Dibalik Label Kafir Untuk Ummat Islam Lain

Posted in Sabtu, 28 Januari 2012
by Mbah Lalar

Lamun ora ngerti mongko wajib pitakonan (Rifa’i)


Rifa’i merupakan seorang ulama sekaligus pahlawan kemerdekaan yang mempunyai pengikut atau jama’ah yang sekarang disebut sebagai Rifaiyah. Ceroboh, sombong patut disematkan pada diri saya karena berani ngomong tentang ajaran Rifaiyah yang belum terkuasai sepenuhnya, sedikit mengerti tentang Rifaiyah karena hidup dilingkungan Rifayah dan kebetulan Orang tua adalah ketua dewan Syuro Kota semarang jadi sering mendengar orang membaca kitab-kitabnya.



Waduh...kok malah nulisnya tidak fokus sihh..oke kembali ke ajaran Syeh Ahmad Rifa’i “  Lamun ora ngerti mongko wajib pitakonan” dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih “jika tidak tahu maka harus bertanya”. Bertanya bukanlah identik dengan orang bodoh, bahkan dalam ilmu filsafat bertanya merupakan pelajaran dasar. Bertanya merupakan awalan untuk mengajak dialog. Sungguh indah ketika segala permasalahan diselesaikan dengan dialog seperti Nabi Muhammad saat menaklukan lawan-lawannya (persia).



Namun sistem dialog sudah ditinggalkan, banyak kaum yang mengutamakan perang, membunuh, meja hijau bahkan sekarang lagi marak melabeli musuhnya dengan sebutan Kafir. Lo..lo..lo bukankah sesama orang muslim tidak boleh saling mengkafirkan. ada lagi modus penghakiman bagi kaum yang tidak sepaham (secara aqidah) yang kebetulan minoritas, yaitu tidak di gauli, bahkan mayatnya tidak boleh dikubur diwilayah itu. Peristiwa ini telah terjadi di lingkungan Rifaiyah Semarang (dekat dengan tempat tinggalku).



Hanya karena perbedaan aqidah membuat orang sesama Islam bermusuhan, jika Islam seperti ini, maka tungguhlah kehancurannya. Alahkah baiknya bercermin pada sejarah, kerajaan Islam di Spanyol di masa Umayah jaya, namun karena pertengkaran sesama kerajaan Islam (Granada, Andalusia dan Cordoba) Islam menjadi minoritas saat ini.



Beda Aqidah adalah Kafir



Label kafir mulai diperkenalkan di dunia pergulatan politik di negara-negara Arab.  Dalam buku Islam Progresif karya Sholahudin Al Jursy (Tunisia) telah dijabarkan. Bermula dari ajaran Syeh Qutub yang mengajarkan tentang Tauhid, berawal dari pernyataan bahwa pemerintahan yang menandingi kekuasaan tuhan adalah negara kafir.



Untuk bisa memberikan label kafir maka syariat Islam dijadikan ukurannya. Padahal masing-masing kaum mempunyai intreprestasi berbeda dalam mengartikan syari’at. Sungguh memaksakan kehendak jika harus semua disamakan dan diseragamkan, bukankah perbedaan adalah ramat tuhan. Perbedaan merupakan kekayaan yang dipunyai oleh umat Islam, apapun yang terjadi menggunakan metode paksaan tidak bisa dibenarkan dalam berdakwah. Perlu diketahui juga arti dakwah sesungguhnya adalah ajakan bukan paksaan.



Karena paksaan bisa menimbulkan permusuhan, tentunya sesuatu yang tidak akan diharapkan oleh semua orang, semua orang ingin hidup damai. Orang-orang yang giat memaksakan aqidahnya kepada orang lain selalu memimpikan negara Islam malah bisa mengingkari ajaran Islam itu sendiri yaitu perdamaian.



Mereka rela melakukan bom bunuh diri, merampok untuk pembiayaan pembuatan Bom dan cara-cara seperti ini mereka sebut sebagai jihad. Mungkin contoh seperti ini adalah ekstrim, mari menyelami permasalahan di lingkungan dirikita masing-masing. dalam lingkup pedesaan masih juga ditemukan konflik antar ulama yang diikuti oleh jamaahnya. Namanya ulama tentunya sudah banyak mengerti tentang agama namun masih saja ada bermusuhan, ya namanya ulama’ juga manusia.



Permusuhan karena berbeda pikiran atau pandangan masih diwajarkan namun kebanyakan konflik terjadi karena masalah kepentingan individu seperti beda  parpol (PPP, PKB,PKS, dll), lebih jijik lagi jika permusuhan terjadi karena sikap iri karena banyak jamaah yang biasa ngaji dengannya berkurang dan beralih ke ulama’ lainnya. Malah ada juga karena rebutan masjid ha ha ha ha.



Banyaknya peristiwa seperti itu yang terjadi menimbulkan tanda tanya, jangan-jangan mereka menyembah Jamaah bukan tuhan, jangan-jangan mereka gila hormat daripada menghormati agama Allah, ha ha ha ha ya.. lagi-lagi ulama juga manusia.



Pemuda Liberal Vs Konservatif

Untuk mengeliminasir konflik-konflik yang tidak berkewalitas seperti itu maka pemudahlah menjadi harapan. Lagi-lagi menukil ajaran Syeh Ahmad Rifa’i “Lamun ora ngerti mongko wajib pitakonan”. Nukilan itu juga bisa dimaknai bahwa Syeh Ahmad Rifa’i menyuruh umatnya untuk terus belajar “pitakonan”.
Akan sangat rugi jika masih muda tidak banyak belajar, sebaiknya orang-orang yang masih berusia muda tidak cepat-cepat untuk tampil dimuka umum. Nabi Muhammad berani memproklamirkan dirinya sebagai Rossul pada usia 40 tahun. Sebab masa muda adalah masa yang digunakan untuk memperdalam ilmunya.
Kemerosotan Islam saat ini karena tidak banyak kaum muda yang berani menemukan ide-ide baru, adapun ada tetapi tidak sepaham dengan mainstrim masyarakat lainnya pasti akan di caci-maki, sedangkan orang yang dianggap tua malah ikut-ikutan mencaci maki. Memang benar puisi Gus Mus “kau suruh aku berfikir, aku berfikir kau tuduh aku kafir”.

Jayanya Islam pada masa Ibnu Rush dan Imam Al-Ghozali dikarena beliau juga mengajarkan filsafat pada murid-muridnya. Namun banyak orang awam sekarang berfikir bahwa belajar filsafat adalah haram, padahal filsafat yang diharamkan oleh Imam Al-Ghozali adalah filsafat tentang teologi, sedangkan filsafat tentang kemanusian, alam dll tidak diharamkan.

Kembali ke anak-anak muda, semangat inovasi pemikiran anak muda kebanyakan memunculkan kontroversi terutama dengan golongan konservatif. Karena kubu konservatif merasa diserang akhirnya menggunakan dalil-dalil agama untuk menyerang. Kalau sudah seperti ini menjadikan niat para pemuda dalam belajar bukan mencari ilmu lagi akan tetapi untuk mengisi amunsi guna dijadikan alat berperang sesama umat Islam sendiri.
Sibuk berperang di dalam intern sendiri (umat Islam) menyebabkan kita lupa dengan perjuangan sesungguhnya yaitu mengembangkan Islam, padahal tanpa disadari musuh sudah dekat. Dengan kesibukan perang dengan kaum sendiri membuat kita lupa bahwa ternyata negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam masuk dalam kategori miskin ha ha ha ha menyedihkan.
Alangkah baiknya jika kita memakai prinsip rahmatal lilalamin tadi, pemikiran boleh berbeda tapi yakinlah tujuan tetap sama yaitu mengembangkan Islam. Seburuk-buruknya manusia tetap masih ada kebaikannya karena dalam filsafat Cina manusia digambarkan mempunyai sifat ying dan yang (Baik dan jahat) seimbang.

Muhtar Said

Putra ketua Dewan Syuro Rifaiyah Semarang