MENGAMALKAN SHOLAWAT TIDAK PERLU GURU SPRITUAL

Posted in Sabtu, 16 Juli 2011
by Mbah Lalar


Memang ada sebuah fatwa yg menyatakan bhw mengamalkan sholawat itu tidak perlu dg tuntunan Syaikh Mursid, namun juga perlu di waspadai kemungkinan adanya teks2 Sholawat yg membutuhkan Ilmu untuk memahami kandungan artinya, sebab mungkin juga ada Teks Sholawat yg muncul akibat rasa Maboknya Waliyullah terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yg mana dalam kemabukan itu sampai terucap kalimat2 yg jika di ucapkan oleh Orang Awam bisa saja berbahaya (di karenakan Ilmu dan Dzauqnya belum sampai) satu contoh ada dalam sholawat gubahan Seorang ahli Ma;rifat yg di dalamnya terdapat Kalimat بقدر عظمة ذات الله العظيم  yg jika di terjemah “Dg sekadar/sekira2  keagungan DzatNya Allah yg Agung”  padahal Dzat Allah gak boleh di kira2kan, dan memang tidak berkadar.

Keutamaan membca Sholawat telah sedemikian Masyhur, baik di kalangan orang yg menolak maupun yg mengiyakannya, sehingga ada sebuah kekhawatiran yg muncul di tengah2 masyarakat sebab ada pepatah mengatakan “Barang siapa yg tidak punya Guru, maka Gurunya pastilah setan” .

Ada memang Qoul/Fatwa ‘Ulama yg mengatakan bhw mengamalkan Sholawat itu tidak perlu guru Khusus, saya yakin maksud dari Fatwa tersebut adalah yg di maksud Sholawat yg Masyhur atau yg tidak membutuhkan hal2 yg mrndukung untuk memahami kandungan arti dan teori membacanya jika yg di baca adalah Sholawat yg tidak masyhur beredar di kalangan awam.

Muslimin dikalangan intlektual sudah sepakat akan keutamaannya membaca Sholawat dan Himbauan membacanya, namun penetapan hokum sudah biasa terjadi Perselisihan yg tentu saja tidak sampai menimbulkan perpecahan, karena perselisihan yg muncul dari kalangan intlektual justru akan sangat mempermudah untuk orang awam dalam menentukan pilhannya, berikut keterangan dalam Kitab “Hasiyah Al Showi ‘Al Al Jalalain hal 287 juz 3 “:
واعلموا أن العلماء إتفقوا على وجوب الصلة والسلام على النبي صلى الله عليه وسلم , ثم اختلفوا في تعيين الواجب فعند مالك تجب الصلوة والسلام في العمر مرة وعند الشافعي تجب في التشهد الأخير من كل فرض, وعند غيرهما تجب في كل مجلس مرة وقيل تجب عند ذكره وقيل بجب الإكثار منها من غير تقييد بعدد, وبالجملة فالصلاة على النبي أمرها عظيم وفضلها جسيم

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Para Ulama telah sepakat atas di wajibkannya membaca Sholawat dan Salam untuk Baginda Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, Kemudian mereka berselisih pendapat mengenahi KAPAN Kuwajiban ini harus di lakukan, Menurut Imam Malik cukup satu kali dalam seumur hidup, Menurut Imam Syafi,I wajib di baca pada waktu tasyahhud akhir dalam setiap Sholat Fardlu, menurut Ulama lainnya wajib di baca satu kali dalam setiap majlis. Ada juga ulama yg berpendapat wajib membaca sholawat / salam tersebut setiap kali mendengar Nama Nabi di sebut. Dan ada juga yg mengatakan untuk memperbanyak Sholawat/ Salam tanpa di batasi bilangan tertentu. Secara umum membaca Sholawat kepada Nabi merupekan hal yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak”.

وهي أفضل الطاعات وأجل القربات حتى قال بعض ال عارفين إنها توصل إلى الله تعالى من غير شيخ لأن الشيخ والسند فيها صاحبها ولاأنها تعرض عليه ويصلي على المصلي بخلاف غيرها من الأذكار فلا بد فبها من الشيخ الارف و‘لا دخلها الشيطان ولم ينتفع صاحبها بها

“Membaca sholawat merupakan bentuk Ibadah yg paling utama dan paling besar pahalanya. Sanpai2 sebagian Kaum ‘Arifin mengatakan : “Sesungguhnya Sholawat itu bias mengantarkan Pengamalnya untuk Ma’rifat Billah meskipun tanpa guru spiritual (Mursyid) Karena Guru dan Sanadnya Langsung melalui Nabi. Ingat setiap Sholawat yg di baca seseorang selalu di perlihatkan Kepada Beliau Shollalllahu ‘alihi wa Sallam dan Beliau membalasnya dg doa yg serupa. Hal ini berbeda dg Dzikir2 (Selain Sholawat) yg harus melalui Guru Spiritual yg harus sudah mencapai Maqom Ma;rifat. Jika tidak demikian maka akan di masuki Syaithon dan pengamalnya tidak akan mendapat manfa;at apapun.