Dari Kapitalisme, Developmentalism, lalu Globalisasi

Posted in Jumat, 20 Mei 2011
by Mbah Lalar



Kini kita tengah menyaksikan suatu transisi dari formasi sosial developmentatism
kapitalisme model di Asia Timur, yang selama ini dijadikan contoh model pertumbuhan
dan keberhasilan kapitalisme Dunia Ketiga ke model globalisasi. Dengan kata lain, saat ini
adalah saat berakhirnya era developmentalism, suatu proses perubahan sosial pasca Perang
Dunia II yang dibangun di atas landasan paham modernisasi. Namun di negara-negara
pusat kapitalisme, jawaban untuk mempercepat laju kapitalisme telah lama disiapkan
bahkan sejak krisis kapitalisme di tahun 30-an. Jawaban itu adalah globalisasi kapitalisme.
Namun, sebelum dibahas lebih jauh apa itu globalisasi, terlebih dulu di sini akan dibahas
refleksi proses sejarahnya.

Krisis terhadap pembangunan yang terjadi saat ini pada dasamya merupakan
bagian dari krisis sejarah dominasi dan eksploitasi manusia atas manusia yang lain, yang
diperkirakan telah berusia lebih dari lima ratus tahun.

Proses sejarah dominasi itu padadasamya dapat dibagi dalam tiga periode formasi sosial. Fase pertama adalah periode'kolonialisme,' yakni fase dimana perkembangan kapitalisme di Eropa mengharuskan
ekspansi secara fisik untuk memastikan perolehan bahan baku mentah. Melalui fase
kolonialisme inilah proses dominasi manusia dengan segenap teori perubahan sosial yang
mendukungnya telah terjadi dalam bentuk penjajahan secara langsung selama ratusan
tahun. Meskipun banyak negara Afrika baru merdeka tahun 70-an namun yang umumnya
dianggap sebagai zaman berakhimya kolonialisme adalah pada saat terjadinya revolusi di
banyak banyak negara jajahan, segera setelah berakhimya Perang Dunia II, sekitar lima
puluh tahun yang lalu.

Berakhimya era kolonialisme, dunia memasuki era 'neokolonialisme,' dimana
modus dominasi dan penjajahan tidak lagi fisik dan secara langsung melainkan melalui
penjajahan teori dan ideologi. Fase kedua ini dikenal sebagai era developmentalism. Periode
ini ditandai dengan masa kemerdekaan negara-negara Dunia Ketiga secara fisik. Namun,
pada era ini dominasi negara-negara bekas penjajah terhadap bekas koloni mereka tetap
dilanggengkan melalui kontrol terhadap teori dan proses perubahan sosial. Dalam kaitan
itulah, sesungguhnya teori pembangunan ataupun paham developmentalism menjadi bagian
dari media dominasi, karena teori tersebut direkayasa untuk menjadi paradigma dominan
untuk perubahan sosial Dunia Ketiga oleh negara Utara. Dengan kata lain, pada fase
kedua ini kolonialisasi tidak terjadi secara fisik, melainkan melalui hegemoni yakni
dominasi cara pandang dan ideologi serta discourse yang dominan melalui produksi