BALADA SEORANG SEKRETARIS..

Posted in Senin, 30 Mei 2011
by Unknown



Meskipun satu rumpun bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia sering memiliki perbedaan, baik dalam pengucapan maupun maknanya. Sudah banyak cerita tentang perbedaan tersebut.

Berikut ini ada sebuah cerita tentang seorang sekretaris bernama Aisyah asal Malaysia. Ia bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk negara Malaysia. Salah satu pekerjaan yang sering ia lakukan adalah membuatkan kopi untuk bapak Duta Besar.

Suatu hari Aisyah bertanya kepada salah seorang staf kedutaan tg bahasa Indonesianya "milk" atau susu kental untuk mencampur dg kopi. Orang Malaysia memang menyebutnya susu kental itu dg "milk" sama seperti bahasa Inggrisnya. Staf kedutaan dg iseng menjawab bahwa milk dalam bhs Indonesia adalah "tetek." Maka, sejak saat itu dalam benak Aisyah tertanam kata tetek yang artinya milk atau susu kental.

Suatu pagi Pak Dubes memanggil Aisyah k ruangannya. "Aisyah, tolong bikinkan saya kopi panas ya!" Aisyah menjawab dngan tanpa ekspresi bersalah apapun, "Apakah kopinya dicampur dengan tetek pak?" Pak Dubes: "haaahhh..."
Read More >>

Islam Masuk ke Nusantara Saat Rasulullah SAW Masih Hidup

Posted in
by Unknown
  • Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beb...erapa perguruan tinggi.

  • Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam?

    Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

    Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

    Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

    Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

    Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.

    Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

    Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.

    =Temuan G. R Tibbets=
    Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.

    “Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.

    Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

    Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

    Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.

    Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara
    Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.

    Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

    Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.

    Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

    Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.

    Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.

    Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.

    Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai




    Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.

    Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seo...rang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).

    Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).

    Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

    Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.

    Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.

    Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.

    Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.

    Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).

    Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.

    Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.

    Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.

    Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu.

    Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.

    “Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu,” ujar Mansyur yakin.

    Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat (632 M).

    Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.

    =Gujarat Sekadar Tempat Singgah=
    Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.

    Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.

    Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.

Read More >>

Tipuan Politik Syiah Rafidhoh Kepada Kaum Muslimin

Posted in
by Unknown



Apa yang hangat terjadi di dunia Islam, yaitu isu nuklir Iran membuat sebagian tokoh-tokoh dan masyarakat islam menyambut baik, memujinya bahkan mengatuminya. Hal ini dapat memicu dan mengakibatkan tertipunya banyak kaum muslimin (karena ketidaktahuannya dan kondisi mereka saat ini) bahkan sampai-sampai memeluk syi’ah, sebagaimana yang terjadi pada saat revolusi Iran dahulu.

Sehingga perlu kami ungkapkan di sini beberapa tanggapan berupa fakta sejarah yang terjadi, serta hal-hal yang patut dipertanyakan seputar isu tersebut. Harapan kami agar kaum muslimin tidak tertipu dengan tipuan orang-orang Rafidhoh itu.

Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak untukdisembah
kecuali hanya Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan akubersaksi
bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya.

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.Seburuk-buruk
perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap perkarayang diada-adakan
adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiapkesesatan ada
di neraka.

Sungguh hari ini kita hidup ditengah perpecahan dan perselisihan yangdisebabkan
oleh firqoh-firqoh di dalam tubuh kaum muslimin, maka sungguhbenar
sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
"Artinya : Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga
golongansemua masuk neraka kecuali satu. Beliau ditanya : `Siapa mereka
wahai Rasulullah?’ Jawaban beliau : `Mereka adalah orang-orang yang
berada diatas apa yang aku dan sahabatku berada di atasnya"(HR. Abu Dawud 4586, Tirmidzi 2640, Ibnu
Majah 3991 dan Ahmad 2/332.)

Diantara beberapa kejadian menarik dan berbagai sandiwara hari ini
adalah gertakan pemerintah Iran (syiah imamiyah rafidhoh) yang seakan-akan
merekalah pahlawan pemberani yang berani menentang hegemoni Amerika
dengan senjata Nuklirnya. Kemudian dengan serta merta pers asing dan
pers negeri Iran mencuatkan perseteruan ini.

Sebenarnya udara dan aroma apakah ini? Udara segarkah atau hanya udara
danaroma yang membawa penyakit karena sebelumnya melewati virus penyakit
yang amat dalam? Dari sebuah kedengkian dan kebencian terhadap Islam
yang murni yang dibawa oleh Nabi dan diteruskan oleh keluarga beserta
para sahabatnyayang diikuti oleh para imam salafusshalih.

Sebagian pemuda muslim di berbagai negeri terkagum-kagum dengan gaya
iran ini. Merekapun dengan mudahnya tertipu oleh teriakan dan gertak
sambal para tokoh seminar dari iran ini.

Padahal sekian banyak nuklir dan rudal yang dimiliki iran sampai saat
ini belum pernah terdengar bom, rudal dan nuklir tersebut menyentuh
Amerika dan Yahudi dua negeri yang begitu rajin memusuhi Islam.

Kalau memang Iran konsisten untuk menentang Amerika dan majikannya
Yahudi, mengapa mereka tidak segera menembakkan roket penjelajah yang
bisa langsung membumi hangus Israel? Mengapa mereka hanya berhenti
sampai pada statemen belaka? Mengapa tidak ada seorang pun anggota
pasukan pengawal revolusi Iran (Pasdaran) yang mendarat di tanah Al-Aqsha
itu dan berjuang bersama dengan umat Islam di Palestina? Lalu bagaimana
dengan sekian banyak kerjasama Iran dengan Amerika baik dalam perdagangan
maupun masalah politik? Mereka akan katakan kami berjuang melawan
yahudi dengan hizbullah di libanon. Jawaban diplomatis yang ingin
mengelabui kaum muslimin, jelas kalau kita saksikan sendiri hizbullah
sama sekali tidak pernah ke palestina mereka hanya mempertahankan
wilayahnya di libanon dimana penduduknya adalah pengikut agama syiah.

Dan kitapun tidak pernah melihat pembelaan mereka terhadap kaum muslimin
atau ajakan jihad selain di palestina, apakah hanya palestina negeri
kaum muslimin yang tertindas? Itupun sumbangan mereka di Palestina
hanya melalui gertakan-gertakan dan teriakan demonstrasi.

Lihatlah dahulu bagaimana Afghanistan tertindas oleh Soviet, adakah
pasukan Iran disana? Membantu kaum muslimin? Bahkan orang-orang syiah
berpartisipasi bersama quburiyyun di Afghanistan membunuhi
muwahidin kaum muslimin Mujahidin Ahlussunnah yang berusaha menegakkan
hukum Islam diwilayah Kunar. Kemudian ketika Taliban masuk dan berkuasa
kembali kelompok syiah bergabung dengan pasukan Dostum dengan Aliansi
Utaranya yang didukung Amerika untuk menjatuhkan Taliban dan membunuhi
mereka. Lihatlah bagaimana peristiwa Mazar e Syarif pengepungan sebuah
penjara dimana Mujahidin Ahlussunnah dari berbagai negara Islam seperti
Saudi, Pakistan, bahkan Mujahidin Ahlussunnah dari Amerika berjuang
mati-matian dikepung tentara Amerika dan Aliansi Utara bersama orang-orang
syiah rafidhoh.

Kemudian Bosnia, ketika ummat Islam dibantai. Kita tidak pernah mendengar
pemerintah iran mengirin tentara atau bantuan kesana. Atau ada sukarelawanjihad
dari iran? Kenyataannya tidak ada sama sekali, begitu juga Moro diFilipina,
Kashmir di India, Kosovo di Balkan adakah pemerintah iran membantu
dengan tentara atau sukarelawan jihadnya? Atau di Indonesia tepatnya
di kepulauan Maluku adakah sumbangan bantuan dari iran? Chechnya direbut
Rusia pun Iran sepi-sepi saja. Dan yang lebih manisnya lagi sikap
mereka di Irak ketika kaum muslimin dilumat habis oleh Amerika justru
mereka malah memihak Amerika dan berada dibawah payung demokrasi yang
Amerika buat. Tokoh spiritual yang mereka bangga-banggakan Muqtada
Al Sadrternyata sama hanya tokoh tukang gertak yang ketika kepentingannya
diakomodir dia diam bahkan memihak Amerika membunuhi kaum muslimin
dan Ahlussunnah di Irak. Padahal sebelumnnya dia adalah tokoh yang
paling berkoar-koar membela Makam Imam Ali di Irak.

Dari semua rudal Nuklir dan bom-bom canggih yang dimiliki Iran dimanakah
semua itu? Padahal Amerika dan Yahudi yang kata mereka Big Satan sudah
bercokol di sekeliling bahkan di depan hidung mereka. Adakah satu
rudal yang keluar ke Yahudi atau Amerika? Atau hanya basa basi semu
belaka. Jadi sebenarnya apakah ini semua? Sebuah sandiwara atau lagu
lama yang diulang-ulang. Atau karena di negeri-negeri tersebut tidak
ada pengikut agama syiah, sehingga tidak perlu dibela?

Sebenarnya berbagai contoh di atas sudah lama terjadi di dunia Islam,
dimana Syiah Rafidhoh memang selalu bercokol dan menghianati kaum
muslimin. Namun mereka dengan baju dusta (taqiyah) selalu tampil seakan-akan
sebagai pahlawan dan pembela kaum muslimin.

Lihatlah bagaimana mereka (syiah) tampil seakan-akan membela Husein
bin Ali dan akan membaiatnya yang membuat Husein bin Ali tertipu dengan
kedustaan mereka ini. Ketika itu beliau diundang oleh orang-orang
syiah Kufah yang mengaku diri sebagai Syiah nya (pendukung Husein
bin Ali) dan mereka mengaku mempunyai belasan ribu orang yang siap
membela Husein

Tapi ketika Husein akhirnya terkepung oleh pasuka Ubaidillah bin Ziyad
tak satupun orang yang tadinya mengundang beliau, tampil membela mereka.
Justru cenderung cuci tangan, sehingga menyebabkan terbunuhnya Husein
bin Ali. Seperti yang dikisahkan oleh sejarawan syiah sendiri Al Mas’udi,
Husein bin Ali Radiyallahu ‘anhu sebelum syahid bahkan sempat berdoa

"Ya Allah turunkanlah keputusanMu atas kami dan atas orang-orang
yang telah mengundang kami, dengan dalih mereka akan mendukung kami,
tetapi kini ternyata mereka membunuh kami"
(Tarikh Al Ya’qubi II/241-242, Muruj Adz Dzahab II/64
oleh Al Mas’udi AsySyi’i.)

Lihatlah bagaimana syiah generasi awal menipu Husein bin Ali radiyallahuanhu
dengan mengatakan mereka adalah pembela Husein bin Ali namun meninggalkannya
begitu saja. Itulah kenyataan yang dilakukan mereka, kemudian setelah
itu sampai saat ini mereka memakai topeng taqiyah kembali dengan basa-basi
berusaha menyesali pembunuhan Husein dengan membuat acara-acara pemukulan
dan melukai diri, yang itu sendiri tidak pernah ada dalam ajaran Islam.
(Al Mas’udi III/70.)

Selanjutnya dimasa Dinasti Abbasiyah dimulai dimasa daulah buhaiwiyah
mereka masuk menjadikan dinasti abbasiyah sebagai boneka belaka untuk
menyebarkan dan mengukuhkan faham syiah rafidhoh mereka di masa itu
dinasti buhaiwi inilah yang menurut ulama syiah Muhammad husein Al-Muhdhaffari
sebagai dinasti yang memang dilahirkan untuk berkhidmat kepada syiah
itsnaa asyariyah. Yang isi aliran ini tidak lebih dari aqidah menyimpang
dan cercaan dan makian kepada para sahabat yang akhirnya menjadi kebiasaan
pada saat itu.

Kemudian di masa kekuasaan Mongol (Tartar) menurut Al Muhdhaffari,
masa-masa kekuasaan Mongol di iran yang dimulai oleh Hulagu khan dan
diakhiri oleh Abu Said (650-736H) adalah termasuk masa keemasan bagi
syiah Iran.

Ketikah Hulagu menyerbu Baghdad menaklukkannya, menghancurkan dan
mengakhiri Daulah Abbasiyah orang-orang syiah dan dua masyhad kesemuanya
selamat, berkat terkabulnya permintaan ulama syiah yang diajukan kepada
Hulagu agar keamanan mereka dijamin, sementara lebih dari dua juta ahlussunnah saat itu dibunuh dan digorok
di Baghdad.

Informasi yang ditulis oleh Muhdaffari tersebut semakin mengukuhkan
penghianatan Syiah rafidhoh dengan tokohnya Nashiruddin At Thusi dengan
keruntuhan Baghdad, At Thusi inilah sang pahlawan Syiah yang diangkat
sebagai penasehat Hulagu sebelum menyerbu Baghdad padahal sebelumnya
Hulagu sempat ragu menyerbu Baghdad karena peringatan dari Husamuddin
penasihatnya. Kerutuhan Baghdad ini pun akibat dari berhasilnya Ibnu
Alqami (seorang syiah) yang mengusulkan kepada Al Mustashim khalifah
saat itu untuk mengurangi jumlah tentara dengan dalih penghematan
anggarannegara yang jelas-jelas mengurangi pertahanan Daulah Abbasiyah.

Kedua tokoh pahlawan syiah (At Thusi dan Ibnu Alqami) inilah yang
ketika baghdad banjir darah kaum muslimin ketika rakyat dibunuh, ulama
digantung, khalifah digorok, justru naik menjadi Menteri Urusan Wakaf
dan bebas menghirup udara segar diatas aroma darah kaum muslimin.

Generasi selanjutnya di masa Dinasti Ash Shafawi dimana Syah Ismail
naiktakhta dan memaksakan ajaran Syiah kesegenap negeri-negeri kaum
muslimin dengan paksaan pedang dengan mengancam pembunuhan dan gantung
bagi siapa yang tidak menganut ajaran Syiah seperti yang dituturkan
oleh Dr Musa Al-Musawi dalam As Syiah wa Tashhih hal
70-71.

Kemudian Muhdaffari melanjutkan bagaimana saat itu dinasti shafawi
menjalin hubungan dengan Eropa menghadapi musuh bersama yaitu Daulah
Turki Ustmani salah satu representasi kekhalifahan Islam saat itu karena mereka Dinasti Shafawi sepakat memberikan pulau Hurmuz dan
Kamberun asal Kristen Eropa membantu mereka melawan Daulah Turki Ustmani
kerjasama ini dilanjutkan hingga masa Syah Abbas berkuasa. Bahkan
Paus Paulus V mengirimkan surat ucapan selamat atas kemenangan Syah
Abbas atasorang-orang Uzbek yang Muslim sambil mendorongnya untuk
memerangi terus Daulah Turki Ustmani.

Maka lihatlah wahai saudara-saudaraku sejarah panjang generasi penghianat
yang gaya dan tingkah mereka diwarisi oleh para pengikutnya dari masa
kemasa. Maka masih haruskah kita tertipu seperti ketika Khomaini tokoh
syiah imamiyah rafidhoh abad ini menggulingkan Syah Reza Pahlevi yang
syiah juga dengan revolusinya dengan mengangkat jargon "tidak
barat , tidak timur tapi Islam, tidak syiah tidak sunni tapi Islam"
sehingga tokoh-tokoh dan para pemuda kaum muslimin tertipu dan menyangka
itu kebangkitan Islam, padahal dengan tegas dalam UUD Iran hal 29
disebutkan
"Agama negara Iranialah agama mazhab Ja’fari
12 Imam, dan pasal ini tidak boleh diubah selama-lamanya"

Dimana tokoh-tokoh Muslim Ahlussunnah yang tertipu mendukung Khomaini
pun akhirnya digantung di iran seperti Syeikh Ahmad Mufti
Zadah Syeikh Muhammad Shaleh ad-Dhiya’i (1994), Syaikh
Nashir Saimany (1992) Dr Ali Mudzaffariyan (1992) Syaikh
Maulawi Abd Malik Mulla Zadeh (1996) dan banyak ulama lainnya yang
dibunuh oleh rezim Khomaini, sementara Masjid-masjid Ahlussunnah dihancurkan
dan cleansing ethnic terhadap ahlussunnah di Iran.

Sementara itu sebelumnya pun kita disungguhi bagaimana Syeikh Mahmud
Syalthut dari Al Azhar pernah tertipu dan menfatwakan membolehkan
beribadah seperti Mazhab Syiah Imamiyah namun akhirnya beliau sendiri
dikejutkan oleh pernyataan dari Seorang ulama Syiah Ayatullah Udhma
Al-Khalisi dengan fatwanya

"imam yang dua belas adalah rukun iman, Allah tidak akan
menerima segala amal ummat manusia, kecuali dengan meyakini keimaman
mereka"

Begitu juga Dr Mustafa As Siba’i yang awalnya termasuk dalam tokoh darul taqrib sunni-syiah, akhirnya
pun dikecewakan dengan dialog Palsu ala syiah oleh Abdul Husein Al
Musawi (pengarang dialog fiktif "Sunni-Syiah")
yang begitu dasyatnya mencela sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu.

Lantas dihari-hari ini gembor-gembor mereka dengan rudal nuklirnya
kemudian mencatut nama Hasan Al Bana, Syeikh Ahmad Yasin rahimahumullah
dan lainnya, seakan-akan merekalah sang pahlawan Islam, sementara
di Irak dan Afghanistan negeri yang berbatasan langsung dengan Iran
masih kita saksikan Amerika bercokol dengan tenangnya, bahkan hinaan
terhadap Nabi Shallallahu alaihi wa sallam oleh koran-koran dan majalah
di eropa (denmark terutamanya) mengapa mereka Amerika dan Denmark
serta Yahudi) sama sekali tidak takut dengan nuklirnya iran. Lantas
masihkah kita tertipu dengan gertak sambel ala syiah rafidhoh?

"Sebentar lagi berbagai umat akan bersekongkol untuk menindas/menggerogoti
(mengeroyok) kalian, sebagaimana para pemakan akan ramai-ramai menyantap
hidangan mereka. Maka ada salah seorang sahabat yang berkata: Apakah
hal itu terjadi karena jumlah kami sedikit? Beliau menjawab:
Bahkan kaliankala itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih (lemah)
bak buih airbah, dan sungguh-sungguh Alloh akan mencabut dari dada
musuh-musuh kalianrasa segan terhadap kalian, dan Alloh benar-benar
akan mencampakkan kedalam hati kalian rasa wahan (lemah).

Maka ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan
wahn? Beliau menjawab: Rasa cinta terhadap dunia dan takut akan kematian."
Maka janganlah tergesa-gesa dan mudah tertipu oleh politik Koran wal
Majalah dan tergesa-gesa serta kagum atas retorika-retorika palsu
yang mudah saja dibuat oleh kaum munafiqin.

"Wahai Nabi berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang
munafiq dan bersikap keraslah pada mereka. Tempat mereka ialah neraka
Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya."
(At Taubah :73).

Kembalilah kepada Al Qur an dan Sunnah sesuai pemahaman Nabi shallallahualaihi
wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya. Perhatikanlah kaummuslimin
tanamkanlah keimanan dengan tarbiyah yang sunnah bersihkankanlah aqidah
mereka dari kesyirikan dan ajaran-ajaran bid’ah, hingga hati-hati
mereka dipenuhi Tauhid jauh dari wahn yang selama ini menjangkiti
kaum muslimin, sehingga mereka jauh dari ilmu, amal dan cahaya Iman.

Ya Allah, tunjukkanlah kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah
kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kebatilan itu
sebagai sebuah kebatilan, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, saya bersaksi bahwa
tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, saya memohon ampun
danbertaubat kepada-Mu.

Wallahu A’lam
Read More >>

AYAT-AYAT IRRASIONAL DALAM ALKITAB

Posted in
by Unknown






Berikut ini beberapa contoh ayat-ayat Alkitab yang tidak masuk akal (irrasional), yang menunjukkan bahwa ayat-ayat di bawah ini sama sekali bukan firman Tuhan, tetapi merupakan karya tulis tangan manusia yang kurang profesional: 
1. Anak lebih tua 2 tahun daripada aya...hnya. 

Dalam 2 Tawarikh 21:5,19-20, dikatakan bahwa Yoram berusia 32 tahun pada waktu menjadi raja dan memerintah Yerusalem, lalu meninggal karena penyakit pada tahun kedelapan masa pemerintahannya, yang berarti ia meninggal pada usia 40 tahun. Sementara itu, dalam 2 Tawarikh 22:1-2, setelah Yoram meninggal, ia digantikan oleh Ahazia, anaknya yang berusia 42 tahun. Jadi, Ahazia lebih tua 2 tahun daripada ayahnya. 
Yoram berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem ... Beberapa waktu berselang, kira-kira sesudah lewat dua tahun, keluarlah ususnya karena penyakitnya itu, lalu ia mati dengan penderitaan yang hebat. Rakyatnya tidak menyalakan api baginya seperti yang diperbuat mereka bagi nenek moyangnya. Ia berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia meninggal dengan tidak dicintai orang. Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja. (2 Tawarikh 21:5,19-20) 
Lalu penduduk Yerusalem mengangkat Ahazia, anaknya yang bungsu, menjadi raja menggantikan dia, karena semua anaknya yang lebih tua umurnya telah dibunuh oleh gerombolan yang datang ke tempat perkemahan bersama-sama orang-orang Arab. Dengan demikian Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, menjadi raja. Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri. (2 Tawarikh 22:1-2) 

2. Usia 11 tahun sudah punya anak.
Dalam 2 Raja-raja 16:2, dikatakan bahwa Ahas berumur 20 tahun ketika naik menjadi raja dan memerintah kerajaan selama 16 tahun. Sepeninggal Ahas, tahta kerajaan diganti oleh Hizkia, anaknya (2 Raja-raja 16:20). Smentara itu, dalam 2 Raja-raja 18:2, dijelaskan bahwa umur Hizkia ketika menggantikan ayahnya menjadi raja adalah 25 tahun. Jadi, dalam usia 11 tahun Ahas sudah punya anak??!! 
Ahas berumur dua puluh tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN, Allahnya, seperti Daud, bapa leluhurnya, (2 Raja-raja 16:2) 
Kemudian Ahas mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di kota Daud. Maka Hizkia, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. (2 Raja-raja 16:20) 
Maka dalam tahun ketiga zaman Hosea bin Ela, raja Israel, Hizkia, anak Ahas raja Yehuda menjadi raja. Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abi, anak Zakharia. (2 Raja-aja 18:1-2) 

3. Tuhan salah hitung.
Dalam Kejadian 46:8-15, daftar nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir berjumlah 34 nama, tetapi pada ayat 15 disebutkan: "Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah 33 jiwa." Pakai Tuhan tidak pandai berhitung?? 
Inilah nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir, yakni Yakub beserta keturunannya. Anak sulung Yakub ialah Ruben. Anak-anak Ruben ialah Henokh, Palu, Hezron dan Karmi. Anak-anak Simeon ialah Yemuel, Yamin, Ohad, Yakhin dan Zohar serta Saul, anak seorang perempuan Kanaan. Anak-anak Lewi ialah Gerson, Kehat dan Merari. Anak-anak Yehuda ialah Er, Onan, Syela, Peres dan Zerah; tetapi Er dan Onan mati di tanah Kanaan; dan anak-anak Peres ialah Hezron dan Hamul. Anak-anak Isakhar ialah Tola, Pua, Ayub dan Simron. Anak-anak Zebulon ialah Sered, Elon dan Yahleel. Itulah keturunan Lea, yang melahirkan bagi Yakub di Padan-Aram anak-anak lelaki serta Dina juga, anaknya yang perempuan. Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah tiga puluh tiga jiwa. (Kejadian 46:8-15)
Read More >>

Nasehat Penyejuk Hati

Posted in Minggu, 29 Mei 2011
by Unknown
 Oleh: Anggota WLML





1. Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.

2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang, sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.

3. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.

4. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk membeli hadiah-hadiah.

5. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.

6. Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.

7. Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.

8. Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang itu pula.

9. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi.

10. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.

11. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.

12. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.

13. Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.

14. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.

15. Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika dan masih tetap peduli padanya.

16. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya dan kamu harus melepaskannya.

17. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan tetesan air mata.

18. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya.

19. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi yang lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya.

20. Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada masa lalu yang dilupakan, kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.

21. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

22. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu! Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh di hatimu.

23. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.

24. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum – jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.
Read More >>

PENDIRI SEKTE WAHHABI PUN MEMBOLEHKAN YASINAN DI KUBURAN

Posted in
by Unknown
Oleh Anggota WLML
 
 
[ محمد بن عبدالوهاب ]

ذكر محمد بن عبد الوهاب في كتابه أحكام تمني الموت [ ص75 ] مايفيد وصول ثواب الأعمال من الأحياء إلى الأموات ومن ضمنها قراءة القران للأموات حيث ذكر:

((وأخرج سعد الزنجاني عن أبي هريرة مرفوعا من دخل المقابر ثم قرأ فاتحة الكتاب وقل هو الله أحد والهاكم التكاثر ثم قال أني جعلت ثواب ما قرأت من كلامك لأهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات كانوا شفعاء له إلى الله تعالى

وأخرج عبد العزيز صاحب الخلال بسنده عن أنس مرفوعا من دخل المقابر فقرأ يس خفف الله عنهم وكان له بعدد من فيها حسنات
))

انتهى

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB DALAM KITABNYA "AHKAM TAMANNIL AL MAUT " HALAMAN 75 :MENGATAKAN APA YANG MEMBERI PENGERTIAN BAHWA BISA SAMPAINYA PAHALA AMAL IBADAH DARI ORANG HIDUP UNTUK ORANG-ORANG MATI TERMASUK DENGAN BACAAN AL QUR'AN,KETIKA DIA MENGATAKAN DALAM KITAB TERSEBUT:
"SA'AD AZZANJANI MERIWAYATKAN HADITS DARI ABU HUROIROH RA DENGAN HADITS MARFU'

:BARANG SIAPA MEMASUKI PEKUBURAN KEMUDIAN MEMBACA FATIHAH,QUL HUWALLOHU AHAD,ALHA KUM ATTAKATSUR KEMUDIAN DIA BERKATA :YA ALLAH AKU MENJADIKAN PAHALA BACAAN KALAMMU INI  UNTUK AHLI KUBUR DARI ORANG-ORANG MU'MIN,MAKA AHLI KUBUR ITU AKAN MENJADI PENOLONGNYA NANTI DI HADAPAN ALLAH SWT.....

ABDUL AZIZ SHAHIB AL KHOLLAL MERIWAYATKAN DENGAN SANADNYA DARI ANAS DALAM HADITS MARFU'... 

NABI SAW BERSABDA:

BARANGSIAPA YANG MEMASUKI PEKUBURAN KEMUDIAN DIA MEMBACA YASIN MAKA ALLAH AKAN MERINGANKAN SIKSAAN MEREKA,DAN DIA AKAN MENDAPATKAN PAHALA AHLI KUBUR TERSEBUT......
SELESAI
Read More >>
Sebelum membaca risalah yang kecil ini, ada baiknya Saudara-saudaraku mengheningkan hati sejenak dan membuang doktrin-doktrin ta'ashubiyah kemazhaban agar dapat membaca risalah ini nantinya dengan sikap yang netral dan pikiran yang jernih.

Ada sebuah fenomena yang sangat pelik telah mendorong saya untuk menulis sebuah risalah sederhana ini dimana sebagian orang telah menjadikan tarku an-Nabi (ترك النبي ) atau dalam bahasa kita (hal-hal yang ditinggalkan atau tidak dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) itu sebagai hujjah (alasan hukum) untuk mengharamkan amal ibadah orang lain.

Pertanyaannya adalah apakah benar jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan atau tidak melakukan suatu perkara, lantas menjadi haram hukumnya bagi kita untuk melakukan suatu perkara itu? Saya harap Saudara-saudaraku sekalian memahami pertanyaan saya itu sebab di situlah inti dari pembahasan kita ini.

Sebelum kita menjawab pertanyaan di atas ada baiknya kita memahami dahulu sebuah pertanyaan yang lebih mendasar lagi, apakah benar jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melakukan sesuatu, berarti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin memberitahukan kita bahwa sesuatu itu haram?

Jawabannya tentu saja tidak, karena di sana ada sebab-sebab lain mengapa Rasulullah meninggalkan sesuatu yang berarti bukan serta-merta sesuatu yang ditinggalkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu haram dilakukan oleh kaum muslimin.

Di antaranya adalah:
1. Terkadang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan sesuatu hanya karena adat atau kebiasaan saja, seperti yang pernah terjadi ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat bertamu ke suatu kaum dimana mereka disuguhkan daging dhob (biawak padang pasir) panggang dan kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membentangkan tangannya yang mulia untuk mengambil daging itu, dan serta merta sahabat mengatakan wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu adalah daging dhob. Langsung Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menarik tangannya kembali dan tidak jadi mencicipi dhob tersebut. Kemudian para sahabat bertanya, "Apakah ianya haram wahai Rasulullah?"
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Tidak, hanya saja daging dhob ini tidak ada di tempatku maka aku merasa tidak suka untuk memakannya. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh para sahabat untuk melahap daging itu dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat dan membiarkan mereka..

Dari riwayat yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim di atas, sangat jelas bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan memakan daging dhob bukan karena ingin memberitahukan bahwa daging dhob itu haram, tetapi karena sebab lain yaitu beliau tidak suka dengan daging dhob.

2. Terkadang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan sesuatu karena takut sesuatu itu diwajibkan kepada umatnya. Seperti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan sholat tarawih di mesjid justru ketika para sahabat berkumpul untuk mengikuti tarawehnya dari belakang.

3. Terkadang pula Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan sesuatu karena tidak terpikir atau terlintas dibenaknya untuk melakukan sesuatu itu. Seperti dulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam khutbah jum'at hanya di atas sebuah tunggul kurma dan tidak pernah terlintas sebelumnya dalam benak Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membuat sebuah mimbar sebagai tempat berdirinya ketika khutbah. Kemudian para sahabat mengusulkan untuk membuat mimbar, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pun menyetujuinya sebab memang itu sebuah usulan yang baik dan membuat semua jama'ah dapat mendengar suara Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

4. Terkadang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan sesuatu karena sesuatu itu bebas boleh dikerjakan dan boleh tidak dikerjakan semisal ibadah-ibadah tathowwu' seperti sedekah, zikir, sholat dhuha, tilawah qur'an dan sebagainya. Ibadah-ibadah ini jika ditinggalkan tidak mengapa dan jika dikerjakan sebanyak-banyaknya maka termasuk sebagaimana yang dikatakan dalam keumuman ayat:وافعلوا الخير لعلكم تفلحون (الحج:77

…dan lakukanlah kebajikan agar kamu beruntung. (Al-Hajj:77)

Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melakukan sholat dhuha setiap hari. Bukan berarti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin memberitahukan kepada kita bahwa sholat dhuha tiap hari itu haram. Begitu pula zikir selepas sholat, terkadang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkannya dengan berbagai alasan seperti perang, menunaikan hak kaum muslimin dan sebagainya. Bukan berarti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin memberitahukan kepada kita bahwa melakukan zikir setiap kali selesai sholat adalah haram.

5. Pernah juga Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan sesuatu karena sesuatu itu adalah perkara sensitif yang dikhawatirkan akan menyinggung perasaan kaum Quraisy pada waktu itu sehingga berpengaruh akan menggoyang keimanan mereka yang masih baru. Seperti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah meninggalkan untuk tidak merehab kembali bangunan ka'bah kepada ukuran semula sebagaimana yang pernah dibangun Nabi Ibrahim As sebab khawatir banyak kaum muslimin Quraisy yang masih baru keislamannya pada waktu itu akan berubah hatinya kembali kepada kekafiran.


6. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam juga meninggalkan untuk menulis hadits-hadits beliau di masa hidupnya karena takut tercampur dengan ayat-ayat Alquran yang juga sedang disuruh untuk menulisnya di daun-daun, tulang-tulang, batu-batu dan pelepah kurma. Ini bukan berarti menulis hadits-hadits Nabi Saw itu haram hukumnya. Dan buktinya sepeninggal Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan setelah Alquran dibukukan, kaum muslimin bersepakat untuk menuliskan dan membukukan hadits-hadits Nabi Muhammad Saw.

Dari sedikit contoh di atas dapat kita jawab pertanyaan di awal risalah ini bahwa jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan atau tidak melakukan suatu perkara maka tidak menjadi haram hukumnya bagi kita untuk melakukan suatu perkara itu.

Berikut saya sertakan dalil dari Alquran dan sunnah akan pernyataan saya di atas:
1. Biasanya untuk menunjukkan sesuatu itu haram, Alquran dan sunnah menggunakan lafazh-lafazh larangan, tahrim atau ancaman siksa ('iqob), seperti:
ولا تقربوا الزنا...(الإسراء:32
…dan janganlah engkau dekati zina…(Al-Isra:32)

188:ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل... (البقرة
…dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan cara yang batil…(Al-Baqarah:188)

: حرمت عليكم الميتة و لحم الخنزير...(المائدة:3
Diharamkan atasmu bangkai dan daging babi…(Al-Maidah:3)

قال صلى الله عليه و سلم: من غش فليس منا (رواه مسلم
Rasulullah Saw bersabda:"Siapa yang berdusta maka bukan daripada golongan kita."

Dari nash-nash di atas, para ulama mengistimbath hukum bahwasanya zina, memakan harta orang lain secara batil, memakan bangkai dan babi serta berbohong adalah haram. Dan tidak pernah di dalam istimbath hukum, para ulama kita menggunakan tark Nabi (sesuatu yang ditinggalkan atau tidak dikerjakan Nabi Saw) sebagai hujjah untuk mengharamkan sesuatu.

2. Coba perhatikan ayat dan hadits berikut ini:

وما أتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا...(الحشر:7
…dan apa-apa yang didatangkan Rasul kepadamu maka ambillah dan apa-apa yang dilarang Rasul maka tinggalkanlah…(Al-Hasyr:7)

Dari ayat di atas sangat jelas bahwa kita disuruh meninggalkan sesuatu jika dilarang Rasul, bukan ditinggalkan atau tidak dilakukan Rasul. Coba perhatikan bunyi ayat di atas
وما نهاكم عنه bukan وما تركه.

Kemudian coba perhatikan hadits berikut ini:
قال صلى الله عليه و سلم: ما أمرتكم به فأتوا منه ما ستطعتم وما نهيتكم عنه فاجتنبوه (رواه البخاري
Nabi Saw bersabda: "Apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang maka jauhilah!" (Riwayat Bukhari)

Dari hadits di atas sangat gamblang bahwa bunyi haditsnya "وما نهيتكم عنه" dan bukan
وما تركته فاجتنبوه

3. Bahwasanya para ulama ushul fiqih mendefinisikan sunnah(السنة) sebagai: perkataan (القول), perbuatan (الفعل) dan persetujuan (التقرير) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan bukan tark-nya(الترك) Jadi siapapun yang melakukan sesuatu dan sesuatu itu tidak pernah dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak bisa dikatakan dia telah bertentangan dengan sunnah, sebab tark bukan bagian dari sunnah.

4. Para ulama ushul fiqih telah bersepakat semuanya bahwa landasan hukum (hujjah) untuk menentukan sesuatu itu wajib, sunnah, mubah, haram dan makruh dengan empat landasan hukum yaitu: Alquran, sunnah, ijma' dan qiyas. Dan tidak pernah at-tark dijadikan sebagai landasan hukum (hujjah).


Begitulah cara para ulama kita mengetahui hukum dari sesuatu perkara. Dan saya melihat hanya sebagian kecil saja ulama-ulama yang menggunakan at-tark ini sebagai hujjah. Ulama yang pertama sekali menggunakan at-tark ini sebagai hujjah adalah Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan sekarang diikuti manhaj ini oleh para ulama Arab Saudi dan cara seperti ini tidak pernah dilakukan oleh ulama-ulama salaf sebelum beliau (Imam Ibnu Taimiyah). Ini adalah sebuah kekhilafan yang sangat fatal sebab akan menyebabkan banyak sekali perkara-perkara sunnah lagi baik digolongkan kepada bid'ah hanya karena perkara-perkara itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Ini akan menyempitkan ladang amal dan ibadah bagi kaum muslimin, padahal kita semua sudah tahu bahwa ladang amal dan ibadah itu bagi kaum muslimin sangat luas sampai-sampai seluruh perkara yang bernilai manfaat dan diniatkan untuk Allah adalah ibadah dan seluruh hamparan bumi ini di anggap sebagai tempat sujud oleh Islam.

Adapun hadits Rasulullah Saw;

وَ شَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
"Dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru dan setiap yang bid'ah adalah sesat" (Riwayat Muslim)

Sama sekali tidak berhubungan dengan pembahasan kita di risalah ini. Sebab hadits tersebut bukan semata-mata mencela hal-hal yang ditinggalkan Nabi Saw (tark Nabi) , akan tetapi mencela perkara-perkara baru yang bertentangan dengan ushul-ushul syar'i yang tidak berhujjah sama sekali seperti adzan ashar sebelum masuk waktu shalat ashar, shalat subuh tiga raka'at, membayar zakat harta hanya 2%, melakukan ibadah haji bukan ke tanah suci mekah, membuat aqidah baru murji'ah, mu'tazilah, jabbariyah dan qadariyah serta membagi tauhid kepada uluhiyah, rububiyah dan asma wa shifat.

Itulah yang dimaksudkan dengan hadits Rasulullah Saw:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa yang melakukan amalan tidak ada atasnya perkara kami maka ia tertolak" (riwayat Muslim)

Coba lihat lafazh yang digunakan pada hadits di atas adalah أمرنا dan bukan فعل النبي Mantuq yang tertulis: siapa yang melakukan amalan tidak ada atasnya perkara kami maka ia tertolak dan mafhumnya tentu saja siapa yang melakukan amalan yang ada atasnya perkara kami maka ia diterima.

Mantuqnya tidak tertulis seperti ini: siapa yang melakukan amalan tidak ada atasnya perbuatan Nabi maka ia tertolak hingga mafhumnya siapa yang melakukan amalan yang ada atasnya perbuatan Nabi maka ia diterima.

Tidak demikian bukan???!!

"Amruna" itu lebih umum dan luas daripada "fi'lun Nabi" sebab amruna mencakup amr Allah dan amr Rasul Saw baik itu diambil dari Alqur'an dan hadits maupun metode istinmbath lainnya yang diambil dari kedua sumber hukum ini seperti ijma', qiyas, mashalih mursalah, istihsan, saddu adz dzara'i, amal ahlu madinah dan segala amruna lainnya yang telah disepakati.

Yah…begitulah manusia, terkadang benar dan terkadang salah. Terlebih dalam ijtihad agama, benarnya diberi pahala dua dan salahnya masih diberi pahala satu. Dan sebagaimana kata Imam Malik radhiyallahu 'anhu: "Setiap kalam itu mungkin ditolak dan mungkin diterima kecuali kalam penghuni kubur ini (mutlak dapat diterima)". Imam Malik sambil mengisyaratkan tangannya kepada maqam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berziarah ke maqam Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam..


Wallahu a'lam.

Disarikan dari kitab Husnut-Tafahumi wa Ad-Darki Limas'alatit-Tark lil imam Abdillah Shodiq Al-Ghumary.

Al-Faqir ila 'afwa rabbih
Juragan Serius Kembali
Pelajar Universitas Al Azhar Kairo Fakultas Syari'ah wal Qanun.
Read More >>

Hidangan Populer Warkop Pusat

Copyright 2011 @ Warkop Mbah Lalar