Seri Jejak Perjuangan Dakwah Islam Sunan Ampel 1

Posted in Rabu, 21 September 2011
by Mbah Lalar

Membangun Kekerabatan dengan Penguasa

Berdakwah adalah tugas setiap muslim sesuai sabda Nabi Muhammad Saw: ballighu anni walau ayatan! (sampaikan apa yang dari aku sekalipun satu ayat). Itu sebabnya, tidak perduli apakah seorang muslim berkedudukan sebagai pedagang, tukang, petani, nelayan, pejabat, atau raja sekali pun memiliki kewajiban utama menyampaikan kebenaran Islam kepada siapa saja dan di mana saja. Sunan Ampel, raja Surabaya, sebagaimana para penyebar agama Islam lainnya terbukti menjalankan amanat agama itu dengan sangat baik melalui prinsip dakwah: maw’izhatul hasanah wa mujadalah billati hiya ahsan. Malahan, sejak sebelum menjadi raja Surabaya, Sunan Ampel sudah menyampaikan dakwah kepada Arya Damar Adipati Palembang dan kepada Prabhu Brawijaya (Kertawijaya, suami bibinya – pen) sebagaimana dituturkan Serat Walisana.
Selain melakukan dakwah langsung melalui penyampaian kebenaran Islam terhadap para tokoh, Sunan Ampel melakukan pula dakwah melalui ikatan-ikatan kekerabatan lewat jalan pernikahan dengan keluarga para tokoh. Usaha-usaha dakwah Sunan Ampel lewat jalinan kekerabatan dengan keluarga para tokoh, dapat dipaparkan sebagai berikut:
Seluruh sumber historiografi lokal menuturkan bahwa Raden Rahmat – kelak termasyhur dengan gelar Sunan Ampel – adalah orang asing. Ibunya yang bernama Candrawati, berkebangsaan Campa. Ayahnya yang bernama Ibrahim as-Samarqandiy, berasal dari Samarkand. Kemudian melalui bibinya, Darawati, yang dinikahi Maharaja Majapahit Prabhu Kertawijaya (Brawijaya V), Raden Rahmat masuk ke dalam ikatan kekerabatan dengan penguasa di Majapahit. Menurut Serat Kandha, atas keinginan Prabhu Kertawijaya, suami bibinya, Raden Rahmat dinikahkan dengan Nyi Ageng Manila, puteri Arya Teja, Adipati Tuban. Dengan menikahi puteri Arya Teja, Raden Rahmat telah masuk ke dalam lingkungan keluarga raja Surabaya, Arya Lembu Sura. Sebab ibu Nyi Ageng Manila, adalah puteri Arya Lembu Sura. Atas kehendak Prabhu Kertawijaya pula, kakak Raden Rahmat, Ali Murtadho, dinikahkan dengan puteri Arya Baribin di Pamekasan. Tokoh Arya Baribin ini juga putera Arya Lembu Sura.
Masuknya Raden Rahmat ke dalam lingkungan keluarga Arya Lembu Sura, dapat dilihat sebagai titik tolak bagi menguatnya kedudukan tokoh asal Campa itu di Surabaya. Sebab dengan menjadi keluarga Arya Lembu Sura, berarti Raden Rahmat telah menjadi bagian dari keluarga besar Maharaja Majapahit. Dengan kedudukannya sebagai pangeran Majapahit pertama yang beragama Islam, Arya Lembu Sura dihormati tidak saja oleh keluarga Maharaja Majapahit tetapi juga oleh umat Islam yang mulai tumbuh di kawasan pesisir. Dan sebagai cucu menantu raja Surabaya yang dihormati itu, tentu saja Raden Rahmat ikut dihormati apalagi bibi Raden Rahmat adalah isteri Maharaja Majapahit.
Sekalipun keberadaan Arya Lembu Sura sebagai raja Surabaya banyak diabaikan oleh cerita tutur maupun historiografi lokal, tampaknya tokoh tersebut memiliki peran yang tidak kecil dalam usaha pengembangan Islam di Surabaya. Salah satu bukti tak terbantah tentang kedudukan Arya Lembu Sura, adalah keberadaannya sebagai tonggak yang menjalin hubungan genealogi antara para penyebar agama Islam dengan keluarga penguasa-penguasa Majapahit. Setelah Raden Rahmat dan Ali Murtadho masuk ke dalam lingkaran keluarga Arya Lembu Sura, misalnya, masuk pula seorang penyebar Islam bernama Khalifah Husein yang menikahi cucu Arya Lembu Sura, puteri Arya Baribin, Raja Pamekasan. Babad Tanah Jawi, menuturkan hal itu sebagai berikut:
“Kocapa maolana saking Ngatas Angin, pan Kalipah Usen namanira, pan sampun prapta ing Ngampel, sampun lami tinuduh marang susuhunan ing Ngampel Gading, dadya imam Madura lan Sumenep iku, Islamna beh wong Madura myang Sumenep, Balega lan Surawesti. Kalipah Usen Kobra kambil mantu mring Arya Baribin”.
Serat Kandha menuturkan, bahwa Khalifah Husein adalah kerabat Sunan Ampel. Jadi wajar jika Sunan Ampel memerintahkan Khalifah Husein untuk mengislamkan Madura, Sumenep, Balega, dan Surabaya, karena penguasa-penguasa di Madura dewasa itu adalah kerabat dan keturunan Arya Lembu Sura. Arya Baribin, raja Pamekasan, adalah putera Arya Lembu Sura. Lembu Peteng, Raja Gili Mandangin (pulau kecil di Sampang), adalah kemenakan Arya Lembu Sura. Arya Menak Sunaya, raja Pamadegan (berpusat di pesisir laut sampai saat ini menjadi pelabuhan yang menghubungkan antara Sampang dan pulau Gili Mandangin), putera Arya Damar Adipati Palembang, adalah cucu kemenakan Arya Lembu Sura. Jaran Panoleh, raja Sumenep, adalah kemenakan Arya Lembu Sura juga.
Serat Kandha juga menuturkan bahwa saudara Khalifah Husein, Syaikh Waliy al-Islam, telah menikah dengan Retna Sambodhi puteri penguasa Pasuruan. Dewasa itu, yang menjadi penguasa Pasuruan adalah saudara lain ibu Arya Lembu Sura yang bernama Lembu Mirudha, Panembahan Gunung Bromo. Itu berarti, usaha-usaha Sunan Ampel dalam memperkuat kekerabatan antara para penyebar Islam dengan penguasa-penguasa Majapahit dilakukan melalui jalur kekerabatan raja Surabaya, Arya Lembu Sura. Bahkan lewat jalur itu pula, tampaknya perkawinan saudara Sunan Ampel yang bernama Syaikh Maulana Gharib dengan Niken Sundara, puteri Patih Mahodara dari Majapahit dilakukan.
Rupanya, melalui pernikahan-pernikahan antara para penyebar Islam dengan puteri-puteri penguasa Majapahit – terutama melalui kerabat Arya Lembu Sura Raja Surabaya – Sunan Ampel berhasil memperkuat akar dakwah Islam di wilayah Majapahit yang sudah dirintis Arya Lembu Sura. Sekalipun tidak semua cara itu berhasil, sebagaimana gagalnya Syaikh Maulana Ishak, saudara ibu Sunan Ampel dalam mengikat tali kekerabatan dengan penguasa Blambangan, namun secara umum cara itu menunjukkan keberhasilan yang signifikan bagi terbentuknya keluarga-keluarga muslim di kalangan pejabat-pejabat Majapahit.
Usaha dakwah Sunan Ampel melalui perkawinan-perkawinan para penyebar Islam dengan puteri-puteri penguasa Majapahit, termasuk perkawinan puteri-puterinya dengan Prabhu Satmata dari Giri Kedhaton, Raden Patah Adipati Demak dan Syarif Hidayatullah Wali Nagari Gunung Jati, pada satu sisi dapat dilihat sebagai suatu langkah kebijakan dakwah yang diilhami metode dakwah Nabi Muhammad Saw dalam memperkuat kekuatan Islam melalui ikatan perkawinan. Sebab dengan cara seperti itu, ikatan kekeluargaan memang akan semakin kuat di antara umat Islam. Di masa kebangkitan awal Islam telah diketahui terjadi perkawinan antara Nabi Muhammad Saw dengan Hafsah puteri Umar Ibn Khattab dan ‘Aisyah puteri Abu Bakar. Ali bin Abi Thalib dinikahkan dengan Fatimah puteri Nabi Muhammad Saw. Utsman bin Affan pun dijadikan menantu. Hubungan kekerabatan juga dilakukan melalui pernikahan-pernikahan antara golongan Ansor dan Muhajirin.

Sumber tulisan:
Agus Sunyoto, Sunan Ampel Raja Surabaya: Membaca Kembali Dinamika Perjuangan Dakwah Islam di Jawa Abad XIV-XV M., Surabaya: Diantama, 2004.