Sopan Santun

Posted in Rabu, 11 Mei 2011
by Unknown


للصحبة والمخالطة أثر كبير في الصلاح والنفع وكذلك في الفساد والضرر

Artinya: "Persahabatan dan perkumpulan mempunyai dampak yang besar di dalam kebaikan & kemanfaatan, begitu juga di dalam kerusakan dan kemadlorotan/bahaya"
Penjelasan
Sering kali kita mendengar ucapan "semua itu terserah orangnya di manapun dia berada, walaupun pergaulannya dengan orang brengsek kalau dia baik, maka tidak ada masalah". Tetapi apakah perkataan semacam itu bisa dibenarkan? Petikan kalam hikmah dari seorang alim besar al-Imam Abdullah bin
Alawi al-Haddad di atas ini merupakan inspirasi dari sabda  Rosululloh Muhammad SAW yang dicocokkan dengan realita. Rasululloh SAW bersabda: "المرء على دين خليله" orang itu mengikuti panutan temannya" dan juga bersabda:

مثل الجليس الصالح كبائع المسك، إما أن يحديك, وإما أن تبتاع منه، وإما أن تجد منه رائحة طيبة. ومثل الجليس السوء مثل نافخ الكير، إما أن يحرق ثيابك، وإما أن تجد منه ريحا منتنة.
Artinya: "Perumpamaan teman duduk yang soleh itu bagaikan pedagang minyak misik, adakalanya sipenjual akan memberimu, adakalanya kamu akan membeli darinya dan adakalanya kamu akan menemukan darinya bau yang harum. Dan perumpamaan teman duduk yang jelek seperti peniup cerobong pengapian pandai besi, adakalanya dia akan membakar pakaian-pakaian kamu (kena percikan api) dan adakalanya kamu akan menemukan darinya bau yang tidak sedap"



Seorang manusia itu pada dasarnya memilki tabiat/watak mencuri tabiat orang lain, apalagi dari seorang sahabat yang selalu setia menemaninya. Memang pencurian watak itu tidak tampak dengan pertemuan yang hanya sekali dua kali, tetapi tahap demi tahap, nantinya akan tampak watak teman setianya yang muncul pada dirinya juga. Hal ini tidak bisa dipungkiri oleh  siapapun.
Alhamdulilah di negeri kita ini dan daerah kita khususnya, masih banyak majlis tempat berkumpulnya orang-orang sholeh, baik berupa pengajian rutinan atau majlis yang bersifat islami, seperti peringatan maulidiyah, haul para ulama/auliya', perkumpulan untuk penggalangan  dana untuk kemaslahatan bersama atau untuk sesama, dll.
Semua itu adalah majlis kebaikan, selama tidak terjadi kemunkaran atau lainnya, yang kita sendiri bisa mencermatinya. Maka dari itu sebelum terjun  di dalamnya, alangkah baiknya bertanya lebih dahulu kepada diri kita sendiri, apakah nantinya iman, agama dan amal kita menjadi bertambah atau menjadi semakin berkurang, bahkan hancur lebur.
نعوذ بالله من ذلك.


Read More >>

2012, KIAMAT, OR WHATEVER

Posted in Selasa, 10 Mei 2011
by Mbah Kanyut

2012, KIAMAT, OR WHATEVER, ...

Akan tiba "masa" ketika kita harus punah dari alam fana - mengalami sebentuk kehancuran yg begitu dahsyat sehingga bahkan "gunung-gunung berhamburan seperti bulu-bulu yang berterbangan" dan lelangit digulung sedemikian rupa hingga yang tersisa barangkali hanyalah kemurnian ruh.

Tetapi bukankah alam semesta ini dalam dirinya sudah bersifat "fana" (musnah), lantas mengapa mesti "dimusnahkan" lagi dengan kejadian yang kita namakan kiamat?

Ada banyak tafsir atas kiamat, dan karenanya ada silang-pendapat ttg makna dari peristiwa yg disebut sebagai "akhir zaman" itu. Lewat tulisan singkat ini, kami tak akan memperdebatkan beragam tasir itu, tetapi hanya menyajikan salah satu saja dari sekian banyak tafisr dan pemaknaan atas apa yg kita sebut dengan Hari Kiamat.

Para sufi memahami kiamat bukan dalam perspektif urutan waktu linier, sebab "waktu" itu sendiri adalah bagian dari semesta yg fana. "Qiyamah", dari sudut pandang ini, bukanlah suatu "masa" nanti di ujung waktu yang akan menghapus eksistensi lahiriah semesta. "Qiyamah" dari sudut pandang ini "telah, sedang dan akan" terjadi. Sangkakala Israfil sudah bergaung, sebab segala sesuatu "musnah" kecuali 'Wajah Tuhan." Tuhan Yang Maha Hadir selamanya hadir dan karenanya melampaui batas ruang dan waktu. Kesadaran di pihak makhluk yang fana akan kehadiran-Nya yang abadi akan menyebabkan "kiamat" tak terjadi: "Kiamat tidak akan datang selama masih ada yang mengingat atau menyebut Allah, Allah, Allah.." demikian sabda Rasulullaah. Ini berarti bahwa eksistensi semesta, yang pada hakikatnya fana, bergantung pada eksistensi Wujud-Nya. Dalam bahasa filosofis, "Kehadiran" Tuhan dalam dunia itulah yang menyebabkan semesta tetap eksis, yakni hubungan Tuhan dengan tajalli-Nya (yakni alam semesta) adalah melalui "Kehadiran" Tuhan dalam kosmos.

Dengan demikian ada dua sisi pemahaman dari makna Kiamat semesta.

Pada satu sisi, esistensi akan punah jika eksistensi itu dilepaskan dari sumber penopangnya. Kiamat akan tiba saat orang tak lagi ingat pada sumber penopang eksistensinya (yakni Allah) dan mengingkari atau menolak tata-tertib kosmologis (Hukum Ilahi, Syariah) yang ditetapkan oleh Allah untuk menopang eksistensi semesta itu. Dalam bahasa agama Islam, kiamat akan terjadi ketika tak ada lagi yang ingat Allah dan kemaksiatan dan keingkaran telah merajalela. Kehancuran semesta menjadi "keniscayaan" agar "hakikat" dari eksistensi dipulihkan kembali dalam tatanan kosmologi ruhani. "Qiyam" adalah tegak berdiri, dan karenanya salah satu tafsir menyatakan "hari Qiyamah" adalah "masa-masa di sisi Tuhan yang tak dibatasi oleh waktu" di mana seluruh makhluk ciptaan menyaksikan dengan jelas "Tegaknya Keabadian Kekuasaan Allah" atas segala sesuatu. Penghancuran eksistensi semesta adalah penghancuran ilusi tentang "tegaknya kekuasaan atau eksistensi selain Allah" - bukti paripurna dari La Ilaha Illa Allah, tidak ada Ilah (Tuhan Penguasa) yang patut disembah, kecuali Allah.

Pada "masa" ini tidak dimungkinkan lagi penyangkalan atau pengingkaran, sebab segala sesuatu tampak sebagaimana hakikatnya, yang disimbolkan oleh hadis "matahari terbit dari Barat" - yakni, pembalikan perspektif eksistensial: segala sesuatu yang "terbenam" (ghaib) mendadak muncul dan membuyarkan anggapan ilusif kita tentang semesta. Inilah hari ketika segala sesuatu yang terbenam dalam ilusi ruang dan waktu menjadi "ditampakkan"-- inilah Yaumil Hisab, ketika segala sesuatu yang kita tanam dalam tanah kefanaan menghasilkan buah yang kita petik untuk kemudian kita timbang di alam baqa.

Dari sini muncul perspektif kedua tentang Qiyamah, seperti dikatakan oleh Imam al-Ghazali, yakni bahwa kepunahan semesta, kiamat, adalah tidak "ber-momen", sebab segala sesuatu itu pada hakikatnya "punah" kecuali Dzat-Nya. Perjuangan sufi untuk menghapus sifat buruk pada dasarnya adalah perjuangan untuk menghapus perspektif ilusi yang menipu, sebab sifat-sifat buruk adalah hijab atau ilusi yang mengaburkan perspektif kita tentang eksistensi. Jadi, seperti dikatakan oleh Imam Qusyairi, sebelum pembalikan perspektif eksistensial melalui kejadian kiamat kubra, para sufi telah mendahului penghapusan perspektif ilusif ini dengan jihad melawan hawa nafsu. Maka, barangsiapa fana dari kebodohannya, maka dia akan baqa (kekal) dengan ilmunya, dan barang siapa fana dari syahwatnya dia akan baqa dengan tobatnya. dan barang siapa yang fana dari ilusi dunia, maka dia akan baqa dengan tajalli-Nya. In the final analysis, seseorang yang fana dari eksistensi kedirian ilusifnya yang Batil, maka dia akan baqa dengan sifat-sifat yang Haqq. Dan karena Allah adalah al-Haqq, kefanaan dari kebatilan adalah sama artinya dengan kebaqaan dalam sifat-sifat al-Haqq. Ketika Kebenaran (al-Haqq) menampakkan diri, maka hancurlah segala ilusi dunia (dlm bahasa Qur'an, segala yang batil akan lenyap (kalah) dan yang haqq akan tampak (menang)). Pada taraf ini kesaksian akan Keesaan Tuhan tak lagi dalam tataran konseptual tetapi sudah menginjak pada tataran eksistensial. Dan karena segala wujud eksistensi adalah "pinjaman" dari Wujud al-Haqq, maka sufi yang sampai pada tahap ini akan mengalami fana kedua sebagai akibat dari kesaksian eksistensialnya atas kebenaran Keesaan Allah, yakni kefanaan eksistensi dirinya yang membuat dirinya lebur dalam Wujud Kebenaran. Karena itu, ada dua kali sujud dalam setiap rakaat shalat, yakni dua kali penghapusan (fana): penghapusan ilusi konseptual dan perspektif yang salah, dan penghapusan eksistensi diri yang ilusif (penghapusan sifat-sifat buruk dan nafsu rendahan). Dua kali penegasian akan menghasilkan kebaqaan- sebagaimana dua kali angka minus akan menghasilkan angka posiitif.

Demkianlah, kiamat dari satu sisi perspektif adalah penghapusan ganda, fana al-fana, "tiadanya tiada." Penafian berganda menghasilkan keadaan positif yang dalam bahasa Tasawuf disebut Baqa, yang berarti "kesatuan kontinuitas dengan Yang Maha Tunggal." Ini sama artinya dengan menegaskan Kehadiran atau Wujud Tuhan dalam setiap wujud pinjaman. Dengan kata lain, kiamat dalam satu pengertian adalah realisasi dari hadis "Insan adalah Rahasia-Ku, dan Aku adalah rahasia Insan."

Wa Allahu a'lam.
Tri Wibowo BS / Mbah Kanyut al-Jawi
Read More >>

TOKO CALON ISTRI

Posted in
by Unknown
 
 
 Oleh: Anggota WLML DeiaNira Alzeena


Sebuah toko yang menjual calon istri baru saja dibuka di New York dimana pria dapat memilih calon istrinya. Di antara instruksi2 yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.

"Anda hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI"

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai di mana setiap lantai akan menunjukkan sebuah kelompok calon istri. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai Wanita tersebut. Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu dapat memilih Wanita di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko.


Lalu, seorang pria pun pergi ke toko "istri" tersebut untuk mencari calon istrinya.

LANTAI 1 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan

Pria itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

LANTAI 2: Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan senang anak kecil

Kembali pria itu naik ke lantai selanjutnya.

LANTAI 3: Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil dan cantik banget.

'' Wow'', tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.

Lalu sampailah pria itu di lantai 4 dan terdapat tulisan

LANTAI 4: Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cantik banget dan sangat ahli dalam pekerjaan rumah tangga.

''Ya ampun !'' Dia berseru, ''Aku hampir tak percaya.'' Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini:

LANTAI 5: Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil,cantik banget, sangat ahli dalam pekerjaan rumah tangga, dan memiliki rasa romantis.

Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah terus ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini:


LANTAI 6: ANDA ADALAH PENGUNJUNG KE-4.363.012.TIDAK ADA WANITA DI LANTAI INI.LANTAI INI HANYA SEMATA MATA BUKTI BAHWA BEGITU BANYAK PRIA YANG TIDAK PERNAH MERASA PUAS.TERIMA KASIH TELAH BERBELANJA DI TOKO “ISTRI”. HATI HATI KETIKA KELUAR TOKO DAN SEMOGA HARI YANG INDAH BUAT ANDA
Read More >>

IBN ARABI IN INDONESIA

Posted in Senin, 09 Mei 2011
by Mbah Kanyut

IBN ARABI IN INDONESIA

By: Tri Wibowo BS [Triwibs Kanyut]
Tulisan lamaku di Ibnarabisociety's Newsletter, 2001.

Ibn ‘Arabi in Indonesia – two articles highlighting Ibn ‘Arabi both in an historical context and in Indonesia today .
** The editor of Ibnarabisociety Newsletter wishes to thank both authors for their extensive and interesting contributions. The first, an historical overview of the development of Ibn ‘Arabi’s teaching in Indonesia, was researched by Tri Wibowo BS **


Historical overview of Ibn ‘Arabi’s influence in Indonesia: Sufism first came to the Indonesian archipelago along with the spread of Islam brought to the region by Moslem traders. Sufism played a big role in spreading Islam among common Indonesians, who were and still are very fond of mysticism. The rulers of the Samudra Pasai and Perlak Kingdom in northern Sumatra (Aceh) started to embrace Islam and made the first Islamic kingdoms in Indonesia in the 13th century. Having their position on the gate of the Strait of Malacca, which was a busy trade route, the kingdoms had no difficulties in the further introduction of Islam and Sufism to the region and beyond to Java and Eastern Indonesia.

Tasawuf, which was developed in the early phase, could be categorized as a mysticism of infinity, and identical with wahdat al wujud as we are familiar with from Ibn ‘Arabi. According to one scholar, works of Sufis which became the most important were Insan al-Kamil (Al-Jilli), Futuhat al Makiyyah and Fusus al Hikam (Ibn ‘Arabi), and al-Tuhfa al-Mursala ila Ruh al-Nabi (Muhammad Ibn Fadlullah al Burhanpuri). In the middle of the 16th century the most prominent Sufis who taught the doctrine of wujuddiyyah were Sheikh Hamzah al Fansuri and his disciple, Shamsuddin Pasai. Sheikh Hamzah al-Fansuri, who was a leader of the Qadiriyyah brotherhood, played an important role in the spiritual life of the Aceh Kingdom until the end of the reign of Sultan Ala’uddin Ri’ayat Shah Sayyid al-Mukammil (1590-1604), whereas Shamsuddin Pasai began to gain influence in the reign of Sultan Iskandar Muda. With the help of Sultan Iskandar Muda, the teaching of these two mystics spread beyond the island of Sumatra.

Sheikh Hamzah al-Fansuri was directly influenced by Bayazid, Al-Hallaj, Attar, Junayd al-Baghdadi, Ibn ‘Arabi, Rumi, Shabistari, Iraqi and Jami’. He wrote many books and poems, but a large part of them have been lost. Among his works are Asrar Al-Arifin, Al Muntahi, Sharah Al-Asyiqin or Zinat al-Wahidin, etc. The Zinat al-Wahidin is the summary of the doctrine of wahdat al wujud from works of Ibn ‘Arabi, and also from Sadruddin al-Qunawy, Fakhrudin al-Iraqi and Abdul Karim al-Jilli. Hamzah Fansuri explained the ontology of wujudiyyah in his Zinat Al-Wahidin. He also presented this doctrine in Malayan poems or sha’ir which, however, were difficult to understand without proper commentary. He very often quoted from Ibn ‘Arabi and Fakhrudin Iraqi, especially from the Fusus and ‘Divine Flash’ (Lama’at).
According to him, the first epiphany, ta’ayyun awwal, includes four aspects, namely: ‘ilm, wujud, shuhud and nur. Ta’ayyun awwal is like an ocean without shore, and when it reveals itself, it is called the wave – that is when God sees Himself as "the known," and this is the second epiphany, ta’ayyun tsani, which is ma’lum, the object of knowledge, and called a’yan thabithah, or suwar al-‘ilmiyyah or haqiqat al-asyya or ruh idhafi. The third epiphany, ta’ayyun tsalist, is ruh, the spirit in man and creature. The forth and fifth epiphany, ta’ayyun khamis and rabi’, are the creation of the physics of the universe. All of this is inseparable from ‘ilm, wujud, shuhud and nur since without these God cannot reveal Himself. The Essence is reflected in the world and therefore the world is not other than He (la ghayruhu). But he immediately said that God alone is Real, and the world is illusory or non-existent (‘adam) since "verily all that exists is annihilated except His Face (wajhahu)." (Sura 28:88).

Hamzah Fansuri’s disciple Shamsuddin Pasai developed his work a little different from that of his master, since although he was influenced by Ibn ‘Arabi, he also took inspiration from works such as Tuhfah al Mursalah ila Ruhi an-Nabi by Ibn Fadhilah al Burhanpuri of India. The core of this teaching is that the universe, including man, was brought into existence by tajalli or the emanation of God: ahadiyyah, wahdah, wahidiyah, alam arwah, alam mitsal, alam ajsam and alam insan. Indeed, this teaching– which is called maratabat tujuh – is included in the ‘School of Unicity’, but its development is a little different and there is modification and influences from India because some Sufis in India, such as Sultan Akbar and Dara Sikuh, sought reconciliation with the Hindu doctrine and the Vedanta.

In the beginning of the 17th century a severe controversy arose in Aceh, provoked by Nurudin ar-Raniri, an ulema from Gujarat (India). It was between adepts of orthodox mysticism and those of the School of Unicity, who were following the teaching of Hamzah Fansuri and Shamsuddin Pasai. It was known as a controversy of a’yan thabithah, and was discussed by Ar-Raniri in his Bustan al-Salatin. The latter, in his book Hujjatul Shiddiq li Daf’i al-Zindiq, declared that the School of Unicity was aberrant (bid’ah) and he condemned its followers and declared them to be infidels (kafir). Since Ar-Raniri was supported by Sultan Iskandar Sani (1637-1641) – the successor of Sultan Iskandar Muda – the adepts of Hamzah Fansuri and Shamsuddin Pasai who refused to relinquish their beliefs of wujuddiyyah were arrested and sentenced to death. Many of Hamzah Fansuri’s and Shamsuddin Pasai’s works vanished, for their books were considered sources of aberration and burned in front of the Great Mosque ‘Banda Aceh’, Bait ar-Rahman. However, according to some scholars, this controversy actually was caused by Ar-Raniri’s political ambition to obtain great influence in the inner circle of the Kingdom and to defeat the ulemas who were his political enemy.

About 5 years later an accomplished ulema and Sufi, Abdurrauf Singkel, a leader of the Qaddariyyah and Shatariyah brotherhood, who was in charge of religious affairs as a kadi under the reign of Sultan Safiyatuddin (1645-1675) – the successor of Sultan Iskandar Sani – wrote some treatises as reaction against the above mentioned controversy with the aim of moderating its consequences. According to Schimmel, he was a veritable genius in his interpretation of tasawuf, especially as regards his explanation of the most difficult aspect of Sufism, namely the doctrine of wahdat al wujud. In his Tanbih al Masyi, the universe represents the emanation (fayd) of the Unique Being, but it differs from God Himself: the relation between the two is like that of an object with its shadow. An object is almost inseparable from its shadow, and yet they differ from each other. In this way, Abdurrauf maintains simultaneously both the principle of divine immanence (tashbih) and of transcendence (tanzih). He also did not agree with the views of Ar-Raniri, and did not condemn the adepts of Hamzah Fansuri or the School of Unicity.

Yusuf al Taj al Makasari, a friend of Abdurrauf Singkel, who had studied with him under the guidance of Ahmad Qushashi and Ibrahim al-Kurani, was another great Sufi in the archipelago who was also influenced by Ibn ‘Arabi. He was born in Makasar Sulawesi (eastern archipelago) in 1626, and at the age of 18 left for the Middle East via Banten and Aceh, in search of knowledge. Back in the archipelago, he settled down in the Kingdom of Banten, West Java, spread the tarekat qadiriyah and khalwatiyah and then became a very influential mufti under the rule of Sultan Ageng Tirtayasa. Sheikh Yusuf also supported the Sultan in the war against the Dutch colonial powers. Banten however was defeated and Sheikh Yusuf then was exiled to South Africa, where he is to this day regarded as the main founder of the South African Muslim Community.

In Banten he wrote some treatises and books in the field of Sufism in Arabic and Javanese. Some of his treatises explain and summarise the main teachings in the field of mysticism: the relationship between the Creator and the creature, the concept of insan kamil, invocations, etc. He explained the doctrine of a’yan thabitah in his risalah Gayat al-Ikhtisar wa Nihayat al-Intizar, and summarized the doctrine of wahdat al wujud in the Zubdat al-Asrar. The latter also contains explanations from one chapter of the Futuhat al-Makiyyah.

The doctrine of wahdat al wujud, which was developed by Hamzah Fansuri and Shamsuddin Pasai, was also absorbed into Javanese mysticism, such as Serat Centhini Serat Tuhfah, Wirid Hidayat Jati etc. It predominated in Java until the 19th century, because many rulers of the kingdom supported it. Later some Javanese mystical literature – but not all, of course –tended to pantheism, and the doctrine of Unicity as formulated by Hamzah Fansuri and Ibn ‘Arabi became modified and aberrant from its original sources.

In Kalimantan island, the cosmology doctrine and wahdat al wujud of Ibn ‘Arabi adapted to local culture, and still survives until today. There are some Sufis who teach it, and the most popular book that explains wahdat al wujud is al-Durr al-Nafis by M. Nafis al-Banjari.

Even still in our times there are many theologians and scholars in Nusantara (Indonesia), who consider Ibn ‘Arabi’s teaching to be dangerous, and deviating from orthodox doctrine. They portray the sheikh as a dangerous heretic bent on undermining aqidah (the foundations of Islamic beliefs) and Islamic Society. For example, Buya Hamka, the great Indonesian ulema of the 1970s and 1980s, said that Ibn ‘Arabi’s teaching was similar to pantheism. Other scholars, for example Ahmad Daudi, Simuh, and Harun Nasution, were suspicious of the monistic or pantheistic tendencies of his metaphysical teaching, and other scholars even said that Ibn ‘Arabi was not a "Muhyiddin" but a "Mahiyuddin" – the destroyer of the faith (Islam) since they fail to see the lack of contradiction between Ibn ‘Arabi’s wahdat al wujud and the teaching of the Qur’an and the Hadiths.

Nevertheless, all this is not surprising since a number of 13th – 16th century opponents of Ibn ‘Arabi, such as Ibn Taimiyyah, also have a strong influence in Indonesia. Unfortunately there are only a few studies of Ibn ‘Arabi made by Indonesians, and there are very few translations of his works and no translation into the Indonesian language of the most pre-eminent works of Ibn ‘Arabi, the Fusus and Futuhat.

However, there are also Ibn ‘Arabi’s advocates who praise him as the greatest saint, these being mainly Muslim traditionalist and members of Sufi brotherhoods and also some Indonesian scholars. Translation of books about and by Ibn ‘Arabi have been emerging in recent years, for example Sufis of Andalusia, and Mishkat al-anwar. The first book available in the Indonesian language which discusses and explains Ibn ‘Arabi’s doctrine in detail – and I would add that this is very useful and valuable – is Ibn ‘Arabi: Wahdataul Wujud dalam Perdebatan (Ibn ‘Arabi: The controversy of Wahdat al Wujud), by Kautzar Azahari Noer (the Society was given a copy of this book), published in 1995. The most recent publication is Michel Chodkiewicz’s Seal of the Saints: Prophethood and Sainthood in the doctrine of Ibn ‘Arabi, which appeared in 1999. All of these pave the way for a better understanding of the works of the Sheikh al Akbar and his followers.

In addition, I think, future research will be helped considerably if we can provide translation of books about and by Ibn ‘Arabi in the Indonesian language. So to translate his works as well as that of his followers constitutes the urgent task in this present time and I am confident that as progress is made along these lines, the studies of the Sheikh al Akbar’s works will flourish.

Write by Tri Wibowo BS / Mbah Triwibs Kanyut al-Jawi, on request by Stephen Hirsteintein on behalf of Ibn Arabi Society,Oxford, England.


Read More >>

Karpet Merah untuk Zakat Fitrah

Posted in Minggu, 08 Mei 2011
by Unknown




Oleh : Angota WLML (Ichwan ndeso Manggon Kuto)


Hari ini adalah masa sibuk-sibuknya takmir masjid  dan panitia zakat fitrah. Juga bagi aparat pemerintah.  Di mana-mana tempat mereka sibuk mempersiapkan pelaksanaan sholat Idul Fitri dan penyaluran zakat fitrah.
Untuk zakat fitrah, masyarakat cenderung membayar di akhir waktu. Last minute. Padahal panitia harus tuntas menyalurkan sekian ton eras atau sekian banyak paket beras  kepada mustahiq 9orang yang berhak menerima zakat) sebelum sholat Id dimulai.
Maka tak ayal, malam hari ini adalah malam paling padat pekerjaan. Tim satu harus membersihkan masjid atau menata lapangan. Menggelar karpet, membuat pagar atau satir (pembatas) untuk jama’ah putra dan putri, mengecek amplifier, speaker dan tetek bengeknya, juga memastikan kotak amal tersebar dan aman. Harus pula memastikan siapa khotib dan imam sholatnya. Memfoto copy materi khutbahnya kalau diperlukan, plus mengantar dan menjemput keduanya jika mengharuskan demikian.
Tak ketinggalan, koordinasi dengan Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan atau Kepolisian untuk penutupan jalan dan keamanan jama’ah. Kerjasama dengan Hansip atau preman untuk menjaga parkir, bisa pula ditambah harus mencetak kartu parkirnya.
Sementara tim kedua, memasang spanduk dan menyosialisasikan layanan masjid kepada umat. Tentang penerimaan dan penyaluran zakat. Sejak H-7 biasanya timnya sudah berjaga. Menunggu kaum muslimin menyerahkan beras atau uang untuk zakat mereka.
Tim ini harus belanja beras, menimbangi dan membungkusi paket 2,5 kilogram (standar zakat fitrah), melayani pula pembayaran zakat mal, infaq dan sodaqoh. Sering pula dititipi pembayaran pengganti puasa (fidyah), maupun denda pelanggaran puasa (kafarot). Otomatis  harus bisa mengurus administrasinya. Menjaga keamanan uangnya dan mempertanggungjawabkan kepada jamaah.
Sedikit saja salah, misal catatan pengeluaran salah tulis di neraca aktiva, tim ini atau takmir masjidnya akan langsung dicurigai atau dirasani. Bahkan mungkin dituduh macam-macam. Ibaratnya sudah kerja tanpa upah, resikonya sebesar gajah.
Sudah? Belum. Malam ini, hingga dini hari dan fajar besok, tim ini harus berkeringat banyak untuk membagikan amanat warga kepada sebagian atau seluruh 8 golongan orang yang layak menerima zakat. Yaitu faqir, miskin, ibnu sabil, fi sa bilillah, ghorim, hamba sahaya, muallaf dan amil.
Repotnya, kebanyakan masjid tidak punya database warga lingkungannya.  Dan ini memang diakui oleh para takmir masjid sebagai kelemahannya. Karena ketiadaan database target zakat itulah, banyak panitia zakat kesulitan menyalurkan zakat. Lalu ambil praktisnya, mempersilakan warga yang merasa mustahik untuk mengambil di masjid.
Jika ada orang bertampang  miskin datang meminta zakat,  langsung dikasih. Pokoknya diyakini dia benar-benar orang butuh. Buktinya mengemis ke masjid. Sering pula panitia zakat memanggil tukang-tukang becak yang ada di pinggir jalan untuk diberi bingkisan beras zakat. Asumsinya sangat sederhanya, pokoknya tukang becak adalah orang miskin. Kalau tidak miskin, dia pasti tidak mbecak.
Banyak pula panitia yang mengambil jalan pintas memberikan beras zakat ke lembaga-lembaga panti asuhan. Atau ke pondok pesantren maupun takmir mushola di kampung. Lebih-lebih kepada lembaga panti atau ponpes yang proaktif mengajukan surat permohonan.
Padahal panti asuhan dan anak yatim bukan  termasuk mustahiq. Kalaupun mereka diberi zakat, itu karena fakirnya, miskinnya atau fi sabilillahnya. Bukan karena yatimnya.
Kejadian lain, panitia terpaksa kalang kabut membagikan zakat di waktu dini hari. Sebab ada warga yang baru membayar zakat pukul 24.00, panitia terpaksa berkeliling malam itu juga. Dalam situasi tidak terencana begini, banyak kejadian zakat diberikan asal drop di tempat yang diduga sebagai markas mutahiq.  Bisa panti asuhan, pondok pesantren yatim, kerumunan orang kumuh, tempat mangkal tukang becak atau siapapun yang mau menerima.
Diakui Kyai Sulchan, Ketua Takmir Masjid Darussalam Plamongan Indah Pedurungan, panitia zakat sering kesulitan menyalurkan amanat umat itu kepada orang yang berhak. Kebanyakan mengambil jalan praktis dengan menunggu bola. Alias mempersilakan orang mengajukan permohonan lalu di malam takbiran datang mengambil jatah zakat untuknya.
”Mengurus zakat itu mudah  menerimanya, tetapi sering kesulitan menyalurkannya. Memang masih banyak yang perlu dibenahi,” ujarnya kepada Harsem kemarin.
Karena panitia bersikap pasif, sering terjadi panitia tertipu. Modusnya, seseorang mengajukan zakat untuk sebuah lembaga atau jamaah mushola tertentu. Setelah diberi banyak sesuai jumlah mustahiqnya, ternyata dikuasai sendirian. Dipek dewe secara diam-diam. Tanda tangan Pak RT Pak RW atau Pak Lurah dan stempel mereka dipalsu. Pernah ada pula panti asuhan fiktif. Proposalnya ada, kop suratnya lengkap, tapi tiada pantinya. Mirip wartawan tanpa surat kabar (WTS).
”Panitia zakat sering kecolongan. Terutama di masjid-masjid perumahan di kota. Karena umumnya tidak banyak mustahiq dan panitia zakatnya cenderung menunggu permintaan,” ungkapnya.
Untuk mencegah hal itu terulang, pihaknya melakukan verifikasi lapangan atas proposal yang masuk. Jika benar ada panti asuhannya, dan yang diasuh adalah anak-anak miskin, maka pihaknya memberi sesuai permintaan. Apabila dicurigai untuk keuntungan pribadi, apalagi terbukti tidak ada lembaganya, maka langsung ditolak dan dicoretnya dengan tinta merah.
Akan tetapi hal itu belum cukup. Kata imam tetap yang juga guru SMPN 6 Semarang ini, masjidnya bisa saja menyetop aksi tipu-tipu para peminta zakat. Tetapi sangat mungkin masjid lain jadi korban berikutnya. Karena belum ada koordinasi bagus soal data zakat. Sama halnya saat pembagian daging hewan kurban. Seringkalu orang meminta daging di masjid A lalu pindah di masjid B untuk meminta daging lagi. Akibatnya, banyak orang lain yang membutuhkan tidak keduman.
Ketua panitia zakat Masjid Darussalam Sumarjono menambahkan,  mendistribusikan zakat perlu perhatian serius. Jika ingin ideal, harusnya amil (panitia zakat) bekerja sejak sebelum Ramadhan. Dimulai dengan mendata nama para mustahik yang ada di sekitar masjid. Syukur diverifikasi lewat ketua RT, ketua RW maupun Kelurahan.
Berikutnya, database tersebut digitalisasi lalu digatukkan dengan database masjid-masjid lain. Khususnya yang berada dalam satu kawasan atau kelurahan. Tujuannya agar tidak tumpang tindih ketika membagikan zakat. Agar kejadian satu orang miskin mendapat zakat dari banyak masjid atau perorangan.
Kembali ke panitia. Tim zakat dan tim pelayan sholat Idul fitri seringkali jadi satu.  Personil yang ada bekerja habis-habisan mengurus kedua agenda tersebut. Maka sangat-sangat dimaklumi jika tampak ”kacau” dan kangelan.
Telebih jika dua agenda itu ditambah kegiatan takbir keliling. Mau tak mau panitia takmir masjid ikut cawe-cawe. Entah mengirim pengurusnya, mengerahkan remaja masjid atau bahkan menyediakan makanan untuk peserta takbir keliling. (ichwan)


Read More >>

Kiai Soleh Darat Penyebar Islam dan Pelopor Penerjemahan Alquran

Posted in
by Unknown







Oleh : Anggota WLML ( Moh Ichwan)

Dalam kitab Al-hikam yang ditulisnya, Kiai Soleh Darat memaparkan, salah satu tanda kewalian seseorang secara lahiriah adalah banyaknya umat yang berziarah ke makamnya jika telah meninggal dunia. Adapun secara batiniah, seseorang itu mampu menjadi wasilah (perantara) doa umat kepada Allah SWT.
Kini, lebih dari seratus tahun setelah kematiannya, dua tengara itu justru melekat padanya. Setiap 10 Syawal, ribuan orang mengunjungi makamnya yang terdapat di kompleks Pemakaman Umum Bergota Semarang. Hampir seluruhnya meyakini, ulama besar itu sebagai wasilah. Ribuan umat dari berbagai Daerah Jawa Tengah, Jatim dan Jabar yang menghadiri haul (peringatan kematian) Kiai Soleh Darat kemarin, menjadi penanda kebesaran namanya.
Makam beliau di TPU Bergota Semarang, serasa tak penah lengang dari peziarah. Ada saja kegiatannya, membaca Qur’an, sholawatan serta berdzikir. Gema puji-pujian itu seolah merayapi setiap sudut ruangan makam yang terlihat terawat rapi dan bersih.
M Luthfi al-Anshori, seorang pengunjung asal Rembang menyatakan,  sungguh amat menarik menulusuri siroh (sejarah) ulama terdahulu. Sebuah peringatan memang diperlukan, haul adalah wujudnya. Esensinya bukan pada acara haul itu, namun ruh untuk mengenang sekaligus meneladani riwayat hidup beliau.
”Membaca kisah ulama besar sungguh membuat hati tergugah untuk belajar dari mereka, tentang kiprah dan karya-karyanya,” tuturnya.
            Demikianlah jika seseorang pernah berjasa besar dalam kehidupan. Ia membawa manfaat selamanya. Abadi sebagaimana difirmankan Allah, bahwa kekasihnya (waliyullah) adalah orang yang syahid, meski fisiknya telah wafat, dia tetap hidup di sisi Tuhannya dan membawa berkah bagi umat manusia di bumi. 

Da’i Abadi dan Pelopor
Peran Kiai Soleh Darat dalam menyebarkan Islam tak hanya semasa hidupnya maupun warisan pesantrennya. Sebab murid-muridnya adalah para pendiri organisasi Islam, pengasuh pesantren dan pendakwah agama yang terus menghasilkan kader-kader da’i berikutnya. Sampai akhir zaman. 
            Murid-muridnya itu, diantaranya, KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Mahfudh Termas Pacitan (pendiri Ponpes), KH Idris (pendiri Ponpes Jamsaren Solo), KH Sya’ban (ahli falak dari Semarang), Penghulu Tafsir Anom dari Keraton Surakarta, KH Dalhar (pendiri Ponpes Watucongol, Muntilan), dan KH Munawir (Krapyak Yogyakarta). Juga KH Abdul Wahab Chasbullah Tambak Beras, KH Abas Djamil Buntet CIrebon, KH Raden Asnawi Kudus, KH Bisri Syansuri Denanyar dan lain-lainnya. Bisa dikatakan, dia adalah embahnya para ulama di Jawa karena menjadi guru dari guru ulama yang ada sekarang.
Semasa hidupnya, selain mengajar masyarakat awam, Kiai Soleh Darat juga aktif mengisi pengajian di kalangan priyayi. Diantara jamaah pengajiannya adalah Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara.
RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Alquran. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat.  Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah.
RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Alquran diterjemahkan.  Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Alquran. Mbah Shaleh Darat melanggar larangan ini. Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf  Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.
Kitab tafsir dan terjemahan Alquran itu diberi nama Faidh ar-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang.
Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”
Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya: Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya (QS al-Baqarah: 257).
Dalam banyak suratnya kepada sahabat Belandanya, JH Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya”. Abendanon mengutip tulisan berbahasa Belanda sebagai “Door Duisternis Toot Licht.” Oleh Armijn Pane kalimat tersebut diterjemahkan “Habis Gelap Terbitlah Terang” untuk menjadi judul buku kumpulan surat-surat Kartini.
Kitab itu berukuran folio, dicetak pertama kali di Singapura pada tahun 1894. Terdiri dari dua jilid, kitab ini menjadi referensi pribumi Jawa yang bermukim di tanah melayu. Bahkan kaum muslim di Pattani, Thailand Selatan juga memakai kitab ini.
Karya-karyanya yang lain adalah kitab Majmu’ah al-Syariah al-Kafiyah li al-’Awwam (Buku Kumpulan Syariat yang Pantas bagi Orang Awam), dan kitab Munjiyat (Buku tentang Penyelamat) yang merupakan saduran dari kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali, Al-Hikam (Buku tentang Hikmah), Lata’if al-Taharah (Buku tentang Rahasia Bersuci), Kitab Manasik al-Hajj, Kitab Pasalatan, Tarjamah Sabil al-’Abid ‘Ala Jauharah al-Tauhid, Mursyid al-Wajiz, Minhaj al-Atqiya’, serta kitab hadis Al-Mi’raj, dan Asrar al-Sholah.
Hingga kini Karya-karya beliau masih dibaca di pondok-pondok pesantren dan majelis taklim  di Jawa. Sebagian besar bukunya sampai sekarang terus dicetak ulang oleh Penerbit Toha Putera, Semarang.

Sederhana sekaligus Progresif
Sebagaimana umumnya ulama, Kiai Soleh Darat sangat bersahaja dan tawadhu. Akhlaknya sangat terjaga dari kesombongan. Dalam semua kitabnya, ia selalu selalu merendah dan menyebut dirinya sebagai orang Jawa awam yang tak faham seluk-beluk Bahasa Arab.
Di prolog kitabnya selalu tertulis  “buku ini dipersembahkan kepada orang awam dan orang-orang bodoh seperti saya”. Dalam pendahuluan Terjemahan Matan al-Hikam tertera: “ini kitab ringkasan dari Matan al-Hikam karya al-Allamah al-Arif billah Asy-Syaikh Ahmad Ibnu Ata’illah. Saya ringkas sepertiga dari asal agar memudahkan orang awam seperti saya. Saya tulis dengan Bahasa Jawa agar cepat dipahami oleh orang yang belajar agama atau mengaji”.
Bahkan, meski dia keturunan Nabi Muhammad (sayyid/habib), yang nasabnya dari Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) putra Raden Rahmat (Sunan Ampel), tak pernah dikatakannya. Baginya, orang dihormati karena ilmu dan amalnya. Bukan garis keturunannya.
Kiai Soleh Darat selalu menekankan kepada muridnya agar giat menuntut ilmu. Dia berkata: “Inti sari Alquran adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat”.
Dia memperingatkan, orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan dalam keimanannya, maka akan jatuh pada keyakinan sesat. Sebagai misal, paham kebatinan yang mengajarkan bahwa amal yang diterima Allah adalah amaliyah hati yang dipararelkan dengan paham Manunggaling Kawulo Gusti-nya Syekh Siti Jenar dan berakhir tragis pada perilaku taqlid buta (anut asal ikut). Iman orang taklid tidak sah menurut ulama muhaqqiqin (ahli hakikat), demikian tegasnya.
Hal itu tersurat dalam Kitab Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘Ala Jauharah al-Tauhid-nya. Lebih jauh dia peringatkan masyarakat tak terpesona oleh orang yang mengaku memiliki ilmu hakekat tapi meninggalkan syariat seperti sholat dan amalan fardhu lainnya. Kemaksiatan berbungkus kebaikan tetap saja namanya kebatilan, demikian inti petuah (fatwa) beliau.

Ahli Ilmu Kalam
Kiai Soleh Darat dikenal sebagai ahli ilmu kalam. Ia adalah pendukung teologi Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturudi. Dalam kitabnya Tarjamah Sabil al-’Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid dia mengemukakan penafsirannya atas sabda Rasulillah SAW mengenai terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan sepeninggal Beliau, dan hanya satu golongan yang selamat.
Menurutnya, yang dimaksud Nabi Muhammad SAW dengan golongan yang selamat adalah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan oleh Rasulillah SAW, yaitu melaksanakan pokok-pokok kepercayaan Ahlussunah Waljamaah Al-Asy’ariyah, dan Maturidiyah.
Sebagai ulama yang berpikiran maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru bertawakal, menyerahkan semuanya pada Allah. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatan.
Tradisi berpikir kritis dan mengajarkan ilmu agama terus dikembangkan hingga akhir hayatnya. Saleh Darat wafat di Semarang, tanggal 18 Desember 1903/28 Ramadhan  1321 H dalam usia 83 tahun.
Kini, nama Darat tetap lestari dan dijadikan prasasti nama kampung, Nipah Darat dan Darat Tirto. Berada di wilayah Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara.

                               Gambar komplek Makam Mbah Sholeh Ndarat



(ichwan)

Read More >>

Hidangan Populer Warkop Pusat

Copyright 2011 @ Warkop Mbah Lalar