Tekstualitas Kaum Asy'ariyyah

Posted in Rabu, 19 Oktober 2011
by Mbah Lalar

Dalil Tekstual Kebenaran Asy'ariyyah Sebagai Ahlussunnah Wal Jama'ah


Hadits Shahih Riwayat al-Bukahri Dan Muslim Dari Sahabat ‘Imran ibn al-Hushain

Dalam sebuah hadits shahih dari sahabat Imran ibn al-Hushain berkata: Suatu ketika aku mendatangi Rasulullah, aku ikatkan untaku di belakang pintu, lalu aku masuk. Tiba-tiba datang sekelompok orang dari Bani Tamim, lalu Rasulullah berkata kepada mereka: “Terimalah kabar kembira wahai Bani Tamim!”. Lalu Bani Tamim menjawab: “Engkau telah banyak memberi kabar gembira kepada kami, berilah kami yang lain!”. Setelah itu kemudian datang datang sekelompok orang dari Yaman. Lalu Rasulullah berkata kepada mereka: “Terimalah kabar gembira wahai penduduk Yaman, karena saudara-saudaramu dari Bani Tamim tidak mau menerimanya”. Kemudian orang-orang dari peneduduk Yaman tersebut menjawab: “Kami menerimanya wahai Rasulullah, dan sesungguhnya kami datang kepadamu untuk belajar tentang agama, juga hendak bertanya kepadamu tentang permulaan alam ini bagaimanakah kejadiannya?”. Lalu Rasulullah menjawab:

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ كَتَبَ فِي الذّكْرِ كُلَّ شَيءٍ ثُمّ خَلَقَ السّمَوَاتِ وَالأرْضَ (رواه البخاري ومسلم)

Maknanya: “Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan (Azaly), tidak suatu apapun pada azal selain Dia. Dan adalah arsy-Nya berada di atas air. Kemudian Dia menuliskan di atas adz-Dzikr (al-Lauh al-mahfuzh) segala sesuatu, lalu Dia menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ada penjelasan yang sangat penting terkait dengan hadits ini, sebagai berikut:

Satu: Kualitas hadits ini shahih diriwayatkan oleh banyak ahli hadits, di antaranya al-Imâm al-Bukhari, al-Imâm Muslim, al-Imâm al-Bayhaqi, al-Imâm Ibn al-Jarud dan lainnya. Cukup bagi kita tentang ke-shahih-annya bahwa hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Mulim dalam kedua kitab Shahîh-nya. Bahkan al-Bukhari mengutip hadits ini dari berbagai jalur sanad dari al-A’masy, yang tentunya seluruh jalur sanad tersebut adalah shahih. Al-Imâm al-Bukhari sendiri meletakan hadits ini dalam kitab Shahîh-nya pada urutan pertama dalam sub judul “Bab tentang kedatangan kaum Asy’ariyyah dan para penduduk Yaman”.

Dua: Pertanyaan orang-orang Asy’ariyyah kepada Rasulullah tentang permulaan alam bagaimanakah kejadiannya, memberikan pelajaran kepada kita bahwa sebenarnya unsur-unsur Ilmu Kalam sudah berkembang sejak zaman Rasulullah. Dengan demikian sama sekali tidak berdasar pendapat yang mengatakan bahwa Ilmu Kalam sebagai ilmu yang tercela atau bid’ah sesat yang tidak pernah ada di masa Rasulullah dan para sahabatnya.

Tiga: Pertanyaan orang-orang Asy’ariyyah kepada Rasulullah tentang permulaan alam memberikan petunjuk kepada kita bahwa Ilmu Kalam semacam itu yang telah mereka wariskan kepada anak cucu mereka dalam membahas segala permasalahan-permasalahan yang terkait dengan Ilmu Kalam itu sendiri. Artinya bahwa tradisi memperdalam Ilmu Kalam sudah dimulai oleh para sahabat Rasulullah, terutama oleh kaum Asy’ariyyah yang kemudian tradisi tersebut turun temurun di antara mereka hingga kemudian datang Imam Ahlussunnah; yaitu al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari yang telah berhasil memformulasikan Ilmu Kalam secara menyeluruh.

Empat: Pertanyaan kaum Asy’ariyyah kepada Rasulullah tentang bagaimanakah kejadian alam memberikan pemahaman kepada kita bahwa dasar akidah yang telah diyakini sepenuhnya oleh kaum Asy’ariyyah adalah bahwa alam; atau segala sesuatu selain Allah adalah makhluk Allah yang semua itu memiliki permulaan. Artinya, sebelum mereka menghadap Rasulullah mereka sudah memiliki keyakinan kuat bahwa alam ini memiliki permulaan (hâdits), karena itu mereka bertanya bagaimana permulaan kejadian alam tersebut. Keyakinan ini; bahwa alam ini baru adalah dasar akidah yang telah diyakini dan diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Di kemudian hari, akidah ini; bahwa alam baharu adalah akidah yang gigih diperjuangkan oleh al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari saat beliau berhadapan dengan kaum filsafat, Dahriyyah, dan kelompok sesat lainnya..

Lima: Hadits ini memberikan petunjuk kepada kita bahwa segala sesuatu adalah makhluk Allah. Sebelum Allah menciptakan makhluk-makhluk tersebut tidak ada apapun selain-Nya. Tidak ada bumi, tidak ada langit, tidak ada kursi, tidak ada arsy, tidak ada waktu, tidak ada tempat, dan tidak ada apapun, bahwa yang ada hanya Allah saja. Artinya, bahwa hanya Allah yang tidak memiliki permulaan (Azalyy). Dengan demikian hadits ini merupakan bantahan atas kaum filsafat yang mengatakan bahwa alam ini tidak bermula (Qadîm).

Enam: Hadits ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, karena tempat dan arah adalah makhluk Allah. Sebelum menciptakan tempat dan arah Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, maka demikian pula setelah menciptakan tempat dan arah Allah tetap ada tanpa tempat dan tanpa arah, karena Allah tidak membutuhkan kepada ciptaan-Nya sendiri.

oleh Abou Fateh