat betapa banyak saudara-saudara kita yang tertipu dan terlena oleh “sales-sales” dakwah mereka ini, tanpa mengetahui sedikitpun akan fakta-fakta hizbiyyah yang dapat membelalakkan mata.
Sengaja tulisan ini dirilis menjawab tuduhan Abu Salma bahwa Ibrahim cs agen bermetode kuffar CIA, dst, ketahuilah saya hanyalah cleaning service serabutan, bekerja atas inisiatif sendiri, bukan suruhan, apalagi bayaran, dus apalagi piaraan makhluk manapun dari agen-agen kuffar, apalagi penjajah kafir. Silakan ummat menilai akan jelasnya berbagai ‘keanehan’ yang mudah kita temui dan sudah sebagian kita paparkan disini, mudah-mudahan umat miris dan ngeri sehingga menjauhi Al Irsyad, Ihya’ At-Turats dan kroni-kroninya. Bagaimana nanti bila kita dicap agen kuffar Belanda karena terus mengibarkan bendera atas nama Al Irsyad dan Ahmad Surkati ? Wallahu Ta’ala a’lam bish showab.
Ibrahim (Update 24/03/2007)
 Footnote :
1. “Keberadaan” seorang tokoh Islam Indonesia dari PERSIS yang bernama A.Hassan yang membantah fatwa Halalnya lotre yang dikeluarkan oleh Al-‘Allamah Irsyadiyyin As-Surkati As-Sudani sekaligus meluruskan pernyataan Syaikh Ali Hasan yang menyatakan bahwa di masa Surkati “Tidak ada pada waktu itu da’i yang menyeru manusia untuk menolak bid’ah, syirik, bahkan hadits lemah maupun palsu (selain beliau)”!! Nukilan selengkapnya: “Namun yang wajib diketahui oleh setiap yang memiliki akal dan pandangan bahwa Syaikh Surkati rhm hidup dinegeri ini 1 abad yang lalu dan pada saat itu negeri ini menjadi lahan subur bagi sufisme / tasawuf, penyembah kubur, kesyirikan, bid’ah dan kesesatan. Tidak ada pada waktu itu da’i yang menyeru manusia untuk menolak bid’ah, syirik, bahkan hadits lemah maupun palsu (selain beliau)” (Muqaddimah Daurah Ke – 5 Oleh Syaikh Ali bin Hasan, Salafindo.com)
Kalau Syaikh Ahmad As-Subaiy’i al-Kuwaiti hafidhahullah membantah sepak terjang EMAS kemaslahatan Ihya’ At-Turats sebagaimana yang digambarkan oleh Firanda dari buku induk Ihya’ (Syahadah Muhimmah) dengan menegaskan: “Kami Kuwaitiyyin lebih tahu mengenai Ihya’ At-Turats! Adapun anda?”
Maka, sesungguhnya, kamipun (Andunusiyyin!) lebih tahu tentang sejarah dakwah Islamiyyah di Indonesia! Lebih dari siapapun! Adalah wajar Syaikh Ali (dari Yordania) tergelincir melakukan kesalahan seperti ini, permasalahan yang jauh lebih besar adalah:Siapakah yang telah melakukan upaya pembusukan terhadap beliau dengan memberikan informasi-infomasi palsu dan menyesatkan seperti ini? Sungguh suatu pernyataan yang sangat berlebihan dalam menjunjung tinggi As-Sudani dan dakwahnya.



source:
http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2007/03/28/ahmad-surkati-guru-agen-cia-sekutu-dan-sahabat-misionaris-kafir-belanda/
Read More >>

KONTROVERSI MUNTAJ AT TSAQAFI NASHR HAMID ABU ZAYD

Posted in
by Unknown


Iseng-iseng weruh staytus  do ngomong soal Qur'an Produk Budaya ala Hamid Abu Zayd, dadi kelingan 3 tahun kepungkur pas lagi rame2ne gelut perkoro pendapat nashr Hamid Abu Zayd. Mugo2 tulisanku sing rodo dowo iki nambahi gayeng anggone podo gelutan.. monggo sing purun maoss...

nb:: Dr. Nur Kholis ini muridnya Hamid ABu Zayd. Buku yg kami jadikan ...bahasan di sini telah terbit pada awal 2009 lalu. Intinya memang soal penafsiran ulang atas al-Qur'an, dan karena tafsir Zayd yg kontroversial itu, nyawa Abu Zayd  sempat terancam. Sekali lagi, sejarah selalu berulang - tafsir selalu melahirkan anti-tafsir, dan bahkan kadang nyawa jadi taruhan, sejak zaman keemasan mu'tazilah sampai kini, situasi tak juga berubah. Ketika akal sudah letih dgn debat, maka kekerasan biasanya akan muncul.... . Itulah fakta sejarah peradaban Islam.

MERETAS TASIR YANG DEMOKRATIS*
 * Ulasan atas buku
"Pemikiran Progresif Dalam Kajian al-Qur'an"
karya Dr. Dr Nur Kholis Setiawan, Ph.D(2009)

By MbahKanyoetz


Ketika Samuel Huntington menulis tentang “clash of civilization,” benturan antara Islam vs. Barat, banyak sarjana Muslim menolak tesis itu. Namun, ironisnya, sebagian kalangan Islam sendiri justru “mengaktualisasikan” tesis itu, terlebih pasca serangan ke gedung WTC pada 11 September 2001. Sebagian dari umat Islam bahkan menutup pintu dialog dan lebih mengedepankan “tafsir kebencian” yang tidak dilandasi pada kaidah akademik yang kuat dan bertanggung jawab. Misalnya, belakangan ini kita dapat dengan mudah menjumpai tulisan yang bernada antipati dan kebencian, bahkan mengkafirkan, sesama Muslim, di berbagai media. Setiap orang Islam yang mengemukakan pemikiran yang mereka anggap tidak sesuai dengan interpretasi mereka sendiri, akan dengan segera dituduh sesat, atau “antek Barat,” seolah-olah segala hal yang berasal dari, atau setidaknya berbau, Barat adalah najis yang mesti ditolak. Yang lebih parah, karena mereka enggan, atau barangkali karena memang tak mampu, berdialog secara sehat, mereka tak segan menggunakan cara-cara fitnah dan kekerasan yang merendahkan martabat manusia.

Mereka yang menolak kebebasan berpikir ini barangkali lupa bahwa pemahaman mereka tentang Islam pada umumnya, dan Al-Qur’an pada khususnya, bukanlah pemahaman yang absolut kebenarannya. Tentu saja mereka boleh berpendapat, tetapi itu tidak berarti pendapat mereka adalah yang paling benar. Mengabsolutkan pendapat tentang Al-Qur’an, dan menolak pendapat yang berbeda, sama artinya dengan menempatkan pendapat (tafsir/interpretasi) manusia sebagai sesuatu yang sejajar atau identik dengan wahyu Al-Qur’an itu sendiri – dan ini tentu saja adalah sebuah arogansi atau kepongahan intelektual yang luar biasa.

Corak keagamaan yang sempit seperti ini – yang oleh Arkoun disebut ortodoksisme yang selalu menganggap penafsiran orang lain pasti salah, bid’ah atau sesat – berhubungan erat dengan stagnasi dan kemunduran umat. Islam ortodoks melahirkan dogmatisme yang bisa dijumpai di banyak bidang epistemologi, seperti tafsir, teologi, dan sebagainya. Pemikiran bebas dan progresif tidak mungkin lahir dari ortodoksi semacam ini. Oleh karena itu, sebagian pemikir yang progresif dan “liberal” berusaha merombak struktur ortodoksisme. Selama sistem ortodoks itu masih berkuasa, umat Islam akan terus berada dalam atmosfir abad pertengahan yang kurang kondusif bagi kemajuan intelektual dan peradaban.

Mengingat hal itu, di sinilah salah satu makna penting dari buku karya Dr. Nur Kholis Setiawan ini, yang membela kebebasan berpikir dan akademik yang belakangan ini agak meredup sebagai akibat dari tekanan kelompok yang radikal tersebut. Melalui studi kasus terhadap interpretasi teks al-Qur’an, Dr. Nur Kholis menunjukkan bahwa pemikiran yang bebas dan progresif sesungguhnya adalah anak kandung peradaban Islam. Beliau menjelaskan beberapa akar pemikiran progresif secara serius dan memenuhi standar metodologi keilmuan. Bagi mereka yang tidak atau belum memiliki akses langsung ke kajian karya-karya tafsir klasik dan kontemporer, buku ini amat membantu sebagai semacam jembatan penghubung.

Terlepas dari apakah seseorang mendukung atau menolak pemikiran progresif, yang jelas kajian perkembangan pemikiran Islam pada umumnya, dan kajian ilmu Al-Qur’an pada khususnya, telah menjadi sesuatu yang penting bagi revitalisasi pemikiran Islam. Salah satu sumbangan epistemologis para pemikir progresif, termasuk, Dr. Nur Kholis Setiawan, adalah pandangan “alternatifnya” terhadap tafsir Al-Qur’an yang lebih “membumi” dan relevan dengan konteks kekinian.

Salah satu problem analisis yang secara khusus amat menarik yang disajikan oleh Dr. Nur Kholis adalah pentingnya reinterpretasi atas teks Al-Qur’an dengan metode hermeneutika yang mempertimbangkan konteks penafsir dan tata-situasi di mana tafsir itu diberikan. Penulis memaparkan sejumlah pendekatan metodologis, termasuk semantik dan semiotika, kritik historis dan hermeneutika. Dalam pendekatan hermeneutika ini, teks dipandang bukan sebagai sebuah “obyek yang terberi” (given object), melainkan merupakan salah satu fase dari proses penyampaian pesan atau komunikasi. Dalam kasus Al-Qur’an, setidaknya ada dua dimensi proses penyampaian: vertikal dan horisontal. Dimensi vertikal adalah proses komunikasi antara Allah dengan Nabi Muhammad. Komunikasi vertikal ini membentuk apa yang diistilahkan oleh Nasr Abu Zayd sebagai diskursus (discourse) yang berupa ayat dan surat. “Diskursus” ini pada awalnya memiliki tata-urutan tersendiri sebelum akhirnya urutan itu “diubah” ke dalam bentuk mushaf Al-Qur’an yang disusun pada masa Khalifah Utsman.

Tetapi, jika Al-Qur’an dipahami dalam kerangka “teks” saja, maka secara tersirat ada konsep “pengarang” – yakni Allah. Hal ini berarti pula bahwa setiap penafsir harus mencari kerangka dasar yang menghubungkan variasi pemahaman mereka dalam satu kesatuan, di mana kerangka dasar itu mesti diklaim universal, yakni sebagai klaim kebenaran abadi. Tetapi ini menyebabkan Al-Qur’an akan diletakkan di bawah ideologi penafsirnya. Jadi, bagi seorang penafsir yang “horison pengetahuannya” adalah literal atau fundamentalis, maka Al-Qur’an akan menjadi teks fundamentalis yang kaku; bagi penafsir yang “horison pengetahuannya” adalah feminis, teks Al-Qur’an akan menjadi teks feminis.

Karena itu, Abu Zayd melangkah lebih jauh dengan memasukkan analisis atas dimensi horisontal Al-Qur’an, yakni penyebaran pesan Al-Qur’an oleh Nabi Muhammad kepada pengikutnya setelah beliau menerima wahyu. Dalam dimensi inilah pemaknaan terhadap teks suci itu akan dipengaruhi oleh kondisi ruang dan waktu (yakni situasi sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya). Maka, pemaknaan atas Al-Qur’an pasca Nabi selalu lahir dari dialog antara teks dengan konteks, yakni antara teks literal dengan konteks tata-situasi dan latar belakang si pemberi makna atau penafsir. Hal ini pada gilirannya menyebabkan aplikasi dari pesan teks suci selalu didasarkan pada konteks ruang dan waktu di mana pemaknaan dan penafsiran itu diberikan. Karena ruang dan waktu senantiasa berubah, maka pesan yang mesti diaplikasikan pada masa penafsiran bukanlah makna literal, melainkan makna “kontekstual” dari pesan – atau meminjam istilah Gadamer, yang diaplikasikan adalah meaningful sense dari suatu pesan, yakni substansi dari pesan literal yang bersifat kontekstual dan fleksibel. Karenanya, menurut Abu Zayd, untuk memahami dimensi horisontal ini kita perlu menggeser kerangka dari “Al-Qur’an sebagai teks” menjadi “Al-Qur’an sebagai diskursus (discourse).” Itu berarti bahwa tafsir Al-Qur’an pada dasarnya adalah hasil dari dialog antara penafsir beserta “horison pengetahuannya” (latar kultural, sosial, politik, pengetahuan, dan sebagainya) dengan “horison” teks suci itu sendiri.

Mempertemukan Dua Horison

Dalam diskursus filsafat, kajian dialog antara teks dengan si penafsir ini akan membawa kita pada dua kajian yang amat penting: Analisis atas seluk-beluk linguistik/bahasa dengan segala pernak-perniknya dan, tentu saja, analisis epistemologis. Fakta bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bentuk “bahasa”, yang dalam hal ini adalah bahasa Arab, membuat kita semestinya sadar bahwa teks (bahasa) adalah sebentuk “kode” atau “saluran” yang memperantarai pesan kebenaran tertinggi (wahyu) kepada manusia yang berada di dunia empiris. Dari sini tampak ada sebentuk “kesenjangan epistemologis” yang menjadi perhatian para ulama dan tokoh-tokoh pemikiran dan filsafat agama. Wahyu (Al-Qur’an), yang diklaim sebagai berasal dari Allah Yang Maha Segalanya, tentunya memuat makna kebenaran yang tiada batas; dengan kata lain, Al-Qur’an mengandung makna transenden sekaligus imanen. Persoalannya adalah bagaimana akal-budi manusia yang serba terbatas ini bisa memahami makna dari pesan Ilahiah yang tak terbatas ini? Secara epistemologis, adalah absurd jika kita menggunakan kaidah epistemologis yang dipakai manusia (yang selalu beresiko memuat kesalahan) untuk memahami sebuah pesan abadi yang “latar horisonnya” adalah transenden atau ilahiah. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak punya peluang untuk mendapatkan pemahaman itu. Di sinilah peran bahasa Al-Qur’an sebagai “kode” atau “saluran” yang membuat kita memiliki akses ke makna di balik teks-teks tersirat. Teks Qur’an, sebagai sebuah pengetahuan, tentu memiliki bentuk atau struktur tertentu dan juga konteks yang menjadi “kerangka duniawi” bagi “pesan ilahiah” tersebut. Jadi, bahasa Qur’an dan dunia (alam dan manusia) dapat dipahami dari segi konstituennya (unsur-unsur penyusunnya) dan dari segi mikrostrukturnya. Karenanya, struktur bahasa Al-Qur’an, yang paling tidak dalam aspek lahiriahnya adalah bagian dari “bahasa manusia,” pasti mencerminkan atau menggambarkan struktur esensial dari dunia. Kalimat adalah representasi dari suatu keadaan atau pengetahuan tertentu.

Tetapi makna bukan hanya tergantung pada realitas empiris. Objek bukan hanya makna literal dari pesan atau tanda, tetapi lebih merupakan perluasan dari makna. Seperti dijelaskan dalam buku ini, ada beberapa kata yang mengacu pada obyek tertentu yang memiliki makna yang meluas. Misalnya, kata “kuffar,” tidak hanya berarti “menutupi,” tetapi juga bisa berarti “ingkar” atau “petani.” Dalam hal ini bahasa memiliki banyak fungsi. Kata adalah seperti perangkat atau alat yang kita gunakan untuk berbagai tujuan yang berbeda dalam beragam konteks yang berlainan. Bahasa bukan sekedar untuk merepresentasikan atau mendeskripsikan, tetapi juga untuk memberi perintah, mengajukan pertanyaan, mengejek, memuji, dan sebagainya. Jadi, makna suatu kata akan tergantung pada konteks penggunaannya, konteks tujuan dari penggunaannya, dan konteks dari si pengguna kata itu. Jadi pemahaman kita atas makna teks wahyu tidak bisa dilepaskan dari aktivitas dan perilaku penafsir atau pengguna bahasa itu sendiri, yang mencerminkan dan menjelaskan apa-apa yang dipahaminya. Kemudian, karena individu yang menafsirkan makna (atau memahami) teks dalam kenyataannya berada dalam konteks ruang dan waktu tertentu, maka sejarah tafsir, jika dilihat secara keseluruhan, adalah sebentuk “produk sosial-budaya” (Al-muntaj ats-staqafi).

Berdasarkan konsep al-muntaj ats-tsaqafi ini dapat dikatakan bahwa makna hanya dapat dicerap atau diinterpretasikan dan direinterpretasikan dalam situasi tertentu. Itu berarti bahwa tafsir seseorang atas suatu teks, dalam dirinya sendiri, tidak mengandung “struktur” objektif. Kemampuan seseorang dalam menafsirkan jelas dipengaruhi oleh “horison” yang dibawanya, yang berarti selalu ada unsur subyektivitas yang mungkin lolos dari jaring objektivitas. Dalam bahasa yang lebih teknis, sebuah tanda boleh jadi menunjukkan sesuatu yang berbeda dari yang mungkin dipahami oleh si penafsir. Atau, boleh dikatakan bahwa apa yang dipahami oleh si penafsir belum tentu sama dan sebangun dengan pemahaman dari si “Pengarang” teks wahyu. Jadinya, ada jejaring asosiasi (penisbahan) tanda (teks) pada suatu makna yang berasal dari berbagai konteks periode dan lokasi geografis yang sampai kini masih terus “beredar” dan sebagian menyelinap dalam bangunan tafsir yang berbeda-beda.
Itu berarti bahwa apa yang dipahami oleh si penafsir pada masa tertentu hanya dapat diinterpretasikan secara relatif akurat oleh orang itu sendiri pada waktu tertentu itu. Namun interpretasi tafsir atau pemahaman ini tidak bisa diklaim sebagai satu-satunya tafsir yang paling otoritatif dan karenanya tidak ada tafsir yang paling obyektif atau paling benar secara ontologis. “Lenyapnya” makna obyektif mempengaruhi setiap konsep yang kita pahami dan juga berpengaruh signifikan terhadap konsep kita tentang teks dan tentang makna religiusitas. Lapisan-lapisan subyektivitas yang melarutkan obyektivitas ini tentu saja adalah sebuah keniscayaan historis. Jadinya, sejarah tafsir dan interpretasi atas Al-Qur’an adalah sejarah dialog pemikiran dan pengkajian, baik pada level filosofis maupun praktis.

Tetapi sejarah tafsir dan pemikiran dalam Islam itu sendiri tidak selalu berjalan mulus dan lancar.
Seperti digambarkan oleh Dr. Nur Kholis dalam buku ini, ada masa-masa di mana terjadi benturan-benturan pemikiran, dan bahkan sampai kasus kekerasan atas nama tafsir. Namun benturan itu tidak selamanya bersifat negatif. Dapat dikatakan bahwa dalam sejarah pemikiran Islam terdapat diskontinuitas radikal yang membuat arus gagasan lama menjadi tak bisa dipertahankan. Tafsir-tafsir awal, terutama selama Rasulullah masih hidup, lebih banyak didasarkan pada asumsi dan keyakinan yang relatif homogen. Namun dalam perkembangannya, heterogenitas pun terjadi lantaran pertemuan umat Islam dengan kebudayaan-kebudayaan di luar Islam yang telah berkembang sejak lama, seperti Persia, Yunani hingga ke India dan Indonesia. Namun karena kecepatan perubahan konteks sosial dan budaya, terutama sejak awal abad 19, sulit diimbangi dengan pengkajian akademik yang memadai, maka ada masa-masa ketika tafsir-tafsir klasik dianggap kurang relevan dengan situasi terbaru. Namun, untungnya, pada titik di mana khazanah tafsir lama belum mencakup problem kontemporer, dan karena ada kebuntuan kajian intelektual, muncullah semacam revolusi intelektual dalam dunia tafsir yang berakar pada situasi riil di dalam kerangka sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan. Terjadi semacam pergeseran “paradigma” tafsir yang cukup signifikan setelah kaidah ilmiah dan sains berkembang demikian pesatnya, seperti yang akan dipaparkan dalam buku ini.

Demikianlah, fakta-fakta historis dan berbagai gagasan tafsir dan pemikiran tentang Al-Qur’an yang dipaparkan dengan apik oleh Dr Nur Kholis dalam buku ini dengan jelas menunjukkan perkembangan dan kekayaan pemikiran Islam yang terus maju dan dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Para ahli tafsir sejak masa Islam klasik hingga kontemporer telah menyuguhkan tafsir atau hermeneutika yang demokratis dan terbuka untuk dikritisi dan diperdebatkan secara intelektual dan akademik.

Bersikap demokratis dan terbuka dalam memahami teks suci adalah keniscayaan, sebab ini berhubungan dengan makna hidup kita sebagai umat Islam. Meminjam ungkapan Abu Zayd (2006), “Jika kita serius ingin membebaskan pemikiran religius dari manipulasi kekuasaan, entah itu kekuasaan politik, sosial, ekonomi atau kepentingan pribadi lainnya, maka kita perlu menyusun hermeneutika yang demokratis.” Lantas mengapa mesti “demokratis”? Sebab, dalam atmosfir yang demokratis sajalah ada kemungkinan untuk berdialog, bertukar pengetahuan dan pengalaman, serta mengungkap kesalahan dan mengoreksinya.

Tri Wibowo BS / Mbah Kanyut al-Jawi
Read More >>

SYAIKH SUBAKIR, ANGGOTA WALI SONGO PERIODE KE-1, AHLI EKOLOGI ISLAM

Posted in
by Unknown
Oleh: Anggota WLML






Oleh: KH.Shohibul Faroji Al-Robbani

Ketika Syaikh Subakir sampai di tanah Jawa, beliau bergelar Aji Saka. Beliau lahir di Persia, Iran. Memiliki spesialisasi di bidang Ekologi Islam. Beliau adalah cicit dari sahabat Nabi Muhammad saw, yaitu Salman Al-Farisi. Kemudian beliau menjadi utusan dari Sultan Muhammad 1, sebagai salah satu dari anggota Wali Songo periode 1.

Nasab lengkap beliau adalah Syaikh Subakir bin Abdulloh bin Aly bin Ahmad bin Aly bin Ahmad bin Abdulloh bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Aly bin Abubakar bin Salman bin Hasyim bin Ahmad bin Badrudin bin Barkatulloh bin Syafiq bin Badrudin bin Omar bin Aly bin Salman Alfarisiy

Syaikh Subakir berdakwah di daerah Magelang Jawa Tengah, dan menjadikan Gunung Tidar sebagai Pesantrennya.

Syaikh Subakir memiliki keahlian di bidang Ekologi Islam. Artinya, Syaikh Subakir sangat perduli terhadap lingkungan, dan fenomena-fenomena alam semesta. Para ahli sejarah babad Tanah Jawa melakukan kesalahan yang sangat mendasar dan merusak Aqidah dan Syariat Islam, yaitu menyebut Syaikh Subakir sebagai ahli memasang tumbal untuk mengusir roh-roh jahat. Kesalahan sejarah terhadap Syaikh Subakir ini akhirnya melegenda, dan menjadi cerita yang penuh dengan mitos, takhayyul dan khurafat.

Siapakah Syaikh Subakir yang sebenarnya? Syaikh Subakir adalah ahli ekologi Islam. Pemerhati lingkungan dan alam semesta. Sebagai pakar dalam bidang ekologi, beliau banyak sekali membaca fenomena-fenomena alam terutama bidang Mountainologi, yaitu ilmu tentang Gunung Berapi. Kalau dalam sains modern, beliaulah ahli Meteorologi dan Geofisika.

Karena pemahaman awam yang belum sampai kepada sains moder, seperti ilmu ekologi, meteorologi dan geofisika ini, maka setiap Syaikh Subakir mengadakan penelitian intensif di beberapa Gunung Berapi. Mereka orang awam berasumsi bahwa Syaikh Subakir sedang memasang tumbal atau jimat. Akhirnya opini masyarakat awam ini menyebar dari mulut satu ke mulut yang lain. Dan oleh dukun-dukun atau paranormal, cerita tersebut dibumbui dengan takhayyul dan khurafat.

Melihat kenyataan masyarakat yang awam tersebut, Syaikh Subakir berulang kali menerangkan kepada masyarakat, bahwa dirinya adalah peneliti lingkungan, dan mentadabburi alam semesta, agar kita bertambah takwa dan mensyukuri nikmat ini kepada Allah SWT. Namun sekali lagi kefanatikan masyarakat awam ini terhadap Syaikh Subakir membuat legenda yang dibumbui cerita-cerita yang mengarah kepada perbuatan syirik.
Akhirnya, untuk melepaskan kefanatikan masyarakat umum terhadap Syaikh Subakir ini dan untuk menjaga Aqidah umat Islam. Maka pada tahun 1462 Masehi, Syaikh Subakir pulang ke Persia, Iran. Agar kefanatikan tersebut runtuh, dan masyarakat awam kembali kepada tauhid yang benar.
Dan selanjutnya posisi Syaikh Subakir digantikan oleh muridnya yang juga ahli di bidang Ekologi, Meteorologi dan Geofisika, serta ahli pertanian dan arsitek masjid yaitu Sunan Kalijaga.

Syaikh Subakir meninggal di Persia Iran. Sedangkan yang ada di Indonesia dan diziarahi oleh masyarakat adalah situs-situs peninggalannya.

Ada beberapa karya Syaikh Subakir yang bergelar Aji Saka, yaitu:
1. Beliau adalah penemu Huruf Jawa, yang berbunyi: HA NA CA RA KA, DA TA SA WA LA, PA DHA JA YA NYA, MA GA BA THA NGO
2. Beliau pula yang memberi nama Jawa, yang diambil dari bahasa Suryani artinya Tanah Yang Subur.

Pelajaran dari Kisah Syaikh Subakir adalah:
1. Kita harus memperkuat Aqidah Islam kita,
2. Jangan mudah percaya pada takhayyul, bid’ah dan khurafat, yang dibungkus oleh cerita yang tidak jelas sumbernya,
3. Jangan mudah terjerumus pada mistik yang menghancurkan sendi-sendi aqidah Islam,
4. Pahami bahwa Syaikh Subakir adalah manusia biasa, hamba Allah, seorang waliyullah yang berdakwah untuk menyiarkan Islam, amar ma’ruf, Nahi Munkar
5. Pahami bahwa Syaikh Subakir adalah tokoh yang sangat memperdulikan lingkungan, dan kelestarian alam, dan bukan memasang tumbal atau jimat.
6. Jangan percaya kepada tumbal atau jimat, karena hal ini adalah Syirik. Cerita tentang tumbal, jimat atau perang melawan jin yang dihubungkan kepada Syaikh Subakir adalah kebohongan yang besar.
7. Jagalah kemurnian aqidah Islam kita, Syari’at Islam kita dan akhlak Islam kita. Agar kita senantiasa mendapat Ridha dari Allah SWT.

Semoga kisah ini dapat meluruskan legenda Syaikh Subakir yang terlanjur salah dipahami.
Read More >>

SEPUTAR ACRA UYA MEMANG KUYA

Posted in
by Unknown

Di Post Oleh: Anggota WLML

Berikut hasil keputusan Bahtsul Masail XXII Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se-Jawa Madura, terkait tentang Hipnotis ala Uya Memang Kuya....
Kita tampilkan utuh plus referensi aslinya. Biar gak salah faham, en simpang siur berita..

HIPNOTIS ALA UYA MEMANG KUYA
Deskripsi Masalah
... Di sebuah stasiun televisi (TV) ada sebuah tayangan  acara yang berjudul Uya Memang Kuya. Dalam acara tersebut seseorang yang telah setuju untuk dihipnotis disuruh menatap bandul sebuah lingkaran, kapas yang dibakar dan sebagainya. Kemudian seketika itu matanya terpejam seperti orang yang tertidur. Dalam keadaan itu orang  tadi dilontari berbagai macam pertanyaan baik yang berkaitan dengan pribadi maupun orang lain yang ia ketahui tanpa menyembunyikan suatu rahasia apapun. Anehnya ia akan menjawab pertanyaan dengan sejujur-jujurnya tanpa menghiraukan apakah yang dibicarakan ada di sampingnya atau tidak. Singkat kata, orang tersebut tunduk patuh terhadap perintah penghipnotis.
Proses hipnotis dalam Uya Memang Kuya di samping mendapat izin dari pihak yang dihipnotis juag sebelum tayang telah diperlihatkan dan disensor oleh yang dihipnotis sendiri mana yang ditayangkan dan tidak.
Pertanyaan
a.    Bagaimana hukum hipnotis dalam perspektif fiqih?
b.    Bagaimana hukum menyetujui untuk dihipnotis dan hukum merelakan apa yang terjadi untuk ditayangkan?
c.    Bolehkah menggunakan sarana hipnotis untuk menguak sebuah kasus kriminal dan bagaimana konsekuensi hukumnya?
PP. AL-FITHRAH Kedinding Surabaya & Panitia

Jawaban
  1. Hukum hipnotis dipilah sebagai berikut :
-       Apabila menggunakan perantara yang dilegalkan syariat, seperti hipnotis modern yang mengakibatkan dampak seperti tidur, maka hukumnya diperbolehkan.
-       Apabila menggunakan perantara cara-cara yang diharamkan seperti sihir, maka hukumnya haram.
Referensi
1.      At-Tasyri’ al-Jina’i juz, 1 hal. 477
2.      Hasyiyah al-Jamal Juz, 7 Hal. 6
3.      Hasyiyah Syabromalisi ‘ala an-Nihayah, juz 6 hal. 441
4.      Al-Mausu’ah al-‘Arobiyyah al-‘Alamiyyah hal. 5

1.     التشريع الجنائي في الإسلام الجزء الاول صــ 477
التنويم المغناطيسي: هو حالة من حالات النوم الصناعي يقع فيها شخص بتأثير يصبح النائم تحت تأثير المنوم يفعل كل ما يأمره بفعله سواء وقت النوم أو بعد اليقظة، وينفذ النائم عادة هذه الأوامر بشكل آلي فلا يشعر بما فعل تلبية للأمر الصادر إليه إذا أتى الفعل أثناء النوم، ولا يستطيع مقاومة إيحاء الآمر إذا أتى الفعل بعد اليقظة. ولم يعرف بعد بصفة قاطعة الكيفية التي يسيطر بها المنوم على النائم وإن كان البعض الأطباء يرى أن النائم يستطيع أن يقاوم الإيحاء الإجرامي.وإذا طبقنا قواعد الشريعة على هذه الحالة وجب أن نلحقها بحالة النوم الطبيعي، ومن ثم يكون النائم مكرهاً ويرتفع عنه العقاب للإكراه إذا ارتكب جريمة من الجرائم التي يرفع فيها الإكراه العقاب. والواقع أنه يصعب إلحاق التنويم المغناطيسي بالجنون؛ لأن النوم الصناعي الذي يقع فيه النائم لا يسلبه الإدراك وإنما يسلبه فقط الاختيار.وآراء أغلب شراح القوانين تتفق مع الشريعة في اعتبار التنويم المغناطيسي إكراهاً وإن كانوا يتكلمون عنه عادة بمناسبة الكلام على الجنون.هذا هو حكم التنويم المغناطيسي إذا كان النائم قد نام مرغماً أو قبل أن ينام وهو لا يفكر في ارتكاب الجريمة، أما إذا كان النائم يعلم أن المنوم يقصد من تنويمه أن يوحي إليه بارتكاب جريمة أو يشجعه على ارتكابها ثم قبل أن ينام فإن النائم في هذه الحالة يعتبر متعمداً ارتكاب الجريمة، وما كان التنويم إلا وسيلة من وسائل التي تساعده على ارتكابها، فهو مسئول عن فعله طبقاً لقواعد المسئولية العامة، وفي هذا تتفق الشريعة الإسلامية مع القوانين الوضعية تمام الاتفاق.
2.     حاشية الجمل الجزء السابع  صــ 6
( قوله : فلا يصح من غير مكلف ) شمل النائم وظاهره وإن عصى بالنوم وهو ظاهر إن كانت المعصية لأمر خارج كأن نام بعد دخول وقت الصلاة ولم يغلب على ظنه استيقاظ قبل خروج الوقت أما لو استعمل ما يجلب النوم بحيث تقضي العادة بأن أكله يوجب النوم ففيه نظر وقد يقال يفرق بين هذا وبين استعمال الدواء المزيل للعقل بأن العقل من الكليات الخمس التي يجب حفظها في سائر الملل بخلاف النوم ، فإنه قد يطلب استعمال ما يحصله لما فيه من راحة البدن في الجملة ا هـ ع ش على م ر
3.     نهاية المحتاج  مع حا شية ع ش- الجزء 6  صــ 441
( فصل ) في بعض شروط الصيغة ( قوله : لقصدهما ) أي اللفظ والمعنى ( قوله مر بلسان نائم ) ظاهره وإن عصى بالنوم وهو ظاهر إن كانت المعصية لأمر خارج كأن نام بعد دخول وقت الصلاة ولم يغلب على ظنه استيقاظه قبل خروج الوقت ، أما لو استعمل ما يجلب النوم بحيث تقضي العادة بأن مثله يوجب النوم ففيه نظر ، وقد يقال يفرق بين هذا وبين استعمال الدواء المزيل للعقل بأن العقل من الكليات التي يجب حفظها في سائر الملل ، بخلاف النوم فإنه قد يطلب استعمال ما يحصله لما فيه من راحة البدن في الجملة ، وهو قضية عدم تقييد النوم في كلامه بعدم المعصية
4.     الموسوعة العربية العالمية صــ 5
ساعدت وسائل التنويم المغنطيسي الحديثة العلماء على زيادة فهمهم لعقل الإنسان وجسمه، والتمييز بين السلوك العادي والسلوك الشاذ. ويستخدم التنويم اليوم في الأبحاث، والطب، ولا سيما الجراحة، وطب الأسنان، والعلاج النفسي. انظر: العلاج النفسي. ويستخدم أحيانًا في القضايا القانونية. وكان التنويم المغنطيسي موضوعًا للبحث وأداة له في دراسات كثيرة، وصيغت اختبارات لقياس تجربة الشخص التنويمية، وأجريت بحوث حول قابلية الناس للتنويم، دلت على أن تنويم الأطفال أسهل عادة من تنويم الكبار، وأنه من الممكن تنويم الذكور والإناث على السواء - إلى أن قال - لا خطر في التنويم المغنطيسي إلا إذا أسيء استعماله. لذا لا يجوز لغير المتخصص المؤهل ممارسته. وبإمكان كثير من الناس تعلم التنويم، لكن هذه المهارة لن تغني عن التدريب في علم النفس والطب، ويحتاج ممارسو التنويم إلى ما يكفي من العلم والخبرة قبل أن يصبحوا أهلاً لتحليل حالة ما، والتأكد من صلاحية التنويم لعلاجها، وتقييم النتائج.يعجز الشخص المفتقر إلى التدريب عن مواجهة المضاعفات التي قد تتأتى عن سوء استعمال التنويم.

  1. Hukum menyetujui untuk dihipnotis dan merelakan apa yang terjadi untuk ditayangkan adalah haram, apabila saat seseorang terhipnotis melakukan hal-hal yang diharamkan, seperti menceritakan kemaksiatan dan ifsya`ussirri (membuka rahasia) yang dipertontonkan sebagai hiburan.

Referensi
1.      Al-Mantsur fi al-Qowa’id, juz 2 hal. 168
2.      Al-Adzkar & Futuhat ar-Robbaniyah, Juz 7 Hal. 77-78
3.      Faidlul Qodir, juz 5, hal. 15 dan 16
4.      Al-Mausu’ah al-‘Arobiyyah al-‘Alamiyyah hal. 5
5.      Ihya` al-‘Ulum ad-Din, juz 3, hal. 132
6.      Mauidzoh al-Mu`minin, juz 1, hal. 293
7.      Fath al-Bari, juz 11, hal. 80
8.      Al-fatawa al-haditsiyyah, juz 1, hal. 103


1.     المنثور في القواعد الجزء الثاني 2 صــ 168
 الرضا بالشيء رضا بما يتولد منه .
2.     الأذكار مع الفتوحات الربانية الجزء السابع صــ 77- 78
"فصل" يكره للإنسان إذا ابتلي بمعصية أو نحوها أن يخبر غيره بذلك بل ينبغي أن يتوب إلى الله تعالى فيقلع عنها في الحال ويندم على ما فعل ويعزم أن لا يعود إلى مثلها أبدا فهذه الثلاثة هي أركان التوبة  لا تصح إلا باجتماعها فإن أخبر بمعصيته شيخه أو شبهه ممن يرجو بإخباره أن يعلمه مخرجا من معصيته أو ليعلمه ما يسلم به من الوقوع في مثلها أو يعرفه السبب الذي أوقعه فيها أو يدعو له أو نحو ذلك فلا بأس به بل هو حسن وإنما يكره إذا انتفت هذه المصلحة
(قوله ونحوها) الظاهر ان مراده بها ما يعد هتكا للمروءة كذكر جماع الحليلة من غير تفاصيله والا كان كبيرة (قوله أن يخبر غيره بذلك)اي اذا لم يكن على وجه التفكه والتذكر لحلاوتها والا فيحرم لانه يبعث على العودة اليها (قوله فإن أخبر بمعصيته شيخه ) هذا هو الصحيح واطلاق السيوطي كراهة الاخبار بالمعصية ليس في محله كما قال ابن حجر في التنبيه.
3.     فيض القدير شرح الجامع الصغير جـــ 5 صــ 16
 قال النووي : فيكره لمن ابتلي بمعصية أن يخبر غيره بها بل يقلع ويندم ويعزم أن لا يعود فإن أخبر بها شيخه أو نحوه مما يرجو بإخباره أن يعلمه مخرجا منها أو ما يسلم به من الوقوع في مثلها أو يعرفه السبب الذي أوقعه فيها أو يدعو له أو نحو ذلك فهو حسن وإنما يكره لانتفاء المصلحة وقال الغزالي : الكشف المذموم إذا وقع على وجه المجاهرة والاستهزاء لا على السؤال والاستفتاء بدليل خبر من واقع امراته في رمضان فجاء فأخبر المصطفى ﷺ فلم ينكر عليه.
4.     فيض القدير شرح الجامع الصغير جـــ 5 صــ 15
6278 - (كل أمتي معافى إلا المجاهرين) أي لكن المجاهرين بالمعاصي لا يعافون من جاهر بكذا بمعنى جهر به وعبر بفاعل للمبالغة أو هو على ظاهر المفاعلة والمراد الذي يجاهر بعضهم بعضا بالتحدث بالمعاصي وجعل منه ابن جماعة إفشاء ما يكون بين الزوجين من المباح ويؤيده الخبر المشهور في الوعيد عليه (وإن من الجهار) أي الإظهار والإذاعة (أن يعمل الرجل بالليل عملا) مسيئا (ثم يصبح) أي يدخل في الصباح (وقد ستره الله فيقول عملت البارحة) هي أقرب ليلة مضت من وقت القول من برح زال (كذا وكذا وقد بات يستره ربه ويصبح يكشف ستر الله عنه) بإشهار ذنبه في الملأ وذلك خيانة منه على ستر الله الذي أسدله عليه وتحريك لرغبة الشر فيمن أسمعه أو أشهده فهما جنايتان انضمتا إلى جنايته فتغلظت به فإن انضاف إلى ذلك الترغيب للغير فيه والحمل عليه صارت جناية رابعة وتفاحش الأمر.
5.     إحياء علوم الدين جـــ 3  صــ 132
الآفة الثانية عشر إفشاء السر وهو منهي عنه لما فيه من الإيذاء والتهاون بحق المعارف والأصدقاء قال النبي ﷺ إذا حدث الرجل ثم التفت فهي أمانة وقال مطلقا الحديث بينكم أمانة وقال الحسن إن من الخيانة أن تحدث بسر أخيك.
6.     موعظة المؤمنين من إحياء علوم الدين الجزء الأول صــ 293
الآفة الثانية عشرة إفشاء السر وهو منهي عنه لما فيه من الإيذاء والتهاون بحق المعارف والأصدقاء قال النبي ﷺ إذا حدث الرجل الحديث ثم التفت فهي أمانة وعنه الحديث بينكم أمانة فافشاء السر خيانة وهو حرام إذا كان فيه إضرار ولؤم إن لم يكن فيه إضرار
7.     فتح الباري - ابن حجر الجزء الحادي العشرة صــ 80
 ( قوله باب من ناجى بين يدي الناس ولم يخبر بسر صاحبه فإذا مات أخبر به ) ذكر فيه حديث عائشة في قصة فاطمة رضي الله عنهما إذ بكت لما سارها النبي ﷺ ثم ضحكت لما سارها ثانيا فسألتها عن ذلك فقالت ما كنت لأفشي وفيه أنها أخبرت بذلك بعد موته وقد تقدم شرحه في المناقب وفي الوفاة النبوية قال بن بطال مساررة الواحد مع الواحد بحضرة الجماعة جائز لأن المعنى الذي يخاف من ترك الواحد لا يخاف من ترك الجماعة قلت وسيأتي إيضاح هذا بعد باب قال وفيه أنه لا ينبغي إفشاء السر إذا كانت فيه مضرة على المسر لأن فاطمة لو أخبرتهن لحزن لذلك حزنا شديدا وكذا لو أخبرتهن أنها سيدة نساء المؤمنين لعظم ذلك عليهن واشتد حزنهن فلما أمنت من ذلك بعد موتهن أخبرت به قلت أما الشق الأول فحق العبارة أن يقول فيه جواز إفشاء السر إذا زال ما يترتب على افشائه من المضرة لأن الأصل في السر الكتمان والا فما فائدته
8.     الفتاوى الحديثية لابن حجر الهيتمي الجزء الأول صــ 103
وأما المسألة الثانية والعشرون : فهي كذلك في ( الأذكار ) لكن بقيد حذفه الجلال . وحاصل عبارة ( الأذكار ) : يكره لمن ابتلى بمعصية أو نحوها أن يخبر غيره بها إلا نحو شيخه ممن يرجو بإخباره أنْ يعلمه مخرجاً منها ، أو من مثلها أو سببها أو يدعو له أو نحو ذلك ، فلا بأس به بل هو حسن ، وإنما يكره إذا انتفت هذه المصلحة روى الشيخان أنه ( صلى الله عليه وسلم ) قال : ( كل أمتي معافى إلا المجاهرين ، وإن من المجاهرة أن يعمل الرجل بالليل عملاً ثم يصبح وقد ستر الله تعالى عليه فيقول : يا فلان عملت البارحة كذا وكذا وقد بات يستره ربه وهو يصبح يكشف ستر الله عنه ) انتهى ، فأفاد أن محل الكراهة إذا انتفت تلك المصلحة فكان يتعين على الجلال أن يقول : وأن يحدث بما عمله من المعاصي إلا لمصلحة ، وفاته أيضاً قول ( الأذكار ) أو نحوها ، المفيدة أن نحو المعاصي مثلها فيما ذكر ، والظاهر أن مراده بنحوها كل ما تقتضي العادة كتمه ويعد أهلها ذكره خرماً للمروءة كجماع الحليلة ونحوها من غير ذكر تفاصيله ، وإلا حرم بل هو كبيرة لورود الشرع بالوعيد الشديد فيه ، وفاتهما أعني الجلال والنووي أن محل الكراهة إذا لم يتحدث بالمعصية على جهة التفكه بها واستحلاء ذكرها وإلا حرم عليه .

  1. Boleh, dan hanya bisa digunakan untuk wasilah mencari bukti-bukti awal dalam penelusuran kasus. Bahkan menurut madzhab Maliki bisa digunakan untuk mencari qorinah yang mengantarkan kuatnya dugaan sebagai alat penetapan hukum.
Catatan:
Rumusan di atas adalah dalam pernyataan selain iqror. Sedangkan mengenai iqror, sementara belum disepakati musyawirin.
Referensi
1.      Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 276-277
2.      Ath-Thuruq al-Hukmiyyah, hal. 97-100
3.      Thoro`iq al-Hukmi fi asy-Syari’ah, hal. 352
4.      Al-Ahkam as-Sulthoniyyah, hal. 219-220
5.      Al-Fiqh al-Islamiy, juz 8, hal.6127-6128
6.      Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, juz 4, hal. 95-96
7.      Qurrotul ‘Ain, Juz 7 Hal. 317-318

1.     بغية المسترشدين صــ 276-277
 (مسألة ك) لا يحتج بقوائم القسامة الممهورة بمهر القاضى حيث لم تشهد بما فيها بينة بل لا يجوز العمل بها لنفس كاتبها أو شاهد أو قاض إذا لم يتذكر الواقعة بتفصيلها وبه يعلم أن فائدة كتابة نحو الحجج والقوائم والتمسكات إنما هو لتكون سببا لتذكر ما فيها بالتفصيل حتى يجوز الحكم والشهادة عليه لا غير اهـ وعبارة س ليس للقاضى أن يقبل الشهادة أو يحكم بمجرد خط من غير بينة مطلقا عن التفصيل بكونه خطه أو خط موثوق به أم لا احتياطا للحكم الذى فيه إلزام الخصم مع احتمال التزوير هذا مذهب الشافعى الذى عليه جمهور أصحابه ولنا وجه أنه يجوز للحاكم إذا رأى خطه بشىء أن يعتمده إذا وثق بخطه ولم تداخله ريبة وأشار الإصطخري إلى قبول الخط من حاكم إلى حاكم آخر من غير بينة وقال ابن أبي ليلى وأبي يوسف يجوز أن يحكم بخطه إذا عرف صحته وإن لم يتذكر  قال الماوردي وهو عرف القضاة عندنا ولا بأس بترجيح الوجه القائل باعتماد  خطه إذا كان محفوظا عنده  ولم تداخله ريبة ومثل خطه على هذا الوجه خط غيره لأن المدار على كونه ظن ذلك ظنا قويا مؤكدا فمتى وجد أنيط الحكم به من غير فرق  بين خطه وخط غيره ومذهب الحنابلة جواز الشهادة بخطه إذا وثق به وإن لم يتذكر الواقعة وحكى عن الحسن وسوار القاضى وعبد الله العنبرى أن للقاضى إذا كان يعرف خط الكاتب وختمه له أن يقبله وحكاه فى المهذب عن أبى ثور والإصطخرى وأبى يوسف وإحدى الروايتين عن مالك وقال فى الخادم وقد عمت البلوى بالحكم بصحة الخط من غير ذكر تفاصليه فإن كان عن تقليد لمذهب الشافعى فممنوع إهـ وسبيل الاحتياط لا يخفى اهـ  وعبارة ي لا يجوز لحاكم أن يحكم بمجرد الخط وإن جوزنا الحلف عليه بشرطه كما عليه الشيخان ورجحه المتأخرون إذ ليس ذلك بحجة شرعية إذ القاضي لا يحكم إلا حيث يشهد والأصل في الشهادة إعتماد اليقين أو الظن القوي القريب من العلم المشار إليه بالظن المؤكد بخلاف الحلف يكتفى فيه بمجرد الظن على المعتمد والفرق أن بابهما أضيق من باب الحلف وخطرهما أعظم مع قوله عليه الصلاة والسلام "على مثلها يعني الشمس فاشهد" فعلم بذلك أن القاضي والشاهد لو رأى خطه وفيه حكمه أو شهادته لا يجوز له أن يحكم أو يشهد معتمدا عليه وإن كان محفوظا عنده حفظا تاما مقطوعا بأنه لا يمكن تزويره أو شيء منه بل وإن قطع بذلك حتى يتذكر الواقعة لضعف دلالته ومثل خطه خط غيره المجرد عن القرائن المفيدة للعلم أو الظن القريب  وما نقل عن الإمام مالك من جواز الشهادة والحكم بالخط فشاذ بل قد ثبت رجوعه عنه نعم مر فى الصوم عن با جمل جواز اعتماد خط الحاكم الثقة الذى لا يعرف تهوره فى قبول شهادة الفاسق قال وهو الذى انشرح به الصدر بالمصادقة وعليه العمل لانتفاء التهمة اهـ
2.     الطرق الحكمية صــ 97 - 100
وأما الجمهور -كمالك وأحمد وأبى حنيفة- فإنهم نظروا الى القرائن الظاهرة والظن الغالب الملتحق بالقطع فى اختصاص كل واحد منها بما يصلح له ورأوا أن الدعوى تترجح بما هو دون ذلك بكثير كاليد والبراءة والنكول واليمين المردودة والشاهد واليمين والرجل والمرأتين فيثير ذلك ظنا تترجح به الدعوى ومعلوم أن الظن الحاصل ههنا أقوى بمراتب كثيرة من الظن الحاصل بتلك الأشياء وهذا مما لايمكن جحده ودفعه -إلى أن قال- وجعل الصحابة الحبل علامة وآية على الزنا فحدوا به المرأة وان لم تقر ولو لم يشهد عليها أربعة بل جعلوا الحبل أصدق من الشهادة وجعلوا رائحة الخمر وقيأه لها آية وعلامة على شربها بمنزلة الإقرار والشاهدين -إلى أن قال- وهذا فى الشريعة أكثر من أن يحصر وتستوفى شواهده فمن أهدر الأمارات والعلامات فى الشرع بالكلية فقد عطل كثيرا من الأحكام وضيع كثيرا من الحقوق
3.     طرائق الحكم في الشريعة الإسلامية للدكتور سعيد بن درويش صــ 352
المبحث السادس حكم القاضي في القرائن الحديثة وفي العصر الحديث أمكن بواسطة العلم اكتشاف وسائل وأجهزة متنوعة ومتعددة يتوصل بها إلى بيان الحقيقة وكشف الجريمة إلى حد ما وسماها بعض الباحثين بالقرائن الحديثة وسأذكر أهم ما اطلعت عليه منها بإيجاز مع بيان رأي الشريعة الإسلامية في العمل بها في باب الإثبات 1 البصمات هي خطوط في أطراف الأصابع وفي باطن اليدين على أشكال عدة تتميز بها بصمة شخص عن الآخر إذ من الثابت إستحالة تشابه وتطابق بصمتين لشخصين في العالم حتى في التوأمين –إلى أن قال– وعليه فإن البصمات وسائل العلمية استعملتها الأجهزة الأمنية في كشف المجرمين وغير ذلك وأثبتت التجارب صحة نتائجها وقد درج الناس على العمل بها في الإقرارات والمعاملات والعقود وما إلى ذلك مما تكون مفيدة فيه فإذا تبين للقاضي أن هذه البصمة أصبع لشخص معين اعتمدها في الحكم إذا كان من قد أجراها عدلا وعلى القاضي حين اعتماده في الحكم على البصمة أن يحترس من الاحتمالات التي من شأنها القدح في العمل بالبصمة كالتزوير وما أشبه ذلك والله أعلم
4.     أحكام السلطانية صــ 219-220
والثالث أن للأمير أن يجعل حبس المتهوم للكشف والاستبراء واختلف في مدة حبسه لذلك فذكر عبد الله الزبيري من أصحاب الشافعي أن حبسه للاستبراء والكشف مقدر بشهر واحد لا يتجاوزه وقال غيره بل ليس بمقدر وهو موقوف على رأي الإمام واجتهاده وهذا أشبه وليس للقضاة أن يحبسوا أحدا إلا بحق وجب والرابع أن يجوز للأمير مع قوة التهمة أن يضرب المتهوم ضرب التعزير لا ضرب الحد ليأخذه بالصدق عن حاله فيما قرف به واتهم فإن أقر وهو مضروب اعتبرت حاله فيما ضرب عليه فإن ضرب لم يكن لإقراره تحت الضرب حكم وإن ضرب ليصدق عن حالة وأقر تحت الضرب قطع ضربه واستعيد إقراره فإذا أعاده كان مأخوذا بالإقرار الثاني دون الأول فإن اقتصر على الإقرار الأول ولم يستعده لم يضيق عليه أن يعمل بالإقرار الأول وإن كرهناه –إلى أن قال- والسادس أنه يجوز للأمير إحلاف المتهوم استبراء لحاله وتغليظا عليه في الكشف عن أمره في التهمة بحقوق الله تعالى وحقوق الآدميين ولا يضيق عليه أن يجعله بالطلاق والعتاق والصدقة كالإيمان بالله في البيعة السلطانية وليس للقضاة إحلاف أحد على غير حق ولا أن يجاوز الإيمان بالله إلى الطلاق أو العتق
5.     الفقه الإسلامي الجزء الثامن صــ 6127-6128
تعريف القرينة القرينة لغة هي العلامة الدالة على شيء مطلوب واصطلاحا هي كل أمارة ظاهرة تقارن شيئا خفيا فتدل عليه يفهم من هذا التعريف أنه لا بد في القرينة من أمرين أن يوجد أمر ظاهر معروف يصلح أساسا للاعتماد عليه أن توجد صلة مؤثرة بين الأمر الظاهر والأمر الخفي - إلى أن قال – أما إذا كانت القرينة غير قطعية ولكنها ظنية أغلبية كالقرائن العرفية أو المستنبطة من وقائع الدعوى وتصرفات الأطراف المتخاصمين فإنها تعد دليلا مرجحا لجانب أحد الخصوم متى اقتنع بها القاضي ولم يوجد دليل سواها أو لم يثبت خلافها بطريق أقوى ولا يحكم عند جمهور الفقهاء بهذه القرائن في الحدود لأنها تدرأ بالشبهات ولا في القصاص إلا في القسامة للاحتياط في موضوع الدماء وإزهاق النفوس ويحكم بها في نطاق المعاملات المالية والأحوال الشخصية عند عدم وجود بينة في إثبات الحقوق الناشئة عنها
6.     الموسوعة الفقهية الجزء الرابع عشر صــ 95-96
التعزير بالتهمة: 14 - لا خلاف بين الفقهاء في أن الحدود لا تقام بالتهمة أما التعزير بالتهمة فقد ذهب الحنفية والمالكية إلى أن للقاضي أو الوالي تعزير المتهم إذا قامت قرينة على أنه ارتكب محظورا ولم يكتمل نصاب الحجة أو استفاض عنه أنه يعيث في الأرض فسادا وقالوا: إن المتهم بذلك إن كان معروفا بالبر والتقوى فلا يجوز تعزيره بل يعزر متهمه وإن كان مجهول الحال فيحبس حتى ينكشف أمره إن كان معروفا بالفجور فيعزر بالضرب حتى يقر أو بالحبس وقالوا: وهو الذي يسع الناس وعليه العمل قال ابن قيم الجوزية: إذا كان المتهم معروفا بالفجور كالسرقة وقطع الطريق والقتل ونحو ذلك فإذا جاز حبس المجهول فحبس هذا أولى قال شيخنا ابن تيمية: وما علمت أحدا من الأئمة أي: أئمة المسلمين يقول: إن المدعى عليه في جميع هذه الدعاوى يحلف ويرسل بلا حبس ولا غيره فليس هذا على إطلاقه مذهبا لأحد من الأئمة الأربعة ولا غيرهم من الأئمة ومن زعم أن هذا على إطلاقه وعمومه هو الشرع فقد غلط غلطا فاحشا مخالفا لنصوص رسول الله صلى الله عليه وسلم ولإجماع الأمة وقال الحنفية: يكفي لقيام التهمة إن كان مجهول الحال شهادة مستورين أو عدل واحد أما إذا كان مشهورا بالفساد فيكفي فيه علم القاضي .
7.     قرة العين صـ 317-318 المالكية
 (ما قولكم) دام فضلكم فيمن أتهم بتهمة قتل أو سرقة أو ضرب ولم يثبت عليه شيئ من ذلك على المنهح الشرعي بل وجد قرائن وأحوال ظنية توجب الشبهة عليه فهل والحال ما ذكر للحاكم الشرعي تعزيره بما يراه من حبس أو ضرب بالسوط زاجرا له أم لا أفتونا مأجورين حال كون ذلك معزيا إلى مأخده من كتب المذهب ولكم الثواب من الملك الوهاب (الجواب) نعم له ذلك إعتمادا على القرائن والأحوال الموجبة للتهمة ففي كتاب التبصرة للعلامة ابن فرحون في فصل بيان عمل الطوائف الأربعة بالحكم بالقرائن والأمارات قال ابن العربي على الناظر أن يلحظ الأمارات إذا تعارضت فما ترجح منها قضى بجانب الترجيح وهو قوة التهمة ولا خلاف في الحكم بها وقد جاء العمل بها في مسائل إتفقت عليها الطوائف الأربعة وبعضها قال بها المالكية خاصة ثم أخد بعدد شواهد ذلك من المسائل -- الى أن قال -- السابعة والعشرين إعتبار اللوث والإعتماد عليه في الإقدام على القسامة والأخذ بالقود وقال والخامس والثلاثون وجوب إقامة الحد على المرأة اذا ظهر بها حمل ولم يكن لها زوج وكذلك الأمة اذا لم يكن لها زوج ولا سيد معترف بأنه وطئها والسادسة والثلاثون وجوب الحد على من وجدت منه رائحة الخمر أوقائها
Read More >>

(Berbagai versi/edisi)

Posted in Jumat, 01 April 2011
by Unknown

 
Rahmalove Sayba

 
Edisi wajar
Ya Tuhan, kalau dia jodohku dekatkanlah, kalau bukan
Jodohku, jauhkanlah...

Edisi Pak Tarno
Ya Tuhan, kalau dia jodohku dekatkanlah, kalau bukan
Jodohku, tolong dibantu ya.. ! Bimsalabim jadi apa...Prok...Prok...Prok... B)

Edisi ngotot
Ya Tuhan, kalau dia jodohku dekatkanlah, kalau bukan jodohku, tolong dicek lagi.. Mungkin salah baca...:/

Edisi Bang Haji Rhoma Irama
Ya Tuhan, kalau dia jodohku dekatkanlah, kalau bukan jodohku, TER...LA...LU (:|

Edisi penipu
Ya Tuhan, kalau dia jodohku dekatkanlah, kalau bukan jodohku, tolong isi pulsa mama...!>:)

Edisi nawar
Ya Tuhan, kalau dia jodohku dekatkanlah, kalau bukan jodohku, temannya manis juga...;)

Edisi Bondan ft Fade2Black
Ya Tuhan, kalau dia jodohku dekatkanlah, kalau bukan jodohku, ya sudahlah...>:/

Edisi sendal
Ya Tuhan, kalau dia jodohku, lindungilah dia.. Jangan sampe dia tertukar atau hilang....({})

Edisi OVJ SULE
Ya Tuhan, kalau dia jodohku dekatkanlah, kalau bukan jodohku, Oo Tiidak Bisa !! <:p

Edisi Bang Napi
Ya Tuhan, kalau dia jodohku dekatkanlah, kalau bukan jodohku, waspadalah... waspadalah...8-|

Edisi mematikan
Ya Tuhan kl dia jodohku, dekatkanlah
Kl dia bukan jodohku, terimalah dia disisiMu >:)
Read More >>

AJI MUMPUNG

Posted in
by Unknown
 Oleh: Anggota WLML Pocongedan Ratausikatan
 
Slamet masuk ke toko obat dan membeli sebiji kondom. Dengan riang dia

bilang kepada pemilik toko bahwa sebentar lagi dia akan makan malam di

rumah pacarnya. "Bapak kan tahu sendiri, biasanya setelah itu kan ada

kelanjutannya", katanya sambil menyeringai.

Kondom pun berpindah tangan.



Baru beberapa langkah ke luar toko, dia kembali masuk. "Saya minta satu

lagi", katanya. "Adik pacar saya juga cantik. Agak genit pula.

Saya rasa dia juga naksir saya. Siapa tahu malam ini saya mujur...".

Kondom kedua berpindah tangan.



Slamet kembali masuk dan minta tambahan satu kondom lagi. "Begini,

ibunya juga tak kalah seksi. Penampilannya jauh lebih muda dari usianya. Dan

kalau duduk di depan saya, dia selalu menyilangkan kaki. Saya yakin dia

juga tak keberatan kalau saya dekati...".



Dengan berbekal tiga kondom, Slamet datang ke rumah pacarnya sambil tak

putus bersiul. Sajian sudah siap. Pacar Slamet, adik dan ibunya sudah

menunggu. Slamet pun langsung bergabung. Mereka menunggu sang ayah.



Begitu sang ayah masuk ke ruang makan, Slamet langsung memimpin doa

sambil menunduk dalam-dalam. Yang lain-lain ikut menundukkan kepala.



Satu menit berlalu. Slamet makin khusuk berdoa. Dua menit. Slamet terus

komat-kamit -- cukup panjang untuk sebuah doa sebelum makan.



Pada menit keempat, pacarnya menyenggol kakinya dan berbisik, "Saya

baru tahu kamu ternyata sangat religius".



Sambil terus menunduk, Slamet menjawab dengan suara hampir menangis:

"Saya juga baru tahu ayah kamu ternyata pemilik toko obat...."
 
Read More >>

Akibat Orang tua pelit

Posted in
by Unknown
Rahmalove Sayba




Seorang bapak yang sangat-sangat pelit diajak anak tersayangnya untuk naik heli. Awalnya si bapak tidak setuju karena harus bayar tapi karena sayang dengan anaknya ia-pun setuju.

Setelah sampai di tempat heli, si pilot bilang : “Naik bayar U$ 100, kalau anda bicara diatas nanti didenda U$ 500 tapi kalau anda tidak bicara sepatah katapun akan saya kasih U$ 1000.”

Setelah setuju dgn perjanjian tsb, heli diterbangkan oleh pilot dengan cara manuver dan jungkir balik diatas. Setelah sampai mendarat si pilot bilang ke Bapak pelit tadi : “Wah anda hebat, tidak bicara sepatah katapun”

Si bapak bilang : “Sebenarnya saya mau bicara tadi, tapi takut didenda.” “Anda mau bilang apa?” kata si pilot.

“Anak saya jatuh.”
Read More >>

Hidangan Populer Warkop Pusat

Copyright 2011 @ Warkop Mbah Lalar