Uang Bukan Segalanya

Posted in Jumat, 11 November 2011
by Unknown

‎10 Hal Yang Tidak Bisa Di Beli Dengan Uang:

1. Kehilangan waktu
Uang tak akan mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, waktu 24 jam tersebut akan hilang dan tak akan pernah kembali. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menyatakan perhatian dan kasih sayang Anda pada orang tercinta, sebelum waktu itu berlalu.
Read More >>

Hukum Kuburan Didekat Masjid dan Menemboknya

Posted in Kamis, 10 November 2011
by Unknown

Ada sebagian orang berpendapat bahwa menguburkan seseorang di samping atau di depan Masjid adalah haram. Mereka katakan juga bahwa shalat di Masjid yang menghadap kubur adalah haram dan tidak sah. Qubur, menurut mereka, tidak boleh ditinggikan atau pun ditembok secara muthlaq, dan haram menjadikan qubur sebagai Masjid.

Mengenai hal ini, para imam terdahulu yang shalih telah menjelaskan dan berfatwa akan hukum-hukumnya. Dan para imam terdahulu yang shalih itu tidak berpendapat seperti yang sebagian orang katakan di atas.
Read More >>

Resep Soto Banjar

Posted in Rabu, 09 November 2011
by Unknown


“SOTO BANJAR”

Bahan :
... • Ayam Kampung 1 ekor (tips: ayam betina dan jangan terlalu muda, yang montok)
• 1½ liter kaldu ayam

Dalam sebuah kain, bungkus dan ikat dengan rapi :
• 5cm kayumanis
• 3-4 butir kapulaga
• 4-6 butir cengkeh
• 3-4 butir bunga sisir
• ½-1 butir pala

Haluskan :
• 10 siung bawang merah
• 5 siung bawang putih
• garam secukupnya
• merica secukupnya
• segenggam buah kenari yang sudah dikupas (tips: siram buah kenari dengan air panas, agar mudah terkelupas kulit kenari yang keras, buah kenari sebagai pengental kuah soto)
Read More >>

Luqman Sang Pendidik

Posted in Sabtu, 05 November 2011
by Unknown

Kalau ada sesosok ayah yang namanya terukir sebagai nama surat dalam Al-Qur’an, maka Luqman lah orangnya. Lalu kalau namanya terukir karena kualitas didikannya pada anak-anaknya, kurang apalagi bagi ayah masa kini untuk mengambil inspirasi dari gaya mendidik Luqman Al-Hakim?

Menurut Ibnu Katsir, sosok Luqman yang diceritakan adalah Luqman bin Anqa’ bin Sadun. Ada sebuah keterangan yang menyebutkan bahwa Luqman adalah sosok budak Habasyah berkulit hitam. Beliau pun bukan seorang Nabi. Abdullah bin Umar Al Khattab berkata :”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku berkata bahwa Luqman bukanlah seorang nabi, tetapi seorang hamba yang dilindungi Tuhan, banyak bertafakur dan baik keyakinannya. Ia mencintai Allah dan Allah pun mencintainya. Karena itu ia dianugerahi hikmah kebijaksanaan.” (Mutafaq ‘Alaih). Sungguh pun begitu, ia mendapat gelar "Al-Hakim" karena kebijaksanaannya. Dan Allah swt sendiri yang mengatakan bahwa Luqman telah dianugerahi hikmah. "Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji"". (QS Luqman : 12)
Read More >>

KHADAFI in memorian

Posted in Kamis, 03 November 2011
by Unknown


Kediktatoran seorang pemimpin selalu di besar2kan, tetapi ada beberapa fakta utk sekedar informasi yg TIDAK diberitakan tentang KHADAFI, seperti antara lain :

1) Seluruh rakyat Libya menerima bagian dari penjualan minyak Libya yg langsung ditransfer ke rekening bank mereka masing2.

2) Pajak penghasilan bagi rakyat Libya max 12%, bandingkan dg Indonesia yg max 30%.

3) Bank di Libya tdk menganut sistem bunga (syariah), tdk seperti sistem perbankan yg diciptakan oleh Rotschild.

4) Seluruh warga libya memiliki rumah, Khadafi bersumpah bhw org tuanya tdk akan mendptkan rmh sampai semua org di Libya punya rmh.

5) Rumah-rumah di Libya tidak dikenakan hipotek.

6) Jika seseorang ingin bertani, mereka menerima tanah, bibit dan hewan secara gratis.

7) Listrik dan biaya pendidikan di gratiskan!.

8) Setiap orang mendapatkan medis secara gratis - bahkan utk demonstran sekalipun.

9) Setiap pasangan pengantin baru menerima hadiah 60.000 dinar dari pemerintah.

10) Gas di Libya di jual dg harga 0,12 sen per liter.

11) Sebelum khadafi, penduduk Libya yg melek huruf hanya 25%, sekarang 83%.

12) DiLibya, jika warga ingin membeli mobil, pemerintah memberikan subsidi 50% dr harga.

13) Libya tidak memiliki hutang luar negeri, jmlh cadangan sampai 150 milyar dollar, dan skrg dibekukan oleh imperialisme barat.

14) Seorang lulusan sarjana yg belum mendapatkan kerja, negara akan menggajinya dg rata2 gaji profesional sampai dia bekerja.

15) Yang paling PENTING yg tdk bnyk orang tahu, Khadafi adalah Hafidh AL-Quran (hafal Al Qur'an diluar kepala).

Pintar sekali para imperialisme barat (AS n sekutunya) mempengaruhi rakyat Dunia utk membenci Khadafi & para pemimpin negara2 Arab/Muslim.

Memang benar kata pepatah gajah dipelupuk mata tidak terlihat, tetapi kuman diseberang lautan justru terlihat.

Terkadang banyak fakta yang di pelintir oleh media.
وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب

[Sumber : Al-Jazeera 20/10/2011]
Read More >>


Kairo, NU Online
Aksi demonstrasi damai besar-besaran, Kamis, 27 Oktober 2011 berlangsung di Masjid Al Azhar, Kairo, Mesir. Aksi yang diikuti oleh perwakilan ulama, dosen dan mahasiswa tersebut dimaksudkan sebagai solidaritas terhadap Grand Mufti Mesir Dr. Ali Jum'ah, atas tindakan pelecehan oleh kelompok Wahhabi.

... Tidak hanya dihadiri oleh perwakilan ulama besar, dosen dan mahasiswa, aksi damai itu juga didukung penuh oleh kelompok-kelompok tarekat Sufi se Mesir, antara lain Sazdiliyah, Rifa’iyah, Khalwatiyah, dan lain sebagainya. Ketua dewan Sufi tertinggi Mesir al-Qashabi, dan ketua Gerakan Pembaharuan Sufi Syeikh Abu al-Aza’im juga hadir.

Dalam aksinya massa demonstran membentangkan sejumlah spanduk bertuliskan “Tak boleh ada pelecehan simbol-simbol Al-Azhar”, “Al-Azhar, ya ahlu sunnah wal jama’ah”, “Mufti Mesir, kami mendukungmu”, “Al-Azhar satu-satunya representasi Islam”, “Al-Azhar al-Syarif benteng Mesir terkokoh dari serangan penfitnah”.

Massa demonstran juga membagi-bagikan poster bergambar Grand Syeikh Ahmad al-Tayeb, Grand Mufti Mesir Ali Jum’ah dan Syeikh Mutawalli al-Sya’rawi.

Terkait pelecehan oleh kelompok Wahhabi yang akhirnya memicu terjadinya aksi demonstrasi damai, semua pembesar ulama sepakat bahwa setiap bentuk pelecahan harus diterima dengan lapang dada. Ini bukan karena tak mampu membalas, tapi semata karena meniru akhlak Nabi Muhammad SAW.

Dr. Usamah al-Sayed sebagai pembawa acara menegaskan, transmisi hadis Al-Azhar bersambung langsung pada Rasulullah, baik secara pemahaman maupun secara periwayatan, tazkiyah dan suluk.

“Balasan yang bisa kita lakukan bagi orang yang melakukan dosa pada Allah (dalam bentuk pelecehan pada sesama Muslim), adalah dengan menambah intensitas ketaatan kita kepada-Nya," tutup Usamah dalam pidatonya.

Sampaian Usamah tersebut mendapatkan sambutan positif massa demonstran. Mereka menyampaikan pendapat yang sama dengan secara kompak memekikkan gema takbir. "Allahu Akbar, Allahu Akbar. Hidup Al Azhar," teriak massa demonstran.

Dalam orasi bergilir, mulai dari Dr. Hasan al-Syafi’I (pensehat Grand Syeikh), Dr. Ra’fat Ustman (anggota Majelis Riset Keislaman), nnDr. Sa’duddin al-Hilali, Dr. Thoha al-Dasuki Hibisyi, menegaskan, bahwa tabiat keras bukan menjadi ciri khas masyarakat Mesir. Bila melihat sejarahnya masyarakat Mesir dikenal ramah, hangat dan toleran. Bahkan Islam masuk ke Mesir dengan damai.

Kata-kata kotor yang melecehkan orang lain di chanel-chanel TV Wahhabi sangat tidak bermoral, apalagi yang dilecehkan adalah ulama Al-Azhar sebagai representasi umat Islam. Dalam kesaksian Dr. Ra’fat Ustman, jasa Ali Jum’ah sangat besar, terutama bagi perkembangan peran Darul Ifta’ Al Mishriyah (Badan Fatwa Mesir), yang kemudian bisa mendunia. Ustman secara sengaja tak mau menyebut nama orang yang melecehkan Mufti karena menyalahi akhlak Nabi Saw., selain itu beliau mengaku tak mau mengotori mulutnya dengan nama itu.

Mengenai pelaku pelecehan terhadap Grand Mufti Mesir Dr. Ali Jum'ah, belakangan di beberapa media Mesir mulai tersiar tentang siapa tokoh Wahhabi yang telah melecehkan pembesar ulama Al-Azhar. Melalui Saluran TV Satelit Al-Hikmah yang kemudian bisa diakses melalui Youtube, terlihat jelas bagaimana tokoh Salafi (sebutan lain Wahhabi) yang bernama Abu Ishaq al-Huwaini mengeluarkan kata-kata kotor yang tak pantas dilakukan orang, apalagi mereka yang mengaku sebagai ulama, pewaris risalah kenabian.

Al-Huwaini kemudian dituntut di pengadilan dengan pasal pencemaran nama baik, tetapi sidang pengadilan diserbu oleh para pendukung Wahhabisme yang tidak rela pemimpin mereka diadili.

Yang menarik meski diikuti oleh ribuan massa, aksi tersebut berjalan dengan kondisi yang benar-benar damai hingga berakhirnya kegiatan. Panitia demonstrasi memberikan tempat tersendiri untuk demonstran wanita dan anak-anak, sehingga meminimalisir kemungkinan terjadinya tindakan pelecehan dan kriminal oleh sesama demonstran. Demonstrasi moral ini juga didukung oleh para alumni Al-Azhar di luar negeri yang ikut memberikan sambutan melalui hubungan jarak jauh, di antaranya adalah Dai Besar Habib Ali Al-Jufri dari Yaman dan Prof. Dr. Abdul Ghaffar Asy-Syarief dari Kuwait.
Read More >>

Ringkasan Manaqib Imam Junaid

Posted in Rabu, 02 November 2011
by Unknown
Syeikh Abul Qasim Al-Junayd ibnu Muhammad al-Zujaj (Junayd al-Baghdadi)


Dalam kitab Tadzkiratul Auliya, Syeikh Fariduddin ‘Aththar menjelaskan, bahwa Syeikh Abul Qasim Al-Junayd ibnu Muhammad al-Zujaj (Junayd al-Baghdadi) adalah putera dari seorangpedagang barang pecah belah (kaca) dari Nahawand dan keponakan Sarri as-Saqathi, Ia juga dekat dengan Al-Muhasibi. Beliau lahir dan besar di Irak.





Abul Qasim Al-Junayd merupakan tokoh paling terkemuka dari mazhab Tasawuf, bahkan kelak beliau mendapat gelar sebagai Sayyidush Shufiyah (Pangeran Kaum Sufi). Ia memerinci sebuah doktrin teosofikal yang menentukan seluruh rangkaian latihan sufisme ortodoks dalam Islam.





Ia menjelaskan teori-teorinya dalam pengajaran-pengajarannya, serta dalam serangkaian suratnya yang hingga kini masih ada, yang ditujukan kepada sejumlah tokoh pada masanya.

Abul Qasim Al-Junayd merupakan pemimpin sebuah mazhab yang besar dan berpengaruh. Beliau juga dikenal sebagai seorang mufti dalam mazhab Abu Tsaur, murid Imam Syafi’i.

Al-Junayd wafat di Baghdad pada hari Sabtu tahun 297H/910M.





Masa Kecil Junayd al-Baghdadi

Sejak kecil, Junayd telah memiliki kedalaman spiritual, telah menjadi seorang pencari Tuhan yang bersungguh-sungguh, sangat disiplin, bijaksana, cepat mengerti dan memiliki intiusi yang tajam.

Suatu hari, ia pulang ke rumah dari sekolah. Ia menemukan ayahnya tengah menangis.

“Ayah, apa yang terjadi?” Tanya Junayd.

“Ayah ingin memberikan sedekah kepada pamanmu, Sarri,” tutur sang ayah. “Namun ia tidak mau menerimanya. Ayah menangis karena ayah telah mencurahkan seluruh hidup ayah untuk dapat menyisihkan uang lima dirham ini, namun ternyata uang ini tidak memenuhi syarat untuk dapat diterima oleh salah seorang sahabat Allah.”

“Berikan uang itu kepadaku dan aku akan memberikannya kepada paman Sarri. Dengan begitu, ia mungkin mau menerimanya,” kata Junayd.





Sang ayah memberikan uang itu kepadanya, lalu Junayd pun pergi. Sesampainya di rumah pamannya, Junayd mengetuk pintu.

“Siapa itu?” terdengar suara dari dalam rumah.

“Junayd,” jawab sang bocah. “Buka pintu dan terimalah tawaran sedekah ini.

“Aku tidak menerimanya,” pekik Sarri.

“Aku mohon, terimalah ini, demi Allah Yang telah begitu dermawan padamu dan telah bagitu adil pada ayahku,” pekik Junayd.

“Junayd, apa maksudmu Allah begitu dermawan kepadaku dan begitu adil kepada ayahmu?” Tanya Sarri.

Junayd manjawab, “Allah begitu dermawan padamu karena Dia menganugerahimu kemiskinan. Sedangkan kepada ayahku, Allah telah begitu adil dengan menyibukkannya dengan urusan-urusan dunia. Engkau memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak sekehendak hatimu. Sedangkan ayahku, suka atau tidak, harus menyampaikan sedekah yang dititipkan Allah padanya kepada orang yang berhak.”

Jawaban Junayd ini menyenangkan hati Sarri. “Anakku, sebelum aku menerima sedekah ini, aku telah lebih dulu menerimamu,” ujar Sarri.

Setelah berkata begiru, Sarri membuka pintu dan menerima sedekah itu. Ia menempatkan Junayd di tempat yang istimewa dalam hatinya.





Junayd baru berusia tujuh tahun saat Sarri mengajaknya berhaji. Di Masjidil Haram, masalah syukur tengah dibahas oleh empat ratus syeikh. Masing-masing syeikh mengemukakan pandangannya.

“Utarakanlah pendapatmu,” kata Sarri pada Junayd.

Junayd berkata, “Syukur berarti engkau tidak bermaksiat kepada Allah dengan menggunakan karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu, juga tidak menjadikan karunia-Nya sebagai sumber ketidak-taatan pada-Nya.





“Bagus sekali, benar-benar merupakan pelipur lara bagi para Mukmin sejati,” pekik para syeikh itu.

Keempat ratus syeikh itu sepakat, bahwa tidak ada definisi syukur yang lebih baik daripada apa yang telah dikatakan oleh Junayd.

“Anakku,” ujar Sarri, “segera tiba saatnya, lidahmu menjadi sebuah karunia istimewa dari Allah untukmu.”

Junayd menangis tatkala

mendengan pamannnya berkata begitu.

“Darimana engkau belajar?” tanya Sarri.

“Dari duduk bersamamu,” jawab Junayd.





Junayd lalu kembali ke Baghdad dan menjadi penjual barang pecah belah. Setiap hari ia pergi ke tokonya, menutup tirai toko, lalu mendirikan shalat empat ratus rakaat.

Selang bebenapa lama, Ia akan meninggalkan tokonya dan pergi kesebuah ruangan di serambi rumah Sarri. Disana ia menyibukkan diri dengan penjagaan hati. Ia menghamparkan “sajadah wara’”, sehingga tak ada sesuatu pun yang terlintas di pikiran selain Allah.





Junayd Menunjukkan Bukti



Selama empat puluh tahun, Junayd sibuk menekuni latihan sufi. Selama tiga puluh tahun, ia mendirikan salat malam, lalu berdiri dan mengulang-ulang lafadz ‘Allah’ hingga fajar, kemudian ia mendirikan shalat subuh dengan wudlu yang ia lakukan pada malam sebelumnya.





Ia berkata, “Setelah empat puluh tahun berlalu, kesombongan merasuki diriku; aku merasa telah mencapai tujuanku. Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari langit berbicara padaku, “Junayd, telah tiba saatnya bagi-Ku untuk memperlihatkan padamu ikatan korset bagimu.”

Ketika aku mendengar kata-kata ini, aku pun berseru, “Ya Allah, dosa apa yang telah dilakukan oleh Junayd?”





Suara itu menjawab, “Untuk apa engkau tanyakan itu? Apakah engkau ingin mencari-cari dosa yang lebih menyedihkan daripada apa yang engkau perbuat?” Junayd menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya.





Ia berbisik, “Ia, yang tidak cukup berharga untuk penyatuan, segala perbuatan baiknya adalah dosa.”

Ia, terus duduk di dalam kamarnya sambil memekik “Allah... Allah...” sepanjang malam.

Lidah-lidah panjang para pemfitnah menyerangnya dan tingkah lakunya dilaporkan kepada Khalifah.

“Ia tidak dapat dihukum tanpa bukti,” kata sang Khalifah.

Mereka (Para pemfitnah menyatakan, “Banyak orang tergoda oleh kata-katanya.”

Sang Khalifah mempunyai seorang budak wanita yang kecantikannya tak ada duanya. Sang Khalifah sangat mencintainya, ia membeli budak wanita itu seharga tiga ribu dinar. Sang Khalifah memerintahkan





agar budak wanita itu didandani dengan pakaian bagus dan perhiasan-perhiasan mahal.

Sang Khalifah memberikan instruksi kepada budak wanita itu, “Pergilah ke suatu tempat. Berdirilah di dekat Junayd dan perlihatkan wajahmu. Biarkan ia melihat perhiasan dan pakaianmu. Katakan padanya, ‘Aku memiliki harta benda yang berlimpah namun hatiku telah lelah dengan urusan-urusan duniawi. Aku datang ke sini untuk memintamu melamarku, agar dengan bimbinganmu aku dapat mengabdikan diriku untuk beribadah pada-Nya. Hatiku tidak menemukan ketenangan kecuali dalam dirimu.’ Pertontonkan dirimu padanya. Perlihatkan kecantikanmu, dan berusahalah sekuat tenaga untuk membujuknya.”

Budak wanita itu pergi menemui Junayd dengan ditemani oleh seorang pelayan. Ia lalu mendekati dan menjalankan apa-apa yang telah diinstruksikan kepadanya. Tanpa sengaja, Junayd memandang budak wanita itu. Junayd tetap diam dan tidak menjawab. Budak wanita itu mengulangi ceritanya. Junayd menundukkan kepalanya, lalu ia mendongak.

“Ah,” serunya sambil menghembuskan napasnya ke arah budak wanita itu. Seketika budak wanita itu jatuh ke tanah dan mati.





Pelayan yang menemaninya kembali menemui Khalifah dan melaporkan apa yang telah terjadi. Jiwa sang Khalifah serasa terbakar dan ia bertobat atas yang telah ia lakukan.

Sang Khalifah berkata, “Ia, yang memperlakukan orang lain tidak sebagaimana mestinya, melihat apa yang harusnya tidak ia lihat.”





Sang Khalifah kemudian bangkit dan memerintah pembantunya untuk memanggil Junayd. “Sungguh seseorang yang tak dapat dipanggil untuk menghadap,” komentarnya.

Khalifah bertanya, “Wahai Syeikh, bagaimana engkau tega membunuh seseorang yang begitu cantik?”

Junayd menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, kasih sayangmu kepada orang-orang mukmin begitu besarnya, sampai-sampai engkau ingin meleyapkan empat puluh tahun kedisiplinanku yang ku isi dengan wara’ dan penyangkalan diri. Memangnya siapa aku ini? Janganlah melakukan apa yang engkau tidak sukai bagi dirimu sendiri!”





Setelah peristiwa itu, urusan-urusan Junayd berjalan dengan baik. Kemasyhurannya tersebar keseluruh penjuru dunia. Seberapapun seringnya ia disiksa, reputasinya meningkat seribu kali lipat.

Ia mulai berkhotbah. Suatu kali ia menjelaskan, “Aku tidak berkhotbah di muka umum sampai tiga puluh wali besar mengatakan padaku bahwa aku telah pantas untuk menyeru manusia kepada Allah.”

Ia berkata, “Selama empat puluh tahun aku duduk menjaga hatiku. Kemudian selama sepuluh tahun hatiku menjagaku. Kini telah genap duapuluh tahun dimana aku tidak mengetahui apa pun tentang hatiku dan hatiku pun tidak mengetahui apapun tentang aku.”

Ia melanjutkan, “Selama tiga puluh tahun, Allah berbicara kepada Junayd dengan lidah Junayd, Junayd tidak berada disana sama sekali, namun manusia tidak mengetahuinya.”





Junayd Berkhotbah



Saat lidah Junaid telah mahir mengutarakan kata-kata yang menakjubkan, Sarri as-Saqathi mengatakan kepadanya bahwa telah wajib, baginya untuk berkhotbah dimuka umum.

Awalnya Junaid merasa ragu, tidak ingin melakukan hal itu. “Saat ada sang guru, tak pantas bagi si murid untuk berkhotbah,” kata Junaid mengutarakan keberatannya.

Sampai akhirnya pada suatu malam, Junayd bertemu dengan Nabi Saw. Dalam mimpinya. “Berkhotbahlah,” kata Nabi Saw.





Keesokan paginya pada suatu malam, Junaid pun bangkit dan hendak pergi menemui Sarri untuk menceritakan mimpinya. Namun, ketika hendak keluar, ia menemukan Sarri tengah berdiri didepan pintu.

Sarri berkata, “Sampai saat ini, engkau masih ragu-ragu, menunggu orang-orang lain memintamu untuk berkhotbah. Kini engakau harus bicara (berkhotbah di muka umum), karena kata-katamu telah dijadikan sarana bagi keselamatan seluruh dunia.”





Engkau tidak mau bicara saat para murid membujukmu untuk bicara. Engkau tidak mau bicara saat para syeikh kota Baghdad memintamu untuk bicara. Engkau juga tidak mau bicara kendati aku telah mendesakmu untuk bicara. Sekarang, Nabi Saw. Telah memerintahkanmu untuk bicara, maka engkau harus bicara.”

“Ya Allah, maafkanlah hamba,” tutur Junaid “Paman, bagaimana engkau tahu kalau aku bertemu dengan Nabi Saw dalam mimpiku?”





Sarri menjelaskan, “Aku bertemu dengan Allah dalam mimpiku. Dia berkata, ‘Aku telah mengutus Rasul-Ku untuk meminta Junayd berkhotbah di atas mimbar’.”

“Kalau begitu, aku akan berkhotbah,” kata Junaid kemudian. “Namun dengan satu syarat, yang hadir tidak lebih dari empat puluh orang.”





Suatu hari, Junayd berkhotbah di hadapan empatpuluh orang hadirin. Delapan belas orang di antaranya meninggal dunia dan duapuluh dua orang lainnya jatuh ketanah tak sadarkan diri. Mereka kemudian diangkat dan dibawa pulang ke rumah mereka masing-masing.

Dilain hari, Junayd berkhotbah. Diantara hadirin ada seorang pemuda Kristen, namun tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa pemuda itu beragama Nasrani.





Pemuda itu mendekati Junayd dan berkata, “Nabi bersabda, ‘berhati-hatilah terhadap pengetahuan orang yang beriman, kanena ia melihat dengan cahaya Tuhan’.”

Junayd menjawab, “Yang benar adalah engkau harus menjadi seorang Muslim dan memotong korset Nasranimu, kanena ini adalah acara khusus bagi Muslim.”

Seketika itu Pula pemuda tadi menjadi seorang Muslim.





Setelah Junayd berkhotbah beberapa kali, masyarakat menyuarakan penentangannya. Akhinnya Junayd pun berhenti berkhotbah dan kemudian kembali ke kamarnya. Ia didesak untuk terus berkhotbah namun ia menolak.





“Sudah cukup,” katanya. “Aku tidak dapat mengusahakan kehancuranku sendiri.”

Beberapa waktu kemudian, Junayd naik ke mimbar dan mulai berkhotbah tanpa pemberitahuan sebelumnya.





“Kebijaksanaan apa yang terdapat di dalam apa yang engkau perbuat ini?” ia ditanya.

Junayd menjawab, “Aku menemukan sebuah hadist di mana Nabi Saw. bersabda, ‘Pada akhir zaman, yang menjadi juru bicara suatu masyarakat adalah orang yang terburuk di antara mereka. Ia akan berkata pada mereka, Aku tahu bahwa aku adalah orang yang terburuk di antara kalian. Aku berkhotbah karena apa yang telah disabdakan oleh Nabi Saw. Dengan begitu, aku tidak menentang kata-kata beliau.”





Al-Jurairy mengabarkan, “Aku baru saja pulang dan Mekkah, dan hal pertama yang kulakukan adalah mengunjungi al-Junayd agar tidak mengangan-angan diriku. Aku Ialu memberi salam kepadanya dan pulang ke rumah. Keesokan harinya ketika aku shalat subuh di masjid, aku melihatnya berdiri pada shaf di belakangku. Aku berkata, ‘Aku mendatangimu kemarin hanya supaya engkau tidak mengharap harap diriku.’ Ia menjawab, ‘Itulah keutamaanmu. Dan itulah hakmu’.”



Read More >>

Hidangan Populer Warkop Pusat

Copyright 2011 @ Warkop Mbah Lalar