AYAT-AYAT IRRASIONAL DALAM ALKITAB

Posted in Senin, 04 April 2011
by Unknown




Berikut ini beberapa contoh ayat-ayat Alkitab yang tidak masuk akal (irrasional), yang menunjukkan bahwa ayat-ayat di bawah ini sama sekali bukan firman Tuhan, tetapi merupakan karya tulis tangan manusia yang kurang profesional: 
1. Anak lebih tua 2 tahun daripada ayahnya. 
Dalam 2 Tawarikh 21:5,19-20, dikatakan bahwa Yoram berusia 32 tahun pada waktu menjadi raja dan memerintah Yerusalem, lalu meninggal karena penyakit pada tahun kedelapan masa pemerintahannya, yang berarti ia meninggal pada usia 40 tahun. Sementara itu, dalam 2 Tawarikh 22:1-2, setelah Yoram meninggal, ia digantikan oleh Ahazia, anaknya yang berusia 42 tahun. Jadi, Ahazia lebih tua 2 tahun daripada ayahnya. 
Yoram berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem ... Beberapa waktu berselang, kira-kira sesudah lewat dua tahun, keluarlah ususnya karena penyakitnya itu, lalu ia mati dengan penderitaan yang hebat. Rakyatnya tidak menyalakan api baginya seperti yang diperbuat mereka bagi nenek moyangnya. Ia berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia meninggal dengan tidak dicintai orang. Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja. (2 Tawarikh 21:5,19-20) 
Lalu penduduk Yerusalem mengangkat Ahazia, anaknya yang bungsu, menjadi raja menggantikan dia, karena semua anaknya yang lebih tua umurnya telah dibunuh oleh gerombolan yang datang ke tempat perkemahan bersama-sama orang-orang Arab. Dengan demikian Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, menjadi raja. Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri. (2 Tawarikh 22:1-2) 

2. Usia 11 tahun sudah punya anak.
Dalam 2 Raja-raja 16:2, dikatakan bahwa Ahas berumur 20 tahun ketika naik menjadi raja dan memerintah kerajaan selama 16 tahun. Sepeninggal Ahas, tahta kerajaan diganti oleh Hizkia, anaknya (2 Raja-raja 16:20). Smentara itu, dalam 2 Raja-raja 18:2, dijelaskan bahwa umur Hizkia ketika menggantikan ayahnya menjadi raja adalah 25 tahun. Jadi, dalam usia 11 tahun Ahas sudah punya anak??!! 
Ahas berumur dua puluh tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN, Allahnya, seperti Daud, bapa leluhurnya, (2 Raja-raja 16:2) 
Kemudian Ahas mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di kota Daud. Maka Hizkia, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. (2 Raja-raja 16:20) 
Maka dalam tahun ketiga zaman Hosea bin Ela, raja Israel, Hizkia, anak Ahas raja Yehuda menjadi raja. Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abi, anak Zakharia. (2 Raja-aja 18:1-2) 

3. Tuhan salah hitung.
Dalam Kejadian 46:8-15, daftar nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir berjumlah 34 nama, tetapi pada ayat 15 disebutkan: "Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah 33 jiwa." Pakai Tuhan tidak pandai berhitung?? 
Inilah nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir, yakni Yakub beserta keturunannya. Anak sulung Yakub ialah Ruben. Anak-anak Ruben ialah Henokh, Palu, Hezron dan Karmi. Anak-anak Simeon ialah Yemuel, Yamin, Ohad, Yakhin dan Zohar serta Saul, anak seorang perempuan Kanaan. Anak-anak Lewi ialah Gerson, Kehat dan Merari. Anak-anak Yehuda ialah Er, Onan, Syela, Peres dan Zerah; tetapi Er dan Onan mati di tanah Kanaan; dan anak-anak Peres ialah Hezron dan Hamul. Anak-anak Isakhar ialah Tola, Pua, Ayub dan Simron. Anak-anak Zebulon ialah Sered, Elon dan Yahleel. Itulah keturunan Lea, yang melahirkan bagi Yakub di Padan-Aram anak-anak lelaki serta Dina juga, anaknya yang perempuan. Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah tiga puluh tiga jiwa. (Kejadian 46:8-15)
Read More >>

SORGA PARA TERORIS

Posted in
by Unknown



Maaf, jika tulisan ini mungkin kurang berkenan di hati para teroris yang sekarang berada di alam baka maupun yang masih gentayangan mencari mangsa di mana pun di seluruh penjuru dunia.

Diceritakan Oemar Bakrie sedang menikmati keidahan sorga Firdaus. Keelokan taman-tamannya membuat Oemar Bakrie berdecak kagum. Istana-istana yang megah bertahtakan intan, berlian, dan zamrud, membuatnya terpesona. Belum lagi suara gemericik dari sungai yang mengalirkan air, madu, susu, dan arak membuat Oemar Bakrie kian betah saja tinggal di sorga. Bidadari? Wow, jangan ditanya. Ke mana pun Oemar Bakrie pergi, di samping kiri-kanannya, bidadari nan cantik jelita selalu setia menyertai. So, Oemar Bakrie betul-betul kerasan tinggal di sorga.

Suatu hari tanpa sengaja Oemar Bakrie terpisah dan tersesat di rerimbunan pohon-pohon sorga yang cukup lebat. Di sana dia celingak-celinguk sendiri. Tak seorang pun yang kebetulan lewat di tempat itu. Tak ada yang bisa ia tanyai. Bingung!

DUARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR…….!!!

Bunyi ledakan dahsyat membahana memecah kesunyian dan kebingugan Oemar Bakrie. Asap hitam mengepul di mana-mana. Bau daging terbakar menguap di udara. Sementara taman-taman, istana, dan sungai-sungai yang mengalir tiada henti hancur berantakan tanpa bentuk. Suasana nampak berubah bagai di medan perang Irak dan Afghanistan. Oemar Bakrie terlihat tiarap di antara puing-puing reruntuhan istana yang sudah hancur lebur. Dalam kepanikannya ia sempat berpikir, kenapa di sorga ada ledakan. Apa mungkin ada penghuni neraka yang iseng menyelundupkan BOM? Entahlah…

“Kamu lagi ngapain di sini?” Bentak seseorang dengan suara bagai geledek yang ternyata dia adalah malaikat.

“Oh, emhh, anu, saya tersesat jalan dan nggak sengaja lewat sini, Gan.” jawab Oemar Bakrie menggigil ketakutan.

“Kamu tidak baca papan nama di depan sana, ya?” Bentaknya lagi yang membuat tanah tempat Oemar Bakrie tiarap bergetar.

“Papan nama yang mana, Gan?” tanya Oemar Bakrie sambil menoleh kiri-kanan.

“Noh, yang di depan sono!” Jawab malaikat seraya mengarahkan telujuknya.

“SORGA PARA TERORIS…Ooooohh…” Oemar Bakri membaca sambil manggut-manggut baru nyadar.

“Lain kali jangan lewat sini lagi ya! Di sini SORGA PARA TERORIS yang selalu diledakkan secara berkala setiap lima menit sekali. Faham…!

“Oooo….???” Oemar Bakrie melongo.

Nah…
Read More >>

تعريف البدعة عند الحافظ هبن رجب

Posted in
by Unknown

جامع العلوم و الحكم في شرح 50 حديثا من جوامع الكلم

28-/ 25-30

فقوله - صلى الله عليه وسلم - : (( كل بدعة ضلالة )) من جوامع الكلم لا يخرج عنه شيء ، وهو أصل عظيم من أصول الدين ، وهو شبيه بقوله : (( من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد )) ، فكل من أحدث شيئا ، ونسبه إلى الدين ، ولم يكن له أصل من الدين يرجع إليه ، فهو ضلالة ، والدين بريء منه ، وسواء في ذلك مسائل الاعتقادات ، أو الأعمال ، أو الأقوال الظاهرة والباطنة .

وأما ما وقع في كلام السلف من استحسان بعض البدع ، فإنما ذلك في البدع اللغوية ، لا الشرعية ، فمن ذلك قول عمر - رضي الله عنه - لما جمع الناس في قيام رمضان على إمام واحد في المسجد ، وخرج ورآهم يصلون كذلك فقال : نعمت البدعة هذه . وروي عنه أنه قال : إن كانت هذه بدعة ، فنعمت البدعة . وروي أن أبي بن كعب ، قال له : إن هذا لم يكن ، فقال عمر : قد علمت ، ولكنه حسن . ومراده أن هذا الفعل لم يكن على هذا الوجه قبل هذا الوقت ، ولكن له أصول من الشريعة يرجع إليها، فمنها : أن النبي - صلى الله عليه وسلم - كان يحث على قيام رمضان ، ويرغب فيه، وكان الناس في زمنه يقومون في المسجد جماعات متفرقة ووحدانا ، وهو - صلى الله عليه وسلم - صلى بأصحابه في رمضان غير ليلة ، ثم امتنع من ذلك معللا بأنه خشي أن يكتب عليهم ، فيعجزوا عن القيام به ، وهذا قد أمن بعده - صلى الله عليه وسلم - . وروي عنه أنه كان يقوم بأصحابه ليالي الأفراد في العشر الأواخر .
ومنها : أنه - صلى الله عليه وسلم - أمر باتباع سنة خلفائه الراشدين ، وهذا قد صار من سنة خلفائه الراشدين ، فإن الناس اجتمعوا عليه في زمن عمر وعثمان وعلي .

ومن ذلك : أذان الجمعة الأول ، زاده عثمان لحاجة الناس إليه ، وأقره علي ، واستمر عمل المسلمين عليه ، وروي عن ابن عمر أنه قال : هو بدعة، ولعله أراد ما أراد أبوه في قيام رمضان .

ومن ذلك جمع المصحف في كتاب واحد ، توقف فيه زيد بن ثابت ، وقال لأبي بكر وعمر : كيف تفعلان ما لم يفعله النبي - صلى الله عليه وسلم - ؟ ثم علم أنه مصلحة ، فوافق على جمعه ، وقد كان النبي - صلى الله عليه وسلم - يأمر بكتابة الوحي ، ولا فرق بين أن يكتب مفرقا أو مجموعا ، بل جمعه صار أصلح .
وكذلك جمع عثمان الأمة على مصحف واحد وإعدامه لما خالفه خشية تفرق الأمة ، وقد استحسنه علي وأكثر الصحابة ، وكان ذلك عين المصلحة .
وكذلك قتال من منع الزكاة : توقف فيه عمر وغيره حتى بين له أبو بكر أصله الذي يرجع إليه من الشريعة ، فوافقه الناس على ذلك .

ومن ذلك القصص ، وقد سبق قول غضيف بن الحارث : إنه بدعة ، وقال الحسن : القصص بدعة ، ونعمت البدعة ، كم من دعوة مستجابة ، وحاجة مقضية ، وأخ مستفاد . وإنما عني هؤلاء بأنه بدعة الهيئة الاجتماعية عليه في وقت معين ، فإن النبي - صلى الله عليه وسلم - لم يكن له وقت معين يقص على أصحابه فيه غير خطبه الراتبة في الجمع والأعياد ، وإنما كان يذكرهم أحيانا ، أو عند حدوث أمر يحتاج إلى التذكير عنده ، ثم إن الصحابة اجتمعوا على تعيين وقت له كما سبق عن ابن مسعود : أنه كان يذكر أصحابه كل يوم خميس .
وفي " صحيح البخاري " عن ابن عباس قال : حدث الناس كل جمعة مرة ، فإن أبيت فمرتين ، فإن أكثرت ، فثلاثا ، ولا تمل الناس .
وفي " المسند " عن عائشة أنها وصت قاص أهل المدينة بمثل ذلك . وروي عنها أنها قالت لعبيد بن عمير : حدث الناس يوما ، ودع الناس يوما ، لا تملهم . وروي عن عمر بن عبد العزيز أنه أمر القاص أن يقص كل ثلاثة أيام مرة . وروي عنه أنه قال له : روح الناس ولا تثقل عليهم ، ودع القصص يوم السبت ويوم الثلاثاء .
وقد روى الحافظ أبو نعيم بإسناده عن إبراهيم بن الجنيد ، حدثنا حرملة ابن يحيى قال : سمعت الشافعي - رحمة الله عليه - يقول : البدعة بدعتان : بدعة محمودة ، وبدعة مذمومة ، فما وافق السنة فهو محمود ، وما خالف السنة فهو مذموم . واحتج بقول عمر : نعمت البدعة هي .

ومراد الشافعي - رحمه الله - ما ذكرناه من قبل : أن البدعة المذمومة ما ليس لها أصل من الشريعة يرجع إليه ، وهي البدعة في إطلاق الشرع ، وأما البدعة المحمودة فما وافق السنة ، يعني : ما كان لها أصل من السنة يرجع إليه ، وإنما هي بدعة لغة لا شرعا ؛ لموافقتها السنة .
وقد روي عن الشافعي كلام آخر يفسر هذا ، وأنه قال : والمحدثات ضربان : ما أحدث مما يخالف كتابا ، أو سنة ، أو أثرا ، أو إجماعا ، فهذه البدعة الضلال ، وما أحدث من الخير ، لا خلاف فيه لواحد من هذا ، وهذه محدثة غير مذمومة
وكثير من الأمور التي حدثت ، ولم يكن قد اختلف العلماء في أنها هل هي بدعة حسنة حتى ترجع إلى السنة أم لا ؟ فمنها : كتابة الحديث ، نهى عنه عمر وطائفة من الصحابة ، ورخص فيها الأكثرون ، واستدلوا له بأحاديث من السنة .
ومنها : كتابة تفسير الحديث والقرآن ، كرهه قوم من العلماء ، ورخص فيه كثير منهم .
وكذلك اختلافهم في كتابة الرأي في الحلال والحرام ونحوه ، وفي توسعة الكلام في المعاملات وأعمال القلوب التي لم تنقل عن الصحابة والتابعين . وكان الإمام أحمد يكره أكثر ذلك
وفي هذه الأزمان التي بعد العهد فيها بعلوم السلف يتعين ضبط ما نقل عنهم من ذلك كله ، ليتميز به ما كان من العلم موجودا في زمانهم ، وما حدث من ذلك بعدهم ، فيعلم بذلك السنة من البدعة .
وقد صح عن ابن مسعود أنه قال : إنكم قد أصبحتم اليوم على الفطرة ، وإنكم ستحدثون ويحدث لكم ، فإذا رأيتم محدثة ، فعليكم بالهدي الأول . وابن مسعود قال هذا في زمن الخلفاء الراشدين .

وروى ابن مهدي ، عن مالك قال : لم يكن شيء من هذه الأهواء في عهد النبي - صلى الله عليه وسلم - وأبي بكر وعمر وعثمان . وكأن مالكا يشير بالأهواء إلى ما حدث من التفرق في أصول الديانات من أمر الخوارج والروافض والمرجئة ونحوهم ممن تكلم في تكفير المسلمين ، واستباحة دمائهم وأموالهم ، أو في تخليدهم في النار ، أو في تفسيق خواص هذه الأمة ، أو عكس ذلك ، فزعم أن المعاصي لا تضر أهلها ، أو أنه لا يدخل النار من أهل التوحيد أحد .
وأصعب من ذلك ما أحدث من الكلام في أفعال الله تعالى من قضائه وقدره ، فكذب بذلك من كذب ، وزعم أنه نزه الله بذلك عن الظلم .
وأصعب من ذلك ما أحدث من الكلام في ذات الله وصفاته ، مما سكت عنه النبي - صلى الله عليه وسلم - وأصحابه والتابعون لهم بإحسان ، فقوم نفوا كثيرا مما ورد في الكتاب والسنة من ذلك ، وزعموا أنهم فعلوه تنزيها لله عما تقتضي العقول تنزيهه عنه ، وزعموا أن لازم ذلك مستحيل على الله - عز وجل - ، وقوم لم يكتفوا بإثباته ، حتى أثبتوا بإثباته ما يظن أنه لازم له بالنسبة إلى المخلوقين ، وهذه اللوازم نفيا وإثباتا درج صدر الأمة على السكوت عنها .
ومما أحدث في الأمة بعد عصر الصحابة والتابعين الكلام في الحلال والحرام بمجرد الرأي ، ورد كثير مما وردت به السنة في ذلك لمخالفته للرأي والأقيسة
العقلية .
__

جامع العلوم و الحكم في شرح 50 حديثا من جوامع الكلم لابن رجب ..

الكتاب المحقق : ماهر ياسين فحل ، وقد جعل تحقيقه للكتاب مجانا فجزاه الله خيرا
مصدر الكتاب : موقع صيد الفوائد


Read More >>
Oleh: Anggota WLML / Abu Al-Gazali




Banyak sekali bukti-bukti tekstual, baik dari al-Qur’an maupun dari hadits, memberikan isyarat akan kebenaran akidah Asy’ariyyah sebagai akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Oleh karena sangat banyak, maka kita tidak hendak mengutip semuanya, namun paling tidak beberapa yang akan kita sebutkan di bawah ini adalah sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang memegang teguh akidah Asy’ariyyah bahwa mereka berada di dalam kebenaran.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ (المائدة: 54)

“Wahai sekalian orang beriman barang siapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah, mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada sesama orang mukmin dan sangat kuat -ditakuti- oleh orang-orang kafir. Mereka kaum yang berjihad dijalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap cacian orang yang mencaci-maki”. QS. al-Ma’idah: 54

Dalam sebuah hadits Shahih diriwayatkan bahwa ketika turun ayat ini, Rasulullah memberitahukan sambil menepuk pundak sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya bersabda: “Mereka (kaum tersebut) adalah kaum orang ini!”.

Dari hadits ini para ulama menyimpulkan bahwa kaum yang dipuji Allah dalam ayat di atas tidak lain adalah kaum Asy’ariyyah. Karena sahabat Abu Musa al-Asy’ari adalah moyang dari al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Dalam penafsiran firman Allah di atas: (Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah) QS. Al-Ma’idah: 54, al-Imam Mujahid, murid sahabat ‘Abdullah ibn ‘Abbas, berkata: “Mereka adalah kaum dari negeri Saba’ (Yaman)”. Kemudian al-Hafizh Ibn ‘Asakir dalam Tabyin Kadzib al-Muftari menambahkan: “Dan orang-orang Asy’ariyyah adalah kaum berasal dari negeri Saba’” (Tabyin Kadzib al-Muftari Fi Ma Nusiba Ila al-Imam Abi al-Hasan al-Asy’ari, h. 51).

Penafsiran ayat di atas bahwa kaum yang dicintai Allah dan mencintai Allah tersebut adalah kaum Asy’ariyyah, telah dinyatakan pula oleh para ulama terkemuka dari para ahli hadits lainnya, selain al-Hafizh Ibn ‘Asakir. Namun, lebih dari cukup bagi kita bahwa hal itu telah dinyatakan oleh al-Imam al-Hafizh Ibn ‘Asakir dalam kitab Tabyin Kadzib al-Muftari. Beliau adalah seorang ahli hadits terkemuka (Afdlal al-Muhaditsin) di seluruh daratan Syam (sekarang Siria, Palestina, Lebanon, Yordania) pada masanya.

Al-Imam Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah menuliskan:

“Ibn ‘Asakir adalah termasuk orang-orang pilihan dari umat ini, baik dalam ilmunya, agamanya, maupun dalam hafalannya. Setelah al-Imam ad-Daraquthni tidak ada lagi orang yang sangat kuat dalam hafalan selain Ibn ‘Asakir. Semua orang sepakat akan hal ini, baik mereka yang sejalan dengan Ibn ‘Asakir sendiri, atau mereka yang memusuhinya” (Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 3, h. 364).

Lebih dari pada itu, al-Hafizh Ibn ‘Asakir sendiri dalam kitab Tabyin tersebut telah mengutip pernyataan para ulama hadits terkemuka (huffazh al-hadits) sebelumnya yang telah menafsirkan ayat tersebut demikian. Di antaranya adalah seorang ahli hadits terkemuka yang merupakan pimpinan mereka; al-Imam al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi, penulis kitab Sunan al-Baihaqi.

Al-Hafizh Ibn ‘Asakir dalam Tabyin Kadzib al-Muftari menuliskan pernyataan al-Imam al-Baihaqi dengan sanad-nya dari Yahya ibn Fadlillah al-‘Umari, dari Makky ibn ‘Allan, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami al-Hafizh Abu al-Qasim ad-Damasyqi, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Syaikh Abu ‘Abdillah Muhammad ibn al-Fadl al-Furawy, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami al-Hafizh Abu Bakar Ahmad ibn al-Husain ibn ‘Ali al-Baihaqi, berkata:

“Sesungguhnya sebagian para Imam kaum Asy’ariyyah, –Semoga Allah merahmati mereka–, memberikan pelajaran kepada kami tentang sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Iyadl al-Asy’ari, bahwa ketika turun firman Allah: (Fa Saufa Ya’tillahu Bi Qaumin Yuhibbuhum Wa Yuhibbunahu…) QS. Al-Ma’idah: 54, Rasulullah berisyarat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya berkata: “Mereka adalah kaum orang ini”. Bahwa dalam hadits ini terdapat isyarat akan keutamaan, keagungan dan derajat kemuliaan bagi al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Karena tidak lain beliau adalah berasal dari kaum dan keturunan sahabat Abu Musa al-Asy’ari. Mereka adalah kaum yang diberi karunia ilmu dan pemahaman yang benar. Lebih khusus lagi mereka adalah kaum yang memiliki kekuatan dalam membela sunnah-sunnah Rasulullah dan memerangi berbagai macam bid’ah. Mereka memiliki dalil-dalil yang kuat dalam memerangi bebagai kebatilan dan kesesatan.

Dengan demikian, pujian dalam ayat di atas terhadap kaum Asy’ariyyah bahwa mereka kaum yang dicintai Allah dan mencintai Allah, adalah karena telah terbukti bahwa akidah yang mereka yakini sebagai akidah yang hak, dan bahwa ajaran agama yang mereka bawa sebagai ajaran yang benar, serta terbukti bahwa mereka adalah kaum yang memiliki kayakinan yang sangat kuat. Maka siapapun yang di dalam akidah mengikuti ajaran-ajaran mereka, artinya dalam konsep keyakinan meniadakan keserupaan bagi Allah dengan segala makhluk-Nya, dan dalam metode memegang teguh al-Qur’an dan Sunnah, sesuai dan sejalan dengan faham-faham Asy’ariyyah maka ia berarti termasuk dari golongan mereka” (Tabyin Kadzib al-Mufari, h. 49-50. Tulisan al-Hafizh Ibn ‘Asakir ini dikutip pula oleh Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 3, h. 362-363).

Al-Imam Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra mengomentari pernyataan al-Imam al-Baihaqi di atas, beliau berkata sebagai berikut:

“Kita katakan; -tanpa kita memastikan bahwa ini maksud Rasulullah-, bahwa ketika Rasulullah memukul punggung sahabat Abu Musa al-Asy’ari, sebagaimana dalam hadits di atas, seakan beliau sudah mengisyaratkan adanya kabar gembira bahwa kelak akan lahir dari keturunannya yang ke sembilan yaitu al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Sesungguhnya Rasulullah itu dalam setiap ucapannya terdapat berbagai isyarat yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang yang mendapat karunia petunjuk Allah. Dan mereka itu adalah orang yang kuat dalam ilmu (ar-Rasikhun Fi al-‘Ilm) dan memiliki mata hati yang cerah. Firman Allah: (Seorang yang oleh Allah tidak dijadikan petunjuk baginya, maka sama sekali ia tidak akan mendapatkan petunjuk) QS. An-Nur: 40” (Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 3, h. 363).

Al Hamdulillah, Allah telah mengaruniakan iman dan tauhid yang suci ini kepada kita dengan mengenal Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah di atas jalan al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Read More >>

Pluralisme Agama dan Freemason

Posted in
by Unknown

Oleh: Anggota WLML

Pluralisme Agama dan Gerakan Freemason ( gerakan bawah tanah yahudi / Knight Templar) 
Wednesday, 30 November 2005 23:50 

Istilah pluralisme agama tak hanya terjadi belakangan saja, istilah itu sudah pernah dikampanyekan gerakan freemanson dan theosofi dengan doktrin “Semper, ubique et ab omnibus”. (bagian pertama tulisan)

Kamis, 1 Desember 2005 
Oleh: Adnin Armas, MA *) 


Paham yang mengatakan pada inti semua agama adalah sama tidak terlepas dari pengaruh Freemason. Gerakan ini bermula ketika pengikut Freemason membentuk gerakan The Theosophical Society. Dalam perkembangannya, The Theosophical Society ikut menyumbang bagi terwujudnya hikmah abadi (sophia perennis). Pemikiran para tokoh Sophia Perennis seperti Rene Guénon dan Frithjof Schuon tidak terlepas dari ajaran dalam Freemason.

Freemason dan Teosofi

Freemason menurut Encyclopaedia of Religion and Ethics (New York), adalah sistem moral khusus, ditutupi dengan kiasan serta diilustrasikan dengan simbol-simbol. Para sejarawan dari kalangan Freemason berpendapat paling tidak terdapat 3 teori yang menjelaskan sebab-musabab munculnya Freemason.

Pertama, Freemason muncul sangat lama sekali seiring dengan klaim ritual Freemason itu sendiri, yaitu ketika Raja Salomo mendirikan Bait Suci dan Freemason sampi kepada kita sehingga kini sekalipun mekanismenya tidak diketahui.

Kedua, Freemason adalah hasil dari karya para pembuat bangunan pada zaman pertengahan. Ketiga, ritual Freemason berasal dari Laskar Kristus yang menjaga Bait Suci Salomo (King Solomon’s Temple) atau dikenal juga sebagai Ksatria Bait Suci (Knight Templar). (baca Christopher Knight & Robert Lomas, The Hiram Key: Pharaohs, Freemasons and the Discovery of the Secret Scrolls of Jesus).

Freemason telah tersebar di benua Eropa. Salah satu fakta awal yang tertulis menunjukkan bahwa cabang Freemason telah ada di Inggris pada tahun 1641.

Robert Moray, salah seorang keluarga raja (Royal family), telah masuk menjadi anggota Freemason di Edinburgh pada tanggal 20 Mei 1641.

Selain itu, Elias Ashmole, masih dalam lingkungan keluarga Raja Inggris, menulis dalam buku diarinya bahwa ia telah menjadi anggota Freemason di Lancashsire, pada tanggal 16 Oktober 1646. (Francis A. Yates, The Rosicrucian Enlightenment).

Babak baru perkembangan Freemason adalah pada tanggal 24 Juni 1717. Sebabnya, pada tanggal tersebut Freemason telah menjadi organisasi Nasional dengan didirikannya Grand Lodge of England, yang merupakan gabungan dari 4 cabang Freemason. Para pengikut Freemason dalam Grand Lodge of England akan mengikuti agama yang semua manusia setuju… yaitu, menjadi Manusia yang Baik dan Benar (Religion is which all men agree… that is, to be Good Men and True).

Dengan terbentuknya Grand Lodge of England, gerakan Freemason semakin merebak sehingga berkembang melintasi benua Eropa sehingga ke benua Amerika.

George Washington, yang menjadi President pertama Amerika Serikat pada tanggal 30 April 1789 adalah seorang anggota Freemason. Selain itu, para penanda tangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika yang ditandatangani pada tanggal 4 Juli 1778 oleh William Hoper, Benjamin Franklin, Matthew Thornton, William Whipple, John Hancock, Phillip Livinston dan Thomas Nelson, kesemua mereka adalah pengikut Freemason.

Semua Agama Sama

Setelah mengurai sejarah Freemason dengan sangat ringkas, ada baiknya kita melihat bagaimana pengikut Freemason ikut mempelopori terbentuknya paham yang menyamakan agama.

George Felt, seorang Freemason Yahudi, pada tanggal 7 September 1875 memberikan kuliah tentang “The Lost Canon of Proportion of the Egyptians,” di apartment Helena Petrovena Blavatsky (1831-1891), seorang aristokrat Rusia yang meninggalkan suami dan kemewahan harta karena merantau ke pegunungan Tibet selama bertahun-tahun.

George Felt memfokuskan materi kuliahnya kepada penafsiran mistis tehadap ajaran (tradisi) Mesir yang hilang. Salah seorang peserta yang mengikuti kulian tersebut, Henry Steel Olcott, seorang pengikut Freemason di New York, mengusulkan supaya semua peserta (berjumlah 17 orang) yang telah mengiktui kuliah George Felt agar membentuk sebuah kelompok yang akan meneliti lebih mendalam lagi mengenai tradisi kuno.

Blavatsky, guru Olcott menyetujui proposal tersebut. Sotheran, seorang Freemason, mengusulkan nama The Theosophical Society (Masyarakat Teosofis) bagi kelompok tersebut.

Akhirnya, pada tanggal 17 November, 1875 diadakan pertemuan dengan 18 orang (termasuk George Felt) dan pada tanggal itu ditetapkan sebagai awal berdirinya The Theosophical Society.

Dalam pidatonya peresmiannya, kolonel Henry Steel Olcott (1832-1907), berharap kelompok tersebut akan membuat penelitian dalam perbandingan agama dan juga untuk menemukan “ancient wisdom,” khususnya dalam sumber sumber primer dari semua agama, buku-buku Hermes dan Veda (primeval source of all religions, the books of Hermes and the Vedas), dengan perkataan lain dalam Filsafat Abadi.

Setelah kematian Olcott pada tahun 1907, posisi ketua dipegang oleh Annie Wood Besant (1847-1933). Besant, berasal dari Inggris, masuk menjadi anggota Theosophical Society pada tahun 1889 dan menjadi ketua gerakan tersebut dari tahun 1907 sampai akhir hidupnya (1933).

Menurut Besant, teosofi ataupun agama universal (universal religion) dibangun atas 2 fondasi, yaitu Tuhan sebagai immanent sekaligus transendent dan solidaritas atau persaudaraan semua manusia.

Sebuah doktrin keagamaan akan diuji dengan prinsip "Semper, ubique et ab omnibus" (Selalu, dimana saja dan dari semua). Besant juga merumuskan ajaran teosofis sebagai berikut: (1) the unity of God (kesatuan Tuhan). Ajaran mendasar dari teosofi sebagaimana semua agama adalah kebenaran agama universal. (2) The Trinity of the manifested God (Inkarnasi Tuhan dalam Trinitas) Tuhan termanifestasikan sebagi Logos. (3) The hierarchy of beings (tingkatan wujud). (4) Universal brotherhood (persaudaraan universal), yang berbeda dengan konsep ‘kesetaraan’ (equality) ataupun ‘demokrasi’ (democracy).

Besant juga menyatakan tujuan masyarakat Teosofis adalah mengajarkan kepada pengikutnya bahwa agama-agama adalah ungkapan dari hikmah ilahi yang lahir dan berasal dari zat yang satu. Oleh sebab itu, keragaman dan perbedaan dalam manifestasi lahiriah dan bentuk bukanlah inti dari ajaran agama. Semua agama memiliki keaslian dan kebenaran karena berasal dari zat yang satu.

Ringkasnya, sejak dibentuk oleh 18 orang anggota di New York, The Theosophical Society telah berkembang menjadi organisasi internasional.

Pada tahun 1879, markasnya dipindahkan ke Bombay, India. Tiga tahun setelah itu (1882), markasnya sekali lagi dipindahkan ke Adyar, pinggiran Madras. Akhir abad 19, The Theosophical Society telah memiliki 500 cabang dalam 40 Negara di Asia dan Barat, termasuk cabang yang ada di Perancis, yand diikuti oleh Gérard Encausse (m. 1916) pada tahun 1887.
Read More >>

Teror, Bom, RUU, Sandiwara, Pembohong

Posted in Minggu, 03 April 2011
by Unknown

Teror, Bom, RUU, Sandiwara, Pembohong             Gara-gara  pesantren dikirimi  paket mencurigakan mirip bom, Sufi Sudrun, Sufi Kenthir, Sufi Jadzab, Sufi Gelandangan, Dullah, Dul Gawul, dan Sufi tua membincang tentang perlu dan tidak perlunya paket itu ...dilaporkan ke pihak berwajib. Namun akibat tidak pernah membahas hal bersifat kebendaan, perbincangan tentang paket itu jadi tidak jelas arahnya apalagi Sufi Kenthir dengan tiga-empat orang santri mengiringi perbincangan itu dengan lagu  “panggung sandiwara”  dan musik dapur – piring seng, panci bocor, galon kosong, kardus mie instant, gelas alumunium dan sendok – yg ditabuh sekenanya.             Sufi Sudrun mula-mula menyatakan bahwa laporan ke polisi tidak dibutuhkan, karena keberadaan paket itu belum pasti berisi bom. “Kita tidak boleh su’u dzon terhadap sesuatu. Sebab sekali kita su’u dzon, kita memberi peluang kepada setan untuk membuat hati kita was-was,” kata Sufi Sudrun.             “Tapi kalau isi paket itu benar-2 bom bagaimana?” sergah Dullah dengan suara tinggi.             “Aku jamin paket itu tidak berisi bom,” tukas Sufi Jadzab menyela,”Soalnya, menurut temanku, Si Sapuregel, semua bom itu dibikin dengan tujuan untuk main sandiwara. Dalam skenario, bom paketan itu tidak akan dikirim ke pesantren-pesantren bulukan berisi orang-orang melarat, orang-orang terlantar, anak-anak yatim, orang-orang penyakitan, dan orang-orang yang sedikit gila.”             “Maaf Pakde, teman sampeyan Si Sapuregel itu siapa? Apa dia itu anggota intelijen?” tanya Dullah penasaran,”Kok kayaknya dia tahu banyak soal teror bom.”             “Sapuregel itu, kepala bangsa jin di ibukota,” kata Sufi Jadzab polos,”Segala hal yang terjadi di ibukota, pasti Sapuregel tahu.”             “Waduh Pakde, kita ini bicara bom, jangan melibatkan jin, setan, demit, pocong, gendruwo, kuntilanak,” sahut Dullah jengkel.             “Kamu jangan berpandangan sekuler, Dul,” sahut Sufi tua menyela,”Omongan Pakde tentang Sapuregel, aku yakin itu benar. Soalnya, aku juga kenal dengan penguasa ibukota itu kok. Yang perlu kita telusuri, untuk apa orang-orang bikin teror bom. Sapuregel harus menjelaskan itu.”             “Benar itu,” sahut Sufi Kenthir ikut bicara,”Ayo Pakde, tanya Si Sapuregel tentang latar di balik orang-orang bermain sandiwara dengan bom yang mencelakakan orang itu.”             Sufi Jadzab celingukan. Sebentar kemudian, ia meminta Sufi Kenthir dan para santri untuk menyanyi lagu “panggung sandiwara” dengan iringan musiknya. Setelah lagu dinyanyikan, Sufi Jadzab berkata lantang,”Sapuregel bilang, skenario sandiwara itu diberi judul “RUU Intelijen Negara”. Menurut Sapuregel, skenario itu ditulis atas pesanan Empire Global dalam rangka memuluskan program globalisasi dengan a global open society-nya. Kata Sapuregel, pasal-pasal di dalam RUU itu memberikan kewenangan kepada intelijen negara  untuk masuk ke ranah privasi orang seorang. Misalnya, dalam pasal 31  intelijen diberi kewenangan untuk melakukan intersepsi komunikasi seseorang seperti menyadap telepon, menyerobot faksimile, membuka e-mail, mengontrol facebook dan twitter, mengawasi blog dan website, memeriksa surat dan paket, yanag diduga berkaitan dengan separatisme dan terorisme.”             “Waduh Pakde, apa itu ada kaitannya dengan pernyataan Menkominfo yang mempersilahkan badan intelijen untuk mengawasi dan mengontrol facebook dan twitter?” tanya Sufi Sudrun.             “Apa itu ada hubungan dengan rencana pembentukan Detasemen Anti-Anarkis?” tanya Dullah.             “Iya ya,  jangan-jangan teroris yang merampok bank dan nembak polisi itu  juga bagian dari sandiwara ya?” sahut Dul Gawul ragu-ragu dan ingin tahu jawaban  yang pasti,”Jangan-jangan uztadz Abu Bakar al-Wahab  yang diadili dengan tuduhan kampiun teroris itu  juga bagian dari  sandiwara yang sudah dirancang. Bagaimana itu Pakde?”             “Kok kebetulan ya, Umar Pateken juga katanya ketangkap di Pakis Wetan – Pakistan. Itu  baru kabar lho, benar tidaknya belum ada yang pasti,” sahut Sufi Sudrun.             “Wah soal itu semua aku belum tanya Sapuregel,” kata Sufi Jadzab ketawa terkekeh-kekeh, ”Katanya dia juga lagi sibuk ngawasi sutradara mengatur peran para pemain sesuai skenario. Tapi menurut dia, kisruh soal teroris merampok bank, teroris nembak polisi, teroris latihan perang, menangkap dan mengadili ustadz teroris, bom buku, isu paket bom, pelajar jadi teroris; pendek kata segala kekisruhan yang berkaitan dengan teroris, ujungnya adalah pengabsahan RUU Intelijen Negara menjadi UU. ”             “Kalau RUU Intelijen Negara jadi disahkan, demokrasi akan hancur. Kebebasan akan gulung tikar. Yang muncul adalah rezim tiranik. Soalnya, penguasa bisa berbuat apa saja terhadap masyarakat atas nama UU. Itu alamat kekuasaan Shogunat yang pernah diterapkan di negeri ini pada 1942 – 1945, bakal terulang lagi dengan kenpetai-kenpetai yang lebih ganas dan buas serta brutal.  Apa mungkin pemerintah yang katanya reformis itu justru menjadi penghancur demokrasi?”  Sufi Gelandangan mengomentari.             “Tidak ada yang tidak mungkin dalam kehidupan di dunia ini. Apalagi di masa datang, semua DEMOKRASI  akan disulap menjadi DEMOKERASI, maksudnya, siapa yang  ‘demo akan dikerasi’: disergap, diborgol, dijotosi, dikepruki,  ditendang, dibanting, diinjak-injak, dicekik, dibedhil, ditusuk sangkur, dimutilasi, sampai diledakkan dengan bom,” kata Sufi tua dengan suara tinggi.             “Jangan mendramatisasi keadaan mbah,” sahut Dullah lantang.             “Siapa yang mendramatisasi keadaan?” sahut Sufi tua berusaha menjelaskan sedikit  informasi yang dimilikinya tentang  skenario global yang dijalankan Empire Global,”Asal tahu saja,  untuk masa datang dunia  tidak butuh lagi  demokrasi. Sebab pasca runtuhnya komunisme, yang dibutuhkan Kapitalisme Global adalah stabilitas sosial dan politik di berbagai negara, dengan target utama  menjaga dan memelihara  keselamatan aset-aset mereka.  Itu berarti, aparatur ‘negara-negara bawahan’ yang berkedudukan state capitalism, menjalankan fungsi utama menjaga dan melindungi aset-aset Kapitalisme Global dari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan.”             “Lha, bagaimana nasib  konsep Nation dan Nation-state, mbah?” tanya Dullah ingin tahu.             “Di era global dengan a global open society-nya, konsep  nation dan nation state   akan runtuh sendiri digantikan konsep A global open  Society dengan Multi National Corporation (MNC)  dan Trans National Corporation (TNC),   di mana state (negara) kedudukannya diubah menjadi semacam counter atau  mall, bagian dari a global free market,  tempat orang  menjual komoditi-komoditi  yang diproduksi kapitalisme global  sekaligus posko keamanan yang dibutuhkan untuk menjaga dan melindungi  MNC dan TNC beserta seluruh operasionalnya.  Yang pasti, ke depan nanti  term  Classical Capitalism  akan  berubah menjadi  Compassionate Capitalisme, yang akan diikuti perubahan liberalism menjadi new-liberalism,   democracy  menjadi democrazy, ‘demokrasi’  menjadi ‘demokerasi’, ‘negara bangsa’  menjadi ‘negara bangsa-t’, yang semua  prioritasnya adalah  : STABILITAS!” kata Sufi tua disambut ketawa ngakak Sufi Jadzab, Sufi Kenthir, Sufi Sudrun, Sufi gelandangan, dan Dul Gawul.            Sufi tua mengambil paket kiriman dan kemudian membukanya. Isinya ternyata jenang Kudus, dodol Garut, Bakpia Pathuk, Tahu Sumedang, Peyeum Bandung kiriman dari  Sufi Slendro. Setelah dibagi rata, semua makan dengan lahap  diiringi  nyanyian Sufi Kenthir ‘panggung sandiwara’ dengan musik dapur. Entah kesurupan setan dari mana, tiba-tiba Dullah berteriak,”Semua ternyata hanya  kebohongan yang mengikuti skenario  bohong-bohongan, dimainkan oleh para pembohong di bawah arahan sutradara termasyhur:  SI DEWA BOHONG!”Lihat Selengkapnya
Read More >>

Sufi Wanita Sayyidah Nafisah Yang Dicintai Warga Mesir

Posted in
by Unknown
Wawan Junaidy

Sayyidah Nafisah ialah salah satu keturunan Rasulullah s.a.w.. Beliau puteri Imam Hasan al-Anwar bin Zaid al-Ablaj bin Imam Hasan bin Imam Ali r.a.. Beliau lahir di Makkah, pada 11 Rabiulawal 145H, hidup dan besar di Madinah, meninggal di Mesir.

Hijrah Ke Mesir
Demi keamanan dan ketenangan hidup Sayyidah Nafisah berhijrah ke Mesir bersama suami beliau, Ishaq al-Mu’tasim bin Ja’far as-Siddiq, pada tahun 193H, setelah sebelumnya ziarah ke makam Nabi Ibrahim a.s.. Di Mesir beliau tinggal di rumah Ummi Hani’.

Sayyidah Nafisah menetap di Mesir selama 7 tahun. Penduduk Mesir sangat menyayangi beliau dan percaya akan karamah beliau. Mereka selalu berduyun-duyun mendatangi Sayyidah Nafisah, berdesakan mendengarkan mauizah dan memohon doa beliau. Hal ini membuat suami beliau berfikir untuk mengajaknya pindah ke tanah Hijaz, namun beliau menolak dan menjawab: “Aku tidak bisa pergi ke Hijaz karena aku bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Beliau berkata kepadaku: “Janganlah kamu pergi dari Mesir karena nanti Allah akan mewafatkanmu di sana (di Mesir).”
Pribadinya

Sayyidah Nafisah adalah seorang yang sangat kuat beribadah kepada Allah. Siang hari beliau berpuasa sunat sedangkan pada malamnya beliau bertahajjud menghidupkan malam dengan berzikir dan membaca Al Quran. Sayyidah Nafisah sungguh zuhud dengan kehidupannya. Hatinya langsung tidak terpaut dengan kehidupan dunia yang menipu daya. Jiwa beliau rindu dengan syurga Allah dan sangat takut dengan neraka Allah. Disamping itu Sayyidah Nafisah adalah sosok sangat taat kepada suami. Beliau sangat mematuhi perintah suami dan melayan suami beliau dengan sebaik-baiknya.

Sayyidah Nafisah adalah seorang yang terkenal zuhud dan mengasihi manusia yang lain. Pernah satu ketika, beliau menerima uang sebanyak 1000 dirham dari raja untuk keperluan dirinya. Beliau telah membagikan uang tersebut kepada fakir miskin sebelum sempat memasuki rumahnya. Uang hadiah dari raja itu sedikit pun tidak beliau ambil untuk kepentingan dirinya. Semuanya disedekahkan kepada fakir dan miskin. Demikianlah dermawannya Sayyidah Nafisah terhadap fakir miskin.
Keutamaannya

Sayyidah yang mulia ini sudah mendapatkan keutamaan sejak kecil. Suatu ketika, demikian al-Hafiz Abu Muhammad dalam kitabnya Tuhfatul Asyraf bercerita: Al-Hasan, ayahanda Sayyidah Nafisah membawa Nafisah semasa kecil ke makam Rasulullah s.a.w.. Di sini sang ayah berkata : “Tuanku, Bagindaku Rasulullah, ini puteriku. Aku ridha dengannya. Kemudian keduanya pulang. Di malam hari sang ayah bertemu Rasulullah bersabda: “Wahai Hasan Aku ridha dengan puterimu Nafisah kerana keridhaanmu itu. Dan Allah SWT juga ridha kerana ridhaku itu.”

Salah satu keutamaan Sayyidah Nafisah adalah selama hidupnya beliau telah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 4000 kali. Selain itu, meskipun tinggal jauh dari tanah suci, beliau melakukan ibadah haji sebanyak 17 kali.

Sayyidah Nafisah dan Imam Syafie
Sejarah sepakat mengatakan bahawa Sayyidah Nafisah semasa dengan Imam Syafie. Keduanya saling menghormati. Di ceritakan bahawa Imam Syafie meriwayatkan hadis dari Sayyidah Nafisah. Setiap berkunjung ke kediaman Sayyidah Nafisah Imam Syafie dan pengikutnya sangat menjunjung tinggi adab sopan santun terhadap beliau.

Imam Syafie setiap tertimpa penyakit selalu mengirim utusan ke Sayyidah Nafisah agar berkenan mendoakannya dengan kesembuhannya. Dan benar, setelah itu Imam Syafie mendapatkan kesembuhan. Ketika Imam Syafie tertimpa penyakit yang menyebabkan beliau wafat, Sayyidah Nafisah berkata pada utusan Imam Syafie: “Semoga Allah memberikan kenikmatan pada Syafie dengan melihat wajahNya yang mulia.”
Read More >>

Hidangan Populer Warkop Pusat

Copyright 2011 @ Warkop Mbah Lalar