MUHAMAD BIN ABDUL WAHAB SEORANG MUJADID DAN PENDEKAR ISLAM

Posted in Minggu, 12 Juni 2011
by Mbah Lalar






Muhammad bin Abdul Wahhab
lahir pada 1115 H (1703 M) di Najd.
Ayahnya, Syaikh Abdul Wahhab adalah seorang Qadhi. Gerakan yang kita sebut Wahhabi dinisbatkan kepada nama ayah dari Muhammad bin Abdul Wahhab untuk menghindari penyebutan gerakan itu sebagai gerakan Muhammadiyyah.

Habib Alwi bin Ahmad bin Hasan
bin Habib Abdullah al-Haddad dalam kitabnya Misbahul
Anam halaman 15 menceritakan sebagai berikut:
Aku telah diberitahu oleh seorang tua yang bersinar wajahnya karena keshalihannya dan sudah melebihi 80 tahun umurnya, salah seorang pemuka kita keluarga Abu Alawi yang lahir dan dibesarkan di Makkah dan sering ke Madinah. Nama beliau Musa bin Hasan bin Ahmad al-’Alawi, keturunan Sayyidina Uqail bin Salim,saudara Sayyidina Quthubusy-Syahir asy-Syaikhul Kabir Abu Bakar bin Salim. Beliau berkata:-Aku dahulu berada di Madinah belajar kepada asy-Syaikh Muhammad Hayat. Muhammad bin Abdul Wahhab juga sering ke majlis Syaikh Muhammad Hayat seperti murid-murid lainnya. Aku mendengar dari orang-orang
sholeh dan ulama, sebagai kasyaf dari mereka, firasat
mereka mengenai Muhammad
bin Abdul Wahhab di mana mereka menyatakan bahwa dia akan sesat dan Allah menyesatkan dengannya orang yang dijauhkan dari rahmat-Nya dan yang dibinasakan-Nya Dan demikian yang telah terjadi (yakni firasat mereka telah menjadi
kenyataan) sehingga Syaikh Abdul Wahhab, ayah Muhammad bin Abdul Wahhab,
juga berfirasat sedemikian
terhadap anaknya, dia telah
menasihati dan mencelanya
serta memperingati orang lain sehubungan dengan anaknya tersebut.

Di antara ulama yang mempunyai firasat demikian itu ialah Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi dan Syaikh Muhammad Sulaiman al-Kurdi al-Madani asy-Syafi’i. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menceritakan firasat Syaikh Muhammad Sulaiman al-Kurdi dalam kitab- kitabnya dan perlu diketahui bahwa Sayyidi Ahmad Zaini Dahlan mempunyai sanad riwayat dari Syaikh Muhammad Sulaiman al- Kurdi sebagai berikut: Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dari Muhaddits Syam Syaikh Abdur Rahman al-Kuzbariy dari al-Hafiz al-Hujjah Abdullah al-Kurdi al- Madani dari al-Muhaddits al- Musnid Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi al-Madani.
Kesimpulannya, perawi-perawi
tersebut adalah orang yang
dipercayai dan tidak berbohong.
Syaikh Sulaiman al-Kurdi bukan saja berfirasat mengenai Muhammad bin Abdul Wahhab,tetapi setelah fitnah nyata Muhammad bin Abdul Wahhab beliau telah ditanyai tentangnya dan membuat jawaban untuk menolak ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab.
Jika hanya ada kitab yang ditulis Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab al-Hanbali, saudara kandung Muhammad bin Abdul Wahhab, yang berjudul Syawa`iqul Ilahiyyah, itu sudah cukup untuk membuktikan kesesatan Muhammad bin Abdul Wahhab dan sekaligus membuktikan kebenaran firasat para ulama dan sholihin di atas.
Bukan Syaikh Sulaiman saja yang menceritakan kesesatan Muhammad bin Abdul Wahhab, tetapi sangat banyak ulama yang menyatakan demikian.

Habib Alwi al-Haddad pada kitab Misbahul Anam membuat kesimpulan bahawa kesesatan Muhammad bin Abdul Wahhab telah disampaikan oleh banyak ulama secara tawatur dalam
tulisan-tulisan mereka dari orang-orang yang tsiqah dari
kalangan ulama-ul-akhyar (terpilih) dan selain mereka, yang telah melihat dengan matanya sendiri dan mendengar dengan telinganya sendiri akan kesesatan Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikut-pengikutnya dan juga dari tulisan-tulisan, perkataan, perbuatan dan perintah Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikut-pengikutnya.
Firasat memang bukan hujjah, tetapi jangan pula
dikesampingkan mentah-mentah.
Apalagi lagi jika ada qarinah lain membuktikan kebenaran firasat tersebut. Sebagaimana Rasulullah
SAW telah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Imam ath-Thobarani dengan sanad hasan:Ittaqu firasatal mu’min, fa innahu yanzhuru bi nurillah (Takutlah/ hati-hatilah terhadap firasat orang mu`min, karena sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allah)

Lihat ungkapan Muhammad bin Abdul Wahab (MAW) yang dikutip dalam kitab Ad-Durar as-Saniyah karya Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim al-Hambali an-Najdi berkaitan dengan klaim MAW atas monopoli kebenaran konsep Tauhid versinya, dan
menganggap selain apa yang
dipahaminya sebagai kebatilan
yang harus diperangi: Dahulu,
aku tidak memahami arti dari
ungkapan Laa ilaaha illallaah. Kala itu, aku juga tidak memahami apa itu agama Islam. (Semua itu) sebelum datangnya anugerah kebaikan yang Allah berikan (kepadaku). Begitu pula para guru (ku), tidak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya.
Atas dasar itu, setiap ulama ’al-Aridh’ yang mengaku memahami arti Laa ilaaha illallaah atau mengerti makna agama Islam sebelum masa ini (anugerah kepada Muhammad bin Abdul Wahhab) atau ada yang mengaku bahwa guru-gurunya mengetahui hal tersebut maka ia telah melakukan kebohongan dan penipuan. Ia telah mengecoh masyarakat dan memuji diri sendiri yang tidak layak bagi dirinya. (Lihat: Ad-Durar as- Saniyah karya Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim al-Hambali an-Najdi jilid 10 halaman 51)
Jadi, menurut MAW, ulama sebelum dia tak ada yang mengerti makna Tauhid. Semua ulama sebelum dia itu
mengajarkan konsep Tauhid yang salah menurutnya. Imam yang empat saja dengan begitu tawadhu berkata bahwa mereka bisa benar dan bisa salah.
Padahal ilmu dan hafalan hadits mereka jauh melebihi MAW.
Kenapa MAW yang hafalan haditsnya sedikit dan sanad
ilmunya tidak jelas ini berani berkata bahwa ulama sebelumnya tak mengerti Tauhid? Konsep tauhid MAW
pastilah berbeda dengan konsep tauhid yang diajarkan oleh Syaikh Muhammad Hayat. Lalu dari mana ia mendapat pemahaman Tauhid itu? Apakah ia sedang berbicara tentang ilmu ladunni yang dianugerahkan Allah kepadanya? Atau justeru ia
tengah mendapatkan bisikan
setan sebagaimana telah dinubuatkan oleh Nabi?

Rasul berdoa: Wahai Allah berkahilah wilayah Yaman kami dan wilayah Syam kami. Lalu ada yang berkata: Dan juga untuk wilayah Najd kita wahai Rasulullah..! Rasul saw berdoa lagi : Wahai Allah berkahilah wilayah Yaman kami dan wilayah Syam kami.” Lalu mereka berkata lagi : “Dan juga untuk wilayah Najd kita wahai Rasulullah..! Rasul saw menjawab : Disitulah
goncangan, fitnah, dan di sanalah terbitnya tanduk
syaithan. (Shahih Bukhari hadits no.990)

Di sini telah bertemu antara nubuah Nabi, firasat ulama terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab dari Najd, dan
munculnya fitnah besar dari
paham yang dibawa oleh MAW
yang menurut para muhaddits saat itu belum pernah terjadi fitnah yang sedahsyat itu.
Dari informasi Utsman Ibn Bisyr al- Najdi, sejarawan al-Alusi mencatat bahwa:
Saya (Ibn Bisyr) pada awalnya menyaksikan kemiskinan penduduk kota Duriyyah.
(Kemudian) Saya telah melihat kota itu pada masa Sa’ud,ketika penduduknya telah menikmati kemakmuran yang berlimpah, senjata-senjata mereka dihiasi dengan emas dan perak serta mereka menunggang kuda-kuda peranakan keturunan murni.
Memakai pakaian mewah dan
dilengkapi dengan segala sesuatu yang menandakan
kemakmurannya, sebegitu berlimpah-ruahnya harta benda mereka sehingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Suatu hari di pasar rakyat dalam kota Duriyyah, saya melihat seorang pria dan wanita jalan bergandengan. Di pasar itu terdapat banyak sekali emas, perak senjata-senjata dan sejumlah besar unta, domba, kuda, pakaian mewah, daging yang bertumpuk-tumpuk, terigu,
serta bahan makanan, di mana- mana bertebaran sehingga tidak mungkin bisa dihitung satu per satu. Lokasi pasar rakyat terhampar sejauh mata memandang. Dan saya dapat mendengar suara para pembeli dan penjual, suara yang berdengung seperti suara dengungan lebah. Salah seorang dari mereka biasa berkata, Saya jual (barang-barang saya), dan yang lain akan berkata, Saya beli.
Tentu saja Ibn Bisyr tidak memperhitungkan dengan cara bagaimana dan dari mana semua kemakmuran yang luar biasa ini diperoleh. Tetapi banyak catatan sejarah mengindikasikan bahwa itu semua dikumpulkan dengan cara merampok dan menyerang kaum Muslimin dari kabilah-kabilah lain serta daerah-daerah perkotaan yang tidak bersedia mengubah atau menerima keyakinan mereka. Menyangkut harta rampasan perang yang diambil Ibn Abdil Wahhab dari kaum Muslimin di daerah itu, fatwanya adalah menggunakan harta itu dengan cara sesuka hatinya.

Saya pernah disebut sebagai
orang yang ingin melestarikan
kesyirikan. Perkataan itu muncul dari orang salafy. Dari mana keberanian seperti itu muncul kalau bukan dari perkataan MAW???

MAW berkata: Mereka (ulama
Islam) tidak bisa membedakan
antara agama Muhammad dan agama Amr bin Lahyi yang dibuat untuk diikuti orang Arab.
Bahkan menurut mereka, agama Amr adalah agama yang benar. (Lihat: Ad-Durar as- Saniyah jilid 10 halaman 51)
Siapakah gerangan Amr bin Lahyi itu? Dalam kitab sejarah
karya Ibnu Hisyam disebutkan
bahwa; ia adalah pribadi yang
pertama kali pembawa ajaran
penyembah berhala ke Makkah dan sekitarnya. Dulu ia pernah bepergian ke Syam. Di sana ia melihat masyarakat Syam menyembah berhala. Melihat hal itu ia bertanya dan lantas dijawab: berhala-berhala inilah yang kami sembah. Setiap kali kami menginginkan hujan dan pertolongan maka merekalah
yang menganugerahkannya
kepada kami, dan memberi kami perlindungan. Lantas Amr bin Lahy berkata kepada mereka:
Apakah kalian tidak berkenan
memberikan patung-patung itu kepada kami sehingga kami bawa ke tanah Arab untuk kami sembah? Kemudian ia mengambil patung terbesar yang bernama Hubal untuk dibawa ke kota Makkah yang kemudian diletakkan di atas Ka’bah. Lantas ia menyeru masyarakat sekitar untuk menyembahnya (Lihat: as-Sirah an-Nabawiyah karya
Ibnu Hisyam jilid 1 halaman 79)

Dalam sebuah surat yang dilayangkan MAW kepada Syeikh Sulaiman bin Sahim yang seorang tokoh madzhab Hambali di zamannya. Ia menuliskan: Aku mengingatkan kepadamu bahwa engkau bersama ayahmu telah dengan jelas melakukan perbuatan kekafiran, syirik dan kemunafikan!…engkau bersama ayahmu siang dan malam sekuat tenagamu telah berbuat permusuhan terhadap agama ini!
…engkau adalah seorang penentang yang sesat di atas
keilmuan. Dengan sengaja melakukan kekafiran terhadap Islam. Kitab kalian itu menjadi bukti kekafiran kalian! (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 31)

Dalam surat yang dilayangan
MAW kepada Ahmad bin Abdul
Karim yang getol mengkritisinya, ia menuliskan: Engkau telah menyesatkan Ibnu Ghonam dan beberapa orang lainnya. Engkau telah lepas dari millah (ajaran) Ibrahim. Mereka menjadi saksi
atas dirimu bahwa engkau tergolong pengikut kaum
musyrik (Lihat: Ad-Durar as-
Saniyah jilid 10 halaman 64)

Dalam sebuah surat yang
dilayangkannya untuk Ibnu Isa
yang telah melakukan argumentasi teradap pemikirannya, Muhamad bin Abdul Wahhab lantas memvonis sesat para pakar fikih (fuqoha’) secara keseluruhan. Ia menyatakan:
(Firman Allah); Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah. Rasul dan para imam setelahnya telah mengartikannya sebagai Fikih’
dan itu yang telah dinyatakan
oleh Allah sebagai perbuatan
syirik. Mempelajari hal tadi masuk kategori menuhankan hal-hal lain selain Allah. Aku tidak melihat terdapat perbedaan pendapat para ahli tafsir dalam masalah ini. (Lihat: Ad-Durar as- Saniyah jilid 2 halaman 59)

Berkaitan dengan Fakhrur Razi pengarang kitab Tafsir al-Kabir- yang bermazhab Syafi’i Asy’ary, ia mengatakan: Sesungguhnya
Razi tersebut telah mengarang sebuah kitab yang membenarkan para penyembah bintang (Lihat:
Ad-Durar as-Saniyah jilid 10
halaman 355)

Fakhrur Razi menjelaskan
tentang beberapa hal yang
menjelaskan tentang fungsi
gugusan bintang dalam kaitannya dengan fenomena yang berada di bumi,termasuk beraitan dengan
bidang pertanian. Namun Muhamad bin Abdul Wahhab
dengan keterbatasan ilmu dan kebodohannya terhadap ilmu perbintangan telah menvonisnya dengan julukan yang tidak layak, tanpa didasari ilmu yang cukup.

Dan kebodohan ini diwarisi oleh al- Utsaimin yang berkata bahwa matahari itu mengelilingi bumi.

Muhamad bin Abdul Wahhab
menyatakan:Sesungguhnya
agama yang dianut penduduk
Makkah (di zaman MAW) sebagaimana halnya agama yang karenanya Rasulullah diutus untuk memberi
peringatan (Lihat: Ad-Durar as- Saniyah jilid 10 halaman 86, dan atau pada jilid 9 halaman 291)
Jadi, menurut MAW, agama
penduduk Makkah saat itu sama dengan agama musyrikin pada masa Rasul. Dan dia beranggapan, oleh sebab itulah dia hadir di Makkah. Rupanya MAW ingin menyamakan dirinya dengan Rasul SAW.
Sesungguhnya penduduk Ihsa’
di zaman (nya) adalah para penyembah berhala (baca: Musyrik) (Lihat: Ad-Durar as-
Saniyah jilid 10 halaman 113)
Mungkin hal itu berkenaan dengan pengusiran penguasa
kota Ihsa’ terhadapnya.

Namun, saya ingatkan kepada
Anda bahwa apa yang dikutip oleh para ulama dalam kitab mereka tentang perkataan Muhammad bin Abdul Wahhab belum tentu benar-benar dikatakan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Karena ada pendapat lain yang mengatakan bahwa paham Wahhabiyyah tidaklah didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, melainkan didirikan oleh murid-murid Muhammad bin Abdul Wahhab dengan menggunakan nama guru mereka. Namun yang pasti paham Wahhabi itu jelas menyimpang karena ajaran-
ajaran yang dibawa (entah dari MAW atau dari murid-muridnya)
jelas berbeda dengan ajaran
Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Jadi, yang penting bukanlah siapa sesungguhnya yang mendirikan wahhabiyyah, tetapi apa yang dikatakan wahhabiyyah. Dan dari penjelasan di atas, kita dapat
melihat bahwa MAW, atau mungkin murid-muridnya yang berkata atas nama MAW, telah mengkafirkan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau pun menganggap mereka sebagai
musyrikin. Dan mereka telah
mengajarkan konsep Tauhid yang berbeda dengan ulama-ulama salaf yang shalih. Wallahu a’lam.
(Dari berbagai sumber)