SEPUTAR MENSTRUASI/ DARAH WANITA S

Posted in Sabtu, 26 Maret 2011
by Mbah Lalar






BAB I
HAIDL

I.Dalil Haidl

Haidl adalah kodrat wanita yang tidak bisa dihindari dan sangat erat kaitannya dengan ibadahnya sehari hari. Alloh berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 222:

“mereka bertanya kepadamu tentang haidl katakan haidl adalah suatu kotoran, oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidl dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Alloh kepadamu sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.

Dan hadits nabi :
"ini (haidl) merupakan sesuatu yang telah ditaqdirkan Alloh kepada cucu-cucu wanita Adam (HR Bukhari dan muslim)

Pengertian Haidl

Haidl atau yang di sebut dengan menstruasi secara bahasa berarti mengalir, sedangkan menurut arti syara’ haidl adalah darah yang keluar dari rahim wanita melalui alat kelamin wanita yang sudah mencapai usia 9 tahun kurang 16 hari kurang sedikit (Tahun Hijriyyah)
PENGHITUNGN 9 TAHUN DENGAN TAHUN HIJRIYYAH BUKAN MASEHI.
sebab selisihnya akan sangat banyak sekali

>>>1 Tahun Hijriyyah = 354 hari 8 jam 48 menit ( kurang lebih )

>>>1 Tahun Masehi = 365 Hari 6 jam

tinggal dikalikan selisihnya dalam kurun 9 tahun

dan keluar Secara alami bukan disebabkan melahirkan atau suatu penyakit.
Dengan demikian darah yang keluar ketika wanita belum berumur 9 tahun kurang 16 hari kurang sedikit atau disebabkan penyakit ataupun disebabkan melahirkan, tidak dinamakan darah haidl

Hukum belajar ilmu haidl
a.Fardlu 'ain atas wanita yang sudah baligh
b.Fardlu kifayah atas orang laki-laki

Tanda-Tanda Baligh
Seorang anak dihukumi baligh apabila sudah memenuhi salah satu dari 4 tanda di bawah ini
1.Genap berumur 15 tahun Hijriah bagi laki-laki atau perempuan.
2.Keluar sperma pada usia minimal 9 tahun Hijriah, bagi laki-laki atau perempuan.
3.Haidl.
4.Hamil/melahirkan..

Batas Usia Wanita Haidl

Minimal usia wanita mengeluarkan darah disebut darah haidl adalah 9 tahun qomariyah kurang 16 hari kurang sedikit, yaitu kurangnya waktu yang cukup untuk minimal suci dan minimal haidl. Sehingga jika ia mengeluarkan darah kurang dari usia tersebut, maka darah yang keluar tidak disebut darah haidl namun disebut darah istihadloh (penyakit).
Bila darah yang keluar sebagian pada usia haidl dan sebagian pada sebelum usia haidl, maka darah yang dihukumi haidl hanyalah darah yang keluar pada usia haidl.

Contoh: wanita usianya 9 tahun kurang 20 hari, mengeluarkan darah selama 10 hari, maka darah yang 4 hari pertama lebih sedikit dihukumi istihadloh, sedangkan yang 6 hari kurang sedikit dihukumi darah haidl.

Ketentuan darah haidl

Darah yang keluar dihukumi darah haidl apabila memenuhi 4 syarat:
1.Keluar dari wanita yang usianya minimal 9 tahun kurang 16 hari kurang sedikit.
2.Darah yang keluar minimal sehari semalam jika keluar terus menerus, atau berjumlah 24 jam jika keluar terputus putus dan masih pada waktu 15 hari dari keluarnya darah yang pertama.
3.Tidak lebih 15 hari 15 malam jika keluar terus menerus.
4.Keluar setelah masa minimal suci, yakni 15 hari 15 malam dari haidl sebelumnya.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa: Minimal keluarnya haidl adalah sehari semalam. Maksimal keluarnya haidl adalah 15 hari 15 malam. Pada umumnya wanita setiap bulan mengeluarkan darah 6 atau 7 hari. Paling sedikit jarak waktu yang memisah antara satu haidl dengan haidl sebelumnya adalah 15 hari 15 malam. Maka semuanya dihukumi haidl termasuk masa berhenti di antara dua darah tersebut.
Jika masa pemisah kurang dari 15 hari, maka perinciannya sebagai berikut:
a.Bila darah pertama dan kedua masih dalam rangkaian 15 hari terhitung dari permulaan keluarnya darah pertama maka semuanya dihukumi haidl termasuk masa berhenti di antara dua darah tersebut.
Contoh 1:
Keluar darah selama 3 hari.
Berhenti selama 3 hari.
Keluar lagi selama 5 hari.
Contoh 2:
Keluar darah selama 2 hari.
Berhenti selama 10 hari.
Keluar lagi selama 3 hari.

Dari kedua contoh di atas, keseluruhan hari, termasuk waktu tidak keluar darah dihukumi haidl, sebab semuanya masih dalam masa maksimal haidl (15 hari).

b.Bila darah kedua sudah di luar rangkaian masa 15 hari dari permulaan haidl pertama (jumlah masa pemisah ditambah dengan darah pertama tidak kurang dari 15 hari), sementara jumlah masa pemisah ditambah darah kedua tidak lebih 15 hari, maka darah kedua dihukumi darah fasad (kotor).
Contoh 1:
Keluar darah pertama selama 3 hari.
Berhenti selama 12 hari.
Keluar darah kedua selama 3 hari.

Maka 3 hari pertama dihukumi haidl,12 hari tidak keluar darah dihukumi suci, dan 3 hari akhir dihukumi darah fasad (kotor).
Contoh 2:
Keluar darah pertama selama 6 hari.
Berhenti selama 9 hari.
Keluar darah kedua selama 2 hari.

Maka 6 hari pertama dihukumi haidl, berhenti 9 hari dihukumi suci dan 2 hari dihukumi darah kotor.

c.Bila masa suci pemisah ditambah darah kedua melebihi 15 hari, maka sebagian darah kedua dihukumi darah fasad (untuk menyempurnakan masa minimal suci pemisah). dan sisanya dihukumi haidl yang kedua, bila memenuhi ketentuan haidl.
Contoh:
Keluar darah pertama 5 hari.
Berhenti selama 10 hari.
Keluar darah kedua 10 hari.

Maka 5 hari awal dihukumi haidl, 10 hari ditambah 5 hari (sebagai darah kotor) dihukumi masa suci, dan 5 hari akhir dihukumi haidl yang kedua.

Ketentuan hukum ini apabila masa keluar darah kedua, setelah dikurangi untuk menyempurnakan masa minimal suci, sisanya tidak lebih dari maksimal haidl (15 hari). Dan jika melebihi masa 15 hari, maka perempuan tersebut dihukumi mustahadloh yang hukumnya disesuaikan dengan pembagian mustahadloh yang akan datang.
Contoh:
Keluar darah pertama 10 hari.
Berhenti selama 10 hari.
Keluar darah kedua selama 25 hari.

Maka, 10 yang pertama dihukumi haidl 10 hari saat tidak keluar darah ditambah 5 hari saat keluar darah yang kedua (sebagai penyempurna 15 hari minimal suci yang memisahkan antara dua haidl), dihukumi masa suci. Sedangkan satu hari setelah itu dihukumi haidl yang kedua, dan sisanya dihukumi darah istihadloh.

Hal ini jika ia adalah seorang wanita yang pertama kali mengeluarkan haidl dan darah yang dikeluarkan tidak bisa dibedakan antara yang kuat dan yang lemah (mustahadloh mubtadiah ghoiru mumayyizah). Dan jika ia sudah pernah mengalami haidl (mu'tadah ghoiru mumayyizah), maka haidl dan sucinya disesuaikan kebiasaannya. Semisal kebiasaannya 5 hari, maka 10 hari awal dihukumi haidl, 10 hari masa tidak keluar darah ditambah 5 hari saat keluar darah yang kedua dihukumi masa suci. Sedangkan 5 hari setelah itu dihukumi haidl yang kedua, mengikuti kebiasaannya. Dan sisanya dihukumi darah istihadloh.

>>>>>>>Refrensi serta Rujukan
1.Al-Hawi Al Kabiir Juz I hal 465
2.Jamal Alal Manhaj Juz I Hal 235
3.Subulussalam Juz I Hal 104
4.Bajuri Juz I Hal 112-113
5.Syarqowi Juz I Hal 330
6.Bujairimi Khotib Juz 367
7.I`anah JuzIV hal 80
8.Nihayatuss Zain Hal 11
9.Is`adurrofiq Hal 72-73
dll

BAB II
HAMIL DAN KELAHIRAN BAYI

I. Masa Hamil

Minimal masa hamil adalah enam bulan lebih sedikit (waktu bersetubuh dan melahirkan). Masa itu terhitung mulai dari waktu yang mungkin digunakan suami istri bersetubuh setelah akad nikah.
Sedangkan pada umumnya, masa hamil adalah sembilan bulan. dan paling lamanya adalah empat tahun.(Al-Bajuri Juz I halaman 113 dan Al-Bujairimi Khotib Juz I 353)

Sehingga jika ada bayi yang lahir setelah enam bulan setelah pernikahan,maka Nasabnya ikut suami.demikian pula jika lahir sebelum empat tahun dari masa cerai atau wafat.berbeda jika lahir sebelum masa enam bulan dari pernikahan atau setelah empat tahun dari perceraian atau wafat,maka Nasabnya tidak pada suami.
( I`anah at-Tholibin Juz IV hal 49 )

Bulan yang dibuat ukuran minimal, umum dan minimal masa hamil adalah 30 hari, tidak memakai bulan penanggalan.(Bujairimi JuZ I Hal 346)

II. Aborsi (Pengguguran Bayi)

Aborsi yang di lakukan setelah usia kandungan 120 hari (setelah ditiupnya ruh), hukumnya haram. Sedangkan aborsi sebelum kandungan berusia 120 hari, terjadi perbedaan pendapat antara ulama’. Menurut Imam Ibnu Hajar (pendapat yang kuat) hukumnya haram.

III. Penggunaan Alat Kontrasepsi.

Menggunakan alat kontrasepsi, baik berupa pil, obat suntik atau spiral hukumnya adalah sebagai berikut:
a.Apabila penggunaan alat itu bisa menyebabkan tidak bisa hamil selamanya, maka haram.
b.Apabila penggunaan alat kontrasepsi hanya untuk memperpanjang jarak kehamilan dan tidak ada udzur, maka hukumnya makruh.
c.Apabila penggunaan alat itu untuk memperpanjang jarak kehamilan, dan dilatarbelakangi oleh adanya udzur, seperti demi kemaslahatan merawat anak, khawatir terlantarnya anak dan lain, maka hukumnya tidak makruh.
(-Al Jamal Alal Manhaj Juz IV hal 446-447.-Hamisyi Fatawi Al-Qubro Al Fiqhiyyah Libnil Hajar al-musamma bi fatawi Ar-romli Juz IV hal 203)

IV.Kesunahan-kesunahan yang berkaitan dengan kelahiran bayi.

>>Sebelum dimandikan disunahkan mengadzani ditelinga kanan dan diIqomati ditelinga kiri.
Disandarkan pada beberapa hadis antara lain;
• Dari Abi Rofi’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah mengadzankan Sayyidina Husain di telinganya pada saat Sayyidina Husain baru dilahirkan oleh Sayyidatuna Fatimah dengan bacaan adzan untuk sholat .” (HR. Ahmad, Abu dawud, Tarmidzi, dishohihkannya).
• Dari Abi Rofi’ berkata dia, “Aku pernah melihat Nabi melakukan adzan pada telinga Al Hasan dan Al Husain radhiyallahu ‘anhuma.” (HR. Thabrani).... Lihat Selengkapnya
• “Barangsiapa yang kelahiran seorang anak, lalu anaknya diadzankan pada telinganya yang sebelah kanan serta di iqomatkan pada telinga yang kiri, niscaya tidaklah anak tersebut diganggu oleh Ummu Shibyan (HR. Ibnu Sunni, Imam Haitsami menuliskan riwayat ini pada Majmu’ Az Zawaid, jilid 4,halaman 59). Menurut pensyarah hadis, Ummu Shibyan adalah jin wanita yang selalu mengganggu dan mengikuti anak-anak bayi.
>>dibacakan ayat Innii U`idzuuhaa bika wa dzurriyataha minasyaithonirrojiim (Ali Imron 36) + surat Al Ikhlas +surat al Qodr pada telinga sebelah
kanan.Berharap pada Alloh agar selama hidup sianak tidak melakukan zina.
>>Di aqiqohi pada hari ke7 dr kelahiran,jk bayinya laki laki maka menyembelih dua ekor kambing.jk perempuan maka menyembelih 1 ekor kambing.
syarat kambing yg digunakan untuk aqiqoh sama dengan syrat kambing yang disembilih untuk korban.
jika tidak mampu aqiqoh dengan menyembelih kambing ( Fakir) alangkah baiknya mengikuti pendapat Ibnu Abbas yang memperbolehkan Aqiqoh dengan menyembelih hewan yang halal,misal ayam,itik atau laenya.(Bughyatul Murtasyiddiin hal 257)

Imam Ahmad Bin Hambal Berkata:bayi yang tidak diAqiqohi sedang orang tuanya mampu maka kelak diakhirat tidak diberi Izin oleh Alloh untuk memberikan Syafaat pada kedua orang tuanya. ( I`anatuttolibin Juz II hal 335)
jk hari ke 7 blm mampu maka hari ke 14 jk blm mampu mka hari ke 21 jk blm mampu jua tetep mendapatkan kesunahan sampe baligh.
dan bila sudah baliqh maka kesunahan pada orang tua udah gugur,tp bagi sianak yg bersangkutan maka diperkenankan untuk memilih Melaksanakan aqiqoh ataupun tidak.tp lebih baik melaksanakan aqiqoh untuk dirinya sendiri.
(keterangan Tausekh hal 272)
1.kesunahan menyembelih aqiqoh ketika matahari terbit /pagi hari.
2.andai bayi meninggal sebelum usia 7 hari orang tua tetep mendapatkan kesunahan melaksanakan aqiqoh.
(keterangan Tausekh hal 272)

>>Kesunahan berikutnya adalah :mencukur seluruh rambut bayi pada hari ke 7 setelah diAqiqohi,kemudian shodaqoh emas atau perak seberat rambut yang dicukur.
(Bujairimi Juz I halaman 352 dan I`anatuttolibin Juz II Halaman 339-340)

>>Diberi nama yang baik.Nabi bersabda:Sesungguhnya kelak Dihari Qiyamat kalian semua akan dipanggil dengan nama nama kalian semua serta nama nama Bapak kalian.maka Buatlah Nama yang baik.(HR.Abu Daud)

Adapun Nama yang paling baik adalah Abdulloh lalu Abdurrohman selanjutnya kata "Abdu"yang dirangkai dengn salah satu Asma Alloh,seperti Abduljalal,Abdul Mu`id dll.selanjutnya nama yang diawali Dengan Muhammad selanjutnya Ahmad.