MENGATASI PENYAKIT HATI

Posted in Selasa, 27 September 2011
by Mbah Lalar



1.      Mengendalikan Amarah

Dalam riwayat diceritakan, ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Subhanahu Wa Ta’ala. “YA Rasulullah, amal apakah yang paling utama?” Maka beliau menjawab : “jangan marah!.” Jawaban itu beliau ulangi hingga tiga kali.

Jika kita ingin mulia di dunia dan akhirat, jika seorang suami ingin mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, jika seorang pemimpin ingin agar hubungannya dengan masyarakat berjalan harmonis, seorang anak ingin sukses dalam perjalanan pendidikan dan disayangi orang tuanya, maka salah satu kuncinya adalah “JANGAN MARAH!!.”

2.      Bagaimana kita mengendalikan marah?

Pertama, kita harus menanamkan tekad dalam diri kita kalau hari ini kita tidak boleh marah, dan itu bukan hanya omong kosong, tapi sekuat tenaga berusaha dijalani dengan konsisten.

Kedua, jika kita dalam kondisi marah, maka palingkanlah muka kita dari kemarahan itu. Jika saat marah itu posisi kita sedang berdiri, maka duduklah. Dan jika kita sedang duduk, maka berbaringlah. Pokoknya, usahakan untuk mengubah posisi dan situasi.

Ketiga, saat kemarahan itu muncul, maka segeralah memohon perlindungan Allah SWT dari godaan syetan yang menjerumuskan.

3.      Buruk Lisan

Seseorang bisa selamat karena telah memelihara lidahnya. Dan sebaliknya, seseorang bisa celaka karena tidak memelihara lidahnya. Mulut itu seperti moncang teko yang mengeluarkan isi. Jika kita ingin melihat kualitas diri, maka dengan mudah kita dapat melihatnya dari kata-kata yang keluar dari mulut kita. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,”barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.”(HR. Bukhari dan Muslim).

4.      Buruk Sangka (Su’uzhan)

Allah SWT berfirman :”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah seseorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS. Al Hujurat: 12).

Selain akan merusak hati, kebahagiaan, dan akhlak, buruk sangka akan merusak kedudukan kita disisi Allah SWT. Jadi, latihlah hati dan pikiran kita untuk selalu berpikir positif agar kita terhindar dari berburuk sangka terhadap orang lain dan yang paling berbahaya ketika kita sudah mulai berprasangka buruk kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Na’uudzubillahi min dzaalik.

5.      Cinta Dunia (Hubbud Dunya)

Rasulullah bersabda :”Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang tersebut melahap isi mangkuk”. Para sahabat bertanya:”Apakah jumlah kami saat itu sedikit, Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab :”Tidak, bahkan saat itu jumlahmu amat banyak, tetapi seperti air buih di dalam air bah karena kamu tertimpa penyakit ‘wahn’. Para sahabat bertanya, “Apakah penyakit ‘wahn’ itu Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “penyakit ‘wahn’ itu adalah kecintaan yang amat sangat kepada dunia dan takut akan kematian.” Dan Rasulullah berkata, “Cinta dunia merupakan sumber utama segala kesalahan.”

Orang yang cinta dunia tidak akan pernah merasa bahagia, karena dia telah diperbudak dunia sehingga tidak pernah merasa puas atas apa yang telah dia dapat. Maka, berhati-hatilah dalam mengikuti keinginan, kita harus berpikir apakah keinginan kita itu bermanfaat atau hanya didasari nafsu belaka. Mohonlah pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala setiap mengambil keputusan.

6.      Dendam

Dendam itu buah dari hati yang merasa terluka, teraniaya, dan merasa haknya terambil. Makin kuat kedendaman seseorang, maka akan semakin besar kemungkian seseorang untuk marah dan dengki. Na’uudzubillahi min dzaalik.

Cara menghindari dendam adalah dengan menjadikan cemoohan dan hinaan orang lain sebagai bahan evaluasi diri buat kita. Yang kedua, balaslah sikap buruk orang lain dengan sikap terbaik yang bisa kita lakukan. Selain hati kita menjadi lebih tenang, kita juga akan mendapatkan kemuliaan disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

7.      Dengki

Ciri-ciri orang pendengki adalah :
  • Senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.
  • Seorang pendengki akan enggan bertemu dengan orang yang didengkinya.
  • Raut muka pendengki lebih banyak masamnya daripada manisnya.
  • Pendengki akan selalu mencari-cari kejelekan orang lain.

Merasa bahwa hanya dirinya yang berhak sukses dan orang lain harus gagal.
Penyebab dari kedengkian adalah luka hati, merasa diri paling hebat (uzub), sombong (takabur),dan ambisi yang berlebihan sehingga menginginkan hanya dirinyalah yang harus sukses dan orang lain gagal. Seorang pendengki akan mendapat kerugian yang sangat besar, dia tidak lagi memikirkan kesehatan dirinya, sebab yang dia pikirkan hanya keburukan orang lain dan memikirkan bagaimana caranya agar orang lain mendapatkan kesusahan.

Hal terpenting untuk mengatasi sifat dengki ini adalah belajar untuk mengakui bahwa ada orang lain yang lebih baik dari kita. Tapi bukan berarti kita tidak memiliki suatu kelebihan, karena setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan. Bersyukurlah atas segala yang telah Allah SWT berikan untuk kita.

8.      Ghibah (Menggunjing)

Ghibah yaitu membicarakan aib seseorang dengan tujuan apapun. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengibaratkan orang yang suka menggunjing sebagai orang yang suka memakan bangkai saudaranya sendiri.

Cara kita menjauhi ghibah adalah dengan memilih lingkungan pergaulan yang dapat meningkatkan kualitas keilmuan dan ibadah kita menjadi lebih baik, dan hindarilah obrolan-obrolan yang mengarahkan kita kepada ghibah.

9.      Riya’

Riya’ adalah salah satu syirik yang paling kecil. Orang yang memiliki sifat riya’ selalu mengharapkan pujian dari orang lain atas segala amal baiknya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengibaratkan amalan orang yang riya’ bagai batu licin yang diatasnya tanah, lalu hujan lebat menimpanya, maka ia menjadi bersih dan tidak meninggalkan bekas.

Untuk menghindari sifat riya’ bukan berarti kita harus selalu sembunyi-sembunyi dalam beramal. Karena sesungguhnya kesemuanya itu bersumber dari hati. Kuncinya adalah IKHLAS. Ketika kita melakukan sesuatu karena Allah, maka sanjungan dan pujian orang sudah tidak berarti, karena yang kita harapkan hanyalah keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga kita termasuk orang yang diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Amin

Wallohu A’lam bish-Showab, semoga bermanfa’at. Amiin

oleh Ibnu Mas'ud