KULI BATU ITU SEORANG PANGERAN

Posted in Sabtu, 19 Maret 2011
by Mbah Lalar
Posted by: Ahmad Habibullah

Abdullah ibn Faraj Al-Abid mencari tukang batu untuk memperbaiki rumahnya. Di satu sudut pasar, tempat mangkal para tukang, dia melihat seorang pemuda berkulit kuning, berjubah dan bersarung wool warna putih.

“Apa kamu sedang lowong?” tanya Abdullah.
“Ya,” jawab pemuda itu.
“Berapa upah yang engkau minta?”
“Satu dirham. Tapi aku ada syarat.”
“Apa itu?”
“Kalau azan zhuhur berkumandang, aku akan keluar, berwudhu dan salat berjamaah di masjid. Begitu pula kalau azan asar terdengar.”
“Baik, aku setuju.”
Abdullah mengajak pemuda itu ke rumahnya. Dia bekerja nyaris tanpa berkata-kata. Ketika terdengar azan zhuhur, dia berkata, “Tuan Abdullah, muazin memanggil.”
“Silakan, silakan salat,” kata Abdullah.
Pemuda itu keluar menuju masjid. Beberapa saat kemudian, seusai salat jamaah, dia datang lagi. Sejurus kemudian, tanpa banyak bicara, dia sudah larut dalam pekerjaannya, hingga terdengar azan asar. Dia pun melakukan hal yang sama: keluar ke masjid, lalu datang lagi, dan bekerja sampai waktu yang ditentukan.
Beberapa hari kemudian, Abdullah membutuhkan tukang. Ada bagian lain rumahnya yang perlu perbaikan. Dia datang ke tempat mangkal para tukang batu. Maksudnya hendak mencari pemuda dulu, tapi dia tak berhasil menjumpainya. “Oh, dia hanya datang pada hari Sabtu,” kata seseorang.
Karena sudah terlanjur cocok, dia datang lagi di hari Sabtu. Pemuda itu tampak di antara para tukang.
“Apa kamu ada kerjaan?”
“Tidak. Tuan sudah paham dengan upah dan syarat saya, kan.”
“Aku hanya memohon pilihan pada Allah.”
Dia pun bekerja seperti dulu: nyaris tanpa banyak bicara, beristirahat di awal waktu salat zhuhur dan asar, tapi hasilnya memuaskan. Habis itu, Abdullah memberinya uang lebih dari satu dirham. Aneh, pemuda itu menolak. Ketika dia dipaksa, dia malah meninggalkan Abdullah. Rupanya, dia teguh memegang kesepakatan. Dia hanya mau menerima setelah diberi satu dirham.
Beberapa waktu kemudian, Abdullah datang ke tempat mangkal para tukang batu di hari Sabtu. Kali ini dia gagal menjumpai pemuda tersebut. Ternyata dia sedang sakit keras. Dia mendatangi rumahnya, seperti ditunjukkan orang-orang. Pemuda itu tergolek lemah di sebuah rumah tua, milik seorang perempuan yang sudah lanjut.
“Apa yang bisa kubantu? Katakan saja apa yang engkau minta dariku,” kata Abdullah setelah memberi salam.
“Jika Tuan mau menerima,” kata pemuda itu.
“Insya Allah, aku bisa terima.”
“Bila aku meninggal, juallah alat-alat ini. Cucilah sarung dan jubah woolku, kafanilah aku dengannya. Bukalah kantong jubahku karena di dalamnya ada sebuah cincin. Tunggulah saat Khalifah Harun Ar-Rasyid lewat, dan hentikan dia. Tunjukkanlah cincin ini. Tolong laksanakan ini setelah aku dikebumikan.”
Abdullah menyanggupi. Tak lama kemudian, pemuda itu meninggal. Abdullah melaksanakan semua pesannya.
“Amiral Mu’minin, ada titipan untuk Baginda,” kata Abdullah ketika bertemu dengan Harun, sembari memberikan cincin si pemuda.
“Siapa kamu?”
“Abdullah ibn Faraj.”
“Dari mana kamu dapatkan cincin ini?”
Abdullah menceritakan pengalamannya dengan pemuda pemilik cincin tersebut. Harun kontan menangis. “Dia adalah putraku,” katanya.
“Bagaimana itu bisa terjadi, Baginda?” tanya Abdullah.
“Ia lahir sebelum aku menjadi khalifah. Ia tumbuh dengan baik. Dia mempelajari ilmu agama dan mendalami Al-Quran. Ketika aku menjadi khalifah, dia meninggalkanku dan tidak mau mengambil hartaku sedikit pun. Aku menyerahkan cincin ini kepada ibunya, Yaqut, sembari berpesan, ‘Berikan cincin ini padanya dan suruhlah dia menyimpannya. Suatu saat kelak, mungkin dia butuh uang, cincin ini bisa dijual.’ Anak itu sangat berbakti kepada ibunya, hingga ibunya wafat. Setelah itu, aku kehilangan kontak dengannya, sampai engkau datang menemuiku.