DI BALIK LAYAR LPIA

Posted in Selasa, 03 Mei 2011
by Mbah Lalar
Berikut adalah rangkuman sepak terjang salah satu alumnus LIPIA (universitas yang di biayai oleh Arab Saudi).

Kaum Islamis dan Neo-Fundamentalis menyerukan rekonstruksi sosial dan moralitas dengan berdasarkan pada seruan kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis.

Mereka ingin menemukan kembali ajaran Islam tanpa ada deviasi historis, dan distorsi yang... berasal dari nalar, sambil menyingkirkan segala tradisi budaya juga adat istiadat lokal yang menempel di ajaran Islam. Mereka ingin memisahkan diri dari Islam tradisional yang telah mewujudkan dirinya selama
1400 tahun akumulasi tradisi pemikiran dalam kitab-kitab khazanah klasik dan kultur tradisional masyarakat-masyarakat Muslim. Akumulasi ilmu-ilmu islam ini dianggap sebagai penghambat jalan ke arah pemurnian Islam, jalan kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis tadi.

Mereka menampilkan pemutusan tajam dengan tradisi-tradisi keislaman, dan pada saat yang sama menyerukan kembali ke masa lalu yang dibayangkan murni, masa lalu yang dikukuhkan kembali secara berbeda dari realitas sejarahnya, masa lalu yang steril dari segala "tahyul, bid'ah dan khurafat" yang tidak hanya berbentuk ziarah kubur waliyullah, penghargaan adat-istiadat lokal, tetapi termasuk juga tradisi fiqih-ushul fiqih dalam madzhab, ilmu kalam, filsafat Islam, dan tentu saja tasawuf-thariqat.

Inilah konsep pemikiran Wahabi yang mendapat penolakan sebagian besar Islam Sunni terutama yang bermadzhab Syafi’i dimana-mana.

***

Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab, walaupun tidak menjadi Wahabi, dan bukanlah penganjur Wahabi tulen, tampaknya telah mengadopsi mentalitas Wahabisme Saudi dari tempat ia belajar: *LIPIA* (sekarang ada di Warung Buncit, di depan Kantor Harian Republika) dan Universitas Ibnu Su'ud
di Riyadh. Jika kolega-kolega Wahabinya mengambil bentuk permusuhan terhadap musuh-musuh alamiah Wahabi, maka Rizieq Shihab menampilkan model Islam konfrontatifnya terhadap apa yang ia pandang maksiat atau kesesatan.

FPI (dan kelompok Islamis dan neo-fundamentalis lainnya seperti HTI, MMI, dan lain sebagainya) hanyalah salah satu puncak gunung es fundamentalisme Islam yang bagian terbesarnya di bawah aliran yang menjangkau ke ajaran-ajaran Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi di Nejd pada abad ke 18, dan persilangannya dengan gerakan salafi modernis Islam. Muhammad ibn Abd al-Wahhab (1703-1792) memutuskan untuk memisahkan diri dari Kekhalifahan Turki Usmani dan mendirikan negara sendiri di Arabia Tengah dan wilayah Teluk Persia. Kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis adalah kredonya, sekaligus membuang semua fiqih-usul fiqih, tasawuf, dan falsafah warisan abad pertengahan. Ibn Abdul Wahhab menyatakan bahwa para Khalifah Turki Usmani adalah kafir, kerena mereka telah murtad dari Islam.

***

Dari sejak berdirinya hingga sekarang, aliran Wahabi ini tak henti-henti melakukan aksinya dengan dua fokus kerja besar yang pada akhirnya justru menjadi sumber malapetaka perpecahan, pertentangan dalam Ilmu Islam, lenyapnya peradaban sejarah Islam yang gemilang, hingga menjadi sebuah imej negatif ketika dihubungkan dengan gerakan-gerakan radikal seperti terorisme dimata dunia.



Dua fokus kerja besar Wahabi ini adalah :

1. Penghancuran ekspresi kultur Islam tradisional. Kultur Islam tradisional ini dipandang oleh kaum Wahabi sebagai tahyul, bid'ah, dan khurafat. Ini terentang mulai dari ziarah kubur waliyullah, kesenian tradisional, praktik sufisme populis, adat istiadat lokal yang telah membaur dengan ekspresi Islam populis seperti perayaan maulid, dsb.

2. Pengkafiran dan menuding sesat (ini adalah bentuk penghancuran kultur Islam tradisionalis dalam ranah pemikiran) para ulama dalam 4 pilar tradisi intelektual spiritual Islam (Fiqih-Ushul Fiqih Madzhab, Tasawuf- Thariqat, Filsafat Islam, dan Ilmu Kalam Asy'ariyah-Maturidiyah).

Wahabi inilah yang menjelma menjadi aliran neo-fundamentalis di seluruh dunia setelah booming petro dolar Saudi di awal 70-an. Neo-fundamentalis Wahabi ini terkadang adalah mereka yang mengalami convert atau "pemurtadan", dari Islam tradisional lalu dibrainwashed oleh lembaga-lembaga
Pendidikan Islam Wahabi di Saudi Arabia atau filialnya di Indonesia (seperti LIPIA di Warung Buncit Jakarta) menjadi Wahabi yang kaffah atau minimal memiliki mentalitas Wahabi sebagaimana banyak kita temukan juga pada para kaum muda muslim yang begitu bersemangatnya dalam dakwah meskipun sebenarnya tidak kurang dari sepuluh persennya saja yang memahami disiplin Ilmu yang harus mereka miliki.

Di antara pemula ormas Islam neo-fundamentalis penerima dana Saudi yang beragenda Wahabisme adalah DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia), dari lembaga inilah pada tahun 80-an kita mulai mendengar adanya kristenisasi di Indonesia, bersamaan dengan eksploitasi permusuhan dan kebencian
kepada kelompok Nasrani di Indonesia. Dari Majalah Media Dakwah terbitan DDII inilah semangat kebencian dan permusuhan kepada kelompok yang berbeda dengan mereka mulai disemai dengan baik, dengan bantuan uang Saudi Wahabi.

***

Dalam skala internasional, gerakan modernis Islam yang digagas oleh Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad 'Abduh, dan Sayed Rayid Ridha pada abad ke 19-awal abad 20 adalah satu gerakan pembaruan Islam yang pada awalnya bercita-cita baik, tetapi pada akhirnya malah membentuk ruang vakum otoritas dalam Islam Sunni. Ini adalah efek samping dari gerakan reformis-modernis, penganjuran ijtihad sebagai bentuk pembebasan diri dari madzhab-madzhab, dan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits.

Gerakan Salafi tiga besar ulama modernis ini akhirnya hanya membesar di sisi kanan, yang melahirkan tokoh-tokoh Islamis seperti Hasan al- Banna, Abul A'la al-Maududi, Quthub, Sa'id Hawwa, Mustafa As-Siba'i, lalu bercampur baur dengan gagasan-gagasan Wahabi hingga melahirkan orang-orang seperti Osama bin Laden dan para Thaliban di Afghanistan. Dari Hasan Al-Banna dan Quthub, gagasan-gagasan sisi kanan Salafi ini disuburkan dalam Ikhwanul Muslimin, dan kemudian diekspor ke Indonesia melalui pengajian- pengajian Usrah dikampus-kampus, yang akhirnya berevolusi menjadi partai politik PKS.

Sisi kiri gerakan salafi yang diwariskan Muhammad 'Abduh ini adalah gerakan-gerakan neo-modernis (yang menurut saya adalah ahli waris paling absah dari gerakan pembaruan Islam dari garis Muhammad 'Abduh) yang diwakili oleh almarhum Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, dan Dr. M. Syafi'I Anwar
(salah satu korban insiden 1 juni 08 di Monas) di Indonesia. Sementara di Timur Tengah dan India diwakili oleh Muhammad Khalafallah, Amin Al- Khuli, Sayyid Mahmud Al-Qimny, Muhammad Al-Ghazali, Fazlur Rahman, Al-Faruqi, Nashr Hamid Abu Zaid, dan Hassan Hanafi. Sisi kiri Salafi ini juga dibombardir dengan tuduhan sesat sejak dulu oleh kaum Wahabi dan "saudara kandung" nya di sisi kanan Salafi.

Sungguh mengherankan, atau sebagian umat muslim sudah tidak perlu heran, tumbuh maraknya sekte-sekte dalam Islam, organisasi-organisasi politik yang bernuansa agama, yang dengan lantangnya menyerukan pemurnian tauhid dan kembali pada Qur’an-Sunnah, justru saling berseteru sejak awal tumbuhnya ‘konsep’ pemikiran dari ulama-ulama Wahabi ini. Inikah yang populer dinamakan dengan neo-khawarij; khawarij gaya baru ?

Dimana pola fikir penyesatan ini akan berakhir? Akan berakhir dalam konflik horizontal ketika satu kelompok mengklaim mereka adalah pengikut Qur'an-Sunnah yang sebenarnya (dalam versi Wahabi-Salafi, karena dua kelompok inilah yang mengeksploitasi pendekatan harfiyah terhadap Qur'an-Sunnah dan selalu berkata "di dalam Islam..", "menurut Islam....", "Islam berkata..." sehingga siapa pun yang berbeda pendapat dengan mereka menjadi otomatis berada di luar Islam atau kafir), sementara yang lainnya adalah kelompok sesat atau minimal bid'ah?

Dalam sebuah fatwa para ulama Islam Wahabi di Saudi Arabia yang dikeluarkan pada tahun 1991 ( jilid 3: halaman 344) oleh al-Lajnah al-Da'imah li al-Buhuts al-'Ilmiyyah wa al-Ifta' dinyatakan bahwa Syaikh Sayyid 'Abdul Qadir al-Jailani (pendiri thariqat Qadiriyah yang diamalkan oleh banyak ulama Nahdlatul 'Ulama dan juga ulama Islam tradisionalis lain di Indonesia, Malaysia, dan Thailand Selatan) dan Syah Waliyullah Ad-Dihlawi (ulama reformer di India) adalah kafir dan musyrik.

Para ulama fiqih (sebagian besar mereka juga mufassir Al-Qur'an) yang juga dituduh kafir dan sesat oleh pendiri Wahabi (Ibn Abdul Wahhab) sendiri antara lain adalah Fakhruddin ar-Razi (wafat 606H/1210M), Abu Sa'id al-Baydhawi (wafat 710H/1310M), Abu Hayyan al-Gharnati (wafat 745H/1344M), al-Khazin (wafat 741H/1341M), Muhammad al-Balkhi (wafat 830H/1426M), Shihabuddin al-Qastalani (w.923/1517M), Abu Sa'ud al-'Imadi (w. 982H/1574M), dan masih banyak lagi.

Dalam logika berfikir penyesatan kelompok Wahabi ini, maka pada akhirnya kelompok sesat dan bid'ah tidak hanya Ahmadiyah dan Syi’ah, tidak juga lebih parah dari problem khilafiyah, juga dalam filsafat Islam tentang Tuhan hanya mengetahui yang partikular seperti dikatakan Ibnu Rusyd, dan Tuhan mengetahui segala-galanya seperti yang dikatakan Al-Ghazali, atau perkataan Ana al-Haqq oleh Al-Hallaj, dan para Wali itu lebih utama dari pada Para Nabi seperti yang dikatakan oleh Ibnu 'Arabi, …….tetapi terentang mulai dari Islam Ahmadiyah; Syi'ah; pengikut thariqat-thariqat sufi yang hobi zikir dan sholawat beraneka macam; ulama nahdliyyin yang masih tabarrukan, ziarah ke kuburan waliyullah, dan mengamalkan talqin dan tawassul; aktivis Jaringan Islam Liberal; gerakan dakwah Jama’ah Tabligh, pemikir Islam yang mencoba mengaplikasikan gagasan-gagasan rasional filsafat barat ke dalam kajian Islam; ulama fiqih madzhab (dengan nalar ushul fiqih tradisionalnya) yang mencoba mengkritik gagasan kaum fundamentalis yang selalu berkata "menurut Islam.."; cendekiawan Islam Sunni yang mengadopsi pemikiran Abdul Karim Soroush dan Mohsen Kadivar yang Syi'i, aktivis religius sinkretik yang memadukan zikir naqsyabandi dengan reiki, kundalini dan yoga, ..dan saya yang menyampakan artikel ini, dan juga Anda sekalian yang menyetujui artikel ini.., adalah penyebar bid’ah, sesat, dan diluar Islam alias kafir !!!

***

Sejenak, mari kita buka album kenangan masa lalu. Sebelum dikuasai aliansi klan Sa'ud-Wahabi, Kota Makkah-Madinah adalah lokus intelektual dan spiritual Islam paling kaya. Banyak sekali saksi sejarah peradaban Islam disini. Semua representasi Madzhab Fiqih juga ada di sini. Para Fuqaha Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali, Syi'ah Jakfari, Zhahiri dan cabang-cabang di bawahnya menyambut para jamaahnya masing masing di setiap musim haji. Seluruh Thariqat sufi juga memiliki mursyidnya di Mekkah – Madinah. Qadiriyah, Rifa'iyyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Syistiyyah, Sammaniyah dan lain sebagainya. Dari Thariqah yang mu'tabarah hingga yang ghairu ma'tabarah. Sekarang ini semua tinggal kenangan.

Para Ulama Islam tradisionalis yang memiliki keterikatan dengan akumulasi khazanah tradisi pemikiran Islam sebenarnya mirip dengan kaum intelektual Barat yang memiliki keterikatan dengan tradisi pemikiran masa lalu Barat, keterikatan yang malah lebih dalam, koheren, dan integral. Kita bisa melihat
dalam tradisi filsafat Barat, dari para pemikir skolastik ke Rene Descartes, David Hume, Immanuel Kant, Hegel, Edmund Husserl, hingga filsuf eksistensialis, adanya dialog filosofis yang masih tetap berlanjut.

Kitab-kitab filsafat kuno masih tetap dibaca, sebagian besar istilah teknis masih dipakai, bahkan dalam konteksnya yang telah ditransformasikan. Hal ini tidak berbeda dengan para ulama fiqih tradisionalis yang lebih dahulu membuka kitab fiqih Tuhfatul Muhtaj karangan Ibnu Hajar al-Haitami, kitab-kitab Qawaid Fiqhiyyah, dan Kitab Ushul Fiqih Al-Mushtasfa karangan Al-Ghazali untuk menjawab masalah kontemporer, ketimbang mencomot satu dua ayat Al-Qur'an, plus hadis, lalu berkata "... menurut Islam, ...." dengan semangat kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis seperti yang kerap dilakukan kaum Neo fundamentalis dan Islamis.

Sekarang Madzhab Hanafi telah punah dari Hijaz. Sejak tahun 1925 para ulama Madzhab Syafi'i dilarang mengimami shalat di Masjidil Haram di Makkah. Begitu juga halnya dengan Madzhab Maliki. Seorang ulama besar Madzhab Maliki, Sayed Muhammad Alwi Al-Maliki juga dilarang memberi khutbah di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi di Madinah. Padahal lebih dari 1000 tahun secara turun temurun para ulama madzhab Maliki menjadi identik dengan Madinah. Sayed Muhammad Alwi Al Maliki dituduh oleh Wahabi sebagai seorang sufi, sesat dan murtad. Apalagi Madzhab Syi'ah, di bawah penguasa Wahabi
Saudi mereka mengalami penghancuran karakter secara sistematis. Thariqat-thariqat Shufi? Mereka semua dianggap sesat, kafir, dan murtad. Yang berhak menyandang nama Islam hanyalah Wahabi. Madzab Hanbali dan Ibnu Taimiyah? Itu boleh, sebatas masih terakomodasi dalam batas-batas akidah Wahabi. Kitab Majmu' Fatwa karangan Ibnu Taimiyah sendiri pun telah mengalami penyuntingan agar sesuai dengan akidah Wahabi, beberapa bab yang tidak sesuai dengan akidah Wahabi, dihilangkan dalam edisi terbitan kitab itu di Saudi Arabia.

Strategi inilah yang telah dan sedang diekspor oleh Wahabi-Salafi (Neo Fundamentalis-Islamis) melalui agen-agennya ke seluruh dunia.

Kita dipaksa dihadapkan pada dua pilihan; menjadi Wahabi-Salafi atau menjadi kelompok sesat...

Say goodbye and don’t you think all about the past, just look and feel present day. Duh, pahit memang…

Wallahu A'lam bishshawab.