MASIH ADAKAH ULAMA YANG MERDEKA? (Mengenang Abuya Dimyathi al-Bantani)

Posted in Kamis, 21 Juli 2011
by Mbah Lalar
Tentang kemandirian (independensi), Mbah Dim adalah teladan dan contoh terdepan dari para ulama di Indonesia. Dia begitu kukuh mempertahankan prinsip. Tak mau bergantung pada lembaga tertentu, apalagi penguasa. Tak mau bicara sekiranya tidak perlu. Dan hanya mau bicara dalam jam-jam ngaji dan majlis ilmu.

Di antara ratusan tamu yang datang setiap hari, belum tentu ada yang diajak bicara. Para tamu membawa air (untuk ditiup Abuya dengan doa), cukup bermushâfahah (salaman), habis itu disurung pulang. Para tamu akan diusir (tak peduli dia presiden, jenderal, ataukah kurir dari pegawai rendahan) jika dia datang dalam jadwal “ngaji” dan “jama’ah”. Dua urusan ini tak bisa diganggu gugat meskipun oleh seorang menteri atau presiden. Kukuh mempertahankan prinsip inilah yang membuat siapa pun akan ciut nyali ketika berhadapan dengan Mbah Dim, tak terkecuali para pejabat.

Ihwal tamu-tamu yang ditolak karena datang tidak pada waktunya, Mbah Dim sering bilang,
“Sana pulang! Aing (saya) mau kerja!”
dinukil from "Jejak Spiritual Abuya Dimyati" (PP, 2010)

Tahukah apa yang dimaksud “kerja” oleh Mbah Dim? Mendidik putera-puteri, jama’ah, ngaji, nderes Al-Qur’an (tiap hari khatam 30 juz) adalah kerja Mbah Dim. Para tamu akan diusir, jika mengganggu jadwal kerjanya. Dan kerja Mbah Dim bukan sembarang kerja. Sebab, Mbah Dim tidak minta upah dari makhluk. Waktunya benar-benar diwarnai dan dipadati dengan ketaatan (ma’mûran bi ath-thâ’ah). Singkat kata, ngaji dan ibadah adalah kerja Mbah Dim.


Para ulama sufi membagi “urusan” atau “perkara” menjadi dua kategori. Pertama, perkara yang berkaitan dengan Allah. Kedua, perkara yang berkaitan dengan makhluk. Dalam kenyataan, dua urusan ini kerap berbenturan sehingga menguji kadar takwa dan keimanan seseorang. Mereka yang kadar takwanya tinggi, sebagaimana para ulamââmilîn, senantiasa mendahulukan urusan Allah. Atau dengan kata lain, bagi mereka segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah senantiasa dibikin “serius” dan “penting”. Setelah itu, barulah urusan yang berkaitan dengan makhluk.
Menghadap Allah (atau “jalan ibadah”) adalah faidah dari diberikan kesempatan umur (fâ’idah al-‘umri), setelah terlebih dahulu seorang hamba menyingkirkan semua penghalang—yaitu aghyâr (sesuatu yang bukan Tuhan)—dan rintangan-rintangan (‘aqâbatul-‘awâridh). Penghalang-penghalang ibadah itu bisa berupa setan, nafsu, harta, dan bisa pula berupa makhluk, yang semua itu hanya bisa dikenali melalui “dalil” dan “ilmu”. Tanpa ilmu yang memadai, seseorang bisa menjadi bulan-bulanan setan dan nafsu.

Praktik ibadah tampaknya memang sederhana, namun ibadah adalah buah dari ilmu (tsamrah al-‘umri). Oleh karena itu, kepada tamu-tamu yang datang tidak tepat pada waktunya, kata Mbah Dim, “Sana. Pulang! Saya mau kerja!” sebab dia tahu benar (berilmu) bahwa sesuatu yang menyangkut urusan Allah (kerja kepada Allah) adalah nomor satu bagi Mbah Dim. Tak pelak, dia adalah ulama yang tabahhur-fillâh (menenggelamkan waktu-waktunya dalam zikir dan sibuk dengan urusan-urusan Allah, yaitu selalu murâqabah-fillâh dalam setiap dimensi ruang dan waktu: wa al-faidhu alal-jihâtis-sitti!) *



oleh PENERBIT PUSTAKA PESANTREN