Ateisme Dan Teis Indonesia Yang Membingungkan

Posted in Minggu, 29 Juli 2012
by Unknown
ATEISME DAN TEISME INDONESIA: Sebuah Dunia Yang Membingungkan

oleh Naga Sukma


aku tak tahu apa yang di cari oleh seorang yang mengaku dirinya ATEIS. dan aku juga tak tahu apa yang di cari oleh orang yang mengaku dirinya TEIS. hari kian hari perdebatan di antara mereka kian bising: mencaci, mengolok ngolok, saling membenci dan bahkan tak jarang saling membunuh. saat aku memasuki grup grup maya, yang ada hanya kekecewaan di sana sini. kecewa terhadap ateisme dan kecewa terhadap teisme. saat aku mencoba memasuki dunia nyata, kekecewaan itu berlipat ganda. sampai sekarang aku belum tahu pasti kenapa orang orang yang menempatkan dirinya di posisi yang saling berlawan itu saling menatap penuh dengki? karena yang aku tahu adalah cacia cacian yang keluar di antara kedua belah pihak, sebuah warna yang membuat mataku buta. aku hampir tak mendapatkan apa apa. yang aku dapatkan hanya rasa muak, marah, kecewa, dan frustasi sehingga aku berpikir, kenapa tidak diakhiri saja semuanya?

Saat aku melihat dan mengamati ateisme dan teisme yang ada di negara ini, aku seakan mengamati tubuh tubuh yang terkoyak parah di kedua belah pihak. aku jadi ingat apa yang pernah di tulis oleh ali syariati, manusia manusia yang bertubuh abad 14 namun mempunyai pola pikir abad modern, 21. tubuh tubuh yang terkoyak dan saling berebut dan saling mendominasi.

Russel benar saat ia mengatakan kemarahan orang orang eropa mengenai agama kristen hanya bisa diketahui dan dirasakan oleh orang orang eropa itu sendiri. namun aku bingung, apa yang membuat orang orang asia marah hari ini dan akhirnya terkoyak koyak dalam sebuah dunia yang tak jelas? terlebih di Indonesia: di lain sisi ia membenci agamanya atau zamanya, di lain pihak ia tak ingin lepas dan mempertahankannya. sehingga tak akan pernah benar benar menjadi seorang agnostik maupun ateis sempurna seperti di barat. akhirnya, yang terjadi hanyalah marah dan kebenciaan yang luar biasa tanpa tahu mengapa?hal yang cenderung ceroboh adalah ateisme dan teisme di negeri ini tidak mempunyai kualitas yang cukup untuk mempertahankan apa yang mereka bela. ateisme dan teisme di barat lahir dengan kadar intelektualitas tinggi sehingga mempunyai alasan yang kuat untuk saling menolak kedua belah pihak. namun ketika salah satunya lebih kuat dan memiliki bukti maupun alasan yang cukup untuk membuat salah satunya diam, maka salah satunya mengalah dengan wajar mengakui kekalahan mereka. entah mereka kalah karena faktor para pengikutnya atau kalah karena alasan alasan tertentu yang kuat. yang satu bisa pindah menjadi ateis yang asalnya adalah teis karena mengaku kalah dalam perdebatan intelektual atau sains, dan yang satunya memilih jadi teis yang asalnya ateis karena menemukan bukti kuat di mana kepercayaan ateisme yang ia pegang runtuh oleh bukti bukti kuat adanya Tuhan dan lain sebagainya. walaupun begitu, hari ini masyarakat eropa atau barat sedang menuju pada ketidakpuasan yang sama yang di miliki oleh orang orang asia. dan semakin hari semakin banyak menumbukan generasi yang muak terhadap zamannya namun tak memiliki dasar keagamaan atau intelektualitas yang kuat.

Karen armstrong pernah mengatakan ateisme modern cenderung membabi buta tanpa tahu apa yang sedang mereka serang. seakan akan mereka membenci tanpa dasar dengan pengetahuan yang tak memadai mengenai musuhnya yaitu, teisme modern. anehnya teisme modern pun tak memiliki kualitas yang cukup untuk menyerang balik ateisme modern. terbukti meraka selalu gagap dan banyak ketinggalan banyak hal seperti yang pernah diungkapkan oleh john f haught. akhirnya ateisme dan teisme sama sama menunjukkan ketidakmampuannya masing masing dalam menyerang kelemahan kelemahan lawannya. yang kita lihat akhirnya hanya saling benci, melempar cacian dan olok olok dan selalu diiringi dengan hinaan hinaan. dan anehnya hal itu terus berlanjut tanpa mereka mau merubahnya. dan yang paling sering adalah kedua belah pihak sering mengelak dan berputar putar tak jelas saat tak mempunyai bahan untuk mempertahankan posisinya masing masing. hal yang paling membuat malu adalah kebanyakan tak mau mengakui kalah. mereka yang kalah tak mempunyai cukup bukti atau alasan untuk mempertahankan apa yang diyakini lebih memilih menghilang, kabur dan bungkam atau malah menghina tanpa sebab yang jelas. inilah kondisi tragis ateisme dan teisme yang ada di indonesia.

Ateisme di indonesia itu unik. ateisme yang tak mau mencabut akar tubuh dan jiwanya yang pernah dibesarkan di tempat ia dilahirkan. begitu juga teisme di negeri ini. teisme yang bahkan kadang terlihat menyerupai ateisme dalam banyak hal. ateisme dan teisme di indonesia akhirnya hanya jatuh dalam kebingungan sempurna. 

Hari datang dan pergi begitu cepatnya. aku bertemu orang orang, berdiskusi, masuk sana sini dan lain sebagainya namun yang aku dapat masih sama. ketidakjelasan di kedua belah pihak. bahkan yang sering aku lihat mereka semua sudah tak ambil perduli mengenai posisi masing masing dan melakukan hidup sesuka hati dan berubah rubah sesuai keinginannya. besok menjadi pendukung ateisme, dan besoknya lagi menjadi pendukung teisme atau kadang menyingkir diantara keduanya dan selalu berputar putar seperti itu.

lalu diriku sendiri? aku mengakui, aku sedang di posisi yang sama membingungkannya. posisi yang bahkan aku tak tahu aku berada di mana. aku mencoba untuk jujur terhadap diriku sendiri. terlalu banyak aku lihat orang yang mencoba menutupi kebobrokannya karena takut dianggap tak beradab karena ia seorang teis atau sebaliknya seorang ateis yang takut dianggap memalukan karena ia masih percaya akan takhayul. ateisme dan teisme yang ada di indonesia itu membingungkan. sebuah dunia yang hanya berisi caci maki yang tak pernah mau bangun dari kehilangan diri yang berantakan. dunia yang membingungkan dan tak pernah jelas.

Grobogan, minggu 29 juli 2012
19:31
Read More >>

KISAH YANG MENCENGANGKAN

Posted in Selasa, 10 Juli 2012
by ANAN SMILE
========================= Semalam tepatnya tanggal 10 Juli 2012, Penulis ikut acara haflah dan haul pendiri pondok Al-Bukhori, Ponorogo, pembicaranya adalah Habib Alwi bin Ali Al-Habsy dari Solo, dari mauidhohnya, beliau menceritakan bahwa di Cirebon ada seorang kyai haji yang namanya Kyai Haji Agus Efendi, saat ditanya, berapa usianya, Kyai tersebut mengaku bahwa usianya sudah 135 tahun, “hallah jangan begitu to pak kyai” komentar Habib Alwi, “ kalau tidak percaya kalau usiaku 135 tahun, baiklah saya panggilkan cucu saya, nak mreneo nak, enek tamu ki” teriak kyai Agus. Dengan tertatih, cucu itu berjalan dengan memakai tongkat dan terseok seok, “ini cucuku terakhir, usianya hampir 80an” kata pak Kyai Agus yang masih energik selayak pemuda usia 33 tahun. Habib Alwi masih terheran heran dan bertanya kepada cucunya yang sudah sepuh itu. “mbah, panjenengan niku kakeknya yai Agus atau sebaliknya?” Tanya Habib Alwi. “ya benar sebaliknya, mbah Agus itu kakek saya, saya cucu terakhir beliau” dengan terbata bata ia ungkapkan kata-kata itu, giginya sudah ompong kulitnya sudah keriput, berkebalikan dengan kondisi kakeknya yang jauh lebih muda dibanding dirinya. Habib Alwi bertanya pada Kyai Agus. “apa rahasianya kok pak Kyai sampai begitu muda di usia yang sudah seabad lebih Yai?” “nggak ada rahasia-rahasiaan kok Bib, saya Cuma mengamalkan satu amalan, yaitu BARANG SIAPA MENJAGA HAK ALLAH MAKA ALLAH AKAN MENJAGA HAKNYA. Mataku tak pernah kugunakan untuk melihat kemaksiatan, telingaku tak pernah mendengarkan kata-kata yang tidak bermanfaat, kakiku, tanganku semuanya ku gunakan untuk beribadah kepadaNya, dengan begitu Dia masih memberiku kekuatan selayaknya pemuda usia 30an tahun, Alhamdulillah” kata Kyai Agus Efendi mengakhiri percakapan, Habib Alwi berdecak kagum dengan kata-kata Kyai Itu, semoga kita mampu beramal seperti kyai Agus Efendi itu, amien. Sugeng Dini Hari Warkopers!!!!!!
Read More >>

MAULID SYIRIK

Posted in Rabu, 04 Juli 2012
by Unknown

Sesuai judul diatas, memang telah terbit fatwa dari seorang Ulama yang manjadi panutan para orang yang mengaku menjadi pengikut para salaf, bahwa Maulid bisa mendatangkan perbuatan Syirik. disamping fatwa yang umum bahwa Maulid adalah perbuatan bid'ah yang pelakunya terancam masuk neraka, dalam hal ini saya tidak ingin menanggapi masalah kebid'ahan Maulid yang sudah sekian juta ditanggapi oleh kaum santri.
Sebagai bukti adanya fatwa Syirik terhadap Maulid, anda bias melihat scan kitab berikut:
Yang terlingkari kolom merah itu jekas terpampang kalimat sebagai berikut:

فالحاصل أن هذه الأعياد أو الاحتفالات بمولد الرسول عليه الصلاة والسلام لا تقتصر على مجرد كونها بدعة محدثة في الدين بل هي يضاف إليها شئ من المنكرات مما يؤدي إلى الشرك
  .
"Maka intinya, sesungguhnya berhari raya atau merayakan Maulid Rosulullah Shollahu 'alaihi wa Sallam dengan sendirinya tidaklah cukup sebagai perbuatan bid'ah yang terinovasi (perbuatan baru)dalam Agama, malahan maulid itu dapat mengundang perbuatan Mungkar yang dapat mendatangkan kesyirikan"
Agaknya Syaikh tersebut tersebut berasumsi demikian disebabkan dalam Maulid itu sering dilantunkannya bait bait pujian seperti:
يا أكرم الخلق ما لي من ألوذ به سواك عند حدوث الحادث العمم

Wahai makhluk paling mulia, tidak ada bagiku tempat mengadu (Tempat Berlindung) selainmu * Ketika terjadi peristiwa yang berat
 إن لم تكن آخذاً يوم المعاد يدي صفحاً وإلا فقل يا زلة القدم

Jika di akheratku Tuan tidak menjabatku (menerimaku/menolongku/mensyafa,atiku)
Maka kukatakan: wahai diri yang celaka
فإن من جودك الدنيا وضرتها ومن علومك علم اللوح والقلم

Sesungguhnya di antara kemurahanmu adalah dunia dan kenikmatannya
Dan di antara ilmu-ilmumu adalah ilmu Lauh dan Qalam.
1. Bukankah hakikat Syafa'at Rosulullah itu adalah perlindungan terhadap Ummatnya? lalu apa masalahnya dalam kalimat tersebut, jika ada orang yang meminta perlindungan Rosulullah dari api neraka dengan Syafa'atnya? ataukah perlindungan yang dimaksud adalah perlindungan yang mandiri, yang artinya Rosulullah mampu memberikan perlindungan secara pribadi dan mandiri, tanpa mengikut sertkan perlindungan Allah? sungguh bodoh jika bait sya,ir diatas diartikan demikian.
Seperti ketika seseorang yang meminta perlindungan seorang dokter dari penyakit yang dideritanya, tentu saja yang dimaksud adalah agar dokter tersebut memberikan pertolongan seperlunya dan tentu saja kesembuhan itu atas Izin Allah.
2. Salahkah ungkapan tersebut? padahal memang, jika kita tidak disambut oleh Rosulullah, dalam pengertian di tolong oleh Rosulullah, kita pasti akan celaka.
3. Jika ungkapan ini sulit dicerna, saya maklum sebab sastera yang begitu tinggi dan dalamnya makna yang teknadung.
Namun jika kita sedikit saja membuka mata hati, memang sudah menjadi fakta dan dengan dalil yang nyata bahwa Keberadaan Nabi adalah menjadi jaminan bagi suatu kaum untuk tidak disiksa di dunia, coba kita renungi ayat:

 وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ 

"Dan Allah tidaklah berkenan menyiksa kalian, sedangkan engkau (Muhammad) berada didalamnya"
Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa kenikmatan Dunia yang remeh ini (dibanding kenikmatan Akhirat) adalah sebab adanya Nabi, baik keberadaan dalam jasad atau Rukhani, maka dengan menyingkat kata dan kalimat, dikatakanlah bahwa kenikmatan Dunia yang notabene adalah sebuah kemlaratan (Ujian) adalah Pemberian Rosulullah, sekali lagi tidak dalam arti yang hakiki. 
Setelah anda baca ini, kiranya sudah cukup memberi penjelasan kandungan arti yang dimaksud dari bait bait sya,ir diatas, lalu dimana kesimpulannya bahwa Maulid dapat mengarah keperbuatan Syirik? dimana letak kesyirikan Maulid, dan apa yang menyebabkan Maulid itu menjadi Syirik?

Jika Merayakan Mulid Nabi Syirik, kenapa merayakan maulid orang kafir, sebagaimana yang tersecan dalam gambar diatas tidak bid'ah?
Read More >>

10 GAME TERSERU ANDROID

Posted in Senin, 25 Juni 2012
by ANAN SMILE
Pengen tau gak game terseru dari android di market? Yuk kita kaji satu persatu game – game seru di android: 1. Angry bird. Gak salah game ini mendominasi segala produk baik hp maupun tablet. Bisa didownload di market ataupun di freeware kalo download via PC. 2. Crazy Bird. Burung gila, yak nama permainan ini mencoba untuk menguji strategi kita dalam rangka menghindari jalan buntu menuju sumur lalu naik level lagi hampir sampai level 40an, game ini seru banget. Bisa didapat di freeware android. 3. Fly Racing Punya helicopter dan terbang dengan seimbang, bisa didownload di android market dan bisa melihat skor anda berdasar androider sedunia…menyentuh tab brati naik, jika didiamkan maka helicopter akan turun, tugas kita sekedar menghindari bangunan bangunan yang ada di situ. 4. Fly Boy Suka perang? Nah kedua jempolmu gak bakalan istirahat saat melihat musuh musuh di depan kita, ada banyak peluru yang harus kita jemput dari atas ataupun dari bawah. Seru banget, gak bosen bosennya kita akan maen dengan game macam ini. 5. Flying Penguin dan Dragon Fly Flying Penguin, Game ini senada dan mirip dengan Dragon Fly bedanya kalo dragon fly latihan terbang dan berakhir jika sudah terjemput induknya, sebaliknya dalam game Flying Penguin juga berlatih terbang tapi yang menjemputnya bukanlah induknya, tapi dimakan beruang kutub yang jahat. 6. Fruit Shoot. Game ini memanah buah di atas kepala teman, kalo salah ke perut atau ke leher bisa sampai terpotong. Bikin miris, karena darah bisa bercecer di mana – mana. Selamat memanah kepala eh buah apel. 7. Kids Math. Pengen pintar ngerjain matematika, di game ini berdasarkan durasi waktu akan bisa melatih kecerdasan dan ketangkasan kita, pertanyaannya simple dan udah ada 4 pilihan jawaban, kalo benar dapat 3 poin kalo salah malah dikurangi poinnya dan waktunya bisa bisa habis. Cocok untuk segala usia terutama yang suka mengasah otak dan akan ujian matematika. Hehehheheh.. 8. Sky Shoot Pengen perang dunia kedua?jempol dua kamu gak bakal nganggur dengan game ini, karena tembakan demi tembakan bisa diluncurkan dari dua jempol kanan kiri kita.. 9. Little Snake Ada ular kecil berebut buah buahan, tapi ada 4 ular juga yang mencoba merebutnya, nah di sini diuji ketangkasan kamu biar gak kemakan empat ular itu bagaimana, selamat berstrategi ria dech… 10. Mad Race Game ini seru banget, balapan mobil liar di jalan raya, pengen ngerem cukup sentuh layar tablet anda, lalu iringkan kanan atau kiri untuk menghindari tabrakan dengan mobil di depannya. Itulah tadi 10 game android terbaru versi Anan, semoga bermanfaat buat ngilangin stress dan bête kalian androiders…..!!! selamat bermain sepuas-puasnya….
Read More >>

Sang Pemimpin Para Syuhada

Posted in Senin, 18 Juni 2012
by Unknown

Ia seorang yang gagah, tampan, berwibawa. Warna kulitnya yang cerah bercahaya, kelemah-lembutannya yang sopan santun, kebaikannya yang rendah hati dan kasih sayang, serta kebersihan hidup dan kesucian jiwanya, semua itu memperlihatkan kepada kita betapa miripnya jasmani dan perangainya dengan Rasulullah saw. Pada dirinya juga bertemau pokok kebaikan dan keutamaan.

Ia diberi gelar oleh Rasulullah saw sebagai “bapak si miskin.” Ia datang kepada Rasulullah saw memasuki agama Islam dengan mengambil kedudukan tinggi di antara mereka yang sama-sama pertama kali beriman. Isterinya, Amma binti ‘Umais, juga ikut menganut Islam pada hari yang sama. Keduanya, dengan keberanian dan ketabahannya, tampil ke muka untuk hijrah ke Habsy (Ethiopia) hingga tinggal di sana selama bebarap tahun. Di sana mereka dikaruniai tiga orang anak: Muhammad, Abdullah, dan ‘Auf.

Dengan hati yang tenang, akal pikiran yang cerdas, jiwa yang mempu membaca situasi dan kondisi, serta lidah yang fasih, Ja’far bin Abi Thalib menjadi juru bicara yang lancar dan sopan selama di Ethiopia.

Kaum Quraisy yang musyrik tidak senang dengan hijrahnya beberapa kaum muslimin ke Ethiopia. Mereka sangat takut dan cemas jika kaum muslimin menyebar dan bertambah kuat. Oleh karena itu, para pemimpin Quraisy mengirimkan dua orang utusan terpilih untuk menghadap kaisar (Negus) di Habsy lengkap dengan membawa hadiah-hadiah yang sangat berharga. Kedua utusan itu, Abdullah bin Abi rabi’ah dan Amar bin Ash (keduanya waktu itu belum masuk Islam), menyampaikan harapan Quraisy agar Negus mengusir kaum muslimin yang hijrah ke Habsy.

Negus yang waktu itu bertahta di singgasana Ethiopia, adalah seorang tokoh yang mempunyai iman yang kuat. Dalam lubuk hatinya, ia menganut agama Nasrani secara murni dan padu, jauh dari penyelewengan dan lepas dari fanatik buta dan menutup diri. Nama baiknya telah tersebar ke mana-mana dan perjalanan hidupnya yang adil telah melampaui batas negerinya. Oleh karena itulah Rasulullah memilih negerinya menjadi tempat hijrah bagi sahabat-sahabatnya, dan karena ini pulalah kaum kafir Quraisy merasa khawatir kalau-kalau maksud dan tipu muslihat mereka menjadi gagal dan tidak berhasil.

Pemimpin-pemimpin Quraisy menasehati kedua utusannya agar mereka mendekati dan memberikan hadiah-hadiah kepada patrik dan uskup terlebih dahulu, sebelum menghadap kepada kaisar. Hal itu bertujuan agar para pendeta merasa puas dan berpihak kepada mereka.

Sampailah kedua utusan itu ke tempat tujuan mereka, Ethiopia. Mereka menghadap pemimpin-pemimpin agama dengan membawa hadiah-hadiah yang besar, kemudian mengirim hadiah-hadiah kepada Negus. Demikianlah, keduanya terus-menerus membangkitkan dendam kebencian di antara para pendeta. Dengan sokongan moril para pendeta itu, keduanya berharap kepada Negus agar mengusir kaum muslimin kelaur dari negerinya.

Suatu ketika, dataglah hari-hari di saat keduanya akan menghadap kaisar yang telah ditetapkan. Kaum muslimin pun diundang untuk menghadapi dendam kesumat Quraisy yang masih hendak melakukan muslihat keji dan menimpakan siksaan kepada mereka.

Dengan air muka yang jernih berwibawa, dan kerendahan hati yang penuh pesona, Baginda Negus pun duduk di atas kursi kebesarannya yang tinggi, dikelilingi oleh para pembesar gereja dan lingkungan terdekat istana. Di hadapannya, di atas suatu ruangan luas, duduk pula kaum Muhajirin Islam yang diliputi suasana penuh ketenangan dan ketenteraman.

Kedua utusan kaum Quraisy berdiri mengulangi tuduhan mereka yang pernah mereka lontarkan terhadap kaum muslimin di hadapan kaisar pada suatu pertemuan khusus yang disediakan oleh kaisar sebelum pertemuan besar yang menegangkan ini.

Baginda Raja yang mulia…! telah menyasar orang-orang bodoh dan tolol ke negeri paduka. Mereka tinggalkan agama nenek moyang mereka, tetapi tidak pula hendak memasuki agama paduka; bahkan mereka membawa agama baru yang mereka ada-adakan, yang tak pernah kami kenal, dan tidak pula oleh paduka. Sungguh kami telah diutus oleh orang-orang mulia dan terpandang di antara bangsa dan bapak-bapak mereka, paman-paman mereka, keluarga-keluarga mereka, agar paduka sudi mengembalikan orang-orang ini kepada kaumnya kembali.”

Negus memalingkan mukanya ke arah kaum muslimin sambil melontarkan pertanyaan, “Agama apakah itu yang menyebabkan kalian meninggalkan bangsa kalian, tetapi tidak memandang perlu kepada agama kami?”

Ja’far bin Abi Thalib pun bangkit berdiri untuk menunaikan tugas yang telah dibebankan oleh kawan-kawannya sesama Muhajirin, yakni tugas yang telah mereka tetapkan dalam suatu rapat yang diadakan sebelum pertemuan ini. Dilepaskannya pandangan ramah penuh kecintaan kepada baginda Raja yang telah berbuat baik menerima mereka, lalu berkata, “Wahai paduka yang mulia! Dahulu kami memang orang-orang jahil dan bodoh: kami menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan pekerjaan keji, memutuskan tali silaturahmi, menyakiti tetangga dan orang yang berhampiran. Waktu itu yang kuat memakan yang lemah, hingga datanglah masanya Allah mengirim Rasul-Nya kepada kami dari kalangan kami. Kami kenal asal-usul, kejujuran, ketulusan, dan kemuliaan jiwanya. Ia mengajak kami untuk mengesakan Allah dan mengabdikan diri pada-Nya, dan agar membaung jauh-jauh apa yang pernah kami sembah bersama bapak-bapak kami dulu, berupa batu-batu dan berhala. Beliau menyuruh kami bicara benar, menunaikan amanah, menghubungkan silaturrahmi, berbuat baik kepada tetangga dan menahan diri dari menumpahkan darah serta semua yang dilarang Allah.”

Dilarangnya kami berbuat keji dan zina, mengeluarkan ucapan bohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh berbuat jahat terhadap wanita-wanita yang baik-baik. Lalu kami benarkan dia dan kami beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak kami persekutukan sedikit pun juga; dan kami haramkan apa yang diharamkan-Nya kepada kami; dan kami halalkan apa yang dihalalkan-Nya untuk kami, karenanya kaum kami sama memusuhi kami, dan menggoda kami dari agama kami agar kami kembali menyembah berhala lagi, dan kepada perbautan-perbuatan jahat yang pernah kami lakukan dulu. Maka sewaktu mereka memaksa dan menganiaya kami, dan mengencet hidup kami, dan mengahalangi kami dari agama kami, kami kelaur hijrah ke negeri paduka, dengan harapan agar mendapatkan perlindungan paduka dan terhindar dari perbuatan-perbautan aniaya mereka….”

Ja’far bin Abi Thalib mengucapkan kata-kata mempesona ini laksana cahaya fajar. Kata-kata itu membagkitkan perasaan dan keharuan pada jiwa Negus, lalu sambil menolak pada Ja’far bin Abi Thalib, baginda bertanya, “Apakah Anda ada membawa sesuatu (wahyu) yang diturunkan atas Rasulmu itu?”

Jawab Ja’far bin Abi Thalib, “Ada” Tukas Negus lagi, “Cobalah bacakan padaku.”
Lalu Ja’far bin Abi Thalib membacakan bagian dari surat Maryam dengan irama yang penuh merdu, penuh kekhusuan, dan memikat hati. Mendengar itu, Negus lalu menangis dan para pendeta serta pembesar-pembesar agama lainnya pun tak tahan untuk meneteskan air matanya. Sewaktu air mata lebat dari baginda sudah terhenti, ia pun berpaling kepada kedua utusan Quraisy itu seraya berkata, “Sesungguhnya apa yang dibaca tadi dan yang dibawa oleh Isa as sama memancar dari satu pelita. Kamu keduanya dipersilahkan pergi! Demi Allah, kami tak akan menyerahkan mereka kepada kamu!”

Akhirnya, pertemuan itu pun bubar. Allah telah menolong hamba-hamba-Nya dan menguatkan mereka, sementara kedua utusan Quraisy mendapat kekalahan yang hina. Akan tetapi, Amr bin Ash, seorang yang lihai dan ulung yang penuh dengan tipu muslihat licik, tidak hendak menyerah begitu saja, apalagi berputus asa. Begitu ia kembali bersama temannya ke tempat tinggalnya, tak habis-habisnya ia berpikir dan memutar otak, dan akhirnya berkata kepada temannya, “Demi Allah, besok aku akan kembali menemui Negus, akan kusampaikan kepada baginda keterangan-keterangan yang akan memukul kaum muslimin dan membasmi urat akar mereka.”

Teman-temannya menjawab, “Jangan lakukan itu, bukankah kita masih ada hubungan keluarga dengan mereka, sekalipun mereka berselisih paham dengan kita.” Jawab Amr, “Demi Allah, akan kuberitakan kepada Negus bahwa mereka mendakwakan Isa anak Maryam itu manusia biasa seperti manusia yang lainnya.”

Inilah rupanya tipu muslihat baru yang telah diatur oleh utusan Quraisy terhadap kaum Muslimin, untuk memojokkan mereka ke sudut yang sempit, dan untuk menjauhkan mereka ke lembah yang curam. Seandainya orang Islam terang-terangan mengatakan, bahwa Isa itu salah seorang hamba Allah seperti manusia lainnya, pasti hal ini akan membangkitkan kemarahan dan permusuhan raja. Sebaliknya, jika mereka meniadakan pada Isa ujud manusia biasa, niscaya keluarlah mereka dari aqidah agama mereka.

Besok paginya kedua utusan itu segera menghadap Raja, dan berkata kepadanya, “Wahai Sri Paduka! orang-orang Islam itu telah mengucapkan suatu ucapan keji yang merendahkan kedudukan Isa.” Para pendeta dan kaum agama menjadi geger dan gempar. Gambaran dari kalimat itu cukup menggoncangkan Negus dan para pengikutnya. Mereka memanggil orang-orang Islam sekali lagi untuk menanyai bagaimana sebenarnya pandangan agama Islam tentang Isa al Masih.

Sebelum datang, orang-orang Islam duduk berunding untuk menentukan sikap terbaiknya dalam menghadapi situasi semacam ini. Akhirnya memperoleh kata sepakat, untuk menyatakan yang haq saja, sebagaimana yang mereka dengar dari Nabi Muhammad saw. Mereka tak hendak menyimpang serambut pun dari padanya, dan biarlah apa yang akan terjadi.

Pertemuan baru pun diadakan. Negus mulai melakukan percakapan dengan bertanya kepada Ja’far bin Abi Thalib, “Bagaimana pandangan kalian terhadap Isa?”

Ja’far bin Abi Thalib bangkit sekali lagi laksana menara laut yang memancarkan sinar terang, ujarnya, “Kami akan mengatakan tentang Isa as sesuai dengan keterangan yang dibawa Nabi kami, Muhammad saw, bahwa Ia adalah seorang hamba Allah dan Rasul-Nya serta kalimah-Nya yang ditiupkan-Nya kepada Maryam dari pada-Nya.”

Negus bertepuk tangan tanda setuju, seraya mengumumkan, memang demikianlah yang dikatakan al Masih tentang dirinya. Tetapi pada barisan pembesar agama yang lain terjadi hiruk-pikuk, seolah-oleh melihat ketidaksetujuan mereka.

Negus yang terpelajar lagi beriman, terus melanjutkan bicaranya seraya berkata kepada orang-orang Islam, “Silakan sekalian Anda hidup bebas di negeriku! Siapa berani mencela dan menyakiti Anda, orang itu akan mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya itu.”

Kemudian Negus berpaling kepada orang-orang besarnya yang terdekat, lalu sambil mengisyaratkan dengan telunjuknya ke arah kedua utusan kaum Quraisy, berkatalah ia, “Kembalikan hadiah-hadiah itu kepada kedua orang ini! Aku tak membutuhkannya! Demi Allah, Allah tak pernah mengambil uang sogokan dari padaku, di kala ia mengaruniakan takhta ini kepadaku, karena itu aku pun tak akan menerimanya dalam hal ini.”

Kedua kalinya kedua utusan Quraisy itu pun pergi keluar meninggalkan tempat pertemuan dengan perasan hina dan terpukul. Mereka segera memalingkan arah perjalanannya pulang menuju Mekah. Orang-orang Islam pun keluar di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib untuk memulai kehidupan baru di tanah Ethiopia, yakni penghidupan yang aman tenteram, sebagaimana mereka katakan, “Dinegeri yang baik dengan tetangga yang baik,” hingga akhirnya datang saatnya Allah mengizinkan mereka kembali kepada Rasul mereka, kepada sahabat dan handai taulan serta kampung halaman mereka.

Di kala Rasulullah bersama Kaum Muslimin sedang bersukaria dengan kemenangan atas jatuhnya Khaibar, tiba-tiba mucullah Ja’far bin Abi Thalib bersama sisa Muhajirin lainnya dari Ethiopia.

Tak terkatakan besarnya hati Nabi dan betapa bertambah bahagia dan gembiranya ia karena kedatangan mereka. Dipeluknya Ja’far bin Abi Thalib dengan mesra sambil berkata, “Aku tak tahu, entah mana yang lebih menggembirakanku: Apakah dibebaskannya Khaibar atau kembalinya Ja’far bin Abi Thalib.”

Dengan berkendaraan, Rasulullah pergi bersama sahabat-sahabatnya ke Mekah untuk melaksanakan umrah qadla. Sekembalinya ke Madinah, jiwa Ja’far bin Abi Thalib bergelora dan dipenuhi keharuan setelah mendengar berita dan cerita sekitar sahabat-sahabatnya kaum muslimin, baik yang gugur sebagai syuhada, maupun yang masih hidup selaku pahlawan-pahlawan yang berjasa dari perang Badar, perang Uhud, Khandak, dan peperangan-peperangan lainnya. Kedua matanya basah berlinang mengenang mukminin yang telah menepati janjinya dengan mengorbankan nyawa karena Allah. “Kapankah aku akan berbuat demikian?” pikirnya. Hatinya terasa terbang merindukan surga, ia pun menunggu-nunggu kesempatan dan peluang yang berharga itu: berjuang sebagai shahid di jalan Allah.

Suatu ketika, pasukan-pasukan Islam yang telah kita bicarakan dahulu, sedang bersiap-siap hendak diberangkatkan menuju medan perang Muktah. Bendera dan panji-panji perang berkibar dengan megahnya, disertai dengan gemerincingnya bunyi senjata. Ja’far memandang peperangan ini sebagai peluang yang sangat baik dan satu-satunya kesempatan seumur hidup untuk merebut salah satu di antara dua kemungkinan: membuktikan kejayaan besar bagi Agama Allah dalam hidupnya, atau ia akan beruntung menemui syahid di jalan Allah. Ia kemudian memohon kepada Rasulullah untuk turut serta mengambil bagian dalam peperangan ini.

Ja’far mengetahui benar, bahwa peperangan ini tidaklah enteng dan main-main, bahkan bukan peperangan yang kecil, malah sebenarnya inilah suatu peperangan yang luar biasa, baik tentang jauh dan sulitnya medan yang akan ditempuh, maupun tentang besarnya musuh yang akan dihadapi, yang belum pernah dialami umat Islam selama ini. Suatu peperangan melawan bala tentera kerajaan Romawi yang besar dan kuat, yang memiliki kemampuan perlengkapan dan pengalaman serta didukung oleh alat persenjataan yang tak dapat ditandingi oleh orang-orang Arab maupun kaum muslimin. Walaupun demikian, perasaan hati dan semangatnya untuk berjihad di jalan Allah tidak bisa mengurungkan tekadnya untuk ikut berperang bersama pasukan kaum muslimin lainnya. Akhirnya Ja’far diangkat Rasulullah menjadi panglima pasukan. Pasukan kaum muslimin mulai bergerak menuju Syria.

Pada suatu hari yang dahsyat, kedua pasukan itu pun berhadapan muka, dan tak lama kemudian pecahlah pertempuran hebat. Romawi mengerahkan pasukannya sebanyak 200.000 orang prajurit. Meskipun melihat betapa banyaknya pasukan musuh, Ja’far dan kaum muslimin lainnya tidak gentar dan tidak ciut nyalinya untuk menghadapi pasukan kafirin itu.

Pada saat panji-panji pasukan hampir jatuh dari tangan kanan Zaid bin Haritsah, dengan cepatnya panji-panji itu disambar oleh Ja’far dengan tangan kanannya. Dengan panji-panji di tangan, ia terus menyerbu ke tengah-tengah barisan musuh. Prajurit Romawi semakin banyak mengelilinginya. Ja’far melompat terjun dari kudanya dan berjalan kaki, lalu mengayunkan pedangnya ke segala jurusan yang mengenai leher musuhnya laksana malaikat maut pencabut nyawa. Sekilas terlihat olehnya seorang serdadu musuh melompat hendak menunggangi kudanya. Karena ia tak sudi hewannya itu dikenderai oleh manusia najis, Ja’far pun menebas kudanya dengan pedangnya sampai tewas. Setapak demi setapak ia terus berjalan di antara barisan serdadu Romawi yang berlapis-lapis laksana deru angin mengeroyok hendak membinasakannya, sementara suara meninggi dengan ucpannya yang gemuruh, “Wahai surga yang kudambakan mendiaminya, harum semerbak baunya, sejuk segar air minumnya. Tentara Romawi telah menghampiri liang kuburnya, terhalang jauh dari sanak keluarganya, kewajibankulah menghantamnya kala menjumpainya.”

Balatentara Romawi mengepung Ja’far bin Abi Thalib hendak membunuhnya laksana orang-orang gila yang sedang kemasukan setan. Kepungan mereka semakin ketat hingga tak ada harapan untuk lepas lagi. Mereka tebas tangan kanannya dengan pedang hingga putus, tetapi sebelum panji itu jatuh ketanah, segera disambarnya dengan tangan kirinya. Lalu mereka tebas pula tangan kirinya, tetapi Ja’far bin Abi Thalib mengepit panji itu dengan kedua pangkal lengannya kedada. Pada saat yang amat gawat ini, ia bertekad akan memikul tanggung jawab, untuk tidak membairkan panji Rasulullah jatuh menyentuh tanah, yakni selagi hayat masih dikandung badan.
Entah kalau ia telah mati, barulah boleh panji itu jatuh ke tanah. Pada saat jasadnya yang suci telah kaku, panji pasukan masih tertancap di antara kedua pangkal lengan dan dadanya. Bunyi kibaran bendera itu, seolah-oleh memanggil Abdullah bin Rawahah. Pahlawan ini membelah barisan musuh bagaikan anak panah lepas dari busurnya ke arah panji itu, lalu merenggutnya dengan kuat.

Gugurlah Ja’far bin Abi Thalib sebagai syuhada. Hari-harinya yang terdahsyat, teragung, dan terindah telah mengantarkannya menuju keharibaan Ilahi. Sungguh, hari itu adalah hari yang istimewa dan mempesona baginya.

Demikianlah Ja’far bin Abi Thalib mempertaruhkan nyawa dalam menempuh suatu kematian agung yang tiada tara. Begitulah akhirnya ia menghadap Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, menyampaikan pengorbanan besar yang tidak terkira, berselimutkan darah kepahlawannya.

Allah, Dzat yang Maha mengetahui menyampaikan berita tentang akhir kesudahan peperangan kepada Rasul-Nya, begitu pula akhir hidup Ja’far bin Abi Thalib. Tidak tahan untuk meluapkan perasaan haru atas kematian sahabatnya, Rasulullah pun menangis. Rasulullah kemudian pergi ke rumah saudara sepeupunya ini, beliau berdoa untuk anak cucunya. Mereka dipeluk dan diciuminya, sementara air matanya yang mulia bercucuran tak tertahankan.

Berkata Abdullah bin Umar, “Aku sama-sama terjun di perang Muktah dengan Ja’far bin Abi Thalib. Waktu kami mencarinya, kami dapati ia beroleh luka-luka bekas tusukan dan lemparan lebih dari 90 tempat!”

Bayangkan, Ja’far luka dengan 90 tempat bekas tusukan pedang dan lemparan tombak! Jika Anda ingin tahu tentang dirinya, dengarkanlah sabda Rasulullah saw sebagai berikut.
Aku telah melihatnya di surga, kedua bahunya yang penuh bekas-bekas cucuran darah penuh dihiasi dengan tanda-tanda kehormatan.”
Read More >>

KONSEPSI JILBAB DI DALAM AL-QUR’AN

Posted in Kamis, 31 Mei 2012
by ANAN SMILE
Ada baiknya uraian ini diawali dengan teks ayat 59 dari surat al-Ahzab yang disebut di atas: dalam surat al-ahzab ayat 59 yang artinya: Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, putri-putrimu, dan istri-istri orang beriman: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka”. Dengan pakaian serupa itu, mereka lebih mudah untuk dikenal, maka mereka tidak diganggu lagi dan Allah senantiasa Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Kata jibab, jamaknya jalabib, berasal dari Al-Qur’an seperti termaktub di dalam surat al-Ahzab ayat 59. Secara lughawi, kata ini berarti “pakaian (baju kurung yang longgar)”. Dari pengertian lughawi ini, Prof. Quraish Shihab mengartikannya sebagai “baju kurung yang longgar dilengkapi dengan kerudung penutup kepala”. Menurut Ibnu Abbas dan Qatadat, sebagaimana dikutip oleh Abu Hayyan, Jilbab ialah: “pakaian yang menutup pelipis dan hidung meskipun kedua mata permakainnya terlihat, namun tetap menutup dandan dan bagian mukanya”. Meskipun banyak pendapat yang dikemukakan berkenaan dengan pengertian jilbab ini, namun semua pendapat tersebut mengacu pada satu bentuk pakaian yang menutup sekujur tubuh pemakainya. 1. Asbabun Nuzul Ahli-ahli tafsir meriwayatkan tentang sebab turunnya ayat yang mulia ini, yaitu bahwa (dahulu) perempuan merdeka dan amat (hamba sahaya) biasa keluar malam untuk menunaikan hajat (buang air) di antara dinding-dinding dan pohon-pohon kurma, tanpa ada (ciri-ciri) pembeda antara yang merdeka dan amat (dari segi pakaian mereka), sedang pada waktu itu di Madinah banyak orang-orang fasiq yang biasa menganggu hamba-hamba perempuan (amat, jamak: ima’) dan kadang-kadang juga kepada perempuan-perempuan merdeka. Kalau mereka ditegur, maka jawabnya: Kami hanya menganggu hamba-hamba perempuan. Maka perempuan-perempuan merdeka disuruh membedakan diri dalam hal pakaian dengan amat, agar supaya mereka dihormati, disegani dan tidak merangsang keinginan orang-orang yang jiwanya berpenyakit (hidung belang). Kemudian turunlah firman Allah: “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrinya….dst. Ibnul Jauzi berkata: Sebab turunnya ayat ini ialah, bahwa orang-orang fasiq biasa mengganggu perempuan-perempuan pada waktu mereka keluar malam, tetapi kalau mereka melihat perempuan-perempuan yang berjilbab mereka enggan mengganggunya mereka melihat seseorang perempuan tanpa jilbab, mereka berucap: Inilah amat! Lalu mereka mengganggunya. Kemudian turunlah ayat yang mulia ini. Kita katakan, al-Qur’an tidak mewajibkan satu model tertentu dalam berpakaian, karena ayat 59 dari al-Ahzab tidak memberikan ketegasan tentang model tersebut. Ayat itu hanya berkata (ذٰلِكَ أَدْنٰى أَنْ يُعْرَفْنَ), cara yang demikian (pakai jilbab) adalah yang paling mudah untuk mengenal mereka”. Ucapan tersebut mengandung arti, bahwa untuk ukuran bangsa Arab pada masa itu model jilbab lebih mudah untuk membedakan antara perempuan merdeka dari budak, sehingga mereka tidak diganggu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Pada tempat lain, atau di kalangan masyarakat tertentu, barang kali model pakaian wanitanya tidak serupa dengan model jilbab tersebut. Berdasarkan kedua ayat itu, maka mereka boleh saja memakai berbagai model pakaian yang mereka sukai, selama pakaian tersebut dapat menutupi aurat. Artinya, pakaian tersebut selain longgar, tidak pula tipis, sehingga bentuk tubuh dan warna kulit tidak kelihatan dari luar. Jadi, sekali lagi al-Qur’an tidak membicarakan model, tapi yang diwajibkan ialah menutup aurat. Namun dalam menutupi aurat itu model pakaiannya harus berbeda antara pakaian perempuan dengan pakaian laki-laki sebagaimana dijelaskan Nabi di dalam hadits-hadits berikut: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْدَفَ الْفَضْلَ ابْنَ عَبَّاس يَوْمَ النَّحْرِ خَلْفَهُ وَفِيْهِ قِصَّةُ الْمَرْأَةِ الْوَضِيْئَةِ الْخَثْعِيَّةِ-فَطَفَقَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا فَأَخَذَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَقْنِ الْفَضْلِ فَحَوَّلَ وَجْهَهُ عَنِ النَّظُرِ إِلَيْهَا (رواه البخاري) Dari Ibnu Abbas r.a.: “Sesungguhnya Nabi SAW menunggang unta bersama al-Fadhal bin Abbas pada waktu haji wada’ dan ketika itu ada wanita cantik lalu al-Fadhal menatapnya terus-menerus, maka nabi memegang dagu al-Fadhal dan memalingkannya dari melihat wanita cantik tersebut” (H.R. Bukhari) Disamping hadits di atas, mereka juga menggunakan ayat al-Qur’an sebagai argumen, misalnya ayat 53 dari al-Ahzab: .....وَإِذَا سَأَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوْهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ..... “Dan apabila kalian ingin meminta sesuatu (keperlua) kepada mereka (istri-istri nabi), maka lakukanlah hal itu dibelakang tabir” Berdasarkan pada keempat argumen itu, maka pendukung pendapat ini menyatakan bahwa sekujur tubuh wanita itu pada hakikatnya adalah aurat yang wajib ditutupi dengan rapi. Oleh sebab itu, sedikitpun tak boleh tampak oleh orang-orang yang bukan muhrimnya, kecuali bila keterbukaan itu disebabkan oleh hal-hal yang di luar kontrol pemakainya, seprti ditiup angin dan sebagainya. Dalam kondisi serupa ini seorang hanya diberi toleransi pada pandangan pertama dan ia harus segera mengalihkan pandangannya ke objek lain. Penganut mazhab Hanafi dan Maliki menafsirkan ayat (إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا ) “yang biasa tampak” itu dengan “muka dan telapak tangan”. Dengan demikian, kedua anggota badan yang tidak wajib ditutup ditutup, sesuai dengan ayat tersebut. Bahkan menurut Abu Hanifah, sebagaimana dikutip oleh Syaikh Muhammad ’Ali al-Says, “Telapak kaki wanita pun tidak termasuk aurat, khususnya bagi wanita miskin di pedesaan yang dalam mencari penghidupan mereka terpaksa bekerja keras tanpa menutup kaki. Jika mereka harus menutup menutup kaki, niscaya hal ini akan sangat menyulitkan dan membuat susah; lebih susah lagi dari pada menutup tangan. Malah Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) lebih longgar lagi. Menurutnya, kedua tangan wanita bukan aurat, karena itu tak perlu ditutupi”. Pendapat ini pada dasarnya merujuk kepada ucapan Nabi SAW berkenan dengan kasus Asma’ putri Abu Bakar, Suatu hari Nabi berkata kepadanya: يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيْضَ لَمْ يَصْلُحُ لَهَا أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هٰذَا وَهٰذَا وَأَشَارَ إِلىَ وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ (رواه أبو داود وعائشة) “Hai Asma’! Sesungguhnya apabila wanita telah mencapai umur haid, maka tidak patut lagi terlihat darinya selain ini dan ini. Lalu Nabi menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya.” (H.R. Abu Daud dari ’Aisyah) 2. Pengertian Pengertian jilbab sebagaimana dinukilkan kepada kita bahwa jilbab adalah model pakaian wanita yang menutup keseluruhan tubuhnya, sehingga yang terlihat hanya kedua matanya saja. Sesuai dengan maksud ayat 59 dari al-Ahzab, bahwa yang wajib memakai jilbab ialah para wanita, bukan pria. Apabila mode jilbab seperti yang digambarkan itu ditetapkan pemakaiannnya di seluruh dunia, maka di dini akan timbul permasalahan, terutama dikalangan masyarakat yang kaum wanitanya belum terbiasa memakai pakaian serupa itu. Kendala ini makin mencekam bila dikaitkan dengan adat istiadat dan budaya suatu bangsa atau masyarakat tertentu. a. Jilbab dan Syarat-syaratnya Kata ‘jilbab’ jamaknya ‘jalabibb’, yaitu pakaian yang menutup seluruh tubuh sejak dari kepala sampai ke kaki; atau menutup sebagian besar tubuh, dan dipakai di bagian luar sekali seperti halnya baju hujan. Jilbab mempunyai beberapa syarat tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Albani dalam bukunya Hijabul Maratil Muslimah fi Kitabi was Sunnah, yaitu: 1. Menutup seluruh badan selain yang dikecualikan, seperti muka dan dua telapak tangan. 2. Tidak ada hiasan pada pakaian itu sendiri. Kata Imam Adz-Dzahabi dalam bukunya Al-Kabaair, “Di antara perbuatan terkutuk yang sering dilakukan wanita ialah menampakkan perhiasan emas dan permata yang dipakainya di bawah kerudung; memakai harum-haruman kesturi dan ‘anbar bila keluar rumah; memakai pakaian warna-warni, sarung sutera, baju luar yang licin, baju panjang yang berlebih-lebihan panjangnya. Semua itu termasuk jenis pakaian yang dibenci Allah, di dunia dan akhirat. 3. Kain yang tebal dan tidak tembus pandang Diriwayatkan pula, beberapa orang wanita Bani Tamim datang ke rumah Aisyah Radhiyallahu Anha, berpakaian tipis semuanya. Maka berkata Aisyah kepada mereka, “Jika kamu wanita mukmin, tidak begini caranya wanita-wanita Mukmin berbusana. Jika kamu bukan wanita Mukmin, kalian boleh puas dengan busana yang kalian pakai. 4. Lapang dan tidak sempit. Karena pakaian yang sempit dapat memperlihatkan bentuk tubuh seluruhnya atau sebagian. 5. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. 6. Tidak menyerupai pakaian orang kafir. Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (رواه الحاكم والطبرانى) “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk mereka”. (Diriwayatkan Hakim dan Thabrani) 7. Pakaian yang tidak menyolok Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bersabda, مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شَهْرَةٍ فِى الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ أَلْهَبَ فِيْهِ نَارًا. “Siapa yang memakai pakaian yang menyolok (pakaian kebesaran atau pakaian kemegahan), maka Allah memakaikan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian dinyalakan api pada pakaiannya itu. b. Bagaimana cara berhijab itu? Allah memerintahkan mukminat supaya berhijab dan berjilbab demi menjaga dan memelihara mereka, tetapi ulama masih berbeda pendapat tentang cara menutup tubuh tersebut. Dalam hal ini ada beberapa pendapat antara lain: 1) Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Sirin, bahwa ia berkata: Aku pernah bertanya kepada ‘Abidah as-Salmani tentang ayat “Hendaklah ia mengulurkan jilbabnya”. Lalu ia mengangkat jilbab yang ada padanya kemudian menutupkannya ke tubuhnya, yaitu menutup kepalanya sampai kedua bulu matanya, menutup wajahnya dan memperlihatkan matanya sebelah kiri dari sisi wajahnya sebelah kiri. 2) Ibnu Jarir dan Abu Hayyan meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: jilbab diangkat di atas kening lalu diikat kemudian ditutupkan di atas hidung, meskipun mata tetap terlihat, tetapi dada dan sebagian besar wajah tertutup. 3) As-Suda meriwayatkan tentang cara berhijab dan berjilbab, sebagai berikut: Salah satu mata tertutup, juga wajah dan sisi lain (dari wajah) kecuali mata. Abu Hayyan berkata: Begitulah adapt kebiasaan (berjilbab) di negeri Andalusia (Spanyol), dimana tidak nampak dari seorang perempuan melainkan matanya yang sebelah. 4) Abdurrazzaq dan segolangan ulama meriwayatkan dari Ummu Salamah r.a. bahwa ia berkata: Tatkala turun ayat ”hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya” itu, perempuan-perempuan Anshar keluar, sedang di atas kepala mereka seolah-olah dikerumuni burung gagak, dengan pakaian hitam yang mereka kenakannya. c. Kandungan Hukum - Apakah perintah berjilbab itu untuk seluruh wanita? Zhahir ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa berjilbab itu diwajibkan atas seluruh wanita yang mukallaf (muslimah, balighah, dan merdeka) karena Allah berfirman: ”Hai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin.....dst” Sedang perempuan kafir tidak terkena kewajiban ini sebab tidak dibebani melaksanakan syari’at Islam dan kita diperintahkan untuk membiarkan mereka mengikuti agama mereka, juga karena berjilbab itu termasuk beribadah, sebab dengan berjilbab berarti melaksanakan perintah Allah swt, dimana terhadap seorang muslim melaksanakan perintah tersebut sama dengan melaksanakan perintah shalat dan shaum, yakni manakala ditinggalkannya dengan secara menentang maka berarti mengkufuri perintah Allah yang dapat dikategorikan sebagai murtad dari Islam, tetapi kalau ditinggalkannya itu karena semata-mata mengikuti situasi masyarakat yang telah rusak dengan tetap yakin akan wajibnya- maka dianggap sebagai orang yang mendurhakai dan menyalahi perintah Allah yang berfirman dalam Al-Qur'an: وَلاَ تَبَرَّجَنَّ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ (Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti tingkah laku orang jahiliyah) Kemudian wanita non muslim –meskipun tidak diperintahkan berjilbab- tetapi tidak boleh dibiarkan merusak struktur masyarakat (muslim) dengan bertelanjang di hadapan kaum lelaki sebagaimana pemandangan yang lazim kita lihat di zaman kita sekarang ini, karena masih tetap ada kesopanan sosial yang harus dipelihara dan diterapkan untuk seluruh anggota masyarakat, baik yang muslimah atau non muslimah demi tertib sosial. Ini termasuk siasah syar’iyah (policy syara’) yang harus dilaksanakan pemerintah Islam (untuk mengaturnya). Adapun hamba-hamba perempuan maka anda telah mengetahui bagaimana pandangan ulama tentang kedudukannya, dan telah ditampilkan pendapat al-Allamah Abu Hayyan di bagian terdahulu, bahwa perintah menutup tubuh itu umum, meliputi perempuan merdeka dan hamba. Pendapat inilah yang sesuai dengan ruh Islam dalam memelihara kehormatan dan menjaga masyarakat dari kerusakan dan dekadensi moral, sedang usia baligh menjadi syarat bagi seseorang yang dibebani kewajiban-kewajiban agama sebagaimana telah diuraikan. 3. Kesimpulan Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Islam mensyariatkan pemakaian jilbab dalam upaya menjaga martabat, kesucian dan kehormatan kaum wanita. 2. Kewajiban memakai jilbab hanya bagi wanita-wanita muslimah yang sudah dewasa (telah mulai haid). 3. Islam sengaja tidak menentukan model tertentu dalam berjilbab agar umat lebih bebas dalam berkreasi sehingga tidak membosankan karena yang dipentingkan ialah menutup aurat, bukan model pakaiannya. 4. Berpakaian dengan busana muslimah merupakan wujud dari rasa patuh dan taat kepada perintah Allah. Dengan demikian, pemakaiannya memperoleh pahala dari-Nya selama diiringi dengan niat yang ikhlas. DAFTAR PUSTAKA Ali, A. Mukti (Pem. Red). Ensiklopedia Islam. Jakarta: Dep. Agama RI, Buku 2, 1993. Al-Says, al-Syaikh Muhammad Ali, Tafir Ayat Ahkam, Kuliah Syari’ah, t,th, t.tp Al-Wahidi, Abu al-Hasan ’Ali. Asbab Nuzul al-Qur'an, Tahqiq al-Sayyid Ahmad Shaqr. Dar al-Qiblat, cet. Ke-2, 1984. Al-Zawi, al-Thahir Ahmad. Tartib al-Qamus al-Muhith. Bairut: Dar al-Fikr I, cet. ke-33, t.th. Dep. Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: 1984. Hassan, Riffat. Feminisme Dalam Al-Qur'an. dalam jurnal “Ulumul Qur’an, No. 9, Vol, II, 1991. Hayyan, Abu. Tafsir al-Bahr al-muhith. Dar al-Fikr, VII, cet. Ke-2, 1978. Khallaf, Abd al-Wahhab. Ilm al-Fiqh. Al-Dar al-Kuwaytiyyat, cet. Ke-8, 1968. Majalah Mimbar Ulama. “Pedoman Pakaian Seragam”. N. 158 Th. XV, Maret 1991. Shihab, Quraish. Wawasan Al-Qur'an. Bandung: Mizan, cet. Ke-3, 1996. .
Read More >>

TAFSIR AYAT-AYAT GHANIMAH (HARTA RAMPASAN PERANG)

Posted in
by ANAN SMILE
A. Pendahuluan. Sejak dulu kala syariat selalu berproses melalui hal-hal yang bisa memudahkan manusia menjalankan syariatnya. Melalui sebuah proses hokum ini, maka seringkali mengalami tambal sulam di sana-sini, kadang ada hukum yang terhapus dan ada pula yang ditambahkan pada syariat sesudahnya, salah satu hukum yang terhapus adalah bolehnya seorang lelaki menikahi dua bersaudari sekalian seperti pada syariatnya Nabi Musa, dan pada syariat yang dibawa Muhammad hukum ini tidak diperbolehkan, sedang hukum yang dulu tidak boleh dan pada syariat Muhammad diperbolehkan adalah pembagian harta rampasan perang yang terkenal ghanimah. Ghonimah merupakan syariat yang khusus diperuntukkan buat Nabi Muhammad, seperti hadits beliau yang artinya, “ 1. Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul , oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman." 2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. 3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. 4. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.(QS. Al-Anfal ayat 1-4) Ghonimah ialah harta yang dirampas dari orang kafir secara umum melalui peperangan dengan mengerahkan pasukan dan lain sebagainya.ghonimah ini dibagi menjadi lima bagian, 1/5 dibagi lagi untuk lima kelompok, pertama untuk Allah (kemaslahatan kaum muslimin) dan rasulnya. Kedua, untuk kerabat Rasul, ketiga untuk orang – orang yatim, keempat dan kelima untuk orang-orang miskin dan ibnu sabil (orang yang terlantar di perjalanan atau terusir dari tempat tinggalnya. Sedangkan 4/5 bagian diperuntukkan para tentara yang turut berperang. Demikian itu berdasarkan pada firman Allah Ta’ala.      •                              41. Ketahuilah, Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang , Maka Sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad) di hari Furqaan yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Syeh Abu Syuja’ berkata: “Barang siapa membunuh musuh ,maka harta yang di sandang oleh musuh (salab) yang terbunuh untuk orang yang ikut hadir dalam pertempuran.Tentara berkuda mendapat tiga kali bagian tentara yang berjalan kaki hanya mendapat jatah satu orang. Barangsiapa mempertaruhkan dirinya dalam membunuh orang kafir dan bertahan dalam peperangan, sedangkan pembunuh tersebut termasuk orang yang berhak mendapat bagian dari harta rampasan perang, maka ia berhak memiliki salab orang kafir yang dibunuh itu. Salab adalah harta yang disandang/dibawa serta orang kafir yang terbunuh dalam peperangan, seperti senjatanya, pakaiannya kudanya dan lain sebagainya. Salab ini menjadi milik pembunuh secara perorangan. B. Asbab al-nuzul Surat al-anfal (harta rampasan perang) adalah surat kedelapan pada urutan surah-surat dalam alqur’an. Sementara ulama menilai bahwa surat ini adalah wahyu kedelapan puluh Sembilan yang diterima Nabi.mayoritas ulama berpendapat bahwa seluruh ayat-ayatnya turun setelah Nabi berhijrah. Ada yang mengecualikan ayat ke-64, ada juga yang mengecualikan ayat 30 dan lima ayat lain yang turun di Makkah, menurut Quraisy Shihab, konteks ayat yang berbicara tentang situasi Makkah itu justru dalam rangka mengingatkan situasi sebelum kondisi di Madinah yang sudah damai dan penuh kesejahteraan dibanding saat di Makkah dulu guna menarik pelajaran dan sepatutnya bersyukur atas nikmat Allah. Menurut Al-Biqa’I, bahwa tema dan tujuan penting dari surat al-Anfal adalah dalam rangka menekankan bahwa manusia tidak mampu mendatangkan manfaat sama sekali, tidak juga kuasa menampik madharat kecuali atas kekuasaan Allah yang diberikan padanya. Dia juga berpendapat bahwa ketika mereka saling berselisih pada masalah harta rampasan perang, maka Allah menghalangi mereka secara langsung, dan mengharuskan mereka untuk tunduk dan patuh dengan penuh kerendahan hati serta menetapkan bahwa yang membaginya adalah rasulullah. Itu karena kemanangan di medan Badr disebabkan lemparan batu batu kecil ke hadapan kaum kuffar dan mengenai mata mereka semua. Dan itu semua merupakan mukjizat Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi saw bersabda : “barang siapa yang membunuh (musuh), ia akan mendapat sejumlah bagian tertentu dan barangsiapa yang menawan musuh, ia pun akan mendapat bagian tertentu pula.” Pada waktu itu orang tua tinggal menjaga bendera, sedang para pemuda maju ke medan laga menyerbu musuh dan mengangkut ghanimah. Berkatalah orang-orang tua kepada pemuda,”jadikan kami sekutu kalian karena kamipun turut bertahan dan menjaga tempat kalian.” Hal ini mereka adukan kepada Nabi maka turunlah ayat satu dari surat al-Anfal ini yang menegaskan bahwa ghanimah itu merupakan ketetapan Allah dan jangan menjadi bahan pertengkaran. Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa dalam peperangan badr, Umair terbunuh dan Sa’ad bin Abi Waqqas (saudaranya) dapat membunuh kembali pembunuh saudaranya itu, yaitu Sa’id bin al-‘Ash bahkan dapat mengambil pedangnya serta dibawanya pedang itu kepada Nabi saw. Nabi bersabda:”simpanlah pedang itu di tempat harta rampasan yang belum dibagikan.” Saad pun pulang dengan rasa sedih karena saudaranya terbunuh dan dikumpulkannya harta rampasan pribadinya. Tak lama kemudian turunlah ayat 1 dari surat al-Anfal ini dan bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqas,”ambillah pedangmu itu” . Dalam riwayat Abu Dawud meriwayatkan dari Ibn Abbas ra berkata :”ketika pada perang badar Rasulullah saw bersabda: “barang siapa melakukan demikian dan demikian, maka dia mendapatkan tambahan demikian dan demikian” Maka para pemuda dari suatu kaum bergegas melakukan demikian, sedangkan orang tua tinggal saja di bawah bendera. Kemudian ketika ada harta rampasan, mereka datang untuk mencari bagiannya.maka para orang tua berkata :”janganlah kalian memojokkan kami, kami juga membantu kalian, seandainya kamu terdesak, tentu kamu akan lari menuju kami” mereka terus berdebat berkepanjangan, maka Allah menurunkan ayat yas’aluunaka anil anfaal itu. C. Pembahasan Kandungan Ayat. Kita tautkan kembali hubungan antara ayat 1 dan 41, di sana dikatakan bahwa kalau mereka bertanya kepada engkau, wahai utusanKu, tentang harta rampasan, yang di ayat satu itu disebut al-anfal, maka hendaklah engkau jelaskan kepada mereka bahwa anfal itu adalah bagi Allah dan rasulNya. Artinya hendaknya kalian kumpulkan jadi satu harta rampasan tersebut, belum seorang jua yang mampu memilikinya sebelum dikumpulkan dan diputuskan oleh Allah dan Rasul.tentu sudah maklum bahwa Rasul menguasai terlebih dahulu atas nama Allah. kelak, menurut ayat 41 barang rampasan yang disebut di dalam ayat ini sebagai ghanimah dibagi menjadi lima bagian, bagian 1/5 untuk Allah dan rasulnya, dan 4/5nya dibagikan kepada para pejuang yang turut bertempur. Bagi yang berjalan mendapat satu bagian, yang berkuda mendapat 3 bagian. Ada enam pendapat ulama berkenaan dengan pembagian ghanimah: 1. yang seperlima itu dibagi menjadi enam bagian, satu bagian untuk kepentingan ka’bah,itulah yang dikatakan untuk Allah,sebagian untuk rasulullah saw.dan sebagian lagi untuk kerabatnya, bagian keempat untuk anak-anak yatim, bagian kelima untuk orang miskin.bagian ke enam diperuntukkan ibnu sabil untuk bantuan baginya saat mengadakan perjalanan. 2. Seluruh ghanimah dibagi menjadi lima empat perlima dibagikan kepada yang ikut berperang, satu perlima ada di tangan rasul untuk dibagikan kepada lima macam golongan termasuk diri rasul. 3. Yang ketiga diriwayatkan dari Zainal ABidin ibn Husain Ibn Ali bin Abi Thalib “yang seperlima adalah untuk kami”, kemudian ditanyakan oleh seseorang :”bukankah di dalam ayat itu ada anak yatim dan orang miskin?”, beliau menjawab:” yaitu orang miskin, anak yatim, orang yang mengadakan perjalanan dari keluarga kami.” Jadi menurut faham beliau. 4. Dari Imam Syafii berpendapat bahwa yang seperlima itu dibagi lima, yang satu untuk untuk Allah dan rasulnya, yang dipergunakan untuk kepentingan umum, yang empat terakhir untuk emapt golongan yang ada di dalam ayat. 5. yaitu pendapat Abu Hanifah. Yang seperlima itu dibagi menjadi tiga bagian yaitu untuk anak-anak yatim, orang orang miskin dan orang dalam perjalanan, hukum yang diperuntukkan rasul dengan sendirinya terhapus sebab rasul juga telah meninggal , maka dimulailah seperlima itu dipakai untuk memperbaiki jalan, jembatan, membangun masjid dan menggaji para hakim dan tentara” perkataan seperti ini pula yang ditulis oleh Imam Syafi’i. 6. Pendapat terakhir, dari Imam Malik:”mempergunakan yang seperlima ini terserah kepada kebijakan al-Imam (kepala Negara) dan ijtihadnya. Dia boleh mengambil bagian dirinya sendiri menurut kebijakannya sendiri dan membagikan pula kepada bala tentaranya bagaimana patutnya. Dan yang selebihnya digunakan untuk kemaslahatan kaum muslimin.” Al-Qurthubi berkata :” yang seperti inilah perkataan khalifah yang empat, dan begini pula mereka amalkan, dengan dalil sabda rasul saw. ليس لي مما أفاء الله إلا الخمس والخمس مردود عليكم Artinya :”tidaklah ada untukku dari harta rampasan yang telah dihidangkan Allah untuk kamu, kecuali seperlima saja, yang seperlima itupun kembali kepada kamu jua”. DAFTAR PUSTAKA Ash Shabuni, terj. Zuhri, Moh. Rawaai’ul Bayan, (Semarang : Asyifa) Jilid II, 1971. Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta:Pustaka Panji Mas) Jilid X, 1985. Qomaruddin Shaleh, Asbabun Nuzul, (Bandung : cv.Diponegoro, Cet.XI), 1963. Shihab, Quraish, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarata : Lentera Hati), 2005. Taqiyyuddin, Terj. Zaidun ach, Kifayatul akhyar Jld III, (Surabaya : Bina Ilmu), 2001
Read More >>

Hidangan Populer Warkop Pusat

Copyright 2011 @ Warkop Mbah Lalar