PUNAKAWAN (FALSAFAH Pengabdian Seorang Muslim)

Posted in Senin, 21 Maret 2011
by Mbah Lalar
 Oleh : Anggota WLML

PUNAKAWAN

Rakyat Jawa zaman dulu tak pernah dihargai. Tak dianggap setara. Di bawah kuasa kerajaan, tak ada demokrasi. Kawula hanyalah kawula. Yang jadi pelengkap penderita.
Mereka tidak dicantumkan dalam buku karangan mpu istana. Tak ada dalam sejarah negara.
Isi cerita wayang hanya tentang raja ini berperang dengan raja itu. Pangeran anu merebu...t tahta  atau memberontak di negeri anu. Raden X bersaing adu sakti untuk memperistri putri Y. Dan seterusnya.

Barulah setelah Islam datang, para wali memasukkan rakyat dalam wayang. Bahkan sosok rakyat ciptaan wali ini, sangat sakti mandraguna. Raja bisa tunduk kepadanya. Bahkan para dewa takluk jika si rakyat berunjuk rasa. Jonggring saloka gonjang-ganjing jika rakyat murka.
Adalah Sunan Kalijaga, anak adipati Tuban bernama kecil Raden Mas Said yang mencipta tokoh punakawan.  Sosok rakyat yang membuat kerajaan harus menuruti kehendak mereka jika ingin selamat.  Mereka adalah Semar, Gareng atau Nala Gareng, Bagong dan Petruk.
Tentu saja nama-nama itu awalnya asing di telinga. Sebab memang berasal dari Bahasa Arab. Semar dari kata simaar/ismarun yang artinya paku/pengokoh, diambil dari kata “Al Islamu Ismaruddunya” yang bermakna Islam adalah pakunya dunia.
Karakter Semar ini teguh, kuat dan tidak goyah dalam prinsip. Punya nama lain Ismaya yang artinya asma-Ku, simbol dari kemantapan dan keteguhan. Jadi Semar adalah perlambang agama Islam. Makanya dia ditakuti dewa. Sunan Kalijaga mengajarkankepada masyarakat, bahwa dewa itu makhluk. Bukan sesembahan. Yang patut disembah hanya Gusti Allah.
Karena sangat halusnya, tanpa kata-kata yang menyinggung perasaan, “penurunan derajat” ini tidak terasa bagi orang Jawa. Bahkan Semar jadi idola baru mereka. Rakyat paupun bangsawan, parajurit maupun pangeran, mengidentifikasikan Semar sebagai dirinya. Sampai sekarang pun masih begitu. Soeharto, gubernur Jateng Suwardi, ialah diantara tokoh yang suka mengaku dirinya perlambang Semar.
Punakawan kedua yang tak lain anak Semar adalah Nala Gareng.  Dari kata Nala Khoirin atau Nala Qorin. Artinya menerima kebaikan atau memperoleh teman. Hal ini selaras dengan tujuan dakwah yaitu menyebarkan kebaikan supaya orang-orang mau menerima dan menjadi jaringan teman yang banyak. Gareng digambarkan sakti mandraguna, pernah menjadi raja di Pranggumiwang dan bernama Pandubergola.
Ketiga Petruk. Dari kata Fatruk yang berarti tinggalkan. Tinggalkanlah yang jelek-jelek, yang menjadi larangan Allah Swt. Fatruk juga wejangan tasawuf tingkat tinggi; fatruk kulla maa siwallahi (tinggalkan semua yang selain Allah Swt).
Karakter Petruk bermuka manis dengan senyuman yang menarik hati, pandai berbicara, dan sangat lucu.  Ia suka menyindir ketidakbenaran dengan lawakan-lawakannya.  Punya julukan Kantong Bolong, karena suka memberi tak harap kembali. Ia juga simbol kebijaksanaan.
Keempat Bagong. Dari kata Bagho yang artinya berontak. Melawan kemungkaran. Karakternya lancang, suka berlagak bodoh, dan sangat lucu. Bagong atau Bawor (Banyumasan) ialah bayangan Semar.
Empat orang sosok rakyat yang luar biasa di negeri wayang itu menjadi pengasuh para pahlawan Pandawa. Disebut punakawan. Tugasnya menghibur dan memberi motivasi. Juga menjadi penasehat para ksatria. Saat negara genting, dikisahkan lewat adegan goro-goro, punakawan mengambil peran strategis untuk membereskan prahara.
            Ada satu lagi ”wakil rakyat” dengan karakter nakal. Yaitu  Togog. Berasal dari kata Toghut yang artinya iblis. Togog adalah pamong para satria berwatak buruk. Pihak Kurawa. 
Gambaran tokoh Punokawan menggambarkan nafsu hidup manusia yaitu Semar (Mutmainnah ), Gareng (amarah), Petruk (lawwamah/aluamah), Bagong (sufiyah). 
Suwardi Endraswara, pengarang buku Mistik Kejawen Sinkretisme, simbolisme dan Sufisme pada Budaya Spiritual Jawa (Yogyakarta: LKIS, 2003) menyebutkan, penambahan tokoh punokawan tersebut dilaksanakan ketika terjadi krisis di kerajaan Majapahit. Di mana saat itu wibawa kerajaan tak ada, korupsi merajalela, para punggawa seenak udelnya mengambil paksa harta rakyat sebagai upeti.
Dengan pralambang tokoh-tokoh Punakawan, rakyat jadi punya harapan di tengah hidup yang tanpa harapan. Dan ini hebatnya, idola yang datang di saat tepat itu adalah Islam. Sehingga praktis, dalam waktu relatif singkat orang-orang Jawa memeluk agama Islam. Termasuk raja dan keluarganya.
Subhanallah. Betapa jeniusnya para wali berdakwah.  Media paling populer saat itu, wayang yang bersifat audio visual, dimanfaatkan dengan sangat sempurna. Pemegang lakonnya, Dhalang, juga diambilkan dari kata Arab dalla yang artinya penunjuk. Maksudnya orang yang menunjukkan jalan kebaikan maupun jalan keburukan.
Melalui tuturan dhalang yang tak lain para wali sendiri, diterimalah agama Islam di bumi Nusantara. Sampai berhasil mendirikan kerajaan dan umatnya turun-temurun sampai kita sekarang. 
Subhanallah. Islam disampaikan begitu halus dan indah. Lewat pendekatan budaya dan terbukti sangat efektif. Dengan tembang ilir-ilir dan Dandhanggula. Bukan dengan menghujat dan menyesat-sesatkan. Dari lisan para Sunan tak pernah terlontar umpatan bid’ah, churafat, tahayul, kafir, zindiq, syirik, dan sebagainya.
Yang ada hanya kehalusan budi dan lembutnya tutur kata. Bukan kesombongan dan kedengkian. Tak mengobarkan permusuhan terhadap tradisi, seperti dilakukan orang-orang modern zaman sekarang.
Selamat bedakwah dengan medium apa saja.