Kiai Soleh Darat Penyebar Islam dan Pelopor Penerjemahan Alquran

Posted in Minggu, 08 Mei 2011
by Mbah Lalar







Oleh : Anggota WLML ( Moh Ichwan)

Dalam kitab Al-hikam yang ditulisnya, Kiai Soleh Darat memaparkan, salah satu tanda kewalian seseorang secara lahiriah adalah banyaknya umat yang berziarah ke makamnya jika telah meninggal dunia. Adapun secara batiniah, seseorang itu mampu menjadi wasilah (perantara) doa umat kepada Allah SWT.
Kini, lebih dari seratus tahun setelah kematiannya, dua tengara itu justru melekat padanya. Setiap 10 Syawal, ribuan orang mengunjungi makamnya yang terdapat di kompleks Pemakaman Umum Bergota Semarang. Hampir seluruhnya meyakini, ulama besar itu sebagai wasilah. Ribuan umat dari berbagai Daerah Jawa Tengah, Jatim dan Jabar yang menghadiri haul (peringatan kematian) Kiai Soleh Darat kemarin, menjadi penanda kebesaran namanya.
Makam beliau di TPU Bergota Semarang, serasa tak penah lengang dari peziarah. Ada saja kegiatannya, membaca Qur’an, sholawatan serta berdzikir. Gema puji-pujian itu seolah merayapi setiap sudut ruangan makam yang terlihat terawat rapi dan bersih.
M Luthfi al-Anshori, seorang pengunjung asal Rembang menyatakan,  sungguh amat menarik menulusuri siroh (sejarah) ulama terdahulu. Sebuah peringatan memang diperlukan, haul adalah wujudnya. Esensinya bukan pada acara haul itu, namun ruh untuk mengenang sekaligus meneladani riwayat hidup beliau.
”Membaca kisah ulama besar sungguh membuat hati tergugah untuk belajar dari mereka, tentang kiprah dan karya-karyanya,” tuturnya.
            Demikianlah jika seseorang pernah berjasa besar dalam kehidupan. Ia membawa manfaat selamanya. Abadi sebagaimana difirmankan Allah, bahwa kekasihnya (waliyullah) adalah orang yang syahid, meski fisiknya telah wafat, dia tetap hidup di sisi Tuhannya dan membawa berkah bagi umat manusia di bumi. 

Da’i Abadi dan Pelopor
Peran Kiai Soleh Darat dalam menyebarkan Islam tak hanya semasa hidupnya maupun warisan pesantrennya. Sebab murid-muridnya adalah para pendiri organisasi Islam, pengasuh pesantren dan pendakwah agama yang terus menghasilkan kader-kader da’i berikutnya. Sampai akhir zaman. 
            Murid-muridnya itu, diantaranya, KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Mahfudh Termas Pacitan (pendiri Ponpes), KH Idris (pendiri Ponpes Jamsaren Solo), KH Sya’ban (ahli falak dari Semarang), Penghulu Tafsir Anom dari Keraton Surakarta, KH Dalhar (pendiri Ponpes Watucongol, Muntilan), dan KH Munawir (Krapyak Yogyakarta). Juga KH Abdul Wahab Chasbullah Tambak Beras, KH Abas Djamil Buntet CIrebon, KH Raden Asnawi Kudus, KH Bisri Syansuri Denanyar dan lain-lainnya. Bisa dikatakan, dia adalah embahnya para ulama di Jawa karena menjadi guru dari guru ulama yang ada sekarang.
Semasa hidupnya, selain mengajar masyarakat awam, Kiai Soleh Darat juga aktif mengisi pengajian di kalangan priyayi. Diantara jamaah pengajiannya adalah Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara.
RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Alquran. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat.  Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah.
RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Alquran diterjemahkan.  Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Alquran. Mbah Shaleh Darat melanggar larangan ini. Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf  Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.
Kitab tafsir dan terjemahan Alquran itu diberi nama Faidh ar-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang.
Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”
Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya: Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya (QS al-Baqarah: 257).
Dalam banyak suratnya kepada sahabat Belandanya, JH Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya”. Abendanon mengutip tulisan berbahasa Belanda sebagai “Door Duisternis Toot Licht.” Oleh Armijn Pane kalimat tersebut diterjemahkan “Habis Gelap Terbitlah Terang” untuk menjadi judul buku kumpulan surat-surat Kartini.
Kitab itu berukuran folio, dicetak pertama kali di Singapura pada tahun 1894. Terdiri dari dua jilid, kitab ini menjadi referensi pribumi Jawa yang bermukim di tanah melayu. Bahkan kaum muslim di Pattani, Thailand Selatan juga memakai kitab ini.
Karya-karyanya yang lain adalah kitab Majmu’ah al-Syariah al-Kafiyah li al-’Awwam (Buku Kumpulan Syariat yang Pantas bagi Orang Awam), dan kitab Munjiyat (Buku tentang Penyelamat) yang merupakan saduran dari kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali, Al-Hikam (Buku tentang Hikmah), Lata’if al-Taharah (Buku tentang Rahasia Bersuci), Kitab Manasik al-Hajj, Kitab Pasalatan, Tarjamah Sabil al-’Abid ‘Ala Jauharah al-Tauhid, Mursyid al-Wajiz, Minhaj al-Atqiya’, serta kitab hadis Al-Mi’raj, dan Asrar al-Sholah.
Hingga kini Karya-karya beliau masih dibaca di pondok-pondok pesantren dan majelis taklim  di Jawa. Sebagian besar bukunya sampai sekarang terus dicetak ulang oleh Penerbit Toha Putera, Semarang.

Sederhana sekaligus Progresif
Sebagaimana umumnya ulama, Kiai Soleh Darat sangat bersahaja dan tawadhu. Akhlaknya sangat terjaga dari kesombongan. Dalam semua kitabnya, ia selalu selalu merendah dan menyebut dirinya sebagai orang Jawa awam yang tak faham seluk-beluk Bahasa Arab.
Di prolog kitabnya selalu tertulis  “buku ini dipersembahkan kepada orang awam dan orang-orang bodoh seperti saya”. Dalam pendahuluan Terjemahan Matan al-Hikam tertera: “ini kitab ringkasan dari Matan al-Hikam karya al-Allamah al-Arif billah Asy-Syaikh Ahmad Ibnu Ata’illah. Saya ringkas sepertiga dari asal agar memudahkan orang awam seperti saya. Saya tulis dengan Bahasa Jawa agar cepat dipahami oleh orang yang belajar agama atau mengaji”.
Bahkan, meski dia keturunan Nabi Muhammad (sayyid/habib), yang nasabnya dari Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) putra Raden Rahmat (Sunan Ampel), tak pernah dikatakannya. Baginya, orang dihormati karena ilmu dan amalnya. Bukan garis keturunannya.
Kiai Soleh Darat selalu menekankan kepada muridnya agar giat menuntut ilmu. Dia berkata: “Inti sari Alquran adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat”.
Dia memperingatkan, orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan dalam keimanannya, maka akan jatuh pada keyakinan sesat. Sebagai misal, paham kebatinan yang mengajarkan bahwa amal yang diterima Allah adalah amaliyah hati yang dipararelkan dengan paham Manunggaling Kawulo Gusti-nya Syekh Siti Jenar dan berakhir tragis pada perilaku taqlid buta (anut asal ikut). Iman orang taklid tidak sah menurut ulama muhaqqiqin (ahli hakikat), demikian tegasnya.
Hal itu tersurat dalam Kitab Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘Ala Jauharah al-Tauhid-nya. Lebih jauh dia peringatkan masyarakat tak terpesona oleh orang yang mengaku memiliki ilmu hakekat tapi meninggalkan syariat seperti sholat dan amalan fardhu lainnya. Kemaksiatan berbungkus kebaikan tetap saja namanya kebatilan, demikian inti petuah (fatwa) beliau.

Ahli Ilmu Kalam
Kiai Soleh Darat dikenal sebagai ahli ilmu kalam. Ia adalah pendukung teologi Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturudi. Dalam kitabnya Tarjamah Sabil al-’Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid dia mengemukakan penafsirannya atas sabda Rasulillah SAW mengenai terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan sepeninggal Beliau, dan hanya satu golongan yang selamat.
Menurutnya, yang dimaksud Nabi Muhammad SAW dengan golongan yang selamat adalah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan oleh Rasulillah SAW, yaitu melaksanakan pokok-pokok kepercayaan Ahlussunah Waljamaah Al-Asy’ariyah, dan Maturidiyah.
Sebagai ulama yang berpikiran maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru bertawakal, menyerahkan semuanya pada Allah. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatan.
Tradisi berpikir kritis dan mengajarkan ilmu agama terus dikembangkan hingga akhir hayatnya. Saleh Darat wafat di Semarang, tanggal 18 Desember 1903/28 Ramadhan  1321 H dalam usia 83 tahun.
Kini, nama Darat tetap lestari dan dijadikan prasasti nama kampung, Nipah Darat dan Darat Tirto. Berada di wilayah Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara.

                               Gambar komplek Makam Mbah Sholeh Ndarat



(ichwan)