Dilema Hubungan Ibu dan Anak

Posted in Minggu, 05 Juni 2011
by Mbah Lalar

Oleh: Anggota WLML
Hubungan anak dengan orang tua tidak mesti baik selamanya. Norma susila dan agama memang menginginkan demikian. Tetapi karakter orang dan faktor lingkungan sering mempengaruhi sikap orang. Ucapan dan tindakan sering tidak terkendali dan bisa membuat sakit hati.
Bertanyalah pada orang yang sudah berkeluarga. Mayoritas pernah mengalami hubungan yang pasang surut dengan orang tuanya. Lebih-lebih yang hidup bersama atau rumah berhimpitan.
Ririn (samaran), mengaku pusing dengan yang dialaminya sekian tahun ini. Suaminya, sebut saja Ryan, tak kalah mumetnya. Dan Ryan tak tahu harus berbuat apa, selain berdoa memohon pertolongan Gusti Yang Maha Kuasa.
Semenjak menikah 5 tahun lalu, Ririn sering cekcok dengan ibunya. Dia merasa ibunya terlalu campur tangan dalam rumah tangganya. Menurutnya, ibunya sering bersikap menyebalkan. Karena suka mengomeli dirinya. Sering pula ngrasani suaminya.
“Saya tak suka dengan ibu saya. Beliau terlalu campur tangan dan suka ngrasani suami saya,” tuturnya merasa bersalah sekaligus sedih.
Kata Ririn, ibunya bawel banget padanya. Apa saja terlihat buruk di mata ibunya. Seolah dirinya tak tahu apa-apa tentang rumah tangga. Padahal dia merasa cukup tahu apa yang baik dan apa yang buruk dalam menjalani kehidupan suami istri.
“Saya kira, saya cukup tahu apa yang baik dan buruk. Saya juga berusaha berbuat yang baik dan suka membaca buku tentang rumah tangga. Tapi ibu saya terus saja alok negatif,” ujarnya menahan nafas.
Kuping Ririn merasa panas setiap hari. Hatinya galau bahkan sakit hati jika ibunya berujar terlalu keras. Dia berusaha diam seraya menyingkir agar situasi tidak runyam. Tetapi jika dalam posisi sulit, Ririn tak tahan untuk tidak membantah. Jika sudah begitu, timbullah pertengkaran. Tukar padu antara ibu dan anak.
Masih versi Ririn, ibunya tambah cerewet setelah dia punya anak. Apa saja dikomentari. Cemoohan sering dia terima. Obyek omelan ibunya semakin banyak. Jika dulu soal perbuatannya atau suaminya, kini ditambah soal anaknya.
Saat Rini membiarkan anaknya bermain di halaman, ibunya melarang dengan alasan agar tidak kena panas. Jika anaknya menangis sedikit saja, ibunya langsung membentak suruh mendiamkan dengan berbagai cara.
“Ibu saya sangat protektif pada cucunya. Saya dan suami seolah tak tahu apa-apa soal mengasuh anak,” tambahnya sambil menggeleng pelan tanda batin yang tertekan.
Ririn dan suaminya takut menjadi anak durhaka. Dia sama sekali tak ingin melawan orang tuanya. Mereka merasa tahu adab dan akhlak. Tetapi kondisinya sering terjepit. Susah menghindar dari amarah.
Dia rasa, sikap ibunya emosional belaka. Alasan yang diucapkan sang ibu dia rasa terlalu dangkal dan sulit diterima akal. Apalagi dia lihat keluarga lain tidak demikian. Temannya yang famili santri, damai saja dalam kumpulan besar keluarga. Semua dia lihat rukun dan bahagia. Semua orang bersikap bijaksana.
“Entah bagaimana saya harus menghadapi ini semua. Mungkin jalan terbaik harus jauh dari orang tua. Kami akan keluar negeri saja,” curhat Rini kepada saya. (wong ndeso)

MONGGO DIBERI PENGINCLONGAN.