DI MANAKAH NAJD ITU?

Posted in Jumat, 30 September 2011
by Mbah Lalar
MANA YANG BENAR ANTARA NAJD HIJAJ ATAUKAH NAJD IRAK ?

و من حديث عبدالله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله (ص) قال : أيما رجل قال لأخيه يا كافر ، فقد باءَ به أحدهما )وراجع هذا الموضوع للرد على الوهابية في أن الشيخ سليمان بن عبد الوهاب لم يعترض على أخيه قرن الشيطان محمد ابن عبد الوهاب
من كتاب الصواعق الألهية في الرد على الوهابية للشيخ لسليمان ابن عبد الوهاب للرد على أخيه قرن الشيطان صفحة 141:

Dari hadits 'Abdulloh bin Umar ra. sesungguhnya Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, "Siapapun laki-laki yg memanggil saudaranya (sesama muslim) 'hai kafir', maka sungguh salah satu dari keduanya adalah kafir." Ini sebagai bentuk penolakan atas wahabi (yg suka mengkafirkan). Sesungguhnya Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab (saudara Muhammad bin Abdul Wahhab) tdk keberatan menyebut saudaranya Muhammad bin Abdul Wahhab dengan sebutan TANDUK SETAN. (Dari Kitab Al-Showa’iq Al-Ilahiyah fi Al-Roddi Al-Wahabiyah/Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, hal: 141).

فالعراق المعروف هو قطعاًُ ليس إلى الشرق من المدينة، ولكن نصفه الشمالي يقع في شمال المدينة النبوية الشريفة المنورة، ونصفه الجنوبي يقع في الشمال الشرقي. هذه هي الحقائق الحسية القاطعة، التي لا يجوز إغفالها وتجاوزها، ولا بحال من الأحوال.
وبهذا يظهر لك بطلان قول الإمام الخطابي: [نجد من جهة المشرق. ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها وهي مشرق أهل المدينة]،

Irak ini tentu tidak dikenal di sebelah timur kota Madinah, namun bagian utara kota ini terletak di utara Madinah An-Nabawiyah, dan setengah dari Selatan terletak di utara-timur. Ini adalah fakta tegas mutlak yang tidak dapat diabaikan dan dilewati meski dengan cara apapun.

Dan ini menunjukkan ketidakabsahan ucapan Imam Al-Khoththobi, yg mengatakan: [Najd berasal dari timur. Dan dari arah timur kota Madinah, Najd adalah di kota Irak dan sekitarnya adalah arah timur dari kota Madinah]. (Tarikh Bagdad juz: 1 hal: 24) Wallohu A'lam
Ibnu Mas'ud
Read More >>

SEJARAH PANJANG NUSANTARA

Posted in Kamis, 29 September 2011
by Mbah Lalar

SEJARAH PANJANG NUSANTARA | Sejarah Nusantara | Sebuah Narasi Alternatif


Banyak sekali penafsiran umum akan nama Nusantara, mungkin yang paling populer adalah rujukan penamaan Nusantara yang dapat diakses di situs wikipedia, di sana disebutkan bahwa ‘Nusantara merupakan istilah yang dipakai oleh orang Indonesia untuk menggambarkan wilayah kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke’; pertanyaannya, apakah hanya sebatas itu sajakah wilayah Nusantara dulu?

Nusa sendiri sering diartikan dengan pulau atau kepulauan, penamaan dari leluhur kita dahulu dalam bahasa sansekerta, sedang dalam bahasa sansekerta dengan peradaban yang lebih lama, istilah Nusa disebut dengan Nuswa.

Hasil dari penelitian kita terhadap beberapa rontal kuno dan beberapa prasasti, Nuswantara [atau Nusantara, selanjutnya kita bahasakan dengan Nusantara] adalah gabungan dari dua kata, Nusa dan Antara. Nusa sendiri dalam bahasa sansekerta kuno mempunyai arti “sebuah tempat yang dapat ditinggali” ...jadi tidak disebutkan secara jelas bahwa itu adalah pulau.

Konsepsi dari Nusantara sendiri adalah sebuah kesatuan wilayah yang dipimpin oleh suatu pemerintahan [kerajaan] secara absolut. Jadi dalam Nusantara terdapat satu Kerajaan Induk dengan puluhan bahkan ratusan kerajaan yang menginduk [bedakan menginduk dengan jajahan]. Dalam sebuah periodesasi jaman, Kerajaan induk itu mempunyai seorang pimpinan [raja] dengan kewenangannya yang sangat absolut, sehingga kerajaan-kerajaan yang menginduk sangat hormat dan loyal kepada Kerajaan Induk dan satu sama lain antara kerajaan yang menginduk akan saling bersatu dalam menghadapi ancaman keamanan dari negara-negara di luar wilayah Nusantara, sehingga tak pelak kesatuan dari Nusantara sangat disegani, dihormati dan ditakuti oleh negara-negara lain pada jaman dahulu.

Kerajaan Induk biasanya dipimpin oleh seorang raja dengan gelar Sang Maha Prabu atau Sang Maha Raja, atau pada periode jaman sebelumnya dengan Sang Rakai atau Sang Mapanji, serta dibantu oleh Patih [sekarang setara dengan Perdana Menteri] yang bergelar Sang Maha Patih.

Sedangkan kerajaan-kerajaan yang menginduk, istilah Kerajaan juga seringkali disebut dengan Kadipaten yang dipimpin oleh raja yang bergelar Kanjeng Prabu Adipati atau Kanjeng Ratu Adipati [apabila dipimpin oleh seorang raja wanita], dan Patih-nya bergelar Sang Patih.

Pimpinan Kerajaan Induk tidaklah selamanya turun-temurun, tidak tergantung dari besar-kecilnya wilayah, tapi dilihat dari sosok pimpinannya yang mempunyai kharisma sangat tinggi, kecakapannya dalam memimpin negara dan keberaniannya dalam mengawal Nusantara, sehingga negara-negara lain [kerajaan yang menginduk/Kadipaten] akan dengan suka rela menginduk di bawah sang pemimpin, apalagi sang pemimpin biasanya dianggap mewarisi karisma dari pada dewa, dalam pewayangan-pun beberapa nama raja disebutkan sebagai Dewa sing ngejawantah.

Nusantara, atau Indonesia kini [dari bahasa melayu dan pengembangan penamaan wilayah nusantara pada jaman masa kolonial], dahulu dikenal dunia sebagai bangsa yang besar dan terhormat. Orang luar bilang Nusantara adalah “jamrud khatulistiwa” karena di samping Negara kita ini kaya akan hasil bumi juga merupakan Negara yang luar biasa megah dan indah.

Bahkan di dalam pewayangan, Nusantara ini dulu diberikan istilah berbahasa kawi/Jawa kuno, yaitu :

“Negara kang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerto raharja”

Artinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih yaitu :

“Luas berwibawa yang terdiri atas daratan dan pegunungan, subur makmur, rapi tentram, damai dan sejahtera“

Sehingga tidak sedikit negara-negara yang dengan sukarela bergabung di bawah naungan bangsa kita.

Hal ini tentu saja tidak lepas peranan dari leluhur-leluhur kita yang beradat budaya dan berakhlak tinggi. Di samping bisa mengatur kondisi Negara sedemikian makmur, leluhur kita juga bahkan dapat mengetahui kejadian yang akan terjadi di masa depan dan menuliskannya ke dalam karya sastra. Hal ini bertujuan sebagai panduan atau bekal anak cucunya nanti supaya lebih berhati-hati menjalani roda kehidupan.

Akan tetapi penulisannya tidak secara langsung menggambarkan berbagai kejadian di masa mendatang, digunakanlah perlambang sehingga kita harus jeli untuk dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan perlambang itu tadi. Digunakannya perlambang karena secara etika tidaklah sopan apabila manusia mendahului takdir, artinya mendahului Tuhan yang Maha Wenang.

Leluhur kita yang menuliskan kejadian masa depan adalah Maharaja di Kerajaan Dahana Pura bergelar Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya dalam karyanya Jayabaya Pranitiradya dan Jayabaya Pranitiwakyo. Sering juga disebut “Jangka Jayabaya” atau oleh masyarakat sekarang dikenal dengan nama “Ramalan Jayabaya”, sebetulnya istilah ramalan kuranglah begitu tepat, karena “Jangka Jayabaya” adalah sebuah Sabda, Sabda Pandhita Ratu dari Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya, yang artinya adalah akan terjadi dan harus terjadi.

Leluhur lainnya adalah R. Ng. Ranggawarsita yang menyusun kejadian mendatang ke dalam tembang-tembang, antara lain Jaka Lodang, Serat Kalatidha, Sabdatama, dll.

Kaitannya dengan penanggalan jaman yang ada di Jangka Jayabaya, kita berhasil menemukan bahwa sejarah Nusantara tidak sekerdil sejarah yang tertulis di buku-buku pelajaran sejarah sekolah yang resmi atau literasi sejarah yang ada. Bahkan lebih dari itu, kami menemukan bukti tentang kebesaran leluhur Nusantara yang di peradaban-peradaban sebelumnya mempunyai wilayah yang lebih besar dari yang kita duga selama ini.

Data yang diperoleh terdapat di beberapa relief dan prasasti yang dapat dilihat dan dimengerti oleh semua orang. Pola pembacaan yang telah berhasil dipetakan dengan mendokumentasikan lebih dari 20 jenis aksara purba asli Nusantara yang dapat dipakai untuk membaca prasasti dan rontal-rontal kuno, mulai dari Aksara Pra Budi Ratya, Pudak Sategal, Sastra Gentayu, Sastra Wiryawan, Sastra Budhati, Sastra Purwaresmi, Aksara Pajajaran, Aksara Hendra Prawata, Aksara Jamus Kalihwarni, Aksara Keling, Aksara Budha yang ada di Magelang, Aksara Nagari Mojopoit, dll. Sebagai bahan perbandingan, aksara Pallawa yang ada di India itu masih setara dengan jaman Kerajaan Singasari, jadi masih terhitung sangat muda.

kembali ke Jangka Jayabaya, telah berhasil dipetakan periodesasi terciptanya bumi sampai ke titik akhir menjadi 3 Jaman Kali [Jaman Besar] atau Tri Kali, dan setiap Jaman Kali terbagi menjadi 7 Jaman Kala [Jaman Sedang] atau Sapta Kala, dan 1 Jaman Kala terbagi menjadi 3 Mangsa Kala [Jaman Kecil] atau Mangsa Kala, serta berhasil mengurutkan sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara yang mayoritas telah dihilangkan dari sejarah resmi.

Tri Kali atau 3 Jaman Besar itu terdiri dari :
1. Kali Swara - jaman penuh suara alam
2. Kali Yoga - jaman pertengahan
3. Kali Sangara - jaman akhir

Masing-masing Jaman Besar berusia 700 Tahun Surya, suatu perhitungan tahun yang berbeda dengan Tahun Masehi maupun Tahun Jawa, perhitungan tahun yang digunakan sejak dari awal peradaban. Konversi setiap Jaman Besar [Kali] masing-masing berbeda], saat ini yang telah berhasil dikonversikan adalah penghitungan Kali Sangara [jaman akhir], di mana 1 [satu] Tahun Surya setara dengan 7 Tahun Wuku, satu tahun Wuku terdiri dari 210 hari yang berarti 1 [satu] Tahun Surya pada jaman besar Kali Sangara itu sama dengan 1.470 hari.

Berikut adalah uraian tentang pembagian jaman disertai dengan silsilah Kerajaan-kerajaan Besar [Kerajaan Induk] di Nusantara mulai dari jaman Kali Swara, Kali Yoga, sampai Kali Sangara.

1. Kali Swara [ jaman penuh suara alam ]
Dibagi atas 7 Jaman Sedang [saptakala], yaitu :

1.1. Kala Kukila [burung]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
1.1.1 Mangsa Kala Pakreti [mengerti]
1.1.2 Mangsa Kala Pramana [waspada]
1.1.3 Mangsa Kala Pramawa [terang]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Kukila :
Keling, Purwadumadi, Purwacarita, Magadha, Gilingwesi, Sadha Keling


1.2. Kala Budha [mulai munculnya kerajaan]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
1.2.1 Mangsa Kala Murti [kekuasaan]
1.2.2 Mangsa Kala Samsreti [peraturan]
1.2.3 Mangsa Kala Mataya [manunggal dengan Sang Pencipta]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Budha :
Gilingwesi, Medang Agung, Medang Prawa, Medang Gili/Gilingaya, Medang Gana, Medang Pura, Medang Gora, Grejitawati, Medang Sewanda


1.3. Kala Brawa [berani/menyala]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
1.3.1 Mangsa Kala Wedha [pengetahuan]
1.3.2 Mangsa Kala Arcana [tempat sembahyang]
1.3.3 Mangsa Kala Wiruca [meninggal]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Brawa :
Medang Sewanda, Medang Kamulyan, Medang Gili/Gilingaya


1.4. Kala Tirta [air bah]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
1.4.1 Mangsa Kala Raksaka [kepentingan]
1.4.2 Mangsa Kala Walkali [tamak]
1.4.3 Mangsa Kala Rancana [percobaan]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Tirta :
Purwacarita, Maespati, Gilingwesi, Medang Gele/Medang Galungan


1.5. Kala Rwabara [keajaiban]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
1.5.1 Mangsa Kala Sancaya [pergaulan]
1.5.2 Mangsa Kala Byatara [kekuasaan]
1.5.3 Mangsa Kala Swanida [pangkat]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Rwabara :
Gilingwesi, Medang Kamulyan, Purwacarita, Wirata, Gilingwesi


1.6. Kala Rwabawa [ramai]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
1.6.1 Mangsa Kala Wibawa [pengaruh]
1.6.2 Mangsa Kala Prabawa [kekuatan]
1.6.3 Mangsa Kala Manubawa [sarasehan/ pertemuan]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Rwabawa :
Gilingwesi, Purwacarita, Wirata Anyar


1.7. Kala Purwa [permulaan]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
1.7.1 Mangsa Kala Jati [sejati]
1.7.2 Mangsa Kala Wakya [penurut]
1.7.3 Mangsa Kala Mayana [tempat para maya/ Hyang]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Purwa :
Wirata Kulon [Matsyapati], Hastina Pura


2. Kali Yoga [ jaman pertengahan ]
Dibagi atas 7 Jaman Sedang [saptakala], yaitu :

2.1. Kala Brata [bertapa]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
2.1.4 Mangsa Kala Yudha [perang]
2.1.5 Mangsa Kala Wahya [saat/waktu]
2.1.6 Mangsa Kala Wahana [kendaraan]

Kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Purwa : Hastina Pura


2.2. Kala Dwara [pintu]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
2.2.1 Mangsa Kala Sambada [sesuai/ sepadan]
2.2.2 Mangsa Kala Sambawa [ajaib]
2.2.3 Mangsa Kala Sangkara [nafsu amarah]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Dwara :
Hastina Pura, Malawapati, Dahana Pura, Mulwapati, Kertanegara


2.3. Kala Dwapara [para dewa]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
2.3.1 Mangsa Kala Mangkara [ragu-ragu]
2.3.2 Mangsa Kala Caruka [perebutan]
2.3.3 Mangsa Kala Mangandra [perselisihan]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Dwapara :
Pengging Nimrata, Galuh, Prambanan, Medang Nimrata, Grejitawati


2.4. Kala Praniti [teliti]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
2.4.1 Mangsa Kala Paringga [pemberian/kesayangan]
2.4.2 Mangsa Kala Daraka [sabar]
2.4.3 Mangsa Kala Wiyaka [pandai]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Praniti :
Purwacarita, Mojopura, Pengging, Kanyuruhan, Kuripan, Kedhiri, Jenggala, Singasari


2.5. Kala Teteka [pendatang]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
2.5.1 Mangsa Kala Sayaga [bersiap-siap]
2.5.2 Mangsa Kala Prawasa [memaksa]
2.5.3 Mangsa Kala Bandawala [perang]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Teteka :
Kedhiri, Galuh, Magada, Pengging


2.6. Kala Wisesa [sangat berkuasa]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
2.6.1 Mangsa Kala Mapurusa [sentosa]
2.6.2 Mangsa Kala Nisditya [punahnya raksasa]
2.6.3 Mangsa Kala Kindaka [bencana]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Wisesa :
Pengging, Kedhiri, Mojopoit [Majapahit]


2.7. Kala Wisaya [fitnah]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
2.7.1 Mangsa Kala Paeka [fitnah]
2.7.2 Mangsa Kala Ambondan [pemberontakan]
2.7.3 Mangsa Kala Aningkal [menendang]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Wisaya :
Mojopoit, Demak, Giri


3. Kali Sangara [ jaman akhir ]
Dibagi atas 7 Jaman Sedang [saptakala], yaitu :

3.1. Kala Jangga
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
3.1.1 Mangsa Kala Jahaya [keluhuran]
3.1.2 Mangsa Kala Warida [kerahasiaan]
3.1.3 Mangsa Kala Kawati [mempersatukan]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Jangga :
Pajang, Mataram


3.2. Kala Sakti [kuasa]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
3.2.1 Mangsa Kala Girinata [Syiwa]
3.2.2 Mangsa Kala Wisudda [pengangkatan]
3.2.3 Mangsa Kala Kridawa [perselisihan]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Sakti :
Mataram, Kartasura


3.3. Kala Jaya
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
3.3.1 Mangsa Kala Srenggya [angkuh]
3.3.2 Mangsa Kala Rerewa [gangguan]
3.3.3 Mangsa Kala Nisata [tidak sopan]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Jaya :
Kartasura, Surakarta, Ngayogyakarta


3.4. Kala Bendu [hukuman/musibah]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
3.4.1 Mangsa Kala Artati [uang/materi]
3.4.2 Mangsa Kala Nistana [tempat nista]
3.4.3 Mangsa Kala Justya [kejahatan]

Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Jaya :
Surakarta, Ngayogyakarta, Indonesia [Republik]


3.5. Kala Suba [pujian]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
3.5.1 Mangsa Kala Wibawa [berwibawa/berpengaruh]
3.5.2 Mangsa Kala Saeka [bersatu]
3.5.3 Mangsa Kala Sentosa [sentosa]


3.6. Kala Sumbaga [terkenal]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
3.6.1 Mangsa Kala Andana [memberi]
3.6.2 Mangsa Kala Karena [kesenangan]
3.6.3 Mangsa Kala Sriyana [tempat yang indah]


3.7. Kala Surata [menjelang jaman akhir]
Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :
3.7.1 Mangsa Kala Daramana [luas]
3.7.2 Mangsa Kala Watara [sederhana]
3.7.3 Mangsa Kala Isaka [pegangan]


Metode penelitian dan penelusuran yang digunakan selama ini adalah dengan mengkompilasikan studi literasi pada relief-relief, prasasti-prasasti serta rontal-rontal kuno yang dipadukan dengan Sastra Cetha, sastra yang tidak tersurat secara langsung. Sastra Cetha sendiri adalah sebuah informasi tak terbatas yang sudah digambarkan oleh alam semesta secara jelas, begitu jelasnya sehingga sampai tidak dapat terlihat kalau kita menggunakan daya penangkapan yang terlalu tinggi dan rumit :-)

Belajar dari tanah sendiri, belajar dari ajaran leluhur Nusantara sendiri, belajar banyak dari alam semesta, di mana bumi diinjak, di situ langit dijunjung.


Timmy Hartadi - Turangga Seta
Yogyakarta | Wuku Medhangkungan
Selasa Pahing 15 Desember 2009

Disampaikan pada diskusi Jelajah Nusantara
MCR, Yogyakarta | Selasa 15 Desember 2009APA YANG ANEH DARI PATUNG INI? secara utuh pose wajar patung ini sedang duduk bersimpuh yang dapat diartikan menyerah/takluk dengan raut muka memelas, tapi jika diperhatikan lebih seksama ada ciri yang tidak lazim dimiliki orang Indonesia dan lebih mirip dengan bangsa Sumeria berupa cambang dan kumis lebat, mata yang seperti berkacamata dan anting di telinga serta gelang yang mirip jam tangan di kedua lengannnya. Yang lebih unik lagi patung ini terdapat di situs peninggalan sejarah Candi Cetho di gunung Lawu yang mirip candi bangsa Indian Maya dimana diperkirakan nenek moyang bangsa Indonesia telah sampai ke benua Amerika dan Eropa. Dan masih banyak misteri-misteri yang tersimpan didalamnya. Tambahkan keterangan gambar APA YANG ANEH DARI PATUNG INI? secara utuh pose wajar patung ini sedang duduk bersimpuh yang dapat diartikan menyerah/takluk dengan raut muka memelas, tapi jika diperhatikan lebih seksama ada ciri yang tidak lazim dimiliki orang Indonesia dan lebih mirip dengan bangsa Sumeria berupa cambang dan kumis lebat, mata yang seperti berkacamata dan anting di telinga serta gelang yang mirip jam tangan di kedua lengannnya. Yang lebih unik lagi patung ini terdapat di situs peninggalan sejarah Candi Cetho di gunung Lawu yang mirip candi bangsa Indian Maya dimana diperkirakan nenek moyang bangsa Indonesia telah sampai ke benua Amerika dan Eropa. Dan masih banyak misteri-misteri yang tersimpan didalamnya.
Read More >>

THAGUT ITU BERNAMA FACEBOOK

Posted in Rabu, 28 September 2011
by Mbah Lalar
THAGUT ITU BERNAMA FACEBOOK

Segenap puji hanya kepadaNya, Tuhan Semesta Alam, Sang Maha Kuasa..
tulisan ini dibuat untuk sekedar mengekspresikan sesuatu yang menjadi bahan pemikiran dan perhatian atas apa yang menjadi thagut2 baru pada umat manusia belakangan ini.

Sebelum melangkah ke pembahasan mengenai facebook, ada baiknya kita mengenal dulu arti dari thagut supaya ga terjadi salah kaprah mengenai diskusi ini.
Dalam sebagian pemahaman kaum salaf, thagut diartikan sebagai segala sesuatu yang disembah selain Allah, dan ia rela menjadikan sesembahan itu sebagai sesuatu sembahan ataupun peribadatan dengan tata cara sesembahan itu, ataupun dengan suka rela ketaatannya pada sesembahan itu sama atau bahkan melebihi dengan ketaatannya pada Allah.
ada titik point yang bisa saya ambil dari pengertian thagut diatas secara komprehensif yakni "jika ketaatan kita membuat kita lupa akan ketaatan kita pada Allah".
Tidak disangkal lagi bahwa facebook adalah bom dan racun jika kita sendiri tidak bisa memaknai facebook itu secara wajar, benar. Bukannya kita yang menjadi pengendali atas akun facebook itu, tapi kita justru menjadi budak dari teknologi itu. Naudzubilllah Min Dzalik.
Ketika kita dibutakan dengan kecangihan informasi ataupun teknologi, tanpa kita sadar, kita yang harusnya mempunyai izzah sebagai seorang muslim menjadi tidak ada bedanya dengan kaum lain.
Jadi sadarlah saudara-saudara, bahwa perangkap dari facebook dan teknologi lain di era sekarang telah menjadikan kita sebagai suatu budak dari mereka dan bukan menjadi tuan atas diri kita sendiri. Dan parahnya jika ternyata kita secara sadar dan tidak sadar menjadikan diri kita menyembah kepada thagut baru bernama Facebook.
menyembah bukan berarti kita sholat dan berdoa, tapi ketika sudah waktunya sholat memanggil kita, ternyata kita masih lebih asyik dengan facebook, masih asyik berkongkow-kongkow dengan teman online kita ataupun sibuk berupdate status ataupun narzizme..
Sadarlah wahai kawan, sebelum penyesalan panjang itu tidak berguna lagi kelak...
Wa allahu alam bi shawab...
Read More >>

MENGATASI PENYAKIT HATI

Posted in Selasa, 27 September 2011
by Mbah Lalar



1.      Mengendalikan Amarah

Dalam riwayat diceritakan, ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Subhanahu Wa Ta’ala. “YA Rasulullah, amal apakah yang paling utama?” Maka beliau menjawab : “jangan marah!.” Jawaban itu beliau ulangi hingga tiga kali.

Jika kita ingin mulia di dunia dan akhirat, jika seorang suami ingin mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, jika seorang pemimpin ingin agar hubungannya dengan masyarakat berjalan harmonis, seorang anak ingin sukses dalam perjalanan pendidikan dan disayangi orang tuanya, maka salah satu kuncinya adalah “JANGAN MARAH!!.”

2.      Bagaimana kita mengendalikan marah?

Pertama, kita harus menanamkan tekad dalam diri kita kalau hari ini kita tidak boleh marah, dan itu bukan hanya omong kosong, tapi sekuat tenaga berusaha dijalani dengan konsisten.

Kedua, jika kita dalam kondisi marah, maka palingkanlah muka kita dari kemarahan itu. Jika saat marah itu posisi kita sedang berdiri, maka duduklah. Dan jika kita sedang duduk, maka berbaringlah. Pokoknya, usahakan untuk mengubah posisi dan situasi.

Ketiga, saat kemarahan itu muncul, maka segeralah memohon perlindungan Allah SWT dari godaan syetan yang menjerumuskan.

3.      Buruk Lisan

Seseorang bisa selamat karena telah memelihara lidahnya. Dan sebaliknya, seseorang bisa celaka karena tidak memelihara lidahnya. Mulut itu seperti moncang teko yang mengeluarkan isi. Jika kita ingin melihat kualitas diri, maka dengan mudah kita dapat melihatnya dari kata-kata yang keluar dari mulut kita. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,”barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.”(HR. Bukhari dan Muslim).

4.      Buruk Sangka (Su’uzhan)

Allah SWT berfirman :”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah seseorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS. Al Hujurat: 12).

Selain akan merusak hati, kebahagiaan, dan akhlak, buruk sangka akan merusak kedudukan kita disisi Allah SWT. Jadi, latihlah hati dan pikiran kita untuk selalu berpikir positif agar kita terhindar dari berburuk sangka terhadap orang lain dan yang paling berbahaya ketika kita sudah mulai berprasangka buruk kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Na’uudzubillahi min dzaalik.

5.      Cinta Dunia (Hubbud Dunya)

Rasulullah bersabda :”Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang tersebut melahap isi mangkuk”. Para sahabat bertanya:”Apakah jumlah kami saat itu sedikit, Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab :”Tidak, bahkan saat itu jumlahmu amat banyak, tetapi seperti air buih di dalam air bah karena kamu tertimpa penyakit ‘wahn’. Para sahabat bertanya, “Apakah penyakit ‘wahn’ itu Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “penyakit ‘wahn’ itu adalah kecintaan yang amat sangat kepada dunia dan takut akan kematian.” Dan Rasulullah berkata, “Cinta dunia merupakan sumber utama segala kesalahan.”

Orang yang cinta dunia tidak akan pernah merasa bahagia, karena dia telah diperbudak dunia sehingga tidak pernah merasa puas atas apa yang telah dia dapat. Maka, berhati-hatilah dalam mengikuti keinginan, kita harus berpikir apakah keinginan kita itu bermanfaat atau hanya didasari nafsu belaka. Mohonlah pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala setiap mengambil keputusan.

6.      Dendam

Dendam itu buah dari hati yang merasa terluka, teraniaya, dan merasa haknya terambil. Makin kuat kedendaman seseorang, maka akan semakin besar kemungkian seseorang untuk marah dan dengki. Na’uudzubillahi min dzaalik.

Cara menghindari dendam adalah dengan menjadikan cemoohan dan hinaan orang lain sebagai bahan evaluasi diri buat kita. Yang kedua, balaslah sikap buruk orang lain dengan sikap terbaik yang bisa kita lakukan. Selain hati kita menjadi lebih tenang, kita juga akan mendapatkan kemuliaan disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

7.      Dengki

Ciri-ciri orang pendengki adalah :
  • Senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.
  • Seorang pendengki akan enggan bertemu dengan orang yang didengkinya.
  • Raut muka pendengki lebih banyak masamnya daripada manisnya.
  • Pendengki akan selalu mencari-cari kejelekan orang lain.

Merasa bahwa hanya dirinya yang berhak sukses dan orang lain harus gagal.
Penyebab dari kedengkian adalah luka hati, merasa diri paling hebat (uzub), sombong (takabur),dan ambisi yang berlebihan sehingga menginginkan hanya dirinyalah yang harus sukses dan orang lain gagal. Seorang pendengki akan mendapat kerugian yang sangat besar, dia tidak lagi memikirkan kesehatan dirinya, sebab yang dia pikirkan hanya keburukan orang lain dan memikirkan bagaimana caranya agar orang lain mendapatkan kesusahan.

Hal terpenting untuk mengatasi sifat dengki ini adalah belajar untuk mengakui bahwa ada orang lain yang lebih baik dari kita. Tapi bukan berarti kita tidak memiliki suatu kelebihan, karena setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan. Bersyukurlah atas segala yang telah Allah SWT berikan untuk kita.

8.      Ghibah (Menggunjing)

Ghibah yaitu membicarakan aib seseorang dengan tujuan apapun. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengibaratkan orang yang suka menggunjing sebagai orang yang suka memakan bangkai saudaranya sendiri.

Cara kita menjauhi ghibah adalah dengan memilih lingkungan pergaulan yang dapat meningkatkan kualitas keilmuan dan ibadah kita menjadi lebih baik, dan hindarilah obrolan-obrolan yang mengarahkan kita kepada ghibah.

9.      Riya’

Riya’ adalah salah satu syirik yang paling kecil. Orang yang memiliki sifat riya’ selalu mengharapkan pujian dari orang lain atas segala amal baiknya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengibaratkan amalan orang yang riya’ bagai batu licin yang diatasnya tanah, lalu hujan lebat menimpanya, maka ia menjadi bersih dan tidak meninggalkan bekas.

Untuk menghindari sifat riya’ bukan berarti kita harus selalu sembunyi-sembunyi dalam beramal. Karena sesungguhnya kesemuanya itu bersumber dari hati. Kuncinya adalah IKHLAS. Ketika kita melakukan sesuatu karena Allah, maka sanjungan dan pujian orang sudah tidak berarti, karena yang kita harapkan hanyalah keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga kita termasuk orang yang diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Amin

Wallohu A’lam bish-Showab, semoga bermanfa’at. Amiin

oleh Ibnu Mas'ud

Read More >>

SULUK SUNAN KALI JAGA MLEBU ALLAH METU ALLAH

Posted in Minggu, 25 September 2011
by Mbah Lalar
Ada warisan temurun spirit ajaran Sunan Kalijaga atau di sebut SULUK SUNAN KALI JAGA MLEBU ALLAH METU ALLAH. Dalam permenungan hakiki manusia serta penyadaran pencarian kesejatian: 
 
Bismillahirrahmanirrahim (Dengan / Atas Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang). Melebu Allah. Metu Allah (masuknya nafas karena Allah ... keluarnya nafas karena Allah). 
 
Anekadaken urip iku Allah (yang mengadakan hidup itu Allah). Utek dunungno kodrate Allah (otak letakkan atas kodrat Allah).
 
Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah ... Wahai dzat yang tidak sama dengan makhluknya. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusanMu, mengantarkan limpahan kasih sayangMu pada manusia dan segala ciptaanMu di seluruh alam. Melebu Allah. Metu Allah (masuknya nafas karena Allah ... keluarnya nafas karena Allah/ masuk dan keluarnya nafas menyebut Allah).
 
Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah ... Ada warisan temurun spirit ajaran Sunan Kalijaga. Dalam permenungan hakiki manusia serta penyadaran pencarian kesejatian: Bismillahirrahmanirrahim (Dengan / Atas Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang). 
 
Melebu Allah. Metu Allah (masuknya nafas karena Allah ... keluarnya nafas karena Allah). Anekadaken urip iku Allah (yang mengadakan hidup itu Allah). Utek dunungno kodrate Allah (otak letakkan atas kodrat Allah). 
 
Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah ... Wahai dzat yang tidak sama dengan makhluknya. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusanMu, mengantarkan limpahan kasih sayangMu pada manusia dan segala ciptaanMu di seluruh alam. Melebu Allah. Metu Allah (masuknya nafas karena Allah ... keluarnya nafas karena Allah) Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah ... Hilangkan rasa takut tersesat didalam menempuh jalan ruhani ... bekal kita adalah tauhid, lambungkan jiwa melayang menuju Allah ... dekatkan dan berbisiklah dengan kemurnian hati ... jangan menghadap dengan konsentrasi pikiran, sebab anda akan mengalami pusing dan tegang.
 
Usahakanlah tubuh anda rileks dan pasrah ... biarkan hati bergerak menyebut Asma-Nya yang Maha Agung ... Ajaklah perasaan dan fikiran untuk hadir bersujud dihadapan-Nya. Jangan hiraukan kebisingan pikiran ... usahakan hati tetap teguh menyebut nama Allah berulang-ulang ... sampai datang ketenangan dan hening serta rasa tenteram didalam kalbu ... kalau anda mengalami pusing dan penat ... berarti cara berdzikirnya menggunakan kosentrasi pikiran, maka ulangi dengan cara berkomunikasi didalam hati ... Allah ... Allah ... Allah ...
Oleh : SufiWay
Read More >>

The Jewish roots of the Saudi Royal family

Posted in
by Mbah Lalar

Penelitian dan Pemaparan Mohammad Sakher:
Setelah menemukan fakta-fakta di bawah ini, Rejim Saudi memerintahkan untuk membunuhnya.

Apakah anggota keluarga Saudi berasal dari Suku Anza bin Wa’il seperti pengakuannya?
Apakah agama mereka Islam?
Apakah mereka asli Bangsa Arab?

Di Najd, pada tahun 851 H serombongan bani Al-Masalikh, keturunan Suku Anza, membentuk sebuah kafilah dipimpin oleh Sahmi bin Hathlul, ditugaskan untuk membeli bahan makanan, biji-bijian gandum dan jagung ke Iraq. Ketika sampai di Bashra, mereka langsung menuju ke sebuah toko pakan yang pemiliknya seorang Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe.

Ketika sedang berlangsung tawar-menawar, Yahudi si pemilik toko bertanya kepada mereka: “Berasal dari suku manakah Anda?”. Mereka menjawab: “Kami berasal dari Bani Anza”, salah satu Suku Al-Masalikh”. Mendengar nama suku itu disebut, orang Yahudi itu memeluk mereka dengan mesra sambil mengatakan bahwa dirinya juga berasal dari Suku Al-Masalikh, namun menetap di Bashra, Iraq karena permusuhan keluarga antara ayahnya dengan anggota Suku Anza lainnya.

Setelah Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe mengatakan kepada mereka ceritera yang direkayasa mengenai dirinya, dia kemudian memerintahkan kepada pembantunya untuk menaikkan barang-barang belanjaan kafilah itu ke atas Unta-unta mereka.

Sikap Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe yang dinilai baik dan tulus itu membuat kagum rombongan bani Masalikh dan sekaligus menimbulkan kebanggaan mereka karena bertemu saudara sesama suku di Iraq – dimana mereka mendapatkan bahan makanan yang sangat mereka perlukan, mereka percaya kepada setiap kata yang diucapkan Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe, karena dia seorang pedagang kaya komoditi pakan, mereka menyukai Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe (walaupun sebenarnya dia bukan orang Arab dari suku Al-Masalikh, tapi seorang Yahudi yang berpura-pura)

Saat kafilah sudah siap akan kembali ke Najd, pedagang orang Yahudi itu meminta ijin menumpang dengan mereka pergi ke tempat asalnya, Najd. Permintaan pedagang Yahudi itu diterima dengan senang hati oleh rombongan bani Al-Masalikh.

Akhirnya Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe sampai di Najd. Di Najd ia mulai menyebarluaskan propaganda dirinya dibantu beberapa orang dari bani Al-Masalikh yang baru tiba bersama-’sama dia dari Bashra. Propagandanya berhasil, sejumlah orang mendukungnya, tetapi ditentang oleh yang lain dipimpin oleh Shaikh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, ulama di kota Al-Qasim, yang wilayah dakwahnya meliputi Najd, Yaman dan Hijaz.

Ia mengusir Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe ( nenek moyang Keluarga Saudi yang saat ini berkuasa ) dari kota Al-Qasim ke kota Al-Ihsa, di sana ia mengganti namanya menjadi Markhan bin Ibrahim Musa . Kemudian dia pindah ke daerah Dir´iya dekat Al-Qatif. Di daerah ini dia mulai menyebarkan ceritera rekayasa kepada penduduk mengenai Perisai Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam yang dirampas sebagai rampasan perang oleh orang musyrik Arab sewaktu Perang Uhud. Perisai itu kemudian dijual oleh orang musyrik Arab kepada Suku Yahudi Bani Qunaiqa dan menyimpannya sebagai koleksi barang berharga. Perlahan tapi pasti, Markhan bin Ibrahim Musa menanamkan pengaruhnya di antara orang-orang Badui melalui ceritera fiktif yang hal ini memberitahu kita bagaimana berpengaruhnya suku-suku Yahudi di Arab dengan menempati kedudukan terhormat.

Dia menjadi orang penting diantara suku Badui dan memutuskan untuk tetap tinggal di kota Dir´iya, dekat Al-Qatif kemudian memutuskan menjadikannya sebagai ibukota di Teluk Persia. Ia bercita-cita menjadikan kota itu sebagai batu loncatan untuk membangun kerajaan Yahudi di Tanah Arab.

Dalam rangka memenuhi ambisisnya, dia mulai mendekati dan mempengaruhi suku Arab Badui padang pasir untuk mendukung posisinya, kemudian menobatkan dirinya sebagai raja mereka.

Pada saat yang genting ini, Suku Ajaman bersama-sama dengan Suku Bani Khalid mencium bahaya Yahudi licik ini dan sangat mengkhawatirkan rencana jahatnya, karena dia telah dapat mengukuhkan identitasnya sebagai orang Arab. Mereka sepakat untuk menghentikannya, kemudian menyerang kota Dar’iya dan berhasil menaklukannya, tetapi sebelum menawan Markhan bin Ibrahim Musa, dia melarikan diri.

Dalam pelariannya, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai) mencari perlindungan di sebuah perkebunan Al-Malibiid-Ghusaiba dekat Al-Arid, milik orang Arab. Sekarang kota itu bernama Al-Riyadh.

Mordakhai meminta perlindungan politik kepada pemilik perkebunan. Pemiliknya yang ramah itu kemudian segera memberikan tempat perlindungan. Namun belum juga sampai sebulan dia tinggal di perkebunan itu, Mordakhai membunuh pemilik beserta anggota keluarganya, kemudian mengarang ceritera bahwa mereka dibunuh oleh perampok. Dia juga mengaku telah membeli real estate dari pemiliknya sebelum kejadian tragis itu. Maka tinggallah dia disana sebagai pemilik tanah yang baru, kemudian daerah itu diberi nama baru Al-Di’riya, nama yang sama dengan tempat sebelumnya yang ia tinggalkan.

Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai) segera membangun sebuah “Guest House” yang disebutnya “Madaffa” di atas tanah yang direbut dari korbannya. Kemudian berkumpullah disekelilinya kelompok munafik yang mulai menyebarkan propaganda bohong bahwa Mordakhai adalah seorang Seikh Arab terkemuka. Mereka merencanakan membunuh Sheikh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, musuh bebuyutan Mordakhai dan berhasil membunuhnya di sebuah mesjid di kota Al-Zalafi.

Mordakhai puas telah berhasil membunuh Sheikh Saleh Salman Abdullah Al- Tamimi, kemudian menjadikan Al-Dir’iya sebagai tempat tinggalnya. Di Al-Dir’iya dia berpoligami dan beranak’pinak, anak-anaknya diberi nama asli Arab.

Sejak saat itu keturunan dan kekuasaan mereka tumbuh berkembang di bawah nama Suku Saudi, mereka juga mengikuti jejak Mordakhai dan kegiatannya dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi serta berkonspirasi melawan bangsa Arab. Secara ilegal mereka menguasai daerah pedalaman dan tanah-tanah perkebunan, membunuh setiap orang yang mencoba menghalangi rencana jahat mereka. Untuk mempengaruhi penduduk di wilayah itu, mereka menggunakan segala macam jenis tipu daya untuk mencapai tujuannya: mereka suap orang-orang yang tidak sefaham dengan uang dan perempuan. Mereka suap penulis sejarah untuk menuliskan biografi sejarah keluarganya yang bersih dari kejahatan, dibuatkannya silsilah keluarga bersambung kepada Suku Arab terhormat seperti Rabi’á, Anza dan Al-Masalikh.

Seorang munafik jaman kiwari bernama Mohammad Amin Al-Tamimi – Direktur/Manager Perpustakaan Kontemporer Kerajaan Saudi, menyusun garis keturunan (Family Tree) untuk Keluarga Yahudi ini (Keluarga Saudi), menghubungkan garis keturunan mereka kepada Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam . Sebagai imbalan pekerjaannnya itu, ia menerima imbalan sebesar 35.000 (Tiga Puluh Lima Ribu) Pound Mesir dari Duta Besar Saudi Arabia di Kairo pada tahun 1362 H atau 1943 M. Nama Duta Besar Saudi Arabia itu adalah Ibrahim Al-Fadel.

Seperti disebutkan di atas, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai), yang berpoligami dengan wanita-wanita Arab melahirkan banyak anak, saat ini pola poligami Mordakhai dilanjutkan oleh keturunannya, dan mereka bertaut kepada warisan perkimpoian itu.

Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran, (Yahudi: Mack-Ren) mempunyai anak bernama Muhammad, dan anak yang lainnya bernama Saud, dari keturunan Saud inilah Dinasti Saudi saat ini.

Keturunan Saud (Keluarga Saud) memulai melakukan kampanye pembunuhan pimpinan terkemuka suku-suku Arab dengan dalih mereka murtad, mengkhianati agama Islam, meninggalkan ajaran-ajaran Al-Quran, dan keluarga Saud membantai mereka atas nama Islam.

Di dalam buku sejarah Keluarga Saudi halaman 98-101, penulis pribadi sejarah keluarga Saudi menyatakan bahwa Dinasti Saudi menganggap semua penduduk Najd menghina tuhan, oleh karena itu darah mereka halal, harta-bendanya dirampas, wanita-wanitanya dijadikan selir, tidak seorang islampun dianggap benar, kecuali pengikut sekte Muhammad bin Abdul Wahhab (yang aslinya juga keturunan Yahudi Turki).

Doktrin Wahhabi memberikan otoritas kepada Keluarga Saudi untuk menghancurkan perkampungan dan penduduknya, termasuk anak-anak dan memperkosa wanitanya, menusuk perut wanita hamil, memotong tangan anak-anak, kemudian membakarnya. Selanjutnya mereka diberikan kewenangan dengan Ajarannya yang Kejam ( Brutal Doctrin ) untuk merampas semua harta kekayaan milik orang yang dianggapnya telah menyimpang dari ajaran agama karena tidak mengikuti ajaran Wahhabi.

Keluarga Yahudi yang jahat dan mengerikan ini melakukan segala jenis kekejaman atas nama sekte agama palsu mereka (sekte Wahhabi) yang sebenarnya diciptakan oleh seorang Yahudi untuk menaburkan benih-benih teror di dalam hati penduduk di kota-kota dan desa-desa. Pada tahun 1163 H, Dinasti Yahudi ini mengganti nama Semenanjung Arabia dengan nama keluarga mereka, menjadi Saudi Arabia, seolah-olah seluruh wilayah itu milik pribadi mereka, dan penduduknya sebagai bujang atau budak mereka, bekerja keras siang dan malam untuk kesenangan tuannya, yaitu Keluarga Saudi.

Mereka dengan sepenuhnya menguasai kekayaan alam negeri itu seperti miliknya pribadi. Bila ada rakyat biasa mengemukakan penentangannya atas kekuasaan sewenang-wenang Dinasti Yahudi ini, dia akan di hukum pancung di lapangan terbuka .

Seorang putri anggota keluarga kerajaan Saudi beserta rombongannya sekali tempo mengunjungi Florida, Amerika Serikat, dia menyewa 90 (sembilan pukuh) Suite rooms di Grand Hotel dengan harga $1 juta semalamnya. Dapatkah kita memberikan komentar terhadap pemborosan yang dilakukan keluarga kerajaan seperti itu, yang pantas adalah: Dihukum pancung di lapangan terbuka.

TAMBAHAN :
Kesaksian bahwa nenek moyang Keluarga Saudi adalah Yahudi:

- Pada tahun 1960′an, pemancar radio “Sawt Al-Arab” di Kairo, Mesir, dan pemancar radio di Sana’a, Yaman, membuktikan bahwa nenek moyang Keluarga Saudi adalah Yahudi

- Raja Faisal Al-Saud tidak bisa menyanggah bahwa keluarganya adalah keluarga Yahudi ketika memberitahukan kepada the WASHINGTON POST pada tanggal 17 September 1969, dengan menyatakan bahwa: “Kami, Keluarga Saudi, adalah keluarga Yahudi: Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhannya kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia merupakan sumber awal Yahudi dan nenek-moyangnya, dari sana menyebar ke seluruh dunia”. Itulah pernyataan Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz.


Hafez Wahbi, Penasihat Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan di dalam bukunya yang berjudul “Semenanjung Arabia” bahwa Raja Abdul Aziz yang mati tahun 1953 mengatakan: “Pesan Kami (Pesan Saudi) dalam menghadapi oposisi dari Suku-suku Arab, kakekku, Saud Awal, menceriterakan saat menawan sejumlah Shaikh dari Suku Mathir, dan ketika kelompok lain dari suku yang sama datang untuk menengahi dan meminta membebaskan semua tawanannya, Saud Awal memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian mempermalukan dan menurunkan nyali para penengah dengan cara mengundang mereka ke jamuan makan, makanan yang dihidangkan adalah daging manusia yang sudah dimasak, potongan kepala tawanan diletakkannya di atas piring.

Para penengah menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri, karena mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga. Itulah kejahatan yang sangat mengerikan yang telah dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sendiri sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa, kesalahan mereka karena menentang terhadap kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenang.

Hafez Wahbi selanjutnya menyatakan bahwa, berkaitan dengan kisah nyata berdarah yang menimpa Shaikh suku Mathir, dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz Al-Saud bernama Faisal Al-Darwis. Diceriterakannya kisah itu kepada utusan suku Mathir dengan maksud mencegah agar mereka tidak meminta pembebasan pimpinan mereka, bila tidak, mereka akan diperlakukan sama. Dia bunuh Shaikh Faisal Darwis dan darahnya dipakai untuk berwudlu sebelum dia shalat. (melaksanakan ajaran menyimpang Wahhabi). Kesalahan Faisal Darwis waktu itu karena dia mengkritik Raja Abul Aziz Al-Saud, ketika raja menandatangani dokumen yang disiapkan penguasa Inggris pada tahun 1922 sebagai pernyataan memberikan Palestina kepada Yahudi, tandatangannya dibubuhkan dalam sebuah konferensi di Al-Qir tahun 1922.

Sistem rezim Keluarga Yahudi (Keluarga Saudi) dulu dan sekarang masih tetap sama: Tujuan-tujuannya adalah: merampas kekayaan negara, merampok, memalsukan, melakukan semua jenis kekejaman, ketidakadilan, penghujatan dan penghinaan, yang kesemuanya itu dilaksanakan sesuai dengan ajarannya Sekte Wahhabi yang membolehkan memenggal kepala orang yang menentang ajarannya.memalsukan, melakukan semua jenis kekejaman, ketidakadilan, penghujatan dan penghinaan, yang kesemuanya itu dilaksanakan sesuai dengan ajarannya Sekte Wahhabi yang membolehkan memenggal kepala orang yang menentang ajarannya.

 Dean Sasmita

Read More >>
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Hidangan Populer Warkop Pusat

Copyright 2011 @ Warkop Mbah Lalar