RA. KARTINI ; Sisi Lain.....

Posted in Kamis, 21 April 2011
by Mbah Lalar

Oleh: Anggota WLML/ Thoriqoh Alfisbuqi


Salah satu murid Mbah Kyai Sholeh Darat yang terkenal tetapi bukan dari kalangan ulama
adalah Raden Ajeng Kartini.
Karena RA Kartini inilah Mbah Sholeh Darat menjadi pelopor penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Jawa.
Menurut catatan cucu Kyai Sholeh Darat (Hj. Fadhilah Sholeh), RA Kartini pernah punya pengalaman
tidak menyenangkan saat mempelajari Islam.
Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Qur’an.
Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak,
RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat.
Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah.
RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.
Dalam sebuah pertemuan RA Kartini meminta agar Qur’an diterjemahkan karena menurutnya
tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.
Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan al-Qur’an.
Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis
dalam huruf “arab gundul” (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah.
Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman,
tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.
Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah
dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.
Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:
Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.
Saya tak mengerti sedikitpun maknanya.
Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang
sampai kepada makna tersiratnya,
sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa
yang saya pahami.”
{inilah dasar dari buku “Habis gelap terbitlah terang” bukan dari sekumpulan surat menyurat beliau,..
sejarah telah di simpangkan, (penulis red)}.
Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya:
Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqoroh: 257).
Dalam banyak suratnya kepada Abendanon,
Kartini banyak mengulang kata “Dari gelap menuju cahaya”
yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: “Door Duisternis Toot Licht.”
Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,”
yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.
Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai
karena Mbah Kyai Sholeh Darat keburu wafat.