Rabbi Baru dan Bilik Pengakuan Dosa

Posted in Kamis, 31 Maret 2011
by Mbah Lalar
Oleh: Anggota WLML ( Nur Sari Aini )

Seorang pendeta yang biasa melayani pengakuan dosa, tiba-tiba mendapat panggilan untuk pertemuan mendadak, karena tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya, si pendeta meminta tolong kepada temannya seorang rabbi u ntuk menggantikan. Si Rabbi mengatakan bahwa ia tidak tahu sedikitpun tentang pengakuan dosa. Pendeta mengajak si Rabbi untuk ikut dengannya dan memperhatikan apa yang si pendeta lakukan. Akhirnya mereka berada di dalam kamar pengakuan dosa.

Tidak lama kemudian masuklah orang pertama.

Orang I : Pak pendeta….saya ingin mengaku dosa
 
Pendeta : Apa yang telah engkau lakukan ?
 
Orang I : Aku telah berzina
 
Pendeta : Berapa Kali ?
 
Orang I : Tiga kali
 
Pendeta : Ucapkan pujian pada Bunda Maria, masukkan Rp.50.000,00 ke kotak sumbangan dan dosamu telah diampuni
 
Orang I : Terima kasih… dan orang tersebut pergi
Kemudian masuk lagi orang kedua dan percakapanpun dimulai..
 
Orang II : Pak pendeta….saya ingin mengaku dosa
 
Pendeta : Apa yang telah engkau lakukan ?
 
orang II : Aku telah berzina
 
Pendeta : Berapa Kali ?
 
Orang II : Tiga kali
 
Pendeta : Ucapkan pujian pada Bunda Maria, masukkan Rp.50.000,00 ke kotak sumbangan dan dosamu telah diampuni 
 
Orang II : Terima kasih…


Si Rabbi akhirnya mengerti dan memahami caranya, karena merasa yakin bahwa si Rabbi sudah bisa melakukannya, si Pendeta pun pergi menghadiri pertemuan penting.

Beberapa saat kemudian masuklah orang ketiga..

Orang III: Pak pendeta….saya ingin mengaku dosa

Rabbi : Apa yang telah engkau lakukan ?

Orang III: Aku telah berzina

Rabbi : Berapa Kali ?

Orang III: Satu kali

Rabbi : Lakukanlah dua kali lagi, dan kembali kesini dengan uang Rp. 50.000
Read More >>

IMAM 'ALI BIN ABI THALIB KARROMALLAHU WAJHAH MENCINTAI KHOLIFAH ABU BAKAR & KHALIFAH UMAR BIN KHOTTHOB RODLIYALLAHU 'ANHU

Posted in Rabu, 30 Maret 2011
by Mbah Lalar



Kebencian Kaum syiah ini Bukanlah Rahasia umum lagi, Bukan syiah namanya Jika tidak membenci Khalifah 'Umar ibnu khattab penakluk negara majusi Pemyembah Api persia. 
 
Kaum yang mengaku sebagai Pecinta dan pengikut Imam Ali Bin Abi thalib ini ternyata bertolak belakang dan sangat berseberangan dengan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. sebab Ali Bin abi Thalib mencintai Umar Ibnu Khottab sampai-sampai Beliau menasihati agar tidak Terjun sendiri ke medan Pertempuran melawan Majusi persia, Alasan Ali bin Abi thalib Karena Khawatir Umar akan terbunuh sebab Ali telah menganggap Umar sebagai Poros pemersatu Arab.

Dan jika tidak ada engkau (Umar) niscaya akan terjadi perang diantara mereka.
Inilah Bukti kecinta'an Ali terhadap sahabat-sahabat Nabi, Namun kaum syiah memang agama pembangkang dan pengingkar sama dengan pendahulnya yaitu Yahudi al-mal'un. peristiwa Ungkapan Mulya dan indah Dari sayyidina Ali bin abi thalib terhadap Umar bin khottab tersebut tertulis dan terpampang dengan jelas di dalam Kitab syiah , yaitu Nahjul balaghah, Perlu di ketahui bahwa Kitab Nahjul balaghah adalah kitab paling di akui dan paling di angap sohih oleh penganut agama syiah karena di dalam nya berisi tentang nasehat-nasehat dan khutbah-khutbah Ali bin abi thalib.
 
 
Dalam Kitab Nahju_Al_Balaghah hal 257-258 sayarah muhammad Abduh / darul andalus bairut " . bahwa Ali bin abi thalib memuji Umar ibnu khottab radhiyallahu anhuma.

- وورد في النهج أن عمر بن الخطاب رضى الله عنه لما استشار عليا رضي الله عنه عند انطلاقه لقتال فارس وقد جمعوا للقتال ، أجابه : ( إن هذا الأمر لم يكن نصره ولا خذلانه بكثرة ولا قلة ، وهو دين الله تعالى الذي أظهره ، وجنده الذي أعده وأمده ، حتى بلغ مابلغ وطلع حيثما طلع ، ونحن على موعد من الله تعالى حيث قال عز اسمه { وعد الله الذين آمنوا } وتلى الآية ، والله تعالى منجز وعده وناصر جنده ، ومكان القيم بالأمر في الإسلام مكان النظام من الخرز فإن انقطع النظام تفرق الخرز ، ورب متفرق لم يجتمع ، والعرب اليوم وإن كانوا قليلاً فهم كثيرون بالإسلام عزيزون بالإجتماع ، فكن قطباً ، واستدر الرحى بالعرب وأصلهم دونك نار الحرب ، فإنك إن شخصت من هذه الأرض انقضت عليك من أطرافها وأقطارها ، حتى يكون ما تدع وراءك من العورات أهم إليك مما بين يديك . إن الأعاجم إن ينظروا إليك غداً يقولوا : هذا أصل العرب فإذا قطعتموه استرحتم ، فيكون ذلك أشد لكَلَبِهم عليك وطمعهم فيك . فأما ماذكرت من مسير القوم إلى قتال المسلمين فإن الله سبحانه وتعالى هو أكره لمسيرهم منك ، وهو أقدر على تغيير ما يكره . وأما ماذكرت من عددهم فإنا لم نكن نقاتل فيما مضى بالكثرة ، وإنما كنا نقاتل بالنصر والمعونة )[ - نهج البلاغة ص257 ، 258 شرح محمد عبده / دار الأندلس للطباعة والنشر والتوزيع / بيروت]. انتهى بلفظه .

Artinya :
" Di Sebutkan di dalam kitab An-nahjul balaghah, Ketika Umar ibnu Khottab meminta Nasehat Kepada Ali Rhadiyallahu anhu sa'at beliau hendak Memerangi negeri persi, Sementara Pasukan Telah berkumpul bersiap-siap hendak berperang. Ali Bin abi thalib Menasehati
“Jihad ini kemenangannya dan kekalahannya bukan ditentukan oleh banyak atau sedikitnya pasukan. Karena Islam adalah agama Allah yang akan Dia menangkan, dan tentaraNya yang akan Dia siapkan dan Dia tolong. Hingga tercapailah apa yang tercapai dan terwujudlah apa yang terwujud. Kita semua berada dalam janji Allah SWT Dan Allah SWT akan mewujudkan janji-Nya serta menolong tentara-Nya.
Sedangkan kedudukan pemimpin dalam perang adalah seperti tali bagi butiran-butiran kalung, yang menyatukan dan mengumpulkan butiran-butiran itu. Maka jika tali tersebut terputus, niscaya butiran-butiran itu terpisah dan tercerai-berai. Kemudian butiran-butiran tersebut tidak pernah tersatukan lagi.
Orang Arab saat ini, meskipun bilangan mereka sedikit, namun nilai mereka menjadi banyak karena Islam, dan mereka mulia karena persatuan. Oleh karena itu, jadilah kamu (Umar) poros bagi mereka. Dan jika tidak ada engkau (Umar) niscaya akan terjadi perang diantara mereka. Karena jika engkau perhatikan tanah (Arab) ini , niscaya suku-suku Arab dari ujung ke ujung berpusat ke sini. Sehingga menjaga persatuan Arab itu lebih penting bagimu dibandingkan jika engkau ikut perang ke Persia.
Sedangkan orang-orang asing, ketika mereka melihatmu di medan perang besok, niscaya mereka mengatakan “inilah pemimpin orang Arab, dan jika kalian bunuh dia niscaya tenanglah kalian (karena pasukan Arab tidak mempunyai pemimpin lagi untuk maju memerangi Persia).” Sehingga kehadiranmu di medan perang itu justru akan memancing mereka membidikmu dan memusatkan segala daya upaya mereka untuk membunuhmu.
Sedangkan tentang apa yang engkau katakan itu, bahwa pasukan musuh sedang bergerak untuk memerangi kaum Muslimin, maka Allah SWT tentu lebih tidak senang dibandingkan dirimu terhadap pergerakan pasukan musuh itu. Dan Allah tentu Maha Berkuasa untuk mengubah apa yang Dia tidak senangi. Sedangkan tentang jumlah pasukan yang engkau bilang (sedikit) itu, maka kita dahulu berperang bukan dengan mengandalkan banyaknya pasukan. Namun kita berperang dengan mengandalkan bantuan dan pertolongan Allah SWT”
(Nahjul Balaghah: hal 257-258 sayarah muhammad Abduh / darul andalus bairut ).

Sedangkan Imam Ja'far Shadiq bin Muhammad Al_Baqir bin 'Ali Zainal 'Abidin bin Husain bin 'Ali bin Abi Thalib, ketika membicarakan keutamaan Sayyidina Abi Bakar, Beliau berkata:

ما أرجو من شفاعة علي شيأ إﻻ وأنا أرجو من شفاعة أبي بكر مثله - رواه الدار قطني-
"Di samping saya mengharap Syafa'at dari 'Ali, saya mengharap Syafa'at Abu Bakar juga"

Beliau juga berkata:

أللهم إني أتولى أبا بكر وعمر وأحبهما أللهم إن كان في نفسي غير هذا فلا نالتني شفاعة محمد صلى الله عليه وسلم يوم القيامة (رواه الدار قطني(

"Ya Allah, Aku mengakui Kepemimpinan Abu Bakar dan Umar dan Aku mencintai kedua Orang tersebut. Ya Allah, jika ada yg ada dalam hatiku bukan demikian, biarlah aku tidak mendapat Syafa'at dari Muhammad Shollallahu 'alaihi wa Sallam"

Satu bukti lagi yg terekam dalam Sahih Imam Bukhori, bhw Imam 'Ali bin Abi Tholib Karromallahu wajhah memberikan kesaksian:

خير هذه اﻷمة بعد نبيها أبو بكر ثم عمر

"Orang yg paling baik dari Ummat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, kemudian 'Umar"

Perkataan Imam 'Ali di atas di riwayatkan dari Imam 'ali dari delapan pulu riwayat, sehingga merupakan riwayat yg sangat kuat.

Inilah keterangan2 Imam 'Ali sendiri mengnahi kedudukan Kedua Sahabat Agung di Atas, Hal ini membuktikan kecintaan Imam Ali kepada keduanya. Dan sekaligus merupakan Peringatan dan pelajaran bagi kita untuk mengambil sikap Kepada Keduanya.



Read More >>

KEDUSTAAN SYI'AH TENTANG WILAYAH ALI

Posted in
by Mbah Lalar


Kaum Syi'ah memandang soal Imamah termasuk keyakinan pokok. Mereka mengkafirkan orang yang tidak mengakui keimaman dan memandang orang yang mengakuinya sebagai Muslim. Soal Imamah dianggap mempunyai kaitan langsung dengan soal-soal keimanan, seperti iman kepada Allah dan iman kepada Rasul-Nya. Hal ini diriwayatkan oleh Al- Kaliniy di dalam Al Kafiy, bahwa Abul Hasan Al 'Atthar berkata: "Aku mendengar Abu 'Abdullah mengatakan: 'Sertakan para penerima wasiat dengan para Rasul dalam hal taat.'" [Al Kafiy, Kitab Al Hujjah, Bab Kewajiban Taat Kepada Para Imam, hal. 186, Jilid I, cet. Teheran]

Al Kaliniy mengemukakan sebuah riwayat yang lebih terus terang dan lebih tegas lagi mengenai hal itu. Ia mengatakan: "Aku mendengar Abu 'Abdullah menegaskan: 'Kamilah yang oleh Allah ditetapkan wajib ditaati. Orang tidak akan memperoleh kelonggaran kecuali dengan mengenal kami, dan orang yang tidak mengenal kami, tidak memperoleh maaf. Siapa yang mengenal kami ia mu'min dan siapa yang mengingkari kami ia kafir. Sedangkan orang yang tidak mengenal dan tidak mengingkari kami ia sesat selam ia belum kembali kepada hidayat Allah yang telah menetapkan orang wajib taat kepada kami.'" [Al Kafiy, Kitab al Hujjah, hal. 187, Jilid I, cet. Teheran]

Ia juga mengemukakan sebuah riwayat berasal dari Jabir yang mengatakan:

Aku mendengar Abu Ja'far a.s. berkata:

"Orang yang mengenal Allah dan bersembah sujud kepada-Nya hanyalah orang yang mengenal Allah dan mengenal Imam-Nya dari kalangan kami Ahlul Bait. Barang siapa yang tidak mengenal Allah dan tidak mengenal Imam dari kalangan kami Ahlul Bait, sesungguhnya orang itu bersembah sujud kepada selain Allah. Itu merupakan kesesatan." [Al Kafiy, Kitab al Hujjah, Bab Mengenal Imam, hal. 181, Jilid I, cet. Teheran]

Soal Imamah oleh kaum Syi'ah disamakan dengan shalat, zakat, puasa dan ibadah haji. Ahli hadist mereka, Al Kaliniy dalam Shahih Al Kafiy mengetengahkan sebuah riwayat berasal dari Abu Hamzah, bahwasanya Abu Ja'far a.s. berkata: "Rukun Islam ada lima: Shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah (mengakui imamah). Pada 'hari Ghadir" tidak ada sesuatu yang diserukan (Rasul Allah) seperti seruannya mengenai imamah." [Al Kafiy fil Ushul, hal. 18, Jilid II, cet. Teheran; hal. 369, cet. India.]

Cobalah anda perhatikan kalimat yang berbunyi: "Rasul Allah SAW tidak menyerukan apa pun seperti seruannya mengenai wilayah (imamah) dalam amanatnya pada hari Al-Ghadir." Kalimat itu mengandung pengertian bahwa wilayah (imamah) lebih penting daripada empat rukun Islam yang lain.

Al Kaliniy juga mengemukakan riwayat lain lagi berasal Zararah, bahwasanya Abu Ja'far as. berkata: "Islam ditegakkan atas lima hal: shalat, puasa, haji dan wilayah (imamah) ..."Zararah bertanya: "Manakah yang lebih afdhal?" Abu Ja'far menjawab: "Wilayah lebih afdhal." [Al Kafiy fil Ushul, hal. 18, Jilid II, cet. Teheran; hal. 368, cet. India.]

Timbul pertanyaan dalam fikiran kita: Jika soal wilayah (imamah) sedemikian penting dan menempati urutan yang begitu utama, lantas bagaimana mungkin soal shalat dan zakat banyak disebut dalam Al Qur'an, sedangkan soal wilayah (imamah) tidak ada sama sekali dalam Al Qur'an. Lagipula soal wilayah oleh kaum Syi'ah bukan hanya dipandang sebagai salah satu asas saja, bahkan dipandang sebagai poros agama Islam. Itulah yang dimaksud oleh kaum Syi'ah dengan "perjanjian yang mereka tetapkan dengan para Nabi", sebagaimana yang diriwayatkan oleh penulis kitab Al Basha'ir. Riwayat itu sebagai berikut:

Kami mendengar dari Al Hasan bin 'Ali bin An-Nu'man, ia mendengar dari Yahya bin Abu Zakariya bin 'Amr Az Zayyat yang mengatakan: "Aku mendengar dari ayahku dan ia mendengar dari Muhammad bin Sama'ah yang mendengar dari Faidh bin Abi Syaibah, berasal dari Muhammad bin Muslim yang mengatakan, bahwasanya ia mendengar Abu Ja'far berkata: 'Allah tabaraka wata'ala telah menetapkan perjanjian dengan para Nabi mengenai wilayah (keimaman) 'Ali dan telah pula mengambil janji dari para Nabi tentang wilayah (keimaman) 'Ali itu." [Basha'irud Darajat, Bab IX, Jilid II, cet. Iran, 1928 H.]

Gerangan, bagamana mungkin soal yang sepenting itu tidak tercantum sama sekali di dalam Al Qur'an, baik yang mengenai "perjanjian" maupun yang mengenai "janji"? Tidak hanya itu saja. Masih banyak kebohongan yang lebih hebat lagi. Mereka mengatakan bahwa wilayah (keimaman) tidak hanya telah ditetapkan sebagai perjanjian dengan para Nabi saja, tetapi bahkan dikatakan juga sebagai amanat yang oleh Allah SWT ditawarkan kepada langit dan bumi. Dalam Al Basha'ir diketengahkan juga sebuah riwayat bahwasanya Amirul Mu'minin 'Ali mengatakan, "Sungguh, Allah telah menawarkan wilayah (keimaman)-ku kepada penghuni langit dan bumi. Ada yang mengakui dan ada pula yang mengingkarinya. Yunus mengingkarinya, dan akhirnya ia dipenjarakan dalam perut ikan paus sehingga ia mau mengakuinya." [Basha'irud Darajat, Bab X, Jilid II, cet. Iran]

Sungguh, itu suatu kebohongan yang luar biasa. Semoga Allah melindungi kita semua jangan sampai mempunyai kepercayaan semacam itu.

Mengenai amanat yang dikatakan oleh kaum Syi'ah tadi ialah, bahwasanya Allah menaruh perhatian besar mengenai hal ini , sehingga Allah tidak mengutus atau mengangkat seorang Nabi yang telah dibebani tugas amanat itu. Demikianlah yang menajdi kepercayaan mereka, sebagaimana riwyat yang dikemukakan oleh penulis Al Basha'ir, yaitu sebuah riwayat berasal dari Muhammad bin 'Abdurrahman, bahwasanya Abu 'Abdullah as. berkata: Wilayah (imamah) kami adalah wilayah (imamah) Ilahi, yang tak seorang Nabi pun diangkat Allah kecuali dengan amat wilayah (imamah) itu." [Basha'irud Darajat, Bab IX, Jilid II, cet. Iran]

Mengingat sangat pentingnya soal imamah itu, maka menurut kaum Syi'ah seseorang tidak akan menjadi mukmin sejati kecuali dengan mengakui imamah itu. Demikian juga para malaikat di langit, semuanya telah meyakininya. Begitulah yang menjadi anggapan kaum Syi'ah. Penulis Al Basha'ir mengemukakan sebagai berikut:

Kami mendengar dari Ahmad bin Muhammad yang mendengar dari Al Hasan bin 'Ali bin Fadhdhal, ia mendengar dari Muhammad bin Fudhail yagn mendengar dari Abush Shabah Al Kinaniy, bahwasanya Abu Ja'far berkata: "Demi Allah, di langit terdapat tujuh puluh jenis malaikat. Seandainya semua penduduk bumi berkumpul kemudian menghitung jumlah malaikat dari masing-masing jenis, mereka tidak akan dapat menghitungnya. Semua malaikat itu mempercayai wilayah (keimaman) kami. [Basha'irud Darajat, Bab IV, Jilid II, cet. Iran]

Apakah masuk akal kalau suatu soal yang sedemikian penting tidak disebut sama sekali dalam firman Allah? Apalagi dikatakan oleh kaum Syi'ah bahwa akidah dan ibadah apa pun tidak sah bila tidak disertai dengan keyakinan mengenai imamah itu. Al Kaliniy meriwayatkan bahwa Ja'far As Shadiq pernah menegaskan" "Batu alas (batu alas yang biasanya disebut "tungku" pada galibnya terdiri dari 3 buah, agar belanga yang diletakkan di atasnya tidak oleh) dalam Islam adalah tiga: shalat, zakat dan wilayah (imamah), yang satu tidak sah kecuali dengan disertai yang lain." [Al Kafiy fil Ushul, hal. 18, jilid II, cet. Teheran]

Riwayat berasal dari Muhammad bin Fadhl juga mengatakan, bahwa Abul Hasan as. pernah berkata: "Wilayah (imamah) 'Ali as. termaktub pada semua Kitab Suci para Nabi, di samping Al Qur'an. Allah tidak mengutus seorang Rasul pun kecuali dengan kenabian Muhammad SAW dan dengan wasiat mengenai wilayah 'Ali as." [Al Kafiy, Kitab Al Hujjah, kumpulan riwayat tentang wilayah (imamah), hal. 437, Jilid I, cet. Teheran]

Setelah kaum Syi'ah menghadapi kesulitan mengenai soal wilayah, mereka berusaha mencari pemecahan dengan jalan memandang Al Qur'an sudah terkena revisi, mengalami pengubahan, banyak ayat-ayatnya yang dibuang dan banyak pula kata-kata serta kalimatnya yang dihapus. Mereka menuduh yang melakukan semua kejahatan itu adalah para sahabat Nabi terkemuka dan para pemimpin umat Islam terdorong oleh kebencian terhadap 'Ali dan akan keturunannya, serta terdorong oleh keinginan hendak menghilangkan pusaka Rasul Allah SAW.
Read More >>

YAPI PUSAT PENYEBARAN AQIDAH SYI'AH

Posted in
by Mbah Lalar



Perselisihan antara Sunni (Ahlus Sunnah) dan Syi’i (Syiah) di Bangil Pasuruan sesungguhnya telah berlangsung lama. Insiden bentrok di pesantren YAPI (Yayasan Pesantren Islam ) Bangil beberapa waktu lalu, 15 Februari 2011, adalah akumulasi dari perselisihan yang telah mengakar sejak awal tahun sembilan puluhan.

Bermula dari ditemukannya surat rahasia Habib Hussein al-Habsyi –-pendiri YAPI-– yang ditujukan kepada seseorang di Iran pada tahun 1993. Pihak YAPI tentunya kaget dengan terpublikasinya surat kepada seorang Syi'ah Iran itu. Sebab, surat itu berisi pernyataan Habib Hussein al-Habsyi, bahwa ia membuat kedok menyembunyikan ke-Syi’ah-annya sebagai setrategi dakwah. Padahal sebelumnya ia dikenal sebagai ulama’ Sunni yang masyhur di kota Bangil.

Inilah sebagian isi terjemahan surat yang ditulis berbahasa Arab tersebut:

“Saya ucapkan terima kasih kepada tuan atas usulan yang benar terhadap saya dan sudah lama menjadi pemikiran saya. Yaitu sejak kemenangan Imam atas Syi’ah. Walaupun saya tangguhkan hal itu, namun saya tidak ragu sedikitpun tentang kebenaran Ahlul Bait dan bukan karena takut kepada orang-orang atau jika saya tinggalkan taqiyah maka bukan supaya dipuji orang-orang. Sama sekali tidak! Akan tetapi saya sekarang mempertimbangkan situasi disekitar saya. Fanatisme Sunni secara umum masih kuat. Untuk mendekatkan mereka (kaum Sunni), saya ingin nampak dengan membuka kedok, kemudian membela serangan ulama mereka yang Nawasib (anti Syi’ah) mereka akan mengatakan: Syi’i membela Syi’ah. Saya telah berhasil merangkul sejumlah ulama mereka yang lumayan banyaknya, sehingga mereka memahami jutaan madzhab Ahlul Bait atas lainnya. Saya anggap ini sebagai kemajuan dalam langkah-langkah perjuangan kita”.

Majalah AULA – majalah milik Nahdlatul Ulama– pada edisi November 1993 pernah menurunkan berita tentang Syi’ah Bangil dan memuat terjemahan surat itu.

Surat ini juga sempat menjadi berita heboh di Pasuruan. Sebab selama ini, Habib Hussein al-Habsyi dikenal masyarakat Pasuruan yang mayoritas Sunni sebagai ulama dari kalangan habaib yang mumpuni. Sebelum itu, pengajiannya di Masjid Agung Bangil dipenuhi jama’ah yang menganut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Terungkapnya surat rahasia tersebut membuat masyarakat Bangil berbelok arah. Banyak para asatidz dan santri kemudian keluar dari pesantren YAPI. Sejak itu konflik dalam skala kecil sering terjadi di kota Bangil dan sekitarnya. Hingga pada tahun 2007 masyarakat Bangil dan sekitarnya melakukan demo besar setelah shalat Jum’at untuk menolak paham Syi’ah.

Menurut pengakuan seorang warga Bangil, penganut Syi’ah bahkan sudah tidak segan lagi melakukan aktifitas dan pengajian dengan isi doktrin Syi’ah.

Masyarakat Sunni Bangil tentu tidak asal menolak. Beberapa ulama sebenarnya telah mengingatkan mengenai keberadaan paham Syi’ah di propinsi yang mayoritas berbasis Nahdliyyin ini. Di harian Surabaya Post, 27 April 1985, yang sebagaian isinya dimuat lagi oleh majalah AULA tahun 1996, KH. As’ad Syamsul Arifin (almarhum) cukup lugas mengomentari dakwah Syi’ah.

“Syi’ah di Jawa Timur adalah gerakan yang harus dihentikan. Langkah yang tepat untuk mencegah meluasnya aliran Syi’ah di Indonesia adalah dengan meningkatkan kewaspadaan seluruh umat Islam,” tutur Kyai kharismatik asal Situbondo dalam koran itu.

Pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Maret 1984 telah menurunkan fatwa tentang perbedaan pokok dan rambu kewaspadaan umat Islam terhadap keberadaan Syi’ah. Poin keputusan itu adalah;

Pertama, Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahul Bait. Sedangkan Ahlussunnah tidak membeda-bedakannya, asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustholah hadis.

Kedua, Syi’ah memandang Imam itu ma’sum (orang suci) sedangkan Ahlussunnah wal Jama’ah memandang sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan.

Ketiga, Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya Imam. Sedangkan Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya Imam Syi’ah.

Keempat, Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan (Imamiyah) adalah termasuk rukun agama. Sedangkan Ahlussunnah wal Jama’ah memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimanan untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.

Kelima, Syi’ah pada umumnya tidak mengakui ke-Kholifahan Abu Bakar, Umar, Usman sedangkan Ahlussunnah empat Khulafaurraasyin.

Berangkat dari konflik kecil yang terjadi di Bangil, Pasuruan itu, para Ulama merasa perlu untuk membahas pada tingkatan yang lebih luas. Hingga persoalan Syi’ah kemudian terangkat menjadi isu nasional.

Maka, pada 21 September 1997 Majelis Ulama Indonesia Pusat dan Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) mengadakan seminar Nasional sehari tentang Syi’ah di Masjid Istiqlal Jakarta. Seminar itu bahkan dihadiri oleh pejabat pemerintah dan pejabat kementrian.

“Kita sebarkan kepada masyarakat, supaya mereka mengerti secara luas tentang apa arti Syi’ah itu” kata KH. Hasan Basri Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam sambutannya. Seminar tersebut menghadirkan pemakalah yang pakar di bidang Syi’ah, antara lain; Drs. KH. Moh. Dawam Anwar, KH. Irfan Zidny, MA, Habib Thohir Abdullah al-Kaff, Drs. HM. Nabhan Husein, KH. Abdul Latief Muchtar, MA, Dr. Hidayat Nur Wahid dan Syu’ba Asa.

Disebut dalam salah satu pemakalah, bahwa pesantren YAPI merupakan yayasan milik Syi'ah yang tertua dibanding yayasan lainnya. Dibahas pula dalam seminar itu, bahwa tokoh-tokoh Syi’ah di Indonesia banyak yang alumni YAPI.

“YAPI di Jawa Timur menjadi sentra dakwah Syi’ah di propinsi ini” tulis Habib Thohir dalam makalahnya.

Dalam penelitian Disertasinya di IAIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Mohammad Baharun, MAg mengkategorikan Syi’ah di YAPI sebagai Syi’ah ideologis yang gerakannya rapi dan militan. Untuk penelitian disertasi ini, Baharun yang pernah menjadi wartawan Tempo ini menggunakan 'informan' untuk menyelidiki aktivitas Syi’ah di Bangil.

Baharun, yang kelahiran Bangil itu, dalam disertasinya menjelaskan, Syi’ah ideologis adalah Syi’ah yang tumbuh melalui pengkaderan cukup intensif. Kaderisasi ini melalui pendidikan (sekolah dan pesantren) yang disipakan dengan guru-guru. Ia menemukan bahwa YAPI mengkhususkan diri sebagai lembaga yang sengaja menyiapkan kader-kader (santri yang diharapkan jadi guru/ustadz atau da’i Syi’ah Itsna ‘Asyariyah) yang berkualitas, sehingga dapat menyebarkan doktrin Syi’ah Imamiyah kepada masyarakat luas.

Merespon terhadap keberadaan Syi’ah, maka sejak tahun sembilan puluhan hingga kini di beberapa kota di Jawa Timur seperti di Pasuruan, Malang, Surabaya dan Jember mengadakan kajian halaqah pemikiran Syi’ah. Mereka terdiri dari para santri, mahasiswa dan asatidz. Ini sebagai respon akademik menanggapi pemikiran Syi’ah. Termasuk pendirian Kelompok Pengajian ASWAJA di Bangil adalah sebagai bentuk respon untuk meredam berkembangnya aliran Syi’ah di Pasuruan.

Kitab-kitab rujukan Syi’ah yang tidak beredar secara terbuka dikaji secara intensif di halaqah-halaqah tersebut. Di antara doktrin dan ajaran yang mereka tolak adalah; riwayat kitab al-Kafi (kitab hadis rujukan Syi’ah) tentang tahrif al-Qur’an. Dalam al-Kafi juz 1 halaman 240 dan juz 2 halaman 634 disebut bahwa al-Qur’an itu tidak otentik. Hal ini sebagaimana dinyatakan ulama-ulama klasik Syi’ah seperti an-Nuri dan al-Thabarsi.

Hal paling pokok yang juga dipersoalkan adalah rukun Islam. Dalam al-Kafi juz 2 halaman 18 disebutkan rukun Islam Syi’ah ada lima; yaitu Shalat, Zakat, Puasa, Haji dan Wilayah (keimamahan Ali dan 11 keturunannya). Satu lagi ajaran yang dikhawatirkan meresahkan masyarakat adalah penghalalan nikah mut’ah (nikah kontrak). Ajaran ini dikhawatirkan menumbuhkan free sex dengan mut’ah sebagai kedoknya.

Beberapa ajaran Syi'ah menurut beberapa warga Bangil, dinilai membikin ‘gerah’ masyarakat Sunni. Dan masih banyak ajaran-ajaran yang dinilai ‘aneh’ yang dipersoalkan. Seperti menista istri Nabi SAW, kultus berlebihan kepada Ahlul Bait, doktrin taqiyyah dan lain-lain, dimana hal tersebut tertera dalam kitab-kitab rujukan Syi’ah.

Sebagaimana telah ditulis di beberapa media, yang diprotes ASWAJA Bangil lebih pada persoalan dakwah mereka dan ajaran yang dinilai menista Ahlussunnah.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka pemerintah perlu menyelidiki akar persoalan yang terjadi. Perkara tindak kriminal memang bisa diselesaikan dengan hukum yang berlaku. Namun akar persoalan utama dan yang paling mendasar, juga harus lebih jadi perhatian dan penyelesaian
Read More >>

SYI'AH DAN MAKARNYA

Posted in
by Mbah Lalar



Apabila anda meneliti sejarah Islam, maka sepanjang sejarah itu, tidak akan anda temukan satu pun upaya maupun pembelaan dan loyalitas mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin, tetapi yang dibuktikan oleh sejarah adalah sebaliknya.

1. Pembunuhan terhadap Khalifah Alfaruq (Umar Ibnul Khaththab ra) dilakukan oleh mereka melalui Abu Lu'lu'ah Almajusi yang diberi gelar oleh Syi'ah dengan gelar Baba Syujauddin (Pahlawan agama sejati) dan hari terjadinya pembunuhan itu dijadikan hari raya oleh mereka.

2. Pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan ra, telah direncanakan dan dilakukan oleh tangan-tangan berdarah mereka (oleh Abdullah bin Saba' dan kader-kadernya).

3. Khilafah Abbasiah yang merupakan Khilafah Ahlilbait dari anak keturunan Alabbas bin Abdul Muthalib dari Bani Hasyim, telah mereka tumbangkan dengan membunuh ratusan ribu kaum Muslimin, laki-laki dan perempuan, tua dan muda karena pengkhianatan dan persekongkolan pemimpin-pemimpin mereka Nashiruddin Atthusi dan Ibnul Algami dengan Hulaku Khan dan bala tentara Mongolnya.

4. Sejarah pun mencatat kejahatan dan pembunuhan terhadap seratus enam puluh ribu jiwa muslim dari suku Quraisy, sukunya Rasulullah saw, oleh algojo mereka Abu Muslim Alkhurasani.

5. Pemberontakan Az-Zinj yang memakan banyak korban dan yang menumpahkan banyak darah, telah didalangi dan dipimpin oleh tokoh-tokoh mereka.

6. Memasuki kota Mekkah di musim Hajji dan membunuh puluhan ribu Haji dan menyumbat sumur Zam-zam dengan sebagian mayat-mayat mereka kemudian membongkar Ka'bah, kiblatnya kaum muslimin dan mencuri Alhajarul Aswad adalah perbuatan biadab dan durhaka mereka.

7. Berkhianat terhadap kaum Muslimin dan bersekongkol dengan balatentara Salib dan menghalangi Shalahuddin Alayyubi agar tidak membebaskan Baitalmaqdis dan Al-Aqsha serta seluruh Palestina dari cengkeraman balatentara Salib, adalah dengan pengkhianatan dan bekerja sama kerajaan mereka yang menamakan diri dinasti Fathimiyyah dengan bala tentara Salib.

8. Kerajaan Syi'ah Shofawiyah di Iran telah bersekongkol dengan Yahudi, Nashrani dan free Masonry untuk menjatuhkan Khilafah Utsmaniyah, yang merupakan perbentengan terakhir bagi Islam dan kaum Muslimin di kala itu untuk membendung penjajahan Barat; dan yang lebih celaka lagi, mereka Syi'ah itu membatalkan Hukum Jihad dengan alasan Imam mereka yang ghaib belum keluar dari persembunyiannya, agar supaya kaum Muslimin terus menerus tertindas dan terhina di bawah belenggu penjajahan.

9. Kejadian-kejadian ini adalah fakta sejarah, sepanjang sejarah Islam yang telah lalu, yang mencatat kejahatan dan pengkhianatan Syi'ah terhadap Islam dan kaum Muslimin, sejarah modern hari ini pun mencatat kejahatan-kejahatan mereka yang serupa yang dilakukan oleh Syi'ah Nushairiyyah di Syria dengan membunuh dan membantai secara massal Jamaah Al Ikhwanul Muslimin, begitu juga keganasan dan pembantaian yang dilakukan oleh Amal Syi'ah maupun Syi'ahnya Khumaini di Lebanon terhadap warga Palestina. Begitu halnya dengan pengkhianatan-pengkhianatan mereka di Afghanistan yang bukan rahasia lagi.

Ini semua adalah bukti sejarah atas sikap dan tindakan makar mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin sepanjang sejarah yang lalu maupun sejarah modern kini.
Read More >>

KESATRIA YG SEMBUNYI???

Posted in
by Mbah Lalar
Imam Syi’ah yang konon memiliki banyak mukjizat, ternyata masih harus bertaqiyah, menyembunyikan kebenaran karena takut. Apa yang ditakutkan oleh Imam Syi’ah yang konon adalah manusia paling pemberani di zamannya? Al-Mufid –seorang ulama Syi’ah– mengatakan: “Seorang Imam harus bersifat palin...g pemberani di antara umatnya.” (Al-Iqtishad, hal. 312).

Para pemalsu riwayat dari Ahlul Bait membuat ajaran baru yang dapat menjaga dan memelihara kebohongan mereka. Tetapi sebenarnya ajaran ini dapat menghancurkan/mengungkap kebatilan prinsip Imamah, bahkan membuat agama mereka menjadi batil, ajaran ini adalah taqiyah, atau kebohongan yang dilakukan dengan sengaja.

Mereka yang memalsukan riwayat dari para Imam tidak tinggal di tempat yang sama, juga hidup pada zaman yang berbeda-beda, juga tidak sepakat atas satu pendapat, jika ada seseorang memalsukan riwayat dari Imam, ada juga orang lain yang memalsukan riwayat dari Imam, yang mana dua riwayat itu saling bertentangan, jalan keluar sudah siap yaitu: salah satu yang berbohong dapat melakukan taqiyyah.

Taqiyyah dalam Islam.

Taqiyyah dalam terminologi Syi’ah bukanlah taqiyyah yang diperbolehkan oleh Allah pada saat dalam ketakutan –Allah tidak mewajibkan taqiyah–, tetapi Syi’ah beranggapan bahwa taqiyah adalah wajib, yang meningaglkan taqiyah sama dengan meninggalkan agama –menurut riwayat yang ada–. Sedangkan taqiyah yang sah dalam Islam, –sebab boleh jadi seorang muslim yang hidup hingga meninggal dunia belum pernah melakukan taqiyah–, hukumnya mubah, dan bukan sebuah kewajiban.

Allah Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar.” (QS. An-Nahl: 106).

At-Thabari menukil riwayat dari Ibnu Abbas, dia mengatakan: “Allah memberitahukan bahwa orang yang kafir setelah beriman, maka dia akan terkena murka dari Allah dan siksa yang pedih, tetapi siapa yang dipaksa dan mengucapkan kekafiran tetapi hatinya tetap beriman, agar bisa selamat dari musuh, maka hal itu tidak mengapa, karena Allah hanya menilai seorang hamba dengan apa yang diyakini oleh hati.” (Lihat: Tafsir At-Thabari).

Allah Ta’ala berfirman:

“Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali-Imran: 28).

At-Thabari juga menukil riwayat dari Ibnu Abbas: “Allah berfirman:… (ayat diatas), Allah melarang orang beriman untuk berlemah lembut terhadap orang kafir, atau menjadikan mereka sebagai teman dekat, bukannya orang beriman, kecuali ketika orang kafir dalam kondisi kuat, maka boleh memperlihatkan sikap lemah lembut kepada mereka, dengan tetap menyelisihi agama mereka, inilah yang dimaksud dalam firman Allah:… (ayat diatas).”

Kedua ayat di atas menjelaskan hukum asal, lalu menambahkan peng-kecuali-an, maka menunjukkan hukum perbuatan itu adalah mubah, bukanlah sebuah perintah dan ajaran agama yang diwajibkan, seperti dengan jelas maksud dalam ayat di atas. Inilah taqiyah dalam Islam.

Sedangkan taqiyah menurut Syi’ah.

Menurut Syi’ah, taqiyyah adalah agama itu sendiri, terdapat banyak riwayat yang konon bersumber dari Ahlul Bait, di antaranya:

Ja’far As-Shadiq mengatakan: “Taqiyah adalah 9 dari 10 bagian agama.” Ja’far juga mengatakan: “Tidak ada agama bagi yang tidak bertaqiyyah.” Begitu juga riwayat dari Abu Ja’far, yang mengatakan: “Taqiyyah adalah agamaku dan agama kakek-kakekku.” (Riwayat-riwayat ini tercantum dalam kitab Al-Kafir, bab. Taqiyyah, jilid. 2, hal. 217). Sungguh tidak mungkin Ahlul Bait mengucapkan demikian itu.

Ulama Syi’ah telah sepakat menekankan ajaran ini, bahkan menganggapnya sebuah rukun yang harus dikerjakan, seperti halnya shalat.

Ibnu Babawaih Al-Qummi, salah seorang ulama besar Syi’ah, mengatakan: “kami meyakini bahwa taqiyah adalah wajib, siapa yang meninggalkannya sama seperti meninggalkan shalat.” (Al-I’tiqadat, hal. 114).

Begitulah, taqiyah yang berarti menipu dijadikan sebagai ajaran agama yang dapat mendekatkan diri pada Allah, bahkan menipu ini menjadi 90% dari agama, ini artinya orang yang selalu berbohong dan menipu dalam ucapan dan perbuatannya setiap hari maka telah melakukan 90% ajaran agama.

Celakanya lagi, menipu seperti ini bukan hanya ajaran dari seorang Imam saja, bahkan telah menjadi agama seluruh keluarga Nabi, termasuk di dalamnya Nabi sendiri, seperti tercantum dalam riwayat mereka, akan lain persoalannya jika para Imam tidak mengaitkan ajaran itu dengan ajaran Nabi, dan menganggap ajaran agama mereka bukan agama yang dibawa oleh Nabi, inilah yang kita pahami dari ucapan Imam Syi’ah: “…dan agama kakek-kakekku.”

Apakah ada orang berakal yang dapat menerima hal ini dan menganggap taqiyah atau menipu adalah ajaran Allah yang diturunkan untuk memperbaiki akhlak dan menanamkan nilai kejujuran, sikap terus terang dan memperlakukan manusia dengan jujur, dalam perilaku manusia agar kehidupan menjadi tenteram dan berkembang dalam kerangka amanat, kejujuran dan terus terang?

Anggap saja kita percaya dengan riwayat di atas, apa konsekuensinya?

Meyakini hal di atas memiliki beberapa konsekuensi:

1.    Berarti agama yang diturunkan oleh Allah adalah agama taqiyah atau menipu. Menipu adalah perbuatan tercela yang dibenci oleh seluruh agama dan masyarakat di dunia ini, bahkan pada zaman jahiliyah sekalipun, yang mana pada zaman jahiliyah seseorang merasa gengsi untuk menipu, apalagi menjadikan tindakan menipu dalam rangka untuk mencari pahala, apakah masuk akal Allah menurunkan ajaran agama yang mana 90% dari ajaran itu adalah menipu?

2.    Jika memang taqiyah adalah ajaran agama, orang yang tidak bertaqiyah berarti tidak beragama alias kafir, juga taqiyah adalah ajaran seluruh Ahlul Bait, dan taqiyah adalah 9 dari 10 ajaran agama, bagaimana kita bisa percaya bahwa Nabi telah menyampaikan seluruh ajaran agama, bisa jadi Nabi menyembunyikan sebagian ajaran agama karena bertaqiyah, karena taqiyah adalah ajaran agama Nabi, seperti tercantum dalam riwayat Syi’ah, astaghfirullah, tidak mungkin Nabi dan Ahlul Bait meyakini seperti itu.

3.    Jika memang taqiyah adalah ajaran agama, lalu apa yang menjamin segala sabda Nabi bukan merupakan taqiyah? Padahal yang benar adalah berlawanan dari yang disabdakan oleh Nabi?

4.    Jika memang taqiyah adalah ajaran agama, siapa yang menjamin bahwa para Imam tidak bertaqiyah?

5.    Jika memang taqiyah adalah ajaran agama, lalu apa gunanya Imam? Karena tujuan dari adanya Imam adalah untuk menyampaikan kebenaran kepada umat manusia, tetapi jika Imam malah menyembunyikan kebenaran dan meremehkan agama untuk keselamatan pribadinya, lalu apa gunanya dia menjadi Imam?

6.    Jika memang taqiyah adalah ajaran agama, lalu bagaimana kita bisa membedakan bahwa Imam melakukan suatu perbuatan dalam keadaan bertaqiyah atau tidak? Bagaimana kita bisa menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat yang timbul akibat perbuatan Imam?

Sedangkan menurut Syi’ah, salah satu fungsi dari keberadaan Imam adalah untuk menyelesaikan perbedaan pendapat dan perselisihan, tetapi Imam malah dengan sengaja menimbulkan perbedaan pendapat baru, karena mengajarkan ajaran atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan kebenaran –karena bertaqiyah– akhirnya membuat pengikutnya menjadi bingung dan bersilang selisih.

Imam memerlukan pengikutnya untuk menyelesaikan perbedaan.

Maka Imam memerlukan pengikutnya agar mereka dapat meramalkan ucapan Imam, mana yang taqiyah dan mana yang tidak, maka pengikut para Imam menyusun kitab yang menerangkan bahwa ini adalah taqiyah dan ini adalah tidak (bukan taqiyah), seperti At-Thusi yang menyusun dua judul kitab; Tahdzhib dan Al-Istibshar, yang disusun khusus untuk tujuan di atas.

Pengikut Imam memiliki keberanian lebih dari pada para Imam, karena si pengikut berani berterus terang mengucapkan apa yang tidak berani diucapkan oleh para Imam, dan para pengikut itulah yang dapat memberi manfaat pada umat dari pada Imam, karena merekalah yang menyelesaikan perbedaan pendapat, bukannya para Imam.

At-Thusi –yang juga dijuluki oleh Syi’ah dengan Syaikhut Tha’ifah– menuliskan pada pengantar kitab Tahzibul Ahkam:

“Kawan-kawan yang memiliki hak yang harus kami tunaikan pada mereka, mereka menyebutkan perbedaan dan kontradiksi yang ada pada hadits-hadits madzhab kami, sampai setiap hadits yang ada pasti ada hadits lain yang membantahnya, dan hal itu dijadikan sebagai bahan untuk menyerang madzhab kami, bahkan membuat musuh dapat menerangkan kebatilan madzhab kami,…”

Beberapa baris kemudian At-Thusi menambahkan:

“Dia menemui beberapa kelompok yang tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang hadist dan makna-makna lafal hadits, banyak dari mereka keluar dari madzhab yang benar ini, karena mereka tidak dapat memecahkan keraguan yang ada akibat kontradiksi itu, saya mendengar syaikh Abu Abdillah menyebutkan bahwa Abu Husein Al-Harudi Al-Alawi, dia memeluk madzhab kebenaran –Syi’ah– dan beriman kepada Imamah, lalu keluar dari madzhab ini karena tidak bisa memecahkan keraguan yang timbul akibat kontradiksi hadits yang ada pada kami, dia meninggalkan madzhab kebenaran dan memeluk madzhab lain karena tidak bisa memecahkan kontradiksi yang ada.” (Tahzibul Ahkam, jilid. 1, hal. 2-3).

Lihatlah bagaimana Syaikh Thaifah mengakui bahwa setiap riwayat Syi’ah pasti ada riwayat yang membantahnya, yang membuat akal sebagian Syi’ah bekerja kembali lalu meninggalkan madzhab Syi’ah, seperti dijelaskan di atas.

Mengapa Imam yang datang kemudian tidak menjelaskan taqiyah yang dilakukan oleh Imam sebelumnya?

Jika seorang Imam yang terdahulu mengeluarkan sebuah fatwa atau keputusan yang mengandung taqiyah, mengapa Imam yang datang kemudian tidak memberitahukan pada pengikut Syi’ah bahwa fatwa atau ucapan ayahnya itu adalah taqiyah? Mengapa tetap ada riwayat yang kontradiktif? Padahal Imam yang datang setelah Imam yang terdahulu dan tidak menjelaskan taqiyah yang dilakukan oleh Imam sebelumnya, hingga kemudian ulama Syi’ah menyimpulkan sendiri tanpa adanya bukti otentik dari para Imam, hanya menggunakan perkiraan, kita tidak tahu apakah ucapan ulama ini benar atau tidak.

Dari keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa ulama Syi’ah lah yang sebenarnya layak disebut sebagai Imam, karena dialah yang menyelesaikan perselisihan yang timbul akibat fatwa Imam yang kontradiktif. Bahkan ulama Syi’ah bisa disebut sebagai “Imam nya para Imam” karena menyelesaikan kontradiksi yang timbul dari ucapan seluruh Imam Syi’ah.

Para Imam Syi’ah yang membuat orang jadi bingung, hingga sebagian pengikut Syi’ah keluar dari Syi’ah karena kontradiksi dari para Imam, sebenarnya mereka tidak layak disebut Imam.

Kami Ahlus Sunnah meyakini bahwa para Imam Syi’ah terlepas dari seluruh kebohongan yang kontradiktif di atas, tetapi di sini kami hanya mengomentari riwayat dari kitab-kitab Syi’ah.

7.    Mana sifat pemberani para Imam, yang konon salah satu syarat Imam adalah orang yang paling pemberani? Seperti sifat Imam menurut Syi’ah.

Al-Mufid mengatakan: “Seorang Imam harus bersifat paling pemberani di antara umatnya.” (Al-Iqtishad, hal. 312).
Apakah Imam yang menyembunyikan kebenaran bisa dianggap pemberani?
Read More >>

DI ANTARA HADITS2 PALSU BUATAN SYI'AH

Posted in
by Mbah Lalar



Telah menjadi Sunnatullah (ketetapan Allah SWT) bahwasanya musuh-musuh agama baik dari kalangan orang-orang kafir maupun munafiqin, selalu berjuang keras merongrong agama Allah SWT dengan segala cara. Namun demikian, Allah SWT juga telah menetapkan bahwa agama-Nya akan senantiasa terjaga dengan perantaraan para ulama yang menerangkan kepada umat akan bahaya makar-makar busuk mereka.
Sebagaimana telah diketahui, rusaknya agama Nasrani dikarenakan menyusupnya orang-orang Yahudi ke dalam agama Nasrani yang kemudian berhasil melakukan perubahan atas agama tersebut. Selanjutnya, dengan berbagai cara mereka pun berusaha menyusupi agama Islam. Diantara penyusup itu adalah Abdullah bin Saba seorang Yahudi pencetus agama Rafidhah yang sekarang lebih dikenal dengan nama Syi'ah.
(Majmu' Al Fatawa juz 4 hal. 52)

Orang-orang Syi'ah pengikut Abdullah bin Saba Al Yahudi mengaku-ngaku cinta kepada Ahlul Bait Rasulullah di mana hal itu hanyalah topeng semata untuk menutupi kebusukan yang ada pada mereka. Segala cara telah mereka lakukan untuk menghancurkan Islam, diantaranya dengan memalsukan hadits-hadits Rasulullah. Namun Allah SWT memilih ulama Ahlus Sunnah yang mengilmui tentang hadits untuk berjihad dengan menerangkan kepada umat hadits-hadits yang didustakan atas nama Rasulullah dan merupakan kewajiban bagi mereka untuk menerangkan hal yang seperti itu.
(Lisanul Mizan juz 1 hal 98)

Tidak mengherankan bila mereka berani berdusta atas nama Rasulullah karena memang syiar agama Rafidhah adalah kedustaan yang dilapisi dengan kemunafikan.
(Mizanul I'tidal, juz 1 hal 6)
Dalam kesempatan yang singkat ini, akan saya bawakan sejumlah hadits yang dipalsukan Syi'ah Rafidhah beserta keterangan dari ulama ahli hadits khususnya dalam permasalahan ilal hadits (penyakit cacat yang ada pada hadits).

Hadits-hadits Dhaif tentang Ahlul Bait
Hadits Pertama
" Permisalan Ahlul Baitku bagaikan bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa yang naik di atasnya niscaya dia akan selamat dan siapa yang tidak naik maka dia akan tenggelam dan hanyut."
Guru besar kami Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'i berkata: " Di sanadnya ada Suwaid bin Sa'id.
Dia dhaif (lemah dalam periwayatan hadits) dan Mifdhal bin Shalih seorang Munkarul hadits (haditsnya munkar) sebagaimana dikatakan Al-Imam Al-Bukhari. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata:
" Hadits Safinah Nuh adalah paling Mungkar."
Al-Imam Al-Bukhari berkata:
" Suwaid bin Sa'id munkarul hadits"
Hadits ini diriwayatkan dari jalan yang lain, akan tetapi di situ ada dua perawi yang dha'if, yaitu Al-Hasan bin Abi Ja'far Al-Jufri dan Ali bin Zaid bin Jud'an. Al-Imam Al-Bukhari berkata sebagaimana dalam Mizanul I'tidal pada biografi Al-Hasan bin Abi Ja'far:
" Dia munkarul hadits"
Ibnu Adi berkata:
" Dia tidak termasuk orang yang berdusta dengan sengaja,"
Al-Imam Ibnu Hibban berkata:
" Dia orang shalih yang sering dikabulkan doanya akan tetapi lalai dalam hadits dan tidak pantas untuk dipakai sebagai hujjah."
Adapun Ali bin Zaid bin Jud'an, pendapat yang rajih tentang dia adalah pendapat Al-Imam Al-Bukhari: " Tidak bisa dipakai sebagai hujjah."
Kesimpulan yang kita ambil dari hadits ini adalah bahwa hadits ini adalah batil, tidak benar penyandarannya kepada Rasulullah.
Mungkin di antara para pembaca yang pernah belajar ilmu hadits bertanya, mengapa hadits ini dikatakan hadits yang batil atau hadits yang palsu padahal di situ tidak ada perawi kadzdzab atau wadhdha (pendusta/pemalsu hadits)? Namun demikianlah madzhab yang masyhur dan yang benar di kalangan ahli hadits. Sebuah hadits bisa dihukumi sebagai hadits yang batil meskipun di situ tidak ada perawi yang kadzdzab atau wadhdha. Kalau bukan karena keterbatasan waktu dan tempat, ada baiknya kita bawakan bukti-bukti dari perkataan ulama ahli hadits dalam hal ini. Akan tetapi cukup dilihat perkataan Al-Imam Yahya Al-Qaththan.
(Tadribur Rawi juz 1 hal.238)
Sebagaimana Asy Syaikh Muqbil bin Hadi berkata tentang hadits ini:
" Saya berkata, seandainya hadits-hadits mereka (perawi yang disebut di atas) dihukumi sebagai hadits yang didustakan sangatlah pantas."
(Ath-Thali'ah, hal 273)

Hadits kedua
" Wahai Ali, sesungguhnya orang-orang Syi'ah kita (golongan kita) akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti walaupun mereka bergelimangan dengan dosa akan tetapi muka mereka bergelimangan dengan dosa akan tetapi muka mereka bagaikan bulan purnama. Mereka diselamatkan dari kesulitan-kesulitan dan dimudahkan dari segenap ujian. Aurat mereka tertutupi, batin mereka penuh dengan ketenangan, diberikan kepada mereka keimanan dan rasa aman, telah terangkat segala kesedihan, mereka tidak ketakutan ketika semua orang ketakutan, dan tidak merasa sedih tatkala semua orang bersedih..."
Al-Imam Ibnul Jauzi berkata:
" Ini adalah hadits maudhu' (palsu)."
Al-Junaid Al-Hafidz berkata:
" Muhammad bin Salim (salah satu rawinya) matruk. Abul Fath Al-Azdi berkata: " Muhammad bin Salim dan Muhammad bin Ali keduanya dha'if"

Hadits ketiga
" Ahlul Baitku seperti bintang di langit, dengan siapapun kalian ikut niscaya kalian akan mendapat hidayah."
Al-Imam Asy-Syaukani berkata di dalam Al-Mukhtashar:
" Hadits ini dari tulisan Nabi yang penuh kedustaan"

Hadits keempat
" Aku adalah sebuah pohon, Fathimah putiknya, Ali serbuk sarinya, Hasan dan Husain buahnya, orang-orang yang mencintai Ahlul Bait sebagai daunnya dari surga, pasti dan pasti."
Ibnul Jauzi berkata: " Ini hadits maudhu, Musa tidak dikenal (maksudnya adalah Musa bin Nu'aimin yang ada di dalam sanad hadits)."

Hadits kelima
Ibnu Abbas berkata: " Aku bertanya kepada Rasulullah tentang kalimat-kalimat yang diterima Adam dari Allah SWT sehingga Allah SWT mengampuninya?" Rasulullah berkata: (kalimat itu adalah): Dengan hak Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, engkau bertaubat kepada-Ku, maka Allah SWT mengampuni Adam."
Ibnul Jauzi berkata: Ad-Daruquthni berkata: " Amr bin Tsabit meriwayatkan hadits ini sendirian dari bapaknya Abil Miqdam, dan tidak meriwayatkan darinya kecuali Husain Al-Asyqar."
Ibnu Ma'in berkata: " Amr bin Tsabit bukan orang yang bisa dipercaya." Ibnu Hibban berkata:
" Dia memalsukan hadits-hadits dari perawi-perawi yang tsiqah (yang diterima haditsnya)."
Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat Asy-Syura ayat 23, beliau mengatakan: " Dia (yakni Amr bin Tsabit) adalah seorang Syi'ah yang pendusta." Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi berkata:
" Hadits ini dan yang semisalnya adalah hadits palsu yang dipakai oleh tukang khurafat untuk dijadikan landasan dalam membolehkan berdoa kepada orang-orang yang telah mati."
(Ath-Thali'ah, hal.230)

Hadits keenam
" Rasulullah sujud lima kali tanpa ruku, beliau berkata: " Jibril telah datang kepadaku dan berkata: " Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah SWT mencintai Fathimah, maka aku sujud. Kemudian dia datang dan berkata: " Allah SWT mencintai Fathimah (untuk kedua kalinya), maka aku sujud. Kemudian dia datang dan berkata: " Allah SWT mencintai Hasan dan Husain, aku pun sujud. Lalu aku mengangkat kepalaku, kemudian dia datang lagi dan berkata: " Allah SWT mencintai orang-orang yang mencintai keduanya, maka aku pun sujud lagi. Lalu aku mengangkat kepalaku, kemudian dia datang lagi dan berkata: " Allah SWT mencintai orang-orang yang mencintai keduanya, maka aku pun sujud lagi."
Al-Imam Ibnul Jauzi berkata: Ibnu 'Adi berkata:
" Ini hadits batil, melalui sanad ini dan kedustaan yang basi." Karena Al-Mu'tamin (salah seorang rawinya) tidak meriwayatkan dari Al-Auza'i sedikitpun. Abdullah bin Hafs memberikan kepada kami hadits yang kami tidak ragu tentang kedustaannya."

Hadits ketujuh
" Kenapa Fathimah dinamakan Fathimah, dikarenakan Allah SWT Fathoma (membebaskan) orang-orang yang mencintainya dari neraka."
Ibnul Jauzi berkata: " Ini hasil olah tangan Al-Ghilabi dan telah kami sebutkan dari Ad-Daraquthni bahwa ia seorang pemalsu hadits."

Hadits kedelapan
" Hai Ali, sesungguhnya Allah SWT menikahkanmu dengan Fathimah dan Allah SWT jadikan bumi sebagai maharnya. Barangsiapa berjalan dengan membencimu maka dia berjalan dengan haram."
Ibnul Jauzi berkata: " Ini hadits palsu, di situ ada sejumlah perawi yang di-jarh (dicacat). Hanya saja yang tertuduh memalsukan hadits ini adalah Adz-Dzaari, karena dia pendusta dan pemalsu hadits."

Hadits kesembilan
" Barangsiapa mencintai aku, hendaknya dia mencintai Ali. Barangsiapa membenci Ali, dia telah membuatku marah. Dan barangsiapa membuatku marah, maka sungguh dia telah membuat Allah SWT murka, dan barangsiapa membuat Allah SWT murka niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam neraka."
Al-Imam Asy-Syaukani berkata: Al Khathib berkata: " Ini hadits palsu."

Hadits kesepuluh
" Ali adalah imam orang-orang yang baik dan pembunuhnya orang yang fajir. Akan ditolong orang-orang yang menolongnya dan akan ditinggalkan orang-orang yang meninggalkannya."
Di dalam sanadnya terdapa Ahmad bin Abdillah bin Yazid. Asy Syaikh Muqbil bin Hadi berkata: Ibnu Adi berkata sebagaimana di dalam Al-Mizan:
" Ahmad bin Abdillah bin Yazid memalsukan hadits."

Hadits kesebelas
" Hai Ali, andaikata ada seorang hamba yang beribadah selama 1.000 tahun dan berinfak emas di jalan Allah SWT sebesar gunung Uhud, melaksanakan ibadah haji selama 1.000 tahun dengan kedua kakinya kemudian terbunuh dalam keadaan didzalimi antara Shafa dan Marwa tetapi tidak loyal kepadamu, niscaya dia tidak akan mencium bau jannah (surga)."
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi berkata:
" Hadits ini palsu, demikian disebutkan Al-Imam Adz-Dzahabi dalam biografi Muhammad bin Abdillah Al-Balwi."

Hadits keduabelas
" Allah SWT menurunkan wahyu kepadaku tiga perkara tentang Ali di kala aku Isra Mi'raj:
" Bahwa dia adalah pemimpin mukminin, imam orang-orang bertakwa, dan pemimpin orang-orang yang bermuka putih dan bercahaya (di hari kiamat nanti)."
Al-Imam Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i berkata (menukil dari Asy-Syaikh Al-Albani: " Hadits ini palsu."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
" Ini hadits palsu yang telah diketahui oleh semua orang yang mengenal ilmu hadits, meski ia masih sedikit sekali ilmunya."

Hadits ketigabelas
" Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, maka barangsiapa yang menginginkan ilmu hendaknya dia mendatangi dari pintunya."
Hadits ini palsu. Adz-Dzahabi menyatakan maudhu' (palsu), demikian juga Al-Albani (dalam Adh-Dha'ifah 6/518, no. 2955 dan dalam Dha'iful jami no.13220).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: Hadits " Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.." lebih lemah, oleh karena itu tergolong palsu walaupun diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dan disebutkan oleh Ibnul Jauzi (yakni dalam Al-Maudhu'at) lalu beliau terangkan bahwa seluruh sanadnya palsu dan kedustaan itu tampak dari matan hadits itu sendiri. Karena apabila Nabi n sebagai kota ilmu dan tidak ada pintunya kecuali satu, dan tidak ada yg menyampaikan ilmu dari beliau kecuali satu orang, tentu urusan Islam akan rusak..."
(Minhajus Sunnah, 4/138-139, dinukil dari Adh-Dha'ifah)
Read More >>

SILSILAH IMAM JA'FAR ASH SHADIQ -RADHIYALLAAHU TA'ALA 'ANHU-

Posted in
by Mbah Lalar


Beliau adalah Imam Ja`far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin al-Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Beliau adalah keturunan dari Abu Bakar ash-Shiddiq, karena ibunya adalah Ummu Farwah binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Dan nenek dari ibunya adalah Asma binti Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Semoga Allah meridhai mereka semua. Karena itu Imam Ja`far ash-Shadiq berkata, “Aku dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali.” (Siyaaru A`lami an-Nubala, hal. 259).

Anda akan mengetahui maksud perkataan Imam Ja'far ash-Shadiq -radhiyallaahu ta'ala 'anhu- tersebut ketika anda melihat silsilah beliau.

Imam Ja`far ash-Shadiq termasuk orang yang sangat mencintai kakeknya Abu Bakar ash-Siddiq dan juga ‘Umar bin al-Khaththab –Radhiyallahu ta’ala `anhuma-. Beliau sangat mengagungkan keduanya, oleh karena itu beliau sangat membenci Rafidhah yang telah membenci keduanya.

Imam Ja`far juga membenci Rafidhah yang telah menetapkannya sebagai imam yang ma`sum. Diriwayatkan oleh Abdul Jabbar bin al-‘Abbas al-Hamdzani bahwa Ja`far bin Muhammad mendatangi mereka ketika mereka hendak meninggalkan Madinah. Beliau (ash-Shadiq) berkata, “Sesungguhnya kalian insyaAlloh adalah termasuk orang-orang shalih di negeri kalian, maka sampaikanlah kepada mereka ucapanku, ‘Barangsiapa yang mengira bahwa aku adalah imam ma`shum yang wajib ditaati maka aku benar-benar tidak ada sangkutpaut dengannya. Dan barangsiapa mengira bahwa aku berlepas diri dari Abu Bakar dan ‘Umar, maka aku berlepas diri daripadanya.” ( Siyaaru A`lami an-Nubala’, hal. 259 ).

Muhammad bin Fudhail menceritakan dari Salim bin Abu Hafshah, “Saya bertanya kepada Abu Ja`far dan putranya, Ja`far, tentang Abu Bakar dan ‘Umar. Maka beliau berkata, `Wahai Salim cintailah keduanya dan berlepas diri musuh-musuhnya karena keduanya adalah imam huda.` Kemudian Ja`far berkata, `Hai Salim apakah ada orang yang mencela kakeknya? Abu Bakar adalah kakekku. Aku tidak akan mendapatkan syafa’at Muhammad -shallallaahu `alaihi wa sallam- pada hari Kiamat jika aku tidak mencintai keduanya dan memusuhi musuh-musuhnya.” Ucapan Imam Ja’far ash-Shadiq seperti ini dia ucapkan di hadapan bapaknya, Imam Muhammad bin Ali al-Baqir dan dia tidak mengingkarinya. ( Tarikh al Islam, 6/46 ).

Hafsh bin Ghayats murid dari Imam Ja’far ash-Shadiq berkata, “Saya mendengar Ja`far bin Muhammad berkata, ‘Aku tidak mengharapkan syafa’at untukku sedikit pun melainkan aku berharap syafa’at Abu Bakar semisalnya. Sungguh dia telah melahirkanku dua kali.”

Sebagaimana murid Imam Ja`far yang tsiqat lainnya yaitu Amr bin Qa’is al-Mulai mengatakan, “Saya mendengar Ibnu Muhammad (ash-Shadiq) berkata, ‘Allah -ta`ala- berlepas diri dari orang yang berlepas diri dari Abu Bakar dan ‘Umar.” ( Siyaaru A’lam an-Nubala : 260 ).

Zuhair bin Mu`awiyah berkata, “Bapaknya berkata kepada Ja`far bin Muhammad, `Sesungguhnya saya memiliki tetangga, dia mengira bahwa engkau berbara` (berlepas diri) dari Abu Bakar dan ‘Umar.’ Maka Ja`far berkata, `Semoga Allah berbara` (belepas diri) dari tetanggamu itu. Demi Allah sesungguhnya saya berharap mudah-mudahan Allah memberikan manfaat kepadaku karena kekerabatanku dengan Abu Bakar. Sungguh aku telah mengadukan (rasa sakit), maka aku berwasiat kepada pamanku (dari ibu) Abdurrahman bin al-Qasim.” ( at-Taqrib, Ibnu Hajar, dan Tarikh al-Islam, adz-Dzahabi ).

Dari beberapa perkataan Imam Ja`far ash-Shadiq di atas, menjelaskan akan kecintaan Imam Ja’far kepada Abu Bakar dan Umar, wala`nya kepada keduanya serta taqarrubnya kepada Allah –ta’ala- dengan wasilah mahabbah ( kecintaan )dan wala` tersebut. Juga menunjukkan kebencian kepada yang membenci keduanya dan bara` ( berlepas diri ) kepada yang bara` dari keduanya. Bahkan bara`nya dari orang yang meyakini imamah dan kema`shumannya. Dan permohonannya kepada Allah –ta’ala- agar Allah memutus segala rahmat-Nya dari orang-orang yang memusuhi Abu Bakar dan ‘Umar.

SADARLAH WAHAI PARA PENCELA ABU BAKAR DAN UMAR -RADHIYALLAAHU TA'ALA 'ANHUMA-...

SUNGGUH, IMAM JA'FAR YANG KALIAN AGUNG2KAN, BELIAU SANGAT MENCINTAI KEDUA SHAHABAT ROSULULLOH TERSEBUT. BAGAIMANA DENGAN KALIAN WAHAI ROFIDHOH ???... TIDAKKAH KALIAN INGIN MENGIKUTI JEJAK LANGKAH IMAM JA'FAR YANG KALIAN MULIAKAN.. ??? ATAU KALIAN MALAH AKAN MENGIKUTI ULAMA' SEMISAL KHOMEINI ???...

KEBENARAN LEBIH BERHAK UNTUK DIIKUTI, WALAUPUN PERASAAN MENOLAK..






Semenjak dahulu Syi`ah mengklaim bahwa mereka mengikuti manhaj dan langkah Ja`far Ash Shadiq. Madzhab mereka dalam bidang fikih adalah ucapan-ucapan dan pendapat-pendapatnya. Karena mereka menamakan dirinya sebagai Ja`fariyun, padahal Ja`far berlepas diri dari mereka dan orang-orang seperti mereka. Mereka tidak berada di atas manhaj dan langkah-langkahnya dan dia bukanlah pemilik manhaj dan langkah-langkah yang diklaim tersebut.

Mereka menukil dari Ja`far tanpa sanad atau dengan sanad maudhu` (dipalsukan) atau dhaif atau maqthu` (terputus). Dan ini berlaku untuk para imam yang lain. Sudah dimaklumi bersama bahwa Syi`ah sangat kurang dan lemah dalam ilmu sanad, karena mereka tidak berpengalaman di dalam agamanya. Agama mereka adalah agama masyayikh mereka. Apa yang dikatakan oleh masyayikh, mereka menukilnya dari mereka tanpa memilih dan memilah. Salah seorang Syaikh Rafidhah telah mengakui dan dan membenarkan hal ini bahwa mereka menerapkan ilmu al jarh wa at ta`dil sebagaimana ahlus sunnah, maka tidak tersisa sedikitpun dari hadits mereka. Orang Syi`ah telah banyak berdusta atas Ja`far Ash Shadiq, mereka menasabkan kepadanya banyak sekali dari riwayat-riwayat yang dibuat-buat, hingga pada akhirnya mereka pada perubahan dan penggantian ayat-ayat Al Qur-an.

Sebagaimana mereka menasabkan sebagian kitab kepada Ja`far. Padahal para ahli ilmu bersaksi bahwa kitab-kitab itu dipalsukan atas namanya. Diantara kitab-kitab tersebut adalah:

1. Kitab Rasail Ikhwan Ash Shafa. Kitab ini dikarang lebih dari dua ratus tahun setelah wafatnya Ja`far, pada waktu Dinasti Buwaihiyyah. Pada abad ketiga hijriyah (321 H - 447 H). Sementara Ja`far telah wafat pada tahun 148 H. Kitab ini banyak berisi kekufuran, kebodohan dan juga filsafat buta yang tidak layak bagi Ja`far Ash Shadiq dan ilmunya. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas.
2. Kitab Al Ja`far, yaitu kitab ramalan-ramalan tentang kejadian dan ilmu ghaib.
3. Kitab Ilm Al Bithaqah.
4. Kitab Al Jadawil atau Jadawil Al Hilal, telah memalsukan atas nama Abdullah bin Mu`awiyah salah seorang yang sudah terkenal dengan kebohongan.
5. Kitab Al Haft.
6. Kitab Ikhtilaj Al A`dha.

Juga kitab-kitab lain seperti Qaus Qazah (pelangi) dan disebut Qaus Allah, Tafsir Al Qur-an, Manafi` Al Qur-an, Qira`ah Al Qur-an fi Al Manam, Tafsir Qira`ah As Surah fi Al Manam dan Al Kalam `ala Al Hawadits.

Tidak ada satu penetapan yang jelas di kalangan Syi`ah bahwa kitab-kitab ini adalah kitab-kitab Ja`far Ash Shadiq selain oleh Abu Musa Jabir bin Hayyan Ash Shufi Ath Tharthusi Al Kimai (200 H). Ibnu Hayyan ini diragukan tentang agama dan amanahnya. Dia memang menjadi teman bagi Ja`far, tetapi bukan Ja`far Ash Shadiq melainkan Ja`far Al Barmaki. Diantaranya yang mengukuhkannya adalah Ibnu Hayyan tinggal di Baghdad sementara Ja`far Ash Shadiq tinggal di Madinah. Juga abad pertama dan abad kedua tidak membutuhkan kitab-kitab dan risalah-risalah seperti yang telah dinasabkan kepada Ja`far Ash Shadiq ini.

Sekapur Sirih Tentang Kehidupan Ja`far Ash Shadiq

Dia adalah Imam Ja`far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Al Husain bin Ali bin Abu Thalib. Begitu pula ia adalah keturunan dari Abu Bakar Ash Shiddiq, karena ibunya adalah Ummu Farwah binti Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq. Dan nenek dari ibunya adalah Asma binti Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq. Semoga Allah meridhai mereka semua. Karena itu Ja`far Ash Shadiq berkata, Aku dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali. (Syiar `A`lam An Nubala : 259).

Dia dilahirkan di Madinah tahun 80 H dian wafat tahun 148 H dalam usia mendekati 68 tahun. Dia wafat di tempat dia dilahirkan yaitu Madinah. Dia meninggalkan tujuh putra: Ismail, Abdullah, Musa Al Kazhim, Ishaq, Muhammad, Ali dan Fathimah.

Dia benar-benar shadiq, jujur dalam ucapannya dan perbuatannya, tidak dikenal dari diri Ja`far selain sifat shidq (jujur, benar), karena itu digelar ash shadiq. Dia juga digelari al imam oleh ahlus sunnah karena kedalaman dan keluasan ilmunya. Ja`far menimba ilmu dari para sahabat besar seperti Sahl bin Sa`ad As Sa`idi dan Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dan dari ulama tabi`in seperti Atha` bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab Az Zuhri, Urwah bin Az Zubair, Muhammad bin Al Munkadir, Abdullah bin Abu Rafi` dan Ikrimah Mawla bin Al Abbas Radhiyallahu anhuma.

Diantara murid-muridnya adalah Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Sufyan Ats Tsauri, Syu`bah bin Al Hajjaj dan Sufyan bin Uyainah. Para ulama Islam telah banyak memuji dan menyanjung.

Ja`far Ash Shadiq termasuk orang yang sangat mencintas kakeknya Abu Bakar Ash Siddiq dan juga Umar bin Khaththab Radhiyallahu `anhu. Beliau sangat mengagungkan keduanya karena itu beliau sangat membenci Rafidhah yang telah membenci keduanya.

Ja`far juga membenci Rafidhah yang telah menetapkannya sebagai imam yang ma`sum. Diriwayatkan oleh Abdul Jabbar bin Al Abbas Al Hamdzani bahwa Ja`far bin Muhammad mendatangi mereka ketika mereka hendak meninggalkan Madinah, dia (Ash Shadiq) berkata,

Sesunggunya kalian insya Allah adalah termasuk orang-orang shalih di negeri kalian, maka sampaikanlah kepada mereka ucapanku, `Barangsiapa mengira bahwa aku adalah imam ma`shum yang wajib ditaati maka aku benar-benar tidak ada sangkutpaut dengannya. Dan barangsiapa mengira bahwa aku berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar maka aku berlepas diri daripadanya`. (Syiar `A`lam An Nubala : 259).

Muhammad bin Fudhail menceritakan dari Salim bin Abu Hafshah, Saya bertanya kepada Abu Ja`far dan putranya, Ja`far, tentang Abu Bakar dan Umar. Maka dia berkata, `Wahai Salim cintailah keduanya dan berlepas diri musuh-musuhnya karena keduanya adalah imam huda.` Kemudian Ja`far berkata, `Hai Salim apakah ada orang yang mencela kakeknya? Abu Bakar adalah kakekku. Aku tidak akan mendapatkan syafaat Muhammad Shallallahu `alaihi wasallam pada hari kiamat jika aku tidak mencintai keduanya dan memusuhi musuh-musuhnya.` Ucapan imam Ash Shadiq seperti ini dia ucapkan dihadapan bapaknya, Imam Muhammad bin Ali Al Baqir dan dia tidak mengingkarinya. (Tarikh Al Islam 6/46)

Hafsh bin Ghayats murid dari Ash Shadiq berkata, Saya mendengar Ja`far bin Muhammad berkata, `Aku tidak mengharapkan syafaat untukku sedikit pun melainkan aku berharap syafaat Abu Bakar semisalnya. Sungguh dia telah melahirkanku dua kali`.

Sebagaimana murid Ja`far yang tsiqat lainnya yaitu Amr bin Qa-is Al Mulai mengatakan, Saya mendengar Ibnu Muhammad (Ash Shadiq) berkata, `Allah ta`ala berlepas diri dari orang yang berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar`. (Syiar Alam An Nubala : 260).

Zuhair bin Mu`awiyah berkata, Bapaknya berkata kepada Ja`far bin Muhammad, `Sesungguhnya saya memiliki tetangga, dia mengira bahwa engkau berbara` (berlepas diri) dari Abu Bakar dan Umar`. Maka Ja`far berkata, `Semoga Allah berbara` dari tetanggamu itu, demi Allah sesungguhnya saya berharap mudah-mudahan Allah memberikan manfaat kepadaku karena kekerabatanku dengan Abu Bakar. Sungguh aku telah mengadukan (rasa sakit) maka aku berwasiat kepada pamanku (dari ibu) Abdurrahman bin Al Qasim. (At Taqrib, Ibnu Hajar, Tarikh Al Islam, Adz Dzahabi).

Semua teks ini adalah dari Ja`far Ash Shadiq, secara jelas menjelaskan kecintaanya kepada Abu Bakar dan Umar, wala`nya kepada keduanya serta taqarrubnya kepada Allah dengan wasilah mahabbah dan wala` tersebut. Juga menunjukkan kebencian kepada yang membenci keduanya dan bara` kepada yang bara` dari keduanya. Bahkan bara`nya dari orang yang meyakini imamah dan kema`shumannya. Dan permohonannya kepada Allah agar Allah memutus segala Rahmat-Nya dari orang-orang yang memusuhi Abu Bakar dan Umar.

Maraji`: Gen Syi`ah, Sebuah Tinjauan Sejarah Penyimpangan Aqidah dan Konspirasi Yahudi, Mamduh Farhan Al Buhairi, Penerbit Darul Falah
Read More >>

SISI PALING RAHASIA PENGGEMPURAN LEBANON;

Posted in
by Mbah Lalar



Menyingkap Konspirasi Besar Zionis-Salibis dan Neo Syiah-Shafawis terhadap Ahlussunnah di Semenanjung Arabia Editor dan Penerjemah:
Muhammad Ihsan Zainuddin

“Dari semua yang terungkap dan terbaca, ada banyak rahasia yang tak terketahui. Karena itu, jangan pernah tertipu mendengar lolongan serigala, menyaksikan musang kenakan sorban, sebabmereka-lah penipu tercerdik dalam sejarah"
 
Dalam hitungan hari saja, dunia terperangah. Dan seolah tak pernah jemu, seluruh wajah dunia kembali berpaling ke wilayah paling panas di  seantero jagat: Palestina dan Lebanon.
 
Ada puluhan rudal mungkin yang  ditumpahkan ke kepingan wilayah itu, dan kemudian ada puluhan –bahkan mungkin ratusan- nyawa tak berdosa yang melayang, ratusan rumah tempat bernaung nyaris rata dengan tanah, dan gelombang pengungsian lalu menjadi fenomena yang tak terbendungkan.

Hampir bisa dipastikan, bahwa mayoritas –jika tidak semua- korban kekejian itu
–baik yang meninggal maupun yang harus berlari dengan wajah ketakutan
meninggalkan negrinya- adalah sekumpulan manusia yang tidak tahu menahu
mengapa orang-orang tercinta mereka harus menjadi korban…mengapa tempat
bernaung yang selama ini mereka bangun bata demi bata harus diremukkan
begitu saja…Yah, mereka tidak pernah tahu, setidaknya hingga kini.


Mereka tidak tahu…dan kita, kaum muslimin di Indonesia pun mungkin tak tahu
mengapa Hizbullah Lebanon menculik 2 tentara Israel. Tapi ketika Presiden Iran, Ahmadi Nejad datang ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, kita dihinggapi sebuah euphoria yang gempita. Sebagian kita bahkan seperti menyambut seorang pahlawan agung. Kita kagum hanya karena kesederhanaannya…
 
Memang susah kita ini, karena jarang menemukan pemimpin yang sederhana, maka musang yang berlagak sederhana pun dengan mudah kita percayai…
 
Apakah kita kagum akan keberanian Iran –yang  merupakan representasi kekuatan Syiah abad ini- ‘melawan’ Amerika dalam hal nuklir? Apakah sebagai umat yang selama ini roda peradabannya sedang berada di bawah, kita menganggap ‘keberanian’ Iran itu sebagai awal  kemenangan Islam? Bila jawabannya adalah ‘iya’, maka ketahuilah ada banyak hal yang tidak kita ketahui dari semua peristiwa itu…

Dalam terminology Sunnah, kita saat ini sedang berhadapan dengan sebuah fitnah. Fitnah itu adalah saat berbagai peristiwa berkalut-kelindan satu sama lain, hingga kita terjebak dalam situasi dimana kita kehilangan nalar sehat untuk memilah mana hal dan pernyataan yang harus diapresiasi secara positif dan tidak. Atau dalam bahasa yang lebih tegas: nalar syar’i kita menjadi tumpul
dalam menentukan yang haq dan yang batil. Akibatnya, karena kita merasa
sebagai umat yang kalah, segala bentuk perlawanan yang memakai label
keumatan kita dengan segera kita anggap sebagai pahlawan Islam. Meski
sesungguhnya ia tak lebih dari musang berbulu domba! ‘Tulisan’ ini sebenarnya adalah pengantar saja terhadap sebuah tulisan yang ditulis untuk menyikapi berbagai  ‘kekacaubalauan’ yang hingga kini terus terjadi di Semenanjung Arabia; secara spesifik di Irak, dan Palestina serta Lebanon belakangan ini.
 
Mengapa Hizbullah Menyulik 2 Tentara Israel?; Membaca Tujuan Hakiki di Balik
Itu. Ditulis oleh DR. Muhammad Bassam, anggota Dewan Pendiri Rabithah
Udaba’ al-Syam (Ikatan Sastrawan Syam). Artikel ini dimuat dalam situs www.almoslim.net, edisi 21/6/1427. Semoga bermanfaat!
 
MENGAPA HIZBULLAH MENYULIK 2 TENTARA ISRAEL? Membaca Tujuan Hakiki di Balik Itu DR. Muhammad Bassam

Pada awal tulisan ini, menjadi penting untuk dijelaskan bahwa Israel tidak
lebih dari sebuah lembaga zionis yang ‘disisipkan’ dalam tubuh wilayah Arab-Islam kita. Dan sang penyusup ini harus dilawan dengan segala cara yang memungkinkan, hingga Palestina dapat dibebaskan. Seluruh Palestina…dari ujung laut hingga sungainya. Lembaga zionis ini tidak lebih dari sebuah kangker yang ditanamkan Barat di pusat kawasan Islam demi melanggengkan tujuannya: memecah belah dan menghalangi terwujudnya sebuah kekuatan negara berperadaban yang menjadi Islam sebagai referensi tertingginya. 
 
Meskipun kita sangat yakin, bahwa ‘proyek’ zionis itu
akan berjalan menuju kepunahannya sebagai sebuah akibat yang pasti dari
Sunnatullah di muka bumi ini. Musibah apapun yang menimpa lembaga zionis itu, dan apapun yang menimpa tentara-tentara negara pencuri itu; semuanya akan membuat kita gembira, ridha dan semakin yakin bahwa lembaga itu hanyalah sekumpulan omong  kosong yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu dengan label Islam, dan merasa cukup dengan gembar-gembor untuk membebaskan dataran tinggi Golan dan Palestina…Isu Palestina menjadi isu dagangan pokok kelompok-kelompok yang dimotori oleh mereka yang membangun ‘Proyek Shafawisasi’ atau ‘Persianisasi’ di semenanjung Arabia; sebuah proyek yang mengalami kemajuan cukup pesat sejak dimulainya penjajahan terhadap Irak secara Amerikanis-Shafawis-Zionistik, setidaknya sejak 3 tahun belakangan ini… 
 
Di Damaskus, tiga bulan yang lalu (tulisan ini saya copy pada17 April 2010 pen) , telah diumumkan terbentuknya sebuah aliansi strategis Iran-Suriah yang di dalamnya turut pula bergabung kelompok Hizbullah dan beberapa kelompok Palestina, setelah sebelumnya kaum Shafawis Iran telah terlibat dalam suatu ‘permainan’ dengan Pemerintah Suriah…’Permainan’ itu terutama sangat jelas aromanya di bumi Irak yang terjajah, tentu dengan irama yang sejalan dengan sang penjajah Amerika. 
 
Meskipun masing-masing pihak tetap menjaga ‘mimpi-mimpi’ mereka untuk menanamkan pengaruhnya di kawasan Arab dan Islam. Di sini, mungkin menjadi sangat penting bagi kami untuk menunjukkan bahaya ‘mimpi-mimpi’ kaum Persianis-Shafawis, yang didukung penuh oleh Pemerintah Suriah, Hizbullah dan kelompok-kelompok Syiah di Irak.

Persekutuan gelap ini telah berubah menjadi gejala ‘kanker’ yang sangat  parah (dan keji!), yang bahayanya bagi umat Islam (terutama di kawasan Arab) melebihi bahaya lembaga zionis bernama Israel itu sendiri!
 
 
Berikut adalah beberapa fenomena ‘Proyek’
Rasialis Shafawistik ini:

 
1. Adanya gerakan dan upaya pembersihan etnis dan madzhab terhadap Ahlussunnah Arab di Irak, yang gejalanya semakin meningkat beberapa bulan belakangan ini, seiring dengan upaya pengisoliran terhadap mereka di wilayah
selatan Irak. Ditambah lagi dengan seruan untuk membagi kawasan Irak berdasarkan kelompok aliran, serta mendorong pasukan penjajah Amerika
untuk terus melakukan penangkapan, penawanan, pembunuhan, penghancuran
dan pembersihan terhadap kaum Ahlussunnah di Irak, terhadap mesjid-mesjid, lembaga-lembaga, dan juga gerakan-gerakan mereka!

2. Keterlibatan kaum Persia Shafawis di Irak dengan kerjasama yang sangat sempurna dengan Pimpinan tertinggi kaum Syiah di Irak, khususnya yang memiliki ras Persia. Dan itu diwujudkan dalam bentuk kerjasama intelejen, militer, ekonomi, politik dan agama, dengan dukungan penuh dari Amerika baik secara militer dan logistik, hingga Irak menjelma menjadi negara yang tunduk di bawah penjajahan kaum Persia Shafawis dengan menggunakan tank-tank Amerika!

3. Keterlibatan kaum Persia Shafawis di Suriah untuk mengerahkan gerakan Syiahisasi di tengah rakyat Suriah yang muslim sunni, dan pemberian kewarganegaraan Suriah kepada para keturunan Persia dan warga Syiah Irak, dari pihak pemerintahan Hafzih al-Asad. Dan jumlah mereka hingga saat ini telah melebihi 1.000.000 jiwa. Mayoritasnya bermukim di Propinsi al-Sayyidah
Zainab dan sekitarnya di Damaskus.

4. Menonjolnya upaya-upaya pemalsuan yang sangat vulgar dalam perhitungan demografis terhadap rakyat Suriah. Dan mungkin bukti yang paling jelas atas itu
adalah studi-studi fiktif yang dipulikasikan oleh Intelejen Suriah bahwa masyarakat Suriah adalah masyarakat minoritas, dan prosentase
Ahlussunnah dari keseluruhan jumlah masyarakat Suriah itu hanya 48%. Dan
jumlah itupun mengalami perpecahan di dalam tubuhnya sendiri! Padahal, rakyat Suriah secara mayoritas mutlak terdiri dari Ahlussunnah, dan ini adalah sebuah fakta yang terlalu jelas di Suriah. Tetapi para pelaksana proyek Persianis Shafawis ini mengira bahwa dengan melakukan pemalsuan  terhadap angka-angka demografis di Irak –tentu saja dengan mengorbankan Ahlussunnah yang mayoritas-, mereka juga dapat melakukan hal yang sama di Suriah!!

5. Kesepakatan dan konspirasi bersama dengan kekuatan Amerika Sang Penjajah. Dan mungkin bukti paling jelas atas itu adalah apa yang dipublikasikan oleh pimpinan spiritual tertinggi Syiah di Irak, berupa fatwa-fatwa yang mengharamkan perlawanan terhadap ‘Sang Penjajah’ dan membukakan pintu
seluas-luasnya terhadap ‘proyek’ penyembelihan kaum Ahlussunnah di Irak,
bahkan melabeli mereka dengan label teroris. Dan semua itu dilakukan seiring dengan upaya-upaya dusta mereka yang seolah mendorong perlawanan terhadap Amerika hingga negara itu merdeka! Sejarah memang selalu berulang. Peran-peran yang mereka lakukan hari ini sesungguhnya diilhami oleh peran-peran keji nenek-moyang mereka: al-Thusy dan Ibn al-Alqamy, bersama tentara Mongolia dan Tartar untuk menjatuhkan umat Islam di akhir masa kekhilafahan Abbasiyah!!

6. Semakin meningkatnya upaya-upaya penangkapan yang dilakukan oleh Pemerintah Hafizh al-Asad terhadap warga Arab Iran (al-Ahwaz) yang mencari
perlindungan ke Suriah sejak puluhan tahun yang lalu. Tidak hanya itu, sebagian tokoh perlawanan al-Ahwaz itu (seperti Khalil ibn ‘Abd al-Rahman al-Tamimy dan Sa’id ‘Audah al-Saky) kemudian diserahkan
kepada pihak Intelejen Iran! * * *

Sudah tentu proyek Shafawistik ini memerlukan ‘sampul’ dan
‘bingkai’ yang bisa diterima oleh seluruh bangsa Muslim. Harus ada upaya
percepatan yang memungkinkan para pelaku proyek ini ‘mempermainkan’
keterlibatan emosional seluruh bangsa Muslim di dunia. Dan untuk saat
ini, tidak ada cara yang terbaik kecuali mengangkat masalah Palestina,
lalu kemudian ‘memainkannya’ dengan cantik…Dari balik ‘sampul’ itulah
tersembunyi niat-niat keji para pelaku proyek busuk ini. Banyak yang
tertipu. Sebagian gerakan Islam bahkan terbuai dalam permainan yang
mereka mainkan…Semboyan-semboyan kosong yang memancing emosi dan
solidaritas benar-benar menyilaukan mereka yang selalu menyederhanakan
bahaya kaum Syiah Shafawis ini… Untuk
upaya mempermainkan ‘kisah pilu’ Palestina ini maka dilakukanlah
langkah-langkah berikut:

1. Lebih
dari sekali, Presiden Iran meneriakkan slogan-slogan kosongnya untuk
seruan menghapuskan Israel (dari peta dunia)!

2. Mengumumkan
aliansi Iran-Suriah dengan beberapa organisasi Palestina yang memiliki
citra yang baik di mata dunia Arab dan Islam. Mereka juga berlagak akan
memberikan bantuan finansial kepada pemerintahan HAMAS…tapi
seperti biasa bantuan itu tak pernah ada! Bantuan-bantuan itu
tak pernah sampai ke tangan yang berhak hingga sekarang. Dan yakinlah,
bantuan itu tak akan pernah sampai hingga kapanpun…Menteri Luar Negri
Iran pada tanggal 10 Juli 2006 menegaskan dalam sebuah jumpa pers bahwa
proses pemberian bantuan 50 juta dolar itu masih dalam taraf pengambilan
keputusan (4 bulan setelah janji itu disampaikan), dan hingga sekarang
jumlah itu belum pernah dibayarkan. Maka
bantuan Iran itu tidak lebih dari sekedar gembar-gembor dan janji
kosong, sebab kaum Shafawis-Persianis itu tak akan dapat digerakkan
kecuali dengan motif ras dan kelompok, yang salah satu konsekwensinya
adalah tidak memberikan bantuan apapun terhadap gerakan Palestina
manapun yang Ahlussunnah, bagaimanapun kondisinya!!

3. Penyelenggaraan
berbagai pertemuan mencurigakan antara pemerintah Suriah dengan
pemerintah Zionis, yang diawali dengan jabatan tangan antara Presiden
Suriah, Basyar al-Asad dan Moshe Katzav, Presiden Israel, saat
mengunjungi jenazah Paulus di Vatikan. Hal itu kemudian diikuti dengan
pernyataan-pernyataan pihak Zionis bahwa pemerintah Suriah adalah
pilihan mereka yang harus didukung. Sementara pihak Suriah juga
menyatakan keinginannya untuk berdialog dengan kaum Zionis, meski di
saat yang sama, pihak Suriah gencar melakukan pembersihan etnis terbesar
dalam sejarahnya terhadap warga negaranya, melakukan konspirasi
terhadap upaya pengajaran Islam Ahlussunnah, sembari memberikan dorongan
bahkan bantuan moral dan materil terhadap pengajaran Syiah-Shafawis.
Peristiwa paling mutakhir yang membuktikan hal ini adalah pertemuan
dubes Suriah dengan pimpinan persatuan Zionis di London (Surat kabar al-Syarq
al-Ausath, 12/7/2006) dan penyambutan terhadap pemuka Zionis
Amerika untuk menyampaikan ceramah di salah satu mesjid jami’ terbesar
di Halab (Surat kabar al-Khalij, 11/7/2006).

4. Keterlibatan
Mossad yang cukup dalam di Irak dengan dukungan pemerintah Irak buatan
Amerika, dengan koordinasi yang kuat dengan apa yang disebut al-Haras
al-Tsaury al-Irany (Pengawal Revolusi Iran) dan berbagai milisi
Syiah Shafawiyah di Irak; untuk menangkap dan membunuh para ulama dan
tokoh Ahlussunnah yang berpengaruh di Irak. Mereka bahkan melakukan
berbagai tindakan terror terhadap Ahlussunnah di Irak berupa penculikan,
penyiksaan hingga pembunuhan. Dan aliansi strategis ini bahkan telah
siap melakukan langkah yang sama di tiga wilayah: Irak, Suriah dan
Lebanon. Karena itu, tindakan apapun yang dilakukan oleh salah satu dari
aliansi ini, sesungguhnya merupakan bagian dari global proyek Shafawis
ini di sepanjang kawasan yang memanjang dari Iran hingga Lebanon,
termasuk didalamnya Irak dan Suriah! Karena itu, dan berdasarkan
kesatuan strategi dan tujuan, serta komperhensifitas peran antara
pemerintahan Persianis Iran, pemerintahan al-Asad di Suriah dan
gerakan-gerakan Syiah di Lebanon…berdasarkan itu saja, kita dapat
menyimpulkan berbagai upaya dan tindakan yang selama ini dilakukan,
serta menentukan arahnya: apakah ia sepenuhnya untuk kemashlahatan
bangsa Arab dan kaum muslimin…atau untuk kepentingan pelaksanaan rencana
kaum Shafawis Persianis untuk menguasai wilayah dan kekayaan kita,
untuk kemudian melakukan gerakan pembersihan etnis dan aliran terhadap
Ahlussunnah di wilayah ini, untuk selanjutnya memperluas aksinya ke
semanjung Arabia hingga Afrika Selatan…demi mengembalikan kejayaan
Dinasti Shafawiyah dan Fathimiyah, dengan menguasai wilayah Arab dan
kaum muslimin!! Coba Anda renungkan:
Apa arti dari peristiwa kemarahan Basyar al-Asad
di Damaskus terhadap Pemerintah Lebanon, yang lalu diikuti dengan
mundurnya 5 menteri Syiah dari Hizbullah dan Gerakan Amal …mereka
mengundurkan diri lalu membekukan kegiatan mereka di sana??!
Apa arti dari apa yang dilakukan oleh sebagian
peserta Konferensi Advokat Arab -yang diselenggarakan di Damaskus
beberapa bulan yang lalu-, yang mengangkat bendera Hizbullah di
konferensi itu…padahal tidak ada satupun tanda atau symbol Lebanon
sebagai negara yang diangkat di sana, bahkan untuk bendera kebangsaannya
sekalipun??! Mengapa Hasan
Nashrullah meletakkan foto si orang Persia bernama “Imam” Khomeni itu di
atas kepalanya dalam ruang kerjanya di Lebanon?? Dan sebelum itu, apa makna dari jawaban salah
seorang pemimpin Hizbullah atas pertanyaan wartawan di tahun 1987
“Apakah kalian merupakan bagian dari Iran?” (yang kemudian menjawab):
“Bahkan kami adalah Iran di Lebanon dan Lebanon di Iran”?? Nah, atas dasar fakta-fakta inilah seharusnya
kita menghukumi berbagai hal dan kejadian yang belakangan ini terjadi,
yang notabene diprovokasi dan diledakkan oleh Hizbullah dari
balik aliansi Shafawis strategisnya –yang katanya- melawan keberadaan
Zionisme!! * * * Sesungguhnya tujuan utama dari proyek Kaum
Shafawi Persia ini adalah menguasai dunia Arab dan Islam, yang dimulai
dengan menundukkan wilayah bulan sabit (Negri-negri Syam dan
Irak). Proyek ini setidaknya dibangun di atas 5 pijakan:

1. Bekerja
sama dengan kekuatan Barat di bawah komando Amerika semaksimal mungkin
untuk menguasai negri-negri kaum muslimin, serta melakukan peran-peran
keji yang tidak kalah kejinya dengan apa yang dilakukan oleh Ibn
al-Alqamy saat bekerja sama dengan Holako Khan untuk menjatuhkan
Khilafah Islamiyah. Dan seluruh dunia mengetahui dengan baik, bahwa Iran
memiliki peran yang sangat besar dalam bekerja sama bersama Amerika
untuk menjatuhkan Afghanistan…kemudian Irak. Para petinggi Iran sendiri
mengakui hal itu. Bahkan mereka bangga akan itu. Muhammad Ali Abthahi,
wakil presiden Iran yang lalu mengatakan: “Seandainya bukan karena Iran,
Amerika tidak mungkin mampu menguasai Irak…Seandainya bukan karena
Iran, Amerika tidak mungkin mampu menundukkan Afghanistan.” Tentu ini
semua demi untuk melemahkan Ahlussunnah, lalu kemudian menghancurkan
mereka di bawah payang pendudukan Amerika!!

2. Menyalakan
api peperangan antar kelompok, melakukan upaya pembersihan etnis dan
kelompok, bekerja keras untuk membagi-bagi wilayah kita kaum muslimin,
mengusir warga Irak yang Ahlussunnah dari propinsi-propinsi dimana
mereka hidup bersama dengan kaum Syiah, ditambah dengan peran-peran
merusak para pemimpin spriritual Syiah di Irak untuk menghancurkan
Ahlussunnah dan semua lembaga yang mereka miliki. Ingat! Al-Syirazy
menyerukan dalam khutbahnya untuk menghancurkan mesjid-mesjid
Ahlussunnah di Irak. Dan mereka benar-benar menghancurkan
ratusan mesjid Ahlussunnah, atau mengubahnya menjadi Husainiyat dan
pusat-pusat Syiah Shafawis.

3. Membunuh
tokoh-tokoh potensial Ahlussunnah –baik dari kalangan ilmuwan, militer
dan agama-, dan melakukan semua upaya keji untuk meneror, mengusir atau
membalas dendam pada mereka!

4. Melakukan
kamuflase demografis sebagaimana yang terjadi di Suriah secara khusus.
Dan juga seperti yang terjadi di Lebanon dan Yordania, apalagi di irak.
Ditambah lagi bertebarannya para missionaris Syiah di tengah shaf
Ahlussunnah.

5. Menciptakan
benturan-benturan fiktif dengan kaum Zionis Israel. Padahal itu
hanyalah sebuah pancingan agar Israel mengamuk lalu menghancurkan
negri-negri kita kaum muslimin. Dan bila kekacauan itu terjadi, mereka
dengan mudah memainkan strategi Shafawistik mereka demi mewujudkan
tujuan-tujuan kejinya, persis seperti kondisi yang mereka ciptakan
sebelumnya di Afghanistan dan Irak!!
Sesungguhnya proyek Shafawis Syiah itu menyerupai proyek Zionis
dalam berbagai sisinya. Namun sebenarnya lebih berbahaya dari proyek
Zionis…Para pendukung proyek ini tidak akan berhenti hingga berhasil
melenyapkan seluruh Ahlussunnah. Sebuah proyek yang mengemban kedengkian
sejarah yang membuncah, yang dibangun di atas sampah-sampah agama
mereka, seperti: Mushaf Fathimah, nikah mut’ah, menuhankan para imam,
menghina para sahabat, menyimpangkan al-Qur’an dan Sunnah, dan
mengafirkan Ahlussunnah…Karena itu, proyek ini jauh lebih berbahaya dari
proyek Zionis dan Westernisasi Kolonialis Barat-Amerika…meskipun kaum
muslimin tetap berkewajiban untuk melakukan perlawanan terhadap kedua
proyek tersebut, namun tetap saja perlawanan terhadap proyek Shafawis
Persia itu harus lebih kuat dan keras!! Sesungguhnya 4 wilayah yang dipilih oleh kaum
Syiah Shafawi sebagai jejak awal merealisasikan tujuan dan rencana
mereka adalah sebagai berikut:

1. Wilayah Iran: di kawasan ini operasi pembersihan terhadap Ahlussunnah sangat luas terjadi. Ini diikuti dengan penghalalan harta, kehormatan dan
bahkan mesjid-mesjid mereka (perlu diingat, bahwa di seluruh Taheran
tidak ada satupun mesjid Ahlussunnah!)

2. Wilayah Irak: di kawasan ini, mereka bekerja sama dengan penjajah Amerika untuk melakukan upaya-upaya seperti: penghancuran dan membagi-bagi wilayah
Irak, mempersenjatai milisi-milisi Syiah untuk menyerang Ahlussunnah, pembersihan dan pengusiran Ahlussunnah, dan memalsukan prosentase jumlah
penduduk Irak dengan menyebarkan studi-studi palsu yang menyatakan
kemayoritasan Syiah, padahal sebelumnya Ahlussunnah menempati posisi 52%
penduduk Irak!! Di sini harus pula disebutkan adanya misi-misi bersenjata yang ditujukan pada saudara-saudara kita dari Palestina yang hidup di Irak; berupa tekanan, pembunuhan, penangkapan, pelecehan kehormatan, dan penghancuran tempat tinggal…dan fakta menunjukkan bahwa teror-teror itu jauh lebih berat daripada teror yang selama ini mereka terima dari bangsa Zionis. Mereka bahkan berharap dapat kembali ke bumi Palestina dan berada di bawah kaki penjajah Zionis, daripada harus merasakan teror kaum Syiah!!

3. Di wilayah Suriah: pemerintah Suriah –yang merupakan sekutu strategis
Iran- telah melakukan berbagai upaya penangkapan dan pembersihan yang
sangat luas terhadap rakyat Suriah sendiri. Mereka melakukan pembatasan
terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam, dan memberikan keleluasaan
bagi lembaga-lembaga Syiah…padahal Syiah di Suriah sama sekali tidak
mempunyai wujud riil. Pemerintah Suriah juga melindungi upaya misionarisme Syiah di tengah kaum muslimin Suriah, memberikan kewarganegaraan pada kaum Syiah yang datang dari Iran dan Irak, serta mempersempit ruang gerak orang-orang al-Ahwaz yang mengungsi ke Damaskus…Suriah juga menyiapkan dirinya sebagai pangkalan penggempuran terhadap Lebanon dan Yordania, tentu dengan menggunakan masalah Palestina sebagai ‘senjata’ untuk kepentingan aliansi keji ini!!

4. Di wilayah Lebanon: Hizbullah dan Gerakan Amal –keduanya jelas gerakan Syiah- memainkan peranan sebagai gerakan perlawanan palsu. Mereka berlagak melakukan perlawanan terhadap Israel demi menjaga senjata tetap di tangan mereka, dan untuk memainkan lobi politik mereka di Lebanon demi kepentingan aliansi Shafawis-Persianis. Kedua gerakan ini jelas-jelas melancarkan misionarisme Syiah dan –yang tak kalah penting- sengaja memancing Israel untuk menghantam Lebanon kapan saja aliansi Shafawistik itu membutuhkannya, tentu disertai dengan upaya yang terus-menerus menghancurkan keutuhan Lebanon, dan membentuk sebuah negara Syiah dalam Negara Lebanon!!

Maka menjadi sangat penting -saat kita melihat
kawasan yang terbentang dari Iran hingga Lebanon dan Palestina- untuk
memahami utuh apa yang telah kita gambarkan sebelumnya. Ini untuk
menggambarkan secara utuh dan jelas apa yang sebenarnya menjadi tujuan
dari setiap tindakan para pendukung Proyek Shafawis di kawasan manapun. Dasar inilah yang harus jadi pijakan kita dalam melihat tindakan militer yang
dilakukan oleh Hizbullah belakangan ini;

penyulikan 2 tentara Israel dan pembunuhan terhadap 7 orang dari mereka…
Gambaran keadaan sebelum terjadinya tindakan
militer ini dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Terjadinya peningkatan usaha pembersihan etnis dan aliran yang dilakukan oleh milisi Shafawi-Syiah di Irak, yang juga diikuti dengan pemusnahan yang
keji terhadap penduduk yang berasal dari Palestina, dan pengusiran Ahlussunnah dari wilayah selatan Irak (saat ini di Bashrah hanya tersisi 7% Ahlussunnah, padahal sebelumnya selama puluhan tahun mereka mayoritas di sana, dan menjelang pendudukan Amerika jumlah mereka adalah 40%)!! Peristiwa ini diselingi juga dengan pernyataan Presiden Iran untuk melenyapkan Israel!!

2. Gerakan perlawanan Palestina –yang tentunya memiliki latar belakang
Ahlussunnah- menyita perhatian publik bahwa dialah satu-satunya yang terlibat dalam perlawanan terhadap Israel, dimana Israel telah sampai pada jalan buntu untuk mewujudkan tujuannya melawan rakyat Palestina dan gerakan-gerakan perlawanannya.

3. Tersingkapnya keterlibatan Hizbullah dalam kesepakatan sekutunya, Iran, yang bersama dengan penjajah Amerika bersepakat untuk menghancurkan gerakan perlawanan Irak. Hizbullah juga terlibat dalam pelatihan milisi Syiah
Shafawiyah di Irak, dan milisi yang sama-lah yang melakukan pemusnahan
terhadap warga Palestian dan Ahlussunnah di Irak!

4. Mulainya kejatuhan misi-misi Syiah di Suriah dan Lebanon sebagai sebuah dampak terbalik dari tersingkapnya sikap-sikap politik para ‘peserta’ aliansi
Shafawis yang ternyata mendukung Zionis dan pendudukan Amerika di Irak yang notabena telah mendapatkan penolakan luar biasa dari  rakyat Irak-…
lalu disusul oleh munculnya bibit-bibit perbenturan dalam pelaksanaan kedua proyek besar Irak: proyek Amerika dan proyek Persia-Shafawis!! 
 
5. Semakin kuatnya tekanan nasional pihak Lebanon, yang merupakan reaksi negatif atas pemerintah Suriah setelah pengusirannya dari Lebanon…dan juga
semakin rapuhnya posisinya pemerintah Suriah akibat semakin dekatnya
tudingan dunia internasional atas pembunuhan Presiden Rafiq al-Hariri
beberapa waktu lalu. 
 
Karena semua faktor itu, maka:
 
Harus ada upaya memalingkan pandangan mata dunia dari apa yang terjadi di Irak, baik yang dialami oleh Ahlussunnah maupun warga Palestina berupa tekanan kaum Syiah Shafawis… 
 
Harus ada upaya untuk ‘mencuri’ pandangan dunia dari gerakan perlawanan Ahlusunnah Palestina yang berhasil membuktikan kelemahan Israel… 
 
Harus ada upaya untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap upaya-upaya ‘zending’ Syiah di kawasan itu… 
 
Harus ada usaha untuk mengembalikan ‘kebenaran’ sesumbar dusta Ahmadi Nejad untuk melenyapkan Israel dan melawan negara Zionis itu… 
 
Harus ada upaya untuk menutupi kesepakatan Hizbullah yang ingin melawan
gerakan-gerakan perlawanan Irak… 
 
Harus ada upaya untuk mengacaukan politik di Lebanon demi menciptakan
kekacauan yang telah diancamkan oleh Presiden Suriah, Basyar al-Asad…
Semua itu harus dilakukan, meski harus mengorbankan Lebanon…seluruh Lebanon bahkan…
 
Yah, meskipun itu harus menyebabkan kehancuran negri bernama Lebanon!! Untuk itu semualah, Hizbullah –sebagai salah satu pendukung proyek Shafawi-Persianis- menjalankan usaha atau petualangannya belakangan ini ‘melawan’ Sang Zionis!! Apakah kita kontra terhadap sebuah gerakan yang melawan Zionis?? Tentu saja tidak! Kita mendukung setiap gerakan yang dapat melemahkan dan menjatuhkan negara pencuri Zionis itu! 
 
Tapi kita tidak bisa menerima jika gerakan itu menjadikan upaya perlawanannya
sebagai bagian dari sebuah pewujudan tujuan yang jauh lebih berbahaya
dari proyek Zionisme di negri-negri kita.
 
Kita tidak setuju jika para pelaksana proyek itu menjadikan masalah Palestina
sebagai barang dagangan mereka, sementara di saat yang sama, di
Baghdad, mereka menyembelih orang-orang Palestina, merampas harta dan
kehormatan mereka. 
 
Kita tidak pernah bisa menerima jika kaum Shafawi-Syiah itu ingin mengacaukan
keamanan Suriah dan Lebanon demi mewujudkan tujuan-tujuan agama mereka…
Selamanya, kita tidak akan menerima jika Lebanon dihancurkan dan rakyatnya dibunuh hanya karena ulah provokatif yang dilakukan oleh pendukung proyek Shafawis-Persianis, yang eksekusinya dijalankan oleh kaum Zionis!! Kita tidak bisa menerima jika kaum Neo-Shafawis itu berlagak ingin mengorbankan diri mereka, bahwa merekalah gerakan perlawanan itu…
Sementara dengan sangat jelas mereka juga melirik dan mendukung proyek Amerika dan Zionis… 
 
Kita tidak bisa menerima jika dunia memalingkan pandangannya dari segala
kekejian dan kejahatan kaum Syiah-Shafawis terhadap saudara-saudara,
keluarga dan rakyat muslim kita di Irak… Kita tidak bisa menerima jika operasi-operasi militer gelap itu dijadikan sebagai ajang penguluran waktu untuk
membangun proyek Senjata Nuklir Iran-Shafawis, yang kelak akan digunakan
untuk menghancurkan bangsa Arab dan kaum muslimin…untuk merampas negri,
kekayaan dan juga harga diri mereka!! 
 
Periksalah semua lembaran sejarah, Anda tidak akan pernah menemukan bahwa Iran pernah terlibat dalam peperangan melawan kaum Zionis sekalipun…atau
bahkan melawan ‘Si Setan Besar’ Amerika!! Anda tidak akan pernah
menemukan satu huruf pun di dalam sejarah yang menunjukkan itu. 
 
Bahkan Iran justru pernah mempermalukan dirinya dengan mengimpor senjata dari Israel dan Amerika saat berperang melawan Irak (ingat kasus Iran-gate!)…
 
Iran sendiri-lah yang membujuk dan mendukung keberlangsungan pendudukan
Amerika di Irak…Iran sendiri-lah yang ikut campur dan memudahkan
pemerintah Suriah untuk melenyapkan putra-putra terbaiknya…
 
Iran sendiri-lah yang menggunakan Hizbullah untuk memancing tindakan
penghancuran Lebanon oleh Israel…Iran sendiri-lah yang merebut tiga
pulau milik Emirat Arab…dan Iran-lah yang berusaha mengubah gerakan
perlawanan Palestina menjadi selembar kertas yang kelak dengan mudah ia
mainkan, meski harus mengorbankan stabilitas keamanan seluruh kawasan
Arab dan Islam!! 
 
Bila aliansi Neo Syiah-Shafawi itu sungguh-sungguh melakukan perlawanan terhadap pendudukan Israel, mengapa dataran tinggi Golan masih tenang-tenang saja hingga kini??! Bila Hasan Nasrullah dan Hizbullah-nya memang ingin membebaskan tawanan-tawanan Lebanon, mengapa ia tidak menuntut sekutunya, Suriah, untuk melepaskan ratusan orang-orang Lebanon di penjara Suriah??! 
 
Bila aliansi Neo Syiah-Shafawi ini jujur dengan semua gembar-gembornya, lalu siapakah yang menyambut pasukan Zionis dengan karangan bunga ketika mereka berhasil menguasai wilayah Lebanon Selatan bulan Juni 1982??!
 
Lalu siapa yang mengundang pasukan Amerika ke Irak, dan hingga kini saat
kalimat-kalimat ini dituliskan, aliansi itu masih terus berlanjut??!
Jika Hizbullah memang ingin melindungi Lebanon dan rakyatnya, mengapa mereka melakukan upaya provokatif baru-baru ini tanpa sepengetahuan pemerintah Lebanon yang pada Rabu sore, 12-7-2006 mengeluarkan pernyataan: 
 
“Pemerintah Lebanon samasekali tidak mengetahui
operasi yang dilakukan oleh Kelompok Hizbullah ini” ??!
 
Jika mereka –kaum Neo Syiah-Shafawis- itu memang ingin meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina yang terus terancam oleh tekanan Zionis, lalu mengapa mereka menghabisi mereka di Baghdad dengan cara yang jauh lebih keji dan kejam??!

Maka setelah semua ini, menjadi kewajiban kita semua –bangsa Arab dan seluruh kaum muslimin- untuk memahami sebaik-baiknya kenyataan politik, keamanan dan pandangan keagamaan kaum Neo Syiah-Shafawis yang ada saat ini… Mereka harus menyadari kedahsyatan bahaya mereka terhadap –tidak saja bangsa Arab-, namun juga kaum muslimin…
 
Lalu kemudian merumuskan langkah yang tepat untuk melawan kedua proyek keji ini: proyek Zionis-Salibis dan proyek Neo Syiah-Shafawis-Persianik
–dimana yang terakhir disebutkan jauh lebih keji dan berbahaya dari yang
sebelumnya-. Selamatkan agama, peradaban, masa depan negri dan generasi
kita dari mereka!!




Sandiwara Iran “Bermusuhan” Dengan Zionis Yahudi & Amerika


Di antara metode yang ditempuh oleh para penggiat agama Syiah ialah
dengan memanfaatkan sandiwara yang berjudul: Iran “bermusuhan” dengan
Negara Yahudi dan Amerika.

Isu ini sangat efektif untuk menarik simpati umat Islam di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Sampai-sampai terkesan bahwa negara Iran yang notabene adalah penganut agama Syiah adalah satu-satunya Negara pembela kepentingan umat Islam di zaman sekarang.

Karenanya tatkala Indonesia yang menjadi anggota Dewan Keamanan PBB turut menyetuji resolusi no.1747 yang hanya berisikan kecaman terhadap rakyat Iran atas kegiatannya pengayaan uranium, betapa solidaritas umat Islam di Indonesia begitu besar untuk menuntut Presiden SBY –semoga Allah Jalla wa ‘Ala memberikan kebaikan kepadanya-, sampai-sampai DPR mengajukan hak interpelasi.

Dengan adanya kejadian ini, menjadikan masyarakat kurang peka terhadap berbagai trik para penggiat agama Syiah bahkan menjadi lebih terbuka untuk
menerima berbagai keanehan ajaran mereka.

Saudaraku…

Agar anda tahu apa sebenarnya isu “permusuhan” dengan bangsa Yahudi, saya mengajak saudara untuk merenungkan beberapa fakta berikut:

1. Iran adalah Negara yang memiliki komunitas Yahudi terbesar setelah
Israel. Menurut sumber resmi pemerintah Iran, jumlah pemeluk agama
Yahudi di Iran berkisar antara 25-30 ribu penduduk. Bahkan di kota
Teheran ada lebih dari 10 Sinagogue (tempat ibadah umat Yahudi). Akan
tetapi, masjid-masjid Ahlu Sunnah tidak satupun yang mereka biarkan
berdiri tegak disana. Bukan sekedar itu saja, orang-orang Yahudi diberi
ruang yang begitu istimewa, yaitu dengan diberikan kesempatan untuk
memiliki perwakilan di parlemen. Sebagaimana umat Yahudi di Iran
memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan para penganut agama Syiah.
Suatu hal yang tidak mungkin dirasakan oleh komunitas Ahlu Sunnah.
Bahkan komunitas Yahudi Iran hingga saat ini bebas untuk berkunjung ke
karib-kerabat mereka di Israel, tanpa ada gangguan sedikitpun baik dari
pemerintah Iran atau penduduk setempat. [1]

2. Adanya hubungan perdagangan antara Iran dan Yahudi. Sejak zaman Syiah Pahlevi, Iran telah menjalin hubungan perdagangan dengan Zionis Yahudi. Dan hubungan perdagang ini berkelanjutan hingga setelah revolusi Syiah yang dipimpin oleh Khumaini. Pada tahun 1982 M, Yahudi menjual persenjataan yang
berhasil mereka rampas dari para pejuang Palestina di Lebanon dengan harga 100 juta dolar Amerika [2]. Bahkan pada tahun 1980-1985, Zionis Yahudi merupakan Negara pemasok senjata terbesar ke Iran [3]. Sandiwara “permusuhan” Iran dan Yahudi mulai terbongkar, ketika pesawat kargo
Argentina yang membawa persenjataan dari Yahudi ke Iran tersesat,
sehingga masuk ke wilayah Uni Soviet, dan akhirnya di tembak jatuh oleh
pasukan pertahanan Uni Soviet. Dikisahkan, Iran membeli persenjataan
dari Yahudi seharga 150 juta dolar Amerika, sehingga untuk mengirimkan
seluruh senjata tersebut, dibutuhkan 12 kali penerbangan [4].

3. Perdagangan antara kedua Negara (Iran & Yahudi) hingga kini juga terus berkelanjutan. Sebagai salah satu buktinya, harian Palpress News Agency Edisi 25/04/2009 melaporkan bahwa di kota Teheran, telah dipasarkan buah-buahan yang diimpor dari Yahudi.

4. Bila anda mengikuti berita international, Anda pasti pernah membaca pemberitaan bahwa pada hari selasa 12/1/2010 ahli nuklir Iran yang bernama Masoud Ali-Mohammadi yang berdomisili di kota Teheran ibukota Iran, tewas di
dekat rumahnya akibat serangan bom. Kementrian luar negeri Iran langsung
menuduh kaki tangan AS dan Yahudi di balik serangan bom itu. Aneh bukan? Iran telah memiliki bukti bahwa Yahudi dan Amerika telah mengadakan serangan di Teheran dan telah menewaskan ahli nuklirnya.

Walau demikian, tidak ada reaksi pemerintah Iran dan para penganut Syiah
tetap berdarah dingin dan tidak satupun tentara Iran yang dikirim untuk
membalas serangan tersebut.
Read More >>
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Hidangan Populer Warkop Pusat

Copyright 2011 @ Warkop Mbah Lalar