khilafah

Posted in Sabtu, 13 Agustus 2011
by Mbah Lalar


Jika ada orang bertanya, golongan mana di antara sekian banyak aliran dalam Islam yang paling tinggi khayalannya? Tentu jawabannya adala golongan Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir patut mendapat piala, sebagai aliran pengkhayal kelas berat. Mengapa demikian? Karena obsesi mereka tentang tegaknya khilafah al-nubuwwah (sistem pemerintahan idealis yang menjalankan aturan agama secara paripurna atau kaaffah), tidak sesuai dengan realitas masyarakat Islam internasional, dan tidak sesuai dengan dalil-dalil agama yang otoritatif dalam al-Qur’an dan Sunnah.
Ketika Anda bertanya kepada aktifis Hizbut Tahrir, apa dalil Anda tentang keharusan menegakkan khilafah al-nubuwwah yang menjadi obsesi Anda untuk masa depan? Tentu saja, jawaban mereka pasti mengarah kepada tiga dalil.
Dalil pertama) adalah hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah: Nabi SAW bersabda: “Kaum Bani Israil selalu dipimpin oleh para nabi. Setiap ada nabi meninggal, maka akan diganti oleh nabi berikutnya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Dan akan ada para khalifah yang banyak.” Mereka bertanya: “Apakah perintahmu kepada kami?” Beliau menjawab: “Penuhilah dengan membai’at yang pertama, lalu yang pertama. Penuhilah kewajiban kalian terhadap mereka, karena sesungguhnya Allah akan menanyakan mereka tentang apa yang menjadi tanggung jawab mereka”.
Hadits di atas tidak mendukung obsesi Hizbut Tahrir tentang tegaknya khilafah. Menurut al-Imam al-Nawawi, hadits di atas termasuk mukjizat yang jelas bagi Nabi r, dimana beliau mengabarkan tentang banyaknya para khalifah yang akan memimpin umatnya sesudahnya. Kenyataannya, sesudah beliau wafat, umat Islam memang dipimpin oleh para khalifah. Pendeknya, hadits di atas bukan perintah menegakkan khilafah al-nubuwwah.
Dalil Kedua) hadits Hudzaifah bin al-Yaman, bahwa Nabi SAW bersabda: “Kenabian akan menyertai kalian selama Allah menghendakinya, kemudian Allah SWT mengangkat kenabian itu bila menghendakinya. Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian dalam waktu Allah menghendakinya. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya. Kemudian akan datang kerajaan yang menggigit dalam waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya dan diganti dengan kerajaan yang memaksakan kehendaknya. Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian. Lalu Nabi SAW diam”. (HR. Ahmad, al-Bazzar dan al-Baihaqi).
Menurut Hizbut Tahrir, hadits di atas telah membagi kepemimpinan umat Islam pada empat fase. Pertama, fase kenabian yang dipimpin langsung oleh Nabi SAW. Kedua, fase khilafah yang sesuai dengan minhaj al-nubuwwah yang dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin. Ketiga dan keempat, fase kerajaan yang diktator dan otoriter. Dan kelima, fase khilafah al-nubuwwah yang sedang dinanti-natikan oleh Hizbut Tahrir.
Sudah barang tentu asumsi Hizbut Tahrir bahwa hadits di atas memberikan bisyarah kepada mereka tentang kembalinya khilafah al-nubuwwah yang mereka nanti-nantikan, adalah tidak benar. Karena para ulama ahli hadits sejak generasi salaf yang saleh telah menegaskan bahwa yang dimaksud dengan bisyarah khilafah al-nubuwwah pada fase kelima dalam hadits di atas adalah khilafahnya Umar bin Abdul Aziz, penguasa ke delapan dalam dinasti Bani Umayah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh perawi hadits Hudzaifah bin al-Yaman di atas, yaitu Habib bin Salim yang berkata:
“Habib bin Salim berkata: “Setelah Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, sedangkan Yazid bin al-Nu’man bin Basyir menjadi sahabatnya, maka aku menulis hadits ini kepada Yazid. Aku ingin mengingatkannya tentang hadits ini [yang aku riwayatkan dari ayahnya]. Lalu aku berkata kepada Yazid dalam surat itu: “Sesungguhnya aku berharap, bahwa Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang mengikuti minhaj al-nubuwwah sesudah kerajaan yang menggigit dan memaksakan kehendak.” Kemudian suratku mengenai hadits ini disampaikan kepada Umar bin Abdul Aziz, dan ternyata beliau merasa senang dan kagum dengan hadits ini.”
Di antara ulama yang menyatakan bahwa maksud khalifah dalam hadits di atas adalah Umar bin Abdul Aziz, adalah al-Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Bakar al-Bazzar, Abu Dawud al-Thayalisi, Abu Nu’aim al-Ashfihani, al-Hafizh al-Baihaqi, al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi, Syaikh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani (kakek Taqiyyuddin al-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir) dan lain-lain
Di sisi lain Nai SAW juga mengabarkan tentang masa khilafah al-nubuwwah (khilafah yang konsisten menerapkan ajaran Islam secara sempurna) sesudahnya yang hanya akan berjalan selama tiga puluh tahun.
“Sa’id bin Jumhan berkata: “Safinah menyampaikan hadits kepadaku, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pemerintahan Khilafah pada umatku selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu dipimpin oleh pemerintahan kerajaan.” Lalu Safinah berkata kepadaku: “Hitunglah masa kekhilafahan Abu Bakar (2 tahun), Umar (10 tahun) dan Utsman (12 tahun).” Safinah berkata lagi kepadaku: “Tambahkan dengan masa khilafahnya Ali (6 tahun). Ternyata semuanya tiga puluh tahun.” Sa’id berkata: “Aku berkata kepada Safinah: “Sesungguhnya Bani Umayah berasumsi bahwa khilafah ada pada mereka.” Safinah menjawab: “Mereka (Bani Umayah) telah berbohong. Justru mereka adalah para raja, yang tergolong seburuk-buruk para raja”. (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi).
Hadits di atas menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa kepemimpinan khilafah yang mengatur roda pemerintahan umat sesuai dengan ajaran kenabian (khilafah al-nubuwwah) dan menerapkan syariat Islam secara sempurna, hanya berjalan selama tiga puluh tahun, yaitu masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Agaknya berdasarkan hadits Hudzaifah di atas yang menjanjikan khilafah al-nubuwwah pada fase kelima, dan hadits Safinah yang membatasi khilafah al-nubuwwah dalam 30 tahun, beberapa ulama salaf seperti Imam Sufyan al-Tsauri dan Imam al-Syafi’i menegaskan bahwa khalifah itu hanya ada lima, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz.
Dalil Ketiga) tidak jarang dalam menjustifikasi visi dan misi perjuangan mereka untuk menegakkan khilafah tunggal di muka bumi, Hizbut Tahrir berargumentasi dengan ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang membawa bisyarah (kabar gembira) tentang kemenangan Islam menghadapi seluruh agama di seluruh dunia.
“Dialah Allah yang menjamin penyempurnaan cahaya-Nya dengan mengutus rasul-Nya (Muhammad) dengan membawa bukti- bukti yang jelas dan agama kebenaran (Islam) agar agama ini terangkat tinggi melebihi semua agama sebelumnya. Sungguh Allah pasti akan memenangkan agama-Nya walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai hal itu.” (QS. al-Taubah : 33).
Dalam sebuah hadits diterangkan, bahwa Mas’ud bin Qabishah berkata: “Marga Muharib ini menunaikan shalat shubuh. Setelah itu, seorang pemuda di antara mereka berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya negeri-negeri Timur dan Barat di seluruh bumi ini akan ditaklukkan oleh kalian (umat Islam), dan sesungguhnya para pegawainya akan masuk ke neraka kecuali orang yang takut kepada Allah dan menunaikan amanat”. (HR. Ahmad).
Hadits di atas dan hadits-hadits lain yang serupa menjadi bisyarah (kabar gembira) bagi umat Islam, bahwa mereka akan menaklukkan seluruh negeri di Barat dan Timur. Islam akan tersebar dan menguasai seluruh dunia, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Menurut Hizbut Tahrir, bisyarah dalam hadits di atas tidak mungkin menjadi kenyataan kecuali melalui sistem pemerintahan khilafah, dimana kaum Muslimin berada di bawah satu komando seorang pemimpin yang bernama khalifah. Tentu saja penafsiran Hizbut Tahrir terhadap ayat dan hadits di atas sangat meleset jauh. Mengapa? Karena ayat dan hadits-hadits di atas, baik secara tersirat maupun secara tersurat, tidak mengisyaratkan bahwa bisyarah tersebut akan terjadi ketika khilafah telah kembali ke tangan kaum Muslimin. Dalam hadits di atas Nabi SAW tidak bersabda: “Kabar gembira ini akan terjadi apabila kalian memperjuangkan tegaknya khilafah, atau kalian bersatu di bawah naungan khilafah.” Bahkan para ulama salaf justru menegaskan bahwa kejayaan dan kemenangan Islam menghadapi seluruh agama di muka dunia, seperti yang diisyaratkan dalam ayat al-Qur’an dan hadits-hadits di atas akan menjadi kenyataan ketika Nabi Isa AS turun ke dunia menjelang hari kiamat nanti, setelah Dajjal turun menyebarkan kesesatan dan kerusakan di seluruh muka bumi. Hal tersebut seperti dijelaskan dalam kitab Tafsir al-Thabari, Ibnu Katsir dan al-Durr al-Mantsur. Wallahu a’lam.
(Tulisan ini disadur dari buku HIZBUT TAHRIR DALAM SOROTAN, tulisan Ustadz Muhammad Idrus Ramli, aktivis LBM NU Jember, terbitan Bina ASWAJA Surabaya, Juni 2011).

Baca artikel pembanding disini