Ketika Setan Menganggur

Posted in Jumat, 06 Mei 2011
by Mbah Kanyut

Ketika Setan Menganggur
Cerpen Tri Wibowo BS / Mbah Kanyut

Iblis, maharaja setan dan penguasa kegelapan itu, duduk dengan masygul di singgasananya yang megah dan berukuran raksasa. Ia bertopang dagu dengan tangan kirinya, bersandar di singgasana yang terbuat dari permata bening yang dihiasi dengan manik-manik intan berwarna-wani. Tiap-tiap warnanya bersinar tajam, tapi dingin, memancar ke depan. Di atas singgasananya adalah kubah biru langit yang berasap merah. Di tengahnya terdapat bola sebesar matahari, dan sorot cahanya mengelilingi singgasana. Di bawahnya adalah air yang bening seperti kristal yang mengalir tiada henti. Air itu berasap, tapi bukan karena mendidih. Singgasana Iblis melayang di atasnya. Sementara itu tangan kanannya memegang tongkat kekaisarannya yang terbuat dari batu zafir. Sudah ratusan tahun sang raja duduk diam saja; matanya kosong dan mukanya beku. Rambutnya yang panjang terurai sedang disisiri oleh dayang-dayangnya. Tampak kelam kulit sang maharaja, menandakan hatinya sedang gelisah. Semua yang hadir diam. Suasana istana itu demikian sunyi, tak satupun berani mengangkat suara. Para patih dan punggawa kerajaan duduk bersimpuh di balairung istana yang seluas bumi itu, menunggu kebisuan ini cair. Sementara itu diluar istana, para setan yang bukan dari golongan bangsawan istana duduk menganggur saja di jalan-jalan; berbaring di rumahnya, atau tertidur di kamar masing-masing membekap pasangan mereka; ada yang bercinta; tapi ada juga yang tak peduli pada situasi, keluyuran kesana kemari bersiul-siul. Satu hal yang jelas, semuanya tidak bekerja, menganggur! Penantian lama itu akhirnya berakhir sudah. Tiba-tiba maharaja Iblis bergumam, pelan, tapi terdengar sampai ke seluruh pelosok balairung yang seluas bumi itu.

“Kita harus berbuat sesuatu..”

“Apa itu paduka mulia? Haruskah kita mendemo Tuhan yang, menurut hemat hamba, membuat keadaan jadi begini?” tanya setan panglima.

“Kita tak akan mendemo Tuhan. Aku tahu betul sifat-sifat-Nya; dan lagipula aku masih mencintai-Nya. Dulu aku menginginkan penyatuan dengan-Nya, tapi Dia menginginkan perpisahan. Dia tugaskan aku untuk menyesatkan manusia. Jadi demikianlah tugas kita. Kejahatan adalah sumber rezeki kita yang dianugerahkan Tuhan kepada kita hingga kita makmur begini. Jadi Tuhan tak keliru dalam persoalan kita sekarang ini.”

“Lalu bagaimana?” tanya seorang petinggi istana. Tapi mendadak maharaja diam. Maka para punggawa dan pembesar istana iblis itu pun terpaksa menyimpan rasa penasaran mereka kembali. Setelah sewindu diam merenung, maharaja mulai berbicara lagi:

“Kalian tahu, kerajaan kita semakin miskin dan diambang keterpurukan. Lapangan kerja kita diserobot orang. Mereka yang seharusnya menjadi obyek kerja kita kini mengambil alih tugas-tugas kita. Lihatlah di luar, banyak rakyat kita tak punya kegiatan lagi.”

Memang demikianlah keadaannya. Semakin tua usia bumi semakin susut lapangan kerja buat para setan. Para manusia sudah pintar mengerjakan tugas-tugas setan, sehingga tak perlu lagi mereka dihasut-hasut atau digoda dan disesatkan. Manusia sudah otonom dan canggih dalam mengerjakan pekerjaan setan. Kini hanya setan-setan ahli saja yang masih mampu bekerja di era persaingan yang semakin ketat. Persaingan kerja? Ya, dikalangan setan sudah lama muncul persaingan mendapatkan pekerjaan karena semakin terbatasnya lapangan kerja. Jumlah manusia baik-baik yang dipanggil oleh Tuhan semakin banyak, sementara manusia baik-baik penggantinya semakin sedikit. Jadi di sini berlaku juga hukum ekonomi. Terlalu banyak pasokan tenaga kerja, tapi lapangan kerja susut. Maka terjadilah seleksi. Para setan yang lulus tes seleksi penempatan sajalah yang mendapatkan tugas. Tim penyeleksi ini adalah Komite Seleksi Penempatan Setan yang dipimpin oleh wakil maharaja Iblis, yang tak lain adalah anaknya yang pertama.
“Maka dari itu,” Maharaja meneruskan bicaranya, “kita harus berbuat sesuatu terhadap manusia ini, sesuatu yang radikal!” Dan balairung itu kini tiba-tiba seperti menjadi sarang tawon. Semuanya saling berbicara satu sama lain menanggapi ucapan maharaja ini. Terjadi beberapa debat kusir di antara mereka sendiri. Lalu tampillah tokoh setan yang dihormati. Namanya Azazil, anak maharaja, meski sesungguhnya ini adalah nama lain dari maharaja. Tetapi maharaja iblis berkenan memberikan namanya untuk dipakai anaknya lantaran ia terkenal karena keluasan wawasan dan pandangan dan kecerdasannya. Dia berdiri lalu menepukkan kedua tangannya, memberi isyarat agar para hadirin diam. Suara tepukannya bergema hingga ke seantero kerajaan Iblis yang seluas bumi itu. Pelan-pelan dengungan suara itu buyar lalu hening sama sekali. Angin dingin pun berhembus ketika dia berjalan ke depan maharaja. Setelah memberi hormat, ia membalikkan badannya, menghadap para hadirin, juga memberi salam. Lalu kembali membalikkan badannya menghadap baginda Iblis.

“Yang mulia. Kita menghadapi keadaan genting. Diperlukan rencana masak-masak sebelum bertindak. Bertindak itu mudah, tapi bukan itu tujuannya. Tujuan kita adalah mendapatkan hak kita kembali, hak untuk menanamkan inisiatif atau memprovokasi kejahatan. Dan pekerjaan kita itu kini sudah tak dibutuhkan lagi oleh manusia. Mereka sudah kreatif dan inovatif; tak perlu lagi bisikan jahat kita. Pertanyaannya adalah kenapa bisa jadi begini?” Terdengar gumaman beberapa setan, lalu sepi lagi.

“Teruskan,” kata maharaja, dingin.

“Ini adalah kesalahan kita sendiri…” katanya pelan tapi tegas dengan memberi tekanan pada suku katanya satu per satu. Kembali balairung yang seluas bumi itu ribut. Maharaja mengangkat tangannya, dan para hadirin pun kembali tenang.

“Tolong jelaskan,” titah maharaja.

“Jadi saya ulangi, ini adalah kesalahan kita. Kita terlalu bernafsu untuk menyesatkan cucu Adam, agar mereka menemani kita di kerak neraka Jahanam. Sejak anak-anak Adam lahir dari rahim ibunya, kita meletakkan telur-telur kita di hati mereka. Dan anak-anak kita tumbuh dewasa bersama orang yang dia tempati. Kita didik anak-anak kita soal kejahatan dan cara-cara menyesatkan manusia melalui teknologi kita, yang kini dibajak manusia. Tapi kita lupa memperhitungkan efeknya. Teknologi ini mudah disadap. Ajaran-ajaran kita ternyata disadap oleh orang-orang jahat didikan kita terdahulu. Lalu mereka menuliskannya menjadi isme-isme atau ideologi mereka sendiri. Akibatnya apa? Ajaran kita tak lagi istimewa karena tak ada lagi misteri di sana. Coba maharaja bandingkan dengan ajaran kitab-kitab suci yang ada. Semuanya mengandung misteri sehingga manusia terus-menerus mencari mutiara kandungannya dan patuh kepadanya namun tetap tak berhasil menguasai kandungan ajarannya secara total. Tapi ajaran kejahatan kita sudah mereka kuasai substansi dan intinya. Kita terlalu vulgar dalam menyampaikan ajaran kita. Akibatnya mereka bisa mengembangkan sendiri bentuk-bentuk kejahatan atas dasar prinsip itu. Mereka ternyata lebih kreatif ketimbang kita.”

“Interupsi Yang Mulia!” teriak salah satu pejabat setan, yang telinganya sebesar gunung.

“Silahkan”

“Saya kira kesalahan kita tak separah yang dikatakan tuan Azazil. Saya tak sepakat bahwa anak-anak Adam lebih kreatif daripada kita. Bagaimanapun juga kitalah yang mengajari mereka kejahatan. Kitalah yang pertama kali mengajari Habil dan Qabil membunuh. Jadi golongan setan jauh lebih unggul daripada manusia. Maka soal kreativitas kita tak kalah karena kita adalah, katakanlah, pihak penemu. Jadi…” Tapi belum sempat dia melanjutkan, ada setan lain, berkepala gundul, menyela: “Ah, kau itu hanya mengulang-ulang retorika lama! Tuan Azazil betul. Buktinya, kita bahkan terkejut melihat cara manusia berbuat kejahatan. Teknik kejahatan mereka tak pernah kita bayangkan!”

“Kau tolol!” sergah setan yang berbicara tadi.

“Jika pola pikir kita demikian, itu artinya kita minder. Kita ini makhluk yang terkenal karena kesombongan kita. Sungguh memalukan jika kita mengakui keunggulan manusia. Untuk apa dulu maharaja menolak sujud pada Adam kalau sekarang kita mengakui keunggulan manusia!” Maka ramailah balairung yang seluas bumi itu. Ada hadirin yang tampaknya menyetujui pendapat setan bertelinga sebesar gunung ini. Tapi ada juga yang berpandangan pro setan gundul. Lalu ada beberapa setan berdiri ke depan untuk mengemukakan protesnya dan mengajukan pendapatnya. Tapi dia dihalang-halangi oleh setan yang menentangnya, yang juga bermaksud sama. Maka terjadilah aksi saling dorong dan pukul. Terdengarlah ramai seruan-seruan:

“Kita bukan budak manusia! Hancurkan manusia! Hidup Setan Sombong!” Maharaja hanya diam memandang saja. Ia sedang berpikir keras rupanya. Azazil angkat bicara:

“Tenang saudara sekalian, Tak usah kita ribut dan norak begini. Jika kalian merasa lebih tinggi dari manusia, mengapa kalian malah meniru-niru cara manusia dalam bedebat?” Para setan yang congkak itu tersadar, dan rupanya merasa malu karena mereka ikut-ikutan cara manusia yang mereka anggap lebih rendah statusnya itu. Prinsip kesombongan membuat mereka akur kembali. Azazil melanjutkan, “Kedua pandangan itu betul. Tapi kita lupa satu hal. Kalian kan tahu alasan Tuhan menyuruh kita sujud kepadanya. Mari kita ingat kembali; alasannya adalah karena Adam diajari Tuhan dan lebih sempurna daripada kita. Tapi, maaf baginda Iblis, ketika itu Yang Mulia tak mau kan, karena kita dari api dan tentunya lebih unggul. Tapi kini Tuhan telah memperlihatkan kepada kita bahwa keputusan-Nya untuk menyuruh kita sujud kepada Adam adalah benar dan sah!” Kalimat terakhir ini diucapkannya dengan intonasi keras dan tegas.

“Pertanggungjawabkan ucapanmu!” teriak setan berkepala tiga yang berada di baris ketiga dari depan. Ia adalah anggota Tim Seleksi dan tampaknya marah betul mendengar perkataan Azazil.

“Kau menghujat baginda! Itu sama saja kau menganggap baginda maharaja bodoh! Pengkhianat, Pancung saja dia!” teriak anak Iblis lainnya, yang sejak tadi diam. Dia ini sudah lama membencinya karena dia tak mampu menandingi kecerdasan Azazil. Namanya adalah Batilun.

“Kita punya semboyan yang diucapkan oleh baginda maharaja sejak masa azali yakni: Aku lebih baik daripadanya! Dan ini bahkan sudah dicantumkan dalam kitab suci oleh Tuhan sebagai tanda identitas kita, ideologi kita, falsafah dasar kita. Kalau kita mengakui keunggulan Adam, berarti kita mengkhianati prinsip ini. Kita tak lagi menjadi setan kalau begitu caranya!” Maka ramailah lagi balairung yang seluas bumi itu. Kini perdebatan itu tak lagi membahas nasib rakyat setan yang sudah lama menganggur. Perdebatan itu kini berbelok ke soal ideologi dan autentisitas diri golongan setan. Ini memang soal krusial, sama krusialnya dengan persoalan pengangguran, sebab ini menyangkut eksistensi. Tapi maharaja masih diam membisu, hanya sekali-kali dia mengusap dahinya dan memutar-mutar tongkatnya. Asap dari bawah singgasananya semakin banyak, meski tak sampai menutupi kemegahan singgasananya.

“Baik, aku akan jelaskan.” Sergah Azazil, yang tampaknya mulai mendongkol karena disebut pengkhianat.

“Api memang lebih unggul daripada tanah. Tapi kita lupa dalam hal lain ia jauh lebih hebat. Ia mempunyai akal yang membuat dirinya demikian kreatif, sehingga mampu menyerap ajaran kejahatan kita demikian sempurnanya lalu mengembangkannya. Jika manusia jadi jahat, kejahatannya bisa jadi luar biasa hingga lebih dahsyat dari pada kita. Jika dia jadi baik, kebaikannya demikian dahsyatnya hingga dia melampaui malaikat. Potensi sampai ke titik ekstrim inilah yang membuat manusia jadi lebih unggul daripada kita. Ini bukan berarti saya mengatakan baginda tidak tahu akan hal ini saat dulu disuruh sujud.”

Batilun membalas: “Tapi bagaimanapun juga eksistensi kita tetap lebih unggul. Eksistensi adalah segala-galanya. Apalah artinya kecerdasan dan potensi-potensi jika tak ada eksistensi yang merealisasikannya. Kalau kita tidak ditakdirkan hanya memanggul satu tugas, yakni menyeru pada kejahatan saja, aku yakin kita akan jauh lebih dahsyat ketimbang manusia. Bukankah baginda dulu adalah pemimpin para malaikat? Itu artinya kita juga punya kemungkinan untuk menjadi lebih tinggi daripada malaikat Nah, sekarang apa kita mau mengubah takdir kita? Bagaimana kalau kita mengganti sendiri peran kita. Bagaimana kalau kita ramai-ramai beribadah lagi seperti dulu, seperti ketika Adam belum diciptakan? Abaikan saja Adam! Bisakah kita?”

“Tidak bisa!” hampir serempak para setan menjawab. Suaranya demikian gemuruh sampai terdengar ke kerajaan malaikat. Para malaikat yang sedang beribadah sempat terkejut. Tetapi mereka lalu tenggelam lagi dalam tugas-tugasnya. Kelakuan setan dari dulu memang aneh-aneh, jadi tak perlu diperhatikan, begitu pikir mereka.

“Nah, kalau begitu, kembali pada persoalan pengangguran, kita tak perlu minder. Kita hanya perlu merubah strategi kita.” tukas Batilun bersemangat.

“Sama saja,” bantah Azazil, mulai panas, merasa tersaingi.

“Strategi apapun sudah kita jalankan, tapi tetap saja kreativitas kejahatan manusia sulit kita tandingi.”

“Ah, kau hanya malas berpikir saja,” ejek Batilun.

“Hm, kalau begitu coba jelaskan strategimu kalau kau pintar!” kata Azazil, mukanya merah.

“Lho bukankah itu yang akan kita bahas? Kau tahu, kau sendiri malah melemahkan semangat kita semua dengan ucapanmu di awal pertemuan ini. Nah, aku disini bicara untuk mengembalikan semangat kita!” Batilun berkata, wajahnya tampak pongah, merasa di atas angin.

“Hei, aku tak melemahkan semangat! Aku memberi pertimbangan dan …” Belum selesai Azazil berkata, maharaja Iblis mendehem dan mengangkat tangannya.

“Cukup!” suaranya dingin dan tegas. Kini balairung seluas bumi itu mulai tenang kembali. Mereka menunggu apa yang akan dikatakan maharaja.

“Kita memang keliru. Kita tak memperhitungkan kecerdasan manusia. Tapi Batilun juga benar. Kita perlu strategi baru. Dari perdebatan tadi ada satu persoalan yang akan kita jadikan titik masuk. Soal orang jahat yang makin banyak dan makin lihai dan licik. Mereka ini sudah terlalu banyak dan sebagian besar memegang kekuasaan politik dan ekonomi. Karena merekalah ajaran dan teknik kejahatan menjadi canggih. Jadi, yang harus kita lakukan adalah membantai dan membasmi begundal-begundal tengik itu.”
Gemparlah seisi balairung yang seluas bumi itu. Ini rencana luar biasa aneh! Raja kembali melanjutkan ucapannya: “Kita stop dulu menggoda orang-orang baik. Kita tumbuh suburkan orang-orang baik dan suci, sumber lapangan kerja kita. Nah, jika pentolan orang jahat sudah kita binasakan sampai ke akar-akarnya, langkah selanjutnya adalah membuat orang melupakan ajaran kejahatan dengan cara mempropagandakan kebaikan. Telur-telur kita jangan ditetaskan di dalam hati manusia, tapi di hati hewan-hewan saja. Kita didik anak cucu kita. Kelak jika orang baik tambah banyak dan kejahatan surut, baru kita bergerak mengambil kembali apa yang menjadi hak kita, yaitu kejahatan. Ini tak akan memakan waktu lama jika pentolan orang jahat segera kita bantai.”

“Yang mulia, bagaimana kita mesti membantainya? Apakah kita langsung saja turun tangan?” tanya panglima setan yang bermata tiga belas.

“Rasanya memang begitu.” Gegerlah seluruh balairung seluas bumi itu. Ini adalah keputusan radikal. Rencana gila! Setan turun tangan langsung membantai orang-orang jahat? Gagasan macam apa pula ini. Tapi keputusan sudah ditetapkan. Pengumuman di pasang di mana-mana. Para setan bersiaga penuh. Mereka yang sudah lama menganggur tanpa ragu mendukung rencana ini. Bermilyar-milyar setan siap dengan senjata di tangan, berbaris menunggu di gerbang antar dimensi yang menuju ke dunia manusia. Keadaan ditetapkan siaga perang. Baru kali ini Iblis memerangi kejahatan demi menegakkan kejahatan. Sungguh Iblis telah dipermalukan manusia. karena tak lagi superior dalam kejahatan. Manusia sudah menyainginya, dan bahkan sudah mulai mengungguli mereka.! Suasana alam menjadi gelap gulita. Awan hitam berarak, petir menyambar-nyambar, angin menderu-deru membawa hawa kematian. Darah-darah pembantaian sejak Habil dan Qabil dikumpulkan para setan dalam sebuah belanga yang besarnya menyamai langit dan bumi. Darah-darah manusia itu dimasak lalu diminumkan pada para setan. Kerajaan setan bergetar dahsyat, angin membadai dan petir mengguntur, asap berkepul tebal, terompet perang berdengung, debu-debu berhamburan, tanah merekah, langit terbelah, ketika maharaja, dengan pakaian perangnya yang mengerikan, berjalan di depan rakyatnya. Sorot matanya berkobar seperti api. Hawa panas berhembus mengiringi langkahnya. Langit dan bumi terkejut, dan gemetar.

Malaikat terperangah! Ada apa gerangan? Kenapa maharaja Iblis mengenakan baju perangnya? Apakah setan-setan itu hendak menyerbu kerajaan malaikat? Mereka tak tahu. Jibril bertanya-tanya, lalu terbang menemui Tuhan. Sementara itu manusia masih asyik dengan kehidupannya. Tapi seorang lelaki tua di ujung jalan di kaki gunung itu tampak sedih ketika melihat ke langit. Sejenak memejamkan matanya; lalu dengan lirih bergumam: “Gelap berlapis-lapis. Gelap berlapis-lapis.” Setelah itu sepi. Tak ada suara. Hanya angin bertiup menyapu debu jalanan. Tak terdengar apa-apa. .
Read More >>


Kaum Musyabbihah ketika kita katakan kepada mereka bahwa Allah tidak membutuhkan kepada tempat dan arsy karena arsy adalah makhluk Allah dan Allah tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya sendiri; mereka tidak memiliki jawaban bagi kebenaran logika ini walaupun mereka tetap bersikukuh dengan aqidah tasybîh mereka, hanya saja sebagian mereka dengan alasan dan argumen yang dibuat-buat (Takalluf) mengatakan bahwa Allah di atas arsy dan bahwa di atas arsy itu tidak ada tempat. Kadang mereka mengatakan bahwa tempat itu hanya berada di bawah arsy saja, adapun di atas arsy tidak ada tempat. Ungkapan aneh ini seperti pernyataan salah seorang pimpinan mereka; Muhammad Nashiruddin al-Albani, dalam catatan tambahannya (Ta'lîq) atas Matan al-'Aqîdah ath-Thahâwiyyah menuliskan bahwa arsy itu berada di atas semua makhluk dan di atas arsy tersebut tidak ada makhluk apapun.

Jawab:
Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam al-Bukhari, Imam al-Bayhaqi dan lainnya, dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

إنّ اللهَ لمَا قَضَى الْخَلقَ كَتَب في كِتَابٍ فَهُوَ مَوْضُوعٌ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إنّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي / رواه البخاري والبيهقي

"Sesungguhnya setelah Allah menciptakan segalamakhluk-Nya Dia menuliskan dalam satu kitab, yang kitab tersebut kemudianditempatkan di atas arsy, tulisan tersebut ialah "Sesungguhnya rahmat-Kumengalahkan murka-Ku". (HR. al-Bukhari dan al-Bayhaqi)

Dengan demikian tidak dapat dipungkiri baik secara logika atau dalam tinjauan syari'at bahwa di atas arsy terdapat tempat. Karena seandainya di atas arsy tidak ada tempat maka tentunya Rasulullah tidak akan mengatakan "Kitab tersebut kemudian ditempatkan di atas arsy" (Fa Huwa Maudlû' 'Indahu Fawq al-arsy)" sebagaimana redaksi riwayat Imam al-Bukhari dalam kitab Shahîh-nya. Teks hadits ini justru memberikan penjelasan kepada kita bahwa di atas arsy tersebut terdapat tempat dengan bukti bahwa kitab tersebut berada diatasnya.

Jika ada kaum Musyabbihah mengatakan bahwa kata "fawqa" (di atas) dalam hadits ini dalam pengertian "dûna" (di bawah)".

Jawab:
Pemaknaan semacam ini adalah takwil yang sama sekali tidak memiliki dasar. Metode takwil itu hanya diberlakukan ketika dibutuhkan untuk itu. Sementara dalam hadits ini sama sekali tidak ada kebutuhan untuk memberlakukan takwil tersebut". Lalu kita katakan juga kepadanya: "Bukankah kalian anti terhadap takwil sehingga kalian memahami teks-teks mutasyâbihât dalam makna zahirnya?! Bukankah kalian mengklaim bahwa yang melakukan takwil adalah seorang mu'ththil (orang yang menfikan sifat-sifat Allah)?! Lantas mengapa kalian hendak memberlakukan takwil terhadap hadits ini?!".

Bahkan tidak hanya kitab bertuliskan "Inna RahmatîGhalabat Ghadlabî" saja yang berada di alat arsy, bahkan tentang al-Lauhal-Mahfuzh terdapat dua pendapat ulama terkait dengan tempatnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa al-Lauh al-Mahfuzh berada di atas arsy, sebagian lainnya mengatakan berada di bawah arsy. Artinya posisi al-Lauh al-Mahfuzh ini dalam dua kemungkinan; ada kemungkinan di atas arsy, dan ada kemungkinan di bawah arsy. (Lihat al-Ihsân Bi Tartîb Shahîh Ibn Hibbân,j. 7, hlm. 5, lihat pula Fath al-Bâri, j. 13, hlm. 526).

Hal ini karena tidak ada teks yang secara jelas menyebutkan posisi al-Lauh al-Mahfuzh tersebut apakah di atas arsy atau di bawah arsy?!
Dengan demikian, di atas dasar pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa al-Lauhal-Mahfuzh berada di atas asry berarti kaum Musyabbihah yang berkeyakinan Allah di atas arsy telah menempatkan Allah dalam posisi yang sama sejajar dengan makhluk-Nya sendiri, yaitu al-Lauh al-Mahfuzh. Dan bila demikian, di atas dasar keyakinan kaum Musyabbihah maka berarti sebagian dari arsy adalah tempat bagi Allah dan sebagian lainnya adalah tempat bagi al-Lauh al-Mahfuzh, dan sebagaian lainnya tempat bagi kitab yang bertuliskan "Inna Rahmatî SabaqatGhadlabî". Na'ûdzu Billâh. Apakah ini dinamakan tauhid?! Adakah seorang ahli tauhid dapat menerima keyakinan buruk semacam ini?!

Di antara dalil yang dapat menguatkan bahwa kitab bertuliskan "Inna Rahmatî Sabaqat Ghadlabî" benar-benar berada di atas arsy selain hadits riwayat al-Bukhari dan al-Bayhaqi di atas adalah hadits riwayat Imam an-Nasa-i yang mempergunakan kata "'Alâ al-arsy". Redaksi riwayat Imam an-Nasa-i ini dengan sangat jelas menyebutkan bahwa kitab tersebut berada di atas arsy.

Kemudian hadits lainnya dalam riwayat Imam Ibn Hibban mempergunakanredaksi "Marfû' Fawq al-arsy". Redaksi ini memberikan pemahaman nyata bahwa kitab tersebut berada di atas arsy. Dari sini apakah kaum Musyabbihah masih keras kepala mengatakan bahwa di atas arsy tidak ada tempat?! Adakah jalan bagi kaum Musyabbihah untuk tetap kabur?!

Dengan demikian pernyataan sebagian kaum Musyabbihah bahwa di atas arsy tidak ada tempat sama sekali tanpa dasar. Dan pentakwilan sebagian mereka terhadap kata "Fawqa" dengan makna "Dûna" adalah takwil yang batil. Karena sesungguhnya metode takwil itu hanya diberlakukan terhadap beberapa teks dalam kondisi tertentu yang menuntut keharusan untuk itu, seperti adanya tuntutan argumentasi logis (Dalîl'Aqliy), atau adanya tuntutan dalil tekstual (Dalîl Naqliy) terhadap keharusan takwil tersebut, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh para ulama ushul fiqih. Karena apa bila pada setiap teks syari'at diberlakuakan takwil maka segala teks-teks tersebut akan menjadi kesia-siaan belaka yang tidak memiliki faedah. Padahal  seluruh teks syari'at baik teks al-Qur'an maupun hadits-hadits Rasulullah harus dihindarkandari segala bentuk kesia-siaan.

Adapun makna "'Indahu" dalam hadits di atas bukan dalam pengertian di sisi atau disamping Allah. Penggunaan 'Inda di sini adalah untuk menunjukanpemuliaan (Li at-Tasyrîf). Artinya, bahwa kitab bertuliskan "Inna Rahmatî Sabaqat Ghadlabî" adalah kitab yang dimulikan oleh Allah, bukan artinyakitab ini bersampingan dengan Allah. Dalam bahasa Arab penggunaan kata 'Indatidak hanya berlaku bagi arah dan tempat saja, tapi juga sering digunakan padayang bukan makna arah dan tempat sebagaimana hal ini telah disepakati oleh paraulama bahasa sendiri, contoh ini adalah firman Allah tentang tempat parapenduduk surga:

فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِندَ مَلِيكٍ مُّقْتَدِرٍ  / القمر: 55

Penggunaan kata 'Indadalam ayat ini bukan untuk memberikan pemahaman bahwa Allah bertempat di surgabersampingan dengan orang-orang bertakwa, tapi dalam pengertian bahwa surgatersebut adalah tempat yang dimuliakan oleh Allah. Inilah yang dimaksud dengan 'Indiyyahat-Tasyrîf.

Demikian pula dengan makna hadits di atas, penyebutan 'indadi sana bukan berarti Allah bersampingan dengan kitab tersebut. Imam Badruddin al-Aini dalam kitab Syarh Shahîh al-Bukhâri dalam penjelasan hadits ini menuliskan bahwa penyebutan 'Inda di sini bukan dalam pengertian tempat. Karena penggunaan 'Inda tidak hanya diperuntukan bagi tempat saja. Contohnya dalam firman Allah tentang keadaan orang-orang pelaku dosa di akhirat:

وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُوا رُءُوسِهِمْ عِندَرَبِّهِمْ / السجدة: 12

Yang dimaksud ayat ini bukan berarti orang-orang berdosa itu menundukan kepalanya disisi Tuhannya dalampengertian bersampingan dengan-Nya, tapi yang dimaksud ialah bahwa Allahmengkhabarkan kepada kita bahwa para pelaku dosa itu di kelak akan menundukankepala, artinya mereka menjadi orang-orang yang sangat dihinakan oleh Allah.

Dari sini kita katakan kepada kaum Musyabbihah: Jika kalian bersikukuh memaknai 'Indahu dalam hadits di atas secara makna zahirnya; yaitu dalam pengertian Allah bertempat di atas arsy dan bahwa kitab bertuliskan "Inna Rahmatî Sabaqat Ghadlabî" berada di samping Allah bersama-Nya, lantas bagaimanakah kalian memaknai firman Allah QS.As-Sajdah: 12 di atas?! Apakah kalian akan memaknai ayat ini secara zahirnya pula bahwa Allah ada bersampingan bersama orang-orang pelaku dosa tersebut di bumi?! Tapi jika kalian mentakwil ayat ini lantas mengapa kalian tidak mentakwil hadits di atas?! Kaum Musyabbihah tidak akan memiliki jawaban atas ini.

Kemudian kita bacakan pula firman Allah yang menceritakan tentang doa Asiyah:

إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ / التحريم:11

bahwa yang dimaksud ayat inisama sekali bukan berarti Asiyah memohon dibangunkan rumah di surga yang rumahtersebut bersampingan dengan Allah, tapi yang dimaksud adalah rumah di surgayang dimuliakan oleh Allah.

Demikian pula dengan firman Allah tentang adzab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth:

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍمُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ / هود: 83- 82

Makna ayat ini: "Kami (Allah) menghujani kaum Nabi Luth tersebut dengan bebatuan dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi yang bebatuan tersebut telah diberi tanda oleh Tuhanmu (wahai Muhammad), di mana peristiwa itu semua terjadi sesuai dengan kehendak dan ilmu Allah". Bukan maknanya bahwa bebatuan yang dibakar tersebut berada disamping Allah. Apakah kaum Musyabbihah akan mengambil zahir ayat ini dengan mengatakan bahwa bebatuan yang dibakar tersebut berada di atas arsy di samping Allah, atau mereka memiliki pemahaman lain?! Jika mereka tidak memahaminya sesuai zahirnya kita katakan kepada mereka: "Itu adalah takwil, bukankah kalian anti takwil?!".

Kita lihat pula apa yang akan dikatakan oleh kaum Musyabbihah dalam memahami hadits Qudsi yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya,juga diriwayatkan oleh para Imam lainnya, bahwa Rasulullah bersabda: Allahberfirman:

يَا ابْنَ ءَادَم مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي،قَالَ: يَا رَبُّ كَيْفَ أعُوْدُكَ وأنْتَ رَبُّ العَالَمِين؟ قَالَ: أمَاعَلِمْتَ أنّ فُلانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ، أمَا عَلِمْتَ أنّكَ لَوْ عُدْتَهُلَوَجَدْتَنِيْ عِنْدَهُ. يَا ابْنَ ءَادَم اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي،قَالَ: يَا رَبُّ كَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأنْتَ رَبُّ العَالَمِيْن؟ قَال: أمَاعَلِمْتَ أنّهُ اسْتَطْعَمَكَ فُلاَنٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ، أمَا عَلِمْتَ أنّكَ لوْأطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلكَ عِنْدِي. يَا ابْنَ ءَادَم اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْتَسْقِِنيْ، قَالَ: يَا رَبُّ كَيْفَ أسْقِيْكَ وَأنْتَ رَبُّ العَالَمِيْن؟ قَالَاسْتَسْقَاكَ فُلاَنٌ فَلَمْ تَسْقِهِ، أمَا إنّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَذَلِكَ عِنْدِي / رواه مسلم

Dengan alasan apapun redaksihadits Qudsi ini tidak boleh dipahami dalam makna zahirnya, karena orang yang memahami makna zhahirnya maka berarti ia mensifati Allah dengan sifat-sifat manusia. Sebab makna zahirnya menyebutkan seakan Allah sakit dan Dia berada di samping orang yang sedang sakit, seakan-akan Allah kelaparan dan Dia berada di samping orang yang sedang kelaparan, dan seakan-akan Allah kehausan dan bahwaDia bersama orang yang tengah kehausan. Dengan demikian orang yang memahami makna zahir teks hadits Qudsi ini akan jatuh dalam faham tasybîh. Apa yang akan dikatakan oleh kaum Musyabbihah tentang makna hadits ini?! Kita dapat pastikan bahwa mereka tidak akan mengambil makna zahir redaksi hadits Qudsi ini.

Dari sini kita katakan kepada mereka: "Pemahaman kalian terhadap hadits Qudsi ini dengan tidak mengambil makna zahirnya adalah takwil! Lantas darimanakah kalian mengatakan bahwa seorang Mu'awwil adalah seorang Mu'ath-thil?!Jika demikian maka berarti kalian telah mengklaim diri kalian sendiri sebagai Ahlat-Ta'thil...!".

Imam an-Nawawi dalam kitab al-Minhâj Bi Syarh Shahîh Muslim ibn al-Hajjâj, j. 16, h. 125, dalam menjelaskanhadits Qudsi di atas menuliskan sebagai berikut:

"Para ulama mengatakan bahwa penyandaran kata sakit dalam hadits Qudsi inikepada Allah adalah dalam pengertian bahwa Allah memuliakan hamba-Nya yang sedangsakit, (bukan artinya Allah yang sakit). Kemudian pengertian "Wajadtanî' Indahu...", bukan dalam pengertian bahwa Allah berada di samping orang yang sakit tersebut, tapi dalam makna bahwa jika kita menjenguk orang yang sakit maka kita akan mendapatkan pahala dan kemuliaan dari Allah".

Imam al-Qâdlî Badruddin ibn Jama'ah dalam kitab Idlâhad-Dalîl, hlm. 198, dalam penjelasan hadits ini menuliskan sebagai berikut:

"Tidak ada perbedaan pendapat ulama dalam keharusan mentakwil hadits ini. Zahir teksnya mengungkapkan seakan-akan Allah sendiri yang sakit, minta makan dan minta minum. Tapi penyendaran hal-hal tersebut yang dimaksud bukan kepada Allah tetapi kepada seorang wali dari wali-wali-Nya. Hal ini seperti firman Allah: "InTanshurullâh Yanshurkum" (QS. Muhammad: 7), juga seperti firman-Nya: "InnalladzinaYu'dzûnallâha Wa Rasûlulahu..." (QS. Al-Ahzab; 57), yang dimaksud kedua ayat ini bukan berarti Allah yang butuh kepada bantuan dan pembelaan, juga bukan berarti Allah yang disakiti atau diperangi, tapi yang dimaksud adalah agama Allah dan para wali-Nya.

Kemudian makna "Lawajadtanî 'Indahu..." artinya jika engkau menjenguk hamba Allah yang sakit tersebut maka engkau akan mendapatkan rahmat, keridlaan dan kemuliaan dari Allah. Pemahaman ini seperti dalam firman Allah: "WaWajadallâha 'Indahu..." (QS. An-Nur: 39), bukan artinya ia akan mendapati Allah tetapi dalam pengertian akan mendapati balasan dari Allah, karena itu lanjutan ayat tersebut adalah "Fa Waffâhu Hisâbah", artinya Allah memenuhi segala perhitungan dari balasan siksa yang telah dijanjikan kepadaorang yang kafir".

Imam Ibn Jahbal dalam karya Risâlah Fi Nafy al-Jihah 'An Allâh menuliskan sebagai berikut:

"Penggunaan 'Inda dapat bertujuan untuk menunjukan kemuliaan dan keluhuran derajat, contohnya dalam firman Allah tentang Nabi Dawud:

وَإِنَّ لَهُ عِندَنَا لَزُلْفَى وَحُسْنَ مَئَابٍ / ص: 25

Artinya bahwa Nabi Dawud memiliki kemuliaan dan keluhuran derajat bagi Allah, dan memiliki tempat kembali yang mulia. Penggunaan 'Inda dapat pula bukan untuk tujuan semacam itu, contohnya dalam sabda Rasulullah bahwa Allah berfirman (hadits Qudsi): "Anâ 'Inda Zhanni 'Abdî Bî...", (artinya bukan berarti Allah berada di samping setiap orang)".

Terdapat banyak sekali penggunaan kata 'Inda dalam ayat-ayat al-Qur'an dan dalamhadits-hadits Rasulullah yang sama sekali bukan untuk pengertian tempat dan arah. Artinya bukan dalam pengertian "di sisi" atau "di samping". Di antaranya firman Allah tentang beberapa Nabi-Nya:

وَإِنَّهُمْ عِندَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ اْلأَخْيَارِ / ص: 47

Makna ayat ini bukan berarti para Nabi yang merupakan orang-orang pilihan dan orang-orang baik tersebut berada di tempat di samping tempat Allah, tapi makna 'Indanâ dalam ayat ini ialah bahwa para Nabi tersebut adalah orang-orang yang dimuliakan oleh Allah.

Imam al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani (w 852H) dalam kitab Fath al-Bâri, j. 13, hlm. 429, dalampenjelasan redaksi hadits "...'Indahu 'Alâ al-arsy", menuliskan sebagai berikut:

"Adapun pemahaman kata "'Indahu" telah dinyatakan oleh Ibn Baththal sebagai berikut: Kata 'Inda dalam dasar penggunaan bahasa adalah untuk tempat, namun Allah maha suci dari berada pada tempat atau arah. Karena bertempat adalah sifat benda yang dapat punah, dan itu baharu. Sementara Allah maha suci dan tidak layak dari segala tanda kebaharuan. Karena itu, menurut satu pendapat, yang dimaksud hadits ini ialah bahwa Allah maha mengetahui dengan Ilmu-Nya yang Azaliy tentang orang-orang yang berbuat taat kepada-Nya hingga Allah memberikan balasan pahala bagi mereka, dan bahwa Allah maha mengetahui dengan ilmu-Nya yang azali tentang orang-orang yang berbuat maksiat kepada-Nya hingga Allah menimpakan balasan siksa bagi mereka. Hal ini dikuatkan dengan lafazh hadits sesudahnya, yaitu "Ana 'Inda Zhanni 'Abdî Bî". Hadits ini jelas bukan untuk memberikan paham tempat.

Ar-Raghib al-Asbahani menuliskan bahwa kata 'Inda dipergunakan dalam beberapa hal, diantaranya untuk pengertian tempat yang dekat, untuk mengungkapkan keyakinan;seperti bila dikatakan "'Indî Fî Kadzâ Kadzâ" maka artinya; "Menurut keyakinan saya tentang ini adalah begini...". Kadang dipergunakan juga untuk mengungkapkan derajat yang luhur atu kemuliaan, seperti firman Allah tentang orang-orang yang mati syahid: "Ahyâ'un 'Inda Rabbihim..." (QS.Ali 'Imran: 169).

Adapun  firman Allah: "In Kâna Hâdzâ Huwa al-Haqq Min 'Indika..." (QS. Al-Anfal: 32), yang dimaksud Min 'Indika dalam ayat ini adalah Min Hukmika, artinyadari hukum-Mu dan ketentuan-Mu.

Kemudian Ibn at-Tin mengatakan bahwa penggunaan 'Inda dalam hadits ini adalah untuk menetapkan bahwa kitab tersebut benar-benar berada di atas arsy. Sementara tulisan "Inna Rahmatî Sabaqat Ghadlabi" bukan untuk tujuan agar Allah tidak melupakannya, karena Dia maha suci dari sifatlupa dan tidak ada suatu apapun yang tersembunyi bagi Allah. Tulisan tersebut untuk tujuan memberitahukan kepada para Malaikat yang memiliki tugas menyertai setiap orang mukallaf (Artinya bahwa rahmat Allah sangat luas)".

Pada j. 11,hlm. 505 dalam kitab yang sama dalam pembahasan sebuah hadits tentang Nabi Adam yang dapat mengalahkan argumen (Hujjah) Nabi Musa, al-Hâfizh Ibn Hajar menuliskan sebuah bab dengan judul: "Bâb: Tahâjjâ Âdam WaMusâ 'Indallâh" (Bahwa kelak akan mengadu argumen (Hujjah) antaraNabi Adam dan Nabi Musa). Kemudian Ibn Hajar menuliskan:

"Makna 'Inda dalamhadits ini adalah dalam pengertian kekhususan dan kemuliaan, bukan dalampengertian tempat".

Imam al-Hâfizhal-Muhaddits Waliyuddin Abu Zur'ah Ahmad ibn Abd ar-Rahim al-Iraqi (w 826 H) dalam karyanya berjudul Tharh at-Tatsrîb j. 8, hlm. 84, menuliskan sebagai berikut:

"Sabda Rasulullah "Fahuwa 'Indahu Fawq al-arsy", kata "'Indahu" adalah kata yang harus ditakwil. Karena makna zahirnya adalah pengertian tempat bagi sesuatu, sementara Allah maha suci dari tempat dan arah. Karena itu kata "'Inda" dalam hadits ini bukan dalam pengertian tempat, tetapi dalam pengertian"Pemuliaan". Artinya bahwa kitab tersebut berada di tempat yang dimuliakan dan diagungkan oleh Allah".

Kemudian Imam al-Hâfizh Ibn al-Jauwzi dalam kitab Daf'u Syubah at-Tasybîh, hlm. 61 dalam penjelasan makna "Indahu Fawq al-arsy" sebagai bantahan atas kaum Musyabbihah Mujassimah yang selalu berpegang teguh kepada makna-makna zahir teks mutasyabih menuliskan sebagai berikut:

"al-Qâdlî Abu Ya'la (salah seorang pemuka kaum Musyabbihah) memahami kata 'Indahu bahwa kitab bertuliskan "Inna Rahmatî Sabaqat Ghadlabî"  tersebut dekat dengan Dzat-Nya. Ketahuilah, pengertian dekat dengan Allah itu bukan dalam makna jarak, karena jarak itu merupakan sifat benda. Dalam al-Qur'an tentang bebatuan yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth Allah berfirman: "Musawwamatan 'Inda Rabbik" (QS. Hud: 82); apakah ini akan diambil makna zahirnya?!".

WaAllâh A'lam Bi ash-Shawâb.
Wa al-Hamdu Lillâh Rabb al-'Âlamîn.

Waspadai terus kesesatan ajaran Wahhabi.....!!!
Periksa sanak famili kita jangan sampai ikut-ikutan ajaran sesat mereka....!!!

Read More >>

KISAH TAUBATNYA SEORANG SALAFY YAMANI

Posted in Rabu, 04 Mei 2011
by Unknown
Ternyata benar apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah terhadap umatnya. Renungilah apa yang akan Anda baca berikut ini, dalil dan kisah taubatnya seorang Salafi Yamani:



Firman Allah Ta’ala: ”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (A...z-Zukhruf: 67)



Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., ia berkata: Nabi saw bersabda: ”Sesungguhnya perumpamaan orang yang bergaul dengan orang saleh dan orang jahat, seperti orang yang bergaul dngan orang yang membawa minyak kasturi dan orang yang meniup api. Orang yang membawa minyak kasturi, mungkin memberi minyak kepadamu atau membeli minyak padanya, paling tidak kamu mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan orang yang meniup api, mungkin ia akan membakar kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak enak darinya.” (HR. Bukharu dan Muslim)



Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw bersabda: ”Seseorang bisa terpengaruh oleh agama sahabat karibnya. Oleh sebab itu, perhatikanlah salah seorang di antara kamu dengan siapa ia bergaul.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)





Berikut adalah pengakuan jujur seorang penyusun buku ”Hakikat IM” yang ditulis oleh Gaza, Jum’at, 1 Juni 2007 yang saya ambil dari http://www.mail-archive.com/manhaj-salaf@yahoogroups.com/msg00346.html



Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh,

Saudaraku, di bawah ini saya tampilkan pernyataan Akhi Anwar Shiddiq, dia pernah menyusun buku judulnya ”Hakikat Ikhwanul Muslimin (IM)”, tetapi setelah berjalan waktu dia menyesal dan ingin menarik buku itu. Akhi Anwar nitip supaya bisa memakai forum MyQuran buat menampilkan surat terbuka. Beliau tak melayani debat di forum, tapi mau terima e-mail ke [EMAIL PROTECTED]





Berikut ini pernyataan Akhi Anwar Shiddiq:





Segala puji dan syukur kepada Allah SWT, atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw, keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du.





Allah berfirman dalam Al-Qur’an: ”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135).



Ikhwan fillah rahimahullah, semoga allah SWT senantiasa merahmatimu, menganugerahkan ilmu bermanfaat, menunjuki dengan hidayah, menguatkan dengan taufiq untuk berbuat kebaikan amal, lahir dan batin. Amin ya Rabbal ’alamin.



Melalui forum yang mulia ini perkenankan ana (Anwar Shiddiq) menyampaikan sebuat pengalaman penting yang ana alami sendir saat berinteraksi dengan ikhwan-ikhwan Salafi yang akhir-akhir ini sering disebut Salafi Yamani (meminjam istilah Ustadz tertentu). Maksud dari penuturan ini yakni agar ana bisa memohon maaf atas kesalahan yang pernah ana lakukan saat ana mendapat pengaruh yang sangat kuat dari pemikiran Salafi Yamani itu. Secara khusus permohonan maaf ini ana tujukan kepada saudara-saudaraku dari Ikhwanul Muslimin (IM) di Indonesia, khususnya yang sudah membaca buku yang ana susun.



Di bawah ini penuturan ana:



”Ana dulu beramal jama’i bersama Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin/IM) selama bertahun-tahun. Suatu saat ana putuskan mundur dari IM secara baik-baik, yakni maksudnya ana mundur karena kesadaran sendiri, tidak dipaksa-paksa atau diprovokasi. Ana sudah bertekad, meskipun tidak lagi bersama Tarbiyah (IM) ana akan tetap menjalin hubungan baik dengan mereka. Hal ini ana tempuh, sebab ana tahu Ustadz Jakfar Talib, seorang pemimpin Salafi di Indonesia, tadinya dia ikut IM juga, tapi setelah jadi Salafi, dia sangat membenci IM setengah mati. Ana tidak mau seperti itu, ana mau jadi diri sendiri, tidak terpengarus orang lain. Ana merasakan sendiri di IM itu tidak sedikit kekurangan-kekurangan, tapi ana juga tidak pungkiri di sana ada kebaikan-kebaikannya, maka itu ana ingin sikap proporsional saja, tidak berlebih-lebihan seperti sikap Ustadz Jakfar Talib itu.



Sayang seribu sayang, sikap baik ana ini pelan-pelan berubah saat ana mulai mengambil pemikiran-pemikiran dari Salafi Yamani. Ana membaca majalah Asy-Syariah, ana mendengar kaset ceramah Ustadz Muhammad Sewed, ana bergaul dengan mantan Laskar Jihad (LJ), ana mengikuti berita-berita seputar dakwah Salafi, ana berteman dengan pengikut Salafi Yamani, ana membuka situswww.salafy.or.id, dan apa-apa yang bisa ana peroleh.



Sikap ana yang dulunya baik ke temen-temen IM berubah jadi kebencian dan rasa muak. Ana seperti orang yang mengalami ”Cuci Otak”, pendirian santun ana dulu saat baru keluar dari IM seperti tidak berbekas. Ana dulunya benci sama sikap keras Ustadz Jakfar Talib, tapi ana akhirnya ikut terseret juga ke sikap semacam itu.



Bila dilukiskan, majlis-majlis ilmu yang berhubungan dengan Salafi Yamani itu seperti kobaran api. Siapa saja yang ada di dekatnya akan merasa kepanasan, atau menularkan panas ke orang lain. Ana merasakan pengaruh ini ke diri ana sendiri, yang tadinya baik-baik saja jadi timbul kebencian ke orang lain.



Selama interaksi dengan pengikut Salafi Yamani, yang dibicarakannya tahdzir ahli bid’ah, hajr, firqah sesat, bantahan, celaan, dsb. Apalagi kalau mereka sudah angkat bicara soal Sururiyah atau kesesatan tokoh-tokoh IM, panas sekali suasana yang terbentuk. Orang yang semacam ana ini tidak sedikit di tempat-tempat lain.



Kebencian ana ke IM semakin besar saat seprang ikhwan Salafi itu menyodorkan sebuah buku berjudul ”AL IKHWAN AL MUSLIMUN, Anugerah Allah yang Terzalimi”. Buku ini karangan Ustadz Farid Nu’man, penerbitnya Pustaka Nauka dari Kukusan Depok. Sebetulnya buku ini diberikan atas rekomendasi aktivis PKS juga, biar orang-orang Salafi mau membacanya, termasuk ana di dalamnya. Sehabih membaca buku itu ana malah semakin tidak simpati ke IM. Selain memberi rekomendasi, aktivis PKS itu juga melontarkan kritikan-kritikan tidak sedap ke Salafi, sehingga semakin bulat hari ana untuk menyusun sebuah bantahan.



Ana kumpulkan saja buku-buku, tulisan-tulisan yang mengupas penyimpangan IM, lalu ana ambil materi dari sana-sini (istilahnya ’menjahit materi’). Ana tambahkan disitu komentar-komentar ana, sampai jadilah sebuah buku berjudul, ”Hakikat Ikhwanul Muslimin (IM)”. Selanjutnya buku itu diedarkan secara terbatas di bawh UISP (milik kami sendir). Sudah tentu aktivis PKS yang mengkritik kami itu, kami sodori buku itu juga. Jujur saja, kalau tidak diprovokasi oleh sikap aktivis itu mungkin buku tersebut tidak pernah disusun.



Sesudah waktu berjalan cukup lama, sesudah ana baca-baca buku, tulisan-tulisan, ana diskusi-diskusi, akhirnya ana putuskan untuk membersihkan diri dari pemikiran-pemikiran ”Salafi ekstrem” yang telah bercokol dipikiran ana. Ana tidak mau ketempatan sesuatu yang bisa merusak diri sndiri. Kalau ingat keadaan seperti ini rasanya ana ingin kembali ke situasi dulu saat baru keluar dari IM secara baik-baik. Dulu ana bisa tersenyum saat bertemu teman-teman IM, tapi sekarag ini sulit. Ana sepertinya sudah terjerumus ke sebuah permusuhan keras. Saat ana baca kembali buku ’jahitan’ itu, ana sedih bukan main. Kenapa ana sampai menulis kalimat-kalimat kasar, emosional, menzhalimi saudara sendiri? Padahal tekad ana semula tidak begini. Ya Rabbi, ana memohon ampunan kepada-Mu atas kesalahan-kesalahan ana. Hamba-Mu ini dhaif, sedangkan Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Ampuni ana Rabbi. Amin. Sekian penuturan dari ana.



Selanjutnya melalui forum yang mulia ini ana ingin menyatakan:



Satu, ana bertaubat kepada Allah Yang Maha Pengampun atas kesalahan-kesalahan ana dengan menyusun buku ”Hakikat Ikhwanul Muslimin (IM)”.



Dua, Ana memohon maaf kepada seluruh jajaran Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin) di Indonesia, baik pengurus, anggota, atau simpatisannya, atas tersebarnya buku ”Hakikat Ikhwanul Muslimin (IM)” di atas, terutama atas kalimat-kalimat tidak adil yang termuat di dalamnya.



Tiga, secara terbuka ana cabut buku tersebut di atas, sebab resiko mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya. Ana menyatakan buku itu tidak sah lagi dan tidak boleh diedarkan atas nama siapa pun.



Empat, ana tetap mengakui adanya kelebihan dan kekurangan pada diri setiap muslim atau kelompok Islam. Namun hendaknya kita bersikap proporsional, yakni tidak memutlakkan kebaikan atasnya dan juga tidak memutlakkan keburukan baginya. Setiap muslim memiliki kelebihan-kekurangan tertentu. Kita harus bersikap adil sebab Allah mencintai orang orang-orang yang adil. (QS. AL-Maidah: 42, Al-Hujurat :9, A Mumtahanah.



Lima, ana nasehatkan kepada ikhwan-akhwat yang sedang belajar ilmu-ilmu keislaman agar berhati-hati dari sikap ekstrem (berlebih-lebihan) dalam segala wujudnya. Kalau diperngaruh-pengaruhi agar bersikap ekstrem, tinggalkan saja sebab doktrin semacam itu akibatnya cuma kerugian saja. Ingatlah selalu sabda Nabi saw dalam haditsnya, ”Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak akan pernah seseorang menyulit-nyulitkan perkara agama ini, melainkan ia akan dikalahkan.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra). Sekian pernyataan ana.



Pernyataan di atas ana sampaikan apa adanya, secara ikhlas, tidak ada paksaan atau tekanan. Buat sahabat-sahabat yang mendapatkan manfaat dari pernyataan ini, mohon doa antum semua agar Allah selalu membimbing ana (dan antum smua) buat menetapi jalan yang diridhai-Nya. Amin ya Rabbal ’alamin. Buat ikhwan-akhwat yang keberatan, tidak setuju, atau kecewa atas pernyataan ini, silakan antum mengirim ke [EMAIL PROTECTED] This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it Ana akan usahakan menjawab surat-surat antum, yakni surat-surat yang layak dijawab. Siapa saja yang mau beri masukan, kritik, atau kecaman (mungkin), silakan juga menulis ke e-mail di atas.



Akhirnya ana berdoa kepada Allah, ”Ya Rabbana, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf:23).



Ya Rabbi, ana memohon ampunan dan rakhmat dari-Mu. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti sunnahnya akhir jaman. Aminya Rabbal ’alamin.



MyQuran, 5 Agustus 2006



Al faqir ila Rabbi



Anwar Shiddiq



Sumber:http://www.mail-archive.com/manhaj-salaf@yahoogroups.com/msg00346.html



Subhanallah, sebuah studi kasus yang wajib kita jadikan ibrah. Article ini bukan dimaksudkan untuk menjauhkan umat dari dakwah Salafi, tapi hanyalah sebuah warning buat kita semua untuk menjauhi siapapun tanpa terkecuali, apakah mereka seorang yang bermanhaj Salafi, IM, JT, HT, NU, Muhammadiyah whatever you say. Manhaj adalah sarana dan kita tidak berhak menilai seluruh dari jamaah manhaj tertentu memiliki karakter yang sama hanya dengan melihat satu figur tertentu yang berbuat salah. Selama apa yang mereka lakukan tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah dan membumi dengan fitrah manusia tentunya, maka wajiblah untuk kita perhatikan dengan arif dan bijak. Contohnya Salafi, ada yang Yamani, ada yang haroki, ada yang salafi Ihya’ ut Thuratsnya Abdurahman Abdul Khalik, ada salafi al-Sofwah dan al-Haramainnya Muhammad Khalaf dan Yazid Jawwas, ada salafi Muhammad Umar as-Sewed dan lain-lain. Pasti diantara mereka ada salafi yang paling salaf as-Shaleh. Begitu juga dengan salafinya kang Anto dan Abu Salma, entah mereka masuk yang mana. Apakah mimpi dapat bermajlis dengan kelompok yang sungguh-sungguh salaf as-Shaleh itu bisa menjadi kenyataan? Amin ya Rabb…



Yup! Article ini juga mengingatkan saya dengan sahabat tercinta saya Abu Qatadah Al-Depoki (baca latar belakang dengan judul Kronologis di blog saya ini), dia juga berubah menjadi seseorang yang berkarakter terbalik (negatif) dengan karakternya saat dia masih di IM. Tapi alhamdulillah, kini dia telah kembali dengan karakter positifnya, I don’t know, apakah dia masih bermanhaj Salafi dan mendapatkan salafi yang salaf as-shaleh? atau telah kembali bermanhaj IM? atau justru tidak bermanhaj sama sekali? I don’t care about it. Apa yang dia baca? Apa yang dia fikirkan? Kisah apa yang terjadi dengannya? I don’t care! I don’t care! I don’t care! Yang saya perdulikan adalah dia tetap menjadi dirinya yang berkarakter positif, tawadhu dan selalu berinstrospeksi diri untuk menjadi muslim teladan. Dan kita pun harus berusaha seperti itu.



Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: ”Allah tidak mengutus seorang Nabi dan khalifah yang menggantikannya, melainkan ada dua orang yang sangat dekat dengannya, yang satu menganjurkan agar selalu berbuat baik, dan yang lain menganjurkan untuk selalu berbuat kejahatan. Dan orang yang maksum adalah yang dijaga oleh Allah.” (HR. Bukhari)



Diriwayatkan oleh Aisyah ra bahwasanya Rasulullah bersabda: ”Wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia suka akan kelembutan. Allah akan memberikan balasan dari kelembutan yang tidak diberikan ke atas sikap keras dan kasar serta selainnya” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmizi, Ahmad)



Untuk akhi Anwar Shiddiq, saya ingin bisa berdiskusi dengan anda dan mengambil hikmah kebaikan yang terjadi atas kisah anda. Tapi sayang, e-mailnya tidak dapat ditembus, mungkin sudah expire karena sudah terlalu lama atau mungkin terkena spam oleh orang-orang yang tidak ridha ini terjadi, yang pasti saya perduli dengan apa yang terjadi dengan anda sekarang, agar bisa dijadikan pelajaran oleh kita semua. Dugaan saya, mungkin anda telah mendapatkan Salafi yang bermanhaj Salaf as-Shaleh bukan Salaf as-’SALAH’.
Read More >>

DI BALIK LAYAR LPIA

Posted in Selasa, 03 Mei 2011
by Unknown
Berikut adalah rangkuman sepak terjang salah satu alumnus LIPIA (universitas yang di biayai oleh Arab Saudi).

Kaum Islamis dan Neo-Fundamentalis menyerukan rekonstruksi sosial dan moralitas dengan berdasarkan pada seruan kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis.

Mereka ingin menemukan kembali ajaran Islam tanpa ada deviasi historis, dan distorsi yang... berasal dari nalar, sambil menyingkirkan segala tradisi budaya juga adat istiadat lokal yang menempel di ajaran Islam. Mereka ingin memisahkan diri dari Islam tradisional yang telah mewujudkan dirinya selama
1400 tahun akumulasi tradisi pemikiran dalam kitab-kitab khazanah klasik dan kultur tradisional masyarakat-masyarakat Muslim. Akumulasi ilmu-ilmu islam ini dianggap sebagai penghambat jalan ke arah pemurnian Islam, jalan kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis tadi.

Mereka menampilkan pemutusan tajam dengan tradisi-tradisi keislaman, dan pada saat yang sama menyerukan kembali ke masa lalu yang dibayangkan murni, masa lalu yang dikukuhkan kembali secara berbeda dari realitas sejarahnya, masa lalu yang steril dari segala "tahyul, bid'ah dan khurafat" yang tidak hanya berbentuk ziarah kubur waliyullah, penghargaan adat-istiadat lokal, tetapi termasuk juga tradisi fiqih-ushul fiqih dalam madzhab, ilmu kalam, filsafat Islam, dan tentu saja tasawuf-thariqat.

Inilah konsep pemikiran Wahabi yang mendapat penolakan sebagian besar Islam Sunni terutama yang bermadzhab Syafi’i dimana-mana.

***

Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab, walaupun tidak menjadi Wahabi, dan bukanlah penganjur Wahabi tulen, tampaknya telah mengadopsi mentalitas Wahabisme Saudi dari tempat ia belajar: *LIPIA* (sekarang ada di Warung Buncit, di depan Kantor Harian Republika) dan Universitas Ibnu Su'ud
di Riyadh. Jika kolega-kolega Wahabinya mengambil bentuk permusuhan terhadap musuh-musuh alamiah Wahabi, maka Rizieq Shihab menampilkan model Islam konfrontatifnya terhadap apa yang ia pandang maksiat atau kesesatan.

FPI (dan kelompok Islamis dan neo-fundamentalis lainnya seperti HTI, MMI, dan lain sebagainya) hanyalah salah satu puncak gunung es fundamentalisme Islam yang bagian terbesarnya di bawah aliran yang menjangkau ke ajaran-ajaran Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi di Nejd pada abad ke 18, dan persilangannya dengan gerakan salafi modernis Islam. Muhammad ibn Abd al-Wahhab (1703-1792) memutuskan untuk memisahkan diri dari Kekhalifahan Turki Usmani dan mendirikan negara sendiri di Arabia Tengah dan wilayah Teluk Persia. Kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis adalah kredonya, sekaligus membuang semua fiqih-usul fiqih, tasawuf, dan falsafah warisan abad pertengahan. Ibn Abdul Wahhab menyatakan bahwa para Khalifah Turki Usmani adalah kafir, kerena mereka telah murtad dari Islam.

***

Dari sejak berdirinya hingga sekarang, aliran Wahabi ini tak henti-henti melakukan aksinya dengan dua fokus kerja besar yang pada akhirnya justru menjadi sumber malapetaka perpecahan, pertentangan dalam Ilmu Islam, lenyapnya peradaban sejarah Islam yang gemilang, hingga menjadi sebuah imej negatif ketika dihubungkan dengan gerakan-gerakan radikal seperti terorisme dimata dunia.



Dua fokus kerja besar Wahabi ini adalah :

1. Penghancuran ekspresi kultur Islam tradisional. Kultur Islam tradisional ini dipandang oleh kaum Wahabi sebagai tahyul, bid'ah, dan khurafat. Ini terentang mulai dari ziarah kubur waliyullah, kesenian tradisional, praktik sufisme populis, adat istiadat lokal yang telah membaur dengan ekspresi Islam populis seperti perayaan maulid, dsb.

2. Pengkafiran dan menuding sesat (ini adalah bentuk penghancuran kultur Islam tradisionalis dalam ranah pemikiran) para ulama dalam 4 pilar tradisi intelektual spiritual Islam (Fiqih-Ushul Fiqih Madzhab, Tasawuf- Thariqat, Filsafat Islam, dan Ilmu Kalam Asy'ariyah-Maturidiyah).

Wahabi inilah yang menjelma menjadi aliran neo-fundamentalis di seluruh dunia setelah booming petro dolar Saudi di awal 70-an. Neo-fundamentalis Wahabi ini terkadang adalah mereka yang mengalami convert atau "pemurtadan", dari Islam tradisional lalu dibrainwashed oleh lembaga-lembaga
Pendidikan Islam Wahabi di Saudi Arabia atau filialnya di Indonesia (seperti LIPIA di Warung Buncit Jakarta) menjadi Wahabi yang kaffah atau minimal memiliki mentalitas Wahabi sebagaimana banyak kita temukan juga pada para kaum muda muslim yang begitu bersemangatnya dalam dakwah meskipun sebenarnya tidak kurang dari sepuluh persennya saja yang memahami disiplin Ilmu yang harus mereka miliki.

Di antara pemula ormas Islam neo-fundamentalis penerima dana Saudi yang beragenda Wahabisme adalah DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia), dari lembaga inilah pada tahun 80-an kita mulai mendengar adanya kristenisasi di Indonesia, bersamaan dengan eksploitasi permusuhan dan kebencian
kepada kelompok Nasrani di Indonesia. Dari Majalah Media Dakwah terbitan DDII inilah semangat kebencian dan permusuhan kepada kelompok yang berbeda dengan mereka mulai disemai dengan baik, dengan bantuan uang Saudi Wahabi.

***

Dalam skala internasional, gerakan modernis Islam yang digagas oleh Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad 'Abduh, dan Sayed Rayid Ridha pada abad ke 19-awal abad 20 adalah satu gerakan pembaruan Islam yang pada awalnya bercita-cita baik, tetapi pada akhirnya malah membentuk ruang vakum otoritas dalam Islam Sunni. Ini adalah efek samping dari gerakan reformis-modernis, penganjuran ijtihad sebagai bentuk pembebasan diri dari madzhab-madzhab, dan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits.

Gerakan Salafi tiga besar ulama modernis ini akhirnya hanya membesar di sisi kanan, yang melahirkan tokoh-tokoh Islamis seperti Hasan al- Banna, Abul A'la al-Maududi, Quthub, Sa'id Hawwa, Mustafa As-Siba'i, lalu bercampur baur dengan gagasan-gagasan Wahabi hingga melahirkan orang-orang seperti Osama bin Laden dan para Thaliban di Afghanistan. Dari Hasan Al-Banna dan Quthub, gagasan-gagasan sisi kanan Salafi ini disuburkan dalam Ikhwanul Muslimin, dan kemudian diekspor ke Indonesia melalui pengajian- pengajian Usrah dikampus-kampus, yang akhirnya berevolusi menjadi partai politik PKS.

Sisi kiri gerakan salafi yang diwariskan Muhammad 'Abduh ini adalah gerakan-gerakan neo-modernis (yang menurut saya adalah ahli waris paling absah dari gerakan pembaruan Islam dari garis Muhammad 'Abduh) yang diwakili oleh almarhum Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, dan Dr. M. Syafi'I Anwar
(salah satu korban insiden 1 juni 08 di Monas) di Indonesia. Sementara di Timur Tengah dan India diwakili oleh Muhammad Khalafallah, Amin Al- Khuli, Sayyid Mahmud Al-Qimny, Muhammad Al-Ghazali, Fazlur Rahman, Al-Faruqi, Nashr Hamid Abu Zaid, dan Hassan Hanafi. Sisi kiri Salafi ini juga dibombardir dengan tuduhan sesat sejak dulu oleh kaum Wahabi dan "saudara kandung" nya di sisi kanan Salafi.

Sungguh mengherankan, atau sebagian umat muslim sudah tidak perlu heran, tumbuh maraknya sekte-sekte dalam Islam, organisasi-organisasi politik yang bernuansa agama, yang dengan lantangnya menyerukan pemurnian tauhid dan kembali pada Qur’an-Sunnah, justru saling berseteru sejak awal tumbuhnya ‘konsep’ pemikiran dari ulama-ulama Wahabi ini. Inikah yang populer dinamakan dengan neo-khawarij; khawarij gaya baru ?

Dimana pola fikir penyesatan ini akan berakhir? Akan berakhir dalam konflik horizontal ketika satu kelompok mengklaim mereka adalah pengikut Qur'an-Sunnah yang sebenarnya (dalam versi Wahabi-Salafi, karena dua kelompok inilah yang mengeksploitasi pendekatan harfiyah terhadap Qur'an-Sunnah dan selalu berkata "di dalam Islam..", "menurut Islam....", "Islam berkata..." sehingga siapa pun yang berbeda pendapat dengan mereka menjadi otomatis berada di luar Islam atau kafir), sementara yang lainnya adalah kelompok sesat atau minimal bid'ah?

Dalam sebuah fatwa para ulama Islam Wahabi di Saudi Arabia yang dikeluarkan pada tahun 1991 ( jilid 3: halaman 344) oleh al-Lajnah al-Da'imah li al-Buhuts al-'Ilmiyyah wa al-Ifta' dinyatakan bahwa Syaikh Sayyid 'Abdul Qadir al-Jailani (pendiri thariqat Qadiriyah yang diamalkan oleh banyak ulama Nahdlatul 'Ulama dan juga ulama Islam tradisionalis lain di Indonesia, Malaysia, dan Thailand Selatan) dan Syah Waliyullah Ad-Dihlawi (ulama reformer di India) adalah kafir dan musyrik.

Para ulama fiqih (sebagian besar mereka juga mufassir Al-Qur'an) yang juga dituduh kafir dan sesat oleh pendiri Wahabi (Ibn Abdul Wahhab) sendiri antara lain adalah Fakhruddin ar-Razi (wafat 606H/1210M), Abu Sa'id al-Baydhawi (wafat 710H/1310M), Abu Hayyan al-Gharnati (wafat 745H/1344M), al-Khazin (wafat 741H/1341M), Muhammad al-Balkhi (wafat 830H/1426M), Shihabuddin al-Qastalani (w.923/1517M), Abu Sa'ud al-'Imadi (w. 982H/1574M), dan masih banyak lagi.

Dalam logika berfikir penyesatan kelompok Wahabi ini, maka pada akhirnya kelompok sesat dan bid'ah tidak hanya Ahmadiyah dan Syi’ah, tidak juga lebih parah dari problem khilafiyah, juga dalam filsafat Islam tentang Tuhan hanya mengetahui yang partikular seperti dikatakan Ibnu Rusyd, dan Tuhan mengetahui segala-galanya seperti yang dikatakan Al-Ghazali, atau perkataan Ana al-Haqq oleh Al-Hallaj, dan para Wali itu lebih utama dari pada Para Nabi seperti yang dikatakan oleh Ibnu 'Arabi, …….tetapi terentang mulai dari Islam Ahmadiyah; Syi'ah; pengikut thariqat-thariqat sufi yang hobi zikir dan sholawat beraneka macam; ulama nahdliyyin yang masih tabarrukan, ziarah ke kuburan waliyullah, dan mengamalkan talqin dan tawassul; aktivis Jaringan Islam Liberal; gerakan dakwah Jama’ah Tabligh, pemikir Islam yang mencoba mengaplikasikan gagasan-gagasan rasional filsafat barat ke dalam kajian Islam; ulama fiqih madzhab (dengan nalar ushul fiqih tradisionalnya) yang mencoba mengkritik gagasan kaum fundamentalis yang selalu berkata "menurut Islam.."; cendekiawan Islam Sunni yang mengadopsi pemikiran Abdul Karim Soroush dan Mohsen Kadivar yang Syi'i, aktivis religius sinkretik yang memadukan zikir naqsyabandi dengan reiki, kundalini dan yoga, ..dan saya yang menyampakan artikel ini, dan juga Anda sekalian yang menyetujui artikel ini.., adalah penyebar bid’ah, sesat, dan diluar Islam alias kafir !!!

***

Sejenak, mari kita buka album kenangan masa lalu. Sebelum dikuasai aliansi klan Sa'ud-Wahabi, Kota Makkah-Madinah adalah lokus intelektual dan spiritual Islam paling kaya. Banyak sekali saksi sejarah peradaban Islam disini. Semua representasi Madzhab Fiqih juga ada di sini. Para Fuqaha Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali, Syi'ah Jakfari, Zhahiri dan cabang-cabang di bawahnya menyambut para jamaahnya masing masing di setiap musim haji. Seluruh Thariqat sufi juga memiliki mursyidnya di Mekkah – Madinah. Qadiriyah, Rifa'iyyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Syistiyyah, Sammaniyah dan lain sebagainya. Dari Thariqah yang mu'tabarah hingga yang ghairu ma'tabarah. Sekarang ini semua tinggal kenangan.

Para Ulama Islam tradisionalis yang memiliki keterikatan dengan akumulasi khazanah tradisi pemikiran Islam sebenarnya mirip dengan kaum intelektual Barat yang memiliki keterikatan dengan tradisi pemikiran masa lalu Barat, keterikatan yang malah lebih dalam, koheren, dan integral. Kita bisa melihat
dalam tradisi filsafat Barat, dari para pemikir skolastik ke Rene Descartes, David Hume, Immanuel Kant, Hegel, Edmund Husserl, hingga filsuf eksistensialis, adanya dialog filosofis yang masih tetap berlanjut.

Kitab-kitab filsafat kuno masih tetap dibaca, sebagian besar istilah teknis masih dipakai, bahkan dalam konteksnya yang telah ditransformasikan. Hal ini tidak berbeda dengan para ulama fiqih tradisionalis yang lebih dahulu membuka kitab fiqih Tuhfatul Muhtaj karangan Ibnu Hajar al-Haitami, kitab-kitab Qawaid Fiqhiyyah, dan Kitab Ushul Fiqih Al-Mushtasfa karangan Al-Ghazali untuk menjawab masalah kontemporer, ketimbang mencomot satu dua ayat Al-Qur'an, plus hadis, lalu berkata "... menurut Islam, ...." dengan semangat kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis seperti yang kerap dilakukan kaum Neo fundamentalis dan Islamis.

Sekarang Madzhab Hanafi telah punah dari Hijaz. Sejak tahun 1925 para ulama Madzhab Syafi'i dilarang mengimami shalat di Masjidil Haram di Makkah. Begitu juga halnya dengan Madzhab Maliki. Seorang ulama besar Madzhab Maliki, Sayed Muhammad Alwi Al-Maliki juga dilarang memberi khutbah di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi di Madinah. Padahal lebih dari 1000 tahun secara turun temurun para ulama madzhab Maliki menjadi identik dengan Madinah. Sayed Muhammad Alwi Al Maliki dituduh oleh Wahabi sebagai seorang sufi, sesat dan murtad. Apalagi Madzhab Syi'ah, di bawah penguasa Wahabi
Saudi mereka mengalami penghancuran karakter secara sistematis. Thariqat-thariqat Shufi? Mereka semua dianggap sesat, kafir, dan murtad. Yang berhak menyandang nama Islam hanyalah Wahabi. Madzab Hanbali dan Ibnu Taimiyah? Itu boleh, sebatas masih terakomodasi dalam batas-batas akidah Wahabi. Kitab Majmu' Fatwa karangan Ibnu Taimiyah sendiri pun telah mengalami penyuntingan agar sesuai dengan akidah Wahabi, beberapa bab yang tidak sesuai dengan akidah Wahabi, dihilangkan dalam edisi terbitan kitab itu di Saudi Arabia.

Strategi inilah yang telah dan sedang diekspor oleh Wahabi-Salafi (Neo Fundamentalis-Islamis) melalui agen-agennya ke seluruh dunia.

Kita dipaksa dihadapkan pada dua pilihan; menjadi Wahabi-Salafi atau menjadi kelompok sesat...

Say goodbye and don’t you think all about the past, just look and feel present day. Duh, pahit memang…

Wallahu A'lam bishshawab.
Read More >>

DIALOG CERDAS SANG SHUFI

Posted in
by Unknown


Postingan ini insyaallah akan memberikan gambaran tentang para Sufi yang ternyata adalah sosok-sosok yang alim berilmu tinggi dan sekaligus pengamal Ilmunya. Salah satu Sosok tersebut adalah Ibn Athaillah Al Sakandari, seorang Imam Sufi yang namanya tetap harum hingga hari ini di dunia Islam. Kitab karyanya yang fenomenal: Al-Hikam disyarah dan... dikaji oleh kaum muslimin dari dulu hingga kini seakan tak habis-habisnya dan terus memancarkan hikmah-hikmah yang tersembunyi dalam kitab Al-Hikam tersebut. 



Adapun tentang kisah dialognya yang cerdas dengan seorang inspirator Salafy Wahabi yaitu Ibnu Taymiyah, telah membuka tabir misteri isu-isu yang mengatakan bahwa para sufi adalah orang-orang yang bodoh dan musyrik. Isu-isu ini samasekali tidak benar dan sangat meleset jauh dari fakta, ternyata sesungguhnya para sufi adalah orang-orang brilliant dan bertauhid murni tanpa syirik seperti yang diisukan.


Nah, di akhir dialog itu Ibnu Taymiyah tetap bersikeras menuduh sosok sufi adalah kafir musyrik. Walaupun kepada Ibnu Athaillah menyanjungya sebagai seorang ahli ibadah yang sempurna di seluruh Mesir, tetapi kepada guru Ibnu Athaillah tetap dikafir-musyrikkan. Demikian sikap hipokrit seorang Ibnu Taymiyah, meskipun sudah dijelaskan panjang lebar oleh Ibnu Athaillah, sikapnya terhadap kaum Sufi tetap tidak berubah. Tapi kenapa di hadapan Ibnu Athaillah sang ispirator kaum Salafy Wahabi itu mampu menyanjungnya setinggi langit tapi kepada guru Ibnu Athaillah (Beliau adalah murid Abu al Abbas Al-Musrsi – wafat 686) tetap di-kafirkannya? Ada apa dengan sikapnya itu? Mari kita ikuti kisah selengkapnya…. 

Dialog Ibn Athaillah Al Sakandari dengan Ibn Taymiyah

Dialog Ibn Athaillah Al Sakandari (w.709 H) dengan Ibn Taymiyah (w. 728 H).
Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha’illah Al-Sakandari: “The Debate with Ibn Taymiyah Ditranslasi dari buku karya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani’s  The repudiation of  “Salafi” Innovations (Kazi, 1996)

Bismillahi ar-rahmani ar-rahiim.
Abu Fadl Ibn Athaillah Al Sakandari (wafat 709), salah seorang imam sufi terkemuka yang juga dikenal sebagai seorang muhaddits, muballigh sekaligus ahli fiqih Maliki, adalah penulis karya-karya berikut: Al Hikam, Miftah ul Falah, Al Qasdul al Mujarrad fi Makrifat al ism al-Mufrad, Taj al-Arus al-Hawi li tadhhib al-nufus, Unwan al-Taufiq fi al Adad al-Thariq. Juga sebuah biografi: Al-Lataif fi manaqib Abi al Abbas al Mursi wa sayykhihi Abi al Hasan, dan lain-lain. Beliau adalah murid Abu al Abbas Al-Musrsi (wafat 686) dan generasi penerus kedua dari pendiri tarekat Sadziliyah: Imam Abu Al Hasan Al Sadzili.
Ibn Athaillah adalah salah seorang yang membantah Ibn Taymiyah atas serangannya yang berlebihan terhadap kaum sufi yang tidak sefaham dengannya. Ibn Athaillah tak pernah menyebut Ibn Taymiyah dalam setiap karyanya, namun jelaslah bahwa yang disinggungnya adalah Ibn Taymiyah saat ia mengatakan dalam Lataif:  sebagai “cendekiawan ilmu lahiriyah”.

Satu HalamanPostingan berikut ini merupakan terjemahan dari bahasa Inggris untuk pertama kali atas dialog bersejarah antara kedua tokoh tersebut.

Naskah Dialog : Dari Usul al-Wusul karya Muhammad Zaki Ibrahim
Ibn Katsir, Ibn Al Athir, dan penulis biografi serta kamus biografi, kami memperoleh naskah dialog bersejarah yang otentik. Naskah tersebut memberikan ilham tentang etika berdebat di antara kaum terpelajar (berpendidikan keislaman). Di samping itu, ia juga merekam kontroversi antara pribadi yang bepengaruh dalam tsawuf:  Syaikh Ahmad Ibn Athaillah Al Sakandari, dan tokoh yang tak kalah pentingnya dalam gerakan “Salafi”:  Syaikh Ahmad Ibn Abd Al Halim Ibn Taymiyah selama era Mamluk di Mesir yang berada dibawah pemerintahan Sulthan Muhammad Ibn Qalawun (Al Malik Al Nasir).

Kesaksian Ibn Taymiyah kepada Ibn Athaillah yang Notabene adalah Imam Sufi:
Ibn Taymiyah ditahan di Alexandria. Ketika sultan memberikan ampunan, ia kembali ke Kairo. Menjelang malam, ia menuju masjid Al Ahzar untuk sholat maghrib yang diimami Syaikh ibn Athaillah. Selepas shalat, Ibn Athailah terkejut menemukan Ibn Taymiyah sedang berdoa dibelakangnya. Dengan senyuman, sang syaikh sufi menyambut ramah kedatangan Ibn Taymiyah di Kairo seraya berkata: Assalamualaykum, selanjutnya ia memulai pembicaraan dengan tamu cendekianya ini.


IBN ATHAILLAH: “Biasanya saya sholat di masjid Imam Husein dan sholat Isya di sini. Tapi lihatlah bagaimana ketentuan Allah berlaku! Allah menakdirkan sayalah orang pertama yang harus menyambut anda (setelah kepulangan anda ke Kairo). Ungkapkanlah kepadaku wahai faqih, apakah anda menyalahkanku atas apa yang telah terjadi?”


IBN TAYMIYAH: “Aku tahu, anda tidak bermaksud buruk terhadapku, tapi perbedaan pandangan di antara kita tetap ada. Sejak hari ini, dalam kasus apa pun, aku tidak mempersalahkan dan membebaskan dari kesalahan, siapapun yang berbuat buruk terhadapku”

IBN ATHAILLAH: Apa yang anda ketahui tentang aku, syaikh Ibn Taymiyah?

IBN TAYMIYAH: Aku tahu anda adalah seorang yg saleh, berpengetahuan luas, dan senantiasa berbicara benar dan tulus. Aku bersumpah tidak ada orang selain anda, baik di Mesir maupun Syria yang lebih mencintai Allah ataupun mampu meniadakan diri di (hadapan) Allah atau lebih patuh atas perintah-Nya dan menjauhi laranganNya. Tapi bagaimanapun juga kita memiliki perbedaan pandangan. Apa yang anda ketahui tentang saya? Apakah anda atau saya sesat dengan menolak kebenaran (praktik) meminta bantuan seseorang untuk memohon pertolongan Allah (istighatsah)?

IBN ATHAILLAH: Tentu saja, Rekanku, anda tahu bahwa istighatsah atau memohon pertolongan sama dengan tawassul atau mengambil wasilah (perantara) dan meminta syafaat; dan bahwa Rasulullah saw, adalah seorang yang kita harapkan bantuannya karena beliaulah perantara kita dan yang syafaatnya kita harapkan.

IBN TAYMIYAH: Mengenai hal ini saya berpegang pada sunnah rasul yang ditetapkan dalam syariat. Dalam hadits berbunyi sebagai: Aku telah dianugerahkan kekuatan syafaat. Dalam ayat al Qur’an juga disebutkan: “Mudah-mudahan Allah akan menaikkan kamu (wahai Nabi) ke tempat yang terpuji (Q.S Al Isra : 79). Yang dimaksud dengan tempat terpuji adalah syafaat. Lebih jauh lagi, saat ibunda khalifah Ali ra wafat, Rasulullah berdoa pada Allah di kuburnya: “Ya Allah Yang Maha Hidup dan Tak pernah mati, Yang Menghidupkan dan Mematikan, ampuni dosa-dosa ibunda saya Fatimah binti Asad, lapangkan kubur yang akan dimasukinya dengan syafaatku, utusanMu, dan para nabi sebelumku. Karena Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun”.
Inilah syafaat yang dimiliki rasulullah saw. Sementara mencari pertolongan dari selain Allah, merupakan suatu bentuk kemusyrikan; Rasulullah saw sendiri melarang sepupunya, Abdullah bin Abbas, memohon pertolongan dari selain Allah.
IBN ATHAILLAH: Semoga Allah mengaruniakanmu keberhasilan, wahai faqih?! Maksud dari saran Rasulullah saw kepada sepupunya Ibn Abbas, adalah agar ia mendekatkan diri kepada Allah tidak melalui kekerabatannya dengan rasul melainkan dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan mengenai pemahaman anda tentang istighosah sebagai mencari bantuan kepada selain Allah, yang termasuk perbuatan musyrik, saya ingin bertanya kepada anda, ”Adakah muslim yang beriman pada Allah dan rasulNya yang berpendapat ada selain Allah yang memiliki kekuasaaan atas segala kejadian dan mampu menjalankan apa yang telah ditetapkanNya berkenaan dengan dirinya sendiri?”.
”Adakah mukmin sejati yang meyakini ada yang dapat memberikan pahala atas kebaikan dan menghukum atas perbuatan buruk, selain dari Allah? Di samping itu, seharusnya kita sadar bahwa ada berbagai ekspresi yang tak bisa dimaknai sebatas harfiah belaka. Ini bukan saja dikhawatirkan akan membawa kepada kemusyrikan, tapi juga untuk mencegah sarana kemusyrikan. Sebab, siapapun yang meminta pertolongan Rasul berarti mengharapkan anugerah syafaat yang dimilikinya dari Allah, sebagaimana jika anda mengatakan: “Makanan ini memuaskan seleraku”. Apakah dengan demikian makanan itu sendiri yang memuaskan selera anda? Ataukah disebabkan Allah yang memberikan kepuasan melalui makanan?
Sedangkan pernyataan anda bahwa Allah melarang muslim untuk mendatangi seseorang selain DiriNya guna mendapat pertolongan, pernahkah anda melihat seorang muslim memohon pertolongan kepada selain Allah? Ayat Al qur’an yang anda rujuk, berkenaan dengan kaum musyrikin dan mereka yang memohon pada dewa dan berpaling dari Allah. Sedangkan satu-satunya jalan bagi kaum muslim yang meminta pertolongan rasul adalah dalam rangaka bertawassul atau mengambil perantara atas keutamaan (hak) rasul yang diterimanya dari Allah (bihaqqihi inda Allah) dan tashaffu atau memohon bantuan dengan syafaat yang telah Allah anugerahkan kepada rasulNya.
Sementara itu, jika anda berpendapat bahwa istighosah atau memohon pertolongan itu dilarang syariat karena mengarah pada kemusyrikan, maka kita seharusnya mengharamkan buah anggur karena dapat dijadikan minuman keras. Dan (seharusnya) mengebiri (melumpuhkan kemapuan besetubuh) laki-laki yang tidak menikah untuk mencegah zina.
(Kedua syaikh tertawa atas komentar terakhir ini, sebab  konon Syaikh Ibnu Taymiyah adalah pria yang tidak menikah)).

Lalu IBN ATHAILLAH melanjutkan:  “Saya kenal betul dengan segala inklusifitas dan gambaran mengenai sekolah fiqih yang didirikan oleh syaikh anda, Imam Ahmad, dan saya tahu betapa luasnya teori fiqih serta mendalamnya “prinsip-prinsip agar terhindar dari godaan syaitan” yang anda miliki, sebagaimana juga tanggung jawab moral yang anda pikul selaku seorang ahli fiqih.

Namun saya juga menyadari bahwa anda dituntut menelisik di balik kata-kata untuk menemukan makna yang seringkali terselubung dibalik kondisi harfiahnya. Bagi sufi, makna laksana ruh, sementara kata-kata adalah jasadnya. Anda harus menembus ke dalam jasad fisik ini untuk meraih hakikat yang mendalam. Kini anda telah memperoleh dasar bagi pernyataan anda terhadap karya Ibn Arabi, Fususul Hikam. Naskah tersebut telah dikotori oleh musuhnya bukan saja dengan kata-kata yang tak pernah diucapkannya, juga pernyataan-pernyataan yang tidak dimaksudkannya (memberikan contoh tokoh islam).

Ketika syaikh al-Islam Al Izz ibn Abd Salam memahami apa yang sebenarnya diucapan dan dianalisa oleh Ibn Arabi, menangkap dan mengerti makna sebenarnya dibalik ungkapan simbolisnya, ia segera memohon ampun kepada Allah swt atas pendapatnya sebelumnya dan menokohkan Muhyiddin Ibn Arabi sebagai Imam Islam.
Sedangkan mengenai pernyataan al Syadzili yang memojokkan Ibn Arabi, perlu anda ketahui, ucapan tersebut tidak keluar dari mulutnya, melainkan dari salah seorang murid Sadziliyah. Lebih jauh lagi, pernyataan itu dikeluarkan saat para murid membicarakan sebagian pengikut Sadziliyah. Dengan demikian, pernyataan itu diambil dalam konteks yang tak pernah dimaksudkan oleh sang pembicaranya sendiri. “Apa pendapat anda mengenai khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib?”

IBN TAYMIYAH: Dalam salah satu haditsnya, rasul saw bersabda: “Saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya”. Sayyidina Ali adalah merupakan seorang mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran kecuali dengan membawa kemenangan. Siapa lagi ulama atau fuqaha sesudahnya yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena dan pedang sekaligus? Dialah sahabat rasul yang paling sempurna-semoga Allah membalas kebaikannya. Ucapannya bagaikan cahaya lampu yang menerangi sepanjang hidupku setelah al quran dan sunnah. Duhai! Seseorang yang meski sedikit perbekalannya namun panjang perjuangannya.

IBN ATHAILLAH: Sekarang, apakah Imam Ali ra meminta agar orang-orang berpihak padanya dalam suatu faksi? Sementara faksi ini mengklaim bahwa malaikat jibril melakukan kesalahan dengan menyampaikan wahyu kepada Muhammad saw, bukannya kepada Ali! Atau pernahkah ia meminta mereka untuk menyatakan bahwa Allah menitis ke dalam tubuhnya dan sang imam menjadi tuhan? Ataukah ia tidak menentang dan memberantas mereka dengan memberikan fatwa (ketentuan hukum) bahwa mereka harus dibunuh di manapun mereka ditemukan?

IBN TAYMIYAH: Berdasarkan fatwa ini saya memerangi mereka di pegunungan Syria selama lebih dari 10 tahun.

IBN ATHAILLAH: Dan Imam Ahmad- semoga Allah meridoinya-mempertanyakan perbuatan sebagian pengikutnya yang berpatroli, memecahkan tong-tong anggur (di toko-toko penganut kristen atau dimanapun mereka temukan), menumpahkan isinya di lantai, memukuli gadis para penyanyi, dan menyerang masayarakat di jalan.

Meskipun sang Imam tak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam dan menghardik orang-orang tersebut. Konsekuensinya para pengikutnya ini dicambuk, dilempar ke penjara dan diarak di punggung keledai dengan menghadap ekornya. Apakah Imam Ahmad bertanggung jawab atas perbuatan buruk yang kini kembali dilakukan pengikut Hanbali, dengan dalih melarang benda atau hal-hal yang diharamkan?
Dengan demikian, Syaikh Muhyidin Ibn Arabi tidak bersalah atas pelanggaran yang dilakukan para pengikutnya yang melepaskan diri dari ketentuan hukum dan moral yang telah ditetapkan agama serta melakukan pebuatan yang dilarang agama. Apakah anda tidak memahami hal ini?

IBN TAYMIYAH: “Tapi bagaimana pendirian mereka di hadapan Allah? Di antara kalian, para sufi, ada yang menegaskan bahwa ketika Rasulullah saw memberitakan khabar gembira pada kaum miskin bahwa mereka akan memasuki surga sebelum kaum kaya, selanjutnya kaum miskin tersebut tenggelam dalam luapan kegembiraan dan mulai merobek-robek jubah mereka; saat itu malaikat jibril turun dari surga dan mewahyukan kepada rasul bahwa Allah akan memilih di antara jubah-jubah yang robek itu; selanjutnya malaikat jibril mengangkat satu dari jubah dan menggantungkannya di singgasana Allah. Berdasarkan ini, kaum sufi mengenakan jubah kasar dan menyebut dirinya fuqara atau kaum “papa”.

IBN ATHAILLAH: “Tidak semua sufi mengenakan jubah dan pakaian kasar. Lihatlah apa yang saya kenakan; apakah anda tidak setuju dengan penampilan saya?

IBN TAYMIYAH: “Tetapi anda adalah ulama syariat dan mengajar di Al Ahzar.”

IBN ATHAILLAH: “Al Ghazali adalah seorang imam syariat maupun tasawuf. Ia mengamalkan fiqih, sunnah, dan syariat dengan semangat seorang sufi. Dan dengan cara ini, ia mampu menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kita tahu bahwa dalam tasawuf, noda tidak memiliki tempat dalam agama dan bahwa kesucian merupakan ciri dari kebenaran. Sufi yang tulus dan sejati harus menyuburkan hatinya dengan kebenaran yang ditanamkan ahli sunnah.

Dua abad yang lalu muncul fenomena sufi gadungan yang anda sendiri telah mengecam dan menolaknya. Dimana sebagian orang mengurangi kewajiban beribadah dan peraturan keagamaan, melonggarkan berpuasa dan melecehkan pengamalan sholat wajib lima kali sehari. Ditunggangi kemalasan dan ketidakpedulian, mereka telah mengklaim telah bebas dari belenggu kewajiban beribadah. Begitu brutalnya tindakan mereka hingga Imam Qusyairi sendiri mengeluarkan kecaman dalam bukunya ar Risalah ( Risalatul Qusyairiyah ).
Di sini, ia juga menerangkan secara rinci jalan yang benar menuju Allah, yakni berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Imam tasawuf juga berkeinginan mengantarkan manusia pada kebenaran sejati, yang tidak hanya diperoleh melalui bukti rasional yang dapat diterima akal manusia yang dapat membedakan yang benar dan salah, melainkan juga melalui penyucian hati dan pelenyapan ego yang dapat dicapai dengan mengamalkan laku spiritual.

Kelompok diatas selanjutnya tersingkir lantaran sebagai hamba Allah sejati, seseorang tidak akan menyibukkan diriya kecuali demi kecintaannya pada Allah dan rasul-NYA. Inilah posisi mulia yang menyebabkan seorang menjadi hamba yang shaleh, sehat dan sentosa. Inilah jalan guna membersihkan manusia dari hal-hal yang dapat menodai manusia, semacam cinta harta, dan ambisi akan kedudukan tertentu.

Meskipun demikian, kita harus berusaha di jalan Allah agar memperoleh ketentraman beribadah. Sahabatku yang cendekia, menerjemahkan naskah secara harfiah terkadang menyebabkan kekeliruan. Penafsiran harfiahlah yang mendasari penilaian anda terhadap Ibn Arabi, salah seorang imam kami yang terkenal akan kesalehannya. Anda tentunya mengerti bahwa Ibn Arabi menulis dengan gaya simbolis; sedangkan para sufi adalah orang-orang ahli dalam menggunakan bahasa simbolis yang mengandung makna lebih dalam dan gaya hiperbola yang menunjukkan tingginya kepekaan spiritual serta kata-kata yang menghantarkan rahasia mengenai fenomena yang tak tampak.

IBN TAYMIYAH: “Argumentasi tersebut justru ditujukan untuk anda. Karena saat Imam al-Qusyairi melihat pengikutnya melenceng dari jalan Allah, ia segera mengambil langkah untuk membenahi mereka. Sementara apa yang dilakukan para syaikh sufi sekarang? Saya meminta para sufi untuk mengikuti jalur sunnah dari para leluhur kami (salafi) yang saleh dan terkemuka: para sahabat yang zuhud, generasi sebelum mereka dan generasi sesudahnya yang mengikuti langkah mereka.

Siapapun yang menempuh jalan ini, saya berikan penghargaan setinggi-tingginya dan menempatkan sebagai imam agama. Namun bagi mereka yang melakukan pembaruan yang tidak berdasar dan menyisipkan gagasan kemusyrikan seperti filososf Yunani dan pengikut Budha, atau yang beranggapan bahwa manusia menempati Allah (hulul) atau menyatu denganNya (ittihad), atau teori yang menyatakan bahwa seluruh penampakan adalah satu adanya/kesatuan wujud (wahdatul wujud) ataupun hal-hal lain yang diperintahkan syaikh anda: semuanya jelas perilaku ateis dan kafir”.

IBN ATHAILLAH: “Ibn Arabi adalah salah seorang ulama terhebat yang mengenyam pendidikan di Dawud al Zahiri seperti Ibn Hazm al Andalusi, seorang yang pahamnya selaras dengan metodologi anda tentang hukum islam, wahai penganut Hanbali! Tetapi meskipun Ibn Arabi seorabg Zahiri (menerjemahkan hukum islam secara lahiriah), metode yang ia terapkan untuk memahami hakekat adalah dengan menelisik apa yang tersembunyi, mencari makna spiritual (thariq al bathin), guna mensucikan bathin (thathhir al bathin).

Meskipun demikian tidak seluruh pengikut mengartikan sama apa-apa yang tersembunyi. Agar anda tidak keliru atau lupa, ulangilah bacaan anda mengenai Ibn Arabi dengan pemahaman baru akan simbol-simbol dan gagasannya. Anda akan menemukannya sangat mirip dengan al-Qusyairi. Ia telah menempuh jalan tasawuf di bawah payung al-quran dan sunnah, sama seperti hujjatul Islam Al Ghazali, yang mengusung perdebatan mengenai perbedaan mendasar mengenai iman dan isu-isu ibadah namun menilai usaha ini kurang menguntungkan dan berfaedah.

Ia mengajak orang untuk memahami bahwa mencintai Allah adalah cara yang patut ditempuh seorang hamba Allah berdasarkan keyakinan. Apakah anda setuju wahai faqih? Atau anda lebih suka melihat perselisihan di antara para ulama? Imam Malik ra. telah mengingatkan mengenai perselisihan semacam ini dan memberikan nasehat: Setiap kali seseorang berdebat mengenai iman, maka kepercayaannya akan berkurang.”
Sejalan dengan ucapan itu, Al Ghazali berpendapat: Cara tercepat untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah melalui hati, bukan jasad. Bukan berarti hati dalam bentuk fisik yang dapat melihat, mendengar atau merasakan secara gamblang. Melainkan, dengan menyimpan dalam benak, rahasia terdalam dari Allah Yang Maha Agung dan Besar, yang tidak dapat dilihat atau diraba.

Sesungguhnya ahli sunnahlah yang menobatkan syaikh sufi, Imam Al-Ghazali, sebagai Hujjatul Islam, dan tak seorangpun yang menyangkal pandangannya bahkan seorang cendekia secara berlebihan berpendapat bahwa Ihya Ulumuddin nyaris setara dengan Al Quran. Dalam pandangan Ibn Arabi dan Ibn Al Farid, taklif atau kepatuhan beragama laksana ibadah yang mihrab atau sajadahnya menandai aspek bathin, bukan semata-mata ritual lahiriah saja.

Karena apalah arti duduk berdirinya anda dalam sholat sementara hati anda dikuasai selain Allah. Allah memuji hambaNya dalam Al Quran:”(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya”; dan Ia mengutuk dalam firmanNya: “(Yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya”. Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn Arabi saat mengatakan: “Ibadah bagaikan mihrab bagi hati, yakni aspek bathin, bukan lahirnya”.

Seorang muslim takkan bisa mencapai keyakinan mengenai isi Al Quran, baik dengan ilmu atau pembuktian itu sendiri, hingga ia membersihkan hatinya dari segala yang dapat mengalihkan dan berusaha untuk khusyuk. Dengan demikian Allah akan mencurahkan ilmu ke dalam hatinya, dan dari sana akan muncul semangatnya. Sufi sejati tak mencukupi dirinya dengan meminta sedekah.
Seseorang yang tulus adalah ia yang menyuburkan diri di (hadapan) Allah dengan mematuhiNya. Barangkali yang menyebabkan para ahli fiqih mengecam Ibn Arabi adalah karena kritik beliau terhdap keasyikan mereka dalam berargumentasi dan berdebat seputar masalah iman, hukum kasus-kasus yang terjadi (aktual) dan kasus-kasus yang baru dihipotesakan (dibayangkan padahal belum terjadi).

Ibn Arabi mengkritik demikian karena ia melihat betapa sering hal tersebut dapat mengalihkan mereka dari kejernihan hati. Ia menjuluki mereka sebagai “ahli fiqih basa-basi wanita”. Semoga Allah mengeluarkanmu karena telah menjadi salah satu dari mereka! Pernahkan anda membaca pernyataan Ibn Arabi bahwa: ”Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati.” Adakah pernyataan yang seindah ini?”

IBN TAYMIYAH: “Anda telah berbicara dengan baik, andaikan saja gurumu seperti yang anda katakan, maka ia sangat jauh dari kafir. Tapi menurutku apa yang telah ia ucapkan tidak mendukung pandangan yang telah anda kemukakan.”
*****

*Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha’illah Al-Sakandari: “The Debate with Ibn Taymiyah, dalam buku karya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani’s The repudiation of “Salafi” Innovations (Kazi, 1996) h. 367-379.
Foot Note:
1. Ibn Atha’illah, Lata’if al minan fi manaqib Abi al Abbas. Pada bagian Lata’if al-minan wa al akhlaq, karya Sya’rani (Kairo, 1357) 2:17-18.
2. Lihat Ibn Al Imad, Shadharat al dzahab (1350/1931) 6:20; Al Zirikly, al A’lam (1405/1984) 1:221; Ibn Hajar, al Dhurrar al Kamina (1348/1929) 1:148-273; Al Maqrizi, Kitab al Suluk (1934-1958) 2:40-94; Ibn Kathir, al Bidayah wa al Nihayah (1351/1932) 14:45; Subki, Tabaqat al Shafi’iyyah (1324/1906) 5:177. dan 9:23; Suyuti, Husn al Muhadara fi Akhbar misr wa al qahira (1299/) 1:301; Al Dawadari, al Durr al fakhir fi sirat Al Malik Al Nasir (1960) hal 200; Al Yafi’I, Mi’rat Al Janan (1337/1918) 4:246; Sya’rani, Al Tabaqat al Kubra (1355/1936) 2:19; Al Nabhani, jami’ karamat al awliya (1381/1962) 2:25.
Read More >>

SEKELUMIT TENTANG AHLUSSUNNAH

Posted in
by Unknown

  • Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitabnya Al-Ghunyah li Thalibi Thariq Al-Haqq, Juz 1, Hal 80 mendefinasikan ASWAJA sebagai berikut

    ... ...“yang dimaksudkan dengan sunnah adalah apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW (meliputi ucapan,perilaku serta ketetapan Baginda). Sedangkan yang dimaksudkan dengan pengertian jemaah adalah sesuatu yang telah disepakati oleh para sahabat Nabi SAW pada masa Khulafa’ Al-Rasyidin yang empat yang telah diberi hidayah oleh Allah SWT”.

    Dalam sebuah hadis.
    Dari Abu Hurairah RA, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda
    “ Akan terpecah umat Yahudi kepada 71 golongan, Dan terpecah umat Nasrani kepada 72 golongan, Dan akan terpecah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya akan dimasukkan keneraka kecuali satu. Berkata para sahabat : Wahai Rasulullah, Siapakah mereka wahai Rasulullah ?. Rasulullah menjawab : Mereka yang mengikuti aku dan para sahabatku”. (HR Abu Daud,At-Tirmizi, dan Ibn Majah)

    Dalam pemahaman yang lain, istilah AHL AL-SUNNAH WA AL-JAMA'AH ini terbentuk dari 3 perkataan, iaitu :-
    AHL - Yang bererti keluarga, golongan atau pengikut
    Al-Sunnah - Iaitu segala sesuatu yang telah diajarkan oleh RASULULLAH SAW. Maksudnya, semua yang datang dari Nabi SAW berupa perbuatan, percakapan, dan pengakuaan Nabi Muhammad SAW
    AL-JAMA'AH - Iaitu apa yang telah disepakati oleh para Sahabar RASULULLAH SAW pada masa KHULFA RASYIDIN.
    Perkataan JAMA'AH ini diambil dari Sabda RASULULLAH SAW:-

    "Barangsiapa yang ingin mendapatkan kehidupan yang damai disyurga, maka hendaklah dia mengikuti Al-Jama'ah. (HR Tirmidzi, dan di Shahihkan Al-Hakim dan Al-Dzahabi)
    Dari segi ilmu aqidah dan tauhid, ASWAJA mengikut Imam Abu Hassan bin Ismail Al-Asyaari dan Imam Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi. Dalam ilmu Fiqh, ASWAJA mengikuti mazhab yang empat iaitu Mazhab Hanafi,Maliki,Syafi’e dan Hanbali. Manakala dalam ilmu Tasawuf mengikuti Imam Junayd Al-Baghdadi, Abu Yazid Al-Busthami dan Imam Al-Ghazali.
    Tersebut di dalam Kitab Muzakkiratut Tauhid Wal Firaq, bagi Asy-Syaikh Hasan As-Sayyid Mutawalliyy , Juzuk 1, Cetakan 1994 M bersamaan 1414 H, muka surat 14 ;

    Pembentukan Ahlus Sunnah itu hanya dari dua kelompok sahaja, iaitu kelompok Al-Asya’irah, mereka ialah Para pengikut Fahaman Abu Hassan Al-Asya’ari.
    Dan kelompok Al-Maturidiyyah, mereka ialah Para pengikut Fahaman Abu Mansur Al-Maturidi.
    RUMUSAN AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

    Maka sesungguhnya Ahlussunnah Wal Jama'ah bukanlah aliran yang baru. Bahkan Ahlussunnah Wal Jama'ah berusaha untuk menjaga agama Islam dari fahaman-fahaman yang sesat. Sekaligus sebagai satu jalan untuk mempertahankan, memperjuangkan dan mengembalikan agama Islam agar tetap sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Baginda RASULULLAH SAW dan para sahabat Baginda.


    SEJARAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH

    Sejarah mencatat bahawa di kalangan umat Islam bermula dari abad-abad permulaan (mulai dari masa khalifah sayyidina Ali ibn Abi Thalib) sehinggalah sekarang terdapat banyak firqah (golongan) dalam masalah aqi...dah yang saling bertentangan di antara satu sama lain. Ini fakta yang tidak dapat dibantah.

    Bahkan dengan tegas dan jelas Rasulullah telah menjelaskan bahawa umatnya akan berpecah menjadi 73 golongan. Semua ini sudah tentunya dengan kehendak Allah dengan berbagai hikmah tersendiri, walaupun tidak kita ketahui secara pasti. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Namun Rasulullah juga telah menjelaskan jalan selamat yang harus kita ikuti agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Iaitu dengan mengikuti apa yang diyakini oleh al-Jama’ah; majoriti umat Islam. Karena Allah telah menjanjikan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad, bahawa umatnya tidak akan tersesat selama mana mereka berpegang teguh kepada apa yang disepakati oleh kebanyakan mereka. Allah tidak akan menyatukan mereka dalam kesesatan. Kesesatan akan menimpa mereka yang menyimpang dan memisahkan diri dari keyakinan majoriti.

    Majoriti umat Muhammad dari dulu sampai sekarang adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam Ushul al-I’tiqad (dasar-dasar aqidah); iaitu Ushul al-Iman al-Sittah (dasar-dasar iman yang enam) yang disabdakan Rasulullah dalam hadith Jibril uang bermaksud :

    “Iman adalah engkau mempercayai Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir serta Qadar (ketentuan Allah); yang baik maupun buruk”. (H.R. al Bukhari dan Muslim)

    Perihal al-Jama’ah dan pengertiannya sebagai majoriti umat Muhammad yang tidak lain adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah tersebut dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya yang bermaksud:

    “Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian mengikuti orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian mengikuti yang datang setelah mereka“.

    Dan termasuk rangkaian hadith ini: “Tetaplah bersama al-Jama’ah dan jauhi perpecahan karena syaitan akan menyertai orang yang sendiri. Dia (syaitan) dari dua orang akan lebih jauh, maka barang siapa menginginkan tempat lapang di syurga hendaklah ia berpegang teguh pada (keyakinan) al-Jama’ah”. (H.R. at-Tirmidzi; berkata hadith ini Hasan Shahih juga hadith ini dishahihkan oleh al-Hakim).

    Al-Jama’ah dalam hadith ini tidak boleh diertikan dengan orang yang selalu melaksanakan solat dengan berjama’ah, jama’ah masjid tertentu. Konteks pembicaraan hadith ini jelas mengisyaratkan bahwa yang dimaksud al-Jama’ah adalah majoriti umat Muhammad dari sisi jumlah(‘adad). Penafsiran ini diperkuatkan juga oleh hadith yang dinyatakan di awal pembahasan. Iaitu hadith riwayat Abu Daud yang merupakan hadith Shahih Masyhur, diriwayatkan oleh lebih dari 10 orang sahabat. Hadith ini memberi kesaksian akan kebenaran majoriti umat Muhammad bukan kesesatan firqah-firqah yang menyimpang. Jumlah pengikut firqah-firqah yang menyimpang ini, jika dibandingkan dengan pengikut Ahlussunnah Wal Jama’ah sangatlah sedikit. Seterusnya di kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah terdapat istilah yang popular iaitu “ulama salaf”. Mereka adalah orang-orang yang terbaik dari kalangan Ahlusssunnah Wal Jama’ah yang hidup pada 3 abad pertama hijriyah sebagaimana sabda nabi yang maknanya:

    “Sebaik-baik abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian abad setelah mereka”. (H.R. Tirmidzi)

    Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mula tercetus bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lain-lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat fahaman atau mazhab baru. Kemudian muncullah dua imam muktabar pembela Aqidah Ahlussunnah iaitu Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan Imam Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah meridhai keduanya–menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat Nabi Muhammad dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nas-nas al-Quran dan Hadith) dan dalil-dalil aqli (argumentasi rasional) disertaikan dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) golongan Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij dan ahli bid’ah lainnya.

    Disebabkan inilah Ahlussunnah dinisbahkan kepada keduanya. Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenali dengan nama al-Asy’ariyyun (para pengikut Imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan al-Maturidiyyun (para pengikut Imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini menunjukkan bahawa mereka adalah satu golongan iaitu al-Jama’ah. Kerana sebenarnya jalan yang ditempuhi oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu. Adapun perbezaan yang terjadi di antara keduanya hanyalah pada sebahagian masalah-masalah furu’ (cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya saling berhujah dan berdebat atau saling menyesatkan, serta tidak menjadikan keduanya terlepas dari ikatan golongan yang selamat (al-Firqah al-Najiyah).

    Perbezaan antara al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti perselisihan yang terjadi di antara para sahabat nabi, tentang adakah Rasulullah melihat Allah pada saat Mi’raj? Sebahagian sahabat, seperti ‘Aisyah dan Ibn Mas’ud mengatakan bahawa Rasulullah tidak melihat Tuhannya ketika Mi’raj. Sedangkan Abdullah ibn ‘Abbas mengatakan bahawa Rasulullah melihat Allah dengan hatinya. Allah memberi kemampuan melihat kepada hati Nabi Muhammad atau membuka hijab sehingga dapat melihat Allah. Namun demikian al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap bersama atau bersefahaman dan sehaluan dalam dasar-dasar aqidah. Al-Hafiz Murtadha az-Zabidi (W. 1205 H) mengatakan:“Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (Al-Ithaf Syarah li Ihya Ulumuddin, juz 2 hlm 6)

    Maka aqidah yang sebenar dan diyakini oleh para ulama salaf yang soleh adalah aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Kerana sebenarnya keduanya hanyalah merumuskan serta membuat ringkasan yang mudah (method) dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabi dan rasul serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).

    Aqidah ini diajarkan di pondok-pondok Ahlussunnah di negara kita Malaysia,Indonesia,Thailand dan lain-lainnya.Dan Alhamdulillah, aqidah ini juga diyakini oleh ratusan juta kaum muslimin di seluruh dunia seperti Brunei, India, Pakistan, Mesir (terutama al-Azhar), negara-negara Syam (Syria, Jordan, Lubnan dan Palestin), Maghribi,Yaman, Iraq, Turki, Chechnya, Afghanistan dan banyak lagi di negara-negara lainnya.

    Maka wajib bagi kita untuk sentiasa memberi penuh perhatian dan serius dalam mendalami aqidah al- Firqah al-Najiyah yang merupakan aqidah golongan majoriti. Kerana ilmu aqidah adalah ilmu yang paling mulia, sebab ia menjelaskan pokok atau dasar agama. Abu Hanifah menamakan ilmu ini dengan al-Fiqh al-Akbar. Kerana mempelajari ilmu ini wajib diutamakan dari mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Setelah selesai atau khatam mempelajari ilmu ini barulah disusuli dengan ilmu-ilmu Islam yang lain. Inilah method yang diikuti para sahabat nabi dan ulama rabbaniyyun dari kalangan salaf maupun khalaf dalam mempelajari agama ini. Tradisi ini telah bermula dari zaman Rasulullah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Umar dan Jundub, maknanya:

    “Kami ketika remaja saat mendekati baligh- bersama Rasulullah mempelajari iman (tauhid) dan belum mepelajari al-Qur’an. Kemudian kami mempelajari al-Qur’an maka bertambahlah keimanan kami”. (H.R. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Hafidz al-Bushiri).

    PANDANGAN JUMHUR ULAMA' TENTANG AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

    As-Subki dalam Thabaqatnya berkata: “Ketahuilah bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari tidak membawa ajaran baru atau madzhab baru, beliau hanya menegaskan kembali madzhab salaf, menghidupkan aja...ran-ajaran sahabat Rasulullah. Penisbatan nama kepadanya kerana beliau konsisten dalam berpegang teguh ajaran salaf, hujjah yang beliau gunakan sebagai landasan kebenaran aqidahnya juga tidak keluar dari apa yang menjadi hujjah para pendahulunya, kerananya para pengikutnya kemudian disebut Asy’ariyyah.
    Abu al-Hasan al-Asy’ari bukanlah ulama yang pertama kali berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama’ah, ulama-ulama sebelumya juga banyak berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau hanya lebih memperkuat ajaran salaf itu dengan argumen-argumen yang kuat. Bukankah penduduk kota Madinah banyak dinisbatkan kepada Imam Malik, dan pengikutnya disebut al Maliki. Ini bukan berarti Imam Malik membawa ajaran baru yang sama sekali tidak ada pada para ulama sebelumnya, melainkan karena Imam Malik menjelaskan ajaran-ajaran lama dengan penjelasan yang lebih terang, jelas dan sistematis demikian juga yang dilakukan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari”.
    Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad menegaskan bahwa “kelompok yang benar adalah kelompok Asy’ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Asy’ari. Aqidahnya juga aqidah para sahabat dan tabi’in, aqidah ahlul haqq dalam setiap masa dan tempat, aqidahnya juga menjadi aqidah kaum sufi sejati. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Imam Abul Qasim al-Qusyayri. Dan Alhamdulillah aqidahnya juga menjadi aqidah kami dan saudara-saudara kami dari kalangan habaib yang dikenal dengan keluarga Abu Alawi, juga aqidah para pendahulu kita. Kemudian beliau melantunkan satu bait sya’ir:
    وكن أشعريا في اعتقادك إنه هو المنهل الصافي عن الزيغ والكفر
    “Jadilah pengikut al Asy’ari dalam aqidahmu, karena ajarannya adalah sumber yangbersih dari kesesatan dan kekufuran”.
    Ibnu ‘Abidin al Hanafi mengatakan dalam Hasyiyah Radd al Muhtar ‘ala ad-Durr al Mukhtar : “Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah al Asya’irah dan al Maturidiyyah”.
    Dalam kitab ‘Uqud al Almas al Habib Abdullah Alaydrus al Akbar mengatakan : “Aqidahku adalah aqidah Asy’ariyyah Hasyimiyyah Syar’iyyah sebagaimana Aqidah para ulama madzhab syafi’i dan Kaum Ahlussunnah Shufiyyah”. Bahkan jauh sebelum mereka ini Al-Imam al ‘Izz ibn Abd as-Salam mengemukakan bahawa aqidah al Asy’ariyyah disepakati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudlala al-Hanabilah).
    Apa yang dikemukakan oleh al ‘Izz ibn Abd as-Salam ini disetujui oleh para ulama di masanya, seperti Abu ‘Amr Ibn al Hajib (pimpinan ulama Madzhab Maliki di masanya), Jamaluddin al Hushayri pimpinan ulama Madzhab Hanafi di masanya, juga disetujui oleh al Imam at-Taqiyy as-Subki sebagaimana dinukil oleh putranya Tajuddin as-Subki.
Read More >>

CINA BAKAL KEKURANGAN ISTRI

Posted in
by Unknown


(jurnal perempuan)

Jurnalis Kontributor: Dea Pranathania

Jurnalperempuan.com-Jakarta. Semakin banyak pria di Cina akan kesulitan mendapatkan istri. Badan kependudukan Cina mengatakan, pada tahun 2020, jumlah pria pada usia perkawinan akan lebih banyak 30 juta jiwa daripada perempuan yang sebaya. Komisi Kependudukan dan Keluarga Berencana Ci...na mengatakan keadaan ini dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak sosial karena banyak pria akan kesulitan mendapatkan istri.

Pada tahun 2005 lalu, rasio anak laki-laki dan perempuan di Cina adalah 118:100. Pada tahun 2004, rasio itu 110 bocah laki-laki banding 100 bocah perempuan.

Komisi ini mengatakan banyak orang tua lebih suka bayi laki-laki; hal ini ditambah dengan kebijakan satu anak yang mulai berlaku pada tahun 70-an, yang membuat sebagian kaum perempuan menggugurkan janin perempuan. Juga muncul kecurigaan bahwa tidak semua kelahiran bayi perempuan dilaporkan.

Gejolak sosial Menurut laporan Komisi Kependudukan dan Keluarga Berencana Cina, di beberapa wilayah di Cina selatan, seperti Guangdong and Hainan, rasio itu menjadi 130 anak laki-laki dibanding 100 anak perempuan pada tahun 2005.

"Semakin sulitnya pria menemukan istri mungkin menyebabkan gejolak sosial," kata laporan ini.

Laporan tersebut menambahkan: "Kita perlu mengembangkan "gerakan menerima anak perempuan” dan secara efektif mengatasi kecenderungan meningkatnya ketimpangan."

Laporan itu juga mengatakan, penduduk Cina yang kini mencapai 1,3 miliar jiwa akan bertambah 200 juta jiwa lagi menjelang tahun 2033.

Dan jumlah warga usia 60-an akan meningkat dari 143 juta jiwa hingga 430 juta orang menjelang tahun 2040, 30% dari keseluruhan penduduk.

Cina perlu untuk memperbaiki sistem jaminan sosial dan sistem pensiun dan juga kebijakan keluarga berencana, pendidikan dan layanan kesehatan, kata laporan Komisi Kependudukan dan Keluarga Berencana Cina tersebut.*
Read More >>

Hidangan Populer Warkop Pusat

Copyright 2011 @ Warkop Mbah Lalar