TARCHIM

Posted in Minggu, 20 Maret 2011
by Mbah Lalar
Oleh : Anggota WLML


”Ya Arhamar Rahimin,  Irhamna”
“Wa afina wa’fu ‘anna wa’ala to’atika wa syukrika a’inna”

DOA yang khas dibaca untuk membangunkan orang agar sahur itu begitu merdu dilafalkan oleh muadzin masjid desa saya. Suara Pak Muslih atau Wak Salim itu, terasa menyayat kalbu.
Alunannya panjang dan dengan intonasi yang baku. Sesuai makhraj huruf dan  kaidah tajwid.


Tarhim, begitu istilah untuk menyebut pembacaan doa diawali menyebut Asma Allah sebagai Dzat Yang Maha Pengasih (ar-Rahim). Kalimat dzikir Ya Arhamar Rahimin yang diulang-ulang itulah yang kemudian disebut sebagai tarhim.
Pak Muslih biasa membacakan tarhim mulai jam 03.30. Volume loudspeaker masjid tidak terlalu keras disetel. Lirih menyejukkan  telinga. Orang-orang yang rumahnya dekat masjid, biasanya langsung bangun lalu sholat tahajud di masjid. Terutama laki-laki. Sedangkan ibu-ibu,  mungkin sholat tahajud di rumah atau meraih pahala besar dengan mempersiapkan makanan sahur untuk suami maupun anak-anaknya.

Seringkali, bacaan tarhim itu ditambahi sholawat puji-pujian kepada Nabi Muhamamd berserta keluarga dan para sahabatnya. Diselingi bacaan doa dari ayat Al-Qur'an.

Biasanya, begitu tarhim mulai, anak-anak yang berkeliling dengan klothekan segera mengakhiri aktivitasnya. Setidaknya balik kanan dari rute yang telah ditempuhnya. Tarhim adalah tanda bagi mereka untuk pulang ke rumah untuk makan sahur bersama keluarga. Meski dalam perjalanan pulang, musik thong-thong klek tetap dibunyikan.

Setiap 5 menit, Pak Muslih yang hafal Al-Qur'an  menyelingi qiro’ahnya dengan sapaan dengan krama inggil. ”Sahur-sahur......ingkang dereng sahur, sumangga enggal sahuur. Sak menika wekdal sampun jam tiga langkung sekawan dasa.” Lalu dia bacakan hadis Rasulullah berulang ulang dalam bahasa Arab: ”Fasahhiruu, fainna fis sahuri barokah.... sahurlah,  karena sahur itu membawa berkah".

Demikian pula jika yang jadi muadzin Wak Salim. Dia senantiasa menyapa dengan lembut. “Ibu-ibu ingkang dereng wungu, sumonggo enggal wungu. Enggala sahur, wekdal subuh sampun caket.” Dia ucapkan pula dalam bahasa Arab: “Fasahhiru....faqod qorubas shobaaah..”.

Jika anda tinggal di kawasan Kauman Semarang atau sebagian masjid lain di pinggiran Semarang, anda akan mendengar tarhim berupa lantunan sholawat ciptaan Syaikh Mahmud Al Husairi. Tokoh sufi di masa kekhalifahan Abbasiyah. Bahkan tidak hanya menjelang imsak sholawat indah ini dikumandangkan. Yakni menjelang maghrib untuk mengingatkan agar bersiap berbuka puasa.

Tak masalah yang anda dengan adalah bunyi dari tape rekorder yang memutar kaset rekaman suara Syaikh Abdul Azis dari Mesir. Keindahan puisi pujian atas Nabi itu tetap amat sangat indah di telinga.

Orang yang tidak mengerti Bahasa Arab saja bisa tergetar oleh indahnya nada ketika kata ”Allah” di akhir bait dibaca begitu panjang oleh sang syaikh. Apalagi yang mengerti Bahasa Arab. Amboy....hati terasa dihunjam seribu sembilu. Merasakan rindu dan imajinasi kenikmatan.

Membayangkan betapa bahagianya andai berjumpa Nabi Muhamad secara langsung. Ikut berjihad bersama Baginda Rasul di medan jaung.  Mendakwahkan Islam dengan kasih sayang. Ooh...betapa kemecer hati ini. Pengalaman batin itu takkan terlupakan sepanjang masa.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu dan engkau menjadi imam Engkau diberangkatkan ke Sidratul Muntaha karena kemulianmu dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.

Tarhim itu terus berkumandang hingga waktu imsak tiba. Muadzin mengucapkan dengan lantang: “imsaaaak...imsaaaaak....”. Lantas 10 menit kemudian bedhug ditabuh, kenthongan dithuthuk. Dengan empat Toa di menara masjid, terdengarlah kumandang adzan yang bisa terdengar seisi kampung.
Subhanallah, betapa semarak suasana Ramadhan. Setiap saat selalu mendengar doa, bacaan ayat-ayat Al-Qur'an maupun sholawatan. Masjid benar-benar menjadi pusat syiar Islam. ***

SUNGGUH SANGAT BEBAL DAN JAHATLAH ORANG YANG MENGHARAMKAN TARCHIM.