Mboten Ngertos..

Posted in Rabu, 09 Maret 2011
by Mbah Lalar
Ucok ingin merantau tapi dia bingung mau ke mana. Untuk itu dia mencoba naik bis ke Jakarta . Dalam perjalanan kebetulan dia duduk dekat dengan Trimo yang Jawa tulen dan belum lancar bahasa indonesia.

Ucok yang belum pernah pergi jauh dari kampungnya terkagum-kagum dengan dunia luar.
Dan setiap melihat hal yang luar biasa baginya selalu menanyakan kepada Trimo. Saat melihat gedung megah dia tanya kepada Trimo.

"Gedung itu punya siapa Mas?"

"Mboten ngertos" jawab Trimo dalam bahasa Jawa yang artinya "Tidak Tahu"

Begitu juga saat melihat kapal di Bakauheni Lampung,

"Itu kapal siapa Mas?" tanya Ucok

"Mboten ngertos" jawab Trimo

Karena selalu begitu, setiap ditanyakan milik siapa, jawabnya mboten ngertos terus, maka si Ucok berpikir: "Ah, kaya kali Pak Mboten Ngertos itu, semua-semua milik Pak Mboten ngertos, mobil mewah, gedung juga kapal besar. Aku akan melamar kerja saja kepada Pak Mboten Ngertoslah."

Karena dirasa sudah mantap Ucok kembali ke kampung untuk menjual sebidang lahan dan rumahnya untuk bekal merantau ke Jawa. Dan setelah laku, berangkatlah Ucok. Secara kebetulan di bis dia duduk bersebelahan dengan Parto yang juga belum lancar dalam berbahasa Indonesia . Sama seperti perjalanan dengan Trimo dahulu, saat itupun Ucok selalu bertanya kepada Parto tentang pemilik sesuatu yang membuatnya kagum. Dan Parto pun sama dengan Trimo jawabannya selalu mboten ngertos.

Singkat cerita sampailah Ucok di tanah Jawa, dan dia bingung mencari alamat Pak Mboten Ngertos si orang kaya tersebut. Saat Ucok istirahat dibawah pohon sambil meneguk dawet Mbok Darmi, lewatlah iring-iringan mobil membawa jenasah yang menuju ke pemakaman.

"Eh Bu, siapa yang meninggal itu?" tanya Ucok kepada Mbok Darmi si penjual es dawet.

"Mboten ngertos Mas" jawab mbok Darmi yang memang tidak mengenal si jenasah.

Spontan Ucok berkata, "Alamak, macam mana ini, sudah ku jual tanah dan rumahku ternyata Pak Mboten Ngertos sudah mati. Matilah aku kalau begini."



posting oleh:
Nur Sari Aini
di warkop mbah lalar