Seri Jejak Perjuangan Dakwah Islam Sunan Ampel 3

Posted in Senin, 19 September 2011
by Mbah Lalar

Mengubah Kebiasaan dan Tradisi Keagamaan

Bagi kebanyakan umat Islam yang kurang faham sejarah, ada anggapan bahwa adat kebiasaan dan tradisi keagamaan yang dilakukan kalangan muslim tradisional adalah pencampur-adukan antara ajaran Hindu-Buddha dengan Islam. Mereka itu, tanpa didukung data sejarah sedikit pun, menyatakan bahwa tradisi keagamaan tentang kenduri dan memperingati orang mati pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000 adalah warisan Hindu-Buddha. Padahal, dalam Agama Hindu dan Buddha tidak dikenal kenduri dan tidak pula dikenal peringatan orang mati pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000.

Ditinjau dari aspek sosio-historis, terjadinya perubahan pada adat kebiasaan dan tradisi kepercayaan di Nusantara khususnya di Jawa pasca runtuhnya Majapahit, adalah akibat pengaruh kuat dari para pengungsi Campa yang beragama Islam. Peristiwa yang diperkirakan terjadi pada rentang waktu antara tahun 1446 hingga 1471 Masehi itu, rupanya memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi terjadinya perubahan sosio-kultural-religius di Majapahit. Dalam kebiasaan hidup sehari-hari, misalnya, orang-orang Campa lazim memanggil ibunya dengan sebutan ‘mak’, sedang orang-orang Majapahit menyebut ‘ibu’ atau ‘ra-ina’. Di daerah Surabaya dan sekitarnya, yaitu kawasan Sunan Ampel menjadi raja, penduduk memanggil ibunya dengan sebutan ‘mak’. Kebiasaan memanggil ‘mak’ itu berlaku juga di daerah Mojokerto-Jombang dan Kediri-Nganjuk, yang kemungkinan disebarkan oleh Raden Abu Hurairah, sepupu Sunan Ampel yang tinggal di Wirasabha (Mojoagung). Bahkan belakangan sebutan ‘mak’ lazim digunakan orang kawasan pesisir Jawa.

Pengaruh kebiasaan Campa yang lain, terlihat pula dalam cara orang memanggil kakaknya atau orang yang lebih tua, di mana orang-orang Campa lazim menggunakan sebutan ‘Kak’ atau ‘Kang’, sedang orang-orang Majapahit memanggil dengan sebutan ‘Raka’. Orang-orang Campa memanggil adiknya dengan sebutan ‘adhy’, sedang orang-orang Majapahit memanggil dengan sebutan ‘Rayi’. Orang-orang Campa menyebut anak laki-laki kecil dengan sebutan ‘kachong’, sedang orang Majapahit menyebut ‘rare’. Dari satu sisi ini saja, sesungguhnya sudah bisa diketahui sejauh mana pengaruh Campa terhadap perubahan sosio-kultural-religius di Majapahit dewasa itu.

Sementara dalam tradisi keagamaan, orang-orang Majapahit hanya mengenal upacara peringatan terhadap orang mati yang disebut sraddha, yakni upacara meruwat arwah yang dilakukan 12 tahun setelah kematian. Jika penduduk Majapahit kemudian mengenal tradisi keagamaan kenduri dan memperingati hari kematian ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000 tidak lain karena pengaruh dari Campa. Dalam Ecole Francaise D’extreme-orient (1981: 252) disebutkan bahwa orang-orang Campa memperingati kematian seseorang pada hari ke-3, ke-7, ke-10, ke-30, ke-40, dan ke-100. Orang-orang Campa juga menjalankan peringatan khaul, perayaan hari asyuro, maulid Nabi Saw, dsb. Menurut S. Q. Fatimy (1963) mazhab orang-orang Islam di Campa beraliran Syi’ah.

Bertolak dari fakta sosio-kultural-religius pada masyarakat Jawa pasca Majapahit, Sunyoto (1990) menyimpulkan, bahwa upacara peringatan orang mati pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000, termasuk khaul, adalah tradisi khas Campa yang jelas-jelas terpengaruh faham Syi’ah. Demikian juga dengan peryaan 1 dan 10 Syuro dengan penanda bubur Syuro, tradisi Rebo Wekasan atau Arba’a Akhir di bulan Safar, tradisi Nisfu Sya’ban, faham Wahdatul Wujud, larangan berhajat pada bulan Syuro, pembacaan kasidah-kasidah yang memuji Nabi Muhammad Saw dan ahl al-bait, dan wirid-wirid yang diamalkan menunjukkan keterkaitan tersebut. Bahkan istilah kenduri pun, jelas menunjuk kepada pengaruh Syi’ah karena dipungut dari bahasa Persia: Kanduri, yakni upacara makan-makan di Persia untuk memperingati Fatimah Az-Zahro’.

Menurut H. J. de Graaf (19980 pada abad ke-15 dan ke-16 para pedagang dari wilayah Cina selatan dan pesisir Vietnam sekarang (Campa), semakin aktif di Jawa dan tempat-tempat lain di Nusantara. Senada dengan S. Q. Fatimy, menurut buku terbitan Ecole Francaise D’extreme-orient (1981), agama Islam yang dianut di Campa sangat kuat terpengaruh faham Syi’ah – entah mazhab Isma’iliyyah, Zaidiyyah, atau Itsna Asyariyyah – para penyebar Islam di Jawa pada abad ke-15 Masehi itu meninggalkan warisan kebiasaan dan tradisi keagamaan yang sebelumnya tak dikenal masyarakat di jaman Majapahit. Bahkan sistem kepercayaan Campa pun, tampak sekali mewarnai kepercayaan masyarakat Jawa Muslim. Kepercayaan-kepercayaan orang Campa terhadap kitab ramalan seperti primbon maupun kepercayaan takhayul, menunjukkan pengaruh yang besar bagi perubahan kehidupan masyarakat Jawa pasca Majapahit.

Sepengetahuan penulis, belum ada data sejarah yang sahih yang menunjuk bahwa penduduk Majapahit pernah mengenal ramalan-ramalan sejenis primbon dan jangka Jayabhaya. Kepercayaan terhadap ratu adil sebagaimana terungkap pada Serat Jayabhaya yang disusun Ranggawarsita pun, tidak diketahui pernah dikenal orang Majapahit. Bahkan kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus pun, yang dikenal orang-orang Jawa muslim sangat berbeda dengan yang dikenal orang-orang Majapahit dewasa itu.

Menurut Sedyawati (1994: 143) kepercayaan orang-orang Majapahit terhadap makhluk-makhluk halus terbatas pada makhluk-makhluk setengah dewa seperti yaksha, raksasa, pisaca, pretasura, gandharwa, bhuta, khinnara, widhyadhara, mahakala, nandiswara, caturasra, dan rahyangta rumuhan, sirangbasa ring wanua, sang mangdyan kahyangan, sang magawai kadhaton (para arwah leluhur yang melindungi bumi dan keraton). Sementara orang-orang Campa mempercayai berbagai jenis makhluk halus seperti gandarwa, kelong wewe, kuntilanak, pocong, tuyul, kalap, siluman, jin Islam, hantu penunggu pohon, arwah penasaran, dan berbagai takhayul yang dalam Bahasa Kawi disebut gegwan-tuhuan, yang bermakna ‘bersandar pada kicauan burung’ alias omong kosong. Orang-orang Campa juga percaya terhadap hitungan suara tokek, tabu mengambil padi di lumbung pada siang hari, menyebut harimau dengan sebutan ‘Yang’ atau ‘Ong’ yang bermakna ‘kakek’, dsb. Dan fakta sejarah kemudian menunjuk, bahwa kepercayaan Campa itulah yang kemudian menjadi mainstream utama dari sistem kepercayaan penduduk muslim Jawa pasca Majapahit sampai saat sekarang ini.